Produknya masih ada. Fungsinya juga belum tergantikan. Namun, produk baru sering terasa jauh lebih menarik sebelum yang lama sempat dihabiskan.
Rak kecantikan kadang menyimpan cerita tentang rasa penasaran. Ada serum yang baru digunakan separuh, lipstik yang hanya beberapa kali dipakai, atau pelembap yang perlahan tersisih karena produk baru datang. Bukan karena semuanya buruk, melainkan karena selalu ada sesuatu yang terlihat lebih menarik untuk dicoba.
Industri kecantikan memang hidup dari inovasi. Formula berkembang, bahan baru diperkenalkan, warna berganti mengikuti tren, dan pengalaman menggunakan produk terus disempurnakan. Konsumen memperoleh lebih banyak pilihan, tetapi pada saat bersamaan harus menghadapi godaan untuk terus memperbarui apa yang sebenarnya masih dimiliki.
Media sosial membuat siklus tersebut bergerak semakin cepat. Produk yang kemarin terasa baru dapat terlihat biasa setelah lini berikutnya menjadi viral. Unboxing, haul, ulasan, rekomendasi influencer, dan algoritma yang terus menampilkan produk serupa membuat keinginan membeli terasa seperti kebutuhan yang muncul dengan sendirinya.
Padahal, membutuhkan dan menginginkan adalah dua pengalaman yang berbeda. Keduanya sama-sama sah, tetapi mengenali perbedaannya dapat mengubah hubungan seseorang dengan produk kecantikan. Pertanyaannya kemudian bukan sekadar apakah produk baru itu bagus, melainkan mengapa rasanya harus dimiliki sekarang.
Baca Juga: Ketika Rutinitas Merawat Diri Berubah Jadi Waktu untuk Beristirahat dari Dunia Digital
Produk Baru Menawarkan Sesuatu yang Lebih dari Fungsinya
Dalam psikologi perilaku dikenal kecenderungan manusia tertarik pada kebaruan atau novelty. Sesuatu yang baru dapat menarik perhatian karena menawarkan pengalaman yang belum diketahui. Di dunia kecantikan, daya tarik itu semakin kuat karena produk tidak hanya menawarkan fungsi, tetapi juga warna, aroma, tekstur, kemasan, cerita, dan kemungkinan mendapatkan hasil yang berbeda.
Inilah yang membuat dua serum dengan fungsi relatif serupa tetap dapat menimbulkan keinginan membeli. Produk yang sudah berada di rumah telah kehilangan unsur kejutan karena pengalaman menggunakannya sudah dikenal. Produk baru masih menyimpan kemungkinan: mungkin teksturnya lebih nyaman, mungkin hasilnya lebih cepat, atau mungkin inilah produk yang selama ini dicari.
Psikolog Colin Campbell dalam kajiannya mengenai konsumsi modern menjelaskan bagaimana keinginan konsumen dapat dipelihara oleh imajinasi terhadap pengalaman yang akan diperoleh dari sebuah barang. Kepuasan karena memiliki sesuatu kemudian dapat berumur lebih pendek daripada kegembiraan ketika membayangkan akan memilikinya. Pola ini membantu menjelaskan mengapa rasa tertarik dapat kembali muncul bahkan setelah pembelian sebelumnya belum benar-benar selesai dinikmati.
Dalam kosmetik, persoalan tersebut menjadi lebih rumit karena sebuah produk memang bisa menawarkan inovasi nyata. Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. mengingatkan bahwa produk baru sebaiknya tetap dinilai berdasarkan relevansinya terhadap kebutuhan kulit, formulasi, dan cara penggunaannya. Bahan aktif yang sedang populer tidak otomatis harus ditambahkan apabila rutinitas yang sudah digunakan sebenarnya telah bekerja dengan baik.
Baca Juga: Mengapa Banyak Orang Mulai Memilih Membeli Lebih Sedikit Produk Kecantikan?
Algoritma Membuat Keinginan Sulit Mendapat Waktu untuk Mereda
Dahulu, seseorang mungkin mengenal kosmetik baru ketika mengunjungi toko atau melihat iklan. Kini, produk dapat muncul berkali-kali dalam sehari melalui layar yang sama. Setelah satu video ditonton, algoritma dapat menghadirkan ulasan lain, perbandingan produk, tutorial penggunaan, hingga komentar orang-orang yang mengaku mendapatkan hasil memuaskan.
Pengulangan membuat sebuah produk semakin familiar. Dalam psikologi, mere exposure effect menjelaskan kecenderungan seseorang memberikan respons lebih positif terhadap sesuatu setelah berulang kali terpapar. Dalam lingkungan digital, mekanisme tersebut bertemu dengan pemasaran, rekomendasi sosial, dan kemudahan membeli hanya melalui beberapa sentuhan pada layar.
Kondisi ini bukan berarti setiap pembelian impulsif merupakan kesalahan konsumen. Sistem perdagangan digital memang dirancang untuk mengurangi jarak antara keinginan dan transaksi. Flash sale, hitung mundur, stok terbatas, voucher, serta notifikasi keranjang membuat keputusan yang sebenarnya dapat ditunda terasa perlu dilakukan segera.
Salah satu cara sederhana untuk menghadapi pola tersebut adalah memberi jarak antara rasa tertarik dan keputusan membeli. Produk dapat disimpan dahulu dalam daftar keinginan, kemudian dilihat kembali beberapa hari kemudian. Jika fungsi yang sama ternyata masih tersedia dalam produk yang belum habis, kebutuhan terhadap pembelian baru menjadi lebih mudah dinilai dengan kepala yang lebih tenang.
Kebiasaan menghabiskan produk sebelum membeli penggantinya juga bukan berarti seseorang harus berhenti menikmati dunia kecantikan. Justru ada kepuasan berbeda ketika sebuah produk benar-benar digunakan sampai selesai dan manfaatnya dapat dievaluasi dalam waktu yang cukup. Rutinitas pun menjadi lebih mudah dibaca karena kulit tidak terus-menerus diperkenalkan kepada banyak formula baru.
Produk kecantikan akan terus datang dengan warna, teknologi, dan cerita yang semakin menarik. Tidak ada yang salah dengan menikmati kebaruan atau sesekali membeli sesuatu hanya karena menyukainya. Namun, ketika produk lama terus tertinggal setengah isi, mungkin yang perlu diperiksa bukan lagi isi keranjang belanja, melainkan jarak antara rasa ingin dan rasa perlu. Kadang-kadang, produk yang sedang dibutuhkan sebenarnya sudah menunggu dengan tenang di rak sendiri. [][Liora Maheswari/TBV]
Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.