Liburan sering membawa kita lebih dekat pada matahari, namun tidak selalu membuat kita lebih peduli pada perlindungan kulit.
Masa liburan identik dengan aktivitas luar ruang seperti ke pantai, mendaki, atau sekadar berjalan-jalan di bawah matahari. Dalam situasi santai ini, banyak orang lupa mengaplikasikan tabir surya atau mengulanginya secara berkala. Akibatnya, kulit terpapar sinar ultraviolet dalam waktu lama dan mengalami apa yang dikenal sebagai sunburn atau kulit terbakar matahari.
Di tengah kondisi tersebut, muncul anggapan bahwa kulit yang terbakar matahari akan kembali normal dengan sendirinya tanpa perlu perawatan khusus. Kulit memang memiliki kemampuan regenerasi, tetapi bukan berarti ia selalu pulih dalam kondisi yang sama seperti sebelumnya. Di sinilah mitos ini perlu diluruskan.
Sunburn bukan sekadar kulit memerah atau terasa perih. Ia merupakan bentuk peradangan akibat kerusakan sel kulit oleh sinar ultraviolet. Jika dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, kondisi ini dapat berdampak lebih panjang daripada yang terlihat di permukaan.
Fakta tentang Pemulihan Kulit Terbakar Matahari
Kulit yang terbakar memang dapat mereda dalam beberapa hari, tetapi proses ini tidak selalu berarti kulit kembali ke kondisi sehat sepenuhnya. Di balik meredanya kemerahan, bisa terjadi kerusakan pada lapisan kulit yang lebih dalam. Kerusakan ini dapat memicu kulit menjadi lebih kering, sensitif, dan mudah mengalami hiperpigmentasi.
Paparan sinar ultraviolet juga mempercepat proses penuaan kulit. Kolagen dapat rusak, elastisitas menurun, dan garis halus muncul lebih cepat. Jadi meskipun kulit tampak ‘sembuh’, dampak jangka panjangnya tetap ada jika tidak ditangani dengan baik.
Selain itu, sunburn berulang meningkatkan risiko masalah kulit yang lebih serius di kemudian hari. Ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menegaskan bahwa kulit tidak sekadar membutuhkan waktu, melainkan juga dukungan perawatan agar pulih dengan optimal.
Cara Menyikapi Kulit yang Terbakar Matahari
Langkah pertama adalah membantu kulit menenangkan diri. Produk dengan kandungan yang menenangkan dan menghidrasi seperti aloe vera, panthenol, atau centella asiatica dapat membantu meredakan peradangan dan mempercepat pemulihan.
Hidrasi dari dalam juga penting. Minum cukup air membantu tubuh memperbaiki jaringan yang rusak dan menjaga kelembapan kulit. Kulit yang terhidrasi dengan baik pulih lebih cepat dibanding kulit yang kekurangan cairan.
Menghindari paparan matahari lanjutan selama kulit masih dalam fase pemulihan juga sangat dianjurkan. Memberi waktu istirahat bagi kulit membantu mencegah kerusakan tambahan yang dapat memperburuk kondisi.
Yang tidak kalah penting adalah kembali disiplin menggunakan tabir surya setelah kulit membaik. Ini bukan hanya untuk mencegah sunburn berikutnya, tetapi juga untuk melindungi kulit dari kerusakan jangka panjang yang tidak selalu langsung terlihat.
Mitos bahwa kulit terbakar matahari akan pulih sepenuhnya tanpa perawatan perlu diluruskan. Kulit memang bisa membaik, tetapi tanpa perawatan yang tepat, ia bisa pulih dalam kondisi yang tidak optimal. Perawatan bukanlah kemewahan, melainkan bentuk kepedulian terhadap kesehatan kulit jangka panjang. [][Rudi Tenggarawan/TBV]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi