BeautyLife

Kenapa Kita Sulit Merasa Cukup dengan Diri Sendiri?

Admin Beautyversity Admin Beautyversity
291 views
Kenapa Kita Sulit Merasa Cukup dengan Diri Sendiri?

Kadang, hidup terasa seperti ruang panjang yang dipenuhi perbandingan tanpa akhir.

Ada hari ketika kita merasa wajah kurang menarik, tubuh belum ideal, pencapaian terasa tertinggal, atau hidup terlihat tidak sebaik orang lain. Perasaan itu datang diam-diam, sering tanpa alasan besar. Bahkan saat semuanya sebenarnya baik-baik saja, tetap ada suara kecil di kepala yang mengatakan bahwa kita masih kurang sesuatu.

Mungkin karena sejak lama kita terbiasa hidup di tengah ukuran-ukuran. Cantik harus seperti ini, sukses harus seperti itu, tubuh harus terlihat begini, hidup harus tampak begitu. Lama-kelamaan, kita mulai memandang diri sendiri menggunakan mata dunia luar, bukan lagi menggunakan rasa yang paling jujur dari dalam diri. Akibatnya, rasa cukup menjadi sesuatu yang terus bergerak menjauh.

Baca Juga: Kenapa Kita Sering Mencari Validasi dari Penampilan?

Kita Terlalu Sering Melihat Hidup Orang Lain dari Permukaannya

Media sosial membuat manusia melihat terlalu banyak kehidupan dalam satu waktu. Kita melihat wajah yang terlihat sempurna, hubungan yang tampak hangat, tubuh yang ideal, pencapaian yang terus bertambah, dan hidup yang terlihat selalu berjalan baik.

Padahal, yang muncul di layar sering hanya potongan kecil yang sudah dipilih dengan sangat hati-hati. Namun, hati manusia tetap mudah lupa. Kita mulai membandingkan kehidupan penuh milik diri sendiri dengan cuplikan terbaik milik orang lain.

Sebagai contoh, seseorang bisa merasa hidupnya biasa saja hanya karena melihat orang lain tampak lebih bahagia di internet. Ada juga yang mulai membenci tubuhnya sendiri setelah terlalu lama melihat standar visual yang nyaris tidak realistis setiap hari.

Psikolog Dr. Brené Brown dalam buku The Gifts of Imperfection [2010] menjelaskan bahwa rasa tidak cukup sering tumbuh ketika seseorang terlalu bergantung pada validasi eksternal dan kehilangan hubungan yang sehat dengan dirinya sendiri.

Yang membuat semuanya terasa lebih melelahkan, perbandingan itu sering berlangsung tanpa sadar. Kita tidak benar-benar berniat iri atau membenci diri sendiri. Namun sedikit demi sedikit, cara melihat diri berubah menjadi lebih keras.

Tubuh akhirnya tidak lagi dipandang sebagai bagian dari diri yang menemani hidup setiap hari, tetapi sebagai proyek yang tidak pernah selesai diperbaiki.

Baca Juga: Kenapa Kita Sering Merasa Kurang Menarik?

Rasa Cukup Tidak Selalu Datang Setelah Kita ‘Sempurna’

Banyak orang berpikir rasa cukup akan datang setelah berhasil mencapai sesuatu. Setelah kulit membaik, berat badan turun, wajah lebih menarik, atau hidup lebih mapan. Namun kenyataannya, rasa kurang sering tetap tinggal meskipun banyak hal sudah berubah.

Ada orang yang sudah memiliki pekerjaan baik tetapi tetap merasa tertinggal. Ada yang wajahnya dipuji banyak orang tetapi masih sulit merasa cantik. Ada yang terus membeli produk baru berharap rasa percaya dirinya ikut membaik, tetapi kegelisahan itu tetap muncul dalam bentuk lain.

Psikolog Dr. Kristin Neff dalam buku Self-Compassion [2011] menjelaskan bahwa manusia cenderung lebih mudah mengkritik dirinya sendiri dibanding memperlakukan dirinya dengan pengertian. Karena itu, banyak orang sulit merasa cukup bukan karena hidupnya kurang, tetapi karena ia terlalu lama memusuhi dirinya sendiri.

Mungkin, selama ini kita terlalu sibuk mengejar versi diri yang dianggap layak dicintai. Padahal, manusia tidak pernah benar-benar hidup dalam kondisi sempurna sepanjang waktu. Ada hari ketika tubuh lelah, wajah terlihat kusam, hati sedang kosong, dan hidup terasa berantakan. Tapi semua itu tidak otomatis membuat seseorang menjadi kurang berharga.

Merawat diri tetap penting. Memperbaiki hidup juga bukan hal yang salah. Tetapi ada jarak tipis antara bertumbuh karena mencintai diri sendiri dan terus berubah karena merasa diri tidak pernah cukup.

Saat seseorang mulai bisa duduk tenang bersama dirinya sendiri tanpa terus mencari apa yang kurang, ada rasa ringan yang perlahan muncul. Bukan karena semua masalah selesai, tetapi karena akhirnya ia berhenti menjadikan dirinya musuh paling keras di dalam hidupnya sendiri. [][Liora Maheswari/TBV]

Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.


Bagikan artikel ini:
Admin Beautyversity

Admin Beautyversity

Penulis di Beautyversity

Lihat Semua Artikel