Seharusnya mandi membuat tubuh terasa segar dan nyaman. Namun, mengapa sebagian orang justru mengalami kulit gatal, kering, atau tertarik setelahnya?
Mandi merupakan salah satu kebiasaan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Air dan sabun membantu membersihkan keringat, minyak berlebih, kotoran, serta berbagai zat yang menempel pada permukaan kulit. Setelah mandi, tubuh biasanya terasa lebih bersih dan nyaman.
Namun, pengalaman tersebut tidak selalu sama bagi setiap orang. Ada yang merasakan kulit tertarik setelah mengeringkan badan, muncul rasa gatal pada kaki dan tangan, atau mengalami sensasi perih ketika menggunakan produk perawatan tubuh. Sebagian orang bahkan merasa perlu menggaruk kulit beberapa menit setelah keluar dari kamar mandi.
Rasa gatal setelah mandi sering langsung dikaitkan dengan sabun yang tidak cocok. Padahal, penyebabnya dapat melibatkan suhu air, durasi mandi, cara membersihkan tubuh, kondisi skin barrier, hingga gangguan kulit tertentu. Produk pembersih memang bisa berperan, tetapi bukan satu-satunya faktor yang perlu diperhatikan.
Kulit mempunyai lapisan pelindung yang membantu mempertahankan air sekaligus membatasi masuknya zat dari lingkungan. Ketika fungsi lapisan tersebut terganggu, kulit dapat lebih mudah kehilangan kelembapan dan menjadi sensitif terhadap berbagai rangsangan. Kondisi inilah yang menjelaskan mengapa aktivitas membersihkan tubuh terkadang justru diikuti rasa tidak nyaman.
Baca Juga: Mengapa Kulit Tubuh Sering Dirawat Lebih Sedikit daripada Kulit Wajah?
Ketika Mandi Mengurangi Kelembapan Alami Kulit
Salah satu penyebab paling umum gatal setelah mandi adalah kulit kering atau xerosis. Kondisi ini terjadi ketika kadar air dan kemampuan kulit mempertahankan kelembapan tidak mencukupi. Kulit yang kering dapat terasa kasar, tertarik, bersisik, dan kadang disertai rasa gatal.
Air panas menjadi salah satu faktor yang dapat memperburuk keadaan tersebut. Mandi terlalu lama dengan air panas dapat meningkatkan hilangnya lipid permukaan dan memperparah kekeringan pada kulit yang rentan. Akibatnya, sensasi nyaman ketika berada di bawah air hangat dapat berubah menjadi rasa tertarik atau gatal setelah tubuh dikeringkan.
Produk pembersih juga mempunyai peran penting. Sabun dan body wash mengandung surfaktan yang membantu mengangkat minyak serta kotoran dari permukaan kulit. Namun, jenis surfaktan, konsentrasi, pH, dan keseluruhan formulasi dapat memengaruhi seberapa besar produk berinteraksi dengan lipid serta protein pada lapisan kulit.
Karena itu, busa yang melimpah tidak otomatis menunjukkan bahwa produk lebih baik. Pembersih yang terlalu kuat bagi kondisi kulit tertentu dapat memperparah kekeringan atau iritasi, terutama jika digunakan terlalu sering. Sebaliknya, produk dengan formulasi lebih lembut dapat membantu membersihkan tubuh tanpa menimbulkan gangguan yang tidak diperlukan.
Cara mengeringkan badan juga perlu diperhatikan. Menggosok kulit terlalu keras menggunakan handuk dapat menambah gesekan pada permukaan yang sudah sensitif. American Academy of Dermatology menyarankan penderita kulit kering untuk mengeringkan tubuh dengan menepuk kulit secara perlahan dan segera menggunakan pelembap ketika kulit masih sedikit lembap.
Pelembap membantu mengurangi kehilangan air dan mendukung fungsi lapisan pelindung kulit. Bahan seperti gliserin, petrolatum, dan ceramide dapat mempunyai peran berbeda dalam mempertahankan hidrasi serta mendukung kondisi skin barrier. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada formulasi produk dan kebutuhan kulit masing-masing.
Baca Juga: Kebiasaan Kecil Setelah Mandi yang Sering Diabaikan, Padahal Berdampak bagi Kulit
Tidak Semua Gatal Setelah Mandi Disebabkan Kulit Kering
Meskipun kulit kering merupakan penyebab yang sering dijumpai, rasa gatal setelah mandi tidak selalu berkaitan dengan kurangnya kelembapan. Pada sebagian orang, produk pembersih atau pewangi dapat memicu dermatitis kontak iritan maupun alergi. Kondisi tersebut dapat disertai kemerahan, ruam, rasa terbakar, atau gatal yang menetap.
Orang dengan dermatitis atopik atau eksim juga dapat mengalami keluhan yang memburuk setelah mandi. Kulit dengan kondisi tersebut sering mempunyai gangguan fungsi barrier sehingga lebih mudah bereaksi terhadap suhu, gesekan, dan bahan tertentu. Oleh sebab itu, pemilihan pembersih yang lembut serta penggunaan pelembap menjadi bagian penting dalam perawatan sehari-hari.
Ada pula kondisi yang disebut aquagenic pruritus, yaitu rasa gatal yang dipicu kontak dengan air tanpa selalu disertai ruam yang terlihat. Kondisi ini berbeda dari kulit kering biasa dan dapat terjadi pada berbagai suhu air. Pada sebagian kasus, keluhan tersebut berkaitan dengan kondisi medis tertentu sehingga membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Untuk keluhan ringan yang tampaknya berkaitan dengan kekeringan, perubahan kebiasaan mandi dapat dicoba terlebih dahulu. Gunakan air suam-suam kuku, batasi durasi mandi sekitar lima hingga sepuluh menit, pilih pembersih yang lembut, dan hindari menggosok kulit berlebihan. Setelah mandi, gunakan pelembap ketika kulit masih sedikit lembap untuk membantu mempertahankan hidrasi.
Jika rasa gatal terus berulang, mengganggu tidur, disertai ruam berat, luka akibat garukan, atau muncul setiap kali terkena air tanpa perubahan kulit yang jelas, pemeriksaan dokter diperlukan. Terlebih apabila keluhan berlangsung lama atau disertai gejala lain yang tidak biasa, penyebabnya tidak sebaiknya ditebak hanya dari kebiasaan mandi. Penanganan yang tepat bergantung pada kondisi yang mendasarinya.
Mandi seharusnya membantu menjaga kebersihan tanpa mengorbankan kenyamanan kulit. Rasa gatal sesekali mungkin dapat membaik setelah kebiasaan mandi dan perawatan tubuh disesuaikan, tetapi keluhan yang menetap memerlukan perhatian lebih lanjut. Sebab, kulit yang bersih tidak harus terasa kesat, tertarik, atau gatal untuk membuktikan bahwa proses membersihkannya berhasil. [][Vikalena Lasmoskwa/TBV]
Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.