Artikel Terbaru

Jelajahi koleksi lengkap artikel tentang kecantikan, perawatan kulit, dan tips kesehatan

Mitos: Kosmetik Berlabel Vegan Selalu Lebih Baik
MythBuster

16 Jul 2026

Mitos: Kosmetik Berlabel Vegan Selalu Lebih Baik

Label vegan semakin sering ditemukan pada produk kosmetik. Banyak orang kemudian menganggap produk dengan label tersebut otomatis lebih baik untuk kulit. Benarkah demikian?Perkembangan industri kosmetik membuat konsumen semakin peduli terhadap asal-usul bahan yang digunakan dalam sebuah produk. Selain memperhatikan kandungan aktif, banyak orang mulai mencari informasi mengenai proses produksi, dampaknya terhadap lingkungan, hingga nilai-nilai yang diusung oleh sebuah merek. Salah satu label yang semakin sering menjadi perhatian adalah vegan.Popularitas kosmetik vegan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Di media sosial, label ini sering dikaitkan dengan produk yang lebih aman, lebih alami, bahkan lebih sehat untuk kulit. Tidak sedikit konsumen yang langsung merasa yakin terhadap sebuah produk hanya karena melihat tulisan ‘vegan’ pada kemasannya.Padahal, label tersebut memiliki arti yang jauh lebih spesifik daripada sekadar menunjukkan kualitas sebuah produk. Dalam dunia kosmetik, vegan mengacu pada penggunaan bahan yang tidak berasal dari hewan maupun turunannya. Artinya, label ini berbicara mengenai sumber bahan baku, bukan secara otomatis mengenai efektivitas, keamanan, atau kecocokan produk bagi setiap orang.Baca Juga: Mitos: Produk Viral Selalu Lebih AmanLabel Vegan Bukan Penentu Kualitas ProdukKesalahpahaman yang paling sering muncul adalah anggapan bahwa kosmetik vegan pasti lebih aman dibanding produk lain. Padahal, keamanan kosmetik ditentukan oleh banyak faktor, mulai dari pemilihan bahan, kualitas formulasi, proses produksi, hingga pengujian keamanan sebelum produk dipasarkan.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menjelaskan bahwa label vegan memberikan informasi mengenai asal bahan yang digunakan dalam produk, bukan menjadi jaminan bahwa produk tersebut lebih efektif atau lebih sesuai untuk semua jenis kulit. Menurutnya, setiap formula tetap harus dinilai berdasarkan bukti ilmiah, stabilitas bahan, serta kesesuaian dengan kebutuhan kulit penggunanya.Sebagai contoh, bahan yang berasal dari tumbuhan tetap dapat memicu iritasi pada sebagian orang apabila memiliki potensi alergen atau digunakan dalam konsentrasi yang kurang tepat. Sebaliknya, beberapa bahan yang selama ini dikenal efektif dalam kosmetik modern justru memiliki alternatif sintetis yang dikembangkan untuk memberikan fungsi serupa tanpa berasal dari hewan.Dikutip dari American Academy of Dermatology, reaksi kulit lebih banyak dipengaruhi oleh sensitivitas individu terhadap suatu bahan dibanding status vegan atau tidaknya sebuah produk. Karena itu, membaca komposisi dan memahami kondisi kulit sendiri tetap menjadi langkah yang jauh lebih penting daripada hanya melihat satu label pada kemasan.Baca Juga: Mitos: Kulit yang Tak Bermasalah Tidak Perlu DirawatMemahami Perbedaan antara Vegan, Cruelty-Free, dan EfektivitasKesalahpahaman lain yang cukup sering terjadi adalah menyamakan istilah vegan dengan cruelty-free. Padahal, keduanya memiliki makna yang berbeda. Produk vegan berarti tidak menggunakan bahan yang berasal dari hewan, sedangkan cruelty-free mengacu pada produk yang tidak diuji pada hewan selama proses pengembangannya. Sebuah produk dapat memiliki salah satu label tersebut, keduanya sekaligus, atau bahkan tidak memiliki keduanya.Perbedaan ini penting dipahami karena banyak konsumen menggunakan kedua istilah tersebut secara bergantian. Akibatnya, muncul anggapan bahwa seluruh produk vegan pasti juga cruelty-free, atau sebaliknya. Dalam praktiknya, status tersebut bergantung pada kebijakan perusahaan, sumber bahan baku, serta standar sertifikasi yang digunakan.Menurut Dr. Zoe Diana Draelos, dermatolog dan peneliti kosmetik, kualitas sebuah produk tidak ditentukan oleh satu klaim yang dicantumkan pada kemasan. Formulasi yang baik merupakan hasil keseimbangan antara pemilihan bahan, teknologi formulasi, stabilitas produk, serta bukti ilmiah yang mendukung manfaatnya. Karena itu, sebuah produk vegan tetap perlu dievaluasi dengan standar ilmiah yang sama seperti produk kosmetik lainnya.Pemahaman seperti ini membantu konsumen melihat label vegan secara lebih proporsional. Label tersebut memang memberikan nilai penting bagi mereka yang memiliki pertimbangan etis, lingkungan, atau gaya hidup tertentu. Namun, ketika tujuan utamanya adalah mencari produk yang sesuai dengan kondisi kulit, informasi mengenai kandungan, formulasi, dan hasil uji keamanan tetap perlu menjadi pertimbangan utama.Memilih kosmetik yang tepat bukan berarti mengabaikan nilai-nilai yang diusung sebuah produk. Sebaliknya, keputusan terbaik lahir ketika pertimbangan etis berjalan berdampingan dengan pemahaman ilmiah. Dengan cara itu, konsumen tidak hanya mengikuti tren atau klaim yang sedang populer, tetapi juga mampu memilih produk berdasarkan informasi yang lebih utuh.Mitos bahwa kosmetik berlabel vegan selalu lebih baik terdengar sederhana, tetapi kenyataannya jauh lebih kompleks. Label tersebut menjelaskan salah satu karakter sebuah produk, bukan keseluruhan kualitasnya. Produk yang baik tetap ditentukan oleh formulasi yang tepat, proses produksi yang bertanggung jawab, bukti ilmiah yang memadai, serta kecocokannya dengan kebutuhan kulit masing-masing pengguna. [][Rudi Tenggarawan/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Bagaimana Tren Minimalisme Mengubah Rutinitas Kecantikan
BeautyLife

15 Jul 2026

Bagaimana Tren Minimalisme Mengubah Rutinitas Kecantikan

Semakin banyak orang mulai mengurangi jumlah produk yang mereka gunakan. Bukan karena tidak peduli pada penampilan, melainkan karena ingin merawat diri dengan cara yang lebih sederhana dan lebih sadar.Beberapa tahun lalu, rutinitas kecantikan identik dengan rak penuh botol, puluhan langkah skincare, dan keinginan untuk selalu mencoba produk terbaru. Semakin banyak produk yang dimiliki, semakin besar pula kesan bahwa seseorang benar-benar serius merawat dirinya. Namun, perlahan cara pandang itu mulai berubah. Di tengah derasnya informasi dan tren yang datang silih berganti, banyak orang justru memilih menyederhanakan rutinitasnya.Perubahan tersebut tidak lahir begitu saja. Kesadaran mengenai konsumsi yang lebih bertanggung jawab, meningkatnya perhatian terhadap kesehatan kulit, hingga keinginan mengurangi kelelahan dalam mengambil keputusan ikut mendorong lahirnya gaya hidup minimalis di dunia kecantikan. Rutinitas yang dulu dipenuhi berbagai tahapan kini mulai digantikan oleh pilihan yang lebih ringkas, tetapi tetap memiliki tujuan yang jelas.Menariknya, minimalisme dalam kecantikan bukan berarti menolak inovasi atau berhenti merawat diri. Justru sebaliknya, pendekatan ini mengajak seseorang lebih mengenal kebutuhan kulitnya sebelum memutuskan menggunakan sebuah produk. Fokusnya bergeser dari jumlah menjadi relevansi, dari mengikuti tren menjadi memahami kebutuhan diri sendiri.Baca Juga: Bagaimana Tren Eco-Friendly Memengaruhi Gaya Hidup Kecantikan?Ketika ‘Lebih Banyak’ Tidak Selalu Berarti ‘Lebih Baik’Dunia kecantikan berkembang sangat cepat. Hampir setiap minggu muncul produk baru dengan kandungan yang menarik, teknologi yang lebih mutakhir, atau klaim yang terdengar menjanjikan. Situasi tersebut memberikan lebih banyak pilihan kepada konsumen, tetapi pada saat yang sama juga menciptakan tekanan untuk terus mengikuti perkembangan yang ada.Tak sedikit orang akhirnya membeli produk bukan karena benar-benar membutuhkannya, melainkan karena khawatir tertinggal dari tren. Rak penyimpanan semakin penuh, sementara sebagian produk justru jarang digunakan hingga melewati masa simpannya. Rutinitas yang semula bertujuan merawat diri perlahan berubah menjadi daftar panjang yang terasa melelahkan.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menjelaskan bahwa rutinitas skincare yang baik tidak diukur dari banyaknya produk yang digunakan, tetapi dari kesesuaiannya dengan kebutuhan kulit. Menurutnya, penggunaan produk yang tepat, konsisten, dan sesuai kondisi kulit akan memberikan manfaat yang lebih baik dibanding terus menambah tahapan tanpa tujuan yang jelas.Pandangan tersebut didukung oleh dermatolog Dr. Whitney Bowe. Dalam berbagai kesempatan, termasuk melalui bukunya The Beauty of Dirty Skin, ia menjelaskan bahwa kulit membutuhkan keseimbangan. Terlalu banyak produk atau terlalu sering mengganti rutinitas justru dapat mengganggu fungsi alami kulit dan membuat skin barrier lebih mudah mengalami stres.Minimalisme kemudian menghadirkan cara berpikir yang berbeda. Pertanyaannya bukan lagi, "Produk apa lagi yang perlu dibeli?", melainkan, "Produk mana yang benar-benar dibutuhkan?". Perubahan kecil dalam cara bertanya itu ternyata mampu mengubah cara seseorang memandang rutinitas kecantikan secara keseluruhan.Baca Juga: Benarkah Kita Sering Menyimpan Kritik Lebih Lama daripada Pujian?Minimalisme Mengubah Hubungan Kita dengan KecantikanTren minimalisme sesungguhnya tidak hanya berbicara mengenai jumlah produk. Ia juga mengubah hubungan seseorang dengan dirinya sendiri. Ketika pilihan menjadi lebih sederhana, perhatian tidak lagi habis untuk mengejar tren, tetapi mulai diarahkan pada memahami respons kulit, menikmati proses perawatan, dan membangun kebiasaan yang lebih berkelanjutan.Dalam beberapa tahun terakhir, muncul pula istilah seperti skinimalism, sebuah pendekatan yang menggabungkan konsep skincare sederhana dengan penerimaan terhadap kondisi kulit yang alami. Alih-alih menutupi setiap tekstur atau mengejar kulit yang tampak sempurna, pendekatan ini mengajak masyarakat untuk melihat kesehatan kulit sebagai sesuatu yang lebih penting daripada kesempurnaan visual.Dikutip dari American Academy of Dermatology, rutinitas yang sederhana justru sering memudahkan seseorang untuk konsisten menjalankannya. Membersihkan wajah, menggunakan pelembap sesuai kebutuhan, serta melindungi kulit dengan sunscreen merupakan fondasi yang tetap relevan, terlepas dari seberapa banyak inovasi baru bermunculan di industri kosmetik.Ada sesuatu yang menarik ketika tren minimalisme bertemu dengan dunia kecantikan. Selama ini, kecantikan sering dipahami sebagai proses menambahkan sesuatu ke dalam rutinitas. Minimalisme menawarkan perspektif berbeda, yaitu keberanian untuk mengurangi apa yang sebenarnya tidak lagi diperlukan. Bukan karena menolak perkembangan, melainkan karena setiap pilihan menjadi lebih sadar dan lebih bermakna.Cara pandang seperti ini membuat rutinitas kecantikan terasa lebih ringan. Waktu yang sebelumnya habis untuk mencoba berbagai produk dapat digunakan untuk benar-benar memperhatikan apa yang dibutuhkan kulit. Di saat yang sama, keputusan membeli produk pun menjadi lebih rasional karena didasarkan pada fungsi, bukan sekadar rasa penasaran.Tren mungkin akan terus berubah, sebagaimana industri kosmetik akan terus menghadirkan inovasi baru. Akan tetapi, memahami kebutuhan diri sendiri tetap menjadi fondasi yang tidak mudah tergantikan. Minimalisme mengingatkan bahwa merawat diri bukanlah perlombaan untuk memiliki produk paling banyak, melainkan perjalanan untuk menemukan apa yang benar-benar memberikan manfaat. Barangkali, justru di tengah pilihan yang semakin berlimpah, kesederhanaan menjadi kemewahan yang paling bernilai. [][Liora Maheswari/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Kandungan Anti-Pollution yang Sedang Diminati
SkinCare

14 Jul 2026

Kandungan Anti-Pollution yang Sedang Diminati

Polusi tak hanya memengaruhi kualitas udara. Kulit juga menjadi bagian tubuh yang pertama kali bersentuhan dengannya. Karena itu, kandungan anti-pollution kini semakin banyak menarik perhatian dalam dunia skincare.Berjalan di tengah lalu lintas padat, beraktivitas di kawasan perkotaan, atau menghabiskan waktu di luar ruangan membuat kulit terus terpapar berbagai partikel dari lingkungan. Paparan tersebut memang tidak selalu langsung terlihat. Namun, banyak orang mulai merasakan kulit lebih kusam, lebih mudah kering, atau terasa kurang nyaman setelah beraktivitas seharian di lingkungan dengan tingkat polusi tinggi.Fenomena inilah yang membuat istilah anti-pollution semakin sering muncul pada berbagai produk skincare. Mulai dari serum, moisturizer, hingga cleanser, banyak produsen menawarkan formula yang diklaim mampu membantu melindungi kulit dari dampak polusi. Sayangnya, tidak sedikit pula konsumen yang menganggap semua produk dengan label tersebut bekerja melalui mekanisme yang sama.Padahal, perlindungan terhadap polusi bukanlah soal menciptakan ‘tameng’ yang membuat kulit kebal terhadap lingkungan. Dunia kosmetik justru memandangnya sebagai upaya membantu kulit mempertahankan fungsi alaminya agar tetap mampu menghadapi paparan polusi setiap hari.Baca Juga: Dampak Microplastics dalam Kosmetik Sehari-hariAnti-Pollution Tidak Berarti Menolak Polusi MasukPartikel polusi memiliki ukuran yang sangat beragam. Sebagian hanya menempel di permukaan kulit, sementara sebagian lain dapat memicu pembentukan radikal bebas yang meningkatkan stres oksidatif. Kondisi tersebut dapat mengganggu fungsi skin barrier, mempercepat munculnya tanda penuaan, sekaligus membuat kulit menjadi lebih sensitif apabila terjadi terus-menerus.Karena itu, formulasi anti-pollution modern tidak berfokus pada satu mekanisme saja. Banyak produk menggabungkan antioksidan, pelembap, serta bahan yang membantu memperkuat skin barrier. Tujuannya bukan menghilangkan seluruh dampak polusi, melainkan membantu kulit mempertahankan keseimbangannya ketika harus menghadapi lingkungan yang semakin kompleks.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menjelaskan bahwa pendekatan seperti ini lebih realistis dibanding mengklaim kulit dapat terlindungi sepenuhnya dari polusi. Menurutnya, formulasi anti-pollution sebaiknya dipahami sebagai dukungan terhadap mekanisme pertahanan alami kulit sehingga kulit memiliki kemampuan lebih baik untuk menghadapi stres lingkungan dalam aktivitas sehari-hari.Pandangan tersebut sejalan dengan konsep dermatologi modern yang melihat kesehatan kulit sebagai hasil dari fungsi pelindung yang bekerja secara optimal. Ketika skin barrier tetap terjaga, kulit memiliki kemampuan lebih baik untuk mempertahankan kadar air, mengurangi risiko iritasi, dan pulih lebih cepat setelah terpapar faktor lingkungan.Baca Juga: Saat Kulit Baik-Baik Saja, Perlukah Kita Tetap Mengubah Rutinitas?Kandungan yang Banyak Digunakan Saat IniJika memperhatikan formulasi berbagai produk terbaru, ada pola yang cukup menarik. Banyak produsen tidak lagi hanya mengandalkan satu bahan aktif sebagai daya tarik utama. Sebaliknya, mereka mulai membangun kombinasi beberapa kandungan yang memiliki fungsi saling melengkapi.Vitamin C masih menjadi salah satu antioksidan yang paling banyak digunakan karena kemampuannya membantu melawan radikal bebas sekaligus mendukung pembentukan kolagen. Bersama vitamin E dan ferulic acid, kombinasi tersebut dikenal mampu meningkatkan stabilitas antioksidan sehingga perlindungan terhadap kulit menjadi lebih optimal.Selain itu, niacinamide juga semakin sering hadir dalam formula anti-pollution. Kandungan ini tidak hanya membantu memperkuat skin barrier, tetapi juga mendukung fungsi kulit dalam mempertahankan kelembapan serta membantu mengurangi dampak inflamasi ringan akibat paparan lingkungan. Tak sedikit pula produk yang memanfaatkan green tea extract, ectoin, atau biosaccharide gum karena dikenal memiliki kemampuan membantu menjaga kenyamanan kulit ketika berada di lingkungan yang penuh polutan.Dikutip dari berbagai publikasi ilmiah yang ditulis Dr. Zoe Diana Draelos, dermatolog sekaligus peneliti kosmetik dari Amerika Serikat, perlindungan terhadap polusi akan bekerja lebih baik ketika antioksidan dipadukan dengan bahan yang memperkuat fungsi pelindung kulit. Pendekatan formulasi yang seimbang dinilai lebih efektif dibanding hanya mengandalkan satu kandungan yang sedang populer.Hal tersebut menunjukkan bahwa nama bahan aktif bukan satu-satunya faktor yang menentukan kualitas sebuah produk. Konsentrasi, stabilitas formula, sistem penghantaran bahan aktif, hingga kompatibilitas antarbahan justru memiliki pengaruh besar terhadap efektivitas produk saat digunakan sehari-hari.Baca Juga: Kenapa Kita Sering Salah Mengenali Kebutuhan Kulit Sendiri?Memilih Produk Berdasarkan Kebutuhan KulitMeningkatnya tren anti-pollution merupakan perkembangan yang positif karena menunjukkan perhatian masyarakat terhadap kesehatan kulit semakin besar. Namun, memilih produk tetap perlu dilakukan dengan memahami kebutuhan kulit sendiri, bukan sekadar mengikuti klaim yang sedang ramai di media sosial.Kulit berminyak, kulit kering, maupun kulit sensitif dapat memberikan respons yang berbeda terhadap formulasi yang sama. Karena itu, produk yang efektif bagi seseorang belum tentu memberikan hasil serupa pada orang lain. Memahami kondisi kulit akan jauh lebih membantu dibanding mengejar daftar kandungan yang sedang viral.Kita melihat tren ini sebagai pertanda bahwa konsumen mulai lebih peduli terhadap kualitas formulasi, bukan hanya hasil instan yang dijanjikan. Perubahan cara berpikir seperti ini patut diapresiasi karena mendorong masyarakat untuk lebih kritis dalam memilih produk skincare. Semakin banyak konsumen memahami fungsi setiap kandungan, semakin besar pula peluang industri kosmetik menghadirkan inovasi yang benar-benar berorientasi pada kebutuhan kulit, bukan sekadar mengikuti tren pemasaran. [][Eva Evilia/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Tanya Dong: Apakah Semua Orang Perlu Menyesuaikan Rutinitas Skincare dengan Iklim?
TanyaDong

13 Jul 2026

Tanya Dong: Apakah Semua Orang Perlu Menyesuaikan Rutinitas Skincare dengan Iklim?

Perubahan cuaca dapat memengaruhi kondisi kulit. Namun, apakah setiap orang benar-benar perlu mengubah rutinitas skincare setiap kali iklim berubah?Pertanyaan ini sering muncul, terutama ketika seseorang berpindah kota, memasuki musim hujan, atau menghadapi cuaca yang lebih panas dari biasanya. Tidak sedikit pula yang langsung mengganti seluruh rangkaian skincare karena menganggap kulit pasti membutuhkan produk yang berbeda. Padahal, perubahan rutinitas tidak selalu harus dilakukan secara menyeluruh.Kulit merupakan organ yang terus beradaptasi dengan lingkungan. Kelembapan udara, suhu, paparan sinar matahari, hingga kualitas udara dapat memengaruhi produksi minyak, kadar hidrasi, dan fungsi skin barrier. Respons tersebut berbeda pada setiap orang sehingga kebutuhan kulit pun tidak selalu sama, meskipun berada di lingkungan yang sama.Artinya, yang perlu diperhatikan bukan sekadar perubahan iklim, tetapi bagaimana kulit memberikan respons terhadap perubahan tersebut. Mengamati kondisi kulit jauh lebih penting daripada mengganti produk hanya karena mengikuti musim atau tren yang sedang ramai dibicarakan.Baca Juga: Tanya Dong: Kenapa Kulit Kadang Terasa Baik-Baik Saja Lalu Tiba-Tiba Rewel?Mengapa Iklim Memengaruhi Kondisi Kulit?Saat cuaca panas dan lembap, produksi sebum biasanya meningkat. Pada sebagian orang, kondisi ini membuat wajah terasa lebih berminyak dan pori-pori lebih mudah tersumbat. Sebaliknya, ketika udara menjadi lebih dingin atau kering, penguapan air dari permukaan kulit meningkat sehingga kulit dapat terasa lebih kering, tertarik, atau mudah mengalami iritasi.Perubahan tersebut merupakan respons alami tubuh. Kulit terus berusaha menjaga keseimbangan agar fungsi pelindungnya tetap bekerja dengan baik. Karena itu, tidak mengherankan apabila seseorang yang biasanya merasa nyaman menggunakan satu produk tiba-tiba merasakan perubahan ketika lingkungan tempat tinggalnya ikut berubah.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menjelaskan bahwa penyesuaian rutinitas skincare sebaiknya didasarkan pada kondisi kulit, bukan semata-mata pada perubahan cuaca. Menurutnya, apabila kulit tetap terasa nyaman, terhidrasi, dan tidak menunjukkan tanda iritasi, tidak ada alasan untuk mengganti seluruh rangkaian perawatan. Yang lebih penting adalah melakukan evaluasi terhadap kebutuhan kulit secara berkala.Baca Juga: Tanya Dong: Kenapa Produk yang Nyaman Dipakai Belum Tentu Cocok?Tidak Selalu Harus Ganti ProdukBanyak orang menganggap solusi terbaik ketika cuaca berubah adalah membeli produk baru. Padahal, dalam banyak kasus, yang dibutuhkan hanya penyesuaian kecil. Misalnya, menambahkan pelembap ketika udara lebih kering, memilih tekstur yang lebih ringan saat cuaca sangat lembap, atau lebih disiplin menggunakan sunscreen ketika paparan sinar matahari meningkat.Dr. Whitney Bowe, dermatolog sekaligus penulis The Beauty of Dirty Skin, menjelaskan bahwa kulit memiliki kemampuan beradaptasi apabila fungsi skin barrier tetap terjaga. Menurutnya, perubahan rutinitas sebaiknya dilakukan secara bertahap dan berdasarkan respons kulit, bukan karena asumsi bahwa setiap pergantian musim selalu membutuhkan rangkaian produk yang berbeda.Pendekatan seperti ini juga membantu mengurangi risiko iritasi akibat terlalu sering mencoba produk baru. Kulit membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan sebuah formula. Jika pergantian dilakukan terlalu cepat tanpa alasan yang jelas, justru akan lebih sulit mengetahui penyebab ketika muncul reaksi yang tidak diinginkan.Baca Juga: Tanya Dong: Apakah Semua Orang Butuh Rutinitas Malam yang Berbeda?Dengarkan Sinyal yang Diberikan KulitRutinitas skincare yang baik bukanlah rutinitas yang paling panjang atau paling sering berubah. Rutinitas yang baik adalah rutinitas yang mampu mengikuti kebutuhan kulit tanpa memberikan beban yang berlebihan. Dalam praktiknya, perubahan kecil sering kali sudah cukup untuk membantu kulit tetap nyaman menghadapi perubahan lingkungan.Banyak kebingungan mengenai skincare muncul karena perhatian lebih banyak diarahkan pada faktor luar daripada kondisi kulit itu sendiri. Padahal, dua orang yang tinggal di kota yang sama bisa saja membutuhkan perawatan yang berbeda karena jenis kulit, aktivitas harian, usia, dan kondisi kesehatannya tidak sama.Karena itu, jawaban atas pertanyaan ini adalah tidak. Tidak semua orang harus menyesuaikan rutinitas skincare setiap kali iklim berubah. Yang perlu disesuaikan adalah perawatan ketika kulit benar-benar menunjukkan kebutuhan yang berbeda. Dengan memahami sinyal yang diberikan kulit, perubahan rutinitas akan menjadi lebih tepat sasaran, lebih sederhana, dan jauh lebih bermanfaat dibanding mengganti seluruh produk tanpa alasan yang jelas. [][Tim Beautyversity/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Cosmeticverse Bukan Proyek Seminar, Tetapi Gerakan Pengetahuan
BeautyNews

10 Jul 2026

Cosmeticverse Bukan Proyek Seminar, Tetapi Gerakan Pengetahuan

Sebuah seminar biasanya berakhir ketika sesi terakhir ditutup dan para peserta meninggalkan ruangan. Buku selesai ketika halaman terakhir dibaca. Sebuah acara kemudian menjadi bagian dari arsip, sementara para pesertanya kembali pada rutinitas masing-masing. Namun, ada gagasan yang justru baru memulai perjalanannya setelah seluruh rangkaian acara selesai. Kesan itulah yang muncul dari Seminar Kosmetik 2026 yang diselenggarakan Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran. Di balik peluncuran lima buku, pengenalan LABCOS AI, hingga program Cosmepreneur, tersimpan sebuah gagasan yang lebih besar daripada sekadar penyelenggaraan seminar. Gagasan tersebut diberi nama Cosmeticverse, sebuah ekosistem yang berupaya menghubungkan pendidikan, penelitian, teknologi, industri, dan kewirausahaan dalam satu perjalanan pengetahuan yang saling berkaitan.Selama delapan artikel dalam serial BeautyNews ini, Cosmeticverse telah dilihat dari berbagai sisi. Pembaca diajak memahami mengapa industri kosmetik membutuhkan kolaborasi yang lebih erat, bagaimana lima buku disusun sebagai satu perjalanan ilmu, mengapa penelitian perlu bergerak menuju industri, bagaimana artificial intelligence mulai mendukung pembelajaran, hingga pentingnya membangun budaya mutu yang menjaga kepercayaan masyarakat. Seluruh pembahasan tersebut memperlihatkan bahwa Cosmeticverse tidak dibangun dari satu program, melainkan dari banyak gagasan yang saling menguatkan.Pertanyaannya kemudian bukan lagi apa itu Cosmeticverse, melainkan mengapa seluruh gagasan tersebut dikumpulkan dalam satu ekosistem. Jawabannya mungkin terletak pada cara pandang yang ditawarkan: bahwa membangun industri kosmetik tidak cukup dilakukan melalui satu buku, satu laboratorium, satu teknologi, atau satu seminar. Yang dibutuhkan adalah ruang yang mampu mempertemukan seluruh unsur tersebut agar saling belajar dan berkembang bersama.Baca Juga: Fakultas Farmasi Unpad Perkenalkan Cosmeticverse, Ekosistem Baru Penghubung Dunia Kosmetik IndonesiaKetika Pengetahuan Tidak Lagi Berjalan SendiriSelama bertahun-tahun, pengetahuan tentang kosmetik berkembang di banyak ruang yang berbeda. Ada yang lahir di laboratorium penelitian, ada yang tersimpan dalam jurnal ilmiah, ada yang diajarkan di ruang kuliah, dan ada pula yang tumbuh melalui pengalaman panjang di dunia industri. Masing-masing memiliki nilai yang penting, tetapi tidak selalu saling terhubung.Kondisi tersebut bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga menjadi tantangan di banyak negara yang sedang membangun industri berbasis inovasi. Informasi tersedia dalam jumlah yang sangat besar, tetapi sering tersebar di berbagai tempat. Akibatnya, proses belajar menjadi terfragmentasi dan peluang kolaborasi tidak selalu berkembang secara optimal.Cosmeticverse mencoba menjawab tantangan tersebut melalui pendekatan yang berbeda. Alih-alih menghadirkan satu solusi tunggal, ekosistem ini mempertemukan berbagai unsur yang selama ini berjalan dalam jalurnya masing-masing. Pendidikan, riset, teknologi, artificial intelligence, kewirausahaan, dan industri diposisikan sebagai bagian dari satu percakapan besar mengenai masa depan kosmetik Indonesia.Pendekatan ini menunjukkan bahwa kemajuan industri tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan inovasi. Yang tidak kalah penting adalah kemampuan membangun hubungan antarinovasi agar pengetahuan dapat terus berkembang dan memberi manfaat yang lebih luas.Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar ProgramDalam siaran pers Seminar Kosmetik 2026, Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. apt. Sriwidodo, M.Si., menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, komunitas, dan media dalam semangat pentahelix. Pandangan tersebut menjadi salah satu fondasi lahirnya Cosmeticverse sebagai ruang kolaborasi yang melampaui batas-batas institusi.Cara berpikir tersebut juga tercermin dalam berbagai inisiatif yang diperkenalkan selama seminar. Lima buku disusun sebagai peta pengetahuan, LABCOS AI dikembangkan untuk memperluas akses terhadap literasi kosmetik, sementara Cosmepreneur membuka ruang bagi mahasiswa untuk memahami dunia industri sejak masa pendidikan. Seluruhnya tidak berdiri sendiri, tetapi saling mendukung dalam membentuk satu ekosistem pembelajaran.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., turut menegaskan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri menjadi salah satu fondasi penting dalam pengembangan Cosmeticverse. Harapan tersebut memperlihatkan bahwa tujuan utama ekosistem ini bukan hanya menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga memastikan pengetahuan tersebut mampu bergerak menuju dunia nyata melalui kerja sama yang berkelanjutan.Baca Juga: Mengapa Industri Kosmetik Indonesia Membutuhkan Cosmeticverse?Masa Depan Ditentukan oleh Mereka yang Mau BerkolaborasiDunia saat ini sesungguhnya tidak kekurangan informasi. Buku terus diterbitkan, penelitian terus dilakukan, teknologi berkembang dengan cepat, dan akses terhadap pengetahuan semakin terbuka. Tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan menghubungkan seluruh sumber daya tersebut menjadi sebuah ekosistem yang hidup.Dalam konteks itulah Cosmeticverse menawarkan perspektif yang menarik. Nilainya bukan semata-mata terletak pada jumlah buku yang diluncurkan atau teknologi yang diperkenalkan, melainkan pada upaya membangun ruang kolaborasi yang memungkinkan ilmu pengetahuan terus bergerak dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sebuah penelitian dapat menginspirasi inovasi baru, inovasi berkembang menjadi produk, produk melahirkan pengalaman industri, dan pengalaman tersebut kembali memperkaya dunia pendidikan.Perjalanan seperti itu tidak akan selesai ketika seminar berakhir. Justru setelah lampu auditorium dipadamkan dan para peserta kembali ke tempat masing-masing, ekosistem tersebut mulai diuji. Masa depannya tidak lagi hanya berada di tangan penyelenggara seminar, penulis buku, atau para pembicara, tetapi juga pada mahasiswa yang terus belajar, peneliti yang terus bereksperimen, dosen yang membimbing generasi berikutnya, pelaku industri yang mengembangkan inovasi, serta semua pihak yang percaya bahwa kolaborasi merupakan fondasi kemajuan.Delapan artikel dalam serial ini menunjukkan bahwa Cosmeticverse bukan sekadar nama sebuah program. Ia merupakan cara pandang tentang bagaimana ilmu pengetahuan seharusnya bertumbuh: terbuka terhadap kolaborasi, dekat dengan kebutuhan industri, memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab, dan tetap berpijak pada integritas ilmiah. Jika gagasan tersebut terus berkembang, Cosmeticverse tidak hanya akan dikenang sebagai rangkaian Seminar Kosmetik 2026, tetapi sebagai sebuah gerakan pengetahuan yang ikut membentuk masa depan industri kosmetik Indonesia.Tentang CosmeticverseCosmeticverse merupakan ekosistem pengetahuan kosmetik yang diperkenalkan oleh Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran bersama Program Studi Rekayasa Kosmetik, LABCOS, Ray Academy, PT Baleide, dan berbagai mitra industri. Ekosistem ini menghubungkan pendidikan, riset, teknologi, artificial intelligence, kewirausahaan, dan dunia industri untuk memperkuat inovasi serta daya saing kosmetik Indonesia. [][Vikalena Lasmoskwa/TBV]

Mengapa Budaya Mutu Menjadi Fondasi yang Tidak Terlihat dalam Industri Kosmetik?
BeautyNews

09 Jul 2026

Mengapa Budaya Mutu Menjadi Fondasi yang Tidak Terlihat dalam Industri Kosmetik?

Ketika memilih produk kosmetik, kebanyakan konsumen memperhatikan manfaat yang dijanjikan, tekstur, aroma, warna, atau desain kemasannya. Sebagian mungkin juga melihat kandungan bahan aktif dan ulasan pengguna sebelum memutuskan membeli. Namun, hanya sedikit yang bertanya bagaimana produk tersebut diproduksi, bagaimana kualitasnya dijaga, atau bagaimana perusahaan memastikan setiap kemasan memiliki standar yang sama.Padahal, kepercayaan terhadap sebuah produk kosmetik tidak dibangun ketika produk sudah berada di rak penjualan. Kepercayaan itu lahir jauh sebelumnya, ketika bahan baku dipilih, formula dikembangkan, proses produksi dijalankan, hingga setiap tahapan didokumentasikan dan diawasi dengan disiplin. Seluruh proses tersebut sering tidak terlihat oleh konsumen, tetapi justru menjadi fondasi yang menentukan kualitas sebuah produk.Perspektif inilah yang diangkat dalam The Invisible Quality, buku kelima dalam rangkaian Cosmeticverse yang diperkenalkan pada Seminar Kosmetik 2026 di Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran. Berbeda dengan empat buku sebelumnya yang membahas ilmu dasar, bahan baku, perjalanan riset, dan formulasi, buku ini mengajak pembaca memahami bahwa kualitas bukan sekadar hasil akhir, melainkan sebuah budaya yang dibangun setiap hari.Melalui pendekatan tersebut, Cosmeticverse ingin menunjukkan bahwa inovasi tidak akan memiliki arti apabila tidak didukung oleh sistem yang mampu menjaga mutu secara konsisten. Sebuah produk mungkin lahir dari ide yang cemerlang, tetapi kepercayaan konsumen hanya dapat dibangun melalui proses yang dapat dipertanggungjawabkan.Baca Juga: Mengapa Industri Kosmetik Indonesia Membutuhkan Cosmeticverse? Mutu Tidak Dimulai dari Produk JadiDalam banyak industri, kualitas sering dipahami sebagai hasil pemeriksaan pada produk yang sudah selesai diproduksi. Padahal, konsep mutu modern memiliki cakupan yang jauh lebih luas. Kualitas dibangun sejak tahap perencanaan, pemilihan bahan baku, pengembangan formulasi, validasi proses, hingga dokumentasi yang dilakukan selama proses produksi berlangsung.Cara pandang ini menjadi semakin penting di industri kosmetik yang berkembang sangat cepat. Ketika jumlah merek terus bertambah dan inovasi lahir hampir setiap hari, kemampuan menjaga konsistensi mutu menjadi pembeda yang tidak selalu terlihat oleh konsumen, tetapi sangat menentukan keberlangsungan sebuah perusahaan.Inilah alasan mengapa The Invisible Quality memilih mengangkat tema budaya mutu. Buku tersebut membahas berbagai aspek yang menjadi fondasi industri kosmetik modern, mulai dari budaya kualitas, integritas data, penerapan Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB), hingga sistem yang memastikan setiap produk memenuhi standar keamanan dan mutu yang sama.Pendekatan ini menunjukkan bahwa kualitas bukanlah pekerjaan satu divisi tertentu. Ia merupakan tanggung jawab seluruh organisasi, dari laboratorium, produksi, pengendalian mutu, hingga manajemen perusahaan.Kualitas Dibangun Melalui KebiasaanBudaya mutu tidak lahir dari satu prosedur atau satu sertifikat. Ia tumbuh melalui kebiasaan yang dilakukan secara konsisten setiap hari. Cara mencatat hasil pengujian, menyimpan bahan baku, membersihkan peralatan, memverifikasi data, hingga melaporkan penyimpangan merupakan bagian dari budaya yang menentukan kualitas produk secara keseluruhan.Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, dalam industri kosmetik, kesalahan kecil dapat memengaruhi stabilitas produk, keamanan penggunaan, bahkan kepercayaan masyarakat terhadap sebuah merek. Karena itu, sistem mutu tidak hanya berbicara mengenai kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga mengenai integritas setiap orang yang terlibat di dalam proses produksi.Budaya mutu sesungguhnya adalah bentuk disiplin kolektif. Konsumen mungkin tidak pernah melihat bagaimana sebuah perusahaan melakukan validasi proses atau mengelola dokumentasi produksi. Akan tetapi, seluruh proses itu menjadi alasan mengapa sebuah produk dapat digunakan dengan rasa aman dan memberikan kualitas yang konsisten dari waktu ke waktu.Dalam konteks tersebut, mutu tidak lagi dipahami sebagai tujuan akhir. Mutu menjadi cara bekerja yang membentuk karakter sebuah industri.Kepercayaan Tidak Dibangun oleh KlaimDi era media sosial, sebuah produk dapat dikenal luas hanya dalam hitungan hari. Klaim manfaat yang menarik, kemasan yang estetik, atau ulasan dari influencer mampu mendorong sebuah produk menjadi viral dalam waktu singkat. Namun, popularitas bukanlah jaminan bahwa sebuah produk akan bertahan lama.Kepercayaan konsumen dibangun melalui pengalaman yang berulang. Ketika produk yang dibeli hari ini memiliki kualitas yang sama dengan produk yang dibeli enam bulan kemudian, di situlah konsumen mulai mempercayai sebuah merek. Konsistensi tersebut tidak terjadi secara kebetulan, tetapi merupakan hasil dari sistem mutu yang berjalan di belakang layar.Pesan inilah yang ingin disampaikan melalui The Invisible Quality. Cosmeticverse mengajak pembaca melihat bahwa fondasi industri kosmetik bukan hanya inovasi atau teknologi, tetapi juga budaya kerja yang menjaga kualitas pada setiap tahapan proses. Dengan demikian, mutu tidak diposisikan sebagai pelengkap, melainkan sebagai bagian yang menyatukan seluruh perjalanan ilmu kosmetik.Baca Juga: Dari Laboratorium hingga Pabrik: Ketika Penelitian Tak Lagi Berhenti di KampusFondasi yang Menopang Seluruh Perjalanan CosmeticverseJika empat buku sebelumnya memperlihatkan bagaimana ilmu berkembang menjadi inovasi, The Invisible Quality menjelaskan mengapa inovasi tersebut harus dijaga melalui sistem yang dapat dipercaya. Urutan ini bukanlah kebetulan, melainkan memperlihatkan bahwa setiap tahapan dalam Cosmeticverse saling melengkapi.Analisis Redaksi Beautyversity melihat bahwa penempatan buku ini sebagai penutup memiliki makna simbolis. Setelah membahas dunia kosmetik, kekayaan bahan alam Indonesia, perjalanan riset, dan proses formulasi, Cosmeticverse mengingatkan bahwa seluruh proses tersebut hanya akan memberikan manfaat apabila ditopang oleh budaya mutu yang kuat.Melalui perspektif tersebut, Cosmeticverse tidak hanya memperkenalkan lima buku, tetapi juga menawarkan sebuah cara pandang baru terhadap industri kosmetik. Inovasi memang penting, teknologi terus berkembang, dan kolaborasi semakin luas. Namun, seluruh pencapaian itu akan memiliki nilai yang lebih besar ketika dibangun di atas fondasi kualitas yang konsisten, transparan, dan dapat dipercaya.Tentang CosmeticverseCosmeticverse merupakan ekosistem pengetahuan kosmetik yang diperkenalkan oleh Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran bersama Program Studi Rekayasa Kosmetik, LABCOS, Ray Academy, PT Baleide, dan berbagai mitra industri. Ekosistem ini menghubungkan pendidikan, riset, teknologi, artificial intelligence, kewirausahaan, dan dunia industri untuk memperkuat inovasi serta daya saing kosmetik Indonesia. [][Eva Evilia/TBV]

Cosmepreneur: Ketika Mahasiswa Belajar Jadi Pelaku Industri Sejak di Bangku Kuliah
BeautyNews

08 Jul 2026

Cosmepreneur: Ketika Mahasiswa Belajar Jadi Pelaku Industri Sejak di Bangku Kuliah

Selama bertahun-tahun, pendidikan tinggi identik dengan proses menyiapkan mahasiswa untuk memasuki dunia kerja setelah lulus. Namun, perubahan industri yang berlangsung semakin cepat mulai menggeser cara pandang tersebut. Di banyak bidang, termasuk kosmetik, mahasiswa kini tidak hanya dituntut menguasai teori dan penelitian, tetapi juga memahami bagaimana sebuah inovasi dapat berkembang menjadi produk, bisnis, dan solusi yang dibutuhkan masyarakat.Perubahan paradigma itulah yang menjadi salah satu gagasan dalam Seminar Kosmetik 2026 yang diselenggarakan Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran. Bersamaan dengan peluncuran Cosmeticverse dan LABCOS AI, peserta juga diperkenalkan dengan Cosmepreneur, sebuah program yang dirancang untuk mendekatkan mahasiswa pada dunia industri kosmetik sejak masih menjalani pendidikan di kampus.Program tersebut lahir dari kesadaran bahwa kebutuhan industri kosmetik terus berubah. Perusahaan tidak hanya membutuhkan lulusan yang memahami teori formulasi atau regulasi, tetapi juga individu yang mampu melihat peluang, memahami proses bisnis, bekerja lintas disiplin, dan menerjemahkan ilmu menjadi inovasi yang memiliki nilai ekonomi.Dalam konteks itulah Cosmepreneur hadir sebagai bagian dari ekosistem Cosmeticverse. Bukan sekadar mengajarkan cara membangun usaha, melainkan memperkenalkan cara berpikir yang melihat ilmu pengetahuan sebagai titik awal lahirnya inovasi dan kewirausahaan.Baca Juga: Mengapa Industri Kosmetik Indonesia Membutuhkan Cosmeticverse?Ketika Kampus Tidak Lagi Menjadi Ruang yang TerpisahSelama ini, perjalanan mahasiswa sering dipahami secara linear. Mereka belajar di kampus, melakukan penelitian, menyelesaikan tugas akhir, lalu memasuki dunia kerja. Pola tersebut masih relevan, tetapi perkembangan industri membuat batas antara dunia akademik dan dunia profesional semakin tipis.Redaksi melihat bahwa industri kosmetik saat ini membutuhkan proses pembelajaran yang lebih dekat dengan realitas lapangan. Mahasiswa tidak cukup hanya memahami bagaimana sebuah formula dibuat. Mereka juga perlu mengetahui bagaimana bahan baku dipilih, bagaimana standar mutu diterapkan, bagaimana produk diproduksi dalam skala industri, hingga bagaimana sebuah merek membangun kepercayaan konsumen.Pendekatan semacam ini memungkinkan mahasiswa melihat hubungan antara ilmu yang dipelajari di ruang kuliah dengan tantangan nyata yang dihadapi industri. Dengan demikian, proses belajar tidak berhenti pada penyelesaian mata kuliah, tetapi berkembang menjadi pengalaman yang mempersiapkan mereka menghadapi perubahan dunia kerja.Belajar Membangun, Bukan Sekadar MemahamiDalam Seminar Kosmetik 2026, Cosmepreneur diperkenalkan sebagai ruang yang mendorong lahirnya wirausaha muda berbasis ilmu pengetahuan. Program ini juga membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk lebih dekat dengan industri melalui kolaborasi yang dibangun dalam ekosistem Cosmeticverse.Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa kewirausahaan tidak selalu dimulai dari keberanian membuka bisnis. Yang lebih penting adalah membangun cara berpikir untuk mengenali persoalan, mengembangkan solusi berbasis riset, dan memahami bagaimana solusi tersebut dapat diterapkan secara nyata.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., dalam siaran pers Seminar Kosmetik 2026 menegaskan pentingnya membangun jembatan antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan industri. Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi dan pelaku bisnis kosmetik akan menjadi salah satu fondasi utama dalam mengembangkan Cosmeticverse.Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa dunia usaha bukan ditempatkan sebagai tujuan akhir pendidikan, melainkan sebagai mitra yang memungkinkan hasil penelitian berkembang menjadi inovasi yang memberikan manfaat lebih luas.Industri Membutuhkan Talenta yang AdaptifPertumbuhan industri kosmetik Indonesia menghadirkan peluang yang semakin besar bagi generasi muda. Di sisi lain, perubahan teknologi, perkembangan regulasi, serta meningkatnya ekspektasi konsumen membuat kebutuhan terhadap sumber daya manusia juga semakin kompleks.Industri masa depan membutuhkan lulusan yang mampu bergerak di berbagai peran. Mereka perlu memahami sains, tetapi juga mampu berkomunikasi dengan dunia bisnis. Mereka harus menguasai formulasi, tetapi juga memahami pentingnya kualitas, keberlanjutan, teknologi digital, dan kebutuhan pasar.Karena itu, konsep Cosmepreneur tidak semata-mata melahirkan pendiri perusahaan kosmetik baru. Program ini juga menyiapkan individu yang mampu menjadi peneliti, formulator, manajer mutu, pengembang produk, konsultan, maupun inovator yang memahami keseluruhan ekosistem industri kosmetik.Baca Juga: Dari Laboratorium hingga Pabrik: Ketika Penelitian Tak Lagi Berhenti di KampusMempersiapkan Generasi yang Membangun EkosistemMelalui Cosmeticverse, Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran memperlihatkan bahwa pendidikan kosmetik tidak hanya berbicara mengenai apa yang dipelajari, tetapi juga mengenai bagaimana ilmu tersebut memberi dampak setelah mahasiswa meninggalkan ruang kelas. Pendekatan ini menghubungkan pendidikan, penelitian, industri, dan teknologi ke dalam satu perjalanan yang saling melengkapi.Cosmepreneur menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan tersebut. Program ini mengajak mahasiswa melihat bahwa setiap penelitian memiliki peluang untuk berkembang menjadi inovasi, setiap inovasi dapat menjadi produk, dan setiap produk berpotensi melahirkan nilai tambah bagi masyarakat apabila dibangun di atas fondasi ilmu pengetahuan yang kuat.Perjalanan Cosmeticverse pun memperlihatkan sebuah perubahan cara pandang. Kampus tidak lagi hanya menjadi tempat melahirkan lulusan, tetapi juga menjadi ruang yang menumbuhkan inovator, kolaborator, dan calon pemimpin industri kosmetik Indonesia. Setelah membangun fondasi melalui ilmu, penelitian, teknologi, dan kewirausahaan, tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh proses tersebut berjalan dengan standar mutu yang mampu menjaga kepercayaan publik. Pembahasan mengenai fondasi yang sering tidak terlihat itu akan menjadi bagian berikutnya dalam perjalanan Cosmeticverse.Tentang CosmeticverseCosmeticverse merupakan ekosistem pengetahuan kosmetik yang diperkenalkan oleh Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran bersama Program Studi Rekayasa Kosmetik, LABCOS, Ray Academy, PT Baleide, dan berbagai mitra industri. Ekosistem ini menghubungkan pendidikan, riset, teknologi, artificial intelligence, kewirausahaan, dan dunia industri untuk memperkuat inovasi serta daya saing kosmetik Indonesia. [][Vikalena Lasmoskwa/TBV]

AI Kini Masuk ke Dunia Kosmetik: LABCOS AI dan Cara Baru Mempelajari Industri Kecantikan
BeautyNews

07 Jul 2026

AI Kini Masuk ke Dunia Kosmetik: LABCOS AI dan Cara Baru Mempelajari Industri Kecantikan

Dunia kosmetik sedang mengalami perubahan yang tak hanya terjadi di laboratorium atau ruang produksi. Perubahan itu juga mulai menyentuh cara orang belajar, mencari referensi, hingga memahami perkembangan ilmu kosmetik. Jika sebelumnya mahasiswa, peneliti, dan praktisi mengandalkan buku, jurnal ilmiah, serta diskusi di ruang kelas, kini artificial intelligence mulai mengambil peran sebagai pendamping dalam proses pembelajaran.Transformasi tersebut menjadi salah satu sorotan dalam Seminar Kosmetik 2026 yang diselenggarakan Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran. Bersamaan dengan peluncuran Cosmeticverse, peserta diperkenalkan pada LABCOS AI, sebuah inisiatif yang memanfaatkan artificial intelligence untuk mendukung pembelajaran, pengembangan produk, serta peningkatan literasi di bidang kosmetik.Kehadiran LABCOS AI menunjukkan bahwa transformasi digital kini tidak lagi menjadi wacana masa depan. Industri kosmetik mulai memasuki fase ketika teknologi tidak hanya membantu proses produksi, tetapi juga mempercepat cara manusia memperoleh, memahami, dan menghubungkan pengetahuan.Perubahan tersebut hadir pada saat jumlah informasi di dunia kosmetik berkembang sangat cepat. Hampir setiap hari muncul penelitian baru, bahan aktif baru, teknologi formulasi baru, hingga perubahan regulasi yang perlu dipahami oleh mahasiswa, akademisi, maupun pelaku industri. Tantangan terbesar bukan lagi kekurangan informasi, melainkan bagaimana menyaring dan menggunakannya secara tepat.Baca Juga: Mengapa Industri Kosmetik Indonesia Membutuhkan Cosmeticverse?Ketika Belajar Kosmetik Memasuki Era BaruSelama bertahun-tahun, proses belajar kosmetik berlangsung melalui jalur yang relatif konvensional. Mahasiswa membaca buku, mencari jurnal ilmiah, berdiskusi dengan dosen, kemudian melakukan penelitian di laboratorium. Model tersebut tetap menjadi fondasi utama pendidikan, tetapi perkembangan ilmu yang semakin cepat membuat proses pencarian informasi menjadi semakin kompleks.Analisis Redaksi Beautyversity melihat bahwa kondisi tersebut mulai melahirkan kebutuhan akan alat bantu yang mampu mempercepat proses belajar tanpa mengurangi kualitas pemahaman. Dalam konteks inilah artificial intelligence mulai memperoleh ruang. AI mampu membantu menelusuri literatur, merangkum hasil penelitian, membandingkan karakteristik bahan aktif, hingga menghubungkan berbagai referensi yang sebelumnya tersebar di banyak sumber.Namun, perubahan ini tidak berarti AI mengambil alih peran manusia. Justru sebaliknya, teknologi menjadi alat untuk membantu mahasiswa, peneliti, dan praktisi bekerja lebih efisien sehingga mereka memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan analisis, validasi, dan pengambilan keputusan yang tetap membutuhkan keahlian manusia.AI Bukan Pengganti IlmuwanPemanfaatan artificial intelligence dalam bidang kosmetik sering menimbulkan pertanyaan mengenai batas perannya. Mampukah AI menggantikan peneliti atau formulator? Jawabannya tidak sesederhana itu.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., yang menjadi salah satu penggagas Cosmeticverse, menjelaskan bahwa LABCOS AI dikembangkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi dan mendukung proses pembelajaran maupun pengembangan produk di bidang kosmetik. Kehadiran teknologi ini memperlihatkan bahwa transformasi digital dapat dimanfaatkan untuk memperkuat ekosistem pengetahuan, bukan menggantikan proses ilmiah yang telah menjadi fondasi dunia akademik.Pandangan tersebut sejalan dengan perkembangan global di berbagai bidang sains. AI mampu membantu mengolah informasi dalam jumlah besar, tetapi belum dapat menggantikan pengalaman laboratorium, intuisi ilmiah, maupun pertimbangan profesional ketika mengambil keputusan yang berkaitan dengan keamanan produk dan kesehatan konsumen.Dalam industri kosmetik, validasi tetap harus dilakukan melalui penelitian, pengujian laboratorium, evaluasi keamanan, dan proses regulasi yang ketat. AI dapat mempercepat pekerjaan, tetapi tanggung jawab ilmiah tetap berada di tangan para peneliti, apoteker, formulator, serta regulator.Menjawab Banjir Informasi Industri KosmetikPerkembangan industri kosmetik saat ini tidak hanya ditandai oleh lahirnya produk baru. Setiap tahun, ribuan artikel ilmiah diterbitkan, ratusan bahan baku dikembangkan, dan berbagai inovasi teknologi formulasi terus bermunculan. Bagi mahasiswa maupun pelaku industri, mengikuti seluruh perkembangan tersebut secara manual menjadi tantangan yang semakin besar.Redaksi Beautyversity menilai bahwa inilah salah satu alasan mengapa pemanfaatan AI menjadi semakin relevan. Teknologi bukan lagi sekadar alat otomatisasi, melainkan menjadi jembatan untuk menghubungkan pengetahuan yang terus berkembang. Dengan kemampuan menelusuri berbagai referensi secara cepat, AI membantu pengguna memperoleh gambaran awal sebelum melakukan kajian yang lebih mendalam.Dalam konteks Cosmeticverse, kehadiran LABCOS AI menunjukkan bahwa ekosistem pengetahuan tidak hanya dibangun melalui buku dan seminar, tetapi juga melalui pemanfaatan teknologi digital yang mampu memperluas akses terhadap ilmu kosmetik. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pendidikan kosmetik tidak lagi dibatasi oleh ruang kelas atau perpustakaan, melainkan dapat berkembang mengikuti kebutuhan zaman.Baca Juga: Dari Laboratorium hingga Pabrik: Ketika Penelitian Tak Lagi Berhenti di KampusMempersiapkan Generasi Baru Industri KosmetikTransformasi digital tidak hanya mengubah cara belajar, tetapi juga mengubah kompetensi yang dibutuhkan industri. Kemampuan membaca jurnal, memahami formulasi, serta menguasai sistem mutu kini perlu dilengkapi dengan kemampuan memanfaatkan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab.Melalui LABCOS AI, Cosmeticverse memperlihatkan bahwa masa depan pendidikan kosmetik bukan memilih antara manusia atau teknologi. Yang dibangun adalah kolaborasi antara keduanya agar proses belajar menjadi lebih cepat, lebih luas, dan tetap berpijak pada prinsip ilmiah.Perjalanan tersebut juga menunjukkan bahwa membangun industri kosmetik tidak cukup hanya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dibutuhkan sumber daya manusia yang mampu mengubah pengetahuan menjadi inovasi dan inovasi menjadi peluang usaha. Gagasan itulah yang mulai diperkenalkan melalui program Cosmepreneur, yang menjadi babak berikutnya dalam perjalanan Cosmeticverse menuju penguatan ekosistem kosmetik Indonesia.Tentang CosmeticverseCosmeticverse merupakan ekosistem pengetahuan kosmetik yang diperkenalkan oleh Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran bersama Program Studi Rekayasa Kosmetik, LABCOS, Ray Academy, PT Baleide, dan berbagai mitra industri. Ekosistem ini menghubungkan pendidikan, riset, teknologi, artificial intelligence, kewirausahaan, dan dunia industri untuk memperkuat inovasi serta daya saing kosmetik Indonesia. [][Eva Evilia/TBV]

Dari Laboratorium hingga Pabrik: Ketika Penelitian Tak Lagi Berhenti di Kampus
BeautyNews

06 Jul 2026

Dari Laboratorium hingga Pabrik: Ketika Penelitian Tak Lagi Berhenti di Kampus

Setiap tahun, perguruan tinggi di Indonesia menghasilkan ribuan penelitian. Sebagian dipublikasikan dalam jurnal ilmiah, sebagian menjadi tugas akhir mahasiswa, dan sebagian lagi berhenti sebagai dokumen akademik yang hanya dibaca kalangan terbatas. Tantangan terbesar bukan lagi bagaimana menghasilkan penelitian, tetapi bagaimana memastikan penelitian tersebut benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.Persoalan itu juga menjadi perhatian dalam industri kosmetik. Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang melimpah, jumlah peneliti yang terus bertambah, serta industri kosmetik yang berkembang pesat. Namun, ketiga elemen tersebut belum selalu terhubung dalam satu ekosistem yang memungkinkan hasil riset bergerak lebih cepat menuju dunia industri.Kondisi tersebut dikenal sebagai tantangan hilirisasi riset. Sebuah inovasi yang berhasil di laboratorium belum tentu dapat diproduksi dalam skala industri. Sebaliknya, pelaku industri sering menghadapi kebutuhan pengembangan produk yang sebenarnya sudah memiliki dasar ilmiah di perguruan tinggi, tetapi belum menemukan jembatan yang menghubungkan keduanya.Seminar Kosmetik 2026 yang digelar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran menghadirkan isu tersebut sebagai salah satu fokus utama. Melalui konsep Cosmeticverse, seminar ini memperlihatkan bahwa masa depan industri kosmetik tidak hanya ditentukan oleh banyaknya penelitian, tetapi juga oleh kemampuan mengubah hasil penelitian menjadi inovasi yang dapat diproduksi, digunakan, dan memberi nilai tambah bagi masyarakat.Baca Juga: Lima Buku, Satu Perjalanan Ilmu yang Menjelaskan Dunia Kosmetik dari Awal hingga AkhirKetika Hilirisasi Menjadi Kata KunciDalam beberapa tahun terakhir, istilah hilirisasi lebih sering dikaitkan dengan sektor pertambangan atau sumber daya alam. Padahal, konsep yang sama juga memiliki peran penting dalam industri kosmetik. Sebuah penelitian mengenai bahan aktif, teknologi formulasi, atau sistem penghantaran bahan tidak akan memberi dampak luas apabila berhenti sebagai publikasi ilmiah.Redaksi melihat bahwa tantangan ini bukan berasal dari kurangnya penelitian. Indonesia justru memiliki banyak peneliti dan perguruan tinggi yang aktif menghasilkan inovasi. Persoalannya terletak pada bagaimana inovasi tersebut diterjemahkan menjadi produk yang memenuhi standar mutu, dapat diproduksi secara konsisten, serta menjawab kebutuhan konsumen.Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. apt. Sriwidodo, M.Si., menegaskan bahwa proses tersebut tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja."Membangun ekosistem kosmetik Indonesia tidak mungkin dilakukan sendiri di kampus. Perguruan tinggi memiliki peran melahirkan ilmu pengetahuan, inovasi, dan sumber daya manusia, tetapi keberhasilannya hanya akan tercapai melalui kolaborasi erat dengan pemerintah, industri, komunitas, dan media dalam semangat pentahelix," ujarnya.Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penelitian tidak lagi dipandang sebagai tujuan akhir. Penelitian menjadi titik awal sebuah perjalanan yang melibatkan banyak aktor hingga akhirnya menghasilkan produk yang siap hadir di pasar.Ketika Kampus Bertemu Dunia IndustriSalah satu pesan yang paling menonjol dalam Seminar Kosmetik 2026 adalah pentingnya memperpendek jarak antara kampus dan industri. Selama ini, kedua dunia tersebut sering berjalan dengan ritmenya masing-masing. Kampus fokus menghasilkan ilmu pengetahuan, sementara industri bergerak mengikuti kebutuhan pasar yang berubah sangat cepat.Melalui Cosmeticverse, kedua pendekatan itu berusaha dipertemukan. Seminar tidak hanya menghadirkan akademisi, tetapi juga pelaku industri, praktisi, mahasiswa, dan berbagai mitra yang terlibat dalam pengembangan kosmetik nasional. Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa inovasi akan memiliki nilai lebih besar ketika proses penelitian dan kebutuhan industri dapat berjalan secara beriringan.Dalam sesi bertajuk LABCOS: Kolaborasi dan Hilirisasi Riset, Prof. Sriwidodo membahas bagaimana penelitian dapat diarahkan agar memiliki peluang lebih besar untuk diterapkan di dunia industri. Sementara itu, sesi Jejak Alumni dari Kampus ke Pabrik menghadirkan perspektif bahwa pengalaman akademik dapat berkembang menjadi kontribusi nyata dalam membangun industri kosmetik Indonesia.Baca Juga: Mengapa Industri Kosmetik Indonesia Membutuhkan Cosmeticverse?Alumni yang Kembali Membangun EkosistemSalah satu pembicara dalam seminar, Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., merupakan contoh bagaimana perjalanan akademik dapat berlanjut ke dunia industri. Berbekal pengalaman sebagai peneliti dan praktisi, ia kini terlibat dalam pengembangan industri kosmetik sekaligus menjadi bagian dari penggagas Cosmeticverse.Dalam siaran pers seminar, Apt. Cahya menyampaikan harapannya agar Cosmeticverse mampu menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan industri. Ia juga menekankan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan pelaku bisnis kosmetik akan menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun ekosistem tersebut.Pandangan tersebut mencerminkan perubahan cara melihat hubungan antara kampus dan industri. Perguruan tinggi tidak lagi diposisikan hanya sebagai tempat belajar, sedangkan industri bukan sekadar tempat bekerja. Keduanya menjadi bagian dari siklus inovasi yang saling memperkuat.Inovasi Harus Sampai kepada MasyarakatBagi industri kosmetik, keberhasilan sebuah penelitian tidak hanya diukur dari jumlah publikasi atau penghargaan akademik. Nilai terbesar muncul ketika hasil penelitian mampu diterjemahkan menjadi produk yang aman, bermutu, relevan, dan dapat digunakan oleh masyarakat secara luas.Redaksi menilai bahwa inilah salah satu pesan terpenting dari Cosmeticverse. Ekosistem ini tidak berupaya mengurangi pentingnya penelitian dasar, melainkan memperluas dampaknya melalui kolaborasi yang lebih erat dengan dunia industri. Dengan demikian, perjalanan ilmu tidak berhenti di laboratorium, tetapi berlanjut hingga ruang produksi dan akhirnya hadir sebagai produk yang memberikan manfaat nyata.Perjalanan tersebut bahkan tidak berhenti ketika sebuah inovasi berhasil memasuki industri. Transformasi digital kini membuka babak baru dalam pengembangan kosmetik melalui pemanfaatan artificial intelligence untuk pembelajaran, riset, dan inovasi. Langkah itulah yang mulai diperkenalkan melalui LABCOS AI, yang akan menjadi bagian penting dalam pengembangan Cosmeticverse pada tahap berikutnya.Tentang CosmeticverseCosmeticverse merupakan ekosistem pengetahuan kosmetik yang diperkenalkan oleh Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran bersama Program Studi Rekayasa Kosmetik, LABCOS, Ray Academy, PT Baleide, dan berbagai mitra industri. Ekosistem ini menghubungkan pendidikan, riset, teknologi, artificial intelligence, kewirausahaan, serta dunia industri untuk memperkuat inovasi dan daya saing kosmetik Indonesia. [][Vikalena Lasmoskwa/TBV]

Lima Buku, Satu Perjalanan Ilmu yang Menjelaskan Dunia Kosmetik dari Awal hingga Akhir
BeautyNews

04 Jul 2026

Lima Buku, Satu Perjalanan Ilmu yang Menjelaskan Dunia Kosmetik dari Awal hingga Akhir

Peluncuran buku dalam sebuah seminar ilmiah bukanlah hal yang baru. Namun, Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran memilih pendekatan yang berbeda saat memperkenalkan Cosmeticverse dalam Seminar Kosmetik 2026. Alih-alih menerbitkan satu buku atau beberapa referensi yang berdiri sendiri, mereka meluncurkan lima buku yang dirancang sebagai satu kesatuan perjalanan ilmu untuk menjelaskan bagaimana sebuah produk kosmetik lahir, berkembang, hingga akhirnya dipercaya oleh masyarakat.Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Selama ini, literatur kosmetik umumnya membahas satu bidang secara terpisah. Ada buku yang mengulas formulasi, ada yang membahas bahan alam, ada pula yang berfokus pada regulasi atau sistem mutu. Pendekatan seperti ini memang memperdalam satu disiplin ilmu, tetapi sering kali membuat pembaca kesulitan melihat keterkaitan antarbidang dalam industri kosmetik.Padahal, dunia kosmetik bekerja sebagai sebuah sistem. Sebuah produk tidak pernah lahir hanya dari laboratorium, tidak pula semata-mata dari ruang produksi. Di balik satu produk yang akhirnya sampai ke tangan konsumen terdapat perjalanan panjang yang melibatkan ilmu dasar, eksplorasi bahan baku, penelitian, formulasi, pengujian, sistem mutu, hingga pemahaman terhadap kebutuhan pasar.Melalui Cosmeticverse, perjalanan tersebut diterjemahkan menjadi lima buku yang saling melengkapi. Bukan untuk dibaca secara terpisah, tetapi sebagai sebuah peta pengetahuan yang memperlihatkan bagaimana seluruh proses dalam industri kosmetik saling terhubung.Baca Juga: Fakultas Farmasi Unpad Perkenalkan Cosmeticverse, Ekosistem Baru Penghubung Dunia Kosmetik IndonesiaKetika Lima Buku Menjadi Satu NarasiGuru Besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Keri Lestari, M.Si., S.Si., Apt., menyebut kelima buku itu bukan sekadar kumpulan referensi akademik."Kelima buku ini membentuk sebuah narasi yang saling melengkapi. Bukan sekadar kumpulan referensi, melainkan sebuah peta pengetahuan yang menghubungkan sains, inovasi, formulasi, kualitas, dan masa depan industri kosmetik Indonesia," ujarnya.Pernyataan tersebut menjelaskan filosofi yang membedakan Cosmeticverse dari peluncuran buku pada umumnya. Fokusnya bukan pada masing-masing judul, melainkan pada hubungan antarbuku yang membentuk satu alur berpikir utuh. Pembaca diajak memahami bahwa setiap tahapan dalam industri kosmetik memiliki keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan.Analisis Redaksi Beautyversity melihat pendekatan ini sebagai upaya membangun cara belajar yang lebih menyeluruh. Selama ini, banyak orang mengenal kosmetik hanya dari produk yang sudah tersedia di rak toko atau marketplace. Cosmeticverse justru mengajak pembaca berjalan ke arah sebaliknya, dimulai dari fondasi ilmu pengetahuan hingga produk siap digunakan oleh konsumen.Dimulai dari Memahami Dunia KosmetikPerjalanan itu dibuka melalui Dunia Kosmetik karya Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., Dr. apt. Soraya Ratnawulan Mita, M.Si., dan Wendra Wilendra, M.MT. yang memperkenalkan pembaca pada lanskap industri kosmetik modern. Buku ini menjelaskan konsep dasar, ekosistem, dinamika industri, hingga berbagai pihak yang terlibat dalam perjalanan sebuah produk. Ia menjadi pintu masuk sebelum pembaca mempelajari tahapan yang lebih spesifik.Setelah memahami gambaran besarnya, pembaca diajak melihat salah satu kekuatan terbesar Indonesia melalui Indonesian Phytocosmetic Atlas. Buku yang ditulis Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., Prof. Dr. rer. nat Anis Yohana Chaerunisaa, M.Si., Apt., dan Wendra Wilendra, M.MT. ini memetakan kekayaan biodiversitas Indonesia sebagai sumber bahan baku kosmetik dan memperlihatkan bagaimana tanaman lokal memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bahan aktif berbasis riset ilmiah.Tahapan berikutnya dijelaskan melalui The Phytocosmetic Journey. Dalam buku ini, Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., Prof. Dr. apt. Sriwidodo, M.Si., dan Wendra Wilendra, M.MT.  menggambarkan perjalanan ilmiah yang harus ditempuh sebelum bahan alam benar-benar dapat menjadi bagian dari sebuah produk kosmetik. Mulai dari eksplorasi, penelitian, pengembangan formulasi, hingga proses penerapannya sebagai produk yang memiliki nilai tambah.Dari Ide Menjadi ProdukPerjalanan tersebut kemudian memasuki fase pengembangan melalui The Cosmetic Code. Di sinilah pembaca diajak memahami bagaimana sebuah ide diterjemahkan menjadi produk kosmetik melalui formulasi, teknologi, inovasi, serta pemahaman terhadap kebutuhan konsumen. Buku yang disusun oleh Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., Prof. Dr. Keri Lestari M.Si., S.Si., Apt., dr. Diah Puspitosari, Sp.DVE., dan Wendra Wilendra, M.MT. ini memperlihatkan bahwa keberhasilan sebuah produk tidak hanya ditentukan oleh bahan aktif yang digunakan, tetapi juga oleh proses ilmiah yang menghubungkan berbagai disiplin ilmu.Namun Cosmeticverse tidak berhenti ketika produk selesai diformulasikan. Tahapan terakhir justru mengangkat aspek yang sering luput dari perhatian publik, yaitu kualitas. Melalui The Invisible Quality, pembaca diperkenalkan pada budaya mutu, penerapan CPKB, integritas data, dan sistem kualitas yang menjadi fondasi kepercayaan dalam industri kosmetik modern. Buku karya Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., Prof. Dr. apt. Yoga Windhu Wardhana, S.Si., M.Si., dan Wendra Wilendra, M.MT. ini mengingatkan bahwa kualitas terbaik sering kali tidak terlihat oleh konsumen, tetapi selalu menentukan keamanan dan konsistensi sebuah produk.Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan sebuah produk kosmetik jauh lebih kompleks daripada yang tampak di permukaan. Produk yang digunakan setiap hari merupakan hasil dari rangkaian keputusan ilmiah, pengujian, inovasi, dan pengendalian mutu yang berlangsung jauh sebelum produk hadir di etalase.Baca Juga: Mengapa Industri Kosmetik Indonesia Membutuhkan Cosmeticverse?Bukan Lima Buku yang Berdiri SendiriBagi industri kosmetik Indonesia, pendekatan seperti ini memiliki arti penting. Pertumbuhan industri yang cepat membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya menguasai satu bidang, tetapi juga memahami hubungan antara penelitian, formulasi, produksi, kualitas, dan kebutuhan pasar. Karena itu, Cosmeticverse tidak menawarkan lima buku yang berdiri sendiri, melainkan sebuah kerangka berpikir yang menghubungkan seluruh proses tersebut.Analisis Redaksi Beautyversity menilai bahwa inilah salah satu nilai paling menarik dari Cosmeticverse. Di tengah melimpahnya informasi tentang kosmetik, pendekatan yang menyusun pengetahuan secara runtut justru menjadi sesuatu yang semakin dibutuhkan. Bukan hanya bagi mahasiswa dan akademisi, tetapi juga bagi pelaku industri yang ingin memahami mengapa sebuah produk tidak pernah lahir dari satu disiplin ilmu saja.Melalui lima buku tersebut, Cosmeticverse memperlihatkan bahwa kosmetik bukan sekadar tentang produk yang terlihat di tangan konsumen. Ia merupakan hasil perjalanan panjang yang dimulai dari ilmu pengetahuan, berkembang melalui penelitian, diperkuat oleh inovasi, dijaga oleh sistem mutu, dan akhirnya diterjemahkan menjadi produk yang mampu membangun kepercayaan. Itulah perjalanan yang ingin diperlihatkan Cosmeticverse kepada industri kosmetik Indonesia.Tentang CosmeticverseCosmeticverse merupakan ekosistem pengetahuan kosmetik yang diperkenalkan oleh Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran bersama Program Studi Rekayasa Kosmetik, LABCOS, Ray Academy, PT Baleide, dan berbagai mitra industri. Melalui pendekatan yang menghubungkan pendidikan, riset, teknologi, artificial intelligence, kewirausahaan, dan industri, Cosmeticverse bertujuan membangun fondasi pengetahuan yang lebih kuat bagi perkembangan kosmetik Indonesia. [][Eva Evilia/TBV]

Mengapa Industri Kosmetik Indonesia Membutuhkan Cosmeticverse?
BeautyNews

03 Jul 2026

Mengapa Industri Kosmetik Indonesia Membutuhkan Cosmeticverse?

Industri kosmetik Indonesia sedang berada dalam fase pertumbuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Munculnya ribuan merek lokal, meningkatnya minat masyarakat terhadap skincare dan personal care, serta berkembangnya jasa maklon menunjukkan bahwa industri ini terus bergerak dinamis. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, muncul tantangan baru yang tidak kalah besar, yakni bagaimana memastikan inovasi, kualitas, dan sumber daya manusia berkembang secepat laju industrinya. Pertanyaan itu menjadi salah satu benang merah dalam Seminar Kosmetik 2026 yang diselenggarakan Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran. Alih-alih hanya membahas tren produk atau peluang bisnis, seminar tersebut mengangkat kebutuhan membangun sebuah ekosistem yang mampu menghubungkan pendidikan, penelitian, teknologi, dan industri secara berkelanjutan. Dari gagasan itulah lahir Cosmeticverse, sebuah ekosistem pengetahuan yang diproyeksikan menjadi jembatan antara dunia akademik dan dunia usaha.Pertumbuhan industri memang membawa optimisme. Indonesia kini menjadi salah satu pasar kosmetik yang berkembang pesat di Asia Tenggara, didorong oleh meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap perawatan diri, perkembangan e-commerce, serta bertambahnya jumlah pelaku usaha lokal. Namun, pertumbuhan pasar tidak otomatis diikuti oleh kesiapan ekosistem pendukungnya. Di banyak sektor, masih ditemukan jarak antara hasil penelitian di perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata industri. Penelitian yang menghasilkan inovasi formulasi, bahan baku, atau teknologi sering berhenti sebagai publikasi ilmiah, sementara industri masih harus mencari solusi sendiri ketika menghadapi tantangan produksi, regulasi, maupun pengembangan produk. Kondisi inilah yang membuat kolaborasi menjadi semakin penting.Baca Juga: Fakultas Farmasi Unpad Perkenalkan Cosmeticverse, Ekosistem Baru Penghubung Dunia Kosmetik IndonesiaIndustri Tidak Hanya Membutuhkan Produk BaruSelama beberapa tahun terakhir, perhatian publik lebih banyak tertuju pada munculnya brand baru, tren bahan aktif, atau produk yang viral di media sosial. Padahal, fondasi industri kosmetik tidak hanya dibangun oleh produk yang berhasil dipasarkan. Industri juga membutuhkan peneliti, formulator, ahli mutu, regulator, hingga tenaga profesional yang memahami keseluruhan perjalanan sebuah produk.Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. apt. Sriwidodo, M.Si., menilai pengembangan industri kosmetik tidak dapat diserahkan kepada satu pihak saja."Membangun ekosistem kosmetik Indonesia tidak mungkin dilakukan sendiri di kampus. Perguruan tinggi memiliki peran melahirkan ilmu pengetahuan, inovasi, dan sumber daya manusia, tetapi keberhasilannya hanya akan tercapai melalui kolaborasi erat dengan pemerintah, industri, komunitas, dan media dalam semangat pentahelix," ujarnya.Pernyataan tersebut menggambarkan perubahan cara pandang terhadap pengembangan industri kosmetik. Jika sebelumnya perguruan tinggi lebih banyak diposisikan sebagai penghasil riset, kini perannya berkembang menjadi bagian dari ekosistem inovasi yang bekerja bersama pelaku industri, pemerintah, komunitas, dan media.Pendekatan seperti ini dinilai semakin relevan ketika siklus inovasi kosmetik berlangsung jauh lebih cepat dibanding beberapa tahun lalu. Perubahan preferensi konsumen, perkembangan teknologi formulasi, hingga meningkatnya tuntutan terhadap keamanan dan kualitas produk membuat kolaborasi menjadi kebutuhan, bukan lagi pilihan.Baca Juga: Fakultas Farmasi Unpad Dorong Hilirisasi Riset Kosmetik Lewat ICI 2026Menjahit Mata Rantai yang Selama Ini TerpisahRedaksi Beautyversity.id melihat bahwa salah satu tantangan terbesar industri kosmetik Indonesia bukan semata kekurangan ide, melainkan masih terpisahnya berbagai mata rantai pengetahuan. Dunia akademik menghasilkan penelitian, industri memahami kebutuhan pasar, regulator menjaga standar keamanan, sementara komunitas dan media membangun literasi publik. Ketika seluruh komponen tersebut berjalan sendiri-sendiri, proses lahirnya inovasi sering menjadi lebih lambat.Cosmeticverse mencoba menjawab persoalan tersebut melalui pendekatan yang lebih menyeluruh. Dalam satu ekosistem, inisiatif ini menghubungkan pendidikan, penelitian, teknologi, artificial intelligence, kewirausahaan, hingga kolaborasi industri. Tidak berhenti pada seminar, konsep ini juga diwujudkan melalui peluncuran lima buku, pengenalan LABCOS AI, dan program Cosmepreneur yang dirancang untuk mempertemukan mahasiswa dengan dunia industri sejak masa pendidikan.Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan kosmetik tidak lagi dipandang sebagai proses yang berdiri sendiri. Sebuah produk lahir melalui perjalanan panjang yang melibatkan ilmu dasar, eksplorasi bahan baku, formulasi, sistem mutu, teknologi produksi, hingga kemampuan memahami kebutuhan konsumen. Karena itu, membangun industri tidak cukup hanya dengan menghadirkan produk baru, tetapi juga membangun pengetahuan yang menghubungkan seluruh proses tersebut.Baca Juga: Kosmetik sebagai Bahasa KepercayaanMomentum untuk Menyiapkan Masa DepanApt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., yang turut menggagas Cosmeticverse, berharap ekosistem ini mampu menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan industri. Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi dan pelaku bisnis kosmetik akan menjadi salah satu fondasi penting dalam memperkuat daya saing industri nasional.Harapan tersebut muncul pada saat industri kosmetik menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Persaingan tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan produk yang menarik, tetapi juga oleh kualitas riset, budaya mutu, kesiapan sumber daya manusia, serta kemampuan memanfaatkan teknologi digital dan artificial intelligence. Seluruh aspek itu membutuhkan ruang kolaborasi yang lebih terbuka.Cosmeticverse hadir pada momentum ketika industri Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar inovasi produk. Industri memerlukan sebuah ekosistem yang mampu mempercepat perpindahan pengetahuan dari laboratorium ke ruang produksi, dari ruang kelas ke dunia kerja, serta dari hasil penelitian menjadi solusi yang benar-benar dirasakan masyarakat. Dalam konteks itulah, Cosmeticverse menawarkan sebuah gagasan yang tidak hanya menjawab kebutuhan hari ini, tetapi juga menyiapkan fondasi bagi masa depan industri kosmetik Indonesia.Tentang CosmeticverseCosmeticverse merupakan ekosistem pengetahuan kosmetik yang diperkenalkan oleh Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran bersama Program Studi Rekayasa Kosmetik, LABCOS, Ray Academy, PT Baleide, dan berbagai mitra industri. Ekosistem ini menghubungkan pendidikan, riset, teknologi, artificial intelligence, kewirausahaan, serta dunia industri untuk memperkuat inovasi dan daya saing kosmetik Indonesia. [][Vikalena Lasmoskwa/TBV]

Fakultas Farmasi Unpad Perkenalkan Cosmeticverse, Ekosistem Baru Penghubung Dunia Kosmetik Indonesia
BeautyNews

02 Jul 2026

Fakultas Farmasi Unpad Perkenalkan Cosmeticverse, Ekosistem Baru Penghubung Dunia Kosmetik Indonesia

JATINANGOR – Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran [Unpad] memperkenalkan Cosmeticverse, sebuah ekosistem pengetahuan yang dirancang untuk menghubungkan dunia pendidikan, riset, teknologi, industri, hingga kewirausahaan kosmetik Indonesia. Inisiatif tersebut diperkenalkan dalam Seminar Kosmetik 2026 bertema Inovasi dan Teknologi di Bidang Kosmetik dalam Mendukung Kemajuan Industri Kosmetik Nasional yang digelar di Auditorium Fakultas Farmasi Unpad, Jatinangor, Rabu [01/07].Berbeda dari seminar kosmetik pada umumnya, kegiatan ini tidak hanya menghadirkan diskusi ilmiah, tetapi juga memperkenalkan sebuah kerangka besar yang berupaya menghubungkan seluruh perjalanan ilmu kosmetik. Mulai dari pendidikan, penelitian bahan baku, pengembangan formulasi, penerapan teknologi, budaya mutu, hingga lahirnya pelaku industri baru, seluruhnya dirangkai dalam satu ekosistem yang diberi nama Cosmeticverse.Seminar tersebut merupakan kolaborasi Fakultas Farmasi Unpad bersama Program Studi Rekayasa Kosmetik, PSPST Farmasi Unpad, PT Baleide, LABCOS, Ray Academy, serta berbagai mitra industri. Kolaborasi ini mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, mahasiswa, dan pelaku usaha untuk membahas perkembangan ilmu kosmetik sekaligus memperkuat hubungan antara dunia kampus dan industri.Rangkaian kegiatan juga memperlihatkan bagaimana Cosmeticverse dibangun sebagai sebuah ekosistem, bukan sekadar program tunggal. Selain peluncuran lima buku, peserta diperkenalkan dengan LABCOS AI, program Cosmepreneur, serta berbagai inisiatif kolaboratif yang dirancang untuk memperkuat literasi, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia di bidang kosmetik.Baca Juga: Fakultas Farmasi Unpad Dorong Hilirisasi Riset Kosmetik Lewat ICI 2026Menyatukan Perjalanan Ilmu KosmetikGuru Besar Fakultas Farmasi Unpad, Prof. Dr. apt. Sriwidodo, M.Si., menilai pengembangan industri kosmetik nasional memerlukan pendekatan yang melibatkan banyak pihak."Membangun ekosistem kosmetik Indonesia tidak mungkin dilakukan sendiri di kampus. Perguruan tinggi memiliki peran melahirkan ilmu pengetahuan, inovasi, dan sumber daya manusia, tetapi keberhasilannya hanya akan tercapai melalui kolaborasi erat dengan pemerintah, industri, komunitas, dan media dalam semangat pentahelix," ujarnya.Gagasan tersebut menjadi salah satu fondasi utama Cosmeticverse. Ekosistem ini dirancang agar ilmu pengetahuan tidak berhenti sebagai hasil penelitian, melainkan dapat diterjemahkan menjadi inovasi yang relevan bagi industri sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.Pendekatan tersebut juga tercermin dalam peluncuran lima buku yang diperkenalkan pada kesempatan yang sama. Kelima buku itu tidak diposisikan sebagai karya yang berdiri sendiri, melainkan sebagai rangkaian pengetahuan yang menjelaskan bagaimana sebuah produk kosmetik lahir, dikembangkan, diproduksi, hingga akhirnya dipercaya oleh konsumen.Bukan Sekadar Meluncurkan BukuDalam paparannya, Prof. Dr. Keri Lestari, M.Si., S.Si., Apt., menjelaskan bahwa kelima buku tersebut disusun sebagai satu narasi yang saling melengkapi."Kelima buku ini membentuk sebuah narasi yang saling melengkapi. Bukan sekadar kumpulan referensi, melainkan sebuah peta pengetahuan yang menghubungkan sains, inovasi, formulasi, kualitas, dan masa depan industri kosmetik Indonesia," ujarnya.Rangkaian buku tersebut dimulai dari Dunia Kosmetik sebagai pengantar mengenai sistem dan ekosistem industri kosmetik modern. Pembahasan kemudian berlanjut ke potensi biodiversitas Indonesia melalui Indonesian Phytocosmetic Atlas, dilanjutkan dengan perjalanan penelitian bahan alam dalam The Phytocosmetic Journey, proses formulasi melalui The Cosmetic Code, hingga budaya mutu yang menjadi fondasi industri pada The Invisible Quality.Susunan ini menunjukkan bahwa Cosmeticverse tidak hanya menawarkan kumpulan referensi, tetapi membangun sebuah alur pembelajaran yang utuh mengenai industri kosmetik, mulai dari ilmu dasar hingga penerapannya di dunia usaha.Baca Juga: Kosmetik sebagai Bahasa KepercayaanMenjawab Tantangan Industri KosmetikSelain memperkenalkan ekosistem pengetahuan, seminar ini juga menyoroti tantangan yang sedang dihadapi industri kosmetik Indonesia. Pertumbuhan industri yang terus meningkat harus diimbangi dengan ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten, penguasaan teknologi, budaya mutu, serta inovasi berbasis riset.Dalam konteks tersebut, Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., yang juga menjadi salah satu penggagas Cosmeticverse, berharap ekosistem ini mampu menjadi jembatan antara dunia akademik dan industri. Menurutnya, kolaborasi perguruan tinggi dengan pelaku bisnis kosmetik akan menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun ekosistem tersebut.Melalui pendekatan yang menghubungkan pendidikan, penelitian, teknologi, artificial intelligence, hingga kewirausahaan, Cosmeticverse diharapkan menjadi ruang bersama untuk mempercepat lahirnya inovasi kosmetik Indonesia yang lebih berdaya saing.Lebih dari sekadar agenda seminar atau peluncuran buku, inisiatif ini menjadi upaya membangun sebuah ekosistem yang memungkinkan ilmu pengetahuan bergerak lebih jauh dari laboratorium. Dengan mempertemukan kampus, industri, komunitas, dan teknologi dalam satu kerangka kolaboratif, Cosmeticverse menawarkan sebuah cara baru untuk melihat masa depan industri kosmetik Indonesia.Cosmeticverse merupakan ekosistem pengetahuan kosmetik yang diperkenalkan oleh Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran bersama Program Studi Rekayasa Kosmetik, LABCOS, Ray Academy, PT Baleide, serta berbagai mitra industri. Ekosistem ini menghubungkan pendidikan, riset, teknologi, artificial intelligence, kewirausahaan, dan industri untuk memperkuat inovasi serta daya saing kosmetik Indonesia. [][Eva Evilia/TBV]

Menampilkan 61 - 72 dari 521 artikel