Tag

932

Jelajahi artikel dengan tag 932

Dermatologically Tested, Maksudnya Apa?
TanyaDong

03 Mar 2026

Dermatologically Tested, Maksudnya Apa?

Di rak skincare, kalimat 'dermatologically tested' sering muncul seperti stempel kepercayaan.Namun di balik dua kata itu, banyak orang sebenarnya masih bertanya: diuji bagaimana, oleh siapa, dan apa artinya bagi kulit kita?Pertanyaan ini sering dilontarkan ke Redaksi, karena label tersebut terasa ilmiah sekaligus misterius. Banyak orang mengira bahwa jika suatu produk sudah dermatologically tested, maka produk itu otomatis aman untuk semua orang.Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Istilah ini lebih berkaitan dengan proses pengujian, bukan jaminan mutlak bahwa produk tidak akan menimbulkan reaksi pada siapa pun.Secara umum, klaim dermatologically tested berarti produk tersebut telah diuji pada manusia dengan pengawasan dokter kulit atau tenaga medis yang memiliki kompetensi di bidang dermatologi.Namun metode pengujiannya bisa berbeda-beda. Ada yang hanya melakukan patch test sederhana pada sejumlah relawan, ada juga yang menjalankan uji penggunaan dalam periode tertentu untuk melihat reaksi kulit.Baca Juga: Apakah Skincare Harus Disesuaikan Usia?Uji Kulit, Bukan Janji MutlakDalam praktiknya, pengujian dermatologis biasanya melibatkan kelompok kecil sukarelawan. Produk dioleskan pada kulit mereka selama periode tertentu untuk melihat apakah muncul iritasi, kemerahan, atau reaksi alergi.Menurut penjelasan akademisi di Universitas Padjadjaran, khususnya dari lingkungan Fakultas Farmasi, pengujian dermatologis pada kosmetik umumnya bertujuan menilai potensi iritasi kulit dalam kondisi penggunaan normal. Artinya, fokusnya adalah mengamati kemungkinan reaksi, bukan menjamin tidak ada reaksi sama sekali.Hal ini penting dipahami karena kulit manusia sangat bervariasi. Apa yang aman bagi 30 relawan dalam uji coba belum tentu memberikan pengalaman yang sama pada semua pengguna di dunia nyata.Baca Juga: Bagaimana Memilih Kosmetik agar Sesuai Klaimnya?Mengapa Tetap Bisa Iritasi?Banyak dermatolog juga menegaskan bahwa label ini tidak sama dengan 'hypoallergenic' atau 'aman untuk semua kulit'. Ia hanya menunjukkan bahwa produk tersebut pernah diuji secara dermatologis.Dermatolog Amerika Whitney Bowe menjelaskan dalam berbagai edukasi perawatan kulit bahwa hasil uji dermatologis sangat bergantung pada jumlah peserta, kondisi kulit mereka, serta metode pengujian yang digunakan. Karena itu, reaksi individu tetap mungkin terjadi.Dengan kata lain, klaim dermatologically tested lebih tepat dibaca sebagai indikasi adanya proses evaluasi medis, bukan sertifikat bebas iritasi. Cara paling aman tetap sama: lakukan patch test di kulit sendiri sebelum memakai produk secara penuh.Jadi Beauties, label tersebut adalah kabar baik, tetapi bukan kartu bebas risiko. Dalam dunia skincare, kulit Anda tetap menjadi laboratorium paling jujur. [][Tim Beautyversity]Artikel ini disusun dengan bantuan AI untuk riset dan perapian struktur tulisan.

Kenapa Kulit Bereaksi Berbeda pada Bahan Aktif?
BahanAktif

02 Mar 2026

Kenapa Kulit Bereaksi Berbeda pada Bahan Aktif?

Ada orang yang memakai satu serum lalu kulitnya langsung tampak cerah. Ada juga yang mencoba bahan yang sama, tetapi kulitnya justru memerah atau terasa perih.Perbedaan reaksi terhadap bahan aktif adalah hal yang cukup umum dalam dunia skincare. Dua orang bisa menggunakan produk yang sama, dengan kandungan yang sama, tetapi hasilnya berbeda.Hal ini sering membuat orang berpikir bahwa suatu bahan aktif 'tidak cocok' atau bahkan 'tidak bagus'. Padahal, reaksi kulit biasanya berkaitan dengan kondisi biologis kulit masing-masing.Kulit manusia bukan permukaan yang seragam. Ia adalah sistem biologis yang dipengaruhi genetik, lingkungan, dan kondisi kesehatan kulit pada saat itu.Karena itu, memahami cara kerja bahan aktif tidak cukup hanya dengan membaca label produk. Kita juga perlu memahami bagaimana kulit merespons zat tersebut.Baca Juga: Kandungan Aktif Populer dan Cara KerjanyaFaktor Biologis yang Membuat Reaksi Kulit BerbedaSalah satu faktor utama yang membuat reaksi kulit berbeda adalah kondisi skin barrier. Lapisan pelindung kulit ini berfungsi menjaga keseimbangan kelembapan sekaligus melindungi kulit dari zat yang berpotensi mengiritasi.Menurut penelitian yang dipimpin Prof. Dr. rer. nat. Anis Yohana Chaerunisaa, M.Si., Apt. dari Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, kondisi lapisan pelindung kulit memiliki peran penting dalam menentukan bagaimana kulit menyerap dan merespons bahan aktif kosmetik. Penjelasan mengenai peran barrier kulit ini juga dibahas dalam publikasi ilmiah di majalah Farmasetika.Jika skin barrier dalam kondisi sehat, bahan aktif seperti niacinamide atau hyaluronic acid biasanya dapat bekerja dengan baik. Namun jika barrier sedang terganggu, bahan yang sama bisa memicu sensasi perih atau kemerahan.Selain itu, faktor genetik dan jenis kulit juga memengaruhi respons kulit. Kulit berminyak, kering, sensitif, atau kombinasi memiliki karakteristik biologis yang berbeda.Penelitian dermatologi yang dipublikasikan dalam Journal of Investigative Dermatology juga menunjukkan bahwa variasi genetik pada fungsi barrier kulit dapat memengaruhi sensitivitas seseorang terhadap bahan aktif tertentu.Baca Juga: Mengenal Bahan Aktif yang Sering Muncul di SkincareKonsentrasi dan Kombinasi Bahan AktifSelain kondisi kulit, reaksi terhadap bahan aktif juga dipengaruhi oleh konsentrasi bahan yang digunakan dalam produk.Beberapa bahan aktif memang bekerja efektif pada konsentrasi tertentu. Misalnya, retinol atau exfoliating acid seperti glycolic acid dan salicylic acid dapat memberikan manfaat besar bagi kulit, tetapi juga berpotensi menimbulkan iritasi jika digunakan terlalu sering.Menurut Dr. Zoe Diana Draelos, dermatolog dan peneliti kosmetik dari Duke University, yang dikutip oleh media dermatologi Dermatology Times, konsentrasi bahan aktif adalah salah satu faktor paling menentukan dalam keamanan dan efektivitas produk kosmetik.Selain itu, kombinasi beberapa bahan aktif dalam satu rutinitas juga dapat memengaruhi reaksi kulit. Misalnya penggunaan retinoid bersamaan dengan exfoliating acid dapat meningkatkan risiko iritasi pada sebagian orang.Karena itu, memahami respons kulit terhadap bahan aktif sebaiknya dilakukan secara bertahap. Memperkenalkan satu bahan baru pada satu waktu membantu kita melihat bagaimana kulit benar-benar bereaksi.Pada akhirnya, skincare bukan sekadar soal mengikuti tren bahan aktif tertentu. Ia lebih mirip proses memahami bahasa kulit sendiri. [][Rudi Tenggarawan/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.