Bandung, Jawa Barat, Indonesia
MythBuster

Mitos Kulit Berminyak Tak Butuh Pelembap

Ditulis oleh Rudi Tenggarawan Dipublikasikan pada 30 October 2025 26

Mitos Kulit Berminyak Tak Butuh Pelembap

Kulit berminyak tetap membutuhkan pelembap — bukan untuk menambah minyak, tapi untuk menyeimbangkan hidrasi alami kulit.

Pernah dengar kalimat ini: “Kulitku sudah berminyak, jadi tak perlu pakai pelembap”? Kalimat itu begitu sering terdengar, bahkan dianggap logis. Tapi justru di situlah salah satu kesalahpahaman paling umum dalam perawatan kulit berminyak bermula.

Kulit berminyak bukan berarti kulit yang lembap. Keduanya berbeda. Minyak di wajah adalah sebum — zat alami yang diproduksi kulit untuk melindungi permukaan. Namun, terlalu banyak sebum justru bisa menandakan kulit sedang berusaha menebus kekeringan dari dalam.

Artinya, ketika Anda menolak pelembap karena takut ‘terlalu berminyak’, kulit justru bisa semakin aktif memproduksi minyak untuk mengompensasi kekeringan. Inilah lingkaran yang sering tidak disadari banyak orang.

Memahami Kebutuhan Kulit
Kunci perawatan kulit berminyak bukan menghilangkan minyak sepenuhnya, tapi menyeimbangkannya. Pilih pelembap dengan tekstur ringan — seperti gel atau lotion berbasis air — yang membantu hidrasi tanpa menyumbat pori.

Gunakan setelah mencuci wajah, terutama saat kulit masih sedikit lembap. Langkah ini membantu mengunci air di permukaan kulit. Hindari produk dengan alkohol tinggi yang justru membuat kulit makin kering dan memicu produksi minyak berlebih.

Tak kalah penting, pahami bahwa kulit berminyak tetap butuh perlindungan dari sinar UV. Gunakan sunscreen non-comedogenic dengan hasil akhir matte agar wajah tidak tampak terlalu mengilap.

Mitos Lain yang Perlu Ditinggalkan
Banyak juga yang percaya bahwa mencuci muka sesering mungkin bisa mengontrol minyak. Faktanya, mencuci terlalu sering justru membuat kulit kehilangan pelindung alaminya. Dua kali sehari sudah cukup: pagi dan malam.

Eksfoliasi juga penting, tapi jangan berlebihan. Satu atau dua kali seminggu dengan scrub lembut atau exfoliating toner sudah cukup membantu membersihkan sel kulit mati tanpa merusak lapisan pelindung kulit.

Kulit berminyak bukan musuh yang harus ditaklukkan. Ia hanya butuh pendekatan yang lembut dan konsisten. Karena, kulit yang seimbang bukan yang bebas minyak, melainkan yang terasa nyaman dan sehat sepanjang hari.

Jadi, jika Anda masih berpikir pelembap hanya untuk kulit kering, mungkin sudah saatnya mematahkan mitos itu. Pelembap adalah teman, bukan musuh, bagi semua jenis kulit. [][Rudi Tenggarawan/TBV]

Artikel Terkait

Masker Malam Bisa Gantikan Pelembap Harian?
MythBuster

15 Nov 2025

Masker Malam Bisa Gantikan Pelembap Harian?

Masker malam memberi hidrasi ekstra, tapi bukan pengganti pelembap. Gunakan keduanya untuk hasil kulit yang lebih seimbang.

Asam Hialuronat: Si Pelembap Super di Balik Kulit Kenyal
BahanAktif

31 Oct 2025

Asam Hialuronat: Si Pelembap Super di Balik Kulit Kenyal

Asam hialuronat menjaga kelembapan kulit hingga berlapis-lapis, menjadikannya bahan aktif wajib untuk kulit kenyal dan segar.

Panthenol, Si Penyelamat Kulit yang Diam-diam Bekerja
BahanAktif

05 Nov 2025

Panthenol, Si Penyelamat Kulit yang Diam-diam Bekerja

Panthenol, bahan lembut tapi kuat yang bantu menjaga hidrasi dan ketenangan kulit.

5 Kesalahan Drama Skincare Kulit Remaja
SkinCare

14 Oct 2025

5 Kesalahan Drama Skincare Kulit Remaja

Masa remaja adalah masa penuh eksperimen. Termasuk soal perawatan wajah. Di era media sosial, dengan mudahnya informasi bertebaran, banyak remaja ingin segera punya kulit mulus tanpa jerawat. Sayangnya, semangat itu kadang berujung pada kesalahan kecil yang malah memperburuk keadaan kulit. Kesalahan pertama adalah terlalu sering cuci muka. Banyak remaja percaya semakin sering wajah dibasuh, semakin bersih jadinya. Padahal, mencuci muka lebih dari dua kali sehari justru membuat kulit kehilangan minyak alaminya, memicu iritasi, bahkan memicu jerawat baru. Kesalahan kedua, pakai produk terlalu banyak sekaligus. Melihat influencer skincare yang memakai 10 langkah perawatan, remaja kadang ikut-ikutan. Kulit remaja yang masih sensitif akhirnya kebingungan, lalu bereaksi dengan kemerahan atau breakout. Padahal, cukup cleanser ringan, pelembap, dan tabir surya untuk sehari-hari. Kesalahan ketiga, memencet jerawat sembarangan. Ada kepuasan tersendiri ketika benjolan kecil itu hilang seketika, tapi bekas yang ditinggalkan sering kali jauh lebih sulit diatasi. Luka, noda hitam, bahkan bopeng bisa jadi ‘oleh-oleh’ yang bertahan lama. Baca Juga: Cara Instan untuk Memutihkan Kulit: Risiko dan Solusi Kesalahan keempat, menyalin produk orang lain tanpa memahami kebutuhan kulit sendiri. Teman cocok dengan krim tertentu, bukan berarti kulit kita akan bereaksi sama. Setiap kulit punya cerita berbeda—ada yang cenderung berminyak, ada yang kering, ada pula yang sensitif. Kesalahan terakhir, meremehkan tabir surya. Banyak remaja merasa tabir surya hanya perlu dipakai saat ke pantai. Padahal, sinar UV hadir setiap hari, bahkan menembus kaca jendela. Tanpa perlindungan, kerusakan kulit bisa menumpuk sejak dini dan baru terasa di kemudian hari. Baca Juga: Anti-Pollution Skincare? Apa Itu? Semua kesalahan ini sebetulnya wajar. Namanya juga belajar merawat diri. Yang penting adalah mau memahami kulit sendiri, sabar, dan konsisten. Kulit remaja sedang aktif-aktifnya, jadi perawatan sederhana dan tepat biasanya sudah cukup untuk menjaga kesehatannya. Orangtua dan guru juga punya peran. Alih-alih melarang atau menyepelekan, mereka bisa membantu memberi informasi yang benar. Dengan begitu, perawatan wajah bukan sekadar ikut tren, melainkan bagian dari membangun kebiasaan sehat jangka panjang. Pada akhirnya, kulit remaja tidak harus sempurna. Ia hanya perlu dirawat dengan bijak agar tetap sehat. Jerawat sesekali muncul bukan akhir dunia—justru tanda kulit sedang bekerja melindungi diri. Yang lebih penting adalah bagaimana remaja tumbuh percaya diri, dengan atau tanpa jerawat di wajah. [][Eva Evilia/TBV]