12 Sep 2026
Mengapa Kulit Pria Sering Terasa Perih Setelah Bercukur?
Bercukur seharusnya membuat wajah terasa lebih rapi. Namun, kulit justru bisa memerah dan perih setelahnya. Apa yang sebenarnya terjadi saat bercukur?Bagi sebagian pria, rasa perih setelah bercukur sudah dianggap bagian biasa dari rutinitas. Begitu pisau selesai melewati dagu dan pipi, kulit terasa panas, tertarik, atau sedikit menyengat. Selama kemerahannya kemudian menghilang, kondisi tersebut sering dibiarkan tanpa banyak dipikirkan.Padahal, bercukur bukan sekadar memotong rambut yang muncul di permukaan. Pisau bergerak sangat dekat dengan kulit dan menghasilkan gesekan berulang, bahkan dapat ikut mengangkat sebagian sel pada lapisan terluarnya. Tekanan yang terlalu kuat atau pengulangan pada area yang sama membuat gangguan tersebut semakin mungkin terjadi.Ada pula rambut yang tidak tumbuh lurus keluar setelah dipotong. Pada sebagian orang, terutama yang memiliki rambut wajah tebal atau keriting, ujung rambut dapat tumbuh kembali menuju kulit dan memicu benjolan serta peradangan. Kondisi yang dikenal sebagai pseudofolliculitis barbae ini berbeda dari rasa perih sesaat akibat bercukur.Jadi, rasa perih tidak selalu berarti kulit pria memang harus ‘tahan’ terhadap proses bercukur. Teknik, kondisi pisau, persiapan kulit, arah pertumbuhan rambut, hingga produk yang digunakan sebelum dan sesudahnya dapat menentukan bagaimana kulit bereaksi.Baca Juga: Perlukah Pria Memiliki Rutinitas Perawatan Kulit yang Berbeda dengan Perempuan?Pisau Tidak Hanya Bertemu RambutKetika pisau cukur bergerak di permukaan wajah, terjadi interaksi mekanis antara mata pisau, rambut, dan lapisan terluar kulit. Gesekan dapat meningkat apabila rambut masih keras, kulit kurang dilumasi, atau pisau ditekan terlalu kuat. Inilah salah satu alasan bercukur dalam kondisi kering sering terasa lebih tidak nyaman bagi sebagian pria.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., tenaga ahli industri yang terlibat sebagai dosen tamu di Prodi Rekayasa Kosmetik Fakultas Farmasi Unpad, melihat konteks ini juga dari sisi formulasi. Produk pendamping bercukur perlu membantu memberikan pelumasan dan kenyamanan sehingga kontak mekanis antara pisau dan kulit dapat dikelola dengan lebih baik. Setelah bercukur, pilihan formula pun perlu mempertimbangkan kondisi kulit yang baru mengalami gesekan berulang.Dr. apt. Soraya Ratnawulan Mita, M.Si. dari Departemen Farmasetika dan Teknologi Farmasi Fakultas Farmasi Unpad menempatkan kosmetik dalam konteks yang lebih luas daripada sekadar penampilan. Produk kosmetik yang digunakan sehari-hari tetap perlu memenuhi aspek keamanan, manfaat, dan mutu, sehingga pemilihan produk pendamping bercukur pun perlu mempertimbangkan kesesuaiannya dengan kondisi kulit. Soraya sendiri tercatat mengampu bidang Kosmetik dan Kosmeseutikal di Fakultas Farmasi Unpad.Pisau yang sudah tumpul dapat menambah persoalan karena membutuhkan lebih banyak tekanan atau pengulangan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Menggunakan pisau yang bersih dan masih baik, membasahi rambut terlebih dahulu, serta menggunakan produk pelicin dapat membantu mengurangi gesekan. Tujuannya bukan membuat proses bercukur sama sekali tanpa kontak dengan kulit, melainkan menghindari tekanan yang sebenarnya tidak diperlukan.Baca Juga: Mengapa Semakin Banyak Pria Mulai Memperhatikan Kesehatan Kulit Kepala?Kebiasaan Setelah Bercukur Sama PentingnyaMasalah belum tentu selesai ketika pisau diletakkan. Kulit yang baru saja mengalami gesekan dapat lebih mudah terasa tidak nyaman ketika langsung bertemu produk tertentu. Mengoleskan produk dengan kandungan yang terasa sangat menyengat hanya demi memperoleh sensasi ‘segar’ bukan ukuran bahwa kulit mendapatkan perawatan yang lebih baik.Pendekatan yang lebih sederhana dapat dimulai dari membersihkan sisa produk bercukur secara lembut, kemudian menggunakan pelembap yang sesuai apabila kulit membutuhkannya. Produk dengan karakter menenangkan dan tidak memberikan sensasi menyengat berlebihan dapat terasa lebih nyaman pada kulit yang baru dicukur. Yang dicari bukan sensasi kuat, tetapi kondisi kulit yang kembali nyaman.Arah bercukur juga perlu diperhatikan. Mencukur berlawanan dengan arah pertumbuhan rambut memang dapat memberikan hasil yang terasa sangat dekat dengan kulit, tetapi pada orang yang rentan mengalami rambut tumbuh ke dalam, cara tersebut dapat meningkatkan masalah. Mengikuti arah pertumbuhan rambut dapat menjadi pilihan yang lebih nyaman meskipun hasilnya mungkin tidak terasa sehalus mungkin.Pria dengan rambut wajah keriting atau kasar perlu lebih memperhatikan munculnya benjolan setelah bercukur. Rambut yang kembali masuk ke kulit dapat menyebabkan razor bumps, kemerahan, dan peradangan yang berulang. Jika kondisi terus muncul, mengubah teknik atau menyisakan rambut sedikit lebih panjang dapat menjadi pilihan dibandingkan terus mengejar hasil cukur yang sangat rapat.Rasa perih yang terus berlangsung juga tidak sebaiknya selalu disalahkan pada teknik bercukur. Produk yang digunakan dapat mengandung pewangi atau komponen lain yang tidak cocok bagi sebagian kulit, sementara keluhan berat dan berulang dapat berkaitan dengan kondisi dermatologis tertentu. Jika kemerahan, benjolan, luka, atau rasa terbakar menetap, evaluasi dokter kulit lebih tepat daripada terus mengganti pisau atau produk secara acak.Bercukur memang rutinitas sederhana, tetapi kulit tetap menerima proses mekanis setiap kali pisau melewatinya. Sedikit mengubah persiapan, tekanan, arah cukur, dan perawatan sesudahnya dapat membuat pengalaman yang sangat berbeda. Wajah yang terlihat rapi tidak perlu dibayar dengan kulit yang harus terasa perih setiap pagi. [][Rommy Rimbarawa/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.