HairCare

Apakah Sering Mengikat Rambut Bisa Membuat Rambut Lebih Mudah Rontok?

Admin Beautyversity Admin Beautyversity
213 views
Apakah Sering Mengikat Rambut Bisa Membuat Rambut Lebih Mudah Rontok?

Mengikat rambut terasa praktis dan membuat aktivitas lebih nyaman. Namun, tarikan yang terjadi berulang kali ternyata dapat memengaruhi rambut. Seberapa besar risikonya?

Mengikat rambut adalah kebiasaan yang nyaris otomatis bagi banyak orang. Saat cuaca panas, bekerja, berolahraga, atau sekadar ingin rambut tidak menutupi wajah, ikat rambut menjadi solusi paling sederhana. Ponytail, sanggul, kepang, dan berbagai gaya lain bahkan dapat menjadi bagian dari penampilan sehari-hari.

Karena begitu umum dilakukan, jarang ada yang menganggap kebiasaan tersebut dapat memengaruhi kesehatan rambut. Kekhawatiran biasanya baru muncul ketika rambut yang tertinggal pada ikat rambut terasa semakin banyak atau bagian tertentu di sekitar garis rambut mulai tampak lebih tipis. Tidak sedikit orang kemudian mengira bahwa setiap rambut yang terlepas setelah ikatan dibuka merupakan tanda kerontokan.

Padahal, rambut memang mengalami siklus pertumbuhan dan pelepasan secara alami. Sejumlah helai akan rontok setiap hari tanpa berkaitan dengan kebiasaan mengikat rambut. Persoalan berbeda dapat muncul ketika rambut terus-menerus menerima tarikan yang kuat, terutama pada bagian yang sama dan dalam waktu lama.

Karena itu, masalahnya bukan sekadar apakah rambut boleh diikat atau tidak. Kekuatan tarikan, gaya rambut yang dipilih, durasi, frekuensi, hingga kondisi rambut turut menentukan apakah kebiasaan tersebut masih aman atau mulai memberikan tekanan berlebihan.

Baca Juga: Apakah Rambut Membutuhkan ‘Hari Libur’ dari Alat Penata Rambut?

Ketika Tarikan Berulang Mulai Membebani Rambut

Mengikat rambut terlalu kencang memberikan tekanan mekanis pada batang rambut sekaligus folikelnya. Tarikan sesekali mungkin tidak menimbulkan masalah berarti, tetapi tekanan yang berlangsung berulang dapat membuat rambut lebih mudah patah. Pada kondisi tertentu, tarikan kronis pada folikel juga dapat memicu kondisi yang dikenal sebagai traction alopecia.

Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menyebut bahwa perawatan rambut perlu mempertimbangkan faktor mekanis selain penggunaan produk. Gesekan, tarikan, suhu tinggi, dan proses kimia dapat memberikan beban tambahan pada serat rambut. Rambut yang sudah rapuh akibat pewarnaan, bleaching, atau penataan berulang tentu membutuhkan perlakuan yang lebih hati-hati ketika diikat.

American Academy of Dermatology menjelaskan bahwa gaya rambut yang terus menarik rambut dengan kuat dapat menyebabkan traction alopecia. Tanda awalnya dapat berupa rambut patah di sekitar garis rambut, garis rambut yang mulai mundur, atau area tertentu yang terlihat menipis. Mengubah gaya rambut lebih awal menjadi penting karena tarikan berkepanjangan dapat menyebabkan kerusakan folikel yang semakin sulit dipulihkan.

Sensasi tubuh sebenarnya dapat menjadi petunjuk sederhana. Ikatan yang membuat kulit kepala terasa sakit, tertarik, atau menimbulkan sakit kepala kemungkinan memberikan tekanan lebih besar daripada yang diperlukan. Gaya rambut tidak harus terasa menyakitkan agar mampu bertahan sepanjang hari.

Baca Juga: Mengapa Rambut Terasa Berat Meski Baru Dicuci?

Bukan Berhenti Mengikat Rambut, tetapi Mengubah Kebiasaannya

Mengurangi risiko bukan berarti rambut harus selalu dibiarkan terurai. Mengikat rambut tetap dapat dilakukan selama tekanan pada rambut dan kulit kepala diperhatikan. Mengendurkan ikatan, mengganti posisi rambut secara berkala, serta menghindari gaya yang terus menarik bagian rambut yang sama dapat membantu mengurangi tekanan berulang.

Pemilihan aksesori juga dapat memberikan perbedaan. Ikat rambut yang memiliki bagian logam kasar atau permukaan yang mudah tersangkut dapat meningkatkan gesekan pada batang rambut. Scrunchie atau ikat rambut dengan permukaan lebih lembut dapat menjadi pilihan untuk membantu mengurangi tarikan dan gesekan, meskipun cara mengikat tetap lebih menentukan daripada sekadar jenis aksesori.

Mengikat rambut ketika masih sangat basah juga perlu dilakukan dengan hati-hati. Batang rambut yang basah mengalami perubahan sifat mekanis dan dapat lebih mudah meregang. Ketika kondisi tersebut bertemu dengan tarikan kuat, risiko kerusakan pada batang rambut dapat meningkat, terlebih apabila kebiasaan yang sama dilakukan hampir setiap hari.

Dermatolog Dr. Crystal Aguh dari Johns Hopkins University, yang banyak membahas traction alopecia, menekankan pentingnya mengenali tanda-tanda awal akibat gaya rambut yang terlalu menarik. Rasa sakit, benjolan kecil pada kulit kepala, rambut patah, atau penipisan pada area yang terus mendapat tekanan sebaiknya tidak dianggap sebagai konsekuensi normal dari penataan rambut. Mengurangi tarikan sejak dini dapat membantu mencegah kerusakan berkembang lebih jauh.

Ada pula perbedaan penting antara rambut rontok dari akar dan rambut patah. Helai panjang yang terlepas bersama bagian akar dapat berkaitan dengan siklus rambut, sedangkan banyak helai pendek dengan panjang tidak beraturan lebih mungkin menunjukkan kerusakan pada batang rambut. Memperhatikan pola tersebut membantu memahami apakah persoalannya mungkin berkaitan dengan tarikan atau ada faktor lain yang perlu diperiksa.

Jadi, sering mengikat rambut memang dapat meningkatkan risiko kerusakan dan kerontokan tertentu apabila dilakukan terlalu kencang dan berulang pada area yang sama. Rambut tetap boleh diikat, tetapi kenyamanan kulit kepala seharusnya tidak dikorbankan demi mempertahankan gaya. Sedikit melonggarkan ikatan, mengganti posisi, dan sesekali membiarkan rambut bebas dapat menjadi kebiasaan sederhana untuk mengurangi tekanan yang diterima rambut setiap hari. [][Vikalena Lasmoskwa/TBV]

Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.



Bagikan artikel ini:
Admin Beautyversity

Admin Beautyversity

Penulis di Beautyversity

Lihat Semua Artikel