BeautyNews

Skincare Terlalu Lama Berbicara tentang Bahan Aktif, Bagaimana Jika Kita Mulai dari Kulit?

Admin Beautyversity Admin Beautyversity
14 views
Skincare Terlalu Lama Berbicara tentang Bahan Aktif, Bagaimana Jika Kita Mulai dari Kulit?

Bahan aktif sering menjadi awal percakapan tentang skincare. Di Cosmobeauté Indonesia 2026, Prof. Keri Lestari justru mengajak melihat sesuatu yang lebih besar: kulit.

Industri kecantikan punya kebiasaan yang mudah dikenali. Ketika sebuah produk baru diperkenalkan, salah satu pertanyaan pertama biasanya adalah kandungannya: niacinamide berapa persen, memakai peptide apa, mengandung ceramide jenis apa, atau bahan aktif baru apa yang sedang ditawarkan. Cara berpikir seperti itu tidak salah, tetapi mungkin belum menceritakan seluruh persoalan.

Di BeautéSpot, Cosmobeauté Indonesia 2026, Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si. membawa pembicaraan tentang skincare ke arah yang sedikit berbeda. Alih-alih berhenti pada pertanyaan tentang ingredient, ia mengajak audiens melihat kulit sebagai sebuah sistem biologis yang hidup. Dalam kerangka tersebut, skin barrier, lipid, hidrasi, respons imun, paparan lingkungan, dan komunitas mikroba tidak berdiri sendiri, melainkan terus berinteraksi.

Cara pandang itu membuat skin microbiome menjadi lebih menarik sekaligus lebih rumit. Mikroorganisme yang hidup di kulit bukan sekadar lapisan tambahan yang dapat dipisahkan dari bagian lainnya. Kondisinya berhubungan dengan pH, sebum, hidrasi, barrier, lingkungan, hingga biologi tubuh yang menjadi tempat mereka hidup.

Literatur ilmiah terbaru bergerak ke arah serupa. Sebuah ulasan di Journal of Clinical Investigation menggambarkan kulit sebagai penghalang fisik sekaligus habitat bagi bakteri dan fungi komensal, dengan interaksi mikroba yang berkaitan dengan respons imun, komunitas mikroba, dan integritas epidermis. Kajian lain pada 2026 juga menempatkan microbiome, sistem imun, dan skin barrier sebagai sumbu yang saling berhubungan.

Baca Juga: Cosmeticverse Bukan Proyek Seminar, Tetapi Gerakan Pengetahuan

Ketika ‘Bakteri Baik’ dan ‘Bakteri Jahat’ Tidak Lagi Cukup


Popularitas microbiome skincare membawa kosakata baru ke rak kosmetik: prebiotic, probiotic, postbiotic, hingga microbiome-friendly. Masalahnya, bahasa pemasaran cenderung menyukai cerita yang sederhana. Mikroorganisme akhirnya mudah dibagi menjadi ‘baik’ dan ‘jahat’, seolah kesehatan kulit cukup ditentukan dengan menambah kelompok pertama dan menyingkirkan kelompok kedua.

Padahal, materi Prof. Keri menunjukkan persoalan yang lebih kontekstual. Mikroorganisme yang sama dapat berperilaku berbeda bergantung pada strain, lokasi kulit, kondisi barrier, pH, sebum, imunitas tubuh, dan lingkungan. Bahkan keragaman mikroba yang lebih tinggi tidak otomatis berarti kulit lebih sehat, karena area berminyak, lembap, dan kering secara alami memiliki komposisi komunitas mikroba yang berbeda.

Di sinilah istilah dysbiosis juga perlu digunakan dengan hati-hati. Perubahan komposisi mikroba tidak otomatis membuktikan adanya gangguan, apalagi membuktikan bahwa perubahan tersebut menjadi penyebab masalah kulit. Literatur terkini pun masih menekankan adanya variasi antarmanusia, persoalan standardisasi metode, dan ketidakpastian hubungan sebab-akibat dalam menerjemahkan temuan microbiome ke praktik klinis.

Konsekuensinya cukup menarik bagi konsumen. Memikirkan microbiome ternyata tidak selalu berarti mencari produk yang mengandung probiotic. Dalam materi BeautéSpot, pendekatannya dapat dimulai dari sesuatu yang jauh lebih mendasar: menjaga skin barrier, mempertahankan hidrasi, menggunakan sistem pembersihan yang lembut, menjaga pH yang sesuai, dan menghindari gangguan yang tidak diperlukan terhadap lingkungan kulit.

Riset kosmetik juga belum memberi alasan untuk terburu-buru menganggap semua produk yang membawa istilah microbiome memiliki tingkat pembuktian yang sama. Ulasan ilmiah pada 2026 menemukan hasil awal yang menjanjikan pada pendekatan prebiotic, probiotic, postbiotic, dan strategi terkait, tetapi kualitas bukti masih dibatasi desain penelitian yang beragam, ukuran sampel kecil, serta belum adanya kriteria standar untuk klaim microbiome-friendly.

Baca Juga: Mengapa Budaya Mutu Menjadi Fondasi yang Tidak Terlihat dalam Industri Kosmetik?

Dari Memahami Kulit ke Membuat Produk


Pertanyaan berikutnya muncul ketika gagasan biologis tersebut harus masuk ke dalam botol. Sebuah bahan boleh saja memiliki data yang menarik mengenai microbiome, tetapi produk kosmetik bukan bahan tunggal. Ada konsentrasi, pH, sistem pengawet, stabilitas, interaksi antarbahan, kemasan, cara penggunaan, hingga proses produksi yang dapat menentukan apa yang terjadi setelah bahan tersebut menjadi formula utuh.

Pada titik inilah perspektif Prof. Keri bertemu dengan apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., dalam materi yang menjadi dasar pembahasan Beautyversity. Pertanyaan biologis mengenai apa yang terjadi pada kulit harus bertemu dengan pertanyaan formulasi: bagaimana gagasan tersebut diterjemahkan menjadi produk yang stabil, aman, dapat diproduksi, dan dapat diuji. Materi tersebut menempatkan hubungan riset dan formulasi sebagai rangkaian, bukan dua dunia yang berjalan sendiri-sendiri.

Persoalan itu menjadi semakin jelas ketika berbicara tentang probiotic. Menggunakan mikroorganisme hidup membawa tantangan mengenai viabilitas, pengawetan, penyimpanan, pengendalian kontaminasi, stabilitas, dan keamanan. Ulasan ilmiah terbaru mengenai formulasi probiotic skincare juga mencatat bahwa banyak produk komersial justru menggunakan derivat mikroba nonhidup, antara lain karena tantangan formulasi, regulasi, dan stabilitas tersebut.

Ada konsekuensi lain yang tidak kalah penting: bukti mengenai sebuah bahan tidak otomatis menjadi bukti mengenai produk jadi. Jika bahan baku menunjukkan aktivitas tertentu terkait microbiome, data tersebut menjelaskan bahan pada kondisi pengujiannya. Setelah masuk ke formula, konsentrasi, pH, pengawet, stabilitas, delivery, kemasan, dan interaksi dengan bahan lain ikut berubah, sehingga klaim produk jadi tetap membutuhkan bukti yang relevan terhadap produk dan klaim tersebut.

Di sinilah gagasan ecosystem intelligence menjadi lebih dari istilah baru. Ia menawarkan cara berpikir yang bergerak dari pemahaman biologis menuju hipotesis produk, strategi bahan, formulasi, validasi, lalu produk. Bukan berarti ingredient menjadi tidak penting, melainkan bahan aktif ditempatkan kembali sebagai salah satu bagian dari sistem yang jauh lebih besar.

Perubahan perspektif ini mungkin juga relevan untuk membaca ke mana inovasi skincare bergerak. Selama bertahun-tahun, persaingan mudah terlihat seperti perlombaan menemukan bahan berikutnya yang dapat menjadi pusat cerita sebuah produk. Sementara itu, ilmu tentang kulit justru semakin memperlihatkan hubungan yang lebih kompleks antara barrier, mikroba, sistem imun, lingkungan, dan karakter biologis masing-masing individu.

Mungkin pertanyaan tentang kandungan tidak perlu ditinggalkan. Yang perlu berubah adalah apa yang ditanyakan setelahnya. Setelah mengetahui bahan apa yang berada di dalam sebuah produk, percakapan dapat bergerak menuju pertanyaan yang lebih penting: bagaimana bahan itu bekerja di dalam formula, bagaimana formula berinteraksi dengan kulit, dan seberapa jauh hasil yang dijanjikan benar-benar telah dibuktikan.

Jika arah itu terus berkembang, masa depan skincare mungkin tidak ditentukan hanya oleh siapa yang menemukan bahan paling menarik berikutnya. Kemajuannya bisa datang dari kemampuan memahami sistem tempat semua bahan tersebut bekerja. Dari sana, percakapan kecantikan tidak lagi berhenti pada apa yang ada di dalam botol, tetapi mulai kembali kepada kulit yang akan menerimanya. [][Tim Beautyversity/TBV]

Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.


Bagikan artikel ini:
Admin Beautyversity

Admin Beautyversity

Penulis di Beautyversity

Lihat Semua Artikel