Hari-hari belakangan terasa berat tanpa perlu dicari alasannya. Berita, bencana, dan pernyataan demi pernyataan membuat kepala cepat lelah.
Ada masa ketika lelah tidak datang dari tubuh, melainkan dari pikiran. Musibah banjir bandang di berbagai daerah, kabar kehilangan, serta pernyataan pejabat yang sering kali terasa jauh dari empati, menumpuk menjadi beban mental yang sulit diurai. Kita bangun pagi dengan perasaan sudah letih, bahkan sebelum hari benar-benar dimulai.
Burnout tidak lagi hanya milik ruang kerja. Ia hadir secara kolektif, merayap lewat linimasa, percakapan sehari-hari, dan rasa tidak berdaya menghadapi situasi yang terasa di luar kendali. Dalam kondisi seperti ini, wajar jika perawatan diri menjadi hal pertama yang ditinggalkan.
Namun justru di titik paling melelahkan itulah, merawat diri menjadi bentuk bertahan hidup. Bukan untuk terlihat cantik di mata siapa pun, melainkan agar kita tidak runtuh sepenuhnya. BeautyLife dalam konteks ini bukan tentang tampil sempurna, tetapi tentang menjaga diri tetap utuh.
Burnout Kolektif dan Tubuh yang Ikut Bicara
Ketika mental lelah, tubuh biasanya ikut memberi sinyal. Kulit terasa lebih kusam, muncul jerawat tanpa sebab jelas, atau tubuh mudah pegal meski tidak melakukan aktivitas berat. Semua ini adalah respons alami terhadap stres berkepanjangan.
Stres kronis memengaruhi hormon, kualitas tidur, dan sistem imun. Dampaknya sering terlihat pada kulit dan rambut yang kehilangan vitalitas. Dalam kondisi seperti ini, memaksa diri mengikuti rutinitas perawatan yang rumit justru bisa menambah tekanan.
Menyadari bahwa perubahan pada tubuh bukan kegagalan merawat diri adalah langkah awal yang penting. Tubuh tidak sedang ‘bermasalah’, ia sedang beradaptasi dengan situasi yang berat.
Perawatan Kecantikan sebagai Ruang Aman
Di tengah burnout, perawatan kecantikan dapat diposisikan ulang sebagai ruang aman. Rutinitas sederhana seperti membersihkan wajah perlahan atau mengoleskan pelembap sebelum tidur bisa menjadi momen hening yang jarang kita miliki.
Bukan soal produk mahal atau langkah berlapis, melainkan soal kehadiran penuh saat merawat diri. Menyentuh kulit dengan lebih sadar, bernapas lebih pelan, dan memberi waktu beberapa menit tanpa distraksi menjadi bentuk perhatian yang sangat berarti.
Ritual kecil ini membantu sistem saraf untuk menurunkan ketegangan. Perlahan, tubuh memahami bahwa ia aman, setidaknya untuk sesaat. Dari sinilah pemulihan emosional bisa dimulai, meski langkahnya kecil.
Merawat Diri Tanpa Beban Perfeksionisme
Salah satu sumber kelelahan adalah tuntutan untuk selalu ‘baik-baik saja’. Dalam perawatan diri pun, tuntutan ini sering muncul dalam bentuk standar kecantikan yang tidak realistis. Saat burnout, penting untuk melepaskan keharusan tampil optimal.
Merawat diri boleh dilakukan seadanya. Tak apa-apa jika hanya mencuci wajah dan tidur lebih awal. Tidak ada kewajiban untuk tampil glowing ketika dunia sedang terasa gelap.
BeautyLife yang relevan hari ini adalah tentang kebaikan pada diri sendiri. Memberi izin untuk lelah, untuk berhenti sejenak, dan untuk merawat diri tanpa target apa pun. Dari sanalah kekuatan perlahan kembali.
Cantik di tengah burnout bukan soal estetika, melainkan keberanian untuk tetap hidup dengan lembut. Di tengah berita yang melelahkan dan realitas yang sering mengecewakan, merawat diri menjadi bentuk perlawanan yang paling sunyi, namun paling jujur. [][Rommy Rimbarawa/TBV]
penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi