BeautyNews

Jelajahi artikel terkait BeautyNews

Mengapa Industri Kosmetik Indonesia Membutuhkan Cosmeticverse?
BeautyNews

03 Jul 2026

Mengapa Industri Kosmetik Indonesia Membutuhkan Cosmeticverse?

Industri kosmetik Indonesia sedang berada dalam fase pertumbuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Munculnya ribuan merek lokal, meningkatnya minat masyarakat terhadap skincare dan personal care, serta berkembangnya jasa maklon menunjukkan bahwa industri ini terus bergerak dinamis. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, muncul tantangan baru yang tidak kalah besar, yakni bagaimana memastikan inovasi, kualitas, dan sumber daya manusia berkembang secepat laju industrinya. Pertanyaan itu menjadi salah satu benang merah dalam Seminar Kosmetik 2026 yang diselenggarakan Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran. Alih-alih hanya membahas tren produk atau peluang bisnis, seminar tersebut mengangkat kebutuhan membangun sebuah ekosistem yang mampu menghubungkan pendidikan, penelitian, teknologi, dan industri secara berkelanjutan. Dari gagasan itulah lahir Cosmeticverse, sebuah ekosistem pengetahuan yang diproyeksikan menjadi jembatan antara dunia akademik dan dunia usaha.Pertumbuhan industri memang membawa optimisme. Indonesia kini menjadi salah satu pasar kosmetik yang berkembang pesat di Asia Tenggara, didorong oleh meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap perawatan diri, perkembangan e-commerce, serta bertambahnya jumlah pelaku usaha lokal. Namun, pertumbuhan pasar tidak otomatis diikuti oleh kesiapan ekosistem pendukungnya. Di banyak sektor, masih ditemukan jarak antara hasil penelitian di perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata industri. Penelitian yang menghasilkan inovasi formulasi, bahan baku, atau teknologi sering berhenti sebagai publikasi ilmiah, sementara industri masih harus mencari solusi sendiri ketika menghadapi tantangan produksi, regulasi, maupun pengembangan produk. Kondisi inilah yang membuat kolaborasi menjadi semakin penting.Baca Juga: Fakultas Farmasi Unpad Perkenalkan Cosmeticverse, Ekosistem Baru Penghubung Dunia Kosmetik IndonesiaIndustri Tidak Hanya Membutuhkan Produk BaruSelama beberapa tahun terakhir, perhatian publik lebih banyak tertuju pada munculnya brand baru, tren bahan aktif, atau produk yang viral di media sosial. Padahal, fondasi industri kosmetik tidak hanya dibangun oleh produk yang berhasil dipasarkan. Industri juga membutuhkan peneliti, formulator, ahli mutu, regulator, hingga tenaga profesional yang memahami keseluruhan perjalanan sebuah produk.Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. apt. Sriwidodo, M.Si., menilai pengembangan industri kosmetik tidak dapat diserahkan kepada satu pihak saja."Membangun ekosistem kosmetik Indonesia tidak mungkin dilakukan sendiri di kampus. Perguruan tinggi memiliki peran melahirkan ilmu pengetahuan, inovasi, dan sumber daya manusia, tetapi keberhasilannya hanya akan tercapai melalui kolaborasi erat dengan pemerintah, industri, komunitas, dan media dalam semangat pentahelix," ujarnya.Pernyataan tersebut menggambarkan perubahan cara pandang terhadap pengembangan industri kosmetik. Jika sebelumnya perguruan tinggi lebih banyak diposisikan sebagai penghasil riset, kini perannya berkembang menjadi bagian dari ekosistem inovasi yang bekerja bersama pelaku industri, pemerintah, komunitas, dan media.Pendekatan seperti ini dinilai semakin relevan ketika siklus inovasi kosmetik berlangsung jauh lebih cepat dibanding beberapa tahun lalu. Perubahan preferensi konsumen, perkembangan teknologi formulasi, hingga meningkatnya tuntutan terhadap keamanan dan kualitas produk membuat kolaborasi menjadi kebutuhan, bukan lagi pilihan.Baca Juga: Fakultas Farmasi Unpad Dorong Hilirisasi Riset Kosmetik Lewat ICI 2026Menjahit Mata Rantai yang Selama Ini TerpisahRedaksi Beautyversity.id melihat bahwa salah satu tantangan terbesar industri kosmetik Indonesia bukan semata kekurangan ide, melainkan masih terpisahnya berbagai mata rantai pengetahuan. Dunia akademik menghasilkan penelitian, industri memahami kebutuhan pasar, regulator menjaga standar keamanan, sementara komunitas dan media membangun literasi publik. Ketika seluruh komponen tersebut berjalan sendiri-sendiri, proses lahirnya inovasi sering menjadi lebih lambat.Cosmeticverse mencoba menjawab persoalan tersebut melalui pendekatan yang lebih menyeluruh. Dalam satu ekosistem, inisiatif ini menghubungkan pendidikan, penelitian, teknologi, artificial intelligence, kewirausahaan, hingga kolaborasi industri. Tidak berhenti pada seminar, konsep ini juga diwujudkan melalui peluncuran lima buku, pengenalan LABCOS AI, dan program Cosmepreneur yang dirancang untuk mempertemukan mahasiswa dengan dunia industri sejak masa pendidikan.Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan kosmetik tidak lagi dipandang sebagai proses yang berdiri sendiri. Sebuah produk lahir melalui perjalanan panjang yang melibatkan ilmu dasar, eksplorasi bahan baku, formulasi, sistem mutu, teknologi produksi, hingga kemampuan memahami kebutuhan konsumen. Karena itu, membangun industri tidak cukup hanya dengan menghadirkan produk baru, tetapi juga membangun pengetahuan yang menghubungkan seluruh proses tersebut.Baca Juga: Kosmetik sebagai Bahasa KepercayaanMomentum untuk Menyiapkan Masa DepanApt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., yang turut menggagas Cosmeticverse, berharap ekosistem ini mampu menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan industri. Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi dan pelaku bisnis kosmetik akan menjadi salah satu fondasi penting dalam memperkuat daya saing industri nasional.Harapan tersebut muncul pada saat industri kosmetik menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Persaingan tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan produk yang menarik, tetapi juga oleh kualitas riset, budaya mutu, kesiapan sumber daya manusia, serta kemampuan memanfaatkan teknologi digital dan artificial intelligence. Seluruh aspek itu membutuhkan ruang kolaborasi yang lebih terbuka.Cosmeticverse hadir pada momentum ketika industri Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar inovasi produk. Industri memerlukan sebuah ekosistem yang mampu mempercepat perpindahan pengetahuan dari laboratorium ke ruang produksi, dari ruang kelas ke dunia kerja, serta dari hasil penelitian menjadi solusi yang benar-benar dirasakan masyarakat. Dalam konteks itulah, Cosmeticverse menawarkan sebuah gagasan yang tidak hanya menjawab kebutuhan hari ini, tetapi juga menyiapkan fondasi bagi masa depan industri kosmetik Indonesia.Tentang CosmeticverseCosmeticverse merupakan ekosistem pengetahuan kosmetik yang diperkenalkan oleh Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran bersama Program Studi Rekayasa Kosmetik, LABCOS, Ray Academy, PT Baleide, dan berbagai mitra industri. Ekosistem ini menghubungkan pendidikan, riset, teknologi, artificial intelligence, kewirausahaan, serta dunia industri untuk memperkuat inovasi dan daya saing kosmetik Indonesia. [][Vikalena Lasmoskwa/TBV]

Fakultas Farmasi Unpad Perkenalkan Cosmeticverse, Ekosistem Baru Penghubung Dunia Kosmetik Indonesia
BeautyNews

02 Jul 2026

Fakultas Farmasi Unpad Perkenalkan Cosmeticverse, Ekosistem Baru Penghubung Dunia Kosmetik Indonesia

JATINANGOR – Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran [Unpad] memperkenalkan Cosmeticverse, sebuah ekosistem pengetahuan yang dirancang untuk menghubungkan dunia pendidikan, riset, teknologi, industri, hingga kewirausahaan kosmetik Indonesia. Inisiatif tersebut diperkenalkan dalam Seminar Kosmetik 2026 bertema Inovasi dan Teknologi di Bidang Kosmetik dalam Mendukung Kemajuan Industri Kosmetik Nasional yang digelar di Auditorium Fakultas Farmasi Unpad, Jatinangor, Rabu [01/07].Berbeda dari seminar kosmetik pada umumnya, kegiatan ini tidak hanya menghadirkan diskusi ilmiah, tetapi juga memperkenalkan sebuah kerangka besar yang berupaya menghubungkan seluruh perjalanan ilmu kosmetik. Mulai dari pendidikan, penelitian bahan baku, pengembangan formulasi, penerapan teknologi, budaya mutu, hingga lahirnya pelaku industri baru, seluruhnya dirangkai dalam satu ekosistem yang diberi nama Cosmeticverse.Seminar tersebut merupakan kolaborasi Fakultas Farmasi Unpad bersama Program Studi Rekayasa Kosmetik, PSPST Farmasi Unpad, PT Baleide, LABCOS, Ray Academy, serta berbagai mitra industri. Kolaborasi ini mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, mahasiswa, dan pelaku usaha untuk membahas perkembangan ilmu kosmetik sekaligus memperkuat hubungan antara dunia kampus dan industri.Rangkaian kegiatan juga memperlihatkan bagaimana Cosmeticverse dibangun sebagai sebuah ekosistem, bukan sekadar program tunggal. Selain peluncuran lima buku, peserta diperkenalkan dengan LABCOS AI, program Cosmepreneur, serta berbagai inisiatif kolaboratif yang dirancang untuk memperkuat literasi, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia di bidang kosmetik.Baca Juga: Fakultas Farmasi Unpad Dorong Hilirisasi Riset Kosmetik Lewat ICI 2026Menyatukan Perjalanan Ilmu KosmetikGuru Besar Fakultas Farmasi Unpad, Prof. Dr. apt. Sriwidodo, M.Si., menilai pengembangan industri kosmetik nasional memerlukan pendekatan yang melibatkan banyak pihak."Membangun ekosistem kosmetik Indonesia tidak mungkin dilakukan sendiri di kampus. Perguruan tinggi memiliki peran melahirkan ilmu pengetahuan, inovasi, dan sumber daya manusia, tetapi keberhasilannya hanya akan tercapai melalui kolaborasi erat dengan pemerintah, industri, komunitas, dan media dalam semangat pentahelix," ujarnya.Gagasan tersebut menjadi salah satu fondasi utama Cosmeticverse. Ekosistem ini dirancang agar ilmu pengetahuan tidak berhenti sebagai hasil penelitian, melainkan dapat diterjemahkan menjadi inovasi yang relevan bagi industri sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.Pendekatan tersebut juga tercermin dalam peluncuran lima buku yang diperkenalkan pada kesempatan yang sama. Kelima buku itu tidak diposisikan sebagai karya yang berdiri sendiri, melainkan sebagai rangkaian pengetahuan yang menjelaskan bagaimana sebuah produk kosmetik lahir, dikembangkan, diproduksi, hingga akhirnya dipercaya oleh konsumen.Bukan Sekadar Meluncurkan BukuDalam paparannya, Prof. Dr. Keri Lestari, M.Si., S.Si., Apt., menjelaskan bahwa kelima buku tersebut disusun sebagai satu narasi yang saling melengkapi."Kelima buku ini membentuk sebuah narasi yang saling melengkapi. Bukan sekadar kumpulan referensi, melainkan sebuah peta pengetahuan yang menghubungkan sains, inovasi, formulasi, kualitas, dan masa depan industri kosmetik Indonesia," ujarnya.Rangkaian buku tersebut dimulai dari Dunia Kosmetik sebagai pengantar mengenai sistem dan ekosistem industri kosmetik modern. Pembahasan kemudian berlanjut ke potensi biodiversitas Indonesia melalui Indonesian Phytocosmetic Atlas, dilanjutkan dengan perjalanan penelitian bahan alam dalam The Phytocosmetic Journey, proses formulasi melalui The Cosmetic Code, hingga budaya mutu yang menjadi fondasi industri pada The Invisible Quality.Susunan ini menunjukkan bahwa Cosmeticverse tidak hanya menawarkan kumpulan referensi, tetapi membangun sebuah alur pembelajaran yang utuh mengenai industri kosmetik, mulai dari ilmu dasar hingga penerapannya di dunia usaha.Baca Juga: Kosmetik sebagai Bahasa KepercayaanMenjawab Tantangan Industri KosmetikSelain memperkenalkan ekosistem pengetahuan, seminar ini juga menyoroti tantangan yang sedang dihadapi industri kosmetik Indonesia. Pertumbuhan industri yang terus meningkat harus diimbangi dengan ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten, penguasaan teknologi, budaya mutu, serta inovasi berbasis riset.Dalam konteks tersebut, Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., yang juga menjadi salah satu penggagas Cosmeticverse, berharap ekosistem ini mampu menjadi jembatan antara dunia akademik dan industri. Menurutnya, kolaborasi perguruan tinggi dengan pelaku bisnis kosmetik akan menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun ekosistem tersebut.Melalui pendekatan yang menghubungkan pendidikan, penelitian, teknologi, artificial intelligence, hingga kewirausahaan, Cosmeticverse diharapkan menjadi ruang bersama untuk mempercepat lahirnya inovasi kosmetik Indonesia yang lebih berdaya saing.Lebih dari sekadar agenda seminar atau peluncuran buku, inisiatif ini menjadi upaya membangun sebuah ekosistem yang memungkinkan ilmu pengetahuan bergerak lebih jauh dari laboratorium. Dengan mempertemukan kampus, industri, komunitas, dan teknologi dalam satu kerangka kolaboratif, Cosmeticverse menawarkan sebuah cara baru untuk melihat masa depan industri kosmetik Indonesia.Cosmeticverse merupakan ekosistem pengetahuan kosmetik yang diperkenalkan oleh Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran bersama Program Studi Rekayasa Kosmetik, LABCOS, Ray Academy, PT Baleide, serta berbagai mitra industri. Ekosistem ini menghubungkan pendidikan, riset, teknologi, artificial intelligence, kewirausahaan, dan industri untuk memperkuat inovasi serta daya saing kosmetik Indonesia. [][Eva Evilia/TBV]

Fakultas Farmasi Unpad Dorong Hilirisasi Riset Kosmetik Lewat ICI 2026
BeautyNews

05 Mei 2026

Fakultas Farmasi Unpad Dorong Hilirisasi Riset Kosmetik Lewat ICI 2026

Di tengah perkembangan industri kosmetik yang semakin cepat, ada satu hal yang mulai terasa penting. Bukan hanya soal inovasi, tetapi bagaimana inovasi itu benar-benar sampai ke tangan pengguna.Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran kembali mengambil bagian dalam ajang Indonesia Cosmetic Ingredients [ICI] 2026, yang digelar pada 6–8 Mei 2026 di JIEXPO Kemayoran, Jakarta. Keikutsertaan ini menjadi yang keempat kalinya bagi Unpad dalam pameran industri kosmetik terbesar di Indonesia tersebut.Partisipasi ini tidak hanya menjadi ajang pameran, tetapi juga refleksi dari arah pengembangan riset yang semakin dekat dengan kebutuhan industri. Fakultas Farmasi Unpad membawa berbagai hasil penelitian dan inovasi yang tidak berhenti di laboratorium, tetapi mulai diarahkan ke implementasi nyata melalui kolaborasi dengan mitra seperti Raycorp dan Quillacorp.Prof. Dr. Apt. Sriwidodo, M.Si. menyebut bahwa keikutsertaan ini merupakan bagian dari upaya institusi untuk tetap relevan dengan perkembangan global industri kosmetik, sekaligus menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan pasar.Baca Juga: Tanya Dong: Produk Apa yang Tak Boleh Dicampur dalam Satu Rutinitas?Dari Laboratorium ke Produk NyataDi booth Fakultas Farmasi Unpad, pengunjung tidak hanya melihat produk, tetapi juga perjalanan di baliknya. Mulai dari riset farmasi, pengembangan bahan aktif, hingga proses hilirisasi yang membawa inovasi menjadi produk yang bisa digunakan.Berbagai inovasi yang ditampilkan mencerminkan pendekatan pentahelix, yang menggabungkan peran akademisi, industri, pemerintah, komunitas, dan media. Pendekatan ini terlihat dari ragam karya yang ditampilkan, mulai dari teknologi nano kosmetik, bahan berbasis fermentasi, hingga ekstraksi bahan alam terstandar.Tidak hanya berhenti pada riset, hasil pengembangan juga telah masuk ke tahap komersialisasi dalam bentuk produk seperti skincare, hair care, hingga konsep green dan halal cosmetic. Hal ini menunjukkan bahwa riset tidak lagi berdiri sendiri, tetapi sudah bergerak menuju solusi yang lebih aplikatif.Selain itu, layanan Labcos turut menjadi bagian penting dalam ekosistem ini, dengan menyediakan dukungan mulai dari pengembangan brand hingga standar mutu dan klaim kosmetik. Kehadiran layanan ini memperkuat posisi universitas sebagai mitra strategis bagi industri.Baca Juga: Masalah Rambut yang Sering Dianggap SepeleInovasi Digital sebagai Jembatan BaruSalah satu hal yang membedakan partisipasi tahun ini adalah hadirnya pendekatan berbasis teknologi digital melalui konsep personalized cosmetic. Inovasi ini diwujudkan dalam aplikasi Cantik.AI yang mampu menganalisis kondisi kulit secara individual melalui teknologi pemindaian wajah.Aplikasi ini mengidentifikasi berbagai parameter seperti hidrasi, pigmentasi, ukuran pori, hingga indikasi penuaan dini. Berdasarkan hasil tersebut, sistem memberikan rekomendasi perawatan yang lebih spesifik sesuai kebutuhan masing-masing individu.Namun, yang menjadi sorotan bukan hanya teknologinya, tetapi bagaimana teknologi ini terhubung dengan riset akademik. Formulasi produk yang direkomendasikan berasal dari pengembangan peneliti universitas, sehingga menciptakan jalur yang lebih jelas antara hasil penelitian dan kebutuhan pengguna.Pendekatan ini sejalan dengan program hilirisasi Universitas Padjadjaran yang mendorong transfer teknologi ke sektor industri. Fokusnya tidak hanya pada inovasi, tetapi juga pada bagaimana inovasi tersebut bisa diadopsi secara luas melalui kolaborasi dan pengembangan startup berbasis riset.Baca Juga: Produk yang Kita Pakai dan Kepercayaan Diri yang DitimbulkannyaMenuju Ekosistem Kosmetik Berbasis RisetDekan Fakultas Farmasi Unpad, Prof. Auliya Abdurrohim Suwantika, menegaskan bahwa model pentahelix menjadi kunci dalam mempercepat transformasi riset menjadi produk yang bernilai guna. Pendekatan ini memungkinkan inovasi berkembang secara lebih terarah dan selaras dengan kebutuhan industri.Melalui integrasi antara riset, teknologi, dan kolaborasi, Fakultas Farmasi Unpad tidak hanya berfokus pada pengembangan produk, tetapi juga pada pembentukan ekosistem yang mendukung keberlanjutan inovasi. Dari bahan baku hingga produk jadi, setiap tahap dirancang agar memiliki relevansi praktis.Ke depan, model ini diharapkan dapat jadi acuan dalam pengembangan industri kosmetik di Indonesia. Bukan hanya sebagai ajang inovasi, tetapi sebagai ruang pertemuan antara ide, riset, dan implementasi nyata. [][Eva Evilia/PR/TBV]

Menampilkan 13 - 15 dari 15 artikel