Tag

Skincare

Jelajahi artikel dengan tag Skincare

Tanya Dong: Apakah Skincare Tetap Perlu Dipakai Saat Seharian Berada di Dalam Rumah?
TanyaDong

14 Okt 2026

Tanya Dong: Apakah Skincare Tetap Perlu Dipakai Saat Seharian Berada di Dalam Rumah?

Seharian di rumah tanpa terkena panas matahari langsung mungkin terasa aman bagi kulit. Tetapi, apakah itu berarti skincare boleh dilewatkan?Bekerja dari rumah, menghabiskan akhir pekan di kamar, atau sekadar menikmati hari tanpa bepergian sering membuat rutinitas perawatan kulit terasa kurang penting. Tidak ada polusi jalanan yang harus dihadapi secara langsung, tidak menggunakan makeup, dan sebagian besar waktu dihabiskan dalam ruangan. Karena itu, muncul anggapan bahwa kulit bisa beristirahat dengan tidak menggunakan produk apa pun.Anggapan tersebut terdengar masuk akal, terutama ketika skincare sering dikaitkan dengan perlindungan terhadap lingkungan luar. Padahal, kulit tetap menjalankan berbagai fungsi biologis meskipun tubuh tidak meninggalkan rumah. Lapisan pelindung kulit terus bekerja mempertahankan kelembapan, sementara kehilangan air melalui permukaan kulit tetap berlangsung.Artinya, kebutuhan perawatan kulit tidak sepenuhnya ditentukan oleh seberapa sering seseorang beraktivitas di luar ruangan. Kondisi kulit, lingkungan tempat tinggal, kebiasaan membersihkan wajah, dan paparan sinar matahari dari jendela juga perlu diperhitungkan. Rutinitas yang digunakan mungkin bisa disederhanakan, tetapi bukan berarti seluruh perawatan otomatis menjadi tidak diperlukan.Pertanyaan yang lebih tepat sebenarnya bukan apakah semua produk harus tetap digunakan. Yang perlu dipahami adalah produk mana yang masih mempunyai fungsi relevan ketika aktivitas sehari-hari berlangsung di dalam rumah. Jawabannya bisa berbeda antara pembersih wajah, pelembap, tabir surya, dan produk berbahan aktif tertentu.Baca Juga: Tanya Dong: Bisakah Warna Kulit yang Berbeda karena Bekas Luka Kembali Merata?Di Dalam Rumah, Kulit Tetap Membutuhkan PerawatanSalah satu fungsi penting perawatan kulit adalah membantu mempertahankan kondisi skin barrier. Lapisan ini berperan mengurangi kehilangan air sekaligus melindungi kulit dari berbagai faktor lingkungan. Ketika kelembapannya terganggu, kulit dapat terasa kering, tertarik, kasar, atau lebih mudah mengalami iritasi.Berada di dalam rumah tidak selalu berarti lingkungan lebih bersahabat bagi kulit. Penggunaan pendingin ruangan, misalnya, dapat berkaitan dengan kondisi udara yang lebih kering, terutama jika kelembapan ruangan rendah. Pada orang dengan kulit yang mudah kering, keadaan tersebut dapat meningkatkan kebutuhan terhadap pelembap.Dilansir dari American Academy of Dermatology [AAD], dokter spesialis kulit Dr. Rebecca Kazin menjelaskan bahwa kebutuhan pelembap tidak bisa disamaratakan untuk seluruh jenis kulit. Pelembap tersedia dalam bentuk gel, losion, krim, hingga salep, dengan karakteristik yang berbeda. Pemilihannya perlu mempertimbangkan jenis kulit serta tingkat kekeringan yang dialami.Pendapat tersebut penting karena kebutuhan pelembap tidak menghilang hanya karena seseorang tidak bepergian. Kulit yang cenderung kering mungkin tetap membutuhkan krim untuk membantu mempertahankan air. Sementara itu, kulit berminyak dapat lebih nyaman menggunakan pelembap bertekstur ringan atau menyesuaikan penggunaannya dengan kondisi kulit.Bagaimana dengan pembersih wajah? Walaupun tidak menggunakan makeup, permukaan kulit tetap menghasilkan sebum dan dapat mengalami penumpukan keringat serta kotoran dari aktivitas sehari-hari. Pembersihan tetap relevan, tetapi frekuensi dan jenis produk sebaiknya disesuaikan agar tidak membuat kulit terlalu kering.Baca Juga: Tanya Dong: Perlukah Memberi Jeda antara Satu Produk Skincare dan Produk Berikutnya?Apakah Sunscreen Juga Harus Dipakai di Dalam Rumah?Bagian ini sering menimbulkan perdebatan karena tidak semua ruangan memiliki tingkat paparan matahari yang sama. Kaca jendela biasa umumnya menghalangi sebagian besar radiasi UVB, tetapi sejumlah radiasi UVA masih dapat menembusnya. Karena itu, duduk berjam-jam di dekat jendela yang terkena sinar matahari berbeda dari menghabiskan hari di ruangan tertutup tanpa paparan cahaya matahari langsung.Dikutip dari Allure, dokter spesialis kulit Dr. Ava Shamban menjelaskan bahwa paparan UVA dapat terjadi di dalam ruangan karena radiasi tersebut mampu melewati kaca. UVA berkaitan dengan kerusakan kulit akibat paparan matahari, termasuk perubahan pigmentasi dan tanda penuaan dini. Dengan demikian, keberadaan atap dan dinding tidak selalu menghilangkan kebutuhan perlindungan matahari.Meski begitu, kebutuhan tabir surya di dalam rumah tetap perlu mempertimbangkan situasi. Seseorang yang bekerja tepat di samping jendela dengan paparan matahari kuat mempunyai risiko paparan berbeda dibandingkan orang yang berada jauh dari jendela sepanjang hari. Jika hampir tidak ada paparan UV yang berarti, penggunaan ulang tabir surya setiap dua jam tidak memiliki urgensi yang sama seperti ketika beraktivitas di luar ruangan.AAD merekomendasikan tabir surya berspektrum luas dengan SPF minimal 30 untuk melindungi kulit dari paparan UV. Perlindungan tersebut terutama penting ketika seseorang akan keluar rumah, beraktivitas di area terbuka, atau berada dalam kondisi yang memungkinkan paparan matahari cukup besar. Untuk kegiatan di dekat jendela yang terkena matahari, tabir surya juga patut dipertimbangkan.Lalu, apakah serum, exfoliating toner, dan produk perawatan tambahan harus tetap digunakan? Tidak semua produk tersebut merupakan kebutuhan dasar setiap orang. Produk berbahan aktif dapat tetap digunakan sesuai tujuan dan toleransi kulit, tetapi rutinitas yang terlalu banyak justru dapat meningkatkan risiko iritasi apabila tidak disesuaikan dengan kondisi kulit.Rutinitas sederhana sering kali sudah memadai untuk kebutuhan dasar. Pembersih yang lembut dapat digunakan sesuai kebutuhan, pelembap membantu mempertahankan hidrasi, sedangkan tabir surya disesuaikan dengan kemungkinan paparan UV. Produk tambahan sebaiknya dipilih berdasarkan masalah kulit yang ingin ditangani, bukan semata-mata karena merasa harus menjalankan banyak tahapan perawatan.Jadi, apakah skincare tetap diperlukan saat seharian berada di rumah? Ya, perawatan dasar tetap relevan, meskipun jenis dan jumlah produk dapat disesuaikan dengan kondisi kulit serta lingkungan. Kulit tidak berhenti bekerja ketika seseorang berhenti bepergian. Karena itu, tujuan perawatan bukan mempertahankan rutinitas sepanjang mungkin, melainkan memberikan perlindungan dan dukungan yang benar-benar dibutuhkan kulit. [][Tim Beautyversity/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Mitos: Produk ‘Microbiome Friendly’ Pasti Lebih Baik untuk Kulit?
MythBuster

09 Okt 2026

Mitos: Produk ‘Microbiome Friendly’ Pasti Lebih Baik untuk Kulit?

Label microbiome friendly semakin sering muncul pada skincare. Namun, apakah produk yang mengaku ramah mikrobioma otomatis lebih baik bagi kesehatan kulit?Industri kecantikan selalu punya cara baru untuk membuat sebuah produk terdengar lebih meyakinkan. Setelah natural, clean beauty, dan dermatologically tested, kini istilah microbiome friendly ikut menghiasi kemasan skincare. Kesannya menarik karena produk tersebut seolah memahami kehidupan mikroorganisme yang menghuni kulit kita.Gagasan itu sebenarnya memiliki dasar ilmiah yang masuk akal. Permukaan kulit dihuni komunitas bakteri, jamur, virus, dan mikroorganisme lain yang berinteraksi dengan kondisi biologis kulit. Namun, keberadaan mikrobioma tidak berarti setiap produk yang mengklaim ramah terhadapnya otomatis memberikan manfaat lebih besar.Persoalannya terletak pada makna kata 'ramah' itu sendiri. Apakah produk tidak mengubah jumlah mikroorganisme, mempertahankan keragamannya, mendukung fungsi skin barrier, atau membantu kondisi kulit tertentu? Keempat kemungkinan tersebut tidak selalu mengukur hal yang sama.Dalam pembahasan mengenai ecosystem intelligence di BeautéSpot, Cosmobeauté Indonesia 2026, Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si. menempatkan mikrobioma sebagai bagian dari sistem biologis yang lebih luas. Mikroorganisme hidup dalam hubungan dengan skin barrier, hidrasi, lipid, respons imun, dan lingkungan. Karena itu, kualitas suatu produk tidak cukup dinilai hanya dari pengaruhnya terhadap satu kelompok mikroorganisme.Baca Juga: Mitos: Pori-Pori Kulit Bisa Dibuka dan DitutupLabel yang Meyakinkan Belum Tentu Menjelaskan ManfaatBayangkan sebuah produk mengklaim mampu mempertahankan keseimbangan mikrobioma karena mengandung prebiotic. Produk lain menggunakan postbiotic, sedangkan produk ketiga menonjolkan formulanya yang lembut terhadap kulit. Ketiganya mungkin memakai pendekatan berbeda, tetapi dapat sama-sama dipasarkan dengan istilah microbiome friendly.Padahal, prebiotic, probiotic, dan postbiotic memiliki karakter biologis serta tantangan formulasi yang berbeda. Keberadaan salah satu bahan tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa produk jadi lebih baik bagi mikrobioma. Tanpa pengujian yang relevan, hubungan antara bahan, perubahan mikroba, dan manfaat kulit masih perlu dibuktikan.Kesulitan lainnya adalah belum tersedianya satu definisi dan metode pengujian universal yang disepakati untuk menentukan apakah suatu kosmetik benar-benar microbiome friendly. Komunitas mikroorganisme pada kulit juga berbeda menurut lokasi tubuh, kondisi kulit, usia, dan lingkungan. Karena itu, satu ukuran yang dianggap baik pada kondisi tertentu belum tentu berlaku pada kondisi lainnya.Bahkan perubahan jumlah mikroorganisme belum tentu menunjukkan manfaat. Misalnya, setelah menggunakan suatu produk, populasi relatif bakteri tertentu meningkat dibandingkan sebelum pemakaian. Temuan tersebut masih membutuhkan penjelasan mengenai durasi perubahan, fungsi biologisnya, kondisi barrier, dan hasil yang benar-benar terukur pada kulit.Perspektif Prof. Keri membantu memperjelas persoalan tersebut. Dalam pendekatan ekosistem yang dibahasnya, perhatian tidak berhenti pada komposisi mikroba, tetapi mencakup bagaimana komunitas tersebut berinteraksi dengan kondisi kulit. Artinya, perubahan mikrobioma perlu ditafsirkan dalam konteks biologis, bukan langsung diterjemahkan menjadi keberhasilan produk.Baca Juga: Mitos: Produk yang Terasa Perih Berarti Sedang BekerjaProduk yang Baik Tidak Cukup Hanya Mengandalkan KlaimKetika konsep mikrobioma dibawa ke pengembangan kosmetik, persoalannya menjadi lebih rumit. Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., melalui perspektif formulasi dan pengembangan produk yang dibahas dalam forum yang sama, menyoroti pentingnya mempertimbangkan pH, sistem pengawet, stabilitas, kompatibilitas bahan, kemasan, serta keamanan mikrobiologis. Bahan yang menjanjikan secara biologis belum tentu memberikan hasil serupa setelah menjadi produk jadi.Pengawet merupakan contoh menarik. Karena memiliki aktivitas antimikroba, bahan ini terkadang dianggap bertentangan dengan gagasan kosmetik ramah mikrobioma. Padahal, sistem pengawetan dibutuhkan untuk mencegah kontaminasi mikroorganisme yang dapat membahayakan pengguna, terutama pada formula berbasis air.Karena itu, menghilangkan pengawet bukan otomatis langkah yang lebih baik bagi kulit. Yang perlu dinilai adalah bagaimana sistem pengawetan bekerja dalam keseluruhan formula, apakah produk tetap aman, dan apakah terdapat bukti yang mendukung klaim terkait mikrobioma. Keamanan produk dan perhatian terhadap ekosistem kulit seharusnya dipertimbangkan bersama, bukan dipertentangkan.Menariknya, produk tanpa label microbiome friendly pun dapat relevan bagi lingkungan mikroba kulit. Pembersih yang tidak terlalu agresif, pelembap yang membantu hidrasi, dan formula yang mendukung skin barrier dapat memengaruhi kondisi habitat mikroorganisme secara tidak langsung. Meski demikian, manfaat terhadap barrier juga tidak boleh otomatis dipromosikan sebagai manfaat mikrobioma tanpa bukti yang sesuai.Di sinilah pentingnya membedakan bukti bahan dengan bukti produk jadi. Sebuah bahan mungkin menunjukkan aktivitas terhadap mikroorganisme dalam penelitian, tetapi konsentrasi, pH, bahan lain, proses produksi, dan stabilitas dapat mengubah perilakunya setelah diformulasikan. Klaim terhadap produk jadi semestinya didukung pengujian yang relevan terhadap produk tersebut, bukan hanya mengandalkan reputasi salah satu bahannya.Lantas, apakah produk microbiome friendly layak dipilih? Tentu bisa, sepanjang formulanya sesuai kebutuhan kulit dan klaimnya mempunyai dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun, label tersebut bukan jaminan bahwa produknya lebih unggul daripada kosmetik lain yang tidak menggunakan istilah serupa.Kemajuan ilmu mikrobioma seharusnya membuat konsumen semakin kritis, bukan semakin mudah terpikat istilah ilmiah. Produk yang baik perlu dinilai dari keamanan, mutu formulasi, kecocokan dengan kebutuhan kulit, serta manfaat yang didukung bukti. Sebab, yang membuat sebuah kosmetik lebih baik bukan seberapa ilmiah labelnya terdengar, melainkan seberapa jauh manfaat yang dijanjikannya benar-benar dapat dibuktikan. [][Rudi Tenggarawan/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Bisakah Skincare Mengubah Mikrobioma Kulit?
SkinCare

07 Okt 2026

Bisakah Skincare Mengubah Mikrobioma Kulit?

Produk yang dipakai setiap hari memang dapat berinteraksi dengan mikrobioma kulit. Namun, perubahan belum tentu berarti gangguan, dan belum tentu pula berarti manfaat.Kulit tidak pernah benar-benar kosong. Di permukaannya hidup komunitas mikroorganisme yang terus berinteraksi dengan skin barrier, pH, sebum, hidrasi, sistem imun, lingkungan, dan kondisi biologis pemiliknya. Karena itu, setiap produk yang diaplikasikan ke kulit berpotensi ikut memengaruhi lingkungan tempat komunitas tersebut hidup.Namun, kata ‘memengaruhi’ perlu dibaca dengan hati-hati. Pembersih dapat mengurangi sebagian mikroorganisme untuk sementara, pelembap dapat mengubah kadar air dan kondisi permukaan kulit, sedangkan perubahan pH, lipid, surfaktan, bahan aktif, hingga efek oklusif juga dapat menggeser lingkungan mikroba. Interaksi semacam itu memang mungkin terjadi, tetapi interaksi tidak otomatis berarti gangguan. Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si. menempatkan mikrobioma sebagai bagian dari ekosistem kulit yang lebih luas, bukan sebagai entitas yang berdiri sendiri. Dalam kerangka tersebut, mikrobioma perlu dibaca bersama barrier, hidrasi, lipid, respons imun, dan lingkungan. Karena itu, perubahan pada satu bagian sistem tidak selalu bisa ditafsirkan sendirian. Pendekatan ini penting karena bahasa pemasaran sering membuat persoalan terdengar terlalu sederhana. Produk disebut ‘menjaga mikrobioma’, ‘menyeimbangkan mikrobioma’, atau ‘ramah mikrobioma’, tetapi perubahan biologis yang terjadi pada kulit tidak selalu dapat diterjemahkan langsung menjadi manfaat yang terasa.Baca Juga: Apakah Kulit Memiliki Mikrobioma yang 'Ideal'?Pembersih dan Pelembap Sama-Sama Bisa Mengubah Lingkungan MikrobaPembersihan adalah salah satu intervensi paling langsung terhadap ekosistem kulit. Cleanser bekerja mengangkat sebum, kotoran, tabir surya, makeup, partikel lingkungan, dan sebagian mikroorganisme. Pada saat yang sama, pembersihan juga dapat memengaruhi lipid kulit, hidrasi, pH, protein barrier, dan komunitas mikroba.Karena itu, pembersihan yang lebih kuat belum tentu berarti pembersihan yang lebih baik. Dari perspektif ekosistem, pertanyaan yang lebih relevan adalah apakah produk membersihkan sesuai kebutuhan tanpa menimbulkan gangguan yang tidak diperlukan. Prinsip mildness menjadi penting karena tujuan perawatan bukan mensterilkan permukaan kulit. Pelembap juga dapat memengaruhi mikrobioma secara tidak langsung. Produk tidak harus mengandung probiotic atau prebiotic untuk berinteraksi dengan lingkungan mikroba. Dengan membantu hidrasi dan mendukung kondisi skin barrier, pelembap dapat mengubah kadar air, lipid, TEWL, dan karakter permukaan tempat mikroorganisme hidup. Prof. Keri menekankan bahwa mendukung barrier juga berarti mendukung lingkungan tempat mikrobioma berada. Gagasan ini menggeser fokus dari pertanyaan “bakteri apa yang perlu ditambahkan?” menjadi “lingkungan seperti apa yang perlu dipertahankan agar ekosistem kulit tetap dapat berfungsi dengan baik?”. Artinya, microbiome-informed skincare tidak identik dengan produk yang secara khusus membawa label microbiome ingredient. Produk yang menjaga hidrasi, menggunakan sistem pembersihan yang lembut, mempertahankan pH yang sesuai, atau menghindari gangguan berlebihan terhadap barrier juga dapat relevan terhadap konteks mikrobioma. Baca Juga: Mengapa Area Hidung dan Dagu Sering Memiliki Tekstur yang Lebih Terlihat?Mengubah Mikrobioma Belum Tentu Berarti Produk BekerjaDi sinilah batas antara sains dan klaim pemasaran menjadi penting. Misalnya, sebuah penelitian menemukan bahwa setelah menggunakan produk tertentu, kelimpahan relatif mikroorganisme A meningkat 15 persen. Angka itu terdengar menarik, tetapi belum cukup untuk mengatakan bahwa kulit menjadi lebih sehat.Masih perlu ditanyakan apakah perubahan tersebut signifikan, apakah bertahan, apakah ada konsekuensi fungsional, apakah barrier membaik, dan apakah terdapat hasil yang dapat diukur pada kulit. Dengan kata lain, microbiome endpoint dan skin-benefit endpoint adalah dua hal berbeda. Perubahan belum tentu berarti manfaat. Sementara itu, Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. membawa persoalan ini ke wilayah formulasi. Menurut kerangka pengembangan produk yang dibahasnya, formulasi tidak hanya perlu mempertimbangkan bahan yang ingin digunakan, tetapi juga pH, kekuatan pembersihan, sistem pengawet, dukungan terhadap lipid barrier, tingkat mildness, stabilitas, kemasan, serta bukti yang dibutuhkan untuk mendukung klaim. Pengawet menjadi contoh yang sangat jelas. Karena memiliki aktivitas antimikroba, pengawet sering dicurigai buruk bagi mikrobioma. Padahal, produk berbasis air tetap membutuhkan sistem pengawetan yang memadai agar tidak menjadi tempat tumbuh mikroorganisme yang justru dapat membahayakan pengguna. Karena itu, pertanyaannya bukan apakah pengawet ‘baik’ atau ‘buruk’ bagi mikrobioma secara mutlak. Jenis pengawet, konsentrasi, formula, frekuensi paparan, cara penggunaan, dan data pada produk jadi tetap perlu diperhitungkan. Dari perspektif formulasi, tantangannya adalah membuat produk yang aman secara mikrobiologis, stabil, sesuai tujuan, dan memiliki bukti yang relevan jika ingin membawa klaim terkait mikrobioma. Hal yang sama berlaku untuk bahan yang disebut baik bagi mikrobioma. Bukti pada satu bahan baku belum otomatis menjadi bukti bahwa produk akhirnya mempunyai efek yang sama. Setelah masuk ke formula, konsentrasi, pH, bahan lain, sistem pengawet, proses produksi, stabilitas, kemasan, dan pola penggunaan dapat mengubah perilakunya. Jadi, skincare memang dapat mengubah lingkungan mikrobioma kulit. Tetapi perubahan itu baru memiliki makna ketika dibaca bersama fungsi barrier, kondisi kulit, durasi perubahan, kemampuan ekosistem untuk pulih, dan hasil yang benar-benar dapat diukur. Pertanyaan yang lebih berguna bukan sekadar “apakah mikrobioma berubah?”, melainkan “apa yang berubah, seberapa lama, dan apakah perubahan itu benar-benar membawa manfaat bagi kulit?” [][Eva Evilia/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Apakah Kulit Memiliki Mikrobioma yang 'Ideal'?
SkinCare

06 Okt 2026

Apakah Kulit Memiliki Mikrobioma yang 'Ideal'?

Kulit sehat sering dibayangkan memiliki mikrobioma yang seimbang. Namun, adakah satu komposisi mikroorganisme yang benar-benar bisa disebut ideal?Pembicaraan tentang skin microbiome membawa kosakata baru ke dunia skincare. Ada bakteri baik, keseimbangan mikrobioma, microbiome-friendly, hingga produk yang diklaim membantu menjaga ekosistem kulit. Dari sana mudah muncul bayangan bahwa kulit sehat seharusnya mempunyai komposisi mikroorganisme tertentu yang dapat dijadikan standar.Masalahnya, kulit manusia tidak bekerja seperti akuarium yang bisa diisi dengan kombinasi organisme dalam jumlah yang dianggap paling tepat. Mikrobioma kulit terdiri atas komunitas mikroorganisme yang hidup pada lingkungan biologis berbeda-beda. Kondisi tersebut dipengaruhi lokasi kulit, sebum, kelembapan, pH, skin barrier, respons imun, lingkungan, hingga karakter biologis pemilik kulit.Studi Grice dan kolega yang dipublikasikan dalam Science pada 2009 menunjukkan bahwa komunitas mikroba berbeda secara nyata berdasarkan karakter area kulit. Area yang berminyak, lembap, dan kering menyediakan habitat yang berbeda bagi mikroorganisme. Penelitian berikutnya oleh Oh dan kolega dalam Nature juga memperlihatkan kuatnya unsur individualitas dalam mikrobioma kulit.Karena itu, ilmu pengetahuan saat ini belum memiliki satu peta mikrobioma yang dapat ditetapkan sebagai kondisi ideal bagi semua orang. Dari pembahasan Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si. di BeautéSpot, Cosmobeauté Indonesia 2026, juga menempatkan mikrobioma sebagai bagian dari sistem biologis yang lebih besar. Pertanyaannya kemudian bergeser: bukan mikroorganisme apa yang harus dimiliki kulit sehat, melainkan bagaimana komunitas tersebut berinteraksi dengan kondisi kulit tempat mereka hidup.Baca Juga: Mengapa Area Hidung dan Dagu Sering Memiliki Tekstur yang Lebih Terlihat?Lebih Beragam Belum Tentu Lebih SehatSalah satu anggapan yang menarik untuk dibongkar adalah gagasan bahwa semakin beragam mikroorganisme pada kulit, semakin sehat pula kulit tersebut. Dalam sejumlah ekosistem biologis, keragaman memang dapat berkaitan dengan ketahanan sistem. Namun, pada mikrobioma kulit, microbial diversity belum dapat digunakan sebagai health score universal.Area kulit yang kaya sebum, area lembap, dan area kering secara alami mempunyai struktur komunitas mikroba yang berbeda. Itu berarti kulit dengan keragaman mikroorganisme lebih rendah belum tentu sedang bermasalah. Sebaliknya, keragaman yang tinggi juga tidak otomatis menunjukkan kondisi yang lebih sehat. Maknanya baru dapat dibaca bersama lokasi, komposisi, fungsi, kondisi pemilik kulit, dan konteks biologisnya.Hal serupa berlaku ketika mikroorganisme mulai dikelompokkan menjadi 'baik' dan 'buruk'. Cutibacterium acnes, misalnya, mudah diasosiasikan dengan jerawat karena namanya. Padahal mikroorganisme tersebut juga merupakan bagian umum dari mikrobioma kulit sehat, terutama pada area yang kaya sebum. Penelitian Fitz-Gibbon dan kolega menunjukkan bahwa perbedaannya dapat melibatkan populasi strain, bukan sekadar ada atau tidak adanya C. acnes.Konsep dysbiosis pun perlu dibaca dengan kehati-hatian serupa. Perubahan komposisi mikrobioma belum otomatis berarti terjadi gangguan karena komunitas tersebut memang dapat berubah akibat pembersihan kulit, kosmetik, kelembapan, temperatur, paparan lingkungan, antibiotik, hormon, usia, gaya hidup, maupun perubahan skin barrier. Sebagian perubahan dapat bersifat sementara, adaptif, atau bahkan tidak menimbulkan konsekuensi biologis yang berarti.Bahkan ketika dysbiosis ditemukan bersama suatu kondisi kulit, hubungan keduanya belum tentu sederhana. Kompilasi Wendra membedakan setidaknya empat kemungkinan: perubahan mikrobioma dapat menjadi penyebab, konsekuensi, faktor yang memperkuat kondisi, atau sekadar penanda yang muncul bersamaan. Studi yang menemukan hubungan atau asosiasi saja belum cukup untuk memastikan mana di antara hubungan tersebut yang terjadi.Baca Juga: Mengapa Wajah Terasa Lebih Sensitif pada Hari-Hari Tertentu?Mungkin yang Dicari Bukan Komposisi IdealAda alasan lain mengapa gambaran mikrobioma ideal sulit dibuat: ekosistem ini tidak sepenuhnya statis. Studi Oh dan kolega dalam Cell pada 2016 menunjukkan bahwa sebagian karakteristik mikrobioma seseorang dapat relatif stabil dari waktu ke waktu. Namun, stabil bukan berarti tidak berubah karena lingkungan, kosmetik, iklim, kondisi kulit, dan berbagai perubahan fisiologis tetap dapat memengaruhinya.Di sinilah hubungan mikrobioma dengan skin barrier menjadi penting. Kondisi barrier ikut menentukan kelembapan, lipid, pH, nutrisi, dan karakter habitat tempat komunitas mikroorganisme hidup. Sebaliknya, mikroorganisme serta hasil metabolismenya juga dapat berinteraksi dengan sel kulit, sinyal imun, proses diferensiasi barrier, dan homeostasis kulit. Kerangka yang dibawa Prof. Keri menempatkan hubungan itu sebagai microbiome × barrier × host biology × environment.Cara pandang tersebut membuat istilah 'ideal' perlu diperlakukan hati-hati. Mikrobioma yang sehat mungkin tidak harus menyerupai sebuah komposisi baku yang sama pada setiap orang, terlebih ilmu saat ini belum menyediakan dasar untuk menetapkan standar universal semacam itu. Beautyversity mencatat bahwa belum tersedia satu mikrobioma ideal, satu diversity score ideal, ataupun satu formula mikrobioma yang dapat berlaku untuk semua orang.Implikasinya juga penting bagi perkembangan skincare. Produk yang mengubah suatu parameter mikrobioma belum otomatis memberikan manfaat klinis, sebagaimana keberadaan prebiotic, probiotic, atau postbiotic belum dengan sendirinya membuktikan bahwa sebuah produk lebih baik bagi ekosistem kulit. Bukti pada tingkat bahan pun tidak otomatis menjadi bukti terhadap hasil produk jadi karena formulasi, pH, pengawet, stabilitas, kemasan, dan cara penggunaan ikut menentukan apa yang benar-benar terjadi pada kulit.Maka, pertanyaan mengenai mikrobioma ideal mungkin memang perlu diubah. Alih-alih mencari daftar mikroorganisme yang harus dimiliki semua orang, ilmu mikrobioma mengajak kita melihat apakah komunitas tersebut dapat berfungsi dalam hubungan yang selaras dengan skin barrier, kondisi biologis pemilik kulit, dan lingkungannya. Kemajuan sains justru menunjukkan gambaran yang semakin bernuansa: mungkin yang perlu dipahami bukan seperti apa mikrobioma kulit yang sempurna, melainkan bagaimana ekosistem kulit mampu tetap berfungsi dengan baik ketika terus berubah. [][Eva Evilia/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Dari Patin, Teh Hijau, hingga Microbiome, Bagaimana Sains Mengubah Cara Kita Melihat Inovasi Beauty?
BeautyNews

05 Okt 2026

Dari Patin, Teh Hijau, hingga Microbiome, Bagaimana Sains Mengubah Cara Kita Melihat Inovasi Beauty?

Indonesia tidak kekurangan sumber daya menarik. Tantangan yang lebih besar adalah membangun pengetahuan yang mampu mengubahnya menjadi inovasi bernilai.Seekor ikan patin, secangkir teh hijau, dan komunitas mikroorganisme yang hidup di kulit tampaknya tidak memiliki banyak kesamaan. Namun, ketiganya bertemu dalam satu percakapan di BeautéSpot, Cosmobeauté Indonesia 2026. Bukan sekadar sebagai tiga topik ilmiah, melainkan tiga cara untuk melihat bagaimana inovasi kecantikan berkembang.Dalam sesi From Local Resources to Science-Driven Beauty Innovation, Prof. Dr. Sugeng Heri Suseno, S.Pi., M.Si. membawa minyak ikan patin, Dr. apt. Naniek Widyaningrum, M.Sc. mengangkat EGCG dari teh hijau, sedangkan Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si. membawa pembicaraan menuju microbiome dan probiotic science. Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. memoderasi percakapan yang sekilas bergerak di tiga wilayah berbeda tersebut.Namun, jika ditarik lebih jauh, ada satu pertanyaan yang menghubungkannya: apa yang membuat sesuatu benar-benar dapat disebut inovasi? Memiliki sumber daya belum berarti memiliki bahan kosmetik. Memiliki senyawa aktif menjanjikan belum berarti memiliki formula efektif, dan memahami sebuah mekanisme biologis belum berarti memiliki produk yang manfaatnya sudah terbukti.Di sinilah percakapan tentang inovasi kecantikan menjadi lebih menarik daripada sekadar mencari hero ingredient berikutnya. Perjalanannya dapat dimulai dari sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi harus melewati riset, teknologi, formulasi, pengujian, hingga pemahaman terhadap sistem biologis tempat produk tersebut nantinya digunakan.Baca Juga: Kalau Setiap Orang Punya Skin Microbiome yang Berbeda, Seperti Apa yang Disebut Sehat?Dari Sumber Daya ke Bahan yang Benar-Benar DipahamiPatin menjadi titik berangkat yang menarik. Selama ini ikan tersebut lebih mudah ditempatkan sebagai komoditas pangan, padahal Prof. Sugeng mengangkat kemungkinan lain: bagaimana minyak yang berasal dari sumber daya lokal dapat dipahami karakter dan kualitasnya, kemudian dikembangkan menuju bahan bernilai tambah untuk industri beauty. Perubahannya bukan terjadi hanya karena kita menemukan kegunaan baru, tetapi karena pengetahuan tentang sumber daya tersebut dibangun lebih jauh.Ini sekaligus menunjukkan perbedaan antara kekayaan sumber daya dan kemampuan menciptakan nilai darinya. Sebuah bahan lokal dapat tersedia melimpah, tetapi industri membutuhkan lebih dari cerita tentang asal-usulnya. Karakteristik bahan, kualitas, konsistensi, proses pengolahan, dan bukti ilmiah menjadi bagian dari perjalanan yang menentukan apakah potensi tersebut dapat bergerak menuju aplikasi yang lebih bernilai.Teh hijau membawa perjalanan itu satu tahap lebih jauh. Berbeda dengan patin yang membuka pembicaraan dari sumber daya lokal, EGCG sudah dikenal sebagai salah satu senyawa bioaktif utama dalam teh hijau. Tantangannya kemudian bukan hanya menemukan bahwa senyawa tersebut mempunyai aktivitas biologis yang menarik, melainkan mempertahankan relevansinya ketika dibawa ke dalam sebuah produk.Dalam pembahasan Dr. Naniek, keberadaan bahan aktif saja belum cukup. Stabilitas, sistem formulasi, delivery, dan efektivitas ikut menentukan bagaimana sebuah natural active dapat diterjemahkan menjadi inovasi yang lebih konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan. Di sinilah istilah ‘natural’ berhenti menjadi akhir cerita dan justru menjadi awal pekerjaan ilmiah.Persoalan tersebut penting karena sebuah bahan dapat terlihat menjanjikan dalam penelitian, tetapi menghadapi kondisi berbeda ketika berada di dalam formula. Ia harus hidup bersama bahan lain, berada pada lingkungan pH tertentu, bertahan selama penyimpanan, melewati proses produksi, dan tetap memiliki karakter yang relevan saat produk digunakan. Dengan kata lain, bahan yang menarik secara biologis belum otomatis menjadi produk yang bekerja sebagaimana diharapkan.Baca Juga: Skincare Terlalu Lama Berbicara tentang Bahan Aktif, Bagaimana Jika Kita Mulai dari Kulit?Ketika Inovasi Tidak Lagi Berhenti pada BahanProf. Keri kemudian membawa percakapan menuju lapisan yang lebih kompleks. Jika patin mengajak melihat bagaimana sumber daya memperoleh nilai melalui sains dan EGCG menunjukkan pentingnya menerjemahkan bahan aktif ke dalam formula, microbiome science mengubah pertanyaannya lagi. Kini persoalannya bukan hanya apa yang dimasukkan ke dalam produk, tetapi sistem biologis apa yang akan berinteraksi dengan produk tersebut.Kulit bukan permukaan pasif. Skin barrier, sebum, hidrasi, pH, respons imun, lingkungan, dan komunitas mikroorganisme membentuk sistem yang saling berhubungan. Karena itu, perkembangan microbiome science membuat inovasi kosmetik semakin sulit direduksi menjadi cerita satu bahan untuk satu manfaat.Implikasinya juga membuat istilah seperti probiotic dan postbiotic tidak cukup diperlakukan sebagai label inovasi. Pertanyaan ilmiahnya tetap harus bergerak lebih jauh: apa mekanismenya, bagaimana bahan tersebut ditempatkan dalam formula, apakah formulanya stabil, bagaimana produk berinteraksi dengan ekosistem kulit, dan bukti seperti apa yang mendukung manfaat yang ingin diklaim. Pendekatan berbasis microbiome menjadi bermakna ketika ia menambah pemahaman terhadap kulit, bukan ketika istilahnya sekadar menambah kosakata pemasaran.Pada titik tersebut, peran formulasi kembali menjadi penting. Sebagai moderator, Cahya mempertemukan pembicaraan mengenai sumber daya, bahan aktif, dan biologi kulit dengan wilayah product development. Sebuah ide ilmiah tetap harus melewati pertanyaan tentang stabilitas, keamanan, kemampuan untuk diproduksi secara konsisten, metode pengujian, hingga sejauh mana bukti yang tersedia benar-benar mendukung produk akhirnya.Maka, tiga topik yang awalnya tampak berjauhan justru membentuk satu perjalanan yang utuh. Patin menunjukkan bahwa sumber daya membutuhkan pengetahuan untuk memperoleh nilai baru. EGCG memperlihatkan bahwa potensi biologis membutuhkan teknologi dan formulasi agar dapat diterjemahkan menjadi produk, sementara microbiome mengingatkan bahwa produk tersebut kemudian bekerja pada sistem biologis yang jauh lebih kompleks daripada satu target tunggal.Perjalanan itu juga mengubah makna inovasi. Kebaruan tidak selalu berarti menemukan bahan yang belum pernah dikenal sebelumnya. Inovasi dapat lahir ketika sumber daya yang sudah dekat dengan kehidupan sehari-hari dipahami dengan lebih baik, ketika senyawa yang sudah dikenal dapat diformulasikan dengan lebih tepat, atau ketika ilmu baru membuat industri mengajukan pertanyaan yang sebelumnya belum terpikirkan.Bagi Indonesia, cara berpikir seperti ini mungkin jauh lebih penting daripada sekadar mencari bahan lokal berikutnya yang dapat disebut unik. Kekayaan sumber daya baru menjadi kekuatan industri ketika ada riset yang memahami karakteristiknya, teknologi yang mampu mengolahnya, formulasi yang dapat mempertahankan kinerjanya, dan bukti yang menjelaskan apa yang benar-benar dilakukan produk tersebut.Patin, teh hijau, dan microbiome mungkin berasal dari tiga dunia yang berbeda. Namun, ketiganya memperlihatkan satu hal yang sama: sains tidak hanya membantu menemukan sesuatu yang baru, tetapi juga membuat kita melihat sesuatu yang sudah ada dengan cara yang lebih bernilai. Mungkin kekayaan terbesar industri kecantikan Indonesia bukan hanya apa yang tumbuh, hidup, atau tersedia di negeri ini, melainkan pengetahuan yang mampu dibangun di atasnya. [][Tim Beautyversity/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Skincare Terlalu Lama Berbicara tentang Bahan Aktif, Bagaimana Jika Kita Mulai dari Kulit?
BeautyNews

03 Okt 2026

Skincare Terlalu Lama Berbicara tentang Bahan Aktif, Bagaimana Jika Kita Mulai dari Kulit?

Bahan aktif sering menjadi awal percakapan tentang skincare. Di Cosmobeauté Indonesia 2026, Prof. Keri Lestari justru mengajak melihat sesuatu yang lebih besar: kulit.Industri kecantikan punya kebiasaan yang mudah dikenali. Ketika sebuah produk baru diperkenalkan, salah satu pertanyaan pertama biasanya adalah kandungannya: niacinamide berapa persen, memakai peptide apa, mengandung ceramide jenis apa, atau bahan aktif baru apa yang sedang ditawarkan. Cara berpikir seperti itu tidak salah, tetapi mungkin belum menceritakan seluruh persoalan.Di BeautéSpot, Cosmobeauté Indonesia 2026, Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si. membawa pembicaraan tentang skincare ke arah yang sedikit berbeda. Alih-alih berhenti pada pertanyaan tentang ingredient, ia mengajak audiens melihat kulit sebagai sebuah sistem biologis yang hidup. Dalam kerangka tersebut, skin barrier, lipid, hidrasi, respons imun, paparan lingkungan, dan komunitas mikroba tidak berdiri sendiri, melainkan terus berinteraksi.Cara pandang itu membuat skin microbiome menjadi lebih menarik sekaligus lebih rumit. Mikroorganisme yang hidup di kulit bukan sekadar lapisan tambahan yang dapat dipisahkan dari bagian lainnya. Kondisinya berhubungan dengan pH, sebum, hidrasi, barrier, lingkungan, hingga biologi tubuh yang menjadi tempat mereka hidup.Literatur ilmiah terbaru bergerak ke arah serupa. Sebuah ulasan di Journal of Clinical Investigation menggambarkan kulit sebagai penghalang fisik sekaligus habitat bagi bakteri dan fungi komensal, dengan interaksi mikroba yang berkaitan dengan respons imun, komunitas mikroba, dan integritas epidermis. Kajian lain pada 2026 juga menempatkan microbiome, sistem imun, dan skin barrier sebagai sumbu yang saling berhubungan.Baca Juga: Cosmeticverse Bukan Proyek Seminar, Tetapi Gerakan PengetahuanKetika ‘Bakteri Baik’ dan ‘Bakteri Jahat’ Tidak Lagi CukupPopularitas microbiome skincare membawa kosakata baru ke rak kosmetik: prebiotic, probiotic, postbiotic, hingga microbiome-friendly. Masalahnya, bahasa pemasaran cenderung menyukai cerita yang sederhana. Mikroorganisme akhirnya mudah dibagi menjadi ‘baik’ dan ‘jahat’, seolah kesehatan kulit cukup ditentukan dengan menambah kelompok pertama dan menyingkirkan kelompok kedua.Padahal, materi Prof. Keri menunjukkan persoalan yang lebih kontekstual. Mikroorganisme yang sama dapat berperilaku berbeda bergantung pada strain, lokasi kulit, kondisi barrier, pH, sebum, imunitas tubuh, dan lingkungan. Bahkan keragaman mikroba yang lebih tinggi tidak otomatis berarti kulit lebih sehat, karena area berminyak, lembap, dan kering secara alami memiliki komposisi komunitas mikroba yang berbeda.Di sinilah istilah dysbiosis juga perlu digunakan dengan hati-hati. Perubahan komposisi mikroba tidak otomatis membuktikan adanya gangguan, apalagi membuktikan bahwa perubahan tersebut menjadi penyebab masalah kulit. Literatur terkini pun masih menekankan adanya variasi antarmanusia, persoalan standardisasi metode, dan ketidakpastian hubungan sebab-akibat dalam menerjemahkan temuan microbiome ke praktik klinis.Konsekuensinya cukup menarik bagi konsumen. Memikirkan microbiome ternyata tidak selalu berarti mencari produk yang mengandung probiotic. Dalam materi BeautéSpot, pendekatannya dapat dimulai dari sesuatu yang jauh lebih mendasar: menjaga skin barrier, mempertahankan hidrasi, menggunakan sistem pembersihan yang lembut, menjaga pH yang sesuai, dan menghindari gangguan yang tidak diperlukan terhadap lingkungan kulit.Riset kosmetik juga belum memberi alasan untuk terburu-buru menganggap semua produk yang membawa istilah microbiome memiliki tingkat pembuktian yang sama. Ulasan ilmiah pada 2026 menemukan hasil awal yang menjanjikan pada pendekatan prebiotic, probiotic, postbiotic, dan strategi terkait, tetapi kualitas bukti masih dibatasi desain penelitian yang beragam, ukuran sampel kecil, serta belum adanya kriteria standar untuk klaim microbiome-friendly.Baca Juga: Mengapa Budaya Mutu Menjadi Fondasi yang Tidak Terlihat dalam Industri Kosmetik?Dari Memahami Kulit ke Membuat ProdukPertanyaan berikutnya muncul ketika gagasan biologis tersebut harus masuk ke dalam botol. Sebuah bahan boleh saja memiliki data yang menarik mengenai microbiome, tetapi produk kosmetik bukan bahan tunggal. Ada konsentrasi, pH, sistem pengawet, stabilitas, interaksi antarbahan, kemasan, cara penggunaan, hingga proses produksi yang dapat menentukan apa yang terjadi setelah bahan tersebut menjadi formula utuh.Pada titik inilah perspektif Prof. Keri bertemu dengan apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., dalam materi yang menjadi dasar pembahasan Beautyversity. Pertanyaan biologis mengenai apa yang terjadi pada kulit harus bertemu dengan pertanyaan formulasi: bagaimana gagasan tersebut diterjemahkan menjadi produk yang stabil, aman, dapat diproduksi, dan dapat diuji. Materi tersebut menempatkan hubungan riset dan formulasi sebagai rangkaian, bukan dua dunia yang berjalan sendiri-sendiri.Persoalan itu menjadi semakin jelas ketika berbicara tentang probiotic. Menggunakan mikroorganisme hidup membawa tantangan mengenai viabilitas, pengawetan, penyimpanan, pengendalian kontaminasi, stabilitas, dan keamanan. Ulasan ilmiah terbaru mengenai formulasi probiotic skincare juga mencatat bahwa banyak produk komersial justru menggunakan derivat mikroba nonhidup, antara lain karena tantangan formulasi, regulasi, dan stabilitas tersebut.Ada konsekuensi lain yang tidak kalah penting: bukti mengenai sebuah bahan tidak otomatis menjadi bukti mengenai produk jadi. Jika bahan baku menunjukkan aktivitas tertentu terkait microbiome, data tersebut menjelaskan bahan pada kondisi pengujiannya. Setelah masuk ke formula, konsentrasi, pH, pengawet, stabilitas, delivery, kemasan, dan interaksi dengan bahan lain ikut berubah, sehingga klaim produk jadi tetap membutuhkan bukti yang relevan terhadap produk dan klaim tersebut.Di sinilah gagasan ecosystem intelligence menjadi lebih dari istilah baru. Ia menawarkan cara berpikir yang bergerak dari pemahaman biologis menuju hipotesis produk, strategi bahan, formulasi, validasi, lalu produk. Bukan berarti ingredient menjadi tidak penting, melainkan bahan aktif ditempatkan kembali sebagai salah satu bagian dari sistem yang jauh lebih besar.Perubahan perspektif ini mungkin juga relevan untuk membaca ke mana inovasi skincare bergerak. Selama bertahun-tahun, persaingan mudah terlihat seperti perlombaan menemukan bahan berikutnya yang dapat menjadi pusat cerita sebuah produk. Sementara itu, ilmu tentang kulit justru semakin memperlihatkan hubungan yang lebih kompleks antara barrier, mikroba, sistem imun, lingkungan, dan karakter biologis masing-masing individu.Mungkin pertanyaan tentang kandungan tidak perlu ditinggalkan. Yang perlu berubah adalah apa yang ditanyakan setelahnya. Setelah mengetahui bahan apa yang berada di dalam sebuah produk, percakapan dapat bergerak menuju pertanyaan yang lebih penting: bagaimana bahan itu bekerja di dalam formula, bagaimana formula berinteraksi dengan kulit, dan seberapa jauh hasil yang dijanjikan benar-benar telah dibuktikan.Jika arah itu terus berkembang, masa depan skincare mungkin tidak ditentukan hanya oleh siapa yang menemukan bahan paling menarik berikutnya. Kemajuannya bisa datang dari kemampuan memahami sistem tempat semua bahan tersebut bekerja. Dari sana, percakapan kecantikan tidak lagi berhenti pada apa yang ada di dalam botol, tetapi mulai kembali kepada kulit yang akan menerimanya. [][Tim Beautyversity/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Mengapa Area Hidung dan Dagu Sering Memiliki Tekstur yang Lebih Terlihat?
SkinCare

01 Okt 2026

Mengapa Area Hidung dan Dagu Sering Memiliki Tekstur yang Lebih Terlihat?

Hidung dan dagu sering tampak lebih bertekstur. Titik-titik kecil pun mudah terlihat. Namun, yang tampak seperti ‘pori kotor’ belum tentu merupakan masalah kulit.Cermin pembesar atau kamera ponsel dapat membuat bagian tengah wajah terasa seperti wilayah yang berbeda. Hidung terlihat memiliki banyak titik kecil, sementara dagu terasa sedikit kasar ketika disentuh. Dibandingkan dengan beberapa bagian wajah lainnya, tekstur pada kedua area ini memang dapat tampak lebih jelas.Salah satu penjelasannya berkaitan dengan unit pilosebasea, yaitu struktur yang melibatkan folikel rambut dan kelenjar sebasea. Penelitian mengenai pori wajah menunjukkan bahwa produksi sebum merupakan salah satu faktor yang berkaitan dengan ukuran pori yang terlihat. Namun, pori yang tampak jelas bukan hanya ditentukan oleh minyak; elastisitas kulit dan volume folikel juga termasuk faktor yang ditemukan dalam literatur.Ada pula struktur normal bernama sebaceous filament. Cleveland Clinic menjelaskan bahwa struktur tipis ini melapisi kelenjar sebasea dan membantu membawa sebum menuju permukaan kulit. Struktur tersebut terdapat pada kulit normal, tetapi dapat terlihat lebih jelas ketika produksi sebum meningkat dan memang sering tampak pada hidung, dahi, dagu, serta pipi.Perbedaan tersebut penting karena tujuan perawatan seharusnya mengikuti apa yang sebenarnya sedang dilihat. Titik-titik pada hidung tidak otomatis berarti komedo yang harus dikeluarkan, dan tekstur kulit normal tidak selalu merupakan sesuatu yang harus dibuat benar-benar menghilang.Baca Juga: Mengapa Wajah Terasa Lebih Sensitif pada Hari-Hari Tertentu?Yang Terlihat Seperti Komedo Belum Tentu KomedoSebaceous filament dan komedo hitam atau blackhead dapat terlihat serupa ketika dilihat sekilas. Namun, keduanya bukan struktur yang sama. Sebaceous filament merupakan bagian normal dari sistem yang membawa sebum menuju permukaan kulit, sedangkan komedo merupakan lesi jerawat yang terbentuk ketika material di dalam folikel menyumbat pori.Bukti ilmiah juga membantu menjelaskan mengapa tekstur pori tidak seharusnya dipahami hanya sebagai persoalan ‘kulit kotor’. Dalam sebuah kajian di Dermatologic Surgery, Sang Ju Lee dan rekan-rekannya mengidentifikasi tiga penyebab klinis utama pori wajah yang membesar: produksi sebum yang tinggi, berkurangnya elastisitas di sekitar pori, dan meningkatnya volume folikel rambut. Jerawat berulang, hormon, serta kebiasaan perawatan kulit dapat ikut memengaruhinya.Penelitian lain yang mengukur pori menggunakan pencitraan dan produksi minyak menggunakan Sebumeter menemukan hubungan antara produksi sebum dan ukuran pori. Temuan ini memberi dasar yang lebih kuat untuk menjelaskan mengapa area wajah dengan aktivitas sebasea yang menonjol dapat memiliki tekstur yang lebih terlihat. Namun, penelitian tersebut hanya melibatkan 60 partisipan sehingga hasilnya lebih tepat dibaca sebagai salah satu bagian dari bukti, bukan penjelasan tunggal untuk setiap orang.Kajian yang lebih baru dalam Journal of Cosmetic Dermatology juga menggambarkan pori sebagai persoalan multifaktorial. Produksi sebum, predisposisi genetik, paparan ultraviolet, jerawat, dan penuaan termasuk faktor yang dibahas, sementara hubungan positif antara tingkat sebum dan karakter pori telah ditemukan dalam sejumlah penelitian. Dengan kata lain, tekstur yang terlihat merupakan hasil interaksi beberapa karakter biologis kulit.Baca Juga: Mengapa Kulit Bisa Terasa Kering tetapi Tetap Berminyak?Merawat Tekstur Tidak Sama dengan Menghapus PoriPemahaman tersebut mengubah cara melihat produk yang menjanjikan tampilan pori lebih kecil. Pori merupakan bagian dari struktur kulit sehingga sasaran kosmetik yang lebih realistis adalah membantu memperbaiki penampilannya, bukan membuat struktur tersebut menghilang. Kondisi sebum, sumbatan folikel, dan kualitas permukaan kulit dapat berubah sehingga pori terlihat berbeda tanpa berarti porinya ‘ditutup’.Hal serupa berlaku pada sebaceous filament. Mengeluarkan material dari hidung mungkin memberikan perubahan visual sementara, tetapi struktur tersebut memiliki fungsi normal dan sebum akan kembali bergerak menuju permukaan kulit. Cleveland Clinic bahkan menegaskan bahwa setiap orang memilikinya dan struktur ini membantu memindahkan sebum ke permukaan kulit.Karena itu, menggosok hidung dan dagu secara agresif bukan jawaban otomatis untuk tekstur. Scrub yang keras atau kebiasaan memencet berulang dapat menambahkan persoalan berupa iritasi pada permukaan kulit. Jika terdapat komedo, pendekatan terhadap sumbatan folikel tentu berbeda dengan upaya ‘membersihkan’ struktur normal yang sebenarnya tidak perlu dihilangkan.Bahan seperti salicylic acid dapat relevan dalam rutinitas tertentu karena sifatnya yang lipofilik dan penggunaannya dalam perawatan kulit rentan komedo. Namun, keberadaan satu bahan aktif tidak menjamin seluruh tekstur akan menghilang. Jenis masalah, konsentrasi, formulasi, tolerabilitas kulit, frekuensi penggunaan, dan keseluruhan rutinitas tetap menentukan bagaimana sebuah produk digunakan.Ada pula batas yang perlu dikenali. Literatur tentang pori wajah memang menunjukkan hubungan dengan sebum dan sejumlah karakter kulit, tetapi tidak mendukung gagasan bahwa setiap titik pada hidung atau dagu merupakan kelainan yang membutuhkan koreksi. Bahkan sebuah laporan dermatologi tahun 2026 masih menggambarkan sebaceous filament pada hidung sebagai struktur folikular yang dapat menjadi sangat menonjol secara kosmetik tanpa mengubah fakta bahwa struktur tersebut berbeda dari komedo biasa.Persoalannya kemudian bukan bagaimana membuat hidung dan dagu sehalus permukaan tanpa pori. Pertanyaan yang lebih berguna adalah apa yang membentuk tekstur tersebut: sebum, sebaceous filament, komedo, kondisi permukaan kulit, atau kombinasi beberapa faktor. Diagnosis visual dari kamera ponsel saja tidak selalu cukup untuk membedakannya.Kulit manusia memang mempunyai tekstur, dan beberapa area memperlihatkannya lebih jelas daripada yang lain. Memahami anatomi dan bukti di balik tekstur hidung serta dagu membuat perawatan menjadi lebih rasional: bukan berusaha menghapus setiap titik yang terlihat, melainkan mengenali mana struktur kulit yang normal dan mana kondisi yang memang membutuhkan perhatian. [][Eva Evilia/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Mengapa Pria yang Memelihara Janggut Tetap Perlu Merawat Kulit di Bawahnya?
MenZone

29 Sep 2026

Mengapa Pria yang Memelihara Janggut Tetap Perlu Merawat Kulit di Bawahnya?

Janggut boleh menutupi sebagian wajah. Namun, kulit di bawahnya tetap menghasilkan minyak dan sel kulit mati. Menumbuhkan janggut bukan berarti berhenti merawat kulit.Memelihara janggut sering mengubah fokus perawatan pria. Perhatian mulai diberikan pada bentuk, panjang, kerapian, hingga produk yang membuat rambut janggut terasa lebih lembut. Ketika janggut semakin lebat, kulit yang berada beberapa milimeter di bawahnya justru semakin jarang terlihat.Di situlah muncul kesalahpahaman sederhana: karena kulit tertutup rambut, area tersebut dianggap lebih terlindungi dan membutuhkan lebih sedikit perawatan. Padahal, kulit tetap menjalankan fungsi biologis seperti bagian wajah lainnya. Sebum tetap diproduksi, sel kulit terus mengalami pergantian, dan keringat maupun kotoran masih dapat berada di permukaannya.Janggut bahkan menciptakan tantangan tersendiri karena rambut dapat menahan minyak, sel kulit mati, dan berbagai residu dekat dengan permukaan kulit. American Academy of Dermatology [AAD] menjelaskan bahwa tanpa perawatan yang tepat, kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap penyumbatan pori dan jerawat di bawah janggut.Artinya, merawat janggut sebaiknya tidak berhenti pada membuat rambutnya terlihat rapi. Kulit yang menjadi tempat rambut tersebut tumbuh tetap menjadi bagian dari rutinitas, meskipun semakin sulit terlihat ketika janggut semakin panjang.Baca Juga: Mengapa Kulit Pria Sering Terasa Perih Setelah Bercukur?Janggut Dapat Menyembunyikan Apa yang Terjadi pada KulitSalah satu persoalan paling sederhana adalah kebersihan. Sepanjang hari, janggut dapat bersentuhan dengan tangan, keringat, polusi, minyak, dan berbagai partikel dari lingkungan. AAD menyarankan wajah dan janggut tetap dibersihkan setiap hari menggunakan pembersih lembut yang sesuai dengan jenis kulit, karena akumulasi minyak, kotoran, mikroorganisme, dan sel kulit mati dapat mengiritasi kulit maupun menyumbat pori.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., yang berkecimpung dalam pengembangan kosmetik, menempatkan pemilihan produk dalam konteks kebutuhan area penggunaan dan karakter kulit. Prinsip tersebut relevan untuk area berjanggut: produk bukan hanya perlu bekerja pada rambut, tetapi juga perlu mempertimbangkan kulit di bawahnya. Formula yang terlalu keras atau meninggalkan rasa sangat kering bukan otomatis pilihan yang lebih efektif untuk membersihkan area tersebut.Pelembap juga tidak otomatis kehilangan fungsi ketika janggut tumbuh. Dermatolog Anthony Rossi, MD, FAAD, melalui AAD menjelaskan bahwa melembapkan kulit membantu mengurangi kondisi kering, bersisik, dan gatal di bawah janggut sekaligus membantu melembutkan rambut. Pilihannya dapat disesuaikan dengan jenis kulit, seperti produk non-comedogenic pada kulit rentan berjerawat atau pelembap tanpa pewangi pada kulit sensitif.Rasa gatal dan serpihan putih pun tidak selalu berarti kulit sekadar kekurangan pelembap. Dermatitis seboroik dapat muncul pada area janggut dan menyebabkan kulit bersisik, berminyak, gatal, serta mengalami peradangan. AAD menyebut janggut sebagai salah satu area selain kulit kepala yang dapat mengalami kondisi tersebut.Baca Juga: Perlukah Pria Memiliki Rutinitas Perawatan Kulit yang Berbeda dengan Perempuan?Beard Care dan Skin Care Seharusnya Tidak Berjalan Sendiri-SendiriProduk khusus janggut dapat membantu membuat rambut terasa lebih lembut dan mudah diatur, tetapi cara penggunaannya tetap perlu memperhitungkan kondisi kulit. Beard oil, misalnya, mungkin terasa nyaman bagi kulit normal hingga kering, sedangkan kulit yang mudah berjerawat membutuhkan pilihan berbeda. AAD justru merekomendasikan beard conditioner untuk kulit rentan berjerawat dan pelembap lembut untuk kulit sensitif.Masalah juga dapat muncul ketika janggut dirapikan. Rambut yang dipotong pendek dapat melengkung kembali menuju kulit dan menyebabkan ingrown hair atau benjolan yang sering disebut razor bumps. Risikonya lebih menonjol pada rambut wajah yang kasar atau keriting, sehingga teknik memangkas dan mencukur tetap menjadi bagian dari kesehatan kulit di area janggut.Rutinitasnya sebenarnya tidak perlu rumit. Membersihkan janggut dan kulit secara lembut, membilas produk dengan baik, mengeringkan tanpa menggosok agresif, kemudian memberikan pelembap sesuai kebutuhan sudah membentuk fondasi yang masuk akal. Menyisir janggut setelah penggunaan produk juga dapat membantu mendistribusikannya pada rambut.Yang tidak kalah penting adalah tetap memeriksa kulit secara berkala. Janggut yang lebat membuat kemerahan, benjolan, luka, atau perubahan lain lebih mudah tersembunyi dari pandangan. AAD mengingatkan bahwa persoalan yang terlihat seperti jerawat dapat ternyata merupakan rambut tumbuh ke dalam atau kondisi lain, sehingga keluhan yang menetap sebaiknya diperiksa oleh dokter kulit.Pria juga tidak perlu mengubah area janggut menjadi rutinitas dengan banyak tahapan. Tujuannya bukan memastikan sebanyak mungkin produk mencapai kulit, tetapi menjaga area tersebut tetap bersih, nyaman, dan tidak mengalami gangguan akibat cara perawatan yang terlalu agresif. Janggut yang sehat dan kulit yang sehat sebenarnya bukan dua proyek berbeda.Memelihara janggut boleh menjadi bagian dari gaya, identitas, atau sekadar pilihan untuk tidak bercukur setiap pagi. Namun, rambut yang tumbuh di wajah tidak membuat kulit di bawahnya berhenti menjadi kulit. Justru karena semakin sulit terlihat, area tersebut membutuhkan perhatian yang cukup agar masalah baru diketahui bukan setelah gatal, sisik, atau benjolan mulai terasa mengganggu. [][Rommy Rimbarawa/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Mitos: Pori-Pori Kulit Bisa Dibuka dan Ditutup
MythBuster

25 Sep 2026

Mitos: Pori-Pori Kulit Bisa Dibuka dan Ditutup

Air hangat disebut bisa membuka pori-pori. Air dingin dipercaya menutupnya kembali. Kedengarannya masuk akal, tetapi kulit ternyata tidak bekerja seperti pintu.Anjuran untuk ‘membuka pori-pori’ sebelum membersihkan wajah sudah diwariskan cukup lama dalam rutinitas kecantikan. Wajah diuapi atau dibasuh air hangat agar kotoran dianggap lebih mudah keluar. Setelahnya, air dingin digunakan dengan harapan pori-pori kembali menutup dan kulit terlihat lebih rapat.Pengalaman setelah melakukan ritual tersebut memang dapat terasa meyakinkan. Kulit yang terkena panas terlihat berbeda, sementara air dingin memberikan sensasi lebih segar dan kencang. Dari perubahan yang dapat dirasakan inilah muncul kesimpulan bahwa pori-pori benar-benar bergerak membuka dan menutup.Masalahnya, pori bukan struktur yang memiliki mekanisme seperti pintu. Apa yang biasa disebut pori pada wajah merupakan bukaan folikel di permukaan kulit yang berkaitan dengan rambut dan kelenjar sebaceous. Tidak terdapat otot di sekeliling bukaan tersebut yang bekerja untuk membuka atau menutupnya berdasarkan suhu air.Namun, bukan berarti penampilan pori tidak dapat berubah. Sebum, sel kulit, kondisi permukaan kulit, usia, paparan matahari, dan berbagai faktor lain dapat membuat bukaan folikel terlihat lebih atau kurang jelas. Di sinilah perbedaan antara pori yang benar-benar ‘membuka’ dan pori yang hanya tampak berbeda menjadi penting.Baca Juga: Mitos: Produk yang Terasa Perih Berarti Sedang BekerjaAir Hangat Mengubah Kondisi Kulit, Bukan Membuka PoriAir hangat dapat membantu melunakkan minyak dan residu pada permukaan kulit sehingga proses pembersihan terasa lebih mudah. Panas juga dapat meningkatkan aliran darah sementara pada kulit sehingga wajah tampak lebih kemerahan. Efek-efek tersebut nyata, tetapi tidak membuktikan bahwa diameter pori sedang dikendalikan seperti katup.American Academy of Dermatology justru merekomendasikan penggunaan air suam-suam kuku ketika mencuci wajah. Air yang terlalu panas dapat membuat kulit lebih kering dan memicu iritasi pada sebagian orang. Artinya, menaikkan suhu air demi ‘membuka’ pori bukan langkah yang diperlukan untuk memperoleh kulit yang bersih.Hal serupa berlaku pada uap wajah. Uap dapat membuat material di permukaan dan isi pori terasa lebih lunak sehingga proses perawatan tertentu menjadi lebih mudah, tetapi pori tidak berubah menjadi lubang yang sengaja membuka. Menguapi wajah terlalu lama atau dengan suhu terlalu tinggi juga bukan berarti pembersihan akan semakin efektif.Air dingin kemudian memberikan sensasi berbeda karena memengaruhi permukaan kulit dan pembuluh darah untuk sementara. Kulit dapat terasa lebih kencang atau tampak berbeda sesaat setelah terkena suhu rendah. Namun, efek tersebut kembali tidak sama dengan mekanisme anatomis yang membuat pori menutup.Baca Juga: Mitos: Bahan Alami Selalu Lebih Lembut untuk Kulit SensitifKalau Tidak Bisa Ditutup, Mengapa Pori Bisa Terlihat Lebih Kecil?Ukuran dan tampilan pori dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk genetik dan produksi sebum. Ketika sebum serta material lain menumpuk di dalam folikel, bukaannya dapat terlihat lebih jelas. Kondisi kulit di sekitarnya juga menentukan seberapa kontras pori terlihat ketika seseorang bercermin.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., menjelaskan bahwa kosmetik lebih tepat dipahami berdasarkan pengaruhnya terhadap kondisi permukaan kulit daripada klaim bahwa produk secara fisik ‘menutup’ pori. Formula tertentu dapat membantu mengontrol minyak, membersihkan permukaan, atau memperbaiki penampilan tekstur sehingga pori terlihat lebih samar. Perubahan penampilan tersebut berbeda dari menghilangkan struktur pori itu sendiri.Bahan seperti salicylic acid dapat digunakan dalam formulasi untuk membantu mengatasi minyak dan penumpukan sel pada area folikel. Retinoid dalam konteks penggunaan yang sesuai juga dapat memengaruhi pergantian sel dan kondisi kulit. Manfaat bahan-bahan tersebut tetap tidak perlu dijelaskan melalui konsep membuka atau menutup pori.Dermatolog Dr. Shari Marchbein juga menjelaskan dalam edukasi mengenai pori bahwa ukuran pori banyak dipengaruhi faktor genetik, sementara produksi minyak, penuaan, dan kerusakan akibat sinar matahari dapat membuatnya tampak lebih jelas. Perawatan dapat membantu memperbaiki penampilannya, tetapi tidak memberikan kemampuan kepada seseorang untuk menghapus pori secara permanen.Obsesi untuk membuat pori ‘hilang’ juga perlu ditempatkan dalam konteks visual hari ini. Kamera beresolusi tinggi, pencahayaan tertentu, penyuntingan foto, dan filter dapat menciptakan gambaran kulit yang hampir tanpa tekstur. Ketika standar tersebut dibawa ke depan cermin, struktur kulit normal mudah dianggap sebagai kekurangan.Membersihkan wajah secara lembut, mengelola minyak sesuai kebutuhan, menggunakan pelembap, serta melindungi kulit dari paparan sinar ultraviolet merupakan pendekatan yang lebih realistis daripada mengejar ritual buka-tutup pori. Produk yang membuat tampilan pori lebih samar tentu dapat digunakan, tetapi ekspektasinya perlu ditempatkan pada perubahan penampilan, bukan perubahan anatomi yang tidak mungkin dilakukan kosmetik.Jadi, pori-pori tidak membuka ketika terkena air hangat lalu menutup kembali karena air dingin. Yang berubah adalah kondisi kulit dan bagaimana bukaan folikel tersebut terlihat dari permukaan. Mungkin mitos ini bertahan begitu lama karena sensasinya memang terasa nyata, tetapi seperti banyak hal dalam skincare, sesuatu yang terasa terjadi belum tentu sama dengan apa yang sebenarnya berlangsung di dalam kulit. [][Rudi Tenggarawan/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Tanya Dong: Perlukah Memberi Jeda antara Satu Produk Skincare dan Produk Berikutnya?
TanyaDong

24 Sep 2026

Tanya Dong: Perlukah Memberi Jeda antara Satu Produk Skincare dan Produk Berikutnya?

Serum sudah dipakai. Haruskah menunggu sebelum pelembap? Jeda antarproduk ternyata tidak selalu membutuhkan hitungan menit yang sama.Rutinitas skincare sering terlihat seperti rangkaian yang memiliki aturan waktu sangat ketat. Setelah toner, ada yang menunggu beberapa menit sebelum menggunakan serum. Setelah serum, penghitung waktu dimulai lagi sebelum pelembap atau produk berikutnya diaplikasikan.Kebiasaan tersebut sebagian muncul dari kekhawatiran bahwa produk akan bercampur dan kehilangan manfaatnya jika digunakan terlalu cepat. Ada pula anggapan bahwa setiap bahan harus benar-benar ‘meresap’ sebelum bertemu formula berikutnya. Akibatnya, rutinitas sederhana yang terdiri atas beberapa produk dapat terasa seperti prosedur yang membutuhkan banyak waktu.Padahal, tidak ada satu aturan universal yang mewajibkan jeda lima, sepuluh, atau lima belas menit untuk setiap lapisan skincare. Kebutuhan jeda bergantung pada jenis produk, karakter formula, tujuan penggunaannya, serta petunjuk khusus dari produsen. Pada banyak rutinitas sehari-hari, kondisi permukaan kulit justru dapat menjadi petunjuk yang lebih praktis daripada penghitung waktu.Pertanyaannya karena itu bukan sekadar berapa menit harus menunggu. Yang lebih penting adalah apakah lapisan sebelumnya sudah cukup nyaman untuk menerima produk berikutnya dan apakah produk tertentu memang mempunyai instruksi penggunaan khusus.Baca Juga: Tanya Dong: Apakah Kulit Bisa Berubah Jenis Seiring Bertambahnya Usia?Tidak Semua Produk Membutuhkan Waktu Tunggu KhususProduk perawatan kulit bekerja melalui mekanisme yang berbeda. Sebagian bahan bekerja pada permukaan kulit, sebagian diformulasikan untuk mencapai lapisan tertentu, sedangkan produk seperti pelembap membantu mempertahankan kondisi lapisan terluar kulit. Proses tersebut tidak berarti setiap produk harus dibiarkan sendirian selama beberapa menit sebelum tahapan berikutnya.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., menjelaskan bahwa cara penggunaan sebaiknya mengikuti karakter formula dan petunjuk produk, bukan aturan waktu yang disamaratakan. Formulator mempertimbangkan sistem penghantaran, tekstur, bahan aktif, serta bagaimana produk diharapkan digunakan dalam sebuah rutinitas. Karena itu, angka jeda yang berlaku untuk seluruh kosmetik justru sulit memiliki dasar formulasi yang sama.Untuk toner, serum hidrasi, dan pelembap dalam rutinitas sederhana, pengguna umumnya dapat melanjutkan ketika produk sebelumnya sudah tersebar merata dan tidak terlalu basah atau licin. Tidak perlu menunggu sampai kulit terasa benar-benar kering apabila petunjuk produk tidak mensyaratkannya. Bahkan beberapa humektan dan pelembap nyaman digunakan ketika kulit masih memiliki sedikit kelembapan.Persoalan berbeda muncul ketika lapisan berikutnya menyebabkan produk menggumpal atau membentuk serpihan yang dikenal sebagai pilling. Kondisi tersebut tidak otomatis berarti bahan aktif saling menetralkan. Jumlah produk yang terlalu banyak, teknik menggosok, atau ketidakcocokan karakter antarlapisan juga dapat menyebabkan produk tidak membentuk lapisan dengan baik.Baca Juga: Tanya Dong: Apakah Produk Kosmetik Perlu Disimpan di Kulkas?Ada Situasi ketika Jeda Memang BergunaMemberikan sedikit waktu dapat membantu ketika sebuah formula membutuhkan kesempatan untuk membentuk lapisan pada kulit. Produk yang terasa sangat basah atau lengket, misalnya, mungkin lebih nyaman dibiarkan sebentar sebelum produk berikutnya digunakan. Tujuannya lebih berkaitan dengan aplikasi dan pembentukan lapisan daripada mengejar angka waktu tertentu.Perhatian khusus juga berlaku untuk produk obat atau bahan aktif yang memiliki petunjuk penggunaan spesifik. Retinoid tertentu, produk untuk jerawat, atau sediaan yang diresepkan dokter dapat mempunyai instruksi mengenai kondisi kulit ketika diaplikasikan maupun urutannya dengan produk lain. Dalam situasi seperti ini, petunjuk produk dan arahan tenaga kesehatan lebih penting daripada aturan yang beredar di media sosial.Dermatolog Dr. Ranella Hirsch juga kerap menekankan bahwa rutinitas perawatan kulit tidak perlu dibuat lebih rumit daripada yang dibutuhkan. Dalam praktik penggunaan beberapa produk, membiarkan suatu lapisan cukup menetap sebelum beralih ke tahap berikutnya lebih masuk akal daripada menetapkan waktu tunggu panjang tanpa alasan formulasi yang jelas. Cara kulit merespons keseluruhan rutinitas tetap menjadi pertimbangan utama.Tabir surya mempunyai konteks yang sedikit berbeda. Produk ini sebaiknya diaplikasikan sebagai tahap terakhir perawatan kulit pada pagi hari dan dibuat membentuk lapisan yang merata. American Academy of Dermatology menyarankan penggunaan tabir surya sekitar 15 menit sebelum keluar rumah, tetapi waktu tersebut berkaitan dengan penggunaan tabir surya sebelum paparan luar ruang, bukan aturan bahwa semua produk sebelumnya harus diberi jeda 15 menit.Jika rutinitas terasa nyaman, tidak menggumpal, dan tidak menimbulkan iritasi, tidak ada kebutuhan untuk sengaja memperpanjang waktu di antara setiap produk. Sebaliknya, apabila lapisan terus bergeser atau pilling, mencoba menggunakan jumlah yang lebih sedikit, menepuk daripada menggosok, atau memberi waktu singkat antarlapisan dapat membantu. Jeda dalam situasi ini merupakan solusi praktis, bukan ritual wajib.Rutinitas skincare tidak harus berubah menjadi rangkaian alarm yang berbunyi setiap lima menit. Untuk sebagian besar produk, memperhatikan tekstur, petunjuk penggunaan, dan respons kulit lebih berguna daripada menghafalkan aturan waktu yang sama untuk semuanya. Jika sebuah produk memang membutuhkan perlakuan khusus, kemasan atau arahan tenaga kesehatan seharusnya menjadi rujukan utama, bukan penghitung waktu yang diwariskan dari satu unggahan ke unggahan lainnya. [][Tim Beautyversity/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Mengapa Wajah Terasa Lebih Sensitif pada Hari-Hari Tertentu?
SkinCare

23 Sep 2026

Mengapa Wajah Terasa Lebih Sensitif pada Hari-Hari Tertentu?

Kemarin produk terasa nyaman. Hari ini, produk yang sama justru menyengat. Kulit memang dapat menjadi lebih reaktif pada waktu tertentu tanpa benar-benar berganti jenis.Pernah ada hari ketika rutinitas skincare yang biasanya nyaman tiba-tiba terasa berbeda. Pembersih membuat wajah sedikit tertarik, serum menimbulkan sensasi menyengat, atau pelembap yang sudah digunakan berbulan-bulan mendadak terasa kurang nyaman. Reaksi seperti ini sering membuat produk langsung menjadi tersangka utama.Padahal, toleransi kulit bukan sesuatu yang selalu berada pada tingkat yang sama. Kondisi lapisan pelindung kulit, lingkungan, perubahan hormonal, paparan bahan aktif, hingga kebiasaan sehari-hari dapat memengaruhi bagaimana kulit merespons sebuah formula. Produk yang sama karena itu bisa memberikan pengalaman berbeda pada waktu yang berbeda.Hal ini juga menjelaskan mengapa kulit sensitif dan kulit yang sedang mengalami sensitivitas tidak selalu berarti hal yang sama. Seseorang dapat memiliki kulit yang secara umum toleran, tetapi mengalami periode ketika kulitnya lebih reaktif. Sebaliknya, pemilik kulit sensitif memang dapat memiliki kecenderungan lebih besar mengalami rasa menyengat, gatal, panas, atau kemerahan terhadap pemicu tertentu.Karena itu, respons kulit sebaiknya dibaca bersama konteksnya. Sebelum menyimpulkan bahwa produk tiba-tiba tidak cocok, ada baiknya melihat apa yang terjadi pada kulit dalam beberapa hari terakhir.Baca Juga: Mengapa Kulit Bisa Terasa Kering tetapi Tetap Berminyak?Ketika Skin Barrier Sedang Tidak dalam Kondisi TerbaikLapisan terluar kulit atau stratum corneum memiliki peran penting dalam mempertahankan air sekaligus membatasi masuknya berbagai zat dari lingkungan. Lipid di antara sel-sel pada lapisan ini membantu membentuk skin barrier yang efektif. Ketika fungsinya terganggu, kulit dapat kehilangan air lebih mudah dan menjadi lebih reaktif terhadap paparan yang sebelumnya dapat ditoleransi.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., menjelaskan bahwa respons terhadap kosmetik tidak hanya dipengaruhi komposisi produk, tetapi juga kondisi kulit saat produk tersebut digunakan. Formula yang biasanya dapat ditoleransi bisa terasa berbeda ketika fungsi pelindung kulit sedang terganggu. Inilah alasan evaluasi terhadap reaksi kosmetik sebaiknya tidak dilepaskan dari kondisi kulit penggunanya.Rutinitas yang terlalu agresif dapat menjadi salah satu pemicunya. Penggunaan eksfolian terlalu sering, menggabungkan beberapa bahan aktif dengan potensi iritasi, mencuci wajah berlebihan, atau terus mencoba produk baru dapat meningkatkan beban pada kulit. Pada kondisi seperti ini, menambahkan produk lain untuk ‘memperbaiki’ setiap gejala justru berpotensi membuat penyebabnya semakin sulit dikenali.American Academy of Dermatology juga menyarankan pendekatan perawatan yang lembut ketika kulit mengalami iritasi. Mengurangi paparan produk yang berpotensi mengiritasi dan menggunakan pelembap dapat membantu menjaga lapisan pelindung kulit. Kulit yang sedang reaktif tidak selalu membutuhkan lebih banyak bahan aktif, tetapi terkadang membutuhkan rutinitas yang lebih sederhana.Baca Juga: Perlukah Mengganti Rutinitas Skincare Saat Memasuki Usia 30-an?Kulit Juga Bereaksi terhadap Apa yang Terjadi di SekitarnyaLingkungan dapat membuat toleransi kulit berubah tanpa banyak disadari. Paparan sinar matahari, udara sangat panas, ruangan berpendingin udara, kelembapan rendah, atau perubahan cuaca dapat memengaruhi hidrasi dan kenyamanan kulit. Bahkan perjalanan ke tempat dengan kondisi lingkungan berbeda dapat membuat rutinitas yang biasanya terasa normal membutuhkan penyesuaian.Perubahan hormonal juga dapat ikut memengaruhi kondisi kulit. Siklus menstruasi, kehamilan, menopause, maupun perubahan hormon lainnya dapat berhubungan dengan perubahan produksi sebum, jerawat, dan reaktivitas kulit pada sebagian orang. Namun, respons ini sangat individual sehingga tidak tepat membuat aturan bahwa kulit pasti menjadi sensitif pada hari tertentu setiap bulan.Kebiasaan yang tampaknya tidak berkaitan dengan skincare pun dapat memberi kontribusi. Kurang tidur, stres, aktivitas di luar ruangan, atau gesekan berulang dari masker dan kebiasaan menyentuh wajah dapat membuat kulit menghadapi kondisi berbeda dari hari biasanya. Satu faktor mungkin tidak langsung menyebabkan masalah, tetapi beberapa faktor yang muncul bersamaan dapat membuat ambang toleransi kulit menurun.Ketika wajah mendadak lebih sensitif, menambah banyak produk sekaligus bukan langkah pertama yang paling mudah dievaluasi. Rutinitas dapat disederhanakan sementara dengan pembersih yang lembut, pelembap yang sesuai, dan perlindungan terhadap sinar matahari. Bahan aktif yang biasanya memberikan sensasi kuat juga dapat dievaluasi frekuensinya sampai kulit kembali terasa nyaman.Penting pula membedakan sensitivitas sementara dengan reaksi yang membutuhkan perhatian lebih serius. Rasa terbakar yang kuat, pembengkakan, ruam yang menyebar, gatal berat, atau keluhan yang terus memburuk tidak sebaiknya dianggap sebagai fase kulit yang akan berlalu sendiri. Pemeriksaan dokter kulit dapat membantu menentukan apakah terdapat dermatitis, alergi, atau kondisi lain yang membutuhkan penanganan.Wajah yang terasa lebih sensitif pada hari tertentu bukan berarti jenis kulit tiba-tiba berubah. Kulit terus berinteraksi dengan lingkungan, rutinitas, hormon, dan kondisi tubuh sehingga toleransinya dapat naik dan turun. Kadang, respons terbaik terhadap hari ketika kulit terasa lebih ‘rewel’ bukan mencari produk baru, melainkan mengurangi gangguan dan memberi kesempatan bagi kulit untuk kembali ke kondisi yang nyaman. [][Eva Evilia/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Mengapa Kulit Bisa Terasa Kering tetapi Tetap Berminyak?
SkinCare

01 Sep 2026

Mengapa Kulit Bisa Terasa Kering tetapi Tetap Berminyak?

Kulit terasa tertarik setelah dibersihkan. Beberapa jam kemudian wajah justru mengilap. Kering dan berminyak ternyata bisa terjadi pada kulit yang sama.Kulit berminyak sering dianggap sebagai kebalikan dari kulit kering. Jika wajah menghasilkan banyak minyak, kulit dianggap sudah memiliki kelembapan yang cukup. Anggapan ini membuat rasa kencang, kasar, atau tidak nyaman pada kulit berminyak terkadang terasa membingungkan.Kuncinya terletak pada dua hal yang berbeda: minyak dan air. Sebum merupakan substansi berminyak yang diproduksi kelenjar sebaceous, sedangkan hidrasi berkaitan dengan kandungan air pada lapisan kulit. Karena mekanismenya berbeda, kulit dapat menghasilkan cukup banyak sebum tetapi tetap mengalami kekurangan air.Kondisi tersebut sering disebut sebagai kulit dehidrasi. Berbeda dengan tipe kulit kering yang cenderung berkaitan dengan produksi lipid atau sebum yang lebih rendah, dehidrasi merupakan kondisi ketika kulit kekurangan air. Artinya, dehidrasi dapat dialami oleh berbagai tipe kulit, termasuk kulit yang secara alami berminyak.Perbedaan ini penting karena menentukan cara merawatnya. Ketika minyak selalu diperlakukan sebagai sesuatu yang harus dihilangkan sebanyak mungkin, rutinitas yang terlalu agresif justru dapat memperburuk rasa kering dan tidak nyaman yang sedang dialami kulit.Baca Juga: Perlukah Mengganti Rutinitas Skincare Saat Memasuki Usia 30-an?Minyak dan Hidrasi Bukan Hal yang SamaLapisan terluar kulit atau stratum corneum berperan penting dalam mempertahankan air sekaligus melindungi kulit dari lingkungan. Di dalamnya terdapat lipid yang membantu membentuk sistem pertahanan kulit atau skin barrier. Ketika fungsi lapisan ini terganggu, air dapat lebih mudah menguap melalui proses yang dikenal sebagai transepidermal water loss atau TEWL.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menjelaskan bahwa kondisi kulit tidak cukup dinilai hanya dari banyak atau sedikitnya minyak di permukaan. Kemampuan kulit mempertahankan air, kondisi skin barrier, lingkungan, serta produk yang digunakan ikut memengaruhi sensasi dan penampilan kulit. Karena itu, wajah yang tampak mengilap belum tentu memiliki kondisi hidrasi yang optimal.Kebiasaan membersihkan wajah secara berlebihan dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Pembersih yang terasa sangat kuat, mencuci wajah terlalu sering, atau penggunaan eksfolian yang berlebihan dapat mengganggu komponen permukaan kulit. Hasilnya bukan selalu kulit yang terasa lebih bersih, tetapi bisa berupa rasa tertarik, perih, kasar, atau lebih mudah bereaksi.American Academy of Dermatology menyarankan penggunaan pembersih yang lembut dan menghindari menggosok kulit secara berlebihan. Prinsip tersebut relevan pula bagi kulit berminyak. Menghilangkan seluruh sensasi licin dari wajah bukan ukuran bahwa proses membersihkan kulit telah dilakukan dengan lebih baik.Baca Juga: Mengapa Kulit Masih Terlihat Kusam Padahal Sudah Rutin Skincare?Kulit Berminyak Tetap Membutuhkan PelembapKesalahpahaman berikutnya muncul ketika pelembap dihindari karena dianggap akan membuat wajah semakin berminyak. Padahal, pelembap tidak hanya berfungsi menambahkan minyak. Formula dapat mengandung humektan untuk membantu menarik dan mempertahankan air, emolien untuk memperbaiki rasa pada permukaan kulit, serta komponen oklusif yang membantu mengurangi kehilangan air.Pemilik kulit berminyak dapat memilih tekstur yang sesuai dengan kenyamanan kulitnya. Produk berbentuk gel, losion ringan, atau formula berlabel non-comedogenic sering lebih nyaman bagi sebagian orang dibandingkan krim yang terasa berat. Namun, tekstur ringan tidak berarti kebutuhan terhadap hidrasi menjadi kurang penting.Lingkungan juga dapat mengubah keseimbangan tersebut. Ruangan berpendingin udara, cuaca panas, paparan matahari, kelembapan udara, hingga kebiasaan mandi atau mencuci wajah dengan air terlalu panas dapat memengaruhi kehilangan air dari kulit. Karena itu, kondisi kulit dapat berubah meskipun tipe kulit dasarnya tidak berubah.Rutinitas yang terlalu rumit juga layak diperiksa ketika kulit mulai terasa kering sekaligus berminyak. Penggunaan beberapa jenis asam eksfoliasi, retinoid, atau bahan aktif lain secara bersamaan dapat meningkatkan kemungkinan iritasi apabila tidak sesuai dengan toleransi kulit. Menambah produk baru untuk mengatasi setiap gejala belum tentu menjadi jawaban apabila sumber masalahnya justru berasal dari rutinitas yang terlalu agresif.Kulit pun tidak selalu membutuhkan sensasi kesat untuk disebut bersih. Pembersihan yang lembut, pelembap yang sesuai, perlindungan dari sinar matahari, serta penggunaan bahan aktif secara terukur dapat membantu menjaga kondisi skin barrier. Jika kulit terus terasa sangat perih, mengelupas, meradang, atau menunjukkan keluhan yang menetap, pemeriksaan oleh dokter kulit lebih tepat daripada terus bereksperimen dengan produk.Jadi, kulit yang kering tetapi tetap berminyak bukanlah sebuah kontradiksi. Permukaan kulit dapat memiliki banyak sebum sementara kandungan air dan kemampuan mempertahankan hidrasi tetap tidak optimal. Memahami perbedaan tersebut membuat tujuan perawatan berubah: bukan berusaha menghilangkan minyak sebanyak mungkin, tetapi membantu kulit mencapai kondisi yang lebih seimbang dan nyaman. [][Eva Evilia/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Menampilkan 1 - 12 dari 125 artikel