BeautyNews

Jelajahi artikel terkait BeautyNews

Mengenang Martha Tilaar, Apa yang Bisa Dipelajari Generasi Baru Formulator Indonesia?
BeautyNews

15 Okt 2026

Mengenang Martha Tilaar, Apa yang Bisa Dipelajari Generasi Baru Formulator Indonesia?

Bagi apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., Martha Tilaar bukan sekadar pelopor kecantikan Indonesia, melainkan sosok yang ikut membentuk perjalanan profesionalnya.Kepergian Martha Tilaar meninggalkan kehilangan besar bagi industri kecantikan Indonesia. Sosok yang dikenal melalui Sariayu dan berbagai inisiatif pengembangan kecantikan Nusantara itu mewariskan lebih dari sekadar merek dan produk. Perhatiannya terhadap bahan alam, penelitian, dan identitas budaya Indonesia turut menginspirasi generasi profesional kosmetik yang tumbuh setelahnya.Salah satunya adalah apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., formulator dan peneliti kosmetik yang juga terlibat dalam pendidikan Rekayasa Kosmetik Universitas Padjadjaran. Hubungannya dengan pemikiran Martha Tilaar bermula jauh sebelum ia menekuni penelitian dan pengembangan produk secara profesional. Pertemuan pertama mereka berlangsung pada 1997, ketika apt. Cahya masih menjadi mahasiswa tingkat tiga Fakultas Farmasi.Dalam tulisan refleksinya yang dipublikasikan di aptcahya.com pada 14 Oktober 2026, apt. Cahya mengenang bagaimana pertemuan tersebut memperluas cara pandangnya terhadap industri kosmetik. Ilmu farmasi yang dipelajarinya ternyata memiliki ruang penerapan yang jauh lebih luas daripada yang semula ia bayangkan. Pengembangan kosmetik membutuhkan pemahaman tentang bahan, formulasi, stabilitas, keamanan, dan teknologi.Pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan profesional yang kemudian membawanya ke berbagai kegiatan pengembangan kosmetik. Ketika memulai karier di Wardah pada 2000, apt. Cahya menyebut Sariayu sebagai salah satu tolok ukur yang diperhatikan dalam pengembangan produk. Baginya, keberhasilan Sariayu memperlihatkan bahwa produk kosmetik lokal dapat dibangun dengan identitas yang kuat sekaligus relevan bagi kebutuhan masyarakat.Baca Juga: Dari Patin, Teh Hijau, hingga Microbiome, Bagaimana Sains Mengubah Cara Kita Melihat Inovasi Beauty?Dari Pertemuan Pertama hingga Inspirasi bagi FormulatorBagi seorang formulator, keberhasilan kosmetik tidak cukup dinilai dari popularitas merek atau penampilan kemasannya. Di balik produk yang digunakan konsumen terdapat proses pemilihan bahan, penyusunan formula, pengujian stabilitas, hingga pengendalian mutu. Seluruh tahapan tersebut menentukan apakah suatu gagasan dapat diterjemahkan menjadi produk yang aman dan konsisten kualitasnya.Melalui pengalamannya, apt. Cahya melihat perjalanan Martha Tilaar sebagai contoh bagaimana ilmu pengetahuan dapat bertemu dengan kekayaan budaya dan kebutuhan pasar. Sariayu tidak hanya memperkenalkan produk kecantikan, tetapi juga membawa identitas Nusantara ke dalam pengembangan merek. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa inovasi kosmetik dapat memiliki karakter lokal tanpa mengabaikan kebutuhan pengembangan teknologi.Salah satu perhatian Martha Tilaar yang paling menginspirasi apt. Cahya adalah pengembangan bahan alam Indonesia. Melalui berbagai inisiatif, termasuk Martha Tilaar Innovation Centre dan kegiatan yang berkaitan dengan tanaman berkhasiat, kekayaan hayati Indonesia ditempatkan sebagai sumber potensi penelitian. Bagi apt. Cahya, pendekatan tersebut membuka pertanyaan penting mengenai bagaimana bahan alam dapat dikembangkan menjadi bahan kosmetik yang aman, bermutu, dan memiliki manfaat yang dapat dibuktikan.Pertanyaan itu semakin relevan ketika industri kecantikan berkembang dengan beragam klaim mengenai bahan alami. Keberadaan senyawa tertentu dalam tumbuhan belum otomatis menjadikan ekstraknya sebagai bahan aktif kosmetik yang siap digunakan. Peneliti masih perlu memahami karakteristik kimia, metode pengolahan, konsistensi bahan, keamanan, dan stabilitasnya.apt. Cahya sendiri menekuni penelitian bahan aktif berbasis sumber daya alam, termasuk isoflavon kedelai. Pengembangan bahan semacam ini membutuhkan proses karakterisasi, standardisasi, pengujian, serta penyesuaian terhadap kebutuhan formulasi. Hasil penelitian laboratorium yang menjanjikan juga belum tentu menghasilkan manfaat serupa ketika bahan tersebut digunakan dalam produk jadi.Dalam refleksinya, apt. Cahya menekankan bahwa pengembangan bahan aktif Indonesia tidak cukup dipahami sebagai upaya mengganti bahan impor dengan bahan lokal. Persoalan yang lebih mendasar adalah kemampuan menghasilkan dan menguasai pengetahuan mengenai bahan tersebut. Kemandirian industri membutuhkan kompetensi untuk meneliti, mengolah, menguji, dan menjaga kualitas bahan secara berkelanjutan.Baca Juga: Kalau Setiap Orang Punya Skin Microbiome yang Berbeda, Seperti Apa yang Disebut Sehat?Warisan yang Berlanjut melalui Penelitian Kosmetik IndonesiaPerjalanan apt. Cahya kembali bersinggungan dengan Martha Tilaar pada 2023. Keduanya bertemu dalam acara Apresiasi Inovasi Universitas Padjadjaran, ketika Martha hadir sebagai keynote speaker. Pada kesempatan yang sama, Cahya hadir mewakili Lunaray Beauty Factory dan Dian Indah Abadi yang menerima penghargaan Apresiasi Mitra Inovasi Terdepan.Pertemuan tersebut mempunyai makna tersendiri bagi apt. Cahya karena mempertemukan dua fase perjalanan profesionalnya. Pada 1997, ia merupakan mahasiswa yang mulai mengenal peluang penerapan ilmu farmasi dalam industri kosmetik. Dua puluh enam tahun kemudian, ia telah terlibat dalam formulasi, penelitian, pengembangan produk, dan kolaborasi antara perguruan tinggi dengan industri.Pengalaman tersebut juga memperkuat pandangannya mengenai pentingnya membangun ekosistem ilmu kosmetik Indonesia. Melalui keterlibatan dalam pendidikan Rekayasa Kosmetik Universitas Padjadjaran serta penelitian dan pengembangan bersama LABCOS Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, apt. Cahya melihat perlunya hubungan yang lebih erat antara peneliti dan pelaku industri. Hasil penelitian akademik sering membutuhkan proses lanjutan sebelum dapat diterapkan dalam produksi kosmetik.Sebagai contoh, bahan alam yang memperlihatkan aktivitas biologis dalam penelitian awal masih harus melalui sejumlah tahapan pengembangan. Karakterisasi, standardisasi, evaluasi keamanan, pengujian stabilitas, dan pengembangan formulasi perlu dilakukan sebelum suatu bahan dapat digunakan secara bertanggung jawab. Proses tersebut juga harus mempertimbangkan kemampuan manufaktur serta persyaratan regulasi yang berlaku.Pekerjaan itu membutuhkan kontribusi berbagai bidang keahlian. Peneliti mengembangkan pengetahuan ilmiah, formulator menerjemahkannya menjadi sistem produk, sementara industri memastikan mutu dapat dipertahankan dalam proses produksi. Regulator berperan menetapkan dan mengawasi persyaratan yang melindungi konsumen.Dalam pandangan apt. Cahya, perhatian Martha Tilaar terhadap penelitian, kekayaan alam, dan pengembangan industri merupakan inspirasi yang masih relevan bagi generasi berikutnya. Warisan seorang pelopor tidak hanya terlihat dari perusahaan yang dibangun atau produk yang berhasil dipasarkan. Pengaruhnya juga dapat bertahan melalui orang-orang yang kemudian mengembangkan pengetahuan dan kompetensi di bidang yang sama.Karena itu, mengenang Martha Tilaar juga berarti melihat pekerjaan yang masih perlu dilanjutkan oleh industri kosmetik Indonesia. Kekayaan hayati membutuhkan penelitian, inovasi memerlukan pembuktian ilmiah, dan pengembangan produk membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten. Bagi generasi baru formulator, warisan terpenting seorang pelopor bukan hanya apa yang telah berhasil diciptakannya, tetapi juga kemampuan dan keberanian untuk mengembangkan pengetahuan yang belum selesai dibangun. [][Tim Beautyversity/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Dari Patin, Teh Hijau, hingga Microbiome, Bagaimana Sains Mengubah Cara Kita Melihat Inovasi Beauty?
BeautyNews

05 Okt 2026

Dari Patin, Teh Hijau, hingga Microbiome, Bagaimana Sains Mengubah Cara Kita Melihat Inovasi Beauty?

Indonesia tidak kekurangan sumber daya menarik. Tantangan yang lebih besar adalah membangun pengetahuan yang mampu mengubahnya menjadi inovasi bernilai.Seekor ikan patin, secangkir teh hijau, dan komunitas mikroorganisme yang hidup di kulit tampaknya tidak memiliki banyak kesamaan. Namun, ketiganya bertemu dalam satu percakapan di BeautéSpot, Cosmobeauté Indonesia 2026. Bukan sekadar sebagai tiga topik ilmiah, melainkan tiga cara untuk melihat bagaimana inovasi kecantikan berkembang.Dalam sesi From Local Resources to Science-Driven Beauty Innovation, Prof. Dr. Sugeng Heri Suseno, S.Pi., M.Si. membawa minyak ikan patin, Dr. apt. Naniek Widyaningrum, M.Sc. mengangkat EGCG dari teh hijau, sedangkan Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si. membawa pembicaraan menuju microbiome dan probiotic science. Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. memoderasi percakapan yang sekilas bergerak di tiga wilayah berbeda tersebut.Namun, jika ditarik lebih jauh, ada satu pertanyaan yang menghubungkannya: apa yang membuat sesuatu benar-benar dapat disebut inovasi? Memiliki sumber daya belum berarti memiliki bahan kosmetik. Memiliki senyawa aktif menjanjikan belum berarti memiliki formula efektif, dan memahami sebuah mekanisme biologis belum berarti memiliki produk yang manfaatnya sudah terbukti.Di sinilah percakapan tentang inovasi kecantikan menjadi lebih menarik daripada sekadar mencari hero ingredient berikutnya. Perjalanannya dapat dimulai dari sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi harus melewati riset, teknologi, formulasi, pengujian, hingga pemahaman terhadap sistem biologis tempat produk tersebut nantinya digunakan.Baca Juga: Kalau Setiap Orang Punya Skin Microbiome yang Berbeda, Seperti Apa yang Disebut Sehat?Dari Sumber Daya ke Bahan yang Benar-Benar DipahamiPatin menjadi titik berangkat yang menarik. Selama ini ikan tersebut lebih mudah ditempatkan sebagai komoditas pangan, padahal Prof. Sugeng mengangkat kemungkinan lain: bagaimana minyak yang berasal dari sumber daya lokal dapat dipahami karakter dan kualitasnya, kemudian dikembangkan menuju bahan bernilai tambah untuk industri beauty. Perubahannya bukan terjadi hanya karena kita menemukan kegunaan baru, tetapi karena pengetahuan tentang sumber daya tersebut dibangun lebih jauh.Ini sekaligus menunjukkan perbedaan antara kekayaan sumber daya dan kemampuan menciptakan nilai darinya. Sebuah bahan lokal dapat tersedia melimpah, tetapi industri membutuhkan lebih dari cerita tentang asal-usulnya. Karakteristik bahan, kualitas, konsistensi, proses pengolahan, dan bukti ilmiah menjadi bagian dari perjalanan yang menentukan apakah potensi tersebut dapat bergerak menuju aplikasi yang lebih bernilai.Teh hijau membawa perjalanan itu satu tahap lebih jauh. Berbeda dengan patin yang membuka pembicaraan dari sumber daya lokal, EGCG sudah dikenal sebagai salah satu senyawa bioaktif utama dalam teh hijau. Tantangannya kemudian bukan hanya menemukan bahwa senyawa tersebut mempunyai aktivitas biologis yang menarik, melainkan mempertahankan relevansinya ketika dibawa ke dalam sebuah produk.Dalam pembahasan Dr. Naniek, keberadaan bahan aktif saja belum cukup. Stabilitas, sistem formulasi, delivery, dan efektivitas ikut menentukan bagaimana sebuah natural active dapat diterjemahkan menjadi inovasi yang lebih konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan. Di sinilah istilah ‘natural’ berhenti menjadi akhir cerita dan justru menjadi awal pekerjaan ilmiah.Persoalan tersebut penting karena sebuah bahan dapat terlihat menjanjikan dalam penelitian, tetapi menghadapi kondisi berbeda ketika berada di dalam formula. Ia harus hidup bersama bahan lain, berada pada lingkungan pH tertentu, bertahan selama penyimpanan, melewati proses produksi, dan tetap memiliki karakter yang relevan saat produk digunakan. Dengan kata lain, bahan yang menarik secara biologis belum otomatis menjadi produk yang bekerja sebagaimana diharapkan.Baca Juga: Skincare Terlalu Lama Berbicara tentang Bahan Aktif, Bagaimana Jika Kita Mulai dari Kulit?Ketika Inovasi Tidak Lagi Berhenti pada BahanProf. Keri kemudian membawa percakapan menuju lapisan yang lebih kompleks. Jika patin mengajak melihat bagaimana sumber daya memperoleh nilai melalui sains dan EGCG menunjukkan pentingnya menerjemahkan bahan aktif ke dalam formula, microbiome science mengubah pertanyaannya lagi. Kini persoalannya bukan hanya apa yang dimasukkan ke dalam produk, tetapi sistem biologis apa yang akan berinteraksi dengan produk tersebut.Kulit bukan permukaan pasif. Skin barrier, sebum, hidrasi, pH, respons imun, lingkungan, dan komunitas mikroorganisme membentuk sistem yang saling berhubungan. Karena itu, perkembangan microbiome science membuat inovasi kosmetik semakin sulit direduksi menjadi cerita satu bahan untuk satu manfaat.Implikasinya juga membuat istilah seperti probiotic dan postbiotic tidak cukup diperlakukan sebagai label inovasi. Pertanyaan ilmiahnya tetap harus bergerak lebih jauh: apa mekanismenya, bagaimana bahan tersebut ditempatkan dalam formula, apakah formulanya stabil, bagaimana produk berinteraksi dengan ekosistem kulit, dan bukti seperti apa yang mendukung manfaat yang ingin diklaim. Pendekatan berbasis microbiome menjadi bermakna ketika ia menambah pemahaman terhadap kulit, bukan ketika istilahnya sekadar menambah kosakata pemasaran.Pada titik tersebut, peran formulasi kembali menjadi penting. Sebagai moderator, Cahya mempertemukan pembicaraan mengenai sumber daya, bahan aktif, dan biologi kulit dengan wilayah product development. Sebuah ide ilmiah tetap harus melewati pertanyaan tentang stabilitas, keamanan, kemampuan untuk diproduksi secara konsisten, metode pengujian, hingga sejauh mana bukti yang tersedia benar-benar mendukung produk akhirnya.Maka, tiga topik yang awalnya tampak berjauhan justru membentuk satu perjalanan yang utuh. Patin menunjukkan bahwa sumber daya membutuhkan pengetahuan untuk memperoleh nilai baru. EGCG memperlihatkan bahwa potensi biologis membutuhkan teknologi dan formulasi agar dapat diterjemahkan menjadi produk, sementara microbiome mengingatkan bahwa produk tersebut kemudian bekerja pada sistem biologis yang jauh lebih kompleks daripada satu target tunggal.Perjalanan itu juga mengubah makna inovasi. Kebaruan tidak selalu berarti menemukan bahan yang belum pernah dikenal sebelumnya. Inovasi dapat lahir ketika sumber daya yang sudah dekat dengan kehidupan sehari-hari dipahami dengan lebih baik, ketika senyawa yang sudah dikenal dapat diformulasikan dengan lebih tepat, atau ketika ilmu baru membuat industri mengajukan pertanyaan yang sebelumnya belum terpikirkan.Bagi Indonesia, cara berpikir seperti ini mungkin jauh lebih penting daripada sekadar mencari bahan lokal berikutnya yang dapat disebut unik. Kekayaan sumber daya baru menjadi kekuatan industri ketika ada riset yang memahami karakteristiknya, teknologi yang mampu mengolahnya, formulasi yang dapat mempertahankan kinerjanya, dan bukti yang menjelaskan apa yang benar-benar dilakukan produk tersebut.Patin, teh hijau, dan microbiome mungkin berasal dari tiga dunia yang berbeda. Namun, ketiganya memperlihatkan satu hal yang sama: sains tidak hanya membantu menemukan sesuatu yang baru, tetapi juga membuat kita melihat sesuatu yang sudah ada dengan cara yang lebih bernilai. Mungkin kekayaan terbesar industri kecantikan Indonesia bukan hanya apa yang tumbuh, hidup, atau tersedia di negeri ini, melainkan pengetahuan yang mampu dibangun di atasnya. [][Tim Beautyversity/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Kalau Setiap Orang Punya Skin Microbiome yang Berbeda, Seperti Apa yang Disebut Sehat?
BeautyNews

04 Okt 2026

Kalau Setiap Orang Punya Skin Microbiome yang Berbeda, Seperti Apa yang Disebut Sehat?

Kita terbiasa mencari ukuran ideal untuk kesehatan. Namun, ketika membicarakan skin microbiome, sains justru menunjukkan bahwa ‘sehat’ tidak memiliki satu komposisi universal.Ada sesuatu yang menggoda dari gagasan tentang skin microbiome yang sehat. Jika teknologi sudah mampu mengenali mikroorganisme yang hidup pada kulit, rasanya hanya tinggal satu langkah lagi untuk menentukan bakteri mana yang harus banyak, mana yang harus sedikit, lalu merancang produk yang membawa semuanya menuju komposisi ideal.Masalahnya, kulit manusia tidak bekerja sesederhana itu. Dalam diskusi BeautéSpot di Cosmobeauté Indonesia 2026, Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si. menempatkan microbiome bukan sebagai kumpulan mikroorganisme yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari sistem yang terus berinteraksi dengan skin barrier, pH, sebum, hidrasi, respons imun, biologi tubuh, dan lingkungan. Cara pandang itu segera menimbulkan pertanyaan yang lebih sulit. Jika lingkungan kulit setiap orang berbeda, apakah masuk akal mencari satu komposisi microbiome yang dianggap paling sehat untuk semuanya? Bahkan sebelum membandingkan dua orang, penelitian menunjukkan bahwa komunitas mikroba pada hidung, ketiak, lengan, dan bagian kulit lain dalam tubuh yang sama pun dapat berbeda.Studi klasik Elizabeth Grice dan kolega yang dipublikasikan di Science pada 2009 menunjukkan bahwa lokasi anatomis sangat memengaruhi komunitas mikroba kulit. Area yang kaya sebum menyediakan kondisi berbeda dari area lembap maupun area yang lebih kering, sehingga mikroorganisme yang hidup di sana pun tidak identik. Artinya, satu sampel dari satu titik kulit tidak dapat begitu saja dianggap mewakili keseluruhan microbiome seseorang. Baca Juga: Skincare Terlalu Lama Berbicara tentang Bahan Aktif, Bagaimana Jika Kita Mulai dari Kulit?Bahkan Dua Kulit yang Sama-Sama Sehat Bisa BerbedaPersoalannya menjadi semakin menarik ketika perbandingan dilakukan antarorang. Studi Oh dan kolega di Nature pada 2014 menunjukkan adanya variasi yang besar dalam komunitas mikroba kulit antarindividu. Dua orang yang sama-sama sehat karena itu dapat memiliki profil mikroba yang tidak sama. Perbedaan tersebut dapat berkaitan dengan lokasi kulit, fisiologi, usia, lingkungan, gaya hidup, kebiasaan kebersihan, penggunaan kosmetik, hingga faktor tubuh pemiliknya. Temuan ini membuat istilah ‘normal skin microbiome’ perlu digunakan dengan hati-hati. Normal tidak berarti semua orang harus mempunyai daftar mikroorganisme dalam proporsi yang seragam.Hal yang sama berlaku untuk microbial diversity. Keragaman yang tinggi terkadang diasosiasikan dengan ekosistem yang lebih tangguh, tetapi bahan yang menjadi dasar artikel ini menegaskan bahwa diversity bukanlah skor kesehatan universal untuk kulit. Ada bagian kulit yang secara alami memiliki keragaman lebih rendah, dan maknanya baru bisa dipahami ketika lokasi, komposisi, fungsi, serta kondisi pemilik kulit ikut diperhitungkan. Contoh yang cukup menggugah datang dari Cutibacterium acnes. Namanya membuat mikroorganisme ini mudah diposisikan sebagai musuh karena begitu dekat dengan kata jerawat. Padahal, C. acnes merupakan penghuni umum kulit sehat. Penelitian Fitz-Gibbon dan kolega menunjukkan bahwa persoalannya tidak cukup dijelaskan dengan pertanyaan apakah bakteri tersebut ada atau tidak, karena populasi strain tertentu ditemukan berbeda pada individu dengan dan tanpa jerawat. Temuan itu tidak berarti satu strain dapat langsung dinobatkan sebagai penyebab jerawat. Hubungan atau asosiasi belum sama dengan sebab-akibat. Namun, contoh tersebut cukup untuk menunjukkan mengapa membagi dunia microbiome menjadi 'bakteri baik' dan 'bakteri jahat' dapat membuat ilmu yang sebenarnya kompleks terasa terlalu sederhana.Baca Juga: AI Kini Masuk ke Dunia Kosmetik: LABCOS AI dan Cara Baru Mempelajari Industri KecantikanPerubahan Microbiome Belum Tentu Berarti Kulit Menjadi Lebih BaikKerumitan berikutnya mulai terasa ketika ilmu tersebut bertemu produk kosmetik. Hampir semua produk yang digunakan pada kulit dapat berinteraksi dengan lingkungan tempat mikroorganisme hidup melalui proses pembersihan, perubahan pH, hidrasi, lipid, surfaktan, pengawet, bahan aktif, maupun efek oklusif. Namun, interaksi tidak otomatis berarti gangguan, sebagaimana perubahan juga tidak otomatis berarti manfaat. Bayangkan penelitian menemukan bahwa setelah menggunakan sebuah produk, kelimpahan relatif mikroorganisme tertentu meningkat 15 persen. Angka itu terdengar cukup menarik untuk dijadikan cerita pemasaran. Namun, informasi tersebut belum menjawab apakah perubahan bertahan, apakah fungsi skin barrier menjadi lebih baik, apakah hidrasi meningkat, atau apakah ada manfaat yang benar-benar dirasakan kulit.Dokumen yang menjadi dasar pembahasan ini menyebut perbedaannya secara sangat jelas: microbiome endpoint dan skin-benefit endpoint adalah dua hal berbeda. Perubahan komposisi mikroba harus dibaca bersama konsekuensi fungsional dan hasil yang dapat diukur pada kulit sebelum diterjemahkan menjadi manfaat. Di titik inilah perspektif apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. dalam diskusi BeautéSpot menjadi relevan terhadap pengembangan produk. Sistem pengawet, misalnya, tidak dapat begitu saja dituduh buruk bagi microbiome hanya karena memiliki aktivitas antimikroba. Produk kosmetik berbasis air justru membutuhkan pengendalian mikrobiologis yang memadai agar tidak berubah menjadi tempat tumbuh mikroorganisme yang membahayakan pengguna. Sebaliknya, keberadaan bahan yang memiliki data terkait microbiome juga belum otomatis membuat produk jadi layak disebut microbiome-friendly. Ketika bahan tersebut masuk ke dalam formula, konsentrasi, pH, bahan lain, sistem pengawet, proses produksi, stabilitas, kemasan, dan cara penggunaannya dapat mengubah konteks kerjanya. Karena itu, bukti pada bahan baku dan bukti pada produk jadi merupakan dua tingkat pembuktian yang berbeda. Sains saat ini sudah memberi beberapa pijakan yang cukup kuat. Kita mengetahui bahwa kulit memiliki ekosistem mikroba yang kompleks, lokasi tubuh sangat memengaruhi komposisinya, variasi antarindividu cukup besar, komunitas mikroba berinteraksi dengan barrier dan sistem imun, serta profil seseorang dapat relatif stabil sambil tetap mampu berubah. Namun, ruang yang belum diketahui juga masih luas. Belum ada satu komposisi healthy skin microbiome universal, perubahan mikroba belum selalu dapat dibedakan dengan jelas sebagai sebab atau akibat, belum semua perubahan memiliki makna klinis, dan belum ada satu definisi standar global mengenai produk microbiome-friendly. Dampak jangka panjang intervensi kosmetik juga masih membutuhkan lebih banyak data. Mungkin justru di sinilah kemajuan ilmu skin microbiome terasa paling menarik. Semakin banyak yang diketahui, semakin sulit kesehatan kulit direduksi menjadi satu skor, satu mikroorganisme, atau satu komposisi ideal. Sains belum memberikan formula sederhana untuk 'microbiome sempurna', tetapi memberi cara yang lebih baik untuk membaca setiap klaim yang mengatasnamakannya.Jadi, ketika sebuah produk mengatakan mampu memengaruhi skin microbiome, pertanyaan yang berguna bukan hanya apakah mikroorganismenya berubah. Kita juga perlu bertanya apa yang berubah, bagaimana perubahan itu diukur, apakah bertahan, dan apa artinya bagi kondisi kulit. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membedakan penggunaan ilmu microbiome dari sekadar penggunaan kata microbiome sebagai tren. [][Tim Beautyversity/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

LABCOS Unpad Perkenalkan Cantik.AI, Platform AI untuk Riset hingga Pengelolaan Bisnis Kosmetik
BeautyNews

03 Okt 2026

LABCOS Unpad Perkenalkan Cantik.AI, Platform AI untuk Riset hingga Pengelolaan Bisnis Kosmetik

Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini mulai digunakan lebih luas dalam industri kosmetik, bukan hanya untuk membuat teks, gambar, atau konten. Teknologi ini juga dapat membantu riset, analisis kulit, pengembangan formulasi, hingga pemasaran dan pengelolaan bisnis.Perkembangan ini menjadi perhatian LABCOS Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran (Unpad) yang dipimpin Prof. Dr. apt. Sriwidodo, M.Si. Melalui kolaborasi antara akademisi, praktisi industri, dan ahli teknologi, LABCOS mendorong pemanfaatan AI untuk menjawab berbagai kebutuhan industri kosmetik.Salah satu hasil pengembangan tersebut adalah Cantik.AI, ekosistem specialized AI untuk industri beauty, cosmetic, dan wellness. Inovasi ini diperkenalkan dalam sesi “The AI Beauty Revolution – From Skin & Wellness Intelligence to Data-Driven Product Innovation” di Cosmobeaute Indonesia 2026, Tangerang.CEO Cantik.AI Wendra Wilendra, M.MT. dan CTO Cantik.AI Yusep Maulana, S.Kom., M.Kom. memaparkan pemanfaatan AI mulai dari research, analisis kulit, formulasi, hingga branding dan marketing.AI bukan sekadar pembuat kontenMenurut Wendra, melihat AI hanya sebagai chatbot atau pembuat konten berarti baru melihat sebagian kecil potensinya. “AI dapat membantu kita membaca lebih banyak informasi, menemukan hubungan yang sulit terlihat, mengeksplorasi lebih banyak kemungkinan, dan membantu expert mengambil keputusan dengan konteks yang lebih baik.”Namun, AI tidak diposisikan untuk menggantikan manusia. Cantik.AI menggunakan prinsip “AI explores. Experts verify. Humans decide.” AI membantu mengeksplorasi dan menganalisis, sedangkan verifikasi dan keputusan tetap berada pada manusia dan para ahli.Tiga pemanfaatan AICantik.AI mengembangkan AI dengan fungsi yang lebih spesifik sesuai kebutuhan pekerjaan. Tiga di antaranya adalah AI Skin Analyzer, AI Formulator, dan AI Marketing.AI Skin Analyzer membantu menganalisis karakteristik visual kulit dan memberikan informasi mengenai kondisi serta kebutuhan kulit. Sistem ini merupakan alat bantu dan tidak ditujukan untuk menggantikan diagnosis profesional medis.AI Formulator membantu formulator mengeksplorasi pengetahuan ilmiah, hubungan antar bahan, kemungkinan formulasi, dan informasi penelitian. AI dapat membantu mempersempit pilihan, tetapi hasilnya tetap membutuhkan pengujian, validasi ilmiah, dan penilaian formulator.Sementara AI Marketing membantu membaca tren konsumen, peluang kampanye, performa kanal pemasaran, serta arah konten. Tujuannya adalah memperkuat kemampuan marketer dalam mengolah informasi dan mengeksplorasi strategi.Dibangun melalui kolaborasi multidisiplinPengembangan AI untuk kosmetik membutuhkan lebih dari sekadar teknologi. Industri ini melibatkan ilmu formulasi, farmasi, dermatologi, bahan baku, pengujian, regulasi, manufaktur, hingga pemasaran. Karena itu, LABCOS menggunakan pendekatan kolaboratif dengan melibatkan berbagai keahlian sesuai kebutuhan. Prinsipnya sederhana: masalah yang berbeda membutuhkan keahlian yang berbeda.CTO Cantik.AI Yusep Maulana mengatakan pendekatan tersebut juga menjadi alasan Cantik.AI dikembangkan sebagai specialized AI, bukan satu AI generik untuk semua pekerjaan. “Setiap domain memiliki knowledge, data, workflow, dan konteks yang berbeda. Karena itu kami mengembangkan specialized AI yang dirancang untuk memahami pekerjaan tertentu.”Dari laboratorium menuju pasarPemanfaatan AI berpotensi menjangkau berbagai tahapan industri kosmetik, mulai dari riset dan pengembangan produk, formulasi, regulasi, hingga manufacturing, branding, marketing, dan consumer experience.Bagi LABCOS, kehadiran AI bukan untuk menggantikan cosmetic science, melainkan memperluas kemampuan manusia dalam mengolah pengetahuan, data, dan berbagai kemungkinan inovasi.“Semakin powerful AI, semakin penting expertise, konteks dan judgement manusia di belakangnya,” ujar Wendra. Ia menambahkan, masa depan industri kecantikan bukan tentang manusia melawan AI, melainkan bagaimana keduanya dapat bekerja bersama. “Kami tidak melihat masa depan beauty sebagai manusia versus AI. Yang kami lihat adalah manusia dan AI bekerja bersama—masing-masing melakukan apa yang paling kuat mereka lakukan.”pungkasnya.Tentang Cantik.AICantik.AI merupakan platform specialized AI untuk industri beauty, cosmetic, dan wellness yang memungkinkan pengunjung mengeksplorasi berbagai AI specialist sesuai kebutuhannya. Melalui platform ini, pengguna dapat memperoleh bantuan untuk mencari informasi dan insight, mengeksplorasi ide produk dan formulasi, memahami regulasi, menyusun strategi marketing dan branding, hingga mengembangkan konten.Bagi pelaku industri, manfaatnya adalah membantu mempercepat pencarian informasi, memperluas eksplorasi ide, dan mendukung proses pengambilan keputusan dengan memanfaatkan AI yang dirancang berdasarkan konteks industri kosmetik. Cantik.AI juga memungkinkan pengguna mengenal berbagai penerapan AI secara langsung sesuai kebutuhan pekerjaan mereka.Pendekatan Cantik.AI menempatkan AI sebagai partner kerja, sementara keputusan akhir tetap berada pada manusia dan para ahli yang memiliki kompetensi di bidangnya. Platform ini dapat diakses melalui link : https://cantik.ai/Tentang LABCOSLABCOS (Laboratorium Kosmetik) Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran merupakan pusat kegiatan riset, pengembangan, pengujian, dan inovasi di bidang kosmetik yang mempertemukan keahlian akademik dan kebutuhan industri.LABCOS berfokus pada pengembangan ilmu dan teknologi kosmetik, termasuk formulasi dan pengembangan produk, pengujian dan analisis, bahan baku kosmetik, keamanan dan efektivitas produk, serta aspek regulasi dan pengembangan industri.Dalam menjalankan kegiatannya, LABCOS mendorong kolaborasi multidisiplin antara akademisi, peneliti, tenaga ahli, dan pelaku industri. Pendekatan tersebut memungkinkan berbagai pengetahuan dari bidang farmasi, cosmetic science, dermatologi, teknologi, dan bidang terkait lainnya untuk digunakan dalam menjawab kebutuhan dan tantangan industri kosmetik.Pengembangan Cantik.AI menjadi salah satu bagian dari eksplorasi LABCOS dalam mempertemukan ilmu kosmetik, keahlian multidisiplin, data, dan teknologi AI. Melalui pendekatan tersebut, LABCOS berupaya membuka peluang pemanfaatan teknologi baru untuk mendukung proses riset, inovasi, pengembangan produk, hingga kebutuhan industri kosmetik yang terus berkembang. Info lebih lanjut tentang LABCOS dapat diakses melalui link: https://labcos.id/[][Dipo Alaric/TBV] 

Skincare Terlalu Lama Berbicara tentang Bahan Aktif, Bagaimana Jika Kita Mulai dari Kulit?
BeautyNews

03 Okt 2026

Skincare Terlalu Lama Berbicara tentang Bahan Aktif, Bagaimana Jika Kita Mulai dari Kulit?

Bahan aktif sering menjadi awal percakapan tentang skincare. Di Cosmobeauté Indonesia 2026, Prof. Keri Lestari justru mengajak melihat sesuatu yang lebih besar: kulit.Industri kecantikan punya kebiasaan yang mudah dikenali. Ketika sebuah produk baru diperkenalkan, salah satu pertanyaan pertama biasanya adalah kandungannya: niacinamide berapa persen, memakai peptide apa, mengandung ceramide jenis apa, atau bahan aktif baru apa yang sedang ditawarkan. Cara berpikir seperti itu tidak salah, tetapi mungkin belum menceritakan seluruh persoalan.Di BeautéSpot, Cosmobeauté Indonesia 2026, Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si. membawa pembicaraan tentang skincare ke arah yang sedikit berbeda. Alih-alih berhenti pada pertanyaan tentang ingredient, ia mengajak audiens melihat kulit sebagai sebuah sistem biologis yang hidup. Dalam kerangka tersebut, skin barrier, lipid, hidrasi, respons imun, paparan lingkungan, dan komunitas mikroba tidak berdiri sendiri, melainkan terus berinteraksi.Cara pandang itu membuat skin microbiome menjadi lebih menarik sekaligus lebih rumit. Mikroorganisme yang hidup di kulit bukan sekadar lapisan tambahan yang dapat dipisahkan dari bagian lainnya. Kondisinya berhubungan dengan pH, sebum, hidrasi, barrier, lingkungan, hingga biologi tubuh yang menjadi tempat mereka hidup.Literatur ilmiah terbaru bergerak ke arah serupa. Sebuah ulasan di Journal of Clinical Investigation menggambarkan kulit sebagai penghalang fisik sekaligus habitat bagi bakteri dan fungi komensal, dengan interaksi mikroba yang berkaitan dengan respons imun, komunitas mikroba, dan integritas epidermis. Kajian lain pada 2026 juga menempatkan microbiome, sistem imun, dan skin barrier sebagai sumbu yang saling berhubungan.Baca Juga: Cosmeticverse Bukan Proyek Seminar, Tetapi Gerakan PengetahuanKetika ‘Bakteri Baik’ dan ‘Bakteri Jahat’ Tidak Lagi CukupPopularitas microbiome skincare membawa kosakata baru ke rak kosmetik: prebiotic, probiotic, postbiotic, hingga microbiome-friendly. Masalahnya, bahasa pemasaran cenderung menyukai cerita yang sederhana. Mikroorganisme akhirnya mudah dibagi menjadi ‘baik’ dan ‘jahat’, seolah kesehatan kulit cukup ditentukan dengan menambah kelompok pertama dan menyingkirkan kelompok kedua.Padahal, materi Prof. Keri menunjukkan persoalan yang lebih kontekstual. Mikroorganisme yang sama dapat berperilaku berbeda bergantung pada strain, lokasi kulit, kondisi barrier, pH, sebum, imunitas tubuh, dan lingkungan. Bahkan keragaman mikroba yang lebih tinggi tidak otomatis berarti kulit lebih sehat, karena area berminyak, lembap, dan kering secara alami memiliki komposisi komunitas mikroba yang berbeda.Di sinilah istilah dysbiosis juga perlu digunakan dengan hati-hati. Perubahan komposisi mikroba tidak otomatis membuktikan adanya gangguan, apalagi membuktikan bahwa perubahan tersebut menjadi penyebab masalah kulit. Literatur terkini pun masih menekankan adanya variasi antarmanusia, persoalan standardisasi metode, dan ketidakpastian hubungan sebab-akibat dalam menerjemahkan temuan microbiome ke praktik klinis.Konsekuensinya cukup menarik bagi konsumen. Memikirkan microbiome ternyata tidak selalu berarti mencari produk yang mengandung probiotic. Dalam materi BeautéSpot, pendekatannya dapat dimulai dari sesuatu yang jauh lebih mendasar: menjaga skin barrier, mempertahankan hidrasi, menggunakan sistem pembersihan yang lembut, menjaga pH yang sesuai, dan menghindari gangguan yang tidak diperlukan terhadap lingkungan kulit.Riset kosmetik juga belum memberi alasan untuk terburu-buru menganggap semua produk yang membawa istilah microbiome memiliki tingkat pembuktian yang sama. Ulasan ilmiah pada 2026 menemukan hasil awal yang menjanjikan pada pendekatan prebiotic, probiotic, postbiotic, dan strategi terkait, tetapi kualitas bukti masih dibatasi desain penelitian yang beragam, ukuran sampel kecil, serta belum adanya kriteria standar untuk klaim microbiome-friendly.Baca Juga: Mengapa Budaya Mutu Menjadi Fondasi yang Tidak Terlihat dalam Industri Kosmetik?Dari Memahami Kulit ke Membuat ProdukPertanyaan berikutnya muncul ketika gagasan biologis tersebut harus masuk ke dalam botol. Sebuah bahan boleh saja memiliki data yang menarik mengenai microbiome, tetapi produk kosmetik bukan bahan tunggal. Ada konsentrasi, pH, sistem pengawet, stabilitas, interaksi antarbahan, kemasan, cara penggunaan, hingga proses produksi yang dapat menentukan apa yang terjadi setelah bahan tersebut menjadi formula utuh.Pada titik inilah perspektif Prof. Keri bertemu dengan apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., dalam materi yang menjadi dasar pembahasan Beautyversity. Pertanyaan biologis mengenai apa yang terjadi pada kulit harus bertemu dengan pertanyaan formulasi: bagaimana gagasan tersebut diterjemahkan menjadi produk yang stabil, aman, dapat diproduksi, dan dapat diuji. Materi tersebut menempatkan hubungan riset dan formulasi sebagai rangkaian, bukan dua dunia yang berjalan sendiri-sendiri.Persoalan itu menjadi semakin jelas ketika berbicara tentang probiotic. Menggunakan mikroorganisme hidup membawa tantangan mengenai viabilitas, pengawetan, penyimpanan, pengendalian kontaminasi, stabilitas, dan keamanan. Ulasan ilmiah terbaru mengenai formulasi probiotic skincare juga mencatat bahwa banyak produk komersial justru menggunakan derivat mikroba nonhidup, antara lain karena tantangan formulasi, regulasi, dan stabilitas tersebut.Ada konsekuensi lain yang tidak kalah penting: bukti mengenai sebuah bahan tidak otomatis menjadi bukti mengenai produk jadi. Jika bahan baku menunjukkan aktivitas tertentu terkait microbiome, data tersebut menjelaskan bahan pada kondisi pengujiannya. Setelah masuk ke formula, konsentrasi, pH, pengawet, stabilitas, delivery, kemasan, dan interaksi dengan bahan lain ikut berubah, sehingga klaim produk jadi tetap membutuhkan bukti yang relevan terhadap produk dan klaim tersebut.Di sinilah gagasan ecosystem intelligence menjadi lebih dari istilah baru. Ia menawarkan cara berpikir yang bergerak dari pemahaman biologis menuju hipotesis produk, strategi bahan, formulasi, validasi, lalu produk. Bukan berarti ingredient menjadi tidak penting, melainkan bahan aktif ditempatkan kembali sebagai salah satu bagian dari sistem yang jauh lebih besar.Perubahan perspektif ini mungkin juga relevan untuk membaca ke mana inovasi skincare bergerak. Selama bertahun-tahun, persaingan mudah terlihat seperti perlombaan menemukan bahan berikutnya yang dapat menjadi pusat cerita sebuah produk. Sementara itu, ilmu tentang kulit justru semakin memperlihatkan hubungan yang lebih kompleks antara barrier, mikroba, sistem imun, lingkungan, dan karakter biologis masing-masing individu.Mungkin pertanyaan tentang kandungan tidak perlu ditinggalkan. Yang perlu berubah adalah apa yang ditanyakan setelahnya. Setelah mengetahui bahan apa yang berada di dalam sebuah produk, percakapan dapat bergerak menuju pertanyaan yang lebih penting: bagaimana bahan itu bekerja di dalam formula, bagaimana formula berinteraksi dengan kulit, dan seberapa jauh hasil yang dijanjikan benar-benar telah dibuktikan.Jika arah itu terus berkembang, masa depan skincare mungkin tidak ditentukan hanya oleh siapa yang menemukan bahan paling menarik berikutnya. Kemajuannya bisa datang dari kemampuan memahami sistem tempat semua bahan tersebut bekerja. Dari sana, percakapan kecantikan tidak lagi berhenti pada apa yang ada di dalam botol, tetapi mulai kembali kepada kulit yang akan menerimanya. [][Tim Beautyversity/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Minyak Ikan untuk Skincare: Apa Potensinya untuk Kulit dan Seberapa Kuat Evidence-nya?
BeautyNews

03 Okt 2026

Minyak Ikan untuk Skincare: Apa Potensinya untuk Kulit dan Seberapa Kuat Evidence-nya?

Minyak ikan mungkin lebih dikenal sebagai sumber nutrisi daripada sebagai bahan kosmetik. Namun dari perspektif cosmetic science, minyak ikan menarik karena mengandung berbagai fatty acids, termasuk omega-3 seperti EPA (eicosapentaenoic acid) dan DHA (docosahexaenoic acid), serta komponen lipid lain yang secara biologis relevan terhadap fungsi kulit.Pertanyaannya bukan sekadar apakah omega-3 'baik untuk kulit'. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah fish oil dapat diterjemahkan menjadi cosmetic ingredient yang stabil, aman, dapat diformulasikan, dan memiliki evidence yang relevan pada finished product?Pertanyaan ini menjadi pusat riset yang dikembangkan oleh Prof. Dr. Sugeng Heri Suseno, S.Pi., M.Si., Guru Besar di Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University, bersama Kamini, M.Si. dan tim. Dalam proyek terapan 2026 yang menjadi dasar artikel ini, tim meneliti pengembangan minyak ikan fungsional sebagai bahan bernilai tinggi untuk inovasi kosmetika modern. Ketika riset bergerak menuju cosmetic formulation dan hilirisasi, apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. membawa perspektif penerjemahan bahan aktif ke formulation dan product-development reality.Apa sebenarnya yang membuat minyak ikan menarik untuk kulit?Secara kimia, fish oil adalah campuran lipid. Komposisinya dapat mencakup saturated fatty acids (SFA), monounsaturated fatty acids (MUFA), polyunsaturated fatty acids (PUFA), serta omega-3 fatty acids seperti EPA dan DHA.EPA dan DHA banyak diteliti dalam nutritional dan biomedical science. Namun ada batas penting: evidence dari konsumsi omega-3 tidak boleh otomatis dianggap sebagai evidence penggunaan topikal pada skincare. Oral intake dan topical application mempunyai route, exposure, metabolism, concentration, dan biological environment yang berbeda.Apa peran lipid pada skin barrier?Bagian terluar epidermis, terutama stratum corneum, mempunyai struktur lipid yang penting untuk mempertahankan fungsi barrier dan mengurangi kehilangan air. Lipid berperan dalam organisasi barrier, mengurangi transepidermal water loss (TEWL), menjaga fleksibilitas permukaan kulit, dan memengaruhi respons biologis tertentu.Berbagai oils karena itu digunakan dalam skincare sebagai emollient, skin-conditioning agent, carrier, dan bagian dari lipid phase. Tetapi tidak semua oils identik; fatty-acid profile ikut menentukan sifat bahan.Lalu apa yang membuat omega-3 berbeda?Omega-3 polyunsaturated fatty acids mempunyai lebih dari satu double bond. EPA dan DHA adalah long-chain omega-3 fatty acids yang banyak dikaitkan dengan regulation of inflammatory pathways. Literature juga membahas interaksinya dengan pathways yang relevan terhadap oxidative stress dan UV-induced damage.Tetapi biological mechanism tidak berarti semua produk yang mengandung fish oil otomatis mempunyai anti-inflammatory atau anti-aging efficacy. Bentuk ingredient, concentration, formula, stability, dan jenis study tetap menentukan interpretasinya.Seberapa kuat evidence topical EPA dan DHA?Ada evidence yang mendukung biological relevance, tetapi belum cukup untuk digeneralisasi ke semua cosmetic fish oil products. Human topical evidence tersedia untuk konteks tertentu, sementara finished-product evidence harus dinilai per formula.Hierarchy-nya perlu dipisahkan: mechanistic evidence dapat mendukung plausibility; human topical evidence menunjukkan relevansi pada kondisi tertentu; tetapi finished-product claim tetap memerlukan pengujian formula akhirnya.Apakah fish oil dapat membantu skin barrier?Fatty acids memang relevan terhadap barrier physiology. Namun pernyataan 'fatty acids penting untuk barrier' berbeda dari 'fish oil tertentu terbukti memperbaiki barrier ketika digunakan secara topikal'. Fish oil adalah campuran kompleks dan komposisinya bergantung pada species, bagian tubuh ikan, diet, extraction, purification, storage, dan oxidation history.Karena itu efek satu purified fatty acid tidak boleh otomatis disamakan dengan efek seluruh fish oil.Mengapa sumber ikan sangat penting?Dalam penelitian 2026, tim membandingkan sumber patin, nila, tuna, dan makarel. Minyak ikan patin diperoleh melalui wet rendering, sedangkan minyak nila, tuna, dan makarel pada materi penelitian diperoleh melalui proses pemurnian. Masing-masing kemudian dianalisis untuk melihat quality parameters dan fatty-acid profile.Pertanyaan yang lebih tepat bukan 'apakah fish oil bagus?', melainkan 'fish oil yang mana, dengan karakteristik seperti apa?'Apakah minyak dengan omega-3 tertinggi otomatis paling baik untuk skincare?Tidak. Dalam fatty-acid profiling penelitian, total omega-3 yang dilaporkan adalah patin 8,17%, nila 1,85%, tuna 32,35%, dan makarel 39,06%. Jika keputusan hanya didasarkan pada omega-3 tertinggi, makarel tampak paling menarik.Tetapi tim juga mengevaluasi free fatty acid (FFA), peroxide value (PV), p-anisidine value (p-AnV), TOTOX, stability, dan karakteristik keseluruhan. Berdasarkan kombinasi faktor tersebut, minyak ikan patin dipilih untuk tahap penelitian selanjutnya. Ini menunjukkan bahwa ingredient quality tidak dapat dinilai hanya dari satu angka.Omega-3 concentration is only one part of cosmetic ingredient quality.Apa itu FFA, PV, p-AnV, dan TOTOX?FFA - Free Fatty Acids: Menunjukkan jumlah fatty acids yang sudah terlepas dari struktur tiglyceride. Nilai ini dapat meningkat akibat hydrolysis dan memberi informasi mengenai quality dan processing history suatu oil.PV - Peroxide Value: Menilai primary oxidation products, terutama hydroperoxides, sehingga sering digunakan sebagai salah satu indikator oxidation awal.p-AnV - p-Anisidine Value: Memberi informasi tentang secondary oxidation products, terutama aldehyde-related compounds yang muncul setelah peroxide compounds mengalami breakdown.TOTOX - Total Oxidation: Memberikan gambaran oxidation lebih menyeluruh dengan menggabungkan primary dan secondary oxidation. Secara konsep: TOTOX = 2 x PV + p-AnV.Mengapa oxidation menjadi isu besar untuk fish oil?Polyunsaturated fatty acids mempunyai banyak double bonds dan relatif susceptible terhadap oxidation. Oxidation dapat menyebabkan perubahan aroma, rancidity, perubahan warna, degradasi fatty acids, terbentuknya oxidation products, dan penurunan kualitas bahan.Cosmetic product harus melewati processing, formulation, filling, packaging, transportation, storage, dan shelf life. Jadi bahan yang menarik secara biologis juga harus cukup stabil untuk bertahan di dalam produk.Jadi apakah omega-3 justru menjadi kelemahan?Bukan. Omega-3 adalah bagian dari alasan fish oil menarik, tetapi sifat unsaturated yang memberi biological characteristics juga meningkatkan susceptibility terhadap oxidation. Ini menciptakan trade-off: biological interest tinggi, formulation challenge juga tinggi.Formulator karena itu perlu mempertimbangkan antioxidant system, oxygen exposure, temperature, light, packaging, processing conditions, dan interaction dengan ingredients lain.Apa yang ditemukan Prof. Sugeng dan Kamini dari penelitian patin sebelumnya?Riset minyak ikan patin tidak dimulai pada 2026. Kamini, Pipih Suptijah, Joko Santoso, dan Sugeng Heri Suseno sebelumnya meneliti dry rendering dan karakterisasi minyak ikan dari lemak jeroan hasil samping pengolahan salai patin siam. Studi menilai fatty-acid profile dan quality parameters seperti PV, FFA, anisidine value, dan TOTOX.Riset tersebut menunjukkan bahwa fish-processing by-product dapat dipandang sebagai potential raw material yang masih dapat dikarakterisasi dan dikembangkan. Tetapi bisa diekstraksi menjadi minyak belum sama dengan layak digunakan sebagai cosmetic ingredient.Dari fish oil menuju cosmetic ingredientAgar fish oil dapat dipertimbangkan untuk skincare, perjalanan bahan perlu dibaca sebagai rangkaian: source -> extraction/purification -> quality characterization -> fatty-acid profile -> oxidation status -> formulation compatibility -> stability -> safety -> relevant testing -> finished product.From fish resource to finished cosmetic product: a multidisciplinary translation pathway.Di sinilah formulation science mengambil alihSetelah bahan dipilih, tantangannya berubah. Bagi researcher, pertanyaannya mungkin: bagaimana kualitas minyaknya? Bagi formulator: bisakah minyak ini dimasukkan ke skincare tanpa kehilangan kualitas yang membuatnya menarik sejak awal?Pada tahap ini, perspektif apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menjadi relevan untuk cosmetic formulation dan hilirisasi. Fish oil harus hidup bersama emollients, surfactants, emulsifiers, antioxidants, preservatives, fragrance, rheology modifiers, dan packaging system. Karena itu concentration saja tidak cukup; homogeneity, aroma, pH, oxidation, stability, viscosity, sensory acceptance, dan finished-product testing juga perlu diperiksa.apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm.Apakah tim sudah membuat formulanya?Ya, tetapi status evidence-nya harus dibaca secara tepat. Materi penelitian 2026 menunjukkan pengembangan serum minyak ikan patin dan serum kolagen patin. Pada prototype serum oil, minyak ikan patin digunakan sebesar 5% bersama sistem formula lainnya.Karakterisasi awal menunjukkan kedua sediaan homogen dan berada dalam spesifikasi pH 6-7. Materi penelitian menyatakan hasil awal tersebut mendukung kelanjutan pengujian mutu dan stabilitas selama penyimpanan. Jadi ini adalah formulation feasibility awal, bukan clinical efficacy yang sudah terbukti.Apakah fish oil skincare berarti anti-inflammatory skincare?Belum tentu. EPA dan DHA mempunyai biological relationship dengan inflammatory pathways, tetapi omega-3 biology tidak sama dengan fish oil ingredient evidence, dan keduanya tidak sama dengan finished cosmetic product evidence. Claim harus mengikuti testing yang relevan dan regulatory boundary kosmetik.Bagaimana dengan klaim skin barrier?Logikanya sama. Fatty acids relevan terhadap lipid biology dan skin barrier, tetapi finished product perlu dibuktikan dengan endpoint yang sesuai, misalnya TEWL, skin hydration, barrier recovery, instrumental measurement, atau validated clinical assessment.Mengapa Indonesia mempunyai peluang menarik di sini?Konteks riset ini bukan hanya kosmetik, tetapi juga pemanfaatan sumber daya perairan domestik dan peningkatan nilai tambah hasil samping industri perikanan. Materi penelitian menempatkan fish oil sebagai peluang bahan baku kosmetik bernilai tambah dari sumber daya domestik.Ini mempertemukan fisheries science dengan cosmetic science: satu sisi memahami extraction dan characterization, sisi lain memahami formulation, stability, testing, manufacturing, dan product translation.Apa yang sudah cukup kita ketahui?Fish oil adalah sumber berbagai fatty acids, termasuk omega-3. Established, tetapi composition berbeda antar species dan processing method.EPA dan DHA mempunyai biological relevance terhadap skin science. Mechanistic + limited human topical evidence; tidak dapat digeneralisasi ke semua formulations.Oxidation adalah critical quality issue pada fish oil. Established; quality perlu dinilai dengan parameters yang relevan.Quality tidak ditentukan oleh omega-3 concentration saja. Didukung framework riset saat ini: fatty-acid profile perlu dibaca bersama FFA, PV, p-AnV, TOTOX, stability, dan formulation suitability.Minyak ikan patin telah diformulasikan dalam prototype skincare. Formulation-stage research; karakterisasi awal belum sama dengan proof of efficacy.Apa yang belum boleh disimpulkan terlalu cepat?Semua fish oil mempunyai quality yang sama; fish oil dengan omega-3 tertinggi selalu terbaik untuk skincare; nutritional benefit omega-3 otomatis berlaku pada topical skincare; EPA/DHA mechanism otomatis menjadi finished-product benefit; fish oil otomatis memperbaiki skin barrier; prototype yang stabil secara fisik otomatis efektif secara klinis; fish oil otomatis lebih baik daripada plant oils; atau satu species ikan cocok untuk semua cosmetic formulation.Jadi, apakah minyak ikan layak menjadi bahan skincare?Secara scientific, fish oil memang menarik sebagai sumber lipid dengan fatty-acid profile yang dapat mempunyai biological relevance terhadap kulit. Tetapi potensinya hanya menjadi meaningful ketika sumber, extraction, quality, oxidation, formulation, stability, dan finished-product evidence diperhatikan bersama.Riset Prof. Sugeng, Kamini, dan tim menunjukkan bahwa perjalanan menuju cosmetic ingredient dimulai jauh sebelum formula dibuat. Bahan harus terlebih dahulu dipahami. Ketika bahan masuk ke formulation, perspektif apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm membantu menjawab pertanyaan berikutnya: bisakah biological potential itu bertahan sampai menjadi produk yang benar-benar digunakan konsumen?Itulah garis pembeda antara sekadar menggunakan novel ingredient dan membangun science-based cosmetic innovation. [][Dipo Alaric/TBV] Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.References1. Prof. Dr. Sugeng Heri Suseno, S.Pi., M.Si. Academic Profile - Department of Aquatic Product Technology, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, IPB University. Source2. Kamini, Suptijah P, Santoso J, Suseno SH. Extraction by Dry Rendering Method and Characterization Fish Oil of Catfish Viscera Fat by Product of Smoked Fish Processing. Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia. 2016;19(3):196-205. DOI: 10.17844/jphpi.v19i3.15071. Source3. Suseno SH, Jacoeb AM, Yocinta HP, Kamini. Quality of Commercial Import Fish Oil (Softgel) in Central Java. Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia. 2018;21(3). Source4. Prof. Dr. Sugeng Heri Suseno, S.Pi., M.Si. et al. Pengembangan Diversifikasi Minyak Ikan Fungsional Kaya Omega 3 Sebagai Bahan Aktif Bernilai Tinggi pada Inovasi Produk Kosmetika Modern. Penelitian Terapan BIMA, 2026. 5. Frontiers in Pharmacology review on botanical oils, fatty-acid biology, and topical oil-skin interactions. Source 6. Frontiers in Nutrition review (2024) discussing krill oil, EPA, DHA, and skin health, including mechanistic and human topical evidence. Source

Cosmeticverse Bukan Proyek Seminar, Tetapi Gerakan Pengetahuan
BeautyNews

10 Jul 2026

Cosmeticverse Bukan Proyek Seminar, Tetapi Gerakan Pengetahuan

Sebuah seminar biasanya berakhir ketika sesi terakhir ditutup dan para peserta meninggalkan ruangan. Buku selesai ketika halaman terakhir dibaca. Sebuah acara kemudian menjadi bagian dari arsip, sementara para pesertanya kembali pada rutinitas masing-masing. Namun, ada gagasan yang justru baru memulai perjalanannya setelah seluruh rangkaian acara selesai. Kesan itulah yang muncul dari Seminar Kosmetik 2026 yang diselenggarakan Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran. Di balik peluncuran lima buku, pengenalan LABCOS AI, hingga program Cosmepreneur, tersimpan sebuah gagasan yang lebih besar daripada sekadar penyelenggaraan seminar. Gagasan tersebut diberi nama Cosmeticverse, sebuah ekosistem yang berupaya menghubungkan pendidikan, penelitian, teknologi, industri, dan kewirausahaan dalam satu perjalanan pengetahuan yang saling berkaitan.Selama delapan artikel dalam serial BeautyNews ini, Cosmeticverse telah dilihat dari berbagai sisi. Pembaca diajak memahami mengapa industri kosmetik membutuhkan kolaborasi yang lebih erat, bagaimana lima buku disusun sebagai satu perjalanan ilmu, mengapa penelitian perlu bergerak menuju industri, bagaimana artificial intelligence mulai mendukung pembelajaran, hingga pentingnya membangun budaya mutu yang menjaga kepercayaan masyarakat. Seluruh pembahasan tersebut memperlihatkan bahwa Cosmeticverse tidak dibangun dari satu program, melainkan dari banyak gagasan yang saling menguatkan.Pertanyaannya kemudian bukan lagi apa itu Cosmeticverse, melainkan mengapa seluruh gagasan tersebut dikumpulkan dalam satu ekosistem. Jawabannya mungkin terletak pada cara pandang yang ditawarkan: bahwa membangun industri kosmetik tidak cukup dilakukan melalui satu buku, satu laboratorium, satu teknologi, atau satu seminar. Yang dibutuhkan adalah ruang yang mampu mempertemukan seluruh unsur tersebut agar saling belajar dan berkembang bersama.Baca Juga: Fakultas Farmasi Unpad Perkenalkan Cosmeticverse, Ekosistem Baru Penghubung Dunia Kosmetik IndonesiaKetika Pengetahuan Tidak Lagi Berjalan SendiriSelama bertahun-tahun, pengetahuan tentang kosmetik berkembang di banyak ruang yang berbeda. Ada yang lahir di laboratorium penelitian, ada yang tersimpan dalam jurnal ilmiah, ada yang diajarkan di ruang kuliah, dan ada pula yang tumbuh melalui pengalaman panjang di dunia industri. Masing-masing memiliki nilai yang penting, tetapi tidak selalu saling terhubung.Kondisi tersebut bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga menjadi tantangan di banyak negara yang sedang membangun industri berbasis inovasi. Informasi tersedia dalam jumlah yang sangat besar, tetapi sering tersebar di berbagai tempat. Akibatnya, proses belajar menjadi terfragmentasi dan peluang kolaborasi tidak selalu berkembang secara optimal.Cosmeticverse mencoba menjawab tantangan tersebut melalui pendekatan yang berbeda. Alih-alih menghadirkan satu solusi tunggal, ekosistem ini mempertemukan berbagai unsur yang selama ini berjalan dalam jalurnya masing-masing. Pendidikan, riset, teknologi, artificial intelligence, kewirausahaan, dan industri diposisikan sebagai bagian dari satu percakapan besar mengenai masa depan kosmetik Indonesia.Pendekatan ini menunjukkan bahwa kemajuan industri tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan inovasi. Yang tidak kalah penting adalah kemampuan membangun hubungan antarinovasi agar pengetahuan dapat terus berkembang dan memberi manfaat yang lebih luas.Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar ProgramDalam siaran pers Seminar Kosmetik 2026, Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. apt. Sriwidodo, M.Si., menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, komunitas, dan media dalam semangat pentahelix. Pandangan tersebut menjadi salah satu fondasi lahirnya Cosmeticverse sebagai ruang kolaborasi yang melampaui batas-batas institusi.Cara berpikir tersebut juga tercermin dalam berbagai inisiatif yang diperkenalkan selama seminar. Lima buku disusun sebagai peta pengetahuan, LABCOS AI dikembangkan untuk memperluas akses terhadap literasi kosmetik, sementara Cosmepreneur membuka ruang bagi mahasiswa untuk memahami dunia industri sejak masa pendidikan. Seluruhnya tidak berdiri sendiri, tetapi saling mendukung dalam membentuk satu ekosistem pembelajaran.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., turut menegaskan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri menjadi salah satu fondasi penting dalam pengembangan Cosmeticverse. Harapan tersebut memperlihatkan bahwa tujuan utama ekosistem ini bukan hanya menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga memastikan pengetahuan tersebut mampu bergerak menuju dunia nyata melalui kerja sama yang berkelanjutan.Baca Juga: Mengapa Industri Kosmetik Indonesia Membutuhkan Cosmeticverse?Masa Depan Ditentukan oleh Mereka yang Mau BerkolaborasiDunia saat ini sesungguhnya tidak kekurangan informasi. Buku terus diterbitkan, penelitian terus dilakukan, teknologi berkembang dengan cepat, dan akses terhadap pengetahuan semakin terbuka. Tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan menghubungkan seluruh sumber daya tersebut menjadi sebuah ekosistem yang hidup.Dalam konteks itulah Cosmeticverse menawarkan perspektif yang menarik. Nilainya bukan semata-mata terletak pada jumlah buku yang diluncurkan atau teknologi yang diperkenalkan, melainkan pada upaya membangun ruang kolaborasi yang memungkinkan ilmu pengetahuan terus bergerak dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sebuah penelitian dapat menginspirasi inovasi baru, inovasi berkembang menjadi produk, produk melahirkan pengalaman industri, dan pengalaman tersebut kembali memperkaya dunia pendidikan.Perjalanan seperti itu tidak akan selesai ketika seminar berakhir. Justru setelah lampu auditorium dipadamkan dan para peserta kembali ke tempat masing-masing, ekosistem tersebut mulai diuji. Masa depannya tidak lagi hanya berada di tangan penyelenggara seminar, penulis buku, atau para pembicara, tetapi juga pada mahasiswa yang terus belajar, peneliti yang terus bereksperimen, dosen yang membimbing generasi berikutnya, pelaku industri yang mengembangkan inovasi, serta semua pihak yang percaya bahwa kolaborasi merupakan fondasi kemajuan.Delapan artikel dalam serial ini menunjukkan bahwa Cosmeticverse bukan sekadar nama sebuah program. Ia merupakan cara pandang tentang bagaimana ilmu pengetahuan seharusnya bertumbuh: terbuka terhadap kolaborasi, dekat dengan kebutuhan industri, memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab, dan tetap berpijak pada integritas ilmiah. Jika gagasan tersebut terus berkembang, Cosmeticverse tidak hanya akan dikenang sebagai rangkaian Seminar Kosmetik 2026, tetapi sebagai sebuah gerakan pengetahuan yang ikut membentuk masa depan industri kosmetik Indonesia.Tentang CosmeticverseCosmeticverse merupakan ekosistem pengetahuan kosmetik yang diperkenalkan oleh Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran bersama Program Studi Rekayasa Kosmetik, LABCOS, Ray Academy, PT Baleide, dan berbagai mitra industri. Ekosistem ini menghubungkan pendidikan, riset, teknologi, artificial intelligence, kewirausahaan, dan dunia industri untuk memperkuat inovasi serta daya saing kosmetik Indonesia. [][Vikalena Lasmoskwa/TBV]

Mengapa Budaya Mutu Menjadi Fondasi yang Tidak Terlihat dalam Industri Kosmetik?
BeautyNews

09 Jul 2026

Mengapa Budaya Mutu Menjadi Fondasi yang Tidak Terlihat dalam Industri Kosmetik?

Ketika memilih produk kosmetik, kebanyakan konsumen memperhatikan manfaat yang dijanjikan, tekstur, aroma, warna, atau desain kemasannya. Sebagian mungkin juga melihat kandungan bahan aktif dan ulasan pengguna sebelum memutuskan membeli. Namun, hanya sedikit yang bertanya bagaimana produk tersebut diproduksi, bagaimana kualitasnya dijaga, atau bagaimana perusahaan memastikan setiap kemasan memiliki standar yang sama.Padahal, kepercayaan terhadap sebuah produk kosmetik tidak dibangun ketika produk sudah berada di rak penjualan. Kepercayaan itu lahir jauh sebelumnya, ketika bahan baku dipilih, formula dikembangkan, proses produksi dijalankan, hingga setiap tahapan didokumentasikan dan diawasi dengan disiplin. Seluruh proses tersebut sering tidak terlihat oleh konsumen, tetapi justru menjadi fondasi yang menentukan kualitas sebuah produk.Perspektif inilah yang diangkat dalam The Invisible Quality, buku kelima dalam rangkaian Cosmeticverse yang diperkenalkan pada Seminar Kosmetik 2026 di Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran. Berbeda dengan empat buku sebelumnya yang membahas ilmu dasar, bahan baku, perjalanan riset, dan formulasi, buku ini mengajak pembaca memahami bahwa kualitas bukan sekadar hasil akhir, melainkan sebuah budaya yang dibangun setiap hari.Melalui pendekatan tersebut, Cosmeticverse ingin menunjukkan bahwa inovasi tidak akan memiliki arti apabila tidak didukung oleh sistem yang mampu menjaga mutu secara konsisten. Sebuah produk mungkin lahir dari ide yang cemerlang, tetapi kepercayaan konsumen hanya dapat dibangun melalui proses yang dapat dipertanggungjawabkan.Baca Juga: Mengapa Industri Kosmetik Indonesia Membutuhkan Cosmeticverse? Mutu Tidak Dimulai dari Produk JadiDalam banyak industri, kualitas sering dipahami sebagai hasil pemeriksaan pada produk yang sudah selesai diproduksi. Padahal, konsep mutu modern memiliki cakupan yang jauh lebih luas. Kualitas dibangun sejak tahap perencanaan, pemilihan bahan baku, pengembangan formulasi, validasi proses, hingga dokumentasi yang dilakukan selama proses produksi berlangsung.Cara pandang ini menjadi semakin penting di industri kosmetik yang berkembang sangat cepat. Ketika jumlah merek terus bertambah dan inovasi lahir hampir setiap hari, kemampuan menjaga konsistensi mutu menjadi pembeda yang tidak selalu terlihat oleh konsumen, tetapi sangat menentukan keberlangsungan sebuah perusahaan.Inilah alasan mengapa The Invisible Quality memilih mengangkat tema budaya mutu. Buku tersebut membahas berbagai aspek yang menjadi fondasi industri kosmetik modern, mulai dari budaya kualitas, integritas data, penerapan Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB), hingga sistem yang memastikan setiap produk memenuhi standar keamanan dan mutu yang sama.Pendekatan ini menunjukkan bahwa kualitas bukanlah pekerjaan satu divisi tertentu. Ia merupakan tanggung jawab seluruh organisasi, dari laboratorium, produksi, pengendalian mutu, hingga manajemen perusahaan.Kualitas Dibangun Melalui KebiasaanBudaya mutu tidak lahir dari satu prosedur atau satu sertifikat. Ia tumbuh melalui kebiasaan yang dilakukan secara konsisten setiap hari. Cara mencatat hasil pengujian, menyimpan bahan baku, membersihkan peralatan, memverifikasi data, hingga melaporkan penyimpangan merupakan bagian dari budaya yang menentukan kualitas produk secara keseluruhan.Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, dalam industri kosmetik, kesalahan kecil dapat memengaruhi stabilitas produk, keamanan penggunaan, bahkan kepercayaan masyarakat terhadap sebuah merek. Karena itu, sistem mutu tidak hanya berbicara mengenai kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga mengenai integritas setiap orang yang terlibat di dalam proses produksi.Budaya mutu sesungguhnya adalah bentuk disiplin kolektif. Konsumen mungkin tidak pernah melihat bagaimana sebuah perusahaan melakukan validasi proses atau mengelola dokumentasi produksi. Akan tetapi, seluruh proses itu menjadi alasan mengapa sebuah produk dapat digunakan dengan rasa aman dan memberikan kualitas yang konsisten dari waktu ke waktu.Dalam konteks tersebut, mutu tidak lagi dipahami sebagai tujuan akhir. Mutu menjadi cara bekerja yang membentuk karakter sebuah industri.Kepercayaan Tidak Dibangun oleh KlaimDi era media sosial, sebuah produk dapat dikenal luas hanya dalam hitungan hari. Klaim manfaat yang menarik, kemasan yang estetik, atau ulasan dari influencer mampu mendorong sebuah produk menjadi viral dalam waktu singkat. Namun, popularitas bukanlah jaminan bahwa sebuah produk akan bertahan lama.Kepercayaan konsumen dibangun melalui pengalaman yang berulang. Ketika produk yang dibeli hari ini memiliki kualitas yang sama dengan produk yang dibeli enam bulan kemudian, di situlah konsumen mulai mempercayai sebuah merek. Konsistensi tersebut tidak terjadi secara kebetulan, tetapi merupakan hasil dari sistem mutu yang berjalan di belakang layar.Pesan inilah yang ingin disampaikan melalui The Invisible Quality. Cosmeticverse mengajak pembaca melihat bahwa fondasi industri kosmetik bukan hanya inovasi atau teknologi, tetapi juga budaya kerja yang menjaga kualitas pada setiap tahapan proses. Dengan demikian, mutu tidak diposisikan sebagai pelengkap, melainkan sebagai bagian yang menyatukan seluruh perjalanan ilmu kosmetik.Baca Juga: Dari Laboratorium hingga Pabrik: Ketika Penelitian Tak Lagi Berhenti di KampusFondasi yang Menopang Seluruh Perjalanan CosmeticverseJika empat buku sebelumnya memperlihatkan bagaimana ilmu berkembang menjadi inovasi, The Invisible Quality menjelaskan mengapa inovasi tersebut harus dijaga melalui sistem yang dapat dipercaya. Urutan ini bukanlah kebetulan, melainkan memperlihatkan bahwa setiap tahapan dalam Cosmeticverse saling melengkapi.Analisis Redaksi Beautyversity melihat bahwa penempatan buku ini sebagai penutup memiliki makna simbolis. Setelah membahas dunia kosmetik, kekayaan bahan alam Indonesia, perjalanan riset, dan proses formulasi, Cosmeticverse mengingatkan bahwa seluruh proses tersebut hanya akan memberikan manfaat apabila ditopang oleh budaya mutu yang kuat.Melalui perspektif tersebut, Cosmeticverse tidak hanya memperkenalkan lima buku, tetapi juga menawarkan sebuah cara pandang baru terhadap industri kosmetik. Inovasi memang penting, teknologi terus berkembang, dan kolaborasi semakin luas. Namun, seluruh pencapaian itu akan memiliki nilai yang lebih besar ketika dibangun di atas fondasi kualitas yang konsisten, transparan, dan dapat dipercaya.Tentang CosmeticverseCosmeticverse merupakan ekosistem pengetahuan kosmetik yang diperkenalkan oleh Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran bersama Program Studi Rekayasa Kosmetik, LABCOS, Ray Academy, PT Baleide, dan berbagai mitra industri. Ekosistem ini menghubungkan pendidikan, riset, teknologi, artificial intelligence, kewirausahaan, dan dunia industri untuk memperkuat inovasi serta daya saing kosmetik Indonesia. [][Eva Evilia/TBV]

Cosmepreneur: Ketika Mahasiswa Belajar Jadi Pelaku Industri Sejak di Bangku Kuliah
BeautyNews

08 Jul 2026

Cosmepreneur: Ketika Mahasiswa Belajar Jadi Pelaku Industri Sejak di Bangku Kuliah

Selama bertahun-tahun, pendidikan tinggi identik dengan proses menyiapkan mahasiswa untuk memasuki dunia kerja setelah lulus. Namun, perubahan industri yang berlangsung semakin cepat mulai menggeser cara pandang tersebut. Di banyak bidang, termasuk kosmetik, mahasiswa kini tidak hanya dituntut menguasai teori dan penelitian, tetapi juga memahami bagaimana sebuah inovasi dapat berkembang menjadi produk, bisnis, dan solusi yang dibutuhkan masyarakat.Perubahan paradigma itulah yang menjadi salah satu gagasan dalam Seminar Kosmetik 2026 yang diselenggarakan Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran. Bersamaan dengan peluncuran Cosmeticverse dan LABCOS AI, peserta juga diperkenalkan dengan Cosmepreneur, sebuah program yang dirancang untuk mendekatkan mahasiswa pada dunia industri kosmetik sejak masih menjalani pendidikan di kampus.Program tersebut lahir dari kesadaran bahwa kebutuhan industri kosmetik terus berubah. Perusahaan tidak hanya membutuhkan lulusan yang memahami teori formulasi atau regulasi, tetapi juga individu yang mampu melihat peluang, memahami proses bisnis, bekerja lintas disiplin, dan menerjemahkan ilmu menjadi inovasi yang memiliki nilai ekonomi.Dalam konteks itulah Cosmepreneur hadir sebagai bagian dari ekosistem Cosmeticverse. Bukan sekadar mengajarkan cara membangun usaha, melainkan memperkenalkan cara berpikir yang melihat ilmu pengetahuan sebagai titik awal lahirnya inovasi dan kewirausahaan.Baca Juga: Mengapa Industri Kosmetik Indonesia Membutuhkan Cosmeticverse?Ketika Kampus Tidak Lagi Menjadi Ruang yang TerpisahSelama ini, perjalanan mahasiswa sering dipahami secara linear. Mereka belajar di kampus, melakukan penelitian, menyelesaikan tugas akhir, lalu memasuki dunia kerja. Pola tersebut masih relevan, tetapi perkembangan industri membuat batas antara dunia akademik dan dunia profesional semakin tipis.Redaksi melihat bahwa industri kosmetik saat ini membutuhkan proses pembelajaran yang lebih dekat dengan realitas lapangan. Mahasiswa tidak cukup hanya memahami bagaimana sebuah formula dibuat. Mereka juga perlu mengetahui bagaimana bahan baku dipilih, bagaimana standar mutu diterapkan, bagaimana produk diproduksi dalam skala industri, hingga bagaimana sebuah merek membangun kepercayaan konsumen.Pendekatan semacam ini memungkinkan mahasiswa melihat hubungan antara ilmu yang dipelajari di ruang kuliah dengan tantangan nyata yang dihadapi industri. Dengan demikian, proses belajar tidak berhenti pada penyelesaian mata kuliah, tetapi berkembang menjadi pengalaman yang mempersiapkan mereka menghadapi perubahan dunia kerja.Belajar Membangun, Bukan Sekadar MemahamiDalam Seminar Kosmetik 2026, Cosmepreneur diperkenalkan sebagai ruang yang mendorong lahirnya wirausaha muda berbasis ilmu pengetahuan. Program ini juga membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk lebih dekat dengan industri melalui kolaborasi yang dibangun dalam ekosistem Cosmeticverse.Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa kewirausahaan tidak selalu dimulai dari keberanian membuka bisnis. Yang lebih penting adalah membangun cara berpikir untuk mengenali persoalan, mengembangkan solusi berbasis riset, dan memahami bagaimana solusi tersebut dapat diterapkan secara nyata.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., dalam siaran pers Seminar Kosmetik 2026 menegaskan pentingnya membangun jembatan antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan industri. Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi dan pelaku bisnis kosmetik akan menjadi salah satu fondasi utama dalam mengembangkan Cosmeticverse.Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa dunia usaha bukan ditempatkan sebagai tujuan akhir pendidikan, melainkan sebagai mitra yang memungkinkan hasil penelitian berkembang menjadi inovasi yang memberikan manfaat lebih luas.Industri Membutuhkan Talenta yang AdaptifPertumbuhan industri kosmetik Indonesia menghadirkan peluang yang semakin besar bagi generasi muda. Di sisi lain, perubahan teknologi, perkembangan regulasi, serta meningkatnya ekspektasi konsumen membuat kebutuhan terhadap sumber daya manusia juga semakin kompleks.Industri masa depan membutuhkan lulusan yang mampu bergerak di berbagai peran. Mereka perlu memahami sains, tetapi juga mampu berkomunikasi dengan dunia bisnis. Mereka harus menguasai formulasi, tetapi juga memahami pentingnya kualitas, keberlanjutan, teknologi digital, dan kebutuhan pasar.Karena itu, konsep Cosmepreneur tidak semata-mata melahirkan pendiri perusahaan kosmetik baru. Program ini juga menyiapkan individu yang mampu menjadi peneliti, formulator, manajer mutu, pengembang produk, konsultan, maupun inovator yang memahami keseluruhan ekosistem industri kosmetik.Baca Juga: Dari Laboratorium hingga Pabrik: Ketika Penelitian Tak Lagi Berhenti di KampusMempersiapkan Generasi yang Membangun EkosistemMelalui Cosmeticverse, Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran memperlihatkan bahwa pendidikan kosmetik tidak hanya berbicara mengenai apa yang dipelajari, tetapi juga mengenai bagaimana ilmu tersebut memberi dampak setelah mahasiswa meninggalkan ruang kelas. Pendekatan ini menghubungkan pendidikan, penelitian, industri, dan teknologi ke dalam satu perjalanan yang saling melengkapi.Cosmepreneur menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan tersebut. Program ini mengajak mahasiswa melihat bahwa setiap penelitian memiliki peluang untuk berkembang menjadi inovasi, setiap inovasi dapat menjadi produk, dan setiap produk berpotensi melahirkan nilai tambah bagi masyarakat apabila dibangun di atas fondasi ilmu pengetahuan yang kuat.Perjalanan Cosmeticverse pun memperlihatkan sebuah perubahan cara pandang. Kampus tidak lagi hanya menjadi tempat melahirkan lulusan, tetapi juga menjadi ruang yang menumbuhkan inovator, kolaborator, dan calon pemimpin industri kosmetik Indonesia. Setelah membangun fondasi melalui ilmu, penelitian, teknologi, dan kewirausahaan, tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh proses tersebut berjalan dengan standar mutu yang mampu menjaga kepercayaan publik. Pembahasan mengenai fondasi yang sering tidak terlihat itu akan menjadi bagian berikutnya dalam perjalanan Cosmeticverse.Tentang CosmeticverseCosmeticverse merupakan ekosistem pengetahuan kosmetik yang diperkenalkan oleh Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran bersama Program Studi Rekayasa Kosmetik, LABCOS, Ray Academy, PT Baleide, dan berbagai mitra industri. Ekosistem ini menghubungkan pendidikan, riset, teknologi, artificial intelligence, kewirausahaan, dan dunia industri untuk memperkuat inovasi serta daya saing kosmetik Indonesia. [][Vikalena Lasmoskwa/TBV]

AI Kini Masuk ke Dunia Kosmetik: LABCOS AI dan Cara Baru Mempelajari Industri Kecantikan
BeautyNews

07 Jul 2026

AI Kini Masuk ke Dunia Kosmetik: LABCOS AI dan Cara Baru Mempelajari Industri Kecantikan

Dunia kosmetik sedang mengalami perubahan yang tak hanya terjadi di laboratorium atau ruang produksi. Perubahan itu juga mulai menyentuh cara orang belajar, mencari referensi, hingga memahami perkembangan ilmu kosmetik. Jika sebelumnya mahasiswa, peneliti, dan praktisi mengandalkan buku, jurnal ilmiah, serta diskusi di ruang kelas, kini artificial intelligence mulai mengambil peran sebagai pendamping dalam proses pembelajaran.Transformasi tersebut menjadi salah satu sorotan dalam Seminar Kosmetik 2026 yang diselenggarakan Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran. Bersamaan dengan peluncuran Cosmeticverse, peserta diperkenalkan pada LABCOS AI, sebuah inisiatif yang memanfaatkan artificial intelligence untuk mendukung pembelajaran, pengembangan produk, serta peningkatan literasi di bidang kosmetik.Kehadiran LABCOS AI menunjukkan bahwa transformasi digital kini tidak lagi menjadi wacana masa depan. Industri kosmetik mulai memasuki fase ketika teknologi tidak hanya membantu proses produksi, tetapi juga mempercepat cara manusia memperoleh, memahami, dan menghubungkan pengetahuan.Perubahan tersebut hadir pada saat jumlah informasi di dunia kosmetik berkembang sangat cepat. Hampir setiap hari muncul penelitian baru, bahan aktif baru, teknologi formulasi baru, hingga perubahan regulasi yang perlu dipahami oleh mahasiswa, akademisi, maupun pelaku industri. Tantangan terbesar bukan lagi kekurangan informasi, melainkan bagaimana menyaring dan menggunakannya secara tepat.Baca Juga: Mengapa Industri Kosmetik Indonesia Membutuhkan Cosmeticverse?Ketika Belajar Kosmetik Memasuki Era BaruSelama bertahun-tahun, proses belajar kosmetik berlangsung melalui jalur yang relatif konvensional. Mahasiswa membaca buku, mencari jurnal ilmiah, berdiskusi dengan dosen, kemudian melakukan penelitian di laboratorium. Model tersebut tetap menjadi fondasi utama pendidikan, tetapi perkembangan ilmu yang semakin cepat membuat proses pencarian informasi menjadi semakin kompleks.Analisis Redaksi Beautyversity melihat bahwa kondisi tersebut mulai melahirkan kebutuhan akan alat bantu yang mampu mempercepat proses belajar tanpa mengurangi kualitas pemahaman. Dalam konteks inilah artificial intelligence mulai memperoleh ruang. AI mampu membantu menelusuri literatur, merangkum hasil penelitian, membandingkan karakteristik bahan aktif, hingga menghubungkan berbagai referensi yang sebelumnya tersebar di banyak sumber.Namun, perubahan ini tidak berarti AI mengambil alih peran manusia. Justru sebaliknya, teknologi menjadi alat untuk membantu mahasiswa, peneliti, dan praktisi bekerja lebih efisien sehingga mereka memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan analisis, validasi, dan pengambilan keputusan yang tetap membutuhkan keahlian manusia.AI Bukan Pengganti IlmuwanPemanfaatan artificial intelligence dalam bidang kosmetik sering menimbulkan pertanyaan mengenai batas perannya. Mampukah AI menggantikan peneliti atau formulator? Jawabannya tidak sesederhana itu.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., yang menjadi salah satu penggagas Cosmeticverse, menjelaskan bahwa LABCOS AI dikembangkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi dan mendukung proses pembelajaran maupun pengembangan produk di bidang kosmetik. Kehadiran teknologi ini memperlihatkan bahwa transformasi digital dapat dimanfaatkan untuk memperkuat ekosistem pengetahuan, bukan menggantikan proses ilmiah yang telah menjadi fondasi dunia akademik.Pandangan tersebut sejalan dengan perkembangan global di berbagai bidang sains. AI mampu membantu mengolah informasi dalam jumlah besar, tetapi belum dapat menggantikan pengalaman laboratorium, intuisi ilmiah, maupun pertimbangan profesional ketika mengambil keputusan yang berkaitan dengan keamanan produk dan kesehatan konsumen.Dalam industri kosmetik, validasi tetap harus dilakukan melalui penelitian, pengujian laboratorium, evaluasi keamanan, dan proses regulasi yang ketat. AI dapat mempercepat pekerjaan, tetapi tanggung jawab ilmiah tetap berada di tangan para peneliti, apoteker, formulator, serta regulator.Menjawab Banjir Informasi Industri KosmetikPerkembangan industri kosmetik saat ini tidak hanya ditandai oleh lahirnya produk baru. Setiap tahun, ribuan artikel ilmiah diterbitkan, ratusan bahan baku dikembangkan, dan berbagai inovasi teknologi formulasi terus bermunculan. Bagi mahasiswa maupun pelaku industri, mengikuti seluruh perkembangan tersebut secara manual menjadi tantangan yang semakin besar.Redaksi Beautyversity menilai bahwa inilah salah satu alasan mengapa pemanfaatan AI menjadi semakin relevan. Teknologi bukan lagi sekadar alat otomatisasi, melainkan menjadi jembatan untuk menghubungkan pengetahuan yang terus berkembang. Dengan kemampuan menelusuri berbagai referensi secara cepat, AI membantu pengguna memperoleh gambaran awal sebelum melakukan kajian yang lebih mendalam.Dalam konteks Cosmeticverse, kehadiran LABCOS AI menunjukkan bahwa ekosistem pengetahuan tidak hanya dibangun melalui buku dan seminar, tetapi juga melalui pemanfaatan teknologi digital yang mampu memperluas akses terhadap ilmu kosmetik. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pendidikan kosmetik tidak lagi dibatasi oleh ruang kelas atau perpustakaan, melainkan dapat berkembang mengikuti kebutuhan zaman.Baca Juga: Dari Laboratorium hingga Pabrik: Ketika Penelitian Tak Lagi Berhenti di KampusMempersiapkan Generasi Baru Industri KosmetikTransformasi digital tidak hanya mengubah cara belajar, tetapi juga mengubah kompetensi yang dibutuhkan industri. Kemampuan membaca jurnal, memahami formulasi, serta menguasai sistem mutu kini perlu dilengkapi dengan kemampuan memanfaatkan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab.Melalui LABCOS AI, Cosmeticverse memperlihatkan bahwa masa depan pendidikan kosmetik bukan memilih antara manusia atau teknologi. Yang dibangun adalah kolaborasi antara keduanya agar proses belajar menjadi lebih cepat, lebih luas, dan tetap berpijak pada prinsip ilmiah.Perjalanan tersebut juga menunjukkan bahwa membangun industri kosmetik tidak cukup hanya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dibutuhkan sumber daya manusia yang mampu mengubah pengetahuan menjadi inovasi dan inovasi menjadi peluang usaha. Gagasan itulah yang mulai diperkenalkan melalui program Cosmepreneur, yang menjadi babak berikutnya dalam perjalanan Cosmeticverse menuju penguatan ekosistem kosmetik Indonesia.Tentang CosmeticverseCosmeticverse merupakan ekosistem pengetahuan kosmetik yang diperkenalkan oleh Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran bersama Program Studi Rekayasa Kosmetik, LABCOS, Ray Academy, PT Baleide, dan berbagai mitra industri. Ekosistem ini menghubungkan pendidikan, riset, teknologi, artificial intelligence, kewirausahaan, dan dunia industri untuk memperkuat inovasi serta daya saing kosmetik Indonesia. [][Eva Evilia/TBV]

Dari Laboratorium hingga Pabrik: Ketika Penelitian Tak Lagi Berhenti di Kampus
BeautyNews

06 Jul 2026

Dari Laboratorium hingga Pabrik: Ketika Penelitian Tak Lagi Berhenti di Kampus

Setiap tahun, perguruan tinggi di Indonesia menghasilkan ribuan penelitian. Sebagian dipublikasikan dalam jurnal ilmiah, sebagian menjadi tugas akhir mahasiswa, dan sebagian lagi berhenti sebagai dokumen akademik yang hanya dibaca kalangan terbatas. Tantangan terbesar bukan lagi bagaimana menghasilkan penelitian, tetapi bagaimana memastikan penelitian tersebut benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.Persoalan itu juga menjadi perhatian dalam industri kosmetik. Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang melimpah, jumlah peneliti yang terus bertambah, serta industri kosmetik yang berkembang pesat. Namun, ketiga elemen tersebut belum selalu terhubung dalam satu ekosistem yang memungkinkan hasil riset bergerak lebih cepat menuju dunia industri.Kondisi tersebut dikenal sebagai tantangan hilirisasi riset. Sebuah inovasi yang berhasil di laboratorium belum tentu dapat diproduksi dalam skala industri. Sebaliknya, pelaku industri sering menghadapi kebutuhan pengembangan produk yang sebenarnya sudah memiliki dasar ilmiah di perguruan tinggi, tetapi belum menemukan jembatan yang menghubungkan keduanya.Seminar Kosmetik 2026 yang digelar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran menghadirkan isu tersebut sebagai salah satu fokus utama. Melalui konsep Cosmeticverse, seminar ini memperlihatkan bahwa masa depan industri kosmetik tidak hanya ditentukan oleh banyaknya penelitian, tetapi juga oleh kemampuan mengubah hasil penelitian menjadi inovasi yang dapat diproduksi, digunakan, dan memberi nilai tambah bagi masyarakat.Baca Juga: Lima Buku, Satu Perjalanan Ilmu yang Menjelaskan Dunia Kosmetik dari Awal hingga AkhirKetika Hilirisasi Menjadi Kata KunciDalam beberapa tahun terakhir, istilah hilirisasi lebih sering dikaitkan dengan sektor pertambangan atau sumber daya alam. Padahal, konsep yang sama juga memiliki peran penting dalam industri kosmetik. Sebuah penelitian mengenai bahan aktif, teknologi formulasi, atau sistem penghantaran bahan tidak akan memberi dampak luas apabila berhenti sebagai publikasi ilmiah.Redaksi melihat bahwa tantangan ini bukan berasal dari kurangnya penelitian. Indonesia justru memiliki banyak peneliti dan perguruan tinggi yang aktif menghasilkan inovasi. Persoalannya terletak pada bagaimana inovasi tersebut diterjemahkan menjadi produk yang memenuhi standar mutu, dapat diproduksi secara konsisten, serta menjawab kebutuhan konsumen.Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. apt. Sriwidodo, M.Si., menegaskan bahwa proses tersebut tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja."Membangun ekosistem kosmetik Indonesia tidak mungkin dilakukan sendiri di kampus. Perguruan tinggi memiliki peran melahirkan ilmu pengetahuan, inovasi, dan sumber daya manusia, tetapi keberhasilannya hanya akan tercapai melalui kolaborasi erat dengan pemerintah, industri, komunitas, dan media dalam semangat pentahelix," ujarnya.Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penelitian tidak lagi dipandang sebagai tujuan akhir. Penelitian menjadi titik awal sebuah perjalanan yang melibatkan banyak aktor hingga akhirnya menghasilkan produk yang siap hadir di pasar.Ketika Kampus Bertemu Dunia IndustriSalah satu pesan yang paling menonjol dalam Seminar Kosmetik 2026 adalah pentingnya memperpendek jarak antara kampus dan industri. Selama ini, kedua dunia tersebut sering berjalan dengan ritmenya masing-masing. Kampus fokus menghasilkan ilmu pengetahuan, sementara industri bergerak mengikuti kebutuhan pasar yang berubah sangat cepat.Melalui Cosmeticverse, kedua pendekatan itu berusaha dipertemukan. Seminar tidak hanya menghadirkan akademisi, tetapi juga pelaku industri, praktisi, mahasiswa, dan berbagai mitra yang terlibat dalam pengembangan kosmetik nasional. Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa inovasi akan memiliki nilai lebih besar ketika proses penelitian dan kebutuhan industri dapat berjalan secara beriringan.Dalam sesi bertajuk LABCOS: Kolaborasi dan Hilirisasi Riset, Prof. Sriwidodo membahas bagaimana penelitian dapat diarahkan agar memiliki peluang lebih besar untuk diterapkan di dunia industri. Sementara itu, sesi Jejak Alumni dari Kampus ke Pabrik menghadirkan perspektif bahwa pengalaman akademik dapat berkembang menjadi kontribusi nyata dalam membangun industri kosmetik Indonesia.Baca Juga: Mengapa Industri Kosmetik Indonesia Membutuhkan Cosmeticverse?Alumni yang Kembali Membangun EkosistemSalah satu pembicara dalam seminar, Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., merupakan contoh bagaimana perjalanan akademik dapat berlanjut ke dunia industri. Berbekal pengalaman sebagai peneliti dan praktisi, ia kini terlibat dalam pengembangan industri kosmetik sekaligus menjadi bagian dari penggagas Cosmeticverse.Dalam siaran pers seminar, Apt. Cahya menyampaikan harapannya agar Cosmeticverse mampu menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan industri. Ia juga menekankan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan pelaku bisnis kosmetik akan menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun ekosistem tersebut.Pandangan tersebut mencerminkan perubahan cara melihat hubungan antara kampus dan industri. Perguruan tinggi tidak lagi diposisikan hanya sebagai tempat belajar, sedangkan industri bukan sekadar tempat bekerja. Keduanya menjadi bagian dari siklus inovasi yang saling memperkuat.Inovasi Harus Sampai kepada MasyarakatBagi industri kosmetik, keberhasilan sebuah penelitian tidak hanya diukur dari jumlah publikasi atau penghargaan akademik. Nilai terbesar muncul ketika hasil penelitian mampu diterjemahkan menjadi produk yang aman, bermutu, relevan, dan dapat digunakan oleh masyarakat secara luas.Redaksi menilai bahwa inilah salah satu pesan terpenting dari Cosmeticverse. Ekosistem ini tidak berupaya mengurangi pentingnya penelitian dasar, melainkan memperluas dampaknya melalui kolaborasi yang lebih erat dengan dunia industri. Dengan demikian, perjalanan ilmu tidak berhenti di laboratorium, tetapi berlanjut hingga ruang produksi dan akhirnya hadir sebagai produk yang memberikan manfaat nyata.Perjalanan tersebut bahkan tidak berhenti ketika sebuah inovasi berhasil memasuki industri. Transformasi digital kini membuka babak baru dalam pengembangan kosmetik melalui pemanfaatan artificial intelligence untuk pembelajaran, riset, dan inovasi. Langkah itulah yang mulai diperkenalkan melalui LABCOS AI, yang akan menjadi bagian penting dalam pengembangan Cosmeticverse pada tahap berikutnya.Tentang CosmeticverseCosmeticverse merupakan ekosistem pengetahuan kosmetik yang diperkenalkan oleh Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran bersama Program Studi Rekayasa Kosmetik, LABCOS, Ray Academy, PT Baleide, dan berbagai mitra industri. Ekosistem ini menghubungkan pendidikan, riset, teknologi, artificial intelligence, kewirausahaan, serta dunia industri untuk memperkuat inovasi dan daya saing kosmetik Indonesia. [][Vikalena Lasmoskwa/TBV]

Lima Buku, Satu Perjalanan Ilmu yang Menjelaskan Dunia Kosmetik dari Awal hingga Akhir
BeautyNews

04 Jul 2026

Lima Buku, Satu Perjalanan Ilmu yang Menjelaskan Dunia Kosmetik dari Awal hingga Akhir

Peluncuran buku dalam sebuah seminar ilmiah bukanlah hal yang baru. Namun, Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran memilih pendekatan yang berbeda saat memperkenalkan Cosmeticverse dalam Seminar Kosmetik 2026. Alih-alih menerbitkan satu buku atau beberapa referensi yang berdiri sendiri, mereka meluncurkan lima buku yang dirancang sebagai satu kesatuan perjalanan ilmu untuk menjelaskan bagaimana sebuah produk kosmetik lahir, berkembang, hingga akhirnya dipercaya oleh masyarakat.Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Selama ini, literatur kosmetik umumnya membahas satu bidang secara terpisah. Ada buku yang mengulas formulasi, ada yang membahas bahan alam, ada pula yang berfokus pada regulasi atau sistem mutu. Pendekatan seperti ini memang memperdalam satu disiplin ilmu, tetapi sering kali membuat pembaca kesulitan melihat keterkaitan antarbidang dalam industri kosmetik.Padahal, dunia kosmetik bekerja sebagai sebuah sistem. Sebuah produk tidak pernah lahir hanya dari laboratorium, tidak pula semata-mata dari ruang produksi. Di balik satu produk yang akhirnya sampai ke tangan konsumen terdapat perjalanan panjang yang melibatkan ilmu dasar, eksplorasi bahan baku, penelitian, formulasi, pengujian, sistem mutu, hingga pemahaman terhadap kebutuhan pasar.Melalui Cosmeticverse, perjalanan tersebut diterjemahkan menjadi lima buku yang saling melengkapi. Bukan untuk dibaca secara terpisah, tetapi sebagai sebuah peta pengetahuan yang memperlihatkan bagaimana seluruh proses dalam industri kosmetik saling terhubung.Baca Juga: Fakultas Farmasi Unpad Perkenalkan Cosmeticverse, Ekosistem Baru Penghubung Dunia Kosmetik IndonesiaKetika Lima Buku Menjadi Satu NarasiGuru Besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Keri Lestari, M.Si., S.Si., Apt., menyebut kelima buku itu bukan sekadar kumpulan referensi akademik."Kelima buku ini membentuk sebuah narasi yang saling melengkapi. Bukan sekadar kumpulan referensi, melainkan sebuah peta pengetahuan yang menghubungkan sains, inovasi, formulasi, kualitas, dan masa depan industri kosmetik Indonesia," ujarnya.Pernyataan tersebut menjelaskan filosofi yang membedakan Cosmeticverse dari peluncuran buku pada umumnya. Fokusnya bukan pada masing-masing judul, melainkan pada hubungan antarbuku yang membentuk satu alur berpikir utuh. Pembaca diajak memahami bahwa setiap tahapan dalam industri kosmetik memiliki keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan.Analisis Redaksi Beautyversity melihat pendekatan ini sebagai upaya membangun cara belajar yang lebih menyeluruh. Selama ini, banyak orang mengenal kosmetik hanya dari produk yang sudah tersedia di rak toko atau marketplace. Cosmeticverse justru mengajak pembaca berjalan ke arah sebaliknya, dimulai dari fondasi ilmu pengetahuan hingga produk siap digunakan oleh konsumen.Dimulai dari Memahami Dunia KosmetikPerjalanan itu dibuka melalui Dunia Kosmetik karya Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., Dr. apt. Soraya Ratnawulan Mita, M.Si., dan Wendra Wilendra, M.MT. yang memperkenalkan pembaca pada lanskap industri kosmetik modern. Buku ini menjelaskan konsep dasar, ekosistem, dinamika industri, hingga berbagai pihak yang terlibat dalam perjalanan sebuah produk. Ia menjadi pintu masuk sebelum pembaca mempelajari tahapan yang lebih spesifik.Setelah memahami gambaran besarnya, pembaca diajak melihat salah satu kekuatan terbesar Indonesia melalui Indonesian Phytocosmetic Atlas. Buku yang ditulis Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., Prof. Dr. rer. nat Anis Yohana Chaerunisaa, M.Si., Apt., dan Wendra Wilendra, M.MT. ini memetakan kekayaan biodiversitas Indonesia sebagai sumber bahan baku kosmetik dan memperlihatkan bagaimana tanaman lokal memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bahan aktif berbasis riset ilmiah.Tahapan berikutnya dijelaskan melalui The Phytocosmetic Journey. Dalam buku ini, Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., Prof. Dr. apt. Sriwidodo, M.Si., dan Wendra Wilendra, M.MT.  menggambarkan perjalanan ilmiah yang harus ditempuh sebelum bahan alam benar-benar dapat menjadi bagian dari sebuah produk kosmetik. Mulai dari eksplorasi, penelitian, pengembangan formulasi, hingga proses penerapannya sebagai produk yang memiliki nilai tambah.Dari Ide Menjadi ProdukPerjalanan tersebut kemudian memasuki fase pengembangan melalui The Cosmetic Code. Di sinilah pembaca diajak memahami bagaimana sebuah ide diterjemahkan menjadi produk kosmetik melalui formulasi, teknologi, inovasi, serta pemahaman terhadap kebutuhan konsumen. Buku yang disusun oleh Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., Prof. Dr. Keri Lestari M.Si., S.Si., Apt., dr. Diah Puspitosari, Sp.DVE., dan Wendra Wilendra, M.MT. ini memperlihatkan bahwa keberhasilan sebuah produk tidak hanya ditentukan oleh bahan aktif yang digunakan, tetapi juga oleh proses ilmiah yang menghubungkan berbagai disiplin ilmu.Namun Cosmeticverse tidak berhenti ketika produk selesai diformulasikan. Tahapan terakhir justru mengangkat aspek yang sering luput dari perhatian publik, yaitu kualitas. Melalui The Invisible Quality, pembaca diperkenalkan pada budaya mutu, penerapan CPKB, integritas data, dan sistem kualitas yang menjadi fondasi kepercayaan dalam industri kosmetik modern. Buku karya Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., Prof. Dr. apt. Yoga Windhu Wardhana, S.Si., M.Si., dan Wendra Wilendra, M.MT. ini mengingatkan bahwa kualitas terbaik sering kali tidak terlihat oleh konsumen, tetapi selalu menentukan keamanan dan konsistensi sebuah produk.Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan sebuah produk kosmetik jauh lebih kompleks daripada yang tampak di permukaan. Produk yang digunakan setiap hari merupakan hasil dari rangkaian keputusan ilmiah, pengujian, inovasi, dan pengendalian mutu yang berlangsung jauh sebelum produk hadir di etalase.Baca Juga: Mengapa Industri Kosmetik Indonesia Membutuhkan Cosmeticverse?Bukan Lima Buku yang Berdiri SendiriBagi industri kosmetik Indonesia, pendekatan seperti ini memiliki arti penting. Pertumbuhan industri yang cepat membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya menguasai satu bidang, tetapi juga memahami hubungan antara penelitian, formulasi, produksi, kualitas, dan kebutuhan pasar. Karena itu, Cosmeticverse tidak menawarkan lima buku yang berdiri sendiri, melainkan sebuah kerangka berpikir yang menghubungkan seluruh proses tersebut.Analisis Redaksi Beautyversity menilai bahwa inilah salah satu nilai paling menarik dari Cosmeticverse. Di tengah melimpahnya informasi tentang kosmetik, pendekatan yang menyusun pengetahuan secara runtut justru menjadi sesuatu yang semakin dibutuhkan. Bukan hanya bagi mahasiswa dan akademisi, tetapi juga bagi pelaku industri yang ingin memahami mengapa sebuah produk tidak pernah lahir dari satu disiplin ilmu saja.Melalui lima buku tersebut, Cosmeticverse memperlihatkan bahwa kosmetik bukan sekadar tentang produk yang terlihat di tangan konsumen. Ia merupakan hasil perjalanan panjang yang dimulai dari ilmu pengetahuan, berkembang melalui penelitian, diperkuat oleh inovasi, dijaga oleh sistem mutu, dan akhirnya diterjemahkan menjadi produk yang mampu membangun kepercayaan. Itulah perjalanan yang ingin diperlihatkan Cosmeticverse kepada industri kosmetik Indonesia.Tentang CosmeticverseCosmeticverse merupakan ekosistem pengetahuan kosmetik yang diperkenalkan oleh Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran bersama Program Studi Rekayasa Kosmetik, LABCOS, Ray Academy, PT Baleide, dan berbagai mitra industri. Melalui pendekatan yang menghubungkan pendidikan, riset, teknologi, artificial intelligence, kewirausahaan, dan industri, Cosmeticverse bertujuan membangun fondasi pengetahuan yang lebih kuat bagi perkembangan kosmetik Indonesia. [][Eva Evilia/TBV]

Menampilkan 1 - 12 dari 15 artikel