BeautyLife

Kenapa Kita Sering Mencari Validasi dari Penampilan?

Admin Beautyversity Admin Beautyversity
310 views
Kenapa Kita Sering Mencari Validasi dari Penampilan?

Kadang, rasa percaya diri terasa naik hanya karena ada yang bilang kita terlihat lebih menarik hari itu.

Hal seperti ini sangat manusiawi. Banyak orang merasa lebih tenang setelah mendapat pujian tentang wajah, tubuh, kulit, atau penampilannya. Sebaliknya, komentar kecil tentang jerawat, berat badan, atau penampilan lelah bisa bertahan di kepala jauh lebih lama dari yang seharusnya.

Masalahnya, ketika rasa berharga terlalu bergantung kepada penilaian orang lain, hubungan dengan diri sendiri perlahan menjadi rapuh. Kita mulai melihat penampilan bukan lagi sebagai bagian dari diri yang hidup bersama kita, tetapi sebagai sesuatu yang harus terus mendapat pengakuan agar merasa cukup.

Baca Juga: Kenapa Kita Sering Merasa Kurang Menarik?

Penampilan Menjadi Bahasa Sosial yang Sangat Kuat

Sejak kecil, banyak orang terbiasa mendapat respons berbeda berdasarkan penampilan mereka. Anak yang dianggap rapi sering dipuji, remaja yang terlihat menarik lebih mudah mendapat perhatian, dan orang dengan penampilan 'ideal' sering dianggap lebih percaya diri atau lebih sukses.

Lama-kelamaan, otak mulai menghubungkan penampilan dengan penerimaan sosial. Karena itu, pujian tentang wajah atau tubuh terasa sangat menyenangkan, sementara kritik kecil bisa terasa jauh lebih menyakitkan dibanding yang kita akui.

Sebagai contoh, seseorang bisa tetap memikirkan komentar tentang jerawat atau kenaikan berat badan selama berhari-hari, meskipun orang lain mungkin sudah melupakannya. Hal seperti ini terjadi karena penampilan sering dianggap mewakili nilai diri secara keseluruhan.

Psikolog Dr. Guy Winch dalam buku Emotional First Aid [2013] menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan kuat untuk merasa diterima dan diakui secara sosial. Karena itu, komentar terhadap penampilan sering memengaruhi emosi lebih dalam dibanding yang terlihat di permukaan.

Media sosial membuat situasi ini semakin intens. Foto, likes, komentar, dan standar visual yang terus muncul setiap hari perlahan membuat banyak orang merasa dirinya harus selalu terlihat menarik agar layak diperhatikan.

Akibatnya, penampilan mulai diperlakukan seperti 'nilai' yang menentukan rasa percaya diri. Ketika validasi datang, kita merasa cukup. Saat validasi hilang, rasa kurang itu muncul lagi.

Baca Juga: Kebiasaan Membeli Berdasarkan Harga

Rasa Aman Tidak Bisa Selalu Bergantung pada Penilaian Orang Lain

Masalah terbesar dari mencari validasi lewat penampilan adalah rasa puasnya sering tidak bertahan lama. Setelah satu kekhawatiran hilang, biasanya muncul hal lain yang kembali dipikirkan.

Sebagai contoh, seseorang mungkin merasa lebih percaya diri setelah kulitnya membaik. Namun beberapa waktu kemudian, perhatian berpindah ke bentuk tubuh, kondisi rambut, atau tanda penuaan kecil di wajah. Karena standar terus bergerak, rasa cukup jadi sulit benar-benar dirasakan.

Psikolog Dr. Brené Brown dalam buku The Gifts of Imperfection [2010] menjelaskan bahwa ketika harga diri terlalu bergantung kepada penerimaan eksternal, seseorang lebih mudah merasa tidak aman terhadap dirinya sendiri. Akibatnya, penampilan terus dijadikan alat untuk mencari rasa cukup yang sebenarnya tidak pernah benar-benar selesai.

Hal ini bukan berarti kita tidak boleh menikmati pujian atau ingin terlihat menarik. Merawat penampilan tetap bisa menjadi hal yang menyenangkan dan sehat. Namun situasinya menjadi berbeda ketika seluruh rasa percaya diri hanya bertahan selama masih ada pengakuan dari luar.

Kadang, tubuh hanya ingin diperlakukan sebagai bagian dari diri yang perlu dijaga, bukan terus diuji kelayakannya di mata orang lain. Saat hubungan dengan diri sendiri mulai lebih tenang, kebutuhan akan validasi biasanya ikut perlahan berubah.

Kita tetap bisa memakai skincare, makeup, atau pakaian yang membuat nyaman. Namun semua itu terasa lebih ringan ketika dilakukan untuk diri sendiri, bukan semata agar dianggap cukup oleh orang lain.

Dan sering Beauties, rasa menarik yang paling kuat justru muncul saat seseorang tidak lagi terlalu sibuk meminta izin dari dunia untuk merasa berharga. [][Liora Maheswari/TBV]

Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.


Bagikan artikel ini:
Admin Beautyversity

Admin Beautyversity

Penulis di Beautyversity

Lihat Semua Artikel