Ada perawatan yang tidak hanya bekerja di kulit, tetapi juga membangunkan ingatan tentang sentuhan yang pelan. Apa dan bagaimana lulur tradisional?
Lulur tradisional sudah lama menjadi bagian dari perawatan tubuh di berbagai budaya Nusantara. Ia hadir bukan sebagai produk instan, melainkan sebagai ritual yang dilakukan dengan waktu dan perhatian. Teksturnya yang berbutir halus, aromanya yang lembut, dan cara penggunaannya yang perlahan membuat lulur terasa lebih dari sekadar perawatan kulit.
Dalam praktiknya, lulur bukan hanya tentang membersihkan atau mencerahkan. Ia adalah proses mengajak tubuh untuk berhenti sejenak, menerima sentuhan, dan memberi ruang bagi kulit untuk bernapas.
Bahan-Bahan Alami dalam Lulur Tradisional
Lulur tradisional umumnya terbuat dari bahan-bahan alami yang mudah ditemukan. Beras menjadi bahan utama yang dihaluskan untuk membantu mengangkat sel kulit mati dengan lembut.
Rempah seperti kunyit, jahe, dan kencur sering ditambahkan untuk memberi efek hangat sekaligus membantu menjaga kesehatan kulit. Sementara itu, bunga dan daun aromatik seperti kenanga atau pandan memberi aroma menenangkan selama perawatan.
Beberapa lulur juga menggunakan campuran susu, madu, atau minyak alami untuk menjaga kelembapan kulit agar tidak terasa kering setelah proses eksfoliasi.
Manfaat Lulur bagi Kulit dan Pikiran
Manfaat utama lulur adalah membantu mengangkat sel kulit mati yang menumpuk di permukaan kulit. Proses ini membuat kulit terasa lebih halus dan tampak lebih segar.
Selain itu, pijatan lembut saat melulur membantu melancarkan peredaran darah. Kulit menerima lebih banyak nutrisi, sementara otot-otot tubuh perlahan menjadi lebih rileks.
Aroma alami dari bahan lulur memberi efek menenangkan. Banyak orang merasakan ketenangan emosional setelah perawatan, seolah tubuh diajak kembali ke ritme yang lebih pelan.
Cara Menggunakan Lulur dengan Lebih Sadar
Lulur sebaiknya digunakan satu hingga dua kali seminggu. Penggunaan yang terlalu sering justru dapat membuat kulit kehilangan kelembapan alaminya.
Aplikasikan lulur pada kulit yang sedikit lembap, lalu pijat perlahan dengan gerakan melingkar. Hindari menggosok terlalu keras, terutama pada area sensitif.
Setelah dibilas, lanjutkan dengan pelembap agar kulit tetap terjaga keseimbangannya. Perawatan ini akan terasa lebih lengkap ketika dilakukan tanpa tergesa.
Lulur tradisional mengingatkan kita bahwa merawat diri tidak selalu harus cepat dan instan. Dalam butiran sederhana dan sentuhan yang lembut, tubuh menemukan kembali rasa dirawat. [][Vikalena Lasmoskwa/TBV]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi