Tag

349

Jelajahi artikel dengan tag 349

Perawatan Rambut ala Nusantara, Mana yang Pernah Anda Coba?
PersonalCare

03 Feb 2026

Perawatan Rambut ala Nusantara, Mana yang Pernah Anda Coba?

Di tengah rak produk modern yang kian penuh, perawatan rambut tradisional Nusantara seringkali terdengar seperti cerita lama. Padahal, sebelum istilah hair serum dan scalp treatment dikenal luas, leluhur kita sudah lebih dulu memahami cara menjaga rambut tetap kuat dan sehat.Perawatan ini tidak sekadar soal hasil instan. Ada proses, kesabaran, dan kedekatan dengan alam yang membuat ritualnya terasa personal. Rambut dirawat bukan untuk sekadar tampil, tetapi untuk dijaga keberlanjutannya.Ragam Perawatan Rambut Tradisional NusantaraSalah satu yang paling dikenal adalah penggunaan minyak kemiri. Minyak ini telah lama digunakan untuk membantu memperkuat akar rambut dan menjaga kilau alami. Teksturnya yang kaya membuat rambut terasa lebih berat, tetapi justru itu yang membantu melindungi batang rambut dari kekeringan.Selain kemiri, ada lidah buaya yang digunakan sebagai masker rambut dan kulit kepala. Gel alaminya memberi sensasi dingin sekaligus membantu menjaga kelembapan. Di banyak daerah, lidah buaya dipakai untuk merawat rambut rontok dan kulit kepala yang mudah gatal.Tak ketinggalan urang-aring dan daun pandan yang direbus lalu airnya digunakan sebagai bilasan rambut. Tradisi ini dipercaya membantu menghitamkan rambut secara alami dan menjaga aromanya tetap segar tanpa wewangian buatan.Baca Juga: Lulur Tradisional dan Cara Tubuh Mengingat Perawatan Alami Manfaat yang Bekerja Perlahan tapi KonsistenPerawatan rambut tradisional tidak menjanjikan perubahan dalam semalam. Manfaatnya terasa melalui pemakaian rutin dan konsisten. Rambut menjadi lebih kuat, tidak mudah patah, dan tampak lebih sehat dari waktu ke waktu.Bahan-bahan alami juga cenderung lebih bersahabat bagi kulit kepala sensitif. Risiko iritasi relatif lebih rendah karena tidak melalui proses kimia kompleks. Inilah alasan mengapa perawatan tradisional sering bertahan lintas generasi.Lebih dari itu, ritual perawatan ini memberi ruang jeda. Saat mengoleskan minyak atau membilas rambut dengan air rebusan daun, ada waktu untuk memperhatikan tubuh sendiri, sesuatu yang kerap terlewat dalam rutinitas modern.Baca Juga: Kenapa Lutut, Siku, dan Mata Kaki Mudah Menghitam? Ini Cara Merawatanya Cara Melakukan Perawatan Rambut Tradisional di RumahPerawatan bisa dimulai dengan langkah sederhana. Minyak kemiri atau minyak kelapa dapat dipijatkan ke kulit kepala sebelum keramas. Pijatan lembut membantu melancarkan peredaran darah sekaligus memberi waktu bagi rambut untuk menyerap nutrisi.Masker lidah buaya dapat digunakan satu hingga dua kali seminggu. Gel dioleskan merata, didiamkan beberapa menit, lalu dibilas hingga bersih. Rambut akan terasa lebih lembut tanpa rasa berat berlebihan.Untuk bilasan tradisional, rebusan daun dapat digunakan setelah keramas sebagai tahap akhir. Tidak perlu dibilas kembali dengan air biasa, cukup dikeringkan secara alami agar manfaatnya tetap tertinggal di rambut.Merawat rambut ala Nusantara bukan soal kembali ke masa lalu. Ini tentang memilih cara yang lebih sadar, pelan, dan menghargai proses. Rambut dirawat bukan karena tren, melainkan karena ia bagian dari tubuh yang layak dijaga. [][Vikalena Lasmoskwa/TBV]Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi

Benarkah Over-Shower Bikin Kulit Mudah Rusak?
PersonalCare

19 Nov 2025

Benarkah Over-Shower Bikin Kulit Mudah Rusak?

Rutinitas mandi itu menyegarkan. Tapi apakah tubuh selalu membutuhkannya? Kadang, yang kita kira bersih dengan over-shower justru mengikis pelindung alami kulit.Mandi sering kali dianggap sebagai cara tercepat untuk mengembalikan energi, seolah ada jarak tipis antara air yang mengalir dengan perasaan lega yang kita cari. Namun, di sisi lain, tubuh memiliki sinyal-sinyalnya sendiri tentang kapan ia benar-benar membutuhkan sentuhan air itu.Fenomena over-shower kini banyak diperbincangkan, terutama di negara beriklim tropis seperti Indonesia, tempat mandi lebih sering dilakukan bukan hanya karena kebutuhan fisik, tetapi juga emosional. Namun, apakah frekuensi ini benar-benar baik untuk kulit?Menurut American Academy of Dermatology [AAD], mandi terlalu sering dapat mengikis lapisan pelindung alami kulit yang disebut skin barrier, lapisan yang bertugas menjaga kelembapan sekaligus mencegah iritasi. Jika lapisan ini terganggu, kulit menjadi lebih mudah kering dan sensitif.Dilansir dari Healthline, kebiasaan mandi berlebihan juga dapat mengganggu keseimbangan mikrobioma kulit — kumpulan bakteri baik yang melindungi permukaan kulit dari patogen. Saat keseimbangan ini rusak, kulit menjadi lebih rentan mengalami jerawat badan, gatal, hingga iritasi.Baca Juga: Wangi yang Bicara, Menemukan Aroma Diri yang SejatiKetika Kebiasaan Bersih Justru Mengiritasi KulitSering kali kita mandi bukan karena kotor, tetapi karena terbiasa. Namun, satu hal yang jarang disadari: sabun yang terlalu sering digunakan dapat mengikis minyak alami yang menjaga kelembutan kulit.Harvard Health menyebutkan bahwa minyak alami tubuh merupakan bagian dari sistem perlindungan kulit yang paling mendasar. Ketika minyak ini hilang terlalu sering, kulit menjadi rapuh dan sulit mempertahankan kelembapan alaminya.Inilah sebabnya beberapa orang justru mengalami kulit perih, terkelupas, atau terasa tertarik setelah mandi — bukan karena kulit mereka bermasalah, tetapi karena rutinitas mandinya terlalu keras bagi tubuh.Di titik ini, kita diajak kembali mendengarkan tubuh: apakah benar tubuh meminta pembersihan, atau hanya sekadar ingin merasakan nyaman?Baca Juga: Body Wellness: Perawatan Kulit & Tubuh MenyeluruhFrekuensi Mandi Ideal dan Tanda bahwa Kulit Mulai LelahSetiap orang memiliki kebutuhan mandi yang berbeda, tetapi para ahli kulit sepakat bahwa mandi dua kali sehari sudah cukup, bahkan bagi mereka yang tinggal di iklim lembap.AAD menegaskan bahwa mandi terlalu sering — terutama dengan air panas — mempercepat hilangnya lipid alami pada permukaan kulit, yang berperan penting menjaga rasa nyaman dan kelembutan.Jika kulit mulai terasa panas, gatal, atau mudah memerah setelah mandi, itu bisa menjadi tanda bahwa tubuh sedang meminta kita untuk memperlambat ritme kebersihan yang berlebihan.Langkah sederhana seperti menggunakan sabun hanya pada area tertentu, memilih suhu air yang lebih hangat daripada panas, dan memberi jeda agar kulit bisa bernapas dapat membantu merestorasi kenyamanan alami kulit. [][Vikalena Lasmoskwa/TBV]penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi