Peluncuran buku dalam sebuah seminar ilmiah bukanlah hal yang baru. Namun, Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran memilih pendekatan yang berbeda saat memperkenalkan Cosmeticverse dalam Seminar Kosmetik 2026.
Alih-alih menerbitkan satu buku atau beberapa referensi yang berdiri sendiri, mereka meluncurkan lima buku yang dirancang sebagai satu kesatuan perjalanan ilmu untuk menjelaskan bagaimana sebuah produk kosmetik lahir, berkembang, hingga akhirnya dipercaya oleh masyarakat.
Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Selama ini, literatur kosmetik umumnya membahas satu bidang secara terpisah. Ada buku yang mengulas formulasi, ada yang membahas bahan alam, ada pula yang berfokus pada regulasi atau sistem mutu. Pendekatan seperti ini memang memperdalam satu disiplin ilmu, tetapi sering kali membuat pembaca kesulitan melihat keterkaitan antarbidang dalam industri kosmetik.
Padahal, dunia kosmetik bekerja sebagai sebuah sistem. Sebuah produk tidak pernah lahir hanya dari laboratorium, tidak pula semata-mata dari ruang produksi. Di balik satu produk yang akhirnya sampai ke tangan konsumen terdapat perjalanan panjang yang melibatkan ilmu dasar, eksplorasi bahan baku, penelitian, formulasi, pengujian, sistem mutu, hingga pemahaman terhadap kebutuhan pasar.
Melalui Cosmeticverse, perjalanan tersebut diterjemahkan menjadi lima buku yang saling melengkapi. Bukan untuk dibaca secara terpisah, tetapi sebagai sebuah peta pengetahuan yang memperlihatkan bagaimana seluruh proses dalam industri kosmetik saling terhubung.
Baca Juga: Fakultas Farmasi Unpad Perkenalkan Cosmeticverse, Ekosistem Baru Penghubung Dunia Kosmetik Indonesia
Ketika Lima Buku Menjadi Satu Narasi
Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Keri Lestari, M.Si., S.Si., Apt., menyebut kelima buku itu bukan sekadar kumpulan referensi akademik.
"Kelima buku ini membentuk sebuah narasi yang saling melengkapi. Bukan sekadar kumpulan referensi, melainkan sebuah peta pengetahuan yang menghubungkan sains, inovasi, formulasi, kualitas, dan masa depan industri kosmetik Indonesia," ujarnya.
Pernyataan tersebut menjelaskan filosofi yang membedakan Cosmeticverse dari peluncuran buku pada umumnya. Fokusnya bukan pada masing-masing judul, melainkan pada hubungan antarbuku yang membentuk satu alur berpikir utuh. Pembaca diajak memahami bahwa setiap tahapan dalam industri kosmetik memiliki keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan.
Analisis Redaksi Beautyversity melihat pendekatan ini sebagai upaya membangun cara belajar yang lebih menyeluruh. Selama ini, banyak orang mengenal kosmetik hanya dari produk yang sudah tersedia di rak toko atau marketplace. Cosmeticverse justru mengajak pembaca berjalan ke arah sebaliknya, dimulai dari fondasi ilmu pengetahuan hingga produk siap digunakan oleh konsumen.
Dimulai dari Memahami Dunia Kosmetik
Perjalanan itu dibuka melalui Dunia Kosmetik karya Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., Dr. apt. Soraya Ratnawulan Mita, M.Si., dan Wendra Wilendra, M.MT. yang memperkenalkan pembaca pada lanskap industri kosmetik modern. Buku ini menjelaskan konsep dasar, ekosistem, dinamika industri, hingga berbagai pihak yang terlibat dalam perjalanan sebuah produk. Ia menjadi pintu masuk sebelum pembaca mempelajari tahapan yang lebih spesifik.
Setelah memahami gambaran besarnya, pembaca diajak melihat salah satu kekuatan terbesar Indonesia melalui Indonesian Phytocosmetic Atlas. Buku yang ditulis Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., Prof. Dr. rer. nat Anis Yohana Chaerunisaa, M.Si., Apt., dan Wendra Wilendra, M.MT. ini memetakan kekayaan biodiversitas Indonesia sebagai sumber bahan baku kosmetik dan memperlihatkan bagaimana tanaman lokal memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bahan aktif berbasis riset ilmiah.
Tahapan berikutnya dijelaskan melalui The Phytocosmetic Journey. Dalam buku ini, Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., Prof. Dr. apt. Sriwidodo, M.Si., dan Wendra Wilendra, M.MT. menggambarkan perjalanan ilmiah yang harus ditempuh sebelum bahan alam benar-benar dapat menjadi bagian dari sebuah produk kosmetik. Mulai dari eksplorasi, penelitian, pengembangan formulasi, hingga proses penerapannya sebagai produk yang memiliki nilai tambah.
Dari Ide Menjadi Produk
Perjalanan tersebut kemudian memasuki fase pengembangan melalui The Cosmetic Code. Di sinilah pembaca diajak memahami bagaimana sebuah ide diterjemahkan menjadi produk kosmetik melalui formulasi, teknologi, inovasi, serta pemahaman terhadap kebutuhan konsumen. Buku yang disusun oleh Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., Prof. Dr. Keri Lestari M.Si., S.Si., Apt., dr. Diah Puspitosari, Sp.DVE., dan Wendra Wilendra, M.MT. ini memperlihatkan bahwa keberhasilan sebuah produk tidak hanya ditentukan oleh bahan aktif yang digunakan, tetapi juga oleh proses ilmiah yang menghubungkan berbagai disiplin ilmu.
Namun Cosmeticverse tidak berhenti ketika produk selesai diformulasikan. Tahapan terakhir justru mengangkat aspek yang sering luput dari perhatian publik, yaitu kualitas. Melalui The Invisible Quality, pembaca diperkenalkan pada budaya mutu, penerapan CPKB, integritas data, dan sistem kualitas yang menjadi fondasi kepercayaan dalam industri kosmetik modern. Buku karya Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., Prof. Dr. apt. Yoga Windhu Wardhana, S.Si., M.Si., dan Wendra Wilendra, M.MT. ini mengingatkan bahwa kualitas terbaik sering kali tidak terlihat oleh konsumen, tetapi selalu menentukan keamanan dan konsistensi sebuah produk.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan sebuah produk kosmetik jauh lebih kompleks daripada yang tampak di permukaan. Produk yang digunakan setiap hari merupakan hasil dari rangkaian keputusan ilmiah, pengujian, inovasi, dan pengendalian mutu yang berlangsung jauh sebelum produk hadir di etalase.
Baca Juga: Mengapa Industri Kosmetik Indonesia Membutuhkan Cosmeticverse?
Bukan Lima Buku yang Berdiri Sendiri
Bagi industri kosmetik Indonesia, pendekatan seperti ini memiliki arti penting. Pertumbuhan industri yang cepat membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya menguasai satu bidang, tetapi juga memahami hubungan antara penelitian, formulasi, produksi, kualitas, dan kebutuhan pasar. Karena itu, Cosmeticverse tidak menawarkan lima buku yang berdiri sendiri, melainkan sebuah kerangka berpikir yang menghubungkan seluruh proses tersebut.
Analisis Redaksi Beautyversity menilai bahwa inilah salah satu nilai paling menarik dari Cosmeticverse. Di tengah melimpahnya informasi tentang kosmetik, pendekatan yang menyusun pengetahuan secara runtut justru menjadi sesuatu yang semakin dibutuhkan. Bukan hanya bagi mahasiswa dan akademisi, tetapi juga bagi pelaku industri yang ingin memahami mengapa sebuah produk tidak pernah lahir dari satu disiplin ilmu saja.
Melalui lima buku tersebut, Cosmeticverse memperlihatkan bahwa kosmetik bukan sekadar tentang produk yang terlihat di tangan konsumen. Ia merupakan hasil perjalanan panjang yang dimulai dari ilmu pengetahuan, berkembang melalui penelitian, diperkuat oleh inovasi, dijaga oleh sistem mutu, dan akhirnya diterjemahkan menjadi produk yang mampu membangun kepercayaan. Itulah perjalanan yang ingin diperlihatkan Cosmeticverse kepada industri kosmetik Indonesia.
Tentang Cosmeticverse
Cosmeticverse merupakan ekosistem pengetahuan kosmetik yang diperkenalkan oleh Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran bersama Program Studi Rekayasa Kosmetik, LABCOS, Ray Academy, PT Baleide, dan berbagai mitra industri. Melalui pendekatan yang menghubungkan pendidikan, riset, teknologi, artificial intelligence, kewirausahaan, dan industri, Cosmeticverse bertujuan membangun fondasi pengetahuan yang lebih kuat bagi perkembangan kosmetik Indonesia. [][Eva Evilia/TBV]