Tag

Beautyversity

Jelajahi artikel dengan tag Beautyversity

Bisakah Skincare Mengubah Mikrobioma Kulit?
SkinCare

07 Okt 2026

Bisakah Skincare Mengubah Mikrobioma Kulit?

Produk yang dipakai setiap hari memang dapat berinteraksi dengan mikrobioma kulit. Namun, perubahan belum tentu berarti gangguan, dan belum tentu pula berarti manfaat.Kulit tidak pernah benar-benar kosong. Di permukaannya hidup komunitas mikroorganisme yang terus berinteraksi dengan skin barrier, pH, sebum, hidrasi, sistem imun, lingkungan, dan kondisi biologis pemiliknya. Karena itu, setiap produk yang diaplikasikan ke kulit berpotensi ikut memengaruhi lingkungan tempat komunitas tersebut hidup.Namun, kata ‘memengaruhi’ perlu dibaca dengan hati-hati. Pembersih dapat mengurangi sebagian mikroorganisme untuk sementara, pelembap dapat mengubah kadar air dan kondisi permukaan kulit, sedangkan perubahan pH, lipid, surfaktan, bahan aktif, hingga efek oklusif juga dapat menggeser lingkungan mikroba. Interaksi semacam itu memang mungkin terjadi, tetapi interaksi tidak otomatis berarti gangguan. Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si. menempatkan mikrobioma sebagai bagian dari ekosistem kulit yang lebih luas, bukan sebagai entitas yang berdiri sendiri. Dalam kerangka tersebut, mikrobioma perlu dibaca bersama barrier, hidrasi, lipid, respons imun, dan lingkungan. Karena itu, perubahan pada satu bagian sistem tidak selalu bisa ditafsirkan sendirian. Pendekatan ini penting karena bahasa pemasaran sering membuat persoalan terdengar terlalu sederhana. Produk disebut ‘menjaga mikrobioma’, ‘menyeimbangkan mikrobioma’, atau ‘ramah mikrobioma’, tetapi perubahan biologis yang terjadi pada kulit tidak selalu dapat diterjemahkan langsung menjadi manfaat yang terasa.Baca Juga: Apakah Kulit Memiliki Mikrobioma yang 'Ideal'?Pembersih dan Pelembap Sama-Sama Bisa Mengubah Lingkungan MikrobaPembersihan adalah salah satu intervensi paling langsung terhadap ekosistem kulit. Cleanser bekerja mengangkat sebum, kotoran, tabir surya, makeup, partikel lingkungan, dan sebagian mikroorganisme. Pada saat yang sama, pembersihan juga dapat memengaruhi lipid kulit, hidrasi, pH, protein barrier, dan komunitas mikroba.Karena itu, pembersihan yang lebih kuat belum tentu berarti pembersihan yang lebih baik. Dari perspektif ekosistem, pertanyaan yang lebih relevan adalah apakah produk membersihkan sesuai kebutuhan tanpa menimbulkan gangguan yang tidak diperlukan. Prinsip mildness menjadi penting karena tujuan perawatan bukan mensterilkan permukaan kulit. Pelembap juga dapat memengaruhi mikrobioma secara tidak langsung. Produk tidak harus mengandung probiotic atau prebiotic untuk berinteraksi dengan lingkungan mikroba. Dengan membantu hidrasi dan mendukung kondisi skin barrier, pelembap dapat mengubah kadar air, lipid, TEWL, dan karakter permukaan tempat mikroorganisme hidup. Prof. Keri menekankan bahwa mendukung barrier juga berarti mendukung lingkungan tempat mikrobioma berada. Gagasan ini menggeser fokus dari pertanyaan “bakteri apa yang perlu ditambahkan?” menjadi “lingkungan seperti apa yang perlu dipertahankan agar ekosistem kulit tetap dapat berfungsi dengan baik?”. Artinya, microbiome-informed skincare tidak identik dengan produk yang secara khusus membawa label microbiome ingredient. Produk yang menjaga hidrasi, menggunakan sistem pembersihan yang lembut, mempertahankan pH yang sesuai, atau menghindari gangguan berlebihan terhadap barrier juga dapat relevan terhadap konteks mikrobioma. Baca Juga: Mengapa Area Hidung dan Dagu Sering Memiliki Tekstur yang Lebih Terlihat?Mengubah Mikrobioma Belum Tentu Berarti Produk BekerjaDi sinilah batas antara sains dan klaim pemasaran menjadi penting. Misalnya, sebuah penelitian menemukan bahwa setelah menggunakan produk tertentu, kelimpahan relatif mikroorganisme A meningkat 15 persen. Angka itu terdengar menarik, tetapi belum cukup untuk mengatakan bahwa kulit menjadi lebih sehat.Masih perlu ditanyakan apakah perubahan tersebut signifikan, apakah bertahan, apakah ada konsekuensi fungsional, apakah barrier membaik, dan apakah terdapat hasil yang dapat diukur pada kulit. Dengan kata lain, microbiome endpoint dan skin-benefit endpoint adalah dua hal berbeda. Perubahan belum tentu berarti manfaat. Sementara itu, Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. membawa persoalan ini ke wilayah formulasi. Menurut kerangka pengembangan produk yang dibahasnya, formulasi tidak hanya perlu mempertimbangkan bahan yang ingin digunakan, tetapi juga pH, kekuatan pembersihan, sistem pengawet, dukungan terhadap lipid barrier, tingkat mildness, stabilitas, kemasan, serta bukti yang dibutuhkan untuk mendukung klaim. Pengawet menjadi contoh yang sangat jelas. Karena memiliki aktivitas antimikroba, pengawet sering dicurigai buruk bagi mikrobioma. Padahal, produk berbasis air tetap membutuhkan sistem pengawetan yang memadai agar tidak menjadi tempat tumbuh mikroorganisme yang justru dapat membahayakan pengguna. Karena itu, pertanyaannya bukan apakah pengawet ‘baik’ atau ‘buruk’ bagi mikrobioma secara mutlak. Jenis pengawet, konsentrasi, formula, frekuensi paparan, cara penggunaan, dan data pada produk jadi tetap perlu diperhitungkan. Dari perspektif formulasi, tantangannya adalah membuat produk yang aman secara mikrobiologis, stabil, sesuai tujuan, dan memiliki bukti yang relevan jika ingin membawa klaim terkait mikrobioma. Hal yang sama berlaku untuk bahan yang disebut baik bagi mikrobioma. Bukti pada satu bahan baku belum otomatis menjadi bukti bahwa produk akhirnya mempunyai efek yang sama. Setelah masuk ke formula, konsentrasi, pH, bahan lain, sistem pengawet, proses produksi, stabilitas, kemasan, dan pola penggunaan dapat mengubah perilakunya. Jadi, skincare memang dapat mengubah lingkungan mikrobioma kulit. Tetapi perubahan itu baru memiliki makna ketika dibaca bersama fungsi barrier, kondisi kulit, durasi perubahan, kemampuan ekosistem untuk pulih, dan hasil yang benar-benar dapat diukur. Pertanyaan yang lebih berguna bukan sekadar “apakah mikrobioma berubah?”, melainkan “apa yang berubah, seberapa lama, dan apakah perubahan itu benar-benar membawa manfaat bagi kulit?” [][Eva Evilia/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Apakah Kulit Memiliki Mikrobioma yang 'Ideal'?
SkinCare

06 Okt 2026

Apakah Kulit Memiliki Mikrobioma yang 'Ideal'?

Kulit sehat sering dibayangkan memiliki mikrobioma yang seimbang. Namun, adakah satu komposisi mikroorganisme yang benar-benar bisa disebut ideal?Pembicaraan tentang skin microbiome membawa kosakata baru ke dunia skincare. Ada bakteri baik, keseimbangan mikrobioma, microbiome-friendly, hingga produk yang diklaim membantu menjaga ekosistem kulit. Dari sana mudah muncul bayangan bahwa kulit sehat seharusnya mempunyai komposisi mikroorganisme tertentu yang dapat dijadikan standar.Masalahnya, kulit manusia tidak bekerja seperti akuarium yang bisa diisi dengan kombinasi organisme dalam jumlah yang dianggap paling tepat. Mikrobioma kulit terdiri atas komunitas mikroorganisme yang hidup pada lingkungan biologis berbeda-beda. Kondisi tersebut dipengaruhi lokasi kulit, sebum, kelembapan, pH, skin barrier, respons imun, lingkungan, hingga karakter biologis pemilik kulit.Studi Grice dan kolega yang dipublikasikan dalam Science pada 2009 menunjukkan bahwa komunitas mikroba berbeda secara nyata berdasarkan karakter area kulit. Area yang berminyak, lembap, dan kering menyediakan habitat yang berbeda bagi mikroorganisme. Penelitian berikutnya oleh Oh dan kolega dalam Nature juga memperlihatkan kuatnya unsur individualitas dalam mikrobioma kulit.Karena itu, ilmu pengetahuan saat ini belum memiliki satu peta mikrobioma yang dapat ditetapkan sebagai kondisi ideal bagi semua orang. Dari pembahasan Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si. di BeautéSpot, Cosmobeauté Indonesia 2026, juga menempatkan mikrobioma sebagai bagian dari sistem biologis yang lebih besar. Pertanyaannya kemudian bergeser: bukan mikroorganisme apa yang harus dimiliki kulit sehat, melainkan bagaimana komunitas tersebut berinteraksi dengan kondisi kulit tempat mereka hidup.Baca Juga: Mengapa Area Hidung dan Dagu Sering Memiliki Tekstur yang Lebih Terlihat?Lebih Beragam Belum Tentu Lebih SehatSalah satu anggapan yang menarik untuk dibongkar adalah gagasan bahwa semakin beragam mikroorganisme pada kulit, semakin sehat pula kulit tersebut. Dalam sejumlah ekosistem biologis, keragaman memang dapat berkaitan dengan ketahanan sistem. Namun, pada mikrobioma kulit, microbial diversity belum dapat digunakan sebagai health score universal.Area kulit yang kaya sebum, area lembap, dan area kering secara alami mempunyai struktur komunitas mikroba yang berbeda. Itu berarti kulit dengan keragaman mikroorganisme lebih rendah belum tentu sedang bermasalah. Sebaliknya, keragaman yang tinggi juga tidak otomatis menunjukkan kondisi yang lebih sehat. Maknanya baru dapat dibaca bersama lokasi, komposisi, fungsi, kondisi pemilik kulit, dan konteks biologisnya.Hal serupa berlaku ketika mikroorganisme mulai dikelompokkan menjadi 'baik' dan 'buruk'. Cutibacterium acnes, misalnya, mudah diasosiasikan dengan jerawat karena namanya. Padahal mikroorganisme tersebut juga merupakan bagian umum dari mikrobioma kulit sehat, terutama pada area yang kaya sebum. Penelitian Fitz-Gibbon dan kolega menunjukkan bahwa perbedaannya dapat melibatkan populasi strain, bukan sekadar ada atau tidak adanya C. acnes.Konsep dysbiosis pun perlu dibaca dengan kehati-hatian serupa. Perubahan komposisi mikrobioma belum otomatis berarti terjadi gangguan karena komunitas tersebut memang dapat berubah akibat pembersihan kulit, kosmetik, kelembapan, temperatur, paparan lingkungan, antibiotik, hormon, usia, gaya hidup, maupun perubahan skin barrier. Sebagian perubahan dapat bersifat sementara, adaptif, atau bahkan tidak menimbulkan konsekuensi biologis yang berarti.Bahkan ketika dysbiosis ditemukan bersama suatu kondisi kulit, hubungan keduanya belum tentu sederhana. Kompilasi Wendra membedakan setidaknya empat kemungkinan: perubahan mikrobioma dapat menjadi penyebab, konsekuensi, faktor yang memperkuat kondisi, atau sekadar penanda yang muncul bersamaan. Studi yang menemukan hubungan atau asosiasi saja belum cukup untuk memastikan mana di antara hubungan tersebut yang terjadi.Baca Juga: Mengapa Wajah Terasa Lebih Sensitif pada Hari-Hari Tertentu?Mungkin yang Dicari Bukan Komposisi IdealAda alasan lain mengapa gambaran mikrobioma ideal sulit dibuat: ekosistem ini tidak sepenuhnya statis. Studi Oh dan kolega dalam Cell pada 2016 menunjukkan bahwa sebagian karakteristik mikrobioma seseorang dapat relatif stabil dari waktu ke waktu. Namun, stabil bukan berarti tidak berubah karena lingkungan, kosmetik, iklim, kondisi kulit, dan berbagai perubahan fisiologis tetap dapat memengaruhinya.Di sinilah hubungan mikrobioma dengan skin barrier menjadi penting. Kondisi barrier ikut menentukan kelembapan, lipid, pH, nutrisi, dan karakter habitat tempat komunitas mikroorganisme hidup. Sebaliknya, mikroorganisme serta hasil metabolismenya juga dapat berinteraksi dengan sel kulit, sinyal imun, proses diferensiasi barrier, dan homeostasis kulit. Kerangka yang dibawa Prof. Keri menempatkan hubungan itu sebagai microbiome × barrier × host biology × environment.Cara pandang tersebut membuat istilah 'ideal' perlu diperlakukan hati-hati. Mikrobioma yang sehat mungkin tidak harus menyerupai sebuah komposisi baku yang sama pada setiap orang, terlebih ilmu saat ini belum menyediakan dasar untuk menetapkan standar universal semacam itu. Beautyversity mencatat bahwa belum tersedia satu mikrobioma ideal, satu diversity score ideal, ataupun satu formula mikrobioma yang dapat berlaku untuk semua orang.Implikasinya juga penting bagi perkembangan skincare. Produk yang mengubah suatu parameter mikrobioma belum otomatis memberikan manfaat klinis, sebagaimana keberadaan prebiotic, probiotic, atau postbiotic belum dengan sendirinya membuktikan bahwa sebuah produk lebih baik bagi ekosistem kulit. Bukti pada tingkat bahan pun tidak otomatis menjadi bukti terhadap hasil produk jadi karena formulasi, pH, pengawet, stabilitas, kemasan, dan cara penggunaan ikut menentukan apa yang benar-benar terjadi pada kulit.Maka, pertanyaan mengenai mikrobioma ideal mungkin memang perlu diubah. Alih-alih mencari daftar mikroorganisme yang harus dimiliki semua orang, ilmu mikrobioma mengajak kita melihat apakah komunitas tersebut dapat berfungsi dalam hubungan yang selaras dengan skin barrier, kondisi biologis pemilik kulit, dan lingkungannya. Kemajuan sains justru menunjukkan gambaran yang semakin bernuansa: mungkin yang perlu dipahami bukan seperti apa mikrobioma kulit yang sempurna, melainkan bagaimana ekosistem kulit mampu tetap berfungsi dengan baik ketika terus berubah. [][Eva Evilia/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Dari Patin, Teh Hijau, hingga Microbiome, Bagaimana Sains Mengubah Cara Kita Melihat Inovasi Beauty?
BeautyNews

05 Okt 2026

Dari Patin, Teh Hijau, hingga Microbiome, Bagaimana Sains Mengubah Cara Kita Melihat Inovasi Beauty?

Indonesia tidak kekurangan sumber daya menarik. Tantangan yang lebih besar adalah membangun pengetahuan yang mampu mengubahnya menjadi inovasi bernilai.Seekor ikan patin, secangkir teh hijau, dan komunitas mikroorganisme yang hidup di kulit tampaknya tidak memiliki banyak kesamaan. Namun, ketiganya bertemu dalam satu percakapan di BeautéSpot, Cosmobeauté Indonesia 2026. Bukan sekadar sebagai tiga topik ilmiah, melainkan tiga cara untuk melihat bagaimana inovasi kecantikan berkembang.Dalam sesi From Local Resources to Science-Driven Beauty Innovation, Prof. Dr. Sugeng Heri Suseno, S.Pi., M.Si. membawa minyak ikan patin, Dr. apt. Naniek Widyaningrum, M.Sc. mengangkat EGCG dari teh hijau, sedangkan Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si. membawa pembicaraan menuju microbiome dan probiotic science. Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. memoderasi percakapan yang sekilas bergerak di tiga wilayah berbeda tersebut.Namun, jika ditarik lebih jauh, ada satu pertanyaan yang menghubungkannya: apa yang membuat sesuatu benar-benar dapat disebut inovasi? Memiliki sumber daya belum berarti memiliki bahan kosmetik. Memiliki senyawa aktif menjanjikan belum berarti memiliki formula efektif, dan memahami sebuah mekanisme biologis belum berarti memiliki produk yang manfaatnya sudah terbukti.Di sinilah percakapan tentang inovasi kecantikan menjadi lebih menarik daripada sekadar mencari hero ingredient berikutnya. Perjalanannya dapat dimulai dari sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi harus melewati riset, teknologi, formulasi, pengujian, hingga pemahaman terhadap sistem biologis tempat produk tersebut nantinya digunakan.Baca Juga: Kalau Setiap Orang Punya Skin Microbiome yang Berbeda, Seperti Apa yang Disebut Sehat?Dari Sumber Daya ke Bahan yang Benar-Benar DipahamiPatin menjadi titik berangkat yang menarik. Selama ini ikan tersebut lebih mudah ditempatkan sebagai komoditas pangan, padahal Prof. Sugeng mengangkat kemungkinan lain: bagaimana minyak yang berasal dari sumber daya lokal dapat dipahami karakter dan kualitasnya, kemudian dikembangkan menuju bahan bernilai tambah untuk industri beauty. Perubahannya bukan terjadi hanya karena kita menemukan kegunaan baru, tetapi karena pengetahuan tentang sumber daya tersebut dibangun lebih jauh.Ini sekaligus menunjukkan perbedaan antara kekayaan sumber daya dan kemampuan menciptakan nilai darinya. Sebuah bahan lokal dapat tersedia melimpah, tetapi industri membutuhkan lebih dari cerita tentang asal-usulnya. Karakteristik bahan, kualitas, konsistensi, proses pengolahan, dan bukti ilmiah menjadi bagian dari perjalanan yang menentukan apakah potensi tersebut dapat bergerak menuju aplikasi yang lebih bernilai.Teh hijau membawa perjalanan itu satu tahap lebih jauh. Berbeda dengan patin yang membuka pembicaraan dari sumber daya lokal, EGCG sudah dikenal sebagai salah satu senyawa bioaktif utama dalam teh hijau. Tantangannya kemudian bukan hanya menemukan bahwa senyawa tersebut mempunyai aktivitas biologis yang menarik, melainkan mempertahankan relevansinya ketika dibawa ke dalam sebuah produk.Dalam pembahasan Dr. Naniek, keberadaan bahan aktif saja belum cukup. Stabilitas, sistem formulasi, delivery, dan efektivitas ikut menentukan bagaimana sebuah natural active dapat diterjemahkan menjadi inovasi yang lebih konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan. Di sinilah istilah ‘natural’ berhenti menjadi akhir cerita dan justru menjadi awal pekerjaan ilmiah.Persoalan tersebut penting karena sebuah bahan dapat terlihat menjanjikan dalam penelitian, tetapi menghadapi kondisi berbeda ketika berada di dalam formula. Ia harus hidup bersama bahan lain, berada pada lingkungan pH tertentu, bertahan selama penyimpanan, melewati proses produksi, dan tetap memiliki karakter yang relevan saat produk digunakan. Dengan kata lain, bahan yang menarik secara biologis belum otomatis menjadi produk yang bekerja sebagaimana diharapkan.Baca Juga: Skincare Terlalu Lama Berbicara tentang Bahan Aktif, Bagaimana Jika Kita Mulai dari Kulit?Ketika Inovasi Tidak Lagi Berhenti pada BahanProf. Keri kemudian membawa percakapan menuju lapisan yang lebih kompleks. Jika patin mengajak melihat bagaimana sumber daya memperoleh nilai melalui sains dan EGCG menunjukkan pentingnya menerjemahkan bahan aktif ke dalam formula, microbiome science mengubah pertanyaannya lagi. Kini persoalannya bukan hanya apa yang dimasukkan ke dalam produk, tetapi sistem biologis apa yang akan berinteraksi dengan produk tersebut.Kulit bukan permukaan pasif. Skin barrier, sebum, hidrasi, pH, respons imun, lingkungan, dan komunitas mikroorganisme membentuk sistem yang saling berhubungan. Karena itu, perkembangan microbiome science membuat inovasi kosmetik semakin sulit direduksi menjadi cerita satu bahan untuk satu manfaat.Implikasinya juga membuat istilah seperti probiotic dan postbiotic tidak cukup diperlakukan sebagai label inovasi. Pertanyaan ilmiahnya tetap harus bergerak lebih jauh: apa mekanismenya, bagaimana bahan tersebut ditempatkan dalam formula, apakah formulanya stabil, bagaimana produk berinteraksi dengan ekosistem kulit, dan bukti seperti apa yang mendukung manfaat yang ingin diklaim. Pendekatan berbasis microbiome menjadi bermakna ketika ia menambah pemahaman terhadap kulit, bukan ketika istilahnya sekadar menambah kosakata pemasaran.Pada titik tersebut, peran formulasi kembali menjadi penting. Sebagai moderator, Cahya mempertemukan pembicaraan mengenai sumber daya, bahan aktif, dan biologi kulit dengan wilayah product development. Sebuah ide ilmiah tetap harus melewati pertanyaan tentang stabilitas, keamanan, kemampuan untuk diproduksi secara konsisten, metode pengujian, hingga sejauh mana bukti yang tersedia benar-benar mendukung produk akhirnya.Maka, tiga topik yang awalnya tampak berjauhan justru membentuk satu perjalanan yang utuh. Patin menunjukkan bahwa sumber daya membutuhkan pengetahuan untuk memperoleh nilai baru. EGCG memperlihatkan bahwa potensi biologis membutuhkan teknologi dan formulasi agar dapat diterjemahkan menjadi produk, sementara microbiome mengingatkan bahwa produk tersebut kemudian bekerja pada sistem biologis yang jauh lebih kompleks daripada satu target tunggal.Perjalanan itu juga mengubah makna inovasi. Kebaruan tidak selalu berarti menemukan bahan yang belum pernah dikenal sebelumnya. Inovasi dapat lahir ketika sumber daya yang sudah dekat dengan kehidupan sehari-hari dipahami dengan lebih baik, ketika senyawa yang sudah dikenal dapat diformulasikan dengan lebih tepat, atau ketika ilmu baru membuat industri mengajukan pertanyaan yang sebelumnya belum terpikirkan.Bagi Indonesia, cara berpikir seperti ini mungkin jauh lebih penting daripada sekadar mencari bahan lokal berikutnya yang dapat disebut unik. Kekayaan sumber daya baru menjadi kekuatan industri ketika ada riset yang memahami karakteristiknya, teknologi yang mampu mengolahnya, formulasi yang dapat mempertahankan kinerjanya, dan bukti yang menjelaskan apa yang benar-benar dilakukan produk tersebut.Patin, teh hijau, dan microbiome mungkin berasal dari tiga dunia yang berbeda. Namun, ketiganya memperlihatkan satu hal yang sama: sains tidak hanya membantu menemukan sesuatu yang baru, tetapi juga membuat kita melihat sesuatu yang sudah ada dengan cara yang lebih bernilai. Mungkin kekayaan terbesar industri kecantikan Indonesia bukan hanya apa yang tumbuh, hidup, atau tersedia di negeri ini, melainkan pengetahuan yang mampu dibangun di atasnya. [][Tim Beautyversity/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Kalau Setiap Orang Punya Skin Microbiome yang Berbeda, Seperti Apa yang Disebut Sehat?
BeautyNews

04 Okt 2026

Kalau Setiap Orang Punya Skin Microbiome yang Berbeda, Seperti Apa yang Disebut Sehat?

Kita terbiasa mencari ukuran ideal untuk kesehatan. Namun, ketika membicarakan skin microbiome, sains justru menunjukkan bahwa ‘sehat’ tidak memiliki satu komposisi universal.Ada sesuatu yang menggoda dari gagasan tentang skin microbiome yang sehat. Jika teknologi sudah mampu mengenali mikroorganisme yang hidup pada kulit, rasanya hanya tinggal satu langkah lagi untuk menentukan bakteri mana yang harus banyak, mana yang harus sedikit, lalu merancang produk yang membawa semuanya menuju komposisi ideal.Masalahnya, kulit manusia tidak bekerja sesederhana itu. Dalam diskusi BeautéSpot di Cosmobeauté Indonesia 2026, Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si. menempatkan microbiome bukan sebagai kumpulan mikroorganisme yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari sistem yang terus berinteraksi dengan skin barrier, pH, sebum, hidrasi, respons imun, biologi tubuh, dan lingkungan. Cara pandang itu segera menimbulkan pertanyaan yang lebih sulit. Jika lingkungan kulit setiap orang berbeda, apakah masuk akal mencari satu komposisi microbiome yang dianggap paling sehat untuk semuanya? Bahkan sebelum membandingkan dua orang, penelitian menunjukkan bahwa komunitas mikroba pada hidung, ketiak, lengan, dan bagian kulit lain dalam tubuh yang sama pun dapat berbeda.Studi klasik Elizabeth Grice dan kolega yang dipublikasikan di Science pada 2009 menunjukkan bahwa lokasi anatomis sangat memengaruhi komunitas mikroba kulit. Area yang kaya sebum menyediakan kondisi berbeda dari area lembap maupun area yang lebih kering, sehingga mikroorganisme yang hidup di sana pun tidak identik. Artinya, satu sampel dari satu titik kulit tidak dapat begitu saja dianggap mewakili keseluruhan microbiome seseorang. Baca Juga: Skincare Terlalu Lama Berbicara tentang Bahan Aktif, Bagaimana Jika Kita Mulai dari Kulit?Bahkan Dua Kulit yang Sama-Sama Sehat Bisa BerbedaPersoalannya menjadi semakin menarik ketika perbandingan dilakukan antarorang. Studi Oh dan kolega di Nature pada 2014 menunjukkan adanya variasi yang besar dalam komunitas mikroba kulit antarindividu. Dua orang yang sama-sama sehat karena itu dapat memiliki profil mikroba yang tidak sama. Perbedaan tersebut dapat berkaitan dengan lokasi kulit, fisiologi, usia, lingkungan, gaya hidup, kebiasaan kebersihan, penggunaan kosmetik, hingga faktor tubuh pemiliknya. Temuan ini membuat istilah ‘normal skin microbiome’ perlu digunakan dengan hati-hati. Normal tidak berarti semua orang harus mempunyai daftar mikroorganisme dalam proporsi yang seragam.Hal yang sama berlaku untuk microbial diversity. Keragaman yang tinggi terkadang diasosiasikan dengan ekosistem yang lebih tangguh, tetapi bahan yang menjadi dasar artikel ini menegaskan bahwa diversity bukanlah skor kesehatan universal untuk kulit. Ada bagian kulit yang secara alami memiliki keragaman lebih rendah, dan maknanya baru bisa dipahami ketika lokasi, komposisi, fungsi, serta kondisi pemilik kulit ikut diperhitungkan. Contoh yang cukup menggugah datang dari Cutibacterium acnes. Namanya membuat mikroorganisme ini mudah diposisikan sebagai musuh karena begitu dekat dengan kata jerawat. Padahal, C. acnes merupakan penghuni umum kulit sehat. Penelitian Fitz-Gibbon dan kolega menunjukkan bahwa persoalannya tidak cukup dijelaskan dengan pertanyaan apakah bakteri tersebut ada atau tidak, karena populasi strain tertentu ditemukan berbeda pada individu dengan dan tanpa jerawat. Temuan itu tidak berarti satu strain dapat langsung dinobatkan sebagai penyebab jerawat. Hubungan atau asosiasi belum sama dengan sebab-akibat. Namun, contoh tersebut cukup untuk menunjukkan mengapa membagi dunia microbiome menjadi 'bakteri baik' dan 'bakteri jahat' dapat membuat ilmu yang sebenarnya kompleks terasa terlalu sederhana.Baca Juga: AI Kini Masuk ke Dunia Kosmetik: LABCOS AI dan Cara Baru Mempelajari Industri KecantikanPerubahan Microbiome Belum Tentu Berarti Kulit Menjadi Lebih BaikKerumitan berikutnya mulai terasa ketika ilmu tersebut bertemu produk kosmetik. Hampir semua produk yang digunakan pada kulit dapat berinteraksi dengan lingkungan tempat mikroorganisme hidup melalui proses pembersihan, perubahan pH, hidrasi, lipid, surfaktan, pengawet, bahan aktif, maupun efek oklusif. Namun, interaksi tidak otomatis berarti gangguan, sebagaimana perubahan juga tidak otomatis berarti manfaat. Bayangkan penelitian menemukan bahwa setelah menggunakan sebuah produk, kelimpahan relatif mikroorganisme tertentu meningkat 15 persen. Angka itu terdengar cukup menarik untuk dijadikan cerita pemasaran. Namun, informasi tersebut belum menjawab apakah perubahan bertahan, apakah fungsi skin barrier menjadi lebih baik, apakah hidrasi meningkat, atau apakah ada manfaat yang benar-benar dirasakan kulit.Dokumen yang menjadi dasar pembahasan ini menyebut perbedaannya secara sangat jelas: microbiome endpoint dan skin-benefit endpoint adalah dua hal berbeda. Perubahan komposisi mikroba harus dibaca bersama konsekuensi fungsional dan hasil yang dapat diukur pada kulit sebelum diterjemahkan menjadi manfaat. Di titik inilah perspektif apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. dalam diskusi BeautéSpot menjadi relevan terhadap pengembangan produk. Sistem pengawet, misalnya, tidak dapat begitu saja dituduh buruk bagi microbiome hanya karena memiliki aktivitas antimikroba. Produk kosmetik berbasis air justru membutuhkan pengendalian mikrobiologis yang memadai agar tidak berubah menjadi tempat tumbuh mikroorganisme yang membahayakan pengguna. Sebaliknya, keberadaan bahan yang memiliki data terkait microbiome juga belum otomatis membuat produk jadi layak disebut microbiome-friendly. Ketika bahan tersebut masuk ke dalam formula, konsentrasi, pH, bahan lain, sistem pengawet, proses produksi, stabilitas, kemasan, dan cara penggunaannya dapat mengubah konteks kerjanya. Karena itu, bukti pada bahan baku dan bukti pada produk jadi merupakan dua tingkat pembuktian yang berbeda. Sains saat ini sudah memberi beberapa pijakan yang cukup kuat. Kita mengetahui bahwa kulit memiliki ekosistem mikroba yang kompleks, lokasi tubuh sangat memengaruhi komposisinya, variasi antarindividu cukup besar, komunitas mikroba berinteraksi dengan barrier dan sistem imun, serta profil seseorang dapat relatif stabil sambil tetap mampu berubah. Namun, ruang yang belum diketahui juga masih luas. Belum ada satu komposisi healthy skin microbiome universal, perubahan mikroba belum selalu dapat dibedakan dengan jelas sebagai sebab atau akibat, belum semua perubahan memiliki makna klinis, dan belum ada satu definisi standar global mengenai produk microbiome-friendly. Dampak jangka panjang intervensi kosmetik juga masih membutuhkan lebih banyak data. Mungkin justru di sinilah kemajuan ilmu skin microbiome terasa paling menarik. Semakin banyak yang diketahui, semakin sulit kesehatan kulit direduksi menjadi satu skor, satu mikroorganisme, atau satu komposisi ideal. Sains belum memberikan formula sederhana untuk 'microbiome sempurna', tetapi memberi cara yang lebih baik untuk membaca setiap klaim yang mengatasnamakannya.Jadi, ketika sebuah produk mengatakan mampu memengaruhi skin microbiome, pertanyaan yang berguna bukan hanya apakah mikroorganismenya berubah. Kita juga perlu bertanya apa yang berubah, bagaimana perubahan itu diukur, apakah bertahan, dan apa artinya bagi kondisi kulit. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membedakan penggunaan ilmu microbiome dari sekadar penggunaan kata microbiome sebagai tren. [][Tim Beautyversity/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Mengapa Menghabiskan Produk Kecantikan Bisa Memberikan Kepuasan Tersendiri?
BeautyLife

02 Okt 2026

Mengapa Menghabiskan Produk Kecantikan Bisa Memberikan Kepuasan Tersendiri?

Botol itu akhirnya kosong. Tidak ada produk baru yang datang. Namun, entah mengapa, melihatnya habis justru bisa terasa menyenangkan.Ada pengalaman kecil yang belakangan semakin sering diperlihatkan dalam konten kecantikan: menunjukkan produk yang benar-benar telah digunakan sampai habis. Kemasan dipotong agar sisa krim dapat diambil, botol serum tinggal menyisakan tetesan terakhir, atau bagian dasar wadah makeup mulai terlihat. Kepuasannya tampak berbeda dengan kegembiraan ketika membuka produk baru.Fenomena itu menarik karena industri kecantikan selama bertahun-tahun sangat dekat dengan sensasi kebaruan. Produk baru membawa warna, formula, klaim, kemasan, dan kemungkinan pengalaman baru. Menghabiskan produk justru berada di ujung perjalanan konsumsi, ketika hampir tidak ada lagi sesuatu yang bisa ditawarkan oleh benda tersebut.Namun, ‘habis’ dapat membawa makna lain. Ia memberi tanda yang jelas bahwa sesuatu telah digunakan sampai selesai. Dalam kehidupan yang dipenuhi pekerjaan tanpa ujung, daftar tontonan yang belum selesai, pesan yang belum dibalas, dan berbagai barang yang belum digunakan, sebuah botol kosong dapat menjadi bukti kecil bahwa satu siklus telah dituntaskan.Baca Juga: Ketika Membeli Produk Kecantikan Menjadi Cara Memberi Hadiah kepada Diri SendiriKetika Botol Kosong Menjadi Penanda bahwa Sesuatu Telah SelesaiPsikologi konsumen mengenal konsep goal progress cues, yaitu berbagai petunjuk yang membuat kemajuan menuju sebuah tujuan menjadi terlihat. Penelitian Pragya Mathur, Lauren Block, dan Özge Yucel-Aybat dalam Journal of Consumer Psychology menunjukkan bahwa petunjuk kemajuan dapat memengaruhi bagaimana orang mengevaluasi proses pencapaian tujuan, meskipun efeknya tidak sama pada setiap individu. Temuan ini tidak secara khusus meneliti kosmetik, sehingga tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa menghabiskan serum otomatis membuat seseorang bahagia.Tetapi konsep tersebut memberikan cara yang menarik untuk memahami pengalaman menggunakan produk hingga kosong. Jumlah cairan yang terus berkurang, dasar wadah yang mulai terlihat, atau pan pada produk makeup merupakan penanda kemajuan yang sangat konkret. Pengguna tidak perlu membuat grafik atau daftar untuk mengetahui bahwa produk tersebut benar-benar digunakan.Ada unsur pencapaian di dalamnya. Produk yang dibeli tidak lagi menjadi benda yang menunggu digunakan, tetapi telah menjalankan fungsi yang menjadi alasan ia dibeli. Kepuasannya karena itu mungkin bukan berasal dari kemasan kosong itu sendiri, melainkan dari pengalaman menyelesaikan sesuatu yang sebelumnya telah dimulai.Tetapi penjelasan tersebut juga memiliki batas. Penelitian tentang goal progress menunjukkan bahwa orang merespons penanda kemajuan secara berbeda tergantung pada bagaimana mereka memandang tujuan dan perkembangan diri. Jadi, seseorang bisa merasa sangat puas ketika satu pelembap habis, sementara orang lain menganggapnya sebagai kejadian biasa yang tidak mempunyai makna emosional khusus.Baca Juga: Mengapa Kita Sering Merasa Membutuhkan Produk Baru Padahal Produk Lama Belum Habis?Mungkin yang Menyenangkan Bukan Kekosongannya, Melainkan Ruang yang KembaliAda sisi lain dari kebiasaan ini yang berhubungan dengan jumlah benda yang dimiliki. Penelitian Caroline Rogers dan Rona Hart terhadap 1.111 orang dewasa menemukan hubungan antara pengalaman subjektif terhadap clutter di rumah dengan kesejahteraan. Studi tersebut bersifat cross-sectional, sehingga tidak membuktikan bahwa mengurangi barang secara langsung menyebabkan seseorang menjadi lebih sejahtera, tetapi menunjukkan bahwa cara seseorang mengalami kepadatan barang di rumah memang berkaitan dengan kesejahteraan.Riset Catherine Roster dan Joseph Ferrari mengenai decluttering memberikan lapisan menarik lainnya. Dari 172 konsumen dewasa yang baru melakukan proyek decluttering, kelompok dengan orientasi berbeda memang mengalami prosesnya secara berbeda, tetapi seluruh kelompok melaporkan emosi positif yang relatif tinggi setelahnya. Sekali lagi, menghabiskan kosmetik bukanlah hal yang sama dengan melakukan decluttering, tetapi berkurangnya satu benda dari koleksi dapat bersinggungan dengan pengalaman memiliki ruang yang lebih terkendali.Penelitian yang lebih baru dalam Journal of Consumer Research bahkan memperlihatkan bahwa persoalan barang di rumah tidak hanya mengenai kerapian. Melalui penelitian etnografis, para peneliti membedakan kondisi barang yang sekadar tidak berada pada tempatnya dengan keadaan ketika seseorang merasa memiliki terlalu banyak benda. Dalam kondisi kedua, persoalannya bukan lagi “di mana benda ini harus disimpan?”, melainkan “apakah benda sebanyak ini memang perlu dimiliki?”.Pertanyaan tersebut terasa sangat relevan dengan kecantikan. Satu produk mungkin berukuran kecil, tetapi serum, toner, lipstik, foundation, parfum, masker, dan produk rambut mudah bertambah menjadi koleksi. Ketika sebuah produk akhirnya habis, ruang yang terbentuk memang hanya beberapa sentimeter, tetapi secara visual ia dapat menandai berkurangnya satu kewajiban konsumsi.Di sini muncul pergeseran menarik dalam hubungan dengan produk kecantikan. Nilai sebuah produk tidak lagi hanya berada pada momen membelinya, tetapi juga pada seberapa jauh produk tersebut benar-benar digunakan. Kemasan kosong bahkan dapat menjadi bukti bahwa keputusan membeli sebelumnya menghasilkan pemakaian, bukan sekadar menambah koleksi.Namun, kebiasaan menghabiskan produk juga tidak perlu berubah menjadi perlombaan baru. Memaksakan penggunaan kosmetik yang menyebabkan iritasi, sudah melewati masa pakai, berubah karakter, atau memang tidak sesuai hanya demi mendapatkan kepuasan melihat kemasan kosong tentu kehilangan logikanya. ‘Menghabiskan’ berguna sebagai refleksi konsumsi, bukan kewajiban untuk mempertahankan setiap keputusan pembelian yang ternyata keliru.Barangkali itu sebabnya satu botol kosong bisa terasa lebih memuaskan daripada yang dibayangkan. Bukan karena manusia secara universal memperoleh kebahagiaan dari kosmetik yang habis—bukti ilmiah yang tersedia belum cukup untuk mengatakan sejauh itu. Namun, di antara pengalaman menyelesaikan sesuatu, melihat kemajuan, menggunakan barang sesuai tujuannya, dan memperoleh kembali sedikit ruang, kemasan kosong dapat membawa cerita yang berbeda dari kemasan baru: bukan tentang sesuatu yang ingin dimiliki, melainkan sesuatu yang benar-benar telah digunakan. [][Liora Maheswari/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Mengapa Area Hidung dan Dagu Sering Memiliki Tekstur yang Lebih Terlihat?
SkinCare

01 Okt 2026

Mengapa Area Hidung dan Dagu Sering Memiliki Tekstur yang Lebih Terlihat?

Hidung dan dagu sering tampak lebih bertekstur. Titik-titik kecil pun mudah terlihat. Namun, yang tampak seperti ‘pori kotor’ belum tentu merupakan masalah kulit.Cermin pembesar atau kamera ponsel dapat membuat bagian tengah wajah terasa seperti wilayah yang berbeda. Hidung terlihat memiliki banyak titik kecil, sementara dagu terasa sedikit kasar ketika disentuh. Dibandingkan dengan beberapa bagian wajah lainnya, tekstur pada kedua area ini memang dapat tampak lebih jelas.Salah satu penjelasannya berkaitan dengan unit pilosebasea, yaitu struktur yang melibatkan folikel rambut dan kelenjar sebasea. Penelitian mengenai pori wajah menunjukkan bahwa produksi sebum merupakan salah satu faktor yang berkaitan dengan ukuran pori yang terlihat. Namun, pori yang tampak jelas bukan hanya ditentukan oleh minyak; elastisitas kulit dan volume folikel juga termasuk faktor yang ditemukan dalam literatur.Ada pula struktur normal bernama sebaceous filament. Cleveland Clinic menjelaskan bahwa struktur tipis ini melapisi kelenjar sebasea dan membantu membawa sebum menuju permukaan kulit. Struktur tersebut terdapat pada kulit normal, tetapi dapat terlihat lebih jelas ketika produksi sebum meningkat dan memang sering tampak pada hidung, dahi, dagu, serta pipi.Perbedaan tersebut penting karena tujuan perawatan seharusnya mengikuti apa yang sebenarnya sedang dilihat. Titik-titik pada hidung tidak otomatis berarti komedo yang harus dikeluarkan, dan tekstur kulit normal tidak selalu merupakan sesuatu yang harus dibuat benar-benar menghilang.Baca Juga: Mengapa Wajah Terasa Lebih Sensitif pada Hari-Hari Tertentu?Yang Terlihat Seperti Komedo Belum Tentu KomedoSebaceous filament dan komedo hitam atau blackhead dapat terlihat serupa ketika dilihat sekilas. Namun, keduanya bukan struktur yang sama. Sebaceous filament merupakan bagian normal dari sistem yang membawa sebum menuju permukaan kulit, sedangkan komedo merupakan lesi jerawat yang terbentuk ketika material di dalam folikel menyumbat pori.Bukti ilmiah juga membantu menjelaskan mengapa tekstur pori tidak seharusnya dipahami hanya sebagai persoalan ‘kulit kotor’. Dalam sebuah kajian di Dermatologic Surgery, Sang Ju Lee dan rekan-rekannya mengidentifikasi tiga penyebab klinis utama pori wajah yang membesar: produksi sebum yang tinggi, berkurangnya elastisitas di sekitar pori, dan meningkatnya volume folikel rambut. Jerawat berulang, hormon, serta kebiasaan perawatan kulit dapat ikut memengaruhinya.Penelitian lain yang mengukur pori menggunakan pencitraan dan produksi minyak menggunakan Sebumeter menemukan hubungan antara produksi sebum dan ukuran pori. Temuan ini memberi dasar yang lebih kuat untuk menjelaskan mengapa area wajah dengan aktivitas sebasea yang menonjol dapat memiliki tekstur yang lebih terlihat. Namun, penelitian tersebut hanya melibatkan 60 partisipan sehingga hasilnya lebih tepat dibaca sebagai salah satu bagian dari bukti, bukan penjelasan tunggal untuk setiap orang.Kajian yang lebih baru dalam Journal of Cosmetic Dermatology juga menggambarkan pori sebagai persoalan multifaktorial. Produksi sebum, predisposisi genetik, paparan ultraviolet, jerawat, dan penuaan termasuk faktor yang dibahas, sementara hubungan positif antara tingkat sebum dan karakter pori telah ditemukan dalam sejumlah penelitian. Dengan kata lain, tekstur yang terlihat merupakan hasil interaksi beberapa karakter biologis kulit.Baca Juga: Mengapa Kulit Bisa Terasa Kering tetapi Tetap Berminyak?Merawat Tekstur Tidak Sama dengan Menghapus PoriPemahaman tersebut mengubah cara melihat produk yang menjanjikan tampilan pori lebih kecil. Pori merupakan bagian dari struktur kulit sehingga sasaran kosmetik yang lebih realistis adalah membantu memperbaiki penampilannya, bukan membuat struktur tersebut menghilang. Kondisi sebum, sumbatan folikel, dan kualitas permukaan kulit dapat berubah sehingga pori terlihat berbeda tanpa berarti porinya ‘ditutup’.Hal serupa berlaku pada sebaceous filament. Mengeluarkan material dari hidung mungkin memberikan perubahan visual sementara, tetapi struktur tersebut memiliki fungsi normal dan sebum akan kembali bergerak menuju permukaan kulit. Cleveland Clinic bahkan menegaskan bahwa setiap orang memilikinya dan struktur ini membantu memindahkan sebum ke permukaan kulit.Karena itu, menggosok hidung dan dagu secara agresif bukan jawaban otomatis untuk tekstur. Scrub yang keras atau kebiasaan memencet berulang dapat menambahkan persoalan berupa iritasi pada permukaan kulit. Jika terdapat komedo, pendekatan terhadap sumbatan folikel tentu berbeda dengan upaya ‘membersihkan’ struktur normal yang sebenarnya tidak perlu dihilangkan.Bahan seperti salicylic acid dapat relevan dalam rutinitas tertentu karena sifatnya yang lipofilik dan penggunaannya dalam perawatan kulit rentan komedo. Namun, keberadaan satu bahan aktif tidak menjamin seluruh tekstur akan menghilang. Jenis masalah, konsentrasi, formulasi, tolerabilitas kulit, frekuensi penggunaan, dan keseluruhan rutinitas tetap menentukan bagaimana sebuah produk digunakan.Ada pula batas yang perlu dikenali. Literatur tentang pori wajah memang menunjukkan hubungan dengan sebum dan sejumlah karakter kulit, tetapi tidak mendukung gagasan bahwa setiap titik pada hidung atau dagu merupakan kelainan yang membutuhkan koreksi. Bahkan sebuah laporan dermatologi tahun 2026 masih menggambarkan sebaceous filament pada hidung sebagai struktur folikular yang dapat menjadi sangat menonjol secara kosmetik tanpa mengubah fakta bahwa struktur tersebut berbeda dari komedo biasa.Persoalannya kemudian bukan bagaimana membuat hidung dan dagu sehalus permukaan tanpa pori. Pertanyaan yang lebih berguna adalah apa yang membentuk tekstur tersebut: sebum, sebaceous filament, komedo, kondisi permukaan kulit, atau kombinasi beberapa faktor. Diagnosis visual dari kamera ponsel saja tidak selalu cukup untuk membedakannya.Kulit manusia memang mempunyai tekstur, dan beberapa area memperlihatkannya lebih jelas daripada yang lain. Memahami anatomi dan bukti di balik tekstur hidung serta dagu membuat perawatan menjadi lebih rasional: bukan berusaha menghapus setiap titik yang terlihat, melainkan mengenali mana struktur kulit yang normal dan mana kondisi yang memang membutuhkan perhatian. [][Eva Evilia/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Mengapa Sistem Penghantaran Bisa Menentukan Kinerja Sebuah Bahan Aktif?
BahanAktif

30 Sep 2026

Mengapa Sistem Penghantaran Bisa Menentukan Kinerja Sebuah Bahan Aktif?

Bahan aktif boleh terdengar menjanjikan. Konsentrasinya pun bisa tinggi. Namun, manfaatnya tetap bergantung pada bagaimana formula membawa bahan tersebut ke tempat yang dituju.Ketika membaca produk kosmetik, perhatian konsumen biasanya langsung tertuju pada nama bahan aktif. Niacinamide, retinoid, peptida, antioksidan, atau berbagai ekstrak tumbuhan kerap menjadi alasan utama seseorang memilih produk. Persentasenya bahkan sering diperlakukan seperti angka yang dapat langsung menunjukkan seberapa kuat produk tersebut bekerja.Padahal, bahan aktif tidak bekerja sendirian. Ia berada di dalam suatu formula, harus tetap stabil selama penyimpanan, dilepaskan ketika produk digunakan, kemudian berinteraksi dengan permukaan atau lapisan kulit yang menjadi targetnya. Rangkaian perjalanan tersebut membuat pertanyaan ‘apa bahan aktifnya?’ belum cukup untuk memahami performa sebuah produk.Di sinilah sistem penghantaran atau delivery system menjadi penting. Dalam formulasi, sistem tersebut dapat dirancang untuk membantu membawa, melindungi, melepaskan, atau meningkatkan ketersediaan bahan aktif pada lokasi yang diinginkan. Bentuknya dapat berupa emulsi konvensional hingga teknologi seperti liposom, nanoemulsion, nanostructured lipid carrier [NLC], atau sistem enkapsulasi lainnya.Karena itu, dua formula yang mencantumkan bahan aktif serupa belum tentu memberikan performa identik. Perbedaannya dapat berasal dari konsentrasi, tetapi juga dari kelarutan, stabilitas, jenis pembawa, pelepasan bahan, hingga kemampuan formula mempertahankan kontak dengan kulit. Dalam formulasi kosmetik, ‘kendaraan’ dapat sama pentingnya dengan ‘penumpang’.Baca Juga: Mengapa Bahan Aktif yang Stabil di Dalam Botol Belum Tentu Stabil Setelah Dibuka?Bahan Aktif Harus Sampai dalam Kondisi yang Masih Bisa BekerjaKulit memiliki fungsi utama sebagai pelindung, bukan sebagai permukaan yang membiarkan semua zat masuk dengan mudah. Lapisan stratum corneum membatasi perpindahan berbagai molekul dari lingkungan menuju lapisan kulit yang lebih dalam. Sifat bahan seperti ukuran molekul, kelarutan, lipofilisitas, serta karakter formulanya kemudian menentukan bagaimana bahan tersebut berinteraksi dengan skin barrier.Prof. Dr. apt. Sriwidodo, M.Si. dari Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran memiliki bidang keahlian Rekayasa Kosmetik, Farmasetika, dan Biofarmasetika, dengan portofolio penelitian yang juga mencakup sistem penghantaran berbasis liposom, hidrogel, dan nanopartikel. Risetnya memperlihatkan prinsip penting bahwa pengembangan bahan aktif tidak berhenti pada pemilihan molekul, tetapi juga mencakup bagaimana bahan tersebut diformulasikan dan dihantarkan.Salah satu contoh yang mudah dipahami adalah NLC. Dalam riset Sriwidodo mengenai sistem NLC-hidrogel, pembawa lipid dijelaskan dapat membantu meningkatkan stabilitas bahan aktif lipofilik, meningkatkan penetrasi, serta memberikan pelepasan yang lebih terkontrol. Penelitian tersebut memang ditujukan untuk penghantaran obat pada luka diabetik, bukan kosmetik, tetapi prinsip farmasetika yang diperlihatkannya membantu menjelaskan mengapa teknologi pembawa menjadi bidang penting dalam pengembangan sediaan topikal.Liposom bekerja dengan pendekatan yang berbeda. Struktur vesikelnya memungkinkan bahan tertentu ditempatkan di dalam atau berasosiasi dengan sistem pembawa, sehingga karakter bahan aktif dapat dikelola melalui formulasi. Portofolio riset Sriwidodo, misalnya, mencatat pengembangan hidrogel kitosan-liposom dan film-forming system dengan bahan aktif tersalut liposom, menunjukkan bagaimana sistem penghantaran dapat dirancang bersama bentuk sediaannya.Baca Juga: Mengapa Bentuk Turunan dari Bahan Aktif Bisa Sama Pentingnya dengan Nama Bahannya?Teknologi Penghantaran Bukan Sekadar Kata Canggih pada KemasanApt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., tenaga ahli PT Lunaray Cahaya Abadi dan dosen tamu/eksternal Prodi Rekayasa Kosmetik Fakultas Farmasi Unpad, juga pernah terlibat dalam kajian ilmiah mengenai efektivitas bahan aktif dalam sediaan kosmetik. Kajian yang ditulis bersama peneliti Unpad menekankan bahwa bahan aktif perlu diformulasikan menjadi bentuk sediaan agar mudah digunakan sekaligus mencapai efek yang diharapkan, dan efektivitas tersebut tetap membutuhkan pembuktian melalui pengujian yang komprehensif.Perspektif tersebut penting karena istilah seperti ‘liposom’, ‘enkapsulasi’, atau ‘nano’ mudah berubah menjadi bahasa pemasaran. Keberadaan teknologi penghantaran saja belum membuktikan bahwa sebuah produk otomatis lebih efektif. Formulator tetap perlu mempertimbangkan karakter bahan aktif, ukuran dan kestabilan sistem, kompatibilitas dengan bahan lain, bentuk sediaan, target penggunaan, serta bukti pengujiannya.Sistem penghantaran juga tidak selalu bertujuan membawa bahan sejauh mungkin ke dalam kulit. Untuk bahan tertentu, target kerjanya justru berada pada permukaan atau lapisan kulit yang relatif luar. Desain formulasi yang baik karena itu bukan perlombaan untuk mendapatkan penetrasi terdalam, melainkan usaha menempatkan bahan pada lokasi yang sesuai dengan tujuan penggunaannya.Ada pula persoalan waktu. Sebagian sistem dirancang untuk membantu mengontrol pelepasan bahan sehingga tidak seluruhnya tersedia sekaligus. Penelitian Unpad mengenai film-forming system berbasis kitosan, misalnya, menjelaskan bahwa terbentuknya film tipis pada kulit dapat memperpanjang kontak dan mengontrol pelepasan bahan. Sekali lagi, konteks riset tersebut adalah penghantaran obat, tetapi konsepnya menunjukkan bagaimana bentuk sediaan dapat memengaruhi perilaku bahan setelah diaplikasikan.Cara berpikir ini membuat angka konsentrasi perlu dibaca dengan lebih hati-hati. Formula dengan persentase bahan aktif lebih tinggi tidak otomatis lebih unggul apabila bahannya mudah terdegradasi, sulit larut, tidak tersedia dengan baik pada target, atau justru menimbulkan masalah tolerabilitas. Sebaliknya, formulasi yang dirancang dengan sistem penghantaran tepat dapat berusaha mengoptimalkan bahan tanpa semata-mata mengejar angka terbesar.Konsumen tentu tidak perlu memahami seluruh teknologi farmasetika sebelum membeli serum. Namun, pengetahuan mengenai delivery system membantu mengubah pertanyaan yang diajukan: bukan lagi hanya “berapa persen bahan aktifnya?”, melainkan bagaimana bahan itu diformulasikan, seberapa stabil formulanya, apakah teknologi yang diklaim memiliki bukti, dan apakah produk telah diuji sesuai manfaat yang dijanjikan.Nama bahan aktif memang penting, tetapi nama itu baru memberi tahu apa yang dimasukkan ke dalam formula. Kinerja produk ditentukan oleh sistem yang jauh lebih besar: bagaimana bahan dipertahankan, dibawa, dilepaskan, dan dibuat tersedia pada target yang tepat. Karena dalam formulasi kosmetik, memiliki bahan aktif yang bagus hanyalah awal—membuatnya bekerja dengan tepat merupakan persoalan yang berbeda. [][Adrian Damar/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Mengapa Pria yang Memelihara Janggut Tetap Perlu Merawat Kulit di Bawahnya?
MenZone

29 Sep 2026

Mengapa Pria yang Memelihara Janggut Tetap Perlu Merawat Kulit di Bawahnya?

Janggut boleh menutupi sebagian wajah. Namun, kulit di bawahnya tetap menghasilkan minyak dan sel kulit mati. Menumbuhkan janggut bukan berarti berhenti merawat kulit.Memelihara janggut sering mengubah fokus perawatan pria. Perhatian mulai diberikan pada bentuk, panjang, kerapian, hingga produk yang membuat rambut janggut terasa lebih lembut. Ketika janggut semakin lebat, kulit yang berada beberapa milimeter di bawahnya justru semakin jarang terlihat.Di situlah muncul kesalahpahaman sederhana: karena kulit tertutup rambut, area tersebut dianggap lebih terlindungi dan membutuhkan lebih sedikit perawatan. Padahal, kulit tetap menjalankan fungsi biologis seperti bagian wajah lainnya. Sebum tetap diproduksi, sel kulit terus mengalami pergantian, dan keringat maupun kotoran masih dapat berada di permukaannya.Janggut bahkan menciptakan tantangan tersendiri karena rambut dapat menahan minyak, sel kulit mati, dan berbagai residu dekat dengan permukaan kulit. American Academy of Dermatology [AAD] menjelaskan bahwa tanpa perawatan yang tepat, kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap penyumbatan pori dan jerawat di bawah janggut.Artinya, merawat janggut sebaiknya tidak berhenti pada membuat rambutnya terlihat rapi. Kulit yang menjadi tempat rambut tersebut tumbuh tetap menjadi bagian dari rutinitas, meskipun semakin sulit terlihat ketika janggut semakin panjang.Baca Juga: Mengapa Kulit Pria Sering Terasa Perih Setelah Bercukur?Janggut Dapat Menyembunyikan Apa yang Terjadi pada KulitSalah satu persoalan paling sederhana adalah kebersihan. Sepanjang hari, janggut dapat bersentuhan dengan tangan, keringat, polusi, minyak, dan berbagai partikel dari lingkungan. AAD menyarankan wajah dan janggut tetap dibersihkan setiap hari menggunakan pembersih lembut yang sesuai dengan jenis kulit, karena akumulasi minyak, kotoran, mikroorganisme, dan sel kulit mati dapat mengiritasi kulit maupun menyumbat pori.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., yang berkecimpung dalam pengembangan kosmetik, menempatkan pemilihan produk dalam konteks kebutuhan area penggunaan dan karakter kulit. Prinsip tersebut relevan untuk area berjanggut: produk bukan hanya perlu bekerja pada rambut, tetapi juga perlu mempertimbangkan kulit di bawahnya. Formula yang terlalu keras atau meninggalkan rasa sangat kering bukan otomatis pilihan yang lebih efektif untuk membersihkan area tersebut.Pelembap juga tidak otomatis kehilangan fungsi ketika janggut tumbuh. Dermatolog Anthony Rossi, MD, FAAD, melalui AAD menjelaskan bahwa melembapkan kulit membantu mengurangi kondisi kering, bersisik, dan gatal di bawah janggut sekaligus membantu melembutkan rambut. Pilihannya dapat disesuaikan dengan jenis kulit, seperti produk non-comedogenic pada kulit rentan berjerawat atau pelembap tanpa pewangi pada kulit sensitif.Rasa gatal dan serpihan putih pun tidak selalu berarti kulit sekadar kekurangan pelembap. Dermatitis seboroik dapat muncul pada area janggut dan menyebabkan kulit bersisik, berminyak, gatal, serta mengalami peradangan. AAD menyebut janggut sebagai salah satu area selain kulit kepala yang dapat mengalami kondisi tersebut.Baca Juga: Perlukah Pria Memiliki Rutinitas Perawatan Kulit yang Berbeda dengan Perempuan?Beard Care dan Skin Care Seharusnya Tidak Berjalan Sendiri-SendiriProduk khusus janggut dapat membantu membuat rambut terasa lebih lembut dan mudah diatur, tetapi cara penggunaannya tetap perlu memperhitungkan kondisi kulit. Beard oil, misalnya, mungkin terasa nyaman bagi kulit normal hingga kering, sedangkan kulit yang mudah berjerawat membutuhkan pilihan berbeda. AAD justru merekomendasikan beard conditioner untuk kulit rentan berjerawat dan pelembap lembut untuk kulit sensitif.Masalah juga dapat muncul ketika janggut dirapikan. Rambut yang dipotong pendek dapat melengkung kembali menuju kulit dan menyebabkan ingrown hair atau benjolan yang sering disebut razor bumps. Risikonya lebih menonjol pada rambut wajah yang kasar atau keriting, sehingga teknik memangkas dan mencukur tetap menjadi bagian dari kesehatan kulit di area janggut.Rutinitasnya sebenarnya tidak perlu rumit. Membersihkan janggut dan kulit secara lembut, membilas produk dengan baik, mengeringkan tanpa menggosok agresif, kemudian memberikan pelembap sesuai kebutuhan sudah membentuk fondasi yang masuk akal. Menyisir janggut setelah penggunaan produk juga dapat membantu mendistribusikannya pada rambut.Yang tidak kalah penting adalah tetap memeriksa kulit secara berkala. Janggut yang lebat membuat kemerahan, benjolan, luka, atau perubahan lain lebih mudah tersembunyi dari pandangan. AAD mengingatkan bahwa persoalan yang terlihat seperti jerawat dapat ternyata merupakan rambut tumbuh ke dalam atau kondisi lain, sehingga keluhan yang menetap sebaiknya diperiksa oleh dokter kulit.Pria juga tidak perlu mengubah area janggut menjadi rutinitas dengan banyak tahapan. Tujuannya bukan memastikan sebanyak mungkin produk mencapai kulit, tetapi menjaga area tersebut tetap bersih, nyaman, dan tidak mengalami gangguan akibat cara perawatan yang terlalu agresif. Janggut yang sehat dan kulit yang sehat sebenarnya bukan dua proyek berbeda.Memelihara janggut boleh menjadi bagian dari gaya, identitas, atau sekadar pilihan untuk tidak bercukur setiap pagi. Namun, rambut yang tumbuh di wajah tidak membuat kulit di bawahnya berhenti menjadi kulit. Justru karena semakin sulit terlihat, area tersebut membutuhkan perhatian yang cukup agar masalah baru diketahui bukan setelah gatal, sisik, atau benjolan mulai terasa mengganggu. [][Rommy Rimbarawa/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Mengapa Bedak Bisa Membuat Makeup Lebih Halus tetapi Juga Terlihat Cakey?
Decorative

28 Sep 2026

Mengapa Bedak Bisa Membuat Makeup Lebih Halus tetapi Juga Terlihat Cakey?

Bedak dapat membuat riasan tampak halus dan lebih tahan lama. Namun, lapisan yang sama juga bisa berubah menjadi tebal, pecah, dan terlihat cakey.Bedak memiliki peran yang nyaris tidak tergantikan dalam banyak rutinitas makeup. Setelah foundation dan concealer diaplikasikan, lapisan tipis bedak dapat mengurangi kilap, membuat permukaan kulit tampak lebih rata, dan membantu riasan terasa lebih stabil. Pada kulit berminyak, kemampuannya menyerap sebagian minyak juga membuat hasil akhir terasa lebih nyaman.Namun, produk yang sama dapat memberikan hasil yang sangat berbeda. Bedak yang semula membuat kulit terlihat halus dapat berkumpul di sekitar hidung, garis senyum, atau bawah mata beberapa jam kemudian. Tekstur kulit menjadi semakin terlihat dan riasan tampak seperti lapisan yang berdiri sendiri di atas wajah.Fenomena tersebut sering disebut cakey makeup. Masalahnya tidak selalu berasal dari satu produk yang buruk, tetapi dari terlalu banyak lapisan, kondisi kulit, karakter bedak, foundation di bawahnya, serta jumlah sebum yang muncul selama pemakaian. Karena itu, menambahkan lebih banyak bedak untuk memperbaiki riasan yang mulai berubah tidak selalu menyelesaikan masalah.Yang sebenarnya terjadi cukup menarik: bedak memang dirancang untuk menyerap minyak dan memperbaiki tampilan permukaan, tetapi kemampuan tersebut memiliki batas. Ketika jumlah bedak terlalu banyak atau kulit di bawahnya tidak berada dalam kondisi yang sesuai, manfaat yang sama dapat berubah menjadi penyebab tampilan berat.Baca Juga: Benarkah Semua Produk Makeup Memiliki Masa Pakai yang Sama Setelah Dibuka?Partikel Bedak Membantu Menghaluskan, tetapi Bisa MenumpukBedak wajah umumnya memanfaatkan kombinasi partikel yang membantu memberikan efek matte, menyerap minyak, menambah daya tutup, atau menciptakan rasa lebih halus pada kulit. Dermatolog sekaligus peneliti kosmetik Dr. Zoe Diana Draelos menjelaskan bahwa facial powder dapat memberikan kontrol minyak, hasil akhir matte, serta rasa halus pada permukaan kulit. Ia juga mencatat bahwa bedak dapat membantu meningkatkan ketahanan foundation, terutama ketika sebum mulai muncul. Efek tersebut menjelaskan mengapa riasan sering tampak lebih rapi beberapa menit setelah bedak diaplikasikan. Partikel membantu mengurangi pantulan minyak dan mengubah cara cahaya mengenai permukaan wajah. Namun, terlalu banyak produk dapat menghasilkan tampilan seperti tepung atau floured appearance, terutama ketika lapisannya tidak benar-benar menyatu dengan foundation. Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., yang menjadi dosen tamu Prodi Rekayasa Kosmetik Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, memiliki latar belakang industri dan pengembangan produk kosmetik. Dalam konteks formulasi dekoratif, kondisi ini memperlihatkan mengapa performa bedak tidak dapat dinilai hanya dari seberapa halus partikelnya. Komposisi formula, kemampuan menyerap minyak, karakter lapisan di bawahnya, serta cara produk diaplikasikan ikut menentukan hasil akhir. Kulit kering memberikan tantangan yang berbeda. Draelos mencatat bahwa produk berbentuk bedak yang menyerap minyak dapat membuat kulit kering tampak semakin kering, sehingga penggunaan bedak perlu disesuaikan dengan karakter kulit. Lapisan bedak yang terlalu tebal pada area dehidrasi juga lebih mudah menonjolkan sisik dan tekstur yang sebelumnya tidak terlalu terlihat. Baca Juga: Mengapa Makeup Bisa Terlihat Bagus di Pagi Hari tetapi Berubah Menjelang Siang?Cakey Sering Berawal dari Lapisan yang Tidak Saling MenyatuPersiapan kulit sebelum makeup memiliki peran besar. Pelembap yang belum cukup menyatu, terlalu banyak lapisan skincare, atau permukaan kulit yang sangat kering dapat membuat foundation tidak membentuk lapisan yang stabil. Ketika bedak ditambahkan di atasnya, setiap ketidakteraturan di bawah permukaan menjadi lebih mudah terlihat.Sebum juga mengubah kondisi riasan sepanjang hari. Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Cosmetic Science pada 2024 menunjukkan bahwa sebum dapat memengaruhi penggelapan liquid foundation, dan karakter pigmen serta serbuk dalam formula menentukan seberapa besar perubahan tersebut terjadi. Temuan ini memperlihatkan bahwa riasan tidak berada pada permukaan yang statis; minyak kulit terus berinteraksi dengan formula selama pemakaian. Ketika minyak mulai menembus lapisan bedak, sebagian orang langsung menambahkan bedak baru. Cara tersebut dapat berhasil jika jumlahnya sedikit, tetapi pengulangan berkali-kali dapat menciptakan lapisan yang semakin tebal. Bedak kemudian bercampur dengan sebum, foundation, dan keringat hingga menghasilkan permukaan yang tampak menggumpal.Area bawah mata dan garis ekspresi juga mudah memperlihatkan efek tersebut. Kulit di area ini bergerak terus saat seseorang berbicara, tersenyum, atau berkedip. Ketika lapisan produk terlalu tebal, material kosmetik lebih mudah berkumpul di lipatan dan membuat hasil akhir yang semula halus menjadi semakin terlihat.Teknik aplikasi karena itu sama pentingnya dengan produknya. Menggunakan bedak tipis pada area yang membutuhkan, lalu menambah seperlunya, biasanya memberi ruang lebih besar bagi formula untuk menyatu. Pada kulit yang sudah kering, menambahkan lapisan tebal hanya demi membuat makeup lebih awet justru dapat menghasilkan efek sebaliknya.Bedak memang mampu memperbaiki tampilan riasan, tetapi manfaatnya muncul ketika jumlah, formula, dan kondisi kulit berada dalam keseimbangan. Tujuannya bukan membuat seluruh wajah kehilangan kilap sepenuhnya, melainkan membantu makeup bertahan sambil tetap mengikuti tekstur alami kulit. Ketika riasan mulai terlihat cakey, solusi terbaik sering bukan menambahkan lebih banyak bedak, tetapi memahami lapisan mana yang sebenarnya sudah terlalu banyak. [][Eva Evilia/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Mengapa Rambut Terlihat Lebih Mengembang pada Hari yang Lembap?
HairCare

26 Sep 2026

Mengapa Rambut Terlihat Lebih Mengembang pada Hari yang Lembap?

Rambut sudah ditata rapi sebelum keluar rumah. Udara kemudian terasa lembap dan rambut mulai mengembang. Ternyata, air di udara ikut mengubah perilaku batang rambut.Ada hari ketika rambut seolah memiliki rencana sendiri. Setelah dikeringkan dan ditata dengan rapi, beberapa helai perlahan keluar dari susunannya, tekstur menjadi lebih mengembang, dan rambut yang semula lurus atau terdefinisi mulai berubah bentuk. Kondisi seperti ini biasanya semakin terasa ketika udara sedang lembap atau setelah hujan.Fenomena tersebut sering disebut frizz. Penyebabnya bukan sekadar rambut ‘sulit diatur’, melainkan interaksi antara batang rambut dengan air yang berada di lingkungan. Rambut bersifat higroskopis, sehingga dapat berinteraksi dengan kelembapan di udara dan mengalami perubahan fisik.Namun, tidak semua rambut memberikan respons yang sama terhadap kelembapan. Kondisi kutikula, tingkat porositas, bentuk alami rambut, proses kimia, penggunaan panas, dan kerusakan yang sudah terjadi dapat menentukan seberapa mudah air masuk ke batang rambut. Rambut yang tampak tenang pada satu orang karena itu dapat berubah jauh lebih dramatis pada orang lain dalam kondisi cuaca yang sama.Memahami proses tersebut membuat frizz terlihat berbeda. Rambut mengembang bukan selalu pertanda bahwa produk yang digunakan gagal, tetapi dapat menjadi respons material rambut terhadap lingkungan tempat seseorang berada.Baca Juga: Kenapa Ujung Rambut Bisa Sangat Kering sementara Kulit Kepala Berminyak?Ketika Air di Udara Bertemu Keratin RambutSebagian besar batang rambut tersusun atas protein keratin. Di dalam struktur tersebut terdapat berbagai ikatan yang ikut mempertahankan bentuk rambut. Salah satunya adalah ikatan hidrogen yang relatif mudah berubah ketika rambut berinteraksi dengan air.Prof. Irina Makarevitch, ahli kimia dari Hamline University, menjelaskan bahwa kelembapan membuat lebih banyak molekul air tersedia di udara untuk berinteraksi dengan keratin. Interaksi tersebut memengaruhi ikatan hidrogen pada rambut sehingga helai dapat membengkok atau kembali mendekati pola alaminya. Inilah salah satu alasan rambut yang telah ditata dapat mulai berubah bentuk ketika berada di lingkungan yang lembap.Kutikula kemudian menjadi bagian penting dari cerita ini. Lapisan terluar batang rambut tersusun seperti sisik yang saling bertumpuk. Ketika permukaannya lebih terangkat atau tidak rata akibat kekeringan, gesekan, panas, atau proses kimia, kelembapan dapat lebih mudah berinteraksi dengan bagian dalam batang rambut dan membuat helai membengkak secara tidak merata.Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Perception juga menunjukkan bahwa perubahan kelembapan dapat memengaruhi persepsi terhadap frizz dan gesekan rambut. Efeknya bahkan dapat terasa berbeda antara rambut lurus dan keriting. Artinya, hubungan rambut dengan kelembapan bukan sekadar persoalan visual, tetapi juga berkaitan dengan perubahan sifat permukaan rambut.Baca Juga: Apakah Sering Mengikat Rambut Bisa Membuat Rambut Lebih Mudah Rontok?Mengendalikan Frizz Bukan Berarti Melawan Tekstur AlamiRambut yang telah mengalami bleaching, pewarnaan, pelurusan kimia, atau paparan panas berulang biasanya memiliki permukaan yang lebih rentan mengalami perubahan. Ketika kutikula semakin tidak teratur, rambut cenderung lebih mudah berinteraksi dengan air dari lingkungan. Itulah sebabnya dua orang yang berada pada tingkat kelembapan sama dapat mengalami tingkat frizz yang sangat berbeda.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., praktisi industri kosmetik yang juga menjadi dosen tamu Prodi Rekayasa Kosmetik Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, memiliki pengalaman dalam bidang Research and Development dan Product Development. Dalam konteks formulasi perawatan rambut, kondisi batang rambut dan target produk menjadi penting karena produk tidak sekadar ditujukan untuk memberikan sensasi lembut, tetapi perlu membantu mengelola permukaan rambut dan mengurangi gesekan sesuai kebutuhan penggunanya.Di sinilah conditioner memiliki peran yang lebih masuk akal daripada sekadar dianggap sebagai ‘pelembap rambut’. Formula kondisioner dapat membantu membuat permukaan rambut terasa lebih halus, mengurangi gesekan, dan meningkatkan kemudahan rambut untuk diatur. Namun, kondisioner tidak dapat mengembalikan batang rambut yang sudah rusak menjadi seperti rambut baru.Kebiasaan sehari-hari juga menentukan seberapa mudah rambut mengembang. Menggosok rambut kuat-kuat dengan handuk, menyisir secara agresif, menggunakan alat panas tanpa perlindungan, atau terlalu sering melakukan proses kimia dapat memperbesar kerusakan pada kutikula. Mengurangi sumber kerusakan tersebut dapat membantu rambut menghadapi perubahan kelembapan dengan kondisi permukaan yang lebih baik.Rambut keriting dan bergelombang pun tidak seharusnya dinilai menggunakan standar bahwa rambut yang sehat harus selalu jatuh lurus dan bebas frizz. Bentuk alami batang rambut memengaruhi distribusi minyak dari kulit kepala dan cara setiap helai berinteraksi dengan lingkungan. Sedikit rambut mengembang pada cuaca lembap dapat menjadi karakter alami rambut, bukan sesuatu yang harus selalu ‘diperbaiki’.Jika perubahan tekstur terjadi mendadak dan disertai kerontokan berat, rambut patah berlebihan, gatal, kemerahan, atau masalah pada kulit kepala, persoalannya tidak sebaiknya langsung dianggap sebagai efek kelembapan. Kondisi semacam itu dapat membutuhkan evaluasi dokter kulit untuk melihat kemungkinan penyebab lain. Frizz yang hanya muncul saat udara lembap, sebaliknya, umumnya lebih berkaitan dengan karakter batang rambut dan lingkungan.Cuaca memang tidak dapat diatur agar selalu bersahabat dengan rambut. Namun, memahami mengapa rambut berubah membuat tujuan perawatan menjadi lebih realistis: menjaga kutikula, mengurangi kerusakan, dan membantu rambut lebih mudah diatur, bukan memaksanya tidak pernah bereaksi terhadap lingkungan. Ketika rambut sedikit mengembang setelah udara menjadi lembap, mungkin ia bukan sedang ‘bandel’—ia hanya melakukan apa yang secara kimia memang dapat dilakukan oleh keratin ketika bertemu lebih banyak air. [][Vikalena Lasmoskwa/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Mitos: Pori-Pori Kulit Bisa Dibuka dan Ditutup
MythBuster

25 Sep 2026

Mitos: Pori-Pori Kulit Bisa Dibuka dan Ditutup

Air hangat disebut bisa membuka pori-pori. Air dingin dipercaya menutupnya kembali. Kedengarannya masuk akal, tetapi kulit ternyata tidak bekerja seperti pintu.Anjuran untuk ‘membuka pori-pori’ sebelum membersihkan wajah sudah diwariskan cukup lama dalam rutinitas kecantikan. Wajah diuapi atau dibasuh air hangat agar kotoran dianggap lebih mudah keluar. Setelahnya, air dingin digunakan dengan harapan pori-pori kembali menutup dan kulit terlihat lebih rapat.Pengalaman setelah melakukan ritual tersebut memang dapat terasa meyakinkan. Kulit yang terkena panas terlihat berbeda, sementara air dingin memberikan sensasi lebih segar dan kencang. Dari perubahan yang dapat dirasakan inilah muncul kesimpulan bahwa pori-pori benar-benar bergerak membuka dan menutup.Masalahnya, pori bukan struktur yang memiliki mekanisme seperti pintu. Apa yang biasa disebut pori pada wajah merupakan bukaan folikel di permukaan kulit yang berkaitan dengan rambut dan kelenjar sebaceous. Tidak terdapat otot di sekeliling bukaan tersebut yang bekerja untuk membuka atau menutupnya berdasarkan suhu air.Namun, bukan berarti penampilan pori tidak dapat berubah. Sebum, sel kulit, kondisi permukaan kulit, usia, paparan matahari, dan berbagai faktor lain dapat membuat bukaan folikel terlihat lebih atau kurang jelas. Di sinilah perbedaan antara pori yang benar-benar ‘membuka’ dan pori yang hanya tampak berbeda menjadi penting.Baca Juga: Mitos: Produk yang Terasa Perih Berarti Sedang BekerjaAir Hangat Mengubah Kondisi Kulit, Bukan Membuka PoriAir hangat dapat membantu melunakkan minyak dan residu pada permukaan kulit sehingga proses pembersihan terasa lebih mudah. Panas juga dapat meningkatkan aliran darah sementara pada kulit sehingga wajah tampak lebih kemerahan. Efek-efek tersebut nyata, tetapi tidak membuktikan bahwa diameter pori sedang dikendalikan seperti katup.American Academy of Dermatology justru merekomendasikan penggunaan air suam-suam kuku ketika mencuci wajah. Air yang terlalu panas dapat membuat kulit lebih kering dan memicu iritasi pada sebagian orang. Artinya, menaikkan suhu air demi ‘membuka’ pori bukan langkah yang diperlukan untuk memperoleh kulit yang bersih.Hal serupa berlaku pada uap wajah. Uap dapat membuat material di permukaan dan isi pori terasa lebih lunak sehingga proses perawatan tertentu menjadi lebih mudah, tetapi pori tidak berubah menjadi lubang yang sengaja membuka. Menguapi wajah terlalu lama atau dengan suhu terlalu tinggi juga bukan berarti pembersihan akan semakin efektif.Air dingin kemudian memberikan sensasi berbeda karena memengaruhi permukaan kulit dan pembuluh darah untuk sementara. Kulit dapat terasa lebih kencang atau tampak berbeda sesaat setelah terkena suhu rendah. Namun, efek tersebut kembali tidak sama dengan mekanisme anatomis yang membuat pori menutup.Baca Juga: Mitos: Bahan Alami Selalu Lebih Lembut untuk Kulit SensitifKalau Tidak Bisa Ditutup, Mengapa Pori Bisa Terlihat Lebih Kecil?Ukuran dan tampilan pori dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk genetik dan produksi sebum. Ketika sebum serta material lain menumpuk di dalam folikel, bukaannya dapat terlihat lebih jelas. Kondisi kulit di sekitarnya juga menentukan seberapa kontras pori terlihat ketika seseorang bercermin.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., menjelaskan bahwa kosmetik lebih tepat dipahami berdasarkan pengaruhnya terhadap kondisi permukaan kulit daripada klaim bahwa produk secara fisik ‘menutup’ pori. Formula tertentu dapat membantu mengontrol minyak, membersihkan permukaan, atau memperbaiki penampilan tekstur sehingga pori terlihat lebih samar. Perubahan penampilan tersebut berbeda dari menghilangkan struktur pori itu sendiri.Bahan seperti salicylic acid dapat digunakan dalam formulasi untuk membantu mengatasi minyak dan penumpukan sel pada area folikel. Retinoid dalam konteks penggunaan yang sesuai juga dapat memengaruhi pergantian sel dan kondisi kulit. Manfaat bahan-bahan tersebut tetap tidak perlu dijelaskan melalui konsep membuka atau menutup pori.Dermatolog Dr. Shari Marchbein juga menjelaskan dalam edukasi mengenai pori bahwa ukuran pori banyak dipengaruhi faktor genetik, sementara produksi minyak, penuaan, dan kerusakan akibat sinar matahari dapat membuatnya tampak lebih jelas. Perawatan dapat membantu memperbaiki penampilannya, tetapi tidak memberikan kemampuan kepada seseorang untuk menghapus pori secara permanen.Obsesi untuk membuat pori ‘hilang’ juga perlu ditempatkan dalam konteks visual hari ini. Kamera beresolusi tinggi, pencahayaan tertentu, penyuntingan foto, dan filter dapat menciptakan gambaran kulit yang hampir tanpa tekstur. Ketika standar tersebut dibawa ke depan cermin, struktur kulit normal mudah dianggap sebagai kekurangan.Membersihkan wajah secara lembut, mengelola minyak sesuai kebutuhan, menggunakan pelembap, serta melindungi kulit dari paparan sinar ultraviolet merupakan pendekatan yang lebih realistis daripada mengejar ritual buka-tutup pori. Produk yang membuat tampilan pori lebih samar tentu dapat digunakan, tetapi ekspektasinya perlu ditempatkan pada perubahan penampilan, bukan perubahan anatomi yang tidak mungkin dilakukan kosmetik.Jadi, pori-pori tidak membuka ketika terkena air hangat lalu menutup kembali karena air dingin. Yang berubah adalah kondisi kulit dan bagaimana bukaan folikel tersebut terlihat dari permukaan. Mungkin mitos ini bertahan begitu lama karena sensasinya memang terasa nyata, tetapi seperti banyak hal dalam skincare, sesuatu yang terasa terjadi belum tentu sama dengan apa yang sebenarnya berlangsung di dalam kulit. [][Rudi Tenggarawan/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Tanya Dong: Perlukah Memberi Jeda antara Satu Produk Skincare dan Produk Berikutnya?
TanyaDong

24 Sep 2026

Tanya Dong: Perlukah Memberi Jeda antara Satu Produk Skincare dan Produk Berikutnya?

Serum sudah dipakai. Haruskah menunggu sebelum pelembap? Jeda antarproduk ternyata tidak selalu membutuhkan hitungan menit yang sama.Rutinitas skincare sering terlihat seperti rangkaian yang memiliki aturan waktu sangat ketat. Setelah toner, ada yang menunggu beberapa menit sebelum menggunakan serum. Setelah serum, penghitung waktu dimulai lagi sebelum pelembap atau produk berikutnya diaplikasikan.Kebiasaan tersebut sebagian muncul dari kekhawatiran bahwa produk akan bercampur dan kehilangan manfaatnya jika digunakan terlalu cepat. Ada pula anggapan bahwa setiap bahan harus benar-benar ‘meresap’ sebelum bertemu formula berikutnya. Akibatnya, rutinitas sederhana yang terdiri atas beberapa produk dapat terasa seperti prosedur yang membutuhkan banyak waktu.Padahal, tidak ada satu aturan universal yang mewajibkan jeda lima, sepuluh, atau lima belas menit untuk setiap lapisan skincare. Kebutuhan jeda bergantung pada jenis produk, karakter formula, tujuan penggunaannya, serta petunjuk khusus dari produsen. Pada banyak rutinitas sehari-hari, kondisi permukaan kulit justru dapat menjadi petunjuk yang lebih praktis daripada penghitung waktu.Pertanyaannya karena itu bukan sekadar berapa menit harus menunggu. Yang lebih penting adalah apakah lapisan sebelumnya sudah cukup nyaman untuk menerima produk berikutnya dan apakah produk tertentu memang mempunyai instruksi penggunaan khusus.Baca Juga: Tanya Dong: Apakah Kulit Bisa Berubah Jenis Seiring Bertambahnya Usia?Tidak Semua Produk Membutuhkan Waktu Tunggu KhususProduk perawatan kulit bekerja melalui mekanisme yang berbeda. Sebagian bahan bekerja pada permukaan kulit, sebagian diformulasikan untuk mencapai lapisan tertentu, sedangkan produk seperti pelembap membantu mempertahankan kondisi lapisan terluar kulit. Proses tersebut tidak berarti setiap produk harus dibiarkan sendirian selama beberapa menit sebelum tahapan berikutnya.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., menjelaskan bahwa cara penggunaan sebaiknya mengikuti karakter formula dan petunjuk produk, bukan aturan waktu yang disamaratakan. Formulator mempertimbangkan sistem penghantaran, tekstur, bahan aktif, serta bagaimana produk diharapkan digunakan dalam sebuah rutinitas. Karena itu, angka jeda yang berlaku untuk seluruh kosmetik justru sulit memiliki dasar formulasi yang sama.Untuk toner, serum hidrasi, dan pelembap dalam rutinitas sederhana, pengguna umumnya dapat melanjutkan ketika produk sebelumnya sudah tersebar merata dan tidak terlalu basah atau licin. Tidak perlu menunggu sampai kulit terasa benar-benar kering apabila petunjuk produk tidak mensyaratkannya. Bahkan beberapa humektan dan pelembap nyaman digunakan ketika kulit masih memiliki sedikit kelembapan.Persoalan berbeda muncul ketika lapisan berikutnya menyebabkan produk menggumpal atau membentuk serpihan yang dikenal sebagai pilling. Kondisi tersebut tidak otomatis berarti bahan aktif saling menetralkan. Jumlah produk yang terlalu banyak, teknik menggosok, atau ketidakcocokan karakter antarlapisan juga dapat menyebabkan produk tidak membentuk lapisan dengan baik.Baca Juga: Tanya Dong: Apakah Produk Kosmetik Perlu Disimpan di Kulkas?Ada Situasi ketika Jeda Memang BergunaMemberikan sedikit waktu dapat membantu ketika sebuah formula membutuhkan kesempatan untuk membentuk lapisan pada kulit. Produk yang terasa sangat basah atau lengket, misalnya, mungkin lebih nyaman dibiarkan sebentar sebelum produk berikutnya digunakan. Tujuannya lebih berkaitan dengan aplikasi dan pembentukan lapisan daripada mengejar angka waktu tertentu.Perhatian khusus juga berlaku untuk produk obat atau bahan aktif yang memiliki petunjuk penggunaan spesifik. Retinoid tertentu, produk untuk jerawat, atau sediaan yang diresepkan dokter dapat mempunyai instruksi mengenai kondisi kulit ketika diaplikasikan maupun urutannya dengan produk lain. Dalam situasi seperti ini, petunjuk produk dan arahan tenaga kesehatan lebih penting daripada aturan yang beredar di media sosial.Dermatolog Dr. Ranella Hirsch juga kerap menekankan bahwa rutinitas perawatan kulit tidak perlu dibuat lebih rumit daripada yang dibutuhkan. Dalam praktik penggunaan beberapa produk, membiarkan suatu lapisan cukup menetap sebelum beralih ke tahap berikutnya lebih masuk akal daripada menetapkan waktu tunggu panjang tanpa alasan formulasi yang jelas. Cara kulit merespons keseluruhan rutinitas tetap menjadi pertimbangan utama.Tabir surya mempunyai konteks yang sedikit berbeda. Produk ini sebaiknya diaplikasikan sebagai tahap terakhir perawatan kulit pada pagi hari dan dibuat membentuk lapisan yang merata. American Academy of Dermatology menyarankan penggunaan tabir surya sekitar 15 menit sebelum keluar rumah, tetapi waktu tersebut berkaitan dengan penggunaan tabir surya sebelum paparan luar ruang, bukan aturan bahwa semua produk sebelumnya harus diberi jeda 15 menit.Jika rutinitas terasa nyaman, tidak menggumpal, dan tidak menimbulkan iritasi, tidak ada kebutuhan untuk sengaja memperpanjang waktu di antara setiap produk. Sebaliknya, apabila lapisan terus bergeser atau pilling, mencoba menggunakan jumlah yang lebih sedikit, menepuk daripada menggosok, atau memberi waktu singkat antarlapisan dapat membantu. Jeda dalam situasi ini merupakan solusi praktis, bukan ritual wajib.Rutinitas skincare tidak harus berubah menjadi rangkaian alarm yang berbunyi setiap lima menit. Untuk sebagian besar produk, memperhatikan tekstur, petunjuk penggunaan, dan respons kulit lebih berguna daripada menghafalkan aturan waktu yang sama untuk semuanya. Jika sebuah produk memang membutuhkan perlakuan khusus, kemasan atau arahan tenaga kesehatan seharusnya menjadi rujukan utama, bukan penghitung waktu yang diwariskan dari satu unggahan ke unggahan lainnya. [][Tim Beautyversity/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Menampilkan 13 - 24 dari 215 artikel