Notifikasi datang tanpa permisi, sementara tubuh dan pikiran jarang diberi ruang untuk mengakomodasi.
Setiap hari kita bangun dengan bunyi ponsel, tertidur dengan cahaya layar, dan hidup di sela-sela pesan yang terus masuk. Berita, pekerjaan, obrolan, perbandingan sosial, semuanya menumpuk dalam kepala, bahkan sebelum kita sempat menyesap kopi pertama.
Tubuh menerima semua itu sebagai tekanan, meski kita menyebutnya ‘biasa saja’. Sistem saraf bekerja tanpa jeda, hormon stres meningkat perlahan, dan tanpa kita sadari, wajah tampak lebih lelah, kulit lebih reaktif, tidur lebih dangkal.
Kecantikan, dalam konteks ini, bukan lagi soal tampilan luar, melainkan keadaan dalam. Ia lahir dari tubuh yang merasa aman, pikiran yang punya ruang, dan ritme hidup yang tidak selalu tergesa.
Ketika Pikiran Penuh, Tubuh Ikut Bicara
Stres mental memicu pelepasan kortisol yang memengaruhi kulit, rambut, dan metabolisme. Kulit menjadi lebih sensitif, lebih mudah berjerawat, lebih cepat kusam. Rambut rontok lebih mudah terjadi ketika tubuh merasa terus berada dalam mode siaga.
Selain itu, stres membuat kita cenderung menyentuh wajah lebih sering, tidur lebih larut, dan melewatkan rutinitas perawatan. Semua kebiasaan kecil ini berkumpul menjadi perubahan besar yang terlihat di cermin.
Tubuh selalu berbicara. Ia mengirim sinyal melalui kulit yang memberontak, mata yang sayu, dan energi yang terasa menipis.
Merawat Diri sebagai Bentuk Perlindungan
Merawat diri bukanlah pelarian dari dunia, melainkan cara bertahan di dalamnya. Ritual sederhana seperti mencuci wajah dengan sadar, mengoleskan pelembap perlahan, atau berjalan tanpa ponsel selama sepuluh menit dapat menenangkan sistem saraf.
Mengatur batas dengan notifikasi adalah bentuk perawatan juga. Mematikan notifikasi non-penting, memberi jam sunyi digital, atau tidak membawa ponsel ke kamar tidur membantu otak masuk ke mode istirahat.
Ketika sistem saraf lebih tenang, tubuh memperbaiki diri dengan lebih efisien. Kulit beregenerasi lebih baik, tidur lebih dalam, dan energi terasa lebih utuh saat bangun.
Cantik bukan berarti selalu rapi, cerah, dan siap tampil. Kadang cantik berarti memilih berhenti sejenak, menutup layar, dan memberi diri sendiri ruang untuk kembali utuh. [][Rommy Rimbarawa/TBV]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi