Bagaimana agar skincare lebih aman untuk kulit kita? Salah satu kuncinya ada pada INCI List yang selalu tercantum di kemasan produk legal, cuman masalahnya, sudahkah kita tahu cara membacanya dengan benar?
Padahal justru di sanalah letak informasi paling jujur tentang sebuah produk. INCI List bukan dibuat untuk menakut-nakuti konsumen, melainkan untuk melindungi mereka. Masalahnya bukan pada daftar bahannya, tetapi pada kebiasaan kita yang belum terbiasa membacanya dengan benar.
Mari kita pahami cara baca INCI List secara sederhana, logis, dan berbasis ilmu. Dengan pemahaman ini, konsumen diharapkan bisa menilai apakah sebuah produk sesuai dengan kondisi kulitnya, mengurangi risiko iritasi atau alergi, serta tidak mudah terpengaruh oleh klaim pemasaran yang terdengar menjanjikan.
INCI sendiri merupakan singkatan dari International Nomenclature of Cosmetic Ingredients, yaitu sistem penamaan internasional untuk bahan kosmetik. Semua produk kosmetik yang beredar secara legal wajib mencantumkan daftar INCI pada kemasannya. Inilah standar global yang digunakan agar bahan yang sama dapat dikenali di berbagai negara, tanpa bergantung pada istilah lokal atau nama marketing.
Mengapa INCI List begitu penting? Karena klaim promosi tidak memiliki kewajiban untuk sepenuhnya akurat, sementara INCI List harus mencerminkan formula yang benar-benar digunakan. Urutan bahan di dalamnya pun bukan sekadar daftar acak, melainkan gambaran komposisi nyata dari produk tersebut. Sederhananya, apa yang tertulis di INCI biasanya jauh lebih jujur dibandingkan apa yang ditulis di iklan.
Salah satu prinsip dasar yang perlu dipahami adalah bahwa bahan dalam INCI ditulis berdasarkan jumlah terbanyak hingga paling sedikit. Lima bahan pertama biasanya merupakan komponen utama produk. Bahan dengan konsentrasi di bawah satu persen boleh ditulis tanpa urutan yang ketat, sehingga sering kali bahan aktif bernilai tinggi justru berada di bagian tengah atau akhir daftar. Karena itu, posisi sebuah bahan memberi petunjuk penting tentang seberapa besar perannya dalam formula. Niacinamide yang muncul di urutan kedua tentu berbeda maknanya dengan Niacinamide yang baru terlihat di urutan belasan.
Agar tidak kewalahan membaca deretan nama yang tampak rumit, INCI List bisa dipahami dengan membaginya ke dalam beberapa kelompok besar. Di bagian awal biasanya terdapat bahan dasar seperti air dan humektan, yang berfungsi sebagai pelarut dan pembawa bahan lain. Banyak produk terlihat serupa karena memang menggunakan basis formula yang mirip.
Di bagian tengah, biasanya terdapat bahan-bahan penunjang formula, seperti pengemulsi, pengental, atau penstabil. Bahan-bahan ini sering disalahpahami sebagai “tidak penting”, padahal justru berperan menjaga tekstur, stabilitas, dan kenyamanan produk saat digunakan. Tanpa mereka, produk bisa terpisah, cepat rusak, atau tidak nyaman di kulit.
Selanjutnya adalah bahan aktif, yaitu komponen yang paling sering dicari konsumen karena berhubungan langsung dengan manfaat produk. Namun, tidak semua kulit cocok dengan semua bahan aktif, dan semakin banyak bahan aktif tidak selalu berarti semakin baik. Efektivitas tetap ditentukan oleh konsentrasi, formulasi, dan kecocokan dengan kondisi kulit masing-masing.
Di bagian akhir INCI List biasanya tercantum pengawet dan pewangi. Kehadiran pengawet sering menimbulkan kekhawatiran, padahal fungsinya justru untuk menjaga produk tetap aman dari kontaminasi mikroba. Isu utamanya bukan apakah pengawet itu ada atau tidak, melainkan jenis dan kadarnya.
Salah satu kesalahpahaman terbesar konsumen adalah menganggap bahan dengan nama kimia yang sulit dibaca pasti berbahaya. Padahal banyak nama INCI hanyalah versi ilmiah dari bahan yang sangat familiar. Air ditulis sebagai Aqua, vitamin B3 menjadi Niacinamide, dan garam dapur dikenal sebagai Sodium Chloride. Nama-nama tersebut memang dibuat ilmiah agar konsisten secara global, bukan untuk terdengar ramah. Keamanan suatu bahan ditentukan oleh konsentrasinya, cara formulasi, dan kombinasinya dengan bahan lain, bukan oleh seberapa “kimia” namanya terdengar.
Untuk menilai kecocokan produk, konsumen perlu memulai dari mengenali kondisi kulitnya sendiri. Kulit sensitif, mudah berjerawat, atau memiliki skin barrier yang lemah tentu membutuhkan perhatian berbeda. Dari situ, konsumen bisa mengenali bahan-bahan yang menjadi “red flag” secara personal, lalu menilai produk secara menyeluruh. Yang perlu diingat, satu bahan yang aman bisa menjadi masalah jika dikombinasikan secara agresif atau digunakan berlapis tanpa perhitungan.
INCI List juga berfungsi sebagai alat untuk memeriksa klaim produk. Tidak jarang ditemukan klaim “natural” pada produk yang sebenarnya didominasi bahan sintetis yang sebenarnya tidak salah, tetapi bisa menyesatkan jika tidak dipahami. Begitu pula klaim “high active” yang ternyata bahan aktifnya berada jauh di akhir daftar, atau klaim “tanpa pengawet” yang sesungguhnya menggunakan sistem pengawet alternatif. Dalam konteks ini, INCI bukan untuk mencari-cari kesalahan, melainkan untuk membaca realita produk apa adanya.
Baca Juga:
Banyak kesalahan umum terjadi saat membaca INCI, mulai dari menghakimi produk hanya dari satu bahan, takut pada semua istilah kimia, hingga menganggap produk mahal atau viral pasti lebih aman. Padahal kosmetik bukan soal benar atau salah, melainkan soal cocok atau tidak dengan kondisi kulit tertentu.
Pada akhirnya, memahami INCI List bukan tentang menumbuhkan rasa takut, melainkan membangun literasi. Kulit tidak membutuhkan drama pemasaran, tetapi formula yang masuk akal, bahan yang sesuai kebutuhan, dan cara penggunaan yang bijak. Ketika konsumen mampu membaca INCI dengan sadar, industri pun terdorong untuk menjadi lebih transparan dan bertanggung jawab. Di situlah kosmetik kembali ke hakikatnya: sains yang melayani manusia, bukan sekadar janji manis di kemasan.
Lantas apa bedanya dengan Ingredients? Nantikan artikel berikutnya kita bahas apa perbedaan dan persamaan antara INCI dan Ingredients ya.[] [Ayu Lakshmi Nantara/TBV]