Tag

traction alopecia

Jelajahi artikel dengan tag traction alopecia

Apakah Sering Mengikat Rambut Bisa Membuat Rambut Lebih Mudah Rontok?
HairCare

25 Agt 2026

Apakah Sering Mengikat Rambut Bisa Membuat Rambut Lebih Mudah Rontok?

Mengikat rambut terasa praktis dan membuat aktivitas lebih nyaman. Namun, tarikan yang terjadi berulang kali ternyata dapat memengaruhi rambut. Seberapa besar risikonya?Mengikat rambut adalah kebiasaan yang nyaris otomatis bagi banyak orang. Saat cuaca panas, bekerja, berolahraga, atau sekadar ingin rambut tidak menutupi wajah, ikat rambut menjadi solusi paling sederhana. Ponytail, sanggul, kepang, dan berbagai gaya lain bahkan dapat menjadi bagian dari penampilan sehari-hari.Karena begitu umum dilakukan, jarang ada yang menganggap kebiasaan tersebut dapat memengaruhi kesehatan rambut. Kekhawatiran biasanya baru muncul ketika rambut yang tertinggal pada ikat rambut terasa semakin banyak atau bagian tertentu di sekitar garis rambut mulai tampak lebih tipis. Tidak sedikit orang kemudian mengira bahwa setiap rambut yang terlepas setelah ikatan dibuka merupakan tanda kerontokan.Padahal, rambut memang mengalami siklus pertumbuhan dan pelepasan secara alami. Sejumlah helai akan rontok setiap hari tanpa berkaitan dengan kebiasaan mengikat rambut. Persoalan berbeda dapat muncul ketika rambut terus-menerus menerima tarikan yang kuat, terutama pada bagian yang sama dan dalam waktu lama.Karena itu, masalahnya bukan sekadar apakah rambut boleh diikat atau tidak. Kekuatan tarikan, gaya rambut yang dipilih, durasi, frekuensi, hingga kondisi rambut turut menentukan apakah kebiasaan tersebut masih aman atau mulai memberikan tekanan berlebihan.Baca Juga: Apakah Rambut Membutuhkan ‘Hari Libur’ dari Alat Penata Rambut?Ketika Tarikan Berulang Mulai Membebani RambutMengikat rambut terlalu kencang memberikan tekanan mekanis pada batang rambut sekaligus folikelnya. Tarikan sesekali mungkin tidak menimbulkan masalah berarti, tetapi tekanan yang berlangsung berulang dapat membuat rambut lebih mudah patah. Pada kondisi tertentu, tarikan kronis pada folikel juga dapat memicu kondisi yang dikenal sebagai traction alopecia.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menyebut bahwa perawatan rambut perlu mempertimbangkan faktor mekanis selain penggunaan produk. Gesekan, tarikan, suhu tinggi, dan proses kimia dapat memberikan beban tambahan pada serat rambut. Rambut yang sudah rapuh akibat pewarnaan, bleaching, atau penataan berulang tentu membutuhkan perlakuan yang lebih hati-hati ketika diikat.American Academy of Dermatology menjelaskan bahwa gaya rambut yang terus menarik rambut dengan kuat dapat menyebabkan traction alopecia. Tanda awalnya dapat berupa rambut patah di sekitar garis rambut, garis rambut yang mulai mundur, atau area tertentu yang terlihat menipis. Mengubah gaya rambut lebih awal menjadi penting karena tarikan berkepanjangan dapat menyebabkan kerusakan folikel yang semakin sulit dipulihkan.Sensasi tubuh sebenarnya dapat menjadi petunjuk sederhana. Ikatan yang membuat kulit kepala terasa sakit, tertarik, atau menimbulkan sakit kepala kemungkinan memberikan tekanan lebih besar daripada yang diperlukan. Gaya rambut tidak harus terasa menyakitkan agar mampu bertahan sepanjang hari.Baca Juga: Mengapa Rambut Terasa Berat Meski Baru Dicuci?Bukan Berhenti Mengikat Rambut, tetapi Mengubah KebiasaannyaMengurangi risiko bukan berarti rambut harus selalu dibiarkan terurai. Mengikat rambut tetap dapat dilakukan selama tekanan pada rambut dan kulit kepala diperhatikan. Mengendurkan ikatan, mengganti posisi rambut secara berkala, serta menghindari gaya yang terus menarik bagian rambut yang sama dapat membantu mengurangi tekanan berulang.Pemilihan aksesori juga dapat memberikan perbedaan. Ikat rambut yang memiliki bagian logam kasar atau permukaan yang mudah tersangkut dapat meningkatkan gesekan pada batang rambut. Scrunchie atau ikat rambut dengan permukaan lebih lembut dapat menjadi pilihan untuk membantu mengurangi tarikan dan gesekan, meskipun cara mengikat tetap lebih menentukan daripada sekadar jenis aksesori.Mengikat rambut ketika masih sangat basah juga perlu dilakukan dengan hati-hati. Batang rambut yang basah mengalami perubahan sifat mekanis dan dapat lebih mudah meregang. Ketika kondisi tersebut bertemu dengan tarikan kuat, risiko kerusakan pada batang rambut dapat meningkat, terlebih apabila kebiasaan yang sama dilakukan hampir setiap hari.Dermatolog Dr. Crystal Aguh dari Johns Hopkins University, yang banyak membahas traction alopecia, menekankan pentingnya mengenali tanda-tanda awal akibat gaya rambut yang terlalu menarik. Rasa sakit, benjolan kecil pada kulit kepala, rambut patah, atau penipisan pada area yang terus mendapat tekanan sebaiknya tidak dianggap sebagai konsekuensi normal dari penataan rambut. Mengurangi tarikan sejak dini dapat membantu mencegah kerusakan berkembang lebih jauh.Ada pula perbedaan penting antara rambut rontok dari akar dan rambut patah. Helai panjang yang terlepas bersama bagian akar dapat berkaitan dengan siklus rambut, sedangkan banyak helai pendek dengan panjang tidak beraturan lebih mungkin menunjukkan kerusakan pada batang rambut. Memperhatikan pola tersebut membantu memahami apakah persoalannya mungkin berkaitan dengan tarikan atau ada faktor lain yang perlu diperiksa.Jadi, sering mengikat rambut memang dapat meningkatkan risiko kerusakan dan kerontokan tertentu apabila dilakukan terlalu kencang dan berulang pada area yang sama. Rambut tetap boleh diikat, tetapi kenyamanan kulit kepala seharusnya tidak dikorbankan demi mempertahankan gaya. Sedikit melonggarkan ikatan, mengganti posisi, dan sesekali membiarkan rambut bebas dapat menjadi kebiasaan sederhana untuk mengurangi tekanan yang diterima rambut setiap hari. [][Vikalena Lasmoskwa/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Kebiasaan Rambut yang Dianggap Normal Padahal Merusak
HairCare

11 Mei 2026

Kebiasaan Rambut yang Dianggap Normal Padahal Merusak

Banyak kebiasaan rambut terasa begitu biasa sampai kita tidak pernah benar-benar mempertanyakannya. Mengikat rambut saat masih basah, terlalu sering memakai alat styling panas, atau tidur tanpa mengeringkan rambut sering dianggap hal kecil yang tidak akan berdampak besar. Padahal, beberapa kebiasaan sederhana justru perlahan membuat kondisi rambut berubah tanpa disadari.Masalah rambut memang jarang langsung terlihat dalam satu atau dua hari. Kerusakan biasanya muncul bertahap, dimulai dari rambut yang terasa lebih kasar, mudah kusut, bercabang, atau semakin sulit diatur. Karena prosesnya pelan, banyak orang baru sadar ketika kondisi rambut sudah cukup berubah.Yang membuat situasi ini tricky adalah sebagian kebiasaan tersebut sudah dianggap normal sejak lama. Bahkan sering dilakukan hampir setiap hari tanpa rasa khawatir. Karena itu, memahami kebiasaan kecil yang merusak rambut menjadi penting sebelum dampaknya terasa lebih besar.Baca Juga: Masalah Rambut yang Sering Dianggap SepeleRambut Basah dan Panas Berlebih yang Sering DiremehkanSalah satu kebiasaan yang paling sering dianggap sepele adalah memperlakukan rambut terlalu kasar saat masih basah. Banyak orang langsung menyisir rambut setelah keramas, mengikatnya, atau bahkan tidur dalam kondisi rambut belum benar-benar kering.Padahal, rambut dalam keadaan basah berada dalam kondisi yang lebih rapuh. Batang rambut lebih mudah tertarik dan patah ketika menerima gesekan atau tekanan berlebih. Karena itu, kebiasaan sederhana seperti menggosok rambut terlalu keras dengan handuk bisa membuat rambut lebih mudah rusak.Hal lain yang cukup sering terjadi adalah penggunaan alat styling panas tanpa perlindungan yang cukup. Hair dryer, catokan, atau curling iron memang membantu membentuk rambut lebih cepat, tetapi panas berlebih bisa mengurangi kelembapan alami rambut secara perlahan.Sebagai contoh, seseorang yang setiap hari mencatok rambut tanpa heat protectant biasanya mulai merasakan rambut lebih kering dan sulit diatur setelah beberapa waktu. Awalnya hanya terasa sedikit kasar, tetapi lama-kelamaan ujung rambut menjadi bercabang dan mudah patah.Menurut penelitian dalam International Journal of Trichology, paparan panas berulang dapat merusak lapisan pelindung rambut dan memengaruhi struktur batang rambut secara permanen. Artinya, kebiasaan styling yang terlihat 'normal' sebenarnya bisa memberi efek jangka panjang jika dilakukan terus-menerus tanpa perlindungan.Selain itu, terlalu sering keramas juga bisa menjadi masalah pada kondisi tertentu. Banyak orang merasa rambut harus selalu terasa sangat bersih, padahal kulit kepala tetap membutuhkan keseimbangan minyak alami agar tidak terlalu kering atau iritasi.Baca Juga: Apa dan Bagaimana Mengatasi Alopecia?Kebiasaan Kecil yang Membuat Rambut Semakin RapuhBeberapa kebiasaan lain bahkan terasa sangat umum dalam kehidupan sehari-hari. Mengikat rambut terlalu kencang, memakai aksesori rambut dengan tarikan kuat, atau membiarkan rambut terus terkena sinar matahari tanpa perlindungan sering dilakukan tanpa banyak dipikirkan.Padahal, tekanan terus-menerus pada akar rambut bisa memicu kerontokan akibat tarikan, atau yang dikenal sebagai traction alopecia. Kondisi ini cukup sering terjadi pada orang yang rutin memakai gaya rambut ketat dalam waktu lama.Selain itu, penggunaan produk yang terlalu agresif juga bisa memperburuk kondisi rambut. Shampoo dengan kandungan pembersih yang terlalu keras atau proses kimia berulang seperti bleaching dan pewarnaan tanpa jeda cukup dapat membuat rambut kehilangan kelembapan alaminya.Dermatolog Dr. Francesca Fusco dalam bukunya The Healthy Hair Handbook [2015] menjelaskan bahwa kesehatan rambut sangat dipengaruhi oleh kebiasaan sehari-hari yang tampak kecil dan berulang. Karena itu, kerusakan rambut sering kali bukan berasal dari satu tindakan besar, tetapi dari akumulasi kebiasaan yang terus dilakukan.Menariknya, banyak orang justru fokus mencari produk mahal untuk memperbaiki rambut, tetapi tetap mempertahankan kebiasaan yang menjadi sumber kerusakan. Akibatnya, hasil perawatan terasa tidak maksimal karena rambut terus menghadapi tekanan yang sama setiap hari.Pendekatan yang lebih sehat biasanya dimulai dari hal sederhana. Mengurangi panas berlebih, memperlakukan rambut lebih lembut saat basah, dan memberi waktu jeda setelah proses kimia sering memberi perubahan yang jauh lebih terasa dibanding terus menambah produk baru.Rambut sebenarnya cukup responsif ketika diperlakukan dengan lebih hati-hati. Ia mungkin tidak langsung berubah drastis, tetapi perlahan menjadi lebih kuat dan lebih nyaman diatur.Dan sering, perawatan terbaik bukan datang dari rutinitas yang rumit, melainkan dari berhenti melakukan kebiasaan kecil yang selama ini dianggap normal. [][Vikalena Lasmoskwa/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Apa dan Bagaimana Mengatasi Alopecia?
HairCare

06 Mei 2026

Apa dan Bagaimana Mengatasi Alopecia?

Rambut rontok sering dianggap hal biasa, sampai jumlahnya mulai terasa berbeda. Saat helaian rambut semakin banyak tertinggal di sisir, kamar mandi, atau bantal, rasa khawatir biasanya mulai muncul perlahan. Banyak orang baru menyadari bahwa masalah rambut tidak selalu sesederhana 'rontok biasa'.Salah satu kondisi yang cukup sering dibicarakan adalah alopecia. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kondisi kerontokan rambut yang terjadi karena berbagai faktor, mulai dari genetik, stres, gangguan autoimun, hingga perubahan hormonal. Namun, karena gejalanya muncul bertahap, banyak orang terlambat menyadari bahwa kondisi rambutnya sedang berubah lebih serius.Masalahnya, alopecia tidak selalu terlihat dramatis di awal. Kadang dimulai dari garis rambut yang perlahan mundur, area rambut yang mulai menipis, atau bagian tertentu yang terasa lebih kosong dibanding biasanya. Dari sini, penting untuk memahami bahwa alopecia bukan sekadar soal estetika, tetapi juga kondisi yang perlu diperhatikan lebih dini.Baca Juga: Masalah Rambut yang Sering Dianggap SepeleAlopecia Tidak Selalu Datang dengan Cara yang SamaBanyak orang mengira alopecia hanya berarti kebotakan total. Padahal, kondisi ini memiliki bentuk yang berbeda-beda tergantung penyebabnya. Ada yang muncul perlahan selama bertahun-tahun, ada juga yang terjadi cukup cepat dalam waktu singkat.Sebagai contoh, androgenetic alopecia atau pola kebotakan akibat faktor genetik sering terjadi pada pria maupun wanita. Kondisi ini biasanya dimulai dari penipisan di area tertentu, seperti garis depan rambut atau bagian tengah kepala. Karena prosesnya bertahap, banyak orang baru menyadarinya setelah perubahan terlihat cukup jelas.Di sisi lain, ada juga alopecia areata, kondisi autoimun yang menyebabkan rambut rontok pada area tertentu secara tiba-tiba. Rambut bisa rontok membentuk lingkaran kecil tanpa rasa sakit, sehingga sering membuat penderitanya bingung karena muncul mendadak.Menurut American Academy of Dermatology, alopecia dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti genetik, hormon, stres berat, pola makan, hingga kondisi kesehatan tertentu. Artinya, penyebab kerontokan tidak selalu sama pada setiap orang.Selain itu, kebiasaan sehari-hari juga bisa memperburuk kondisi. Penggunaan alat styling panas berlebihan, mengikat rambut terlalu kencang, atau terlalu sering melakukan proses kimia dapat membuat rambut menjadi lebih rapuh. Dalam beberapa kasus, hal-hal kecil seperti ini justru mempercepat penipisan rambut yang sebelumnya sudah mulai terjadi.Di sini, memahami jenis dan penyebab alopecia menjadi langkah penting. Karena tanpa mengetahui akar masalahnya, penanganan sering hanya berhenti di permukaan.Baca Juga: Produk Rambut Mahal vs MurahMengatasi Alopecia Perlu Pendekatan yang KonsistenBanyak orang berharap rambut bisa kembali tumbuh hanya dengan mengganti shampoo atau mencoba serum tertentu. Padahal, penanganan alopecia biasanya membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh dan konsisten. Tidak ada solusi instan yang bekerja sama untuk semua kondisi.Sebagai contoh, pada alopecia akibat stres atau pola hidup yang tidak seimbang, perbaikan kualitas tidur, nutrisi, dan manajemen stres bisa membantu memperbaiki kondisi rambut secara perlahan. Dalam situasi seperti ini, produk perawatan hanya menjadi pendukung, bukan satu-satunya solusi.Sementara pada alopecia yang dipengaruhi faktor genetik atau hormonal, konsultasi dengan dermatolog sering menjadi langkah penting. Beberapa kondisi membutuhkan terapi khusus agar kerontokan bisa dikontrol lebih awal sebelum berkembang lebih jauh.Dermatolog Dr. Doris Day dalam bukunya Beyond Beautiful [2018] menjelaskan bahwa kesehatan rambut sangat berkaitan dengan kondisi tubuh secara keseluruhan. Karena itu, penanganan rambut rontok perlu melihat faktor internal dan eksternal secara bersamaan.Selain itu, penting juga untuk menjaga ekspektasi tetap realistis. Pertumbuhan rambut membutuhkan waktu, dan hasil biasanya tidak muncul dalam hitungan hari. Banyak orang berhenti terlalu cepat karena merasa tidak melihat perubahan instan.Pendekatan yang lebih sehat adalah fokus pada konsistensi dan kondisi kulit kepala. Gunakan produk yang lembut, hindari kebiasaan yang membuat rambut semakin rapuh, dan beri waktu bagi rambut untuk beradaptasi dengan perawatan yang dijalani.Beauties, mengatasi alopecia mestinya tak lagi terasa seperti mengejar hasil cepat. Ia menjadi proses memahami kondisi rambut dengan lebih sabar dan lebih sadar. Dan dari sana, perawatan biasanya terasa lebih masuk akal. [][Vikalena Lasmoskwa/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Benarkah Rambut Rontok Karena Terlalu Sering Memakai Topi?
MythBuster

02 Feb 2026

Benarkah Rambut Rontok Karena Terlalu Sering Memakai Topi?

Topi sering jadi kambing hitam saat rambut mulai menipis. Banyak orang langsung menyimpulkan bahwa kebiasaan mengenakan topi terlalu sering adalah penyebab utama kerontokan rambut. Padahal, hubungan antara topi dan rambut rontok tidak sesederhana itu.Mitos ini bertahan lama karena terlihat masuk akal. Rambut tertutup, kulit kepala terasa lembap, lalu rambut rontok. Namun, secara medis, penyebab kerontokan rambut jauh lebih kompleks dibanding sekadar aksesori penutup kepala.Fakta di Balik Topi dan Kerontokan RambutMemakai topi tidak secara langsung menyebabkan rambut rontok. Folikel rambut berada di dalam kulit kepala dan tidak akan 'mati' hanya karena tertutup topi. Rambut tetap tumbuh selama folikel berada dalam kondisi sehat.Namun, masalah bisa muncul jika topi digunakan terlalu ketat, jarang dibersihkan, atau dipakai dalam kondisi kulit kepala yang kotor dan berkeringat. Situasi ini dapat memicu iritasi, peradangan, atau infeksi kulit kepala, yang pada akhirnya memperparah kerontokan yang sudah ada.Dengan kata lain, topi bukan penyebab utama, tetapi bisa menjadi faktor pendukung jika kebersihan dan kenyamanan kulit kepala diabaikan.Baca Juga: Benarkah Jerawat Punggung Hanya Masalah Kebersihan?Mengenal Traction AlopeciaSalah satu kondisi yang sering disalahartikan sebagai 'rontok karena topi' adalah traction alopecia. Traction alopecia adalah kerontokan rambut akibat tarikan berulang dan berkepanjangan pada rambut atau kulit kepala.Kondisi ini tidak hanya disebabkan oleh topi, tetapi juga oleh gaya rambut yang terlalu ketat, seperti kuncir, kepang, atau penggunaan helm dan penutup kepala yang menekan area tertentu secara terus-menerus. Rambut biasanya rontok di area yang mengalami tekanan paling sering.Jika kebiasaan tersebut dihentikan sejak dini, traction alopecia masih bisa diperbaiki. Namun jika dibiarkan terlalu lama, kerontokan bisa menjadi permanen karena folikel mengalami kerusakan.Peran Dihidrotestosteron dalam Kerontokan RambutDi luar faktor mekanis, hormon memegang peranan besar dalam kerontokan rambut, terutama pada pria. Dihidrotestosteron atau DHT adalah hormon turunan testosteron yang menjadi penyebab utama androgenetic alopecia, atau kebotakan pola pria.DHT bekerja dengan mengecilkan folikel rambut secara bertahap. Rambut menjadi lebih tipis, siklus tumbuhnya memendek, hingga akhirnya folikel berhenti memproduksi rambut. Proses ini terjadi dari dalam tubuh dan tidak ada hubungannya dengan penggunaan topi.Inilah sebabnya banyak pria yang tetap mengalami kebotakan meskipun jarang memakai topi, dan sebaliknya, ada yang sering memakai topi tetapi rambutnya tetap lebat.Baca Juga: Benarkah Banyak Foundation Membuat Kulit Lebih Flawless?Jadi, Haruskah Takut Memakai Topi?Memakai topi aman selama digunakan dengan bijak. Pilih topi yang tidak terlalu ketat, jaga kebersihannya, dan pastikan kulit kepala tetap bersih serta kering. Topi seharusnya berfungsi sebagai pelindung, bukan sumber masalah.Jika kerontokan rambut terus terjadi, penyebabnya kemungkinan besar berasal dari faktor hormonal, genetik, atau kebiasaan yang menimbulkan tarikan berlebih kepada rambut. Dalam kondisi tersebut, pemeriksaan lebih lanjut jauh lebih penting daripada sekadar menyalahkan topi.Kesimpulannya, rambut rontok bukan soal seberapa sering Anda memakai topi, melainkan bagaimana kondisi folikel, hormon, dan kebiasaan perawatan rambut Anda secara keseluruhan. [][Rudi Tenggarawan/TBV]Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi