Tag

mythbuster

Jelajahi artikel dengan tag mythbuster

Benarkah Mencabut Alis Membuatnya Tumbuh Lebih Tebal dan Gelap?
MythBuster

25 Nov 2025

Benarkah Mencabut Alis Membuatnya Tumbuh Lebih Tebal dan Gelap?

Mitos tentang alis yang tumbuh lebih tebal setelah dicabut masih sering terdengar hingga sekarang. Namun, benarkah perubahan itu terjadi karena proses mencabutnya?Fenomena mencabut alis sudah berlangsung lama, dari teknik grooming tradisional hingga tren kecantikan modern. Banyak yang memilih mencabut alis untuk merapikan bentuk atau menghilangkan rambut-rambut liar yang mengganggu penampilan. Namun, bersama kebiasaan ini, beredar pula berbagai mitos yang membuat sebagian orang ragu melakukannya.Mitos paling populer menyebut bahwa rambut alis akan tumbuh lebih tebal, lebih gelap, atau lebih cepat setelah dicabut. Narasi ini berkembang dari kesan visual yang muncul ketika rambut baru tumbuh dan tampak lebih kasar dibandingkan rambut alis yang sudah lama tumbuh.Menurut dermatolog dari American Hair Research Society, pertumbuhan rambut tidak berubah hanya karena proses pencabutan. Rambut tumbuh dari folikel, dan mencabut rambut tidak mengubah ukuran maupun struktur folikel tersebut.Dilansir dari Healthline, rambut baru yang tumbuh biasanya terlihat lebih tebal karena ujungnya masih tumpul. Inilah yang sering membuat orang menyimpulkan bahwa mencabut alis membuat rambut terlihat lebih kasar padahal itu hanya fase awal pertumbuhan.Baca Juga: Benarkah Kulit Bisa ‘Detoks’ Sendiri?Mitos-Mitos Populer Seputar Mencabut AlisMitos pertama: mencabut alis membuat rambut tumbuh lebih cepat. Faktanya, kecepatan pertumbuhan alis ditentukan oleh siklus rambut, bukan oleh proses pencabutan.Mitos kedua: rambut akan tumbuh lebih gelap setelah dicabut. Warna rambut ditentukan oleh melanin, yang tidak berubah hanya karena rambut ditarik keluar.Mitos ketiga: sering mencabut alis membuat alis semakin tebal. Yang terjadi sebenarnya adalah ilusi visual karena rambut baru biasanya muncul lebih singkat dan belum memiliki ujung yang meruncing.Beberapa orang bahkan percaya bahwa mencabut alis bisa memicu pertumbuhan rambut di area lain. Padahal, pertumbuhan rambut hanya terjadi pada folikel yang sudah ada—mencabut tidak menciptakan folikel baru.Baca Juga: Masker Malam Bisa Gantikan Pelembap Harian?Fakta Ilmiah tentang Pertumbuhan Rambut AlisPertumbuhan rambut ditentukan oleh tiga fase utama: anagen [fase tumbuh], katagen [fase transisi], dan telogen [fase istirahat]. Menurut Journal of Investigative Dermatology, mencabut rambut hanya memulai ulang siklus ini, bukan memengaruhi ketebalan rambut selanjutnya.Rambut alis baru tampak lebih tebal hanya di awal karena ujungnya belum halus. Seiring waktu, rambut tersebut akan kembali terlihat normal dan mengikuti tekstur alis yang lain.Namun, terlalu sering mencabut dapat memberi efek lain: folikel rambut bisa mengalami trauma ringan. Jika dilakukan berulang dalam jangka panjang, beberapa folikel bisa berhenti memproduksi rambut sehingga alis malah menipis.Kesimpulannya, yang benar bukanlah alis tumbuh lebih tebal setelah dicabut, tetapi bahwa alis akan tetap tumbuh sesuai genetiknya—dan kebiasaan mencabut justru bisa membuatnya menipis jika dilakukan berlebihan. [][Rudi Tenggarawan/TBV]penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi

Masker Malam Bisa Gantikan Pelembap Harian?
MythBuster

15 Nov 2025

Masker Malam Bisa Gantikan Pelembap Harian?

Beberapa orang menganggap masker malam cukup untuk menjaga kelembapan kulit, bahkan tanpa perlu pelembap tambahan. Ide ini memang terdengar praktis, apalagi bagi mereka yang ingin perawatan simpel tapi tetap efektif. Tapi benarkah masker malam bisa sepenuhnya menggantikan fungsi pelembap?Secara prinsip, masker malam atau sleeping mask dibuat untuk memberikan hidrasi intensif selama Anda tidur. Teksturnya biasanya lebih kental dan kaya nutrisi dibanding pelembap biasa. Namun, fungsi utamanya bukan untuk menggantikan, melainkan melengkapi. Masker malam bekerja sebagai lapisan tambahan, bukan pondasi utama.Masalahnya, banyak orang yang melewatkan pelembap dengan alasan 'toh sudah pakai sleeping mask'. Padahal, tanpa pelembap yang mengunci hidrasi di lapisan kulit sebelumnya, efek masker bisa berkurang.Baca Juga: Kulit Kering Karena Hanya Kurang Minum, Benarkah?Apa Bedanya Masker Malam dan Pelembap?Perbedaan utama ada pada komposisi dan tujuan penggunaannya. Pelembap dirancang untuk menjaga keseimbangan air dan minyak kulit sepanjang hari. Sementara masker malam fokus memberi nutrisi tambahan selama fase regenerasi kulit di malam hari.Beberapa masker memang mengandung bahan aktif seperti hyaluronic acid, ceramide, atau niacinamide — mirip dengan pelembap. Tapi konsentrasi dan penyerapannya berbeda. Pelembap bekerja di lapisan permukaan, sementara masker lebih seperti 'seal' yang membantu bahan aktif terserap optimal.Kalau diibaratkan, pelembap adalah nasi sehari-hari, sementara masker malam itu lauk istimewa. Kalau hanya makan lauk tanpa nasi, tubuh tetap tidak akan kenyang sempurna.Baca Juga: Mitos atau Fakta: Tidur Bisa Gantikan Skincare Malam?Jadi, Haruskah Keduanya Dipakai Bersamaan?Idealnya, iya. Gunakan pelembap terlebih dahulu, baru aplikasikan masker malam sebagai tahap terakhir. Dengan cara ini, kelembapan yang sudah dikunci pelembap tidak akan mudah menguap, dan kulit bisa menyerap manfaat masker dengan lebih maksimal.Namun, jika kulit Anda sangat berminyak, penggunaan masker malam bisa dijadwalkan hanya 2–3 kali seminggu. Terlalu sering justru bisa membuat pori tersumbat. Kenali kondisi kulit Anda, karena kunci dari skincare bukan pada banyaknya produk, tapi pada keseimbangan.Jadi, masker malam bukan pengganti pelembap — ia adalah teman baiknya. Dua produk ini saling melengkapi, seperti malam dan pagi yang bekerja dalam ritme yang sama untuk menjaga kulit tetap sehat. [][Rudi Tenggarawan/TBV]

Mitos Kulit Berminyak Tak Butuh Pelembap
MythBuster

30 Okt 2025

Mitos Kulit Berminyak Tak Butuh Pelembap

Pernah dengar kalimat ini: “Kulitku sudah berminyak, jadi tak perlu pakai pelembap”? Kalimat itu begitu sering terdengar, bahkan dianggap logis. Tapi justru di situlah salah satu kesalahpahaman paling umum dalam perawatan kulit berminyak bermula.Kulit berminyak bukan berarti kulit yang lembap. Keduanya berbeda. Minyak di wajah adalah sebum — zat alami yang diproduksi kulit untuk melindungi permukaan. Namun, terlalu banyak sebum justru bisa menandakan kulit sedang berusaha menebus kekeringan dari dalam.Artinya, ketika Anda menolak pelembap karena takut ‘terlalu berminyak’, kulit justru bisa semakin aktif memproduksi minyak untuk mengompensasi kekeringan. Inilah lingkaran yang sering tidak disadari banyak orang.Baca Juga: Semakin Sering Cuci Muka, Semakin Bersih Kulit?Memahami Kebutuhan KulitKunci perawatan kulit berminyak bukan menghilangkan minyak sepenuhnya, tapi menyeimbangkannya. Pilih pelembap dengan tekstur ringan — seperti gel atau lotion berbasis air — yang membantu hidrasi tanpa menyumbat pori.Gunakan setelah mencuci wajah, terutama saat kulit masih sedikit lembap. Langkah ini membantu mengunci air di permukaan kulit. Hindari produk dengan alkohol tinggi yang justru membuat kulit makin kering dan memicu produksi minyak berlebih.Tak kalah penting, pahami bahwa kulit berminyak tetap butuh perlindungan dari sinar UV. Gunakan sunscreen non-comedogenic dengan hasil akhir matte agar wajah tidak tampak terlalu mengilap.Baca Juga: Mitos Sabun Daun Pepaya Menghilangkan Bau BadanMitos Lain yang Perlu DitinggalkanBanyak juga yang percaya bahwa mencuci muka sesering mungkin bisa mengontrol minyak. Faktanya, mencuci terlalu sering justru membuat kulit kehilangan pelindung alaminya. Dua kali sehari sudah cukup: pagi dan malam.Eksfoliasi juga penting, tapi jangan berlebihan. Satu atau dua kali seminggu dengan scrub lembut atau exfoliating toner sudah cukup membantu membersihkan sel kulit mati tanpa merusak lapisan pelindung kulit.Kulit berminyak bukan musuh yang harus ditaklukkan. Ia hanya butuh pendekatan yang lembut dan konsisten. Karena, kulit yang seimbang bukan yang bebas minyak, melainkan yang terasa nyaman dan sehat sepanjang hari.Jadi, jika Anda masih berpikir pelembap hanya untuk kulit kering, mungkin sudah saatnya mematahkan mitos itu. Pelembap adalah teman, bukan musuh, bagi semua jenis kulit. [][Rudi Tenggarawan/TBV]

Menampilkan 37 - 43 dari 43 artikel