Perdebatan antara skincare alami dan sintetis sudah berlangsung lama, dan sering kali menimbulkan kebingungan bagi konsumen. Banyak yang menganggap bahan alami pasti lebih aman, sementara bahan sintetis sering diberi cap negatif. Padahal, dunia skincare tidak sesederhana itu.
Keamanan sebuah produk tidak hanya ditentukan dari “alami” atau “sintetis”-nya, tetapi dari bagaimana bahan tersebut bekerja, seberapa banyak konsentrasinya, dan bagaimana ia diformulasikan.
Skincare alami biasanya berasal dari tumbuhan, buah, biji, atau bahan organik lain. Keunggulannya adalah kandungan fitonutrien yang kaya, seperti antioksidan dari teh hijau atau vitamin C alami dari buah-buahan. Teksturnya cenderung lembut dan terasa lebih “ramah kulit”.
Namun, bahan alami tetap berpotensi menimbulkan iritasi, terutama bagi mereka yang sensitif terhadap essential oil, ekstrak herbal tertentu, atau senyawa tumbuhan yang kuat. Selain itu, bahan alami sering memiliki kestabilan yang lebih rendah, mudah teroksidasi, dan kadang tidak memberikan hasil secepat bahan sintetis.
Di sisi lain, skincare sintetis bukan berarti berbahaya. Banyak bahan sintetis justru dikembangkan agar lebih stabil, lebih aman, dan lebih konsisten dibanding bahan alami. Contohnya adalah niacinamide, hyaluronic acid, dan ceramide yang kini menjadi favorit dalam banyak produk.
Bahan-bahan ini awalnya terinspirasi dari alam, namun direkayasa agar bekerja lebih efektif dan minim risiko. Keunggulan sintetis adalah kemampuan untuk memberikan hasil yang lebih dapat diprediksi, karena struktur kimianya lebih terkontrol.
Jadi, mana yang lebih aman? Jawabannya adalah: keduanya aman jika diformulasikan dengan baik dan sesuai kebutuhan kulit Anda. Jangan terpaku pada label “natural” atau “chemical”, karena semuanya adalah kimia dalam bentuk berbeda. Fokuslah pada bukti ilmiah, reputasi brand, dan kecocokan kulit. Pada akhirnya, pilihan terbaik adalah produk yang memberikan hasil tanpa menimbulkan iritasi. [] [Dipo Alaric/TBV]