Selama bertahun-tahun, banyak orang menganggap bakteri di kulit sebagai ancaman yang harus dihapus. Padahal, kemajuan riset dermatologi menunjukkan bahwa kulit manusia merupakan ekosistem kompleks yang dihuni jutaan mikroorganisme bermanfaat. Kumpulan mikroba ini, yang dikenal sebagai microbiome, justru memegang peranan penting dalam menjaga kesehatan kulit sehari-hari, kok bisa?
Secara ilmiah, mikrobioma adalah komunitas bakteri, jamur, dan virus yang hidup secara alami di permukaan kulit. Komposisinya unik pada setiap individu dan berfungsi layaknya sidik jari biologis. Ketika mikrobioma berada dalam keadaan seimbang, koloni mikroba baik bekerja sama dengan skin barrier untuk menjaga kelembapan, melawan polusi, serta mengurangi risiko infeksi. Namun, saat keseimbangan ini terganggu, kondisi yang disebut dysbiosis yakni kulit dapat menjadi lebih sensitif, mudah berjerawat, dan rentan mengalami eksim atau iritasi.
Penelitian dari Nature Reviews Microbiology menunjukkan bahwa mikrobioma kulit sangat penting untuk menjaga sistem kekebalan tubuh. Sementara itu, studi lain di Frontiers in Microbiology (2024) menemukan bahwa jika keseimbangan mikrobioma terganggu, risiko munculnya dermatitis atopik dan kulit sensitif akan meningkat pada masyarakat modern.
Baca juga: kulit rusak gara-gara kosmetik begini cara memperbaikinyaPendekatan microbiome skincare hadir sebagai respons terhadap temuan tersebut. Ketimbang sekadar membersihkan kulit secara intens, cara ini menekankan perawatan ekosistem alami kulit menggunakan tiga komponen utama: prebiotik, probiotik, dan postbiotik.
Prebiotik menyediakan nutrisi bagi bakteri baik, probiotik menghadirkan mikroba ramah atau hasil fermentasinya, sedangkan postbiotik menyuplai senyawa bioaktif yang menenangkan dan menambah antioksidan kulit.
Melihat semakin banyaknya orang yang mengalami kulit sensitif akibat polusi dan stres, tidak heran jika microbiome skincare kini menjadi salah satu arah utama inovasi kosmetik di seluruh dunia. Laporan tahun 2025 menunjukkan bahwa polusi udara terutama debu halus dari kendaraan dan lingkungan perkotaan dapat merusak lapisan pelindung kulit, memicu kemerahan, jerawat, dan tanda-tanda penuaan dini. Dampak ini terasa lebih kuat bagi mereka yang tinggal di kota besar dengan tingkat polusi tinggi.
Stres juga memainkan peran besar. Ketika seseorang mengalami stres berkepanjangan, tubuh menghasilkan lebih banyak hormon yang dapat melemahkan ketahanan kulit. Akibatnya, kulit menjadi lebih mudah iritasi, lebih sulit pulih, dan tampak lebih kusam. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa stres yang tidak dikelola dengan baik dapat membuat kulit menjadi jauh lebih sensitif daripada biasanya.
Kombinasi polusi dan stres ini menciptakan lingkaran yang membuat kulit semakin rentan setiap hari. Karena itu, penggunaan microbiome skincare semakin relevan. Pendekatan ini berfokus pada menjaga keseimbangan bakteri baik di kulit, memperkuat pertahanan alaminya, dan membantu kulit menjadi lebih tenang serta lebih tahan terhadap gangguan dari luar maupun dari dalam.
Baca juga: microbiome rambut ekosistem tersembunyi yang menentukan kesehatan kulit kepalaMelihat bagaimana polusi dan stres bisa bikin kulit makin sensitif, Apakah Anda jadi penasaran untuk coba microbiome skincare?, siapa tahu ini bisa jadi cara yang lebih lembut buat jaga kulit kita. [] [Ayu Lakshmi Nantara/TBV]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi