Razor burn adalah iritasi akibat bercukur. Ia dapat dicegah dengan persiapan kulit yang baik, pisau tajam, dan perawatan menenangkan setelah bercukur.
Meski terlihat ringan, razor burn dapat mengganggu kenyamanan dan penampilan. Kulit terasa sensitif, mudah perih saat terkena air atau produk lain, dan kadang tampak meradang. Memahami apa itu razor burn membantu kita bersikap lebih tepat terhadap kulit setelah bercukur.
Razor burn bukanlah tanda kulit 'lemah', melainkan reaksi kulit terhadap gesekan, tekanan, dan hilangnya lapisan pelindung kulit saat bercukur.
Razor burn terjadi ketika lapisan atas kulit terganggu akibat gesekan pisau cukur. Pisau yang tumpul, tekanan terlalu kuat, atau mencukur berulang kali di area yang sama dapat melukai kulit secara mikro.
Selain itu, kulit sensitif, kulit yang sedang berjerawat, atau kulit yang sedang iritasi lebih mudah mengalami razor burn. Kondisi kulit sebelum bercukur sangat memengaruhi hasil akhirnya.
Pencegahan dimulai dari persiapan. Membersihkan wajah dengan air hangat membantu melembutkan rambut dan membuka pori, sehingga pisau lebih mudah meluncur tanpa menarik kulit.
Menggunakan shaving cream atau gel yang sesuai jenis kulit memberi lapisan pelindung antara pisau dan kulit. Produk ini membantu mengurangi gesekan dan menjaga kelembapan selama bercukur.
Setelah bercukur, bilas dengan air dingin untuk membantu menenangkan kulit dan mengecilkan pori. Gunakan produk aftershave yang bebas alkohol dan mengandung bahan menenangkan seperti aloe vera atau panthenol.
Razor burn mengajarkan bahwa bercukur bukan sekadar rutinitas mekanis, melainkan interaksi langsung dengan kulit. Ketika proses ini dilakukan dengan lebih lembut dan sadar, kulit pun merespons dengan lebih nyaman. [][Rommy Rimbarawa/TBV]