Leher terasa panas, perih, atau muncul bintik setelah bercukur. Penyebabnya tidak selalu pisau cukur, tetapi juga cara mencukur dan respons kulit.
Bercukur merupakan bagian dari rutinitas perawatan diri bagi banyak pria. Aktivitas yang terlihat sederhana ini terkadang meninggalkan rasa tidak nyaman, terutama pada kulit leher dan bagian bawah rahang. Kulit dapat terasa panas, perih ketika terkena air, atau tampak kemerahan beberapa saat setelah rambut dicukur.
Sebagian pria menganggap keluhan tersebut sebagai akibat biasa dari penggunaan pisau cukur. Ada pula yang langsung menyalahkan produk cukur atau cairan setelah bercukur ketika kulit mulai terasa menyengat. Padahal, iritasi setelah bercukur dapat melibatkan beberapa mekanisme yang berbeda.
Leher merupakan area yang cukup menantang karena arah pertumbuhan rambut tidak selalu seragam. Rambut di bawah rahang dapat tumbuh menyamping, ke atas, atau membentuk pola yang berbeda pada area berdekatan. Kondisi tersebut membuat seseorang lebih mudah mencukur berlawanan dengan arah pertumbuhan rambut tanpa menyadarinya.
Selain arah rambut, kondisi permukaan kulit juga menentukan respons terhadap pencukuran. Pisau yang bergerak terlalu kuat dapat mengganggu lapisan terluar epidermis, sementara rambut yang terpotong terlalu pendek berpotensi tumbuh kembali ke dalam kulit. Kedua keadaan tersebut dapat menimbulkan keluhan yang mirip, meskipun penyebab dan penanganannya tidak sepenuhnya sama.
Baca Juga: Mengapa Pria yang Memelihara Janggut Tetap Perlu Merawat Kulit di Bawahnya?
Ketika Pisau Cukur Mengganggu Lapisan Pelindung Kulit
Kulit mempunyai lapisan pelindung yang membantu mempertahankan kelembapan sekaligus membatasi kontak langsung dengan bahan dari lingkungan. Lapisan terluar epidermis, terutama stratum korneum, berperan penting dalam fungsi tersebut. Ketika permukaannya mengalami gesekan berulang, kulit dapat menjadi lebih rentan terhadap iritasi.
Salah satu keluhan yang umum terjadi setelah bercukur dikenal sebagai razor burn. Kondisi ini merupakan iritasi yang dapat menimbulkan rasa panas, menyengat, gatal, dan kemerahan. Gejalanya sering muncul tidak lama setelah bercukur dan dapat bertahan selama beberapa jam hingga beberapa hari.
Dilansir dari Cleveland Clinic, razor burn dapat terjadi akibat mencukur tanpa pelumas yang memadai, menggunakan pisau tumpul, bergerak terlalu cepat, atau mencukur berlawanan dengan arah pertumbuhan rambut. Gesekan pisau dapat menyebabkan gangguan kecil pada permukaan epidermis, kehilangan kelembapan, serta respons peradangan. Karena itu, rasa perih setelah bercukur tidak selalu berarti kulit mengalami luka yang terlihat.
Tekanan ketika mencukur juga perlu diperhatikan. Menekan pisau terlalu kuat atau mengulang gerakan berkali-kali pada area yang sama dapat meningkatkan kontak mekanis dengan permukaan kulit. Kebiasaan mengejar hasil cukuran yang sangat licin justru dapat membuat kulit menerima gesekan lebih banyak daripada yang diperlukan.
Menurut dokter spesialis kulit Dr. Cameron K. Rokhsar, dalam publikasi American Academy of Dermatology [AAD] pada 2022, perubahan kebiasaan bercukur dapat membantu mengurangi keluhan berupa benjolan yang terasa sakit atau gatal. Ia menekankan pentingnya memperhatikan teknik pencukuran dan persiapan rambut sebelum menggunakan pisau. Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa iritasi tidak selalu membutuhkan produk perawatan tambahan jika sumber tekanan mekanisnya belum diperbaiki.
Produk yang digunakan selama dan setelah bercukur juga dapat memengaruhi kenyamanan kulit. Bahan pewangi atau komponen tertentu dalam produk kosmetik berpotensi menimbulkan rasa menyengat pada kulit yang sedang teriritasi. Pada sebagian orang, keluhan dapat berkaitan dengan dermatitis kontak iritan atau alergi, sehingga tidak tepat menganggap semua reaksi sebagai akibat pisau cukur semata.
Baca Juga: Mengapa Kulit Pria Sering Terasa Perih Setelah Bercukur?
Rambut Tumbuh ke Dalam Kulit, Bukan Sekadar Iritasi Biasa
Tidak semua keluhan setelah bercukur muncul segera setelah pisau menyentuh kulit. Sebagian pria justru menemukan benjolan kecil menyerupai jerawat ketika rambut mulai tumbuh kembali. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan pseudofolliculitis barbae, yaitu peradangan akibat rambut yang tumbuh atau melengkung kembali ke dalam kulit.
Dalam artikel ilmiah Pseudofolliculitis Barbae yang diterbitkan di JAMA Dermatology pada 2022, dokter Tejesh S. Patel dan Yoseph Dalia menjelaskan bahwa rambut yang melengkung dan masuk kembali ke kulit dapat memicu respons peradangan. Kondisi ini lebih sering terjadi pada rambut yang secara alami keriting atau melengkung. Area janggut dan leher menjadi lokasi yang umum terdampak.
Penjelasan kedua dokter tersebut memperlihatkan perbedaan antara razor burn dan pseudofolliculitis barbae. Razor burn terutama berkaitan dengan iritasi permukaan kulit akibat proses pencukuran, sedangkan pseudofolliculitis barbae melibatkan rambut yang tumbuh kembali dan memicu reaksi di sekitar folikel. Keduanya dapat menimbulkan kemerahan, tetapi benjolan akibat rambut tumbuh ke dalam kulit sering muncul sebagai keluhan yang lebih menonjol.
DermNet, sumber informasi dermatologi yang turut dikembangkan oleh dokter spesialis kulit Dr. Amanda Oakley, menjelaskan bahwa pseudofolliculitis barbae sering ditemukan pada area bawah rahang. Di lokasi tersebut, arah pertumbuhan rambut dapat bervariasi sehingga teknik mencukur menjadi lebih sulit. Kondisi ini juga dapat meninggalkan hiperpigmentasi pascainflamasi atau bekas luka apabila peradangan berlangsung berulang.
Benjolan setelah bercukur tidak selalu berarti terjadi infeksi bakteri. Pseudofolliculitis barbae terutama merupakan respons peradangan terhadap rambut yang masuk ke kulit, sedangkan folikulitis infeksius melibatkan mikroorganisme. Membedakan keduanya penting karena tidak semua benjolan membutuhkan antibiotik.
Pencegahan dapat dimulai dengan mengenali arah pertumbuhan rambut pada setiap bagian leher. AAD menyarankan agar rambut dan kulit dibasahi terlebih dahulu, kemudian menggunakan krim atau gel cukur untuk mengurangi gesekan. Pisau sebaiknya digerakkan mengikuti arah pertumbuhan rambut, bukan berlawanan, serta dibilas setelah setiap sapuan.
Ketajaman dan kebersihan alat cukur juga perlu diperhatikan. AAD menyarankan penggantian pisau sekali pakai atau mata pisau setelah sekitar lima hingga tujuh kali pencukuran untuk membantu mengurangi iritasi. Alat cukur perlu dikeringkan dan disimpan di tempat yang tidak terus-menerus lembap.
Bagi pria yang berulang kali mengalami benjolan akibat rambut tumbuh ke dalam, penggunaan alat cukur elektrik dapat dipertimbangkan. Alat yang tidak memotong rambut terlalu dekat dengan permukaan kulit mungkin lebih sesuai untuk sebagian orang. Pilihan ini tetap perlu disesuaikan dengan karakter rambut, kenyamanan kulit, dan tingkat keparahan keluhan.
Ketika leher sudah terasa perih, mencukur kembali area yang sama sebaiknya ditunda sampai kulit lebih nyaman. Kompres dingin dan pelembap yang lembut dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan akibat iritasi ringan. Produk setelah bercukur yang menimbulkan sensasi terbakar sebaiknya dihentikan, bukan dianggap sebagai tanda bahwa produk sedang bekerja.
Apabila benjolan terus berulang, muncul nanah, nyeri bertambah berat, atau terbentuk bekas luka, pemeriksaan dokter spesialis kulit diperlukan. Keluhan yang menyerupai iritasi cukur dapat memiliki penyebab berbeda dan membutuhkan penanganan khusus. Penundaan pemeriksaan pada peradangan yang menetap dapat meningkatkan risiko perubahan warna kulit atau jaringan parut.
Leher yang terasa perih setelah bercukur bukan semata-mata persoalan kulit sensitif. Gesekan pisau, arah pertumbuhan rambut, kondisi lapisan pelindung kulit, dan produk yang digunakan dapat berperan secara bersamaan. Mengenali penyebabnya membantu menentukan apakah yang perlu diubah adalah teknik bercukur, alat yang digunakan, atau perawatan kulit setelahnya. [][Rommy Rimbarawa/TBV]
Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.