Sudah ganti sampo berkali-kali, namun serpih putih itu selalu kembali. Cara apa lagi yang mesti dilakukan?
Ketombe sering dianggap masalah ringan, tetapi bagi banyak orang ia terasa sangat mengganggu. Bukan hanya karena terlihat, tetapi karena rasa gatal, kering, atau tidak nyaman yang menyertainya. Yang membuat frustrasi, ketombe sering terasa seperti tidak pernah benar-benar tuntas.
Banyak orang merasa sudah merawat rambut dengan baik, tetapi ketombe tetap muncul kembali. Hal ini memunculkan pertanyaan, apakah ketombe memang tidak bisa hilang, atau ada sesuatu yang terlewat dalam cara kita menyikapinya.
Memahami penyebab ketombe dan pola kemunculannya membantu kita lebih bijak dalam mengelolanya, bukan sekadar berusaha menghilangkannya secara instan.
Apa Sebenarnya Penyebab Ketombe
Ketombe seringkali berkaitan dengan kondisi kulit kepala, bukan hanya soal kebersihan rambut. Salah satu penyebab utama adalah ketidakseimbangan mikroorganisme alami di kulit kepala, khususnya jamur Malassezia, yang memicu pengelupasan kulit berlebih.
Kulit kepala yang terlalu berminyak atau terlalu kering juga dapat memicu ketombe. Minyak berlebih menjadi lingkungan yang ideal bagi mikroorganisme berkembang, sementara kulit yang terlalu kering mudah mengelupas dan tampak seperti ketombe.
Faktor lain seperti stres, perubahan hormon, cuaca, dan penggunaan produk yang terlalu keras dapat memperburuk kondisi ini. Kulit kepala bereaksi terhadap tekanan internal maupun eksternal dengan cara yang sering kali terlihat sebagai ketombe.
Mengapa Ketombe Sering Kembali Muncul
Ketombe sering kembali karena penyebab utamanya belum sepenuhnya teratasi. Sampo anti ketombe mungkin mengurangi serpihan, tetapi jika keseimbangan kulit kepala belum pulih, ketombe mudah muncul kembali.
Selain itu, menghentikan perawatan terlalu cepat juga menjadi alasan umum. Saat ketombe mulai berkurang, banyak orang berhenti menggunakan produk perawatan, padahal kulit kepala masih dalam fase rentan.
Kebiasaan seperti mencuci rambut terlalu sering atau terlalu jarang juga memengaruhi kondisi kulit kepala. Kedua ekstrem ini dapat mengganggu keseimbangan alami kulit kepala dan memicu munculnya ketombe kembali.
Ketombe bukan tanda bahwa perawatan gagal, melainkan sinyal bahwa kulit kepala membutuhkan perhatian yang lebih konsisten dan lembut. Dengan memahami akar masalahnya, perawatan dapat diarahkan pada pemulihan keseimbangan, bukan sekadar menghilangkan serpihan. [][Vikalena Lasmoskwa/TBV]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi