Ada rasa tidak nyaman yang muncul saat merasa penampilan sedang 'berantakan', bahkan ketika tidak ada yang benar-benar mempermasalahkannya.
Banyak orang terbiasa merasa harus selalu terlihat rapi sebelum keluar rumah, bertemu orang lain, atau bahkan sekadar membuka kamera saat online meeting. Rambut harus terlihat bagus, pakaian harus terasa pantas, wajah tidak boleh terlalu lelah. Jika ada sedikit saja yang terasa kurang, rasa percaya diri ikut turun tanpa sadar.
Hal seperti ini sebenarnya bukan cuma soal estetika. Ada tekanan sosial yang perlahan membuat kita percaya bahwa penampilan rapi adalah tanda seseorang 'baik-baik saja'. Akibatnya, banyak orang mulai merasa tidak nyaman menunjukkan dirinya dalam kondisi yang lebih manusiawi dan tidak selalu sempurna.
Baca Juga: Kenapa Kita Sulit Konsisten dalam Merawat Diri?
Penampilan Rapi Sering Dikaitkan dengan Nilai Diri
Sejak lama, penampilan sering dijadikan cara cepat untuk menilai seseorang. Orang yang terlihat rapi dianggap lebih disiplin, lebih profesional, lebih sopan, bahkan lebih 'layak' dihargai. Karena itu, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa tampil rapi adalah bentuk kewajiban sosial.
Sebagai contoh, seseorang bisa merasa bersalah keluar rumah tanpa makeup ringan atau rambut yang ditata. Padahal, tidak ada aturan nyata yang benar-benar mewajibkan semua itu. Namun karena terbiasa mendapat respons positif saat tampil rapi, otak mulai menghubungkan penampilan dengan penerimaan sosial.
Hal lain yang cukup sering terjadi adalah rasa takut dianggap malas atau tidak menjaga diri. Akibatnya, penampilan menjadi sesuatu yang terus dipantau dan dikontrol setiap hari. Bahkan saat tubuh sedang lelah, banyak orang tetap merasa harus terlihat 'baik-baik saja' di depan orang lain.
Dalam buku The Gifts of Imperfection [2010], Psikolog Dr. Brené Brown menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan kuat untuk diterima oleh lingkungan sosialnya. Dalam banyak situasi, penampilan menjadi salah satu cara paling cepat untuk mencari rasa aman tersebut.
Media sosial membuat tekanan ini semakin besar. Kita terbiasa melihat orang tampil rapi hampir setiap waktu, bahkan dalam situasi santai sekalipun. Lama-kelamaan, kondisi natural tubuh terasa seperti sesuatu yang harus disembunyikan.
Padahal, tubuh manusia memang tidak selalu berada dalam kondisi paling segar setiap hari. Ada hari ketika wajah terlihat lelah, rambut sulit diatur, atau tubuh hanya ingin beristirahat tanpa harus terus tampil 'siap dilihat'.
Baca Juga: Kenapa Kita Sering Terlalu Keras ke Diri Sendiri Saat Merawat Penampilan?
Kadang Kita Lupa Bahwa Nyaman Juga Penting
Menariknya, banyak orang tetap memaksakan diri tampil rapi meskipun sebenarnya merasa tidak nyaman. Sepatu yang melelahkan, pakaian yang terlalu ketat, makeup yang terasa berat, atau rutinitas panjang sebelum keluar rumah sering dijalani demi menjaga kesan tertentu.
Hal seperti ini membuat perawatan diri perlahan berubah menjadi performa sosial. Kita mulai lebih sibuk memikirkan bagaimana dilihat orang lain dibanding memperhatikan apa yang sebenarnya dibutuhkan tubuh sendiri.
Sebagai contoh, seseorang bisa menghabiskan waktu lama untuk memastikan penampilannya terlihat 'sempurna', tetapi tetap merasa cemas sepanjang hari karena takut ada bagian kecil yang terlihat kurang rapi. Situasi seperti ini membuat penampilan kehilangan fungsi utamanya sebagai bentuk ekspresi diri.
Psikolog Dr. Renee Engeln dalam buku Beauty Sick [2017] menjelaskan bahwa tekanan terhadap penampilan dapat membuat seseorang terlalu fokus pada bagaimana tubuh terlihat dibanding bagaimana tubuh dirasakan. Akibatnya, hubungan dengan diri sendiri menjadi lebih melelahkan secara emosional.
Merawat diri dan tampil rapi tentu bukan hal yang salah. Banyak orang merasa lebih percaya diri dan nyaman setelah merawat penampilannya. Namun situasinya menjadi berbeda ketika rasa aman hanya muncul jika kita terlihat 'sempurna' sepanjang waktu.
Kadang, tubuh juga perlu diberi ruang untuk tampil biasa saja tanpa terus merasa diawasi. Tidak semua momen harus terlihat estetik, tidak semua hari harus terasa presentable.
Saat mulai menerima hal itu, hubungan dengan diri sendiri biasanya menjadi lebih ringan. Penampilan tetap bisa dirawat, tetapi tidak lagi terasa seperti kewajiban yang terus menekan setiap hari. [][Vikalena Lasmoskwa/TBV]
Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.