Sering, yang paling sulit diterima bukan perubahan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kita tidak lagi sama seperti dulu.
Manusia berubah sepanjang hidupnya. Wajah berubah, tubuh berubah, energi berubah, cara berpikir berubah, bahkan hal-hal yang dulu disukai pun bisa ikut berubah. Namun meskipun perubahan adalah bagian alami dari kehidupan, banyak orang tetap merasa tidak nyaman saat berhadapan dengannya.
Ada yang sulit menerima rambutnya mulai menipis, ada yang merasa terganggu melihat garis halus mulai muncul di wajah, dan ada pula yang diam-diam merindukan versi dirinya beberapa tahun lalu. Perasaan seperti itu sangat manusiawi. Masalahnya, kita sering hidup dalam budaya yang mengagungkan kondisi terbaik seseorang, tetapi jarang mengajarkan cara menerima proses perubahannya.
Baca Juga: Kenapa Kita Takut Dilihat Tidak Menarik?
Kita Sering Menganggap Diri yang Lama Lebih Baik
Ada kecenderungan untuk melihat masa lalu dengan cara yang lebih lembut dibanding melihat diri sendiri hari ini. Saat mengingat foto lama, banyak orang merasa dirinya terlihat lebih menarik, lebih segar, atau lebih percaya diri dibanding sekarang. Padahal ketika foto itu diambil, belum tentu mereka benar-benar merasa demikian.
Fenomena ini membuat seseorang terus membandingkan dirinya saat ini dengan versi dirinya yang sudah tidak ada lagi. Akibatnya, perubahan yang sebenarnya normal terasa seperti kehilangan. Rambut yang berubah tekstur, berat badan yang berbeda, atau wajah yang tidak lagi sama seperti usia dua puluhan sering dianggap sebagai kemunduran, bukan bagian dari perjalanan hidup.
Psikolog Dr. Susan David dalam buku Emotional Agility [2016] mengemukakan bahwa banyak orang menderita bukan karena perubahan itu sendiri, tetapi karena mereka terus berusaha mempertahankan identitas lama yang sebenarnya sudah tidak lagi sesuai dengan kondisi hidupnya saat ini.
Hal tersebut terlihat jelas dalam cara kita memandang tubuh. Banyak orang berusaha kembali menjadi sosok yang pernah mereka kenal bertahun-tahun lalu, padahal tubuh manusia memang dirancang untuk berkembang dan berubah. Tidak ada tubuh yang benar-benar berhenti bergerak mengikuti waktu.
Ketika perubahan selalu dipandang sebagai kehilangan, seseorang akan lebih mudah merasa kecewa terhadap dirinya sendiri. Ia tidak sedang hidup bersama tubuh yang dimilikinya hari ini, melainkan terus mengejar bayangan dirinya di masa lalu.
Baca Juga: Kenapa Kita Sulit Merasa Cukup dengan Diri Sendiri?
Berdamai Bukan Berarti Menyerah
Salah satu kesalahpahaman yang cukup sering muncul adalah menganggap penerimaan diri sebagai bentuk menyerah. Padahal, menerima perubahan tidak berarti berhenti merawat diri atau berhenti berkembang. Justru penerimaan yang sehat membuat seseorang bisa merawat dirinya dengan lebih jujur.
Sebagai contoh, seseorang tetap bisa menjaga kesehatan kulit meskipun menerima bahwa proses penuaan adalah hal yang alami. Ia tetap bisa berolahraga meskipun memahami bahwa bentuk tubuhnya mungkin tidak akan sama seperti sepuluh tahun lalu. Perbedaannya terletak pada motivasi yang digunakan.
Psikolog Dr. Kristin Neff dalam buku Self-Compassion [2011] menulis bahwa menerima diri bukan berarti berhenti bertumbuh, melainkan berhenti memusuhi diri sendiri selama proses pertumbuhan itu berlangsung. Perspektif ini membantu seseorang melihat perubahan sebagai bagian dari kehidupan, bukan sebagai bukti kegagalan.
Banyak hal dalam hidup tidak bisa dipertahankan selamanya. Kulit yang dulu sangat kencang akan berubah, energi yang dulu terasa tidak terbatas akan bergeser, dan prioritas hidup pun ikut berkembang. Semua itu bukan tanda bahwa seseorang kehilangan nilainya sebagai manusia.
Yang sering membuat perubahan terasa berat adalah keinginan untuk tetap menjadi orang yang sama sepanjang waktu. Padahal, kehidupan justru terus mengajak kita bertemu versi-versi baru dari diri sendiri.
Saat seseorang mulai menerima bahwa perubahan adalah bagian dari identitas manusia, hubungan dengan dirinya biasanya menjadi lebih tenang. Ia tidak lagi terus bertengkar dengan waktu, melainkan belajar berjalan bersamanya.
Di sanalah banyak orang menemukan sesuatu yang selama ini dicari: bukan cara untuk kembali menjadi dirinya yang dulu, tetapi keberanian untuk menghargai dirinya yang sekarang. [][Liora Maheswari/TBV]
Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.