Label ingredients sering dibaca, tapi tidak banyak yang sadar bahwa INCI dan ingredients sebenarnya tidak sesederhana yang terlihat.
Untuk memahami kosmetik dengan lebih cerdas, penting bagi konsumen mengetahui apa sebenarnya yang dimaksud dengan ingredients dan INCI, sekaligus bagaimana keduanya ditampilkan pada kemasan produk.
Secara sederhana, ingredients berarti bahan. Istilah ini bersifat umum dan digunakan di banyak konteks, mulai dari makanan, obat, hingga kosmetik. Ketika sebuah produk menuliskan ingredients, yang dimaksud adalah daftar bahan yang digunakan untuk membuat produk tersebut. Bahasa yang dipakai bisa fleksibel, tergantung pada gaya komunikasi produsen dan target konsumennya.
Sementara itu, INCI adalah singkatan dari International Nomenclature of Cosmetic Ingredients. INCI bukan jenis bahan yang berbeda, melainkan sistem penamaan internasional yang mengatur bagaimana bahan kosmetik harus dituliskan secara resmi. Sistem ini digunakan agar satu bahan memiliki nama yang sama di seluruh dunia, sehingga tidak menimbulkan kebingungan akibat perbedaan bahasa atau istilah lokal.
Sebagai contoh, air yang kita kenal sehari-hari akan ditulis sebagai Aqua dalam INCI. Vitamin B3 dikenal sebagai Niacinamide, dan lidah buaya ditulis sebagai Aloe Barbadensis Leaf Juice. Nama-nama ini mungkin terlihat asing, tetapi substansinya tetap sama. Karena itulah, ketika kita melihat tulisan “Ingredients: Aqua, Glycerin, Niacinamide…”, sebenarnya produsen sedang menuliskan daftar ingredients menggunakan bahasa INCI.
Persamaannya, baik ingredients maupun INCI sama-sama merujuk pada bahan penyusun produk. Tidak ada bahan “versi INCI” dan “versi non-INCI”. Semua bahan kosmetik adalah ingredients, dan ketika dicantumkan pada kemasan secara resmi, ingredients tersebut harus mengikuti sistem penamaan INCI.
Selain soal nama, INCI juga memiliki aturan lain yang penting, salah satunya adalah urutan penulisan. Bahan ditulis dari jumlah terbanyak hingga paling sedikit. Karena itu, INCI List sering dianggap lebih jujur dibanding klaim marketing. Klaim bisa menonjolkan satu bahan tertentu, tetapi INCI menunjukkan posisi sebenarnya bahan tersebut dalam formula.
Hal ini menjadi semakin relevan ketika kita melihat bagaimana informasi ingredients dan INCI ditampilkan pada kemasan kosmetik. Pada umumnya, daftar INCI tidak diletakkan di bagian depan kemasan, melainkan di bagian belakang, samping, atau bawah kemasan. Di sinilah konsumen perlu sedikit usaha ekstra: membalik botol, membuka lipatan dus, atau membaca tulisan kecil di sisi kemasan.
Bagian depan kemasan biasanya berisi nama produk, fungsi utama, dan klaim-klaim yang bersifat pemasaran, seperti “brightening”, “hydrating”, atau “mengandung vitamin C”. Klaim ini sah secara pemasaran, tetapi tidak selalu mencerminkan komposisi produk secara menyeluruh. Informasi yang benar-benar teknis, termasuk ingredients atau INCI List, hampir selalu ditempatkan di area yang tidak terlalu mencolok.
Pada produk dengan kemasan kecil, seperti serum atau lipstik, daftar INCI sering dipindahkan ke kemasan luar berupa dus. Sementara pada produk dengan kemasan lebih besar, seperti sabun cair atau body lotion, INCI biasanya tercetak langsung di botol atau tube. Dalam kedua kasus tersebut, format penulisannya tetap sama: diawali dengan kata “Ingredients”, lalu diikuti daftar bahan dalam bahasa INCI.
Posisi INCI yang sering tersembunyi ini bukan tanpa alasan. Secara desain, produsen ingin bagian depan kemasan tetap bersih dan menarik secara visual. Namun dari sisi konsumen, hal ini menuntut kebiasaan baru: tidak hanya membaca bagian depan, tetapi juga meluangkan waktu untuk membaca bagian belakang kemasan.
Kesalahpahaman sering muncul ketika konsumen hanya mengandalkan klaim di depan kemasan tanpa mencocokkannya dengan INCI di belakang. Produk bisa mengklaim “mengandung aloe vera”, tetapi dari INCI terlihat bahwa bahan tersebut berada di urutan akhir. Ini bukan berarti klaim tersebut bohong, tetapi tanpa membaca INCI, konsumen tidak punya konteks untuk menilai seberapa besar peran bahan tersebut.
Ada pula anggapan bahwa nama INCI yang terdengar ilmiah berarti berbahaya. Padahal, justru sebaliknya. INCI dibuat agar netral, konsisten, dan tidak bias marketing. Keamanan suatu bahan tidak ditentukan oleh namanya, melainkan oleh konsentrasi, formulasi, serta kecocokannya dengan kondisi kulit pengguna.
Pada akhirnya, memahami perbedaan dan persamaan antara INCI dan ingredients, sekaligus mengetahui di mana informasi tersebut muncul di kemasan, membantu konsumen menjadi lebih sadar dan kritis. Ingredients memberi gambaran umum, sementara INCI memberi detail yang bisa diverifikasi. Keduanya saling melengkapi, bukan saling bertentangan.
Ketika konsumen terbiasa membalik kemasan dan membaca INCI, kosmetik tidak lagi terasa sebagai dunia yang rumit dan menakutkan. Ia berubah menjadi informasi yang bisa dipahami dan dinilai secara rasional. Di situlah literasi kosmetik bekerja sebagaimana mestinya: bukan untuk membingungkan, tetapi untuk memberdayakan. [] [Ayu Lakshmi Nantara/TBV]