Layar menemani kita hampir sepanjang hari. Notifikasi seperti tidak mengenal jeda. Rutinitas merawat diri kemudian menawarkan beberapa menit untuk benar-benar meletakkan semuanya.
Ada kebiasaan menarik yang mungkin tidak pernah direncanakan sebagai bentuk digital detox. Seseorang masuk ke kamar mandi, meninggalkan telepon genggam di meja, lalu mulai membersihkan wajah atau mencuci rambut. Selama beberapa menit, tidak ada pesan yang perlu dibalas, video yang harus ditonton, atau percakapan yang terasa perlu segera diikuti.
Rutinitas kecantikan memang semakin dekat dengan dunia digital. Kita mengenal produk baru melalui media sosial, mencari ulasan sebelum membeli, mempelajari kandungan melalui video, bahkan menemukan urutan penggunaan skincare dari orang yang mungkin tinggal ribuan kilometer jauhnya. Teknologi telah membuat pengetahuan mengenai perawatan diri jauh lebih mudah diakses daripada sebelumnya.
Namun, hubungan tersebut memiliki sisi yang menarik. Setelah dunia digital membantu kita menemukan begitu banyak cara untuk merawat diri, kegiatan merawat diri justru dapat menjadi salah satu kesempatan untuk meninggalkan dunia digital sejenak. Mencuci wajah, mandi, menggunakan pelembap, menyisir rambut, atau memakai body lotion merupakan aktivitas sederhana yang sebenarnya tidak membutuhkan layar.
Barangkali itu pula yang membuat rutinitas tersebut terasa berbeda ketika dilakukan tanpa terburu-buru. Tujuannya memang tetap merawat tubuh, tetapi ada beberapa menit ketika perhatian berpindah dari apa yang sedang dilakukan orang lain menuju apa yang sedang dirasakan oleh diri sendiri. Perubahan fokus yang sederhana itu semakin berharga ketika sebagian besar hari kita dipenuhi informasi.
Baca Juga: Mengapa Banyak Orang Mulai Memilih Membeli Lebih Sedikit Produk Kecantikan?
Ketika Merawat Diri Menjadi Jeda dari Notifikasi
Penggunaan perangkat digital telah membuat batas antara waktu aktif dan waktu istirahat semakin tipis. Sebuah pesan pekerjaan dapat tiba ketika seseorang sedang makan malam, sementara media sosial dapat terus menawarkan sesuatu untuk dilihat bahkan ketika tubuh sudah berada di tempat tidur. Kita bisa berhenti bekerja, tetapi pikiran belum tentu ikut berhenti menerima rangsangan.
Rutinitas merawat diri menawarkan pola yang berbeda karena aktivitasnya bersifat fisik dan berulang. Tangan membersihkan wajah, air menyentuh kulit, rambut disisir, atau pelembap diaplikasikan perlahan. Ketika telepon genggam tidak ikut dibawa, perhatian memiliki kesempatan untuk menetap pada satu aktivitas tanpa terus berpindah mengikuti notifikasi.
Psikolog Gloria Mark dari University of California, Irvine, melalui penelitiannya mengenai perhatian di lingkungan digital menunjukkan bagaimana perpindahan perhatian yang terus-menerus dapat berkaitan dengan stres dan kesulitan mempertahankan fokus. Dalam bukunya Attention Span, ia juga membahas bagaimana kehidupan digital membuat perhatian manusia semakin sering berpindah dalam waktu singkat. Kondisi tersebut membuat jeda dari layar menjadi relevan bukan karena teknologi harus dihindari, tetapi karena perhatian manusia juga memiliki keterbatasan.
Rutinitas kecantikan tentu tidak otomatis menjadi terapi atau menyelesaikan kelelahan digital. Namun, menjadikannya sebagai waktu tanpa layar dapat menciptakan batas kecil di dalam hari yang sangat terkoneksi. Sepuluh menit membersihkan wajah dan melakukan rutinitas malam tanpa membuka media sosial mungkin terlihat sepele, tetapi setidaknya ada sepuluh menit ketika otak tidak diminta mengikuti percakapan baru.
Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. melihat konsistensi sebagai bagian penting dalam rutinitas perawatan diri. Produk tidak perlu digunakan dalam tahapan yang terlalu rumit apabila kebutuhan kulit sebenarnya dapat dipenuhi dengan rutinitas yang lebih sederhana. Ketika jumlah tahapan lebih masuk akal, perawatan juga lebih mudah dijalankan dengan tenang dan tidak berubah menjadi kewajiban baru yang melelahkan.
Baca Juga: Bagaimana Tren Minimalisme Mengubah Rutinitas Kecantikan
Dari Ritual Kecantikan Menuju Ruang yang Lebih Personal
Ada ironi kecil dalam perkembangan industri kecantikan hari ini. Media sosial membuat rutinitas skincare menjadi semakin terlihat, tetapi proses merawat diri sebenarnya merupakan pengalaman yang sangat personal. Kulit yang disentuh, rambut yang dirawat, dan tubuh yang dibersihkan adalah tubuh sendiri, bukan sesuatu yang harus selalu diperlihatkan atau dibandingkan dengan orang lain.
Ketika layar diletakkan, aktivitas tersebut dapat kembali kepada fungsi dasarnya. Kita mulai memperhatikan apakah kulit terasa lebih kering dari biasanya, apakah kulit kepala sedang tidak nyaman, atau apakah tubuh sebenarnya sudah terlalu lelah untuk melakukan rutinitas panjang. Perhatian seperti ini sulit muncul ketika tangan mengoleskan pelembap sementara mata masih mengikuti video pendek di layar.
Konsep mindfulness juga mengenal latihan membawa perhatian pada pengalaman yang sedang berlangsung tanpa terus mengejar rangsangan berikutnya. Rutinitas merawat diri dapat menyediakan kondisi yang mendukung kebiasaan tersebut tanpa harus diubah menjadi ritual yang rumit. Aroma sabun, suhu air, tekstur krim, dan gerakan tangan dapat menjadi hal-hal sederhana yang membantu perhatian kembali pada pengalaman fisik yang sedang terjadi.
Menariknya, pendekatan ini juga dapat mengubah hubungan kita dengan produk kecantikan. Produk tidak lagi hanya menjadi sesuatu yang dibeli setelah melihat rekomendasi atau tren, tetapi digunakan karena benar-benar memiliki fungsi dalam kehidupan sehari-hari. Rutinitas menjadi lebih sedikit tentang apa yang sedang digunakan orang lain dan lebih banyak tentang apa yang terasa sesuai bagi diri sendiri.
Dunia digital tentu tidak perlu dijadikan musuh agar kita dapat merawat diri dengan lebih tenang. Ia telah memberi akses pada pengetahuan, komunitas, dan berbagai inovasi yang sebelumnya sulit ditemukan. Namun, mungkin tidak semua menit dalam kehidupan perlu ditemani layar. Ketika pintu kamar mandi ditutup dan telepon genggam tertinggal di luar, rutinitas kecantikan yang sederhana bisa berubah menjadi sesuatu yang semakin langka: beberapa menit ketika kita tidak perlu melihat kehidupan siapapun selain kehidupan sendiri. [][Liora Maheswari/TBV]
Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.