Kadang, melewatkan satu rutinitas perawatan diri saja sudah cukup membuat seseorang merasa gagal menjaga dirinya sendiri.
Perasaan seperti ini semakin sering muncul di kehidupan modern. Banyak orang memiliki daftar panjang tentang apa yang seharusnya dilakukan untuk menjaga kesehatan, penampilan, dan kebugaran. Mulai dari skincare, olahraga, pola makan, hingga berbagai bentuk self-care lainnya. Ketika semua berjalan sesuai rencana, muncul rasa puas. Namun saat satu atau dua hal terlewat, rasa bersalah sering datang tanpa diundang.
Masalahnya, merawat diri perlahan berubah dari bentuk perhatian menjadi ukuran keberhasilan pribadi. Akibatnya, banyak orang tidak lagi melihat perawatan diri sebagai kebutuhan yang fleksibel, melainkan sebagai kewajiban yang harus dipenuhi setiap saat.
Baca Juga: Kenapa Merawat Diri Kadang Terasa Seperti Kewajiban?
Kita Terlalu Sering Menghubungkan Perawatan Diri dengan Nilai Diri
Budaya modern sangat menekankan pentingnya menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Pesan seperti ini sebenarnya tidak selalu buruk. Namun ketika disampaikan terus-menerus, banyak orang mulai percaya bahwa dirinya hanya cukup baik jika selalu produktif, sehat, terawat, dan mampu memenuhi semua standar tersebut.
Sebagai contoh, seseorang yang biasanya menjalankan rutinitas skincare setiap malam bisa merasa bersalah ketika tertidur karena terlalu lelah. Ada juga yang merasa gagal karena tidak sempat berolahraga selama beberapa hari akibat pekerjaan yang menumpuk. Padahal, kondisi seperti itu adalah bagian normal dari kehidupan manusia.
Dr. Carl Cederström dan Dr. André Spicer dalam buku The Wellness Syndrome [2015] mengamati bahwa budaya modern sering mendorong individu untuk terus mengoptimalkan dirinya. Akibatnya, aktivitas yang seharusnya membantu kesejahteraan justru dapat berubah menjadi sumber tekanan baru ketika tidak berhasil dilakukan secara sempurna.
Situasi tersebut membuat banyak orang sulit membedakan antara kebutuhan dan tuntutan. Mereka tidak lagi bertanya apakah tubuh benar-benar membutuhkan sesuatu, tetapi lebih sering bertanya apakah mereka sudah memenuhi standar yang dianggap benar.
Ketika standar itu tidak tercapai, rasa bersalah muncul meskipun tubuh sebenarnya hanya sedang meminta waktu untuk beristirahat.
Baca Juga: Kenapa Kita Sering Merasa Harus Selalu Tampil Rapi?
Tubuh Tidak Membutuhkan Kesempurnaan
Salah satu hal yang sering terlupakan adalah bahwa tubuh manusia tidak hidup dalam sistem yang sempurna. Ada hari ketika energi melimpah dan semua rutinitas berjalan baik. Ada juga hari ketika pekerjaan, keluarga, kesehatan, atau kondisi emosional membuat seseorang tidak mampu menjalankan semuanya seperti biasa.
Sebagai contoh, seseorang yang sedang menghadapi masa sulit mungkin tidak memiliki energi untuk melakukan rutinitas perawatan diri secara lengkap. Dalam kondisi seperti itu, beristirahat lebih awal bisa jadi jauh lebih bermanfaat dibanding memaksa diri menyelesaikan seluruh daftar kegiatan yang sudah dibuat.
Psikolog Dr. Kristin Neff dalam buku Self-Compassion [2011] menulis bahwa banyak orang memperlakukan dirinya dengan standar yang jauh lebih keras dibanding cara mereka memperlakukan orang lain. Karena itu, rasa bersalah sering muncul bukan karena seseorang benar-benar lalai, tetapi karena ia menuntut dirinya untuk selalu sempurna.
Merawat diri seharusnya membantu seseorang merasa lebih baik, bukan membuatnya terus merasa kurang. Ketika sebuah rutinitas mulai menghadirkan lebih banyak tekanan dibanding manfaat, mungkin ada baiknya berhenti sejenak dan meninjau kembali hubungan yang sedang dibangun dengan diri sendiri.
Tidak ada manusia yang mampu menjalankan semua hal dengan sempurna setiap hari. Tubuh memahami itu jauh lebih baik daripada pikiran kita. Yang sering terlambat memahami adalah diri kita sendiri.
Perawatan diri yang sehat bukan tentang tidak pernah melewatkan satu langkah pun. Perawatan diri yang sehat adalah kemampuan untuk tetap memperlakukan diri dengan baik, bahkan ketika hari itu tidak berjalan sesuai rencana. [][Vikalena Lasmoskwa/TBV]
Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.