Produk kecantikan yang lama masuk wishlist bisa terasa begitu istimewa. Anehnya, setelah berhasil dibeli, rasa senangnya terkadang cepat menghilang.
Ada kepuasan tersendiri ketika akhirnya berhasil membeli produk kecantikan yang sudah lama diinginkan. Mungkin sebuah parfum yang harganya cukup tinggi, lipstik dengan warna tertentu, atau serum yang terus muncul dalam ulasan media sosial. Selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, produk tersebut terasa seperti sesuatu yang istimewa.
Proses menunggu sering membuat keinginan semakin kuat. Seseorang membayangkan bagaimana rasanya menggunakan produk tersebut, seperti apa hasilnya, atau seberapa menyenangkan pengalaman ketika kemasannya pertama kali dibuka. Akan tetapi, setelah produk benar-benar dimiliki, perasaan istimewa itu terkadang hanya bertahan sebentar.
Parfum yang sebelumnya terasa begitu mewah akhirnya menjadi bagian dari rutinitas pagi. Lipstik yang dulu terus diperhatikan kini tersimpan bersama koleksi lainnya. Produk yang pernah begitu diinginkan perlahan berubah menjadi benda sehari-hari, meskipun kualitasnya tidak berubah.
Fenomena ini tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang salah membeli produk. Dalam psikologi, kepuasan manusia memang dipengaruhi oleh ekspektasi, kebiasaan, dan cara otak merespons pengalaman baru. Memahami mekanisme tersebut dapat membantu menjelaskan mengapa proses menginginkan sesuatu kadang terasa lebih menarik daripada pengalaman memilikinya.
Baca Juga: Mengapa Menghabiskan Produk Kecantikan Bisa Memberikan Kepuasan Tersendiri?
Mengapa Keinginan Kadang Lebih Menyenangkan daripada Kepemilikan?
Salah satu konsep yang dapat menjelaskan pengalaman tersebut adalah hedonic adaptation, yaitu kecenderungan manusia untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang awalnya menimbulkan perasaan menyenangkan atau tidak menyenangkan. Sesuatu yang terasa luar biasa pada awalnya dapat menjadi biasa setelah dialami berulang kali. Proses ini membantu manusia beradaptasi, tetapi juga membuat kegembiraan terhadap barang baru tidak selalu bertahan lama.
Psikolog Sonja Lyubomirsky dan Ken Sheldon, bersama David Schkade, membahas bagaimana adaptasi dapat membatasi keberlangsungan peningkatan kebahagiaan dalam penelitian yang diterbitkan melalui Review of General Psychology. Mereka menjelaskan bahwa manusia cenderung menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi hidup, termasuk perubahan yang menyenangkan. Kerangka tersebut membantu memahami mengapa kepemilikan barang yang lama diinginkan tidak otomatis menghasilkan kepuasan jangka panjang.
Ketika sebuah produk masih berada dalam daftar keinginan, seseorang mempunyai ruang luas untuk membayangkan pengalaman ideal. Parfum belum benar-benar digunakan setiap hari, sehingga kesan istimewanya belum bersaing dengan kebiasaan dan pengalaman nyata. Setelah dimiliki, bayangan tersebut bertemu dengan kenyataan yang sering kali lebih sederhana.
Ada pula perbedaan antara keinginan untuk memperoleh sesuatu dan kesenangan ketika menggunakannya. Dalam penelitian mengenai sistem penghargaan otak, psikolog Kent Berridge dan Terry Robinson membedakan proses wanting dan liking. Wanting berkaitan dengan dorongan untuk memperoleh sesuatu, sedangkan liking merujuk pada pengalaman menyenangkan ketika sesuatu dinikmati.
Perbedaan ini penting dalam memahami perilaku belanja kecantikan. Seseorang bisa sangat terdorong untuk membeli produk tertentu karena antisipasi, kelangkaan, atau gambaran hasil yang diharapkan. Dorongan tersebut tidak menjamin bahwa pengalaman menggunakan produk akan menghasilkan kesenangan dengan intensitas yang sama.
Meski begitu, konsep wanting dan liking tidak berarti setiap pembelian kosmetik digerakkan oleh mekanisme yang sama. Kebutuhan nyata, preferensi pribadi, kualitas produk, dan kemampuan finansial tetap berperan dalam keputusan pembelian. Psikologi memberikan kerangka untuk memahami sebagian pengalaman konsumen, bukan alasan untuk menganggap seluruh keinginan membeli sebagai perilaku yang keliru.
Baca Juga: Ketika Membeli Produk Kecantikan Menjadi Cara Memberi Hadiah kepada Diri Sendiri
Ekspektasi, Media Sosial, dan Cara Menikmati Produk yang Dimiliki
Media sosial dapat memperkuat proses pembentukan ekspektasi terhadap produk kecantikan. Video pembukaan kemasan, ulasan antusias, dan tampilan produk yang menarik membuat sebuah barang terasa memiliki nilai emosional tambahan. Semakin sering seseorang terpapar gambaran tersebut, semakin besar kemungkinan produk menjadi bagian dari sesuatu yang terus dibayangkan.
Dalam situasi tertentu, konsumen bukan hanya membeli fungsi produk, tetapi juga pengalaman yang diasosiasikan dengannya. Sebuah lipstik mungkin dibayangkan akan meningkatkan rasa percaya diri, sedangkan parfum tertentu diharapkan menghadirkan kesan elegan. Harapan seperti ini dapat memberikan makna personal, tetapi pengalaman nyata tidak selalu mampu memenuhi seluruh gambaran tersebut.
Penelitian psikolog Leaf Van Boven dan Thomas Gilovich yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology menemukan bahwa pembelian pengalaman, secara umum, dapat menghasilkan kebahagiaan lebih besar daripada pembelian barang dalam konteks yang mereka teliti. Temuan ini tidak berarti membeli kosmetik pasti kurang memuaskan. Sebaliknya, penelitian tersebut mengajak kita mempertimbangkan perbedaan antara memiliki sebuah benda dan menikmati pengalaman yang berkaitan dengannya.
Produk kecantikan sebenarnya dapat menjadi bagian dari pengalaman yang bermakna. Menggunakan parfum saat menghadiri acara penting, mencoba riasan bersama teman, atau merawat diri setelah hari yang melelahkan dapat menghadirkan kesenangan tersendiri. Nilai tersebut tidak selalu berasal dari kebaruan produk, melainkan dari pengalaman ketika produk digunakan.
Persoalan muncul ketika perhatian terus berpindah ke barang berikutnya sebelum produk yang dimiliki benar-benar dinikmati. Setelah satu pembelian selesai, produk lain mulai terlihat lebih menarik dan kembali menempati daftar keinginan. Siklus tersebut dapat membuat kepuasan terasa singkat karena perhatian lebih banyak diarahkan pada apa yang belum dimiliki.
Mengenali pola ini tidak berarti seseorang harus berhenti mengikuti tren kecantikan. Ketertarikan terhadap produk baru merupakan bagian wajar dari hobi, ekspresi diri, dan aktivitas konsumsi. Yang lebih penting adalah memahami apakah keinginan membeli muncul karena kebutuhan, ketertarikan yang bertahan, atau antusiasme sesaat.
Memberi jeda sebelum membeli dapat membantu membedakan ketiganya. Selama masa menunggu, seseorang bisa mempertimbangkan apakah produk tersebut menawarkan fungsi yang belum tersedia dalam koleksinya. Jika keinginan tetap ada setelah antusiasme awal mereda, keputusan pembelian mungkin menjadi lebih terarah.
Cara lain adalah memberi perhatian lebih besar pada pengalaman menggunakan produk yang sudah dimiliki. Mencoba kombinasi riasan baru, mengenali karakter parfum dalam berbagai kesempatan, atau mengevaluasi kecocokan produk perawatan dapat membantu seseorang menikmati manfaatnya secara lebih sadar. Pendekatan ini tidak menjamin kepuasan selalu meningkat, tetapi dapat mengalihkan perhatian dari sekadar mengejar pembelian berikutnya.
Produk kecantikan yang terasa biasa setelah dimiliki belum tentu kehilangan nilainya. Bisa jadi, otak telah beradaptasi terhadap sesuatu yang sebelumnya terasa baru dan istimewa. Kepuasan tidak selalu harus bertahan dalam bentuk kegembiraan yang sama; terkadang, nilainya justru terlihat ketika sebuah produk benar-benar menjadi bagian yang bermanfaat dan menyenangkan dalam kehidupan sehari-hari. [][Liora Maheswari/TBV]
Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.
Referensi Ahli dan Penelitian:
Sonja Lyubomirsky, Kennon M. Sheldon, dan David Schkade — Pursuing Happiness: The Architecture of Sustainable Change, Review of General Psychology, 2005. Dasar pembahasan mengenai adaptasi dan keberlangsungan kebahagiaan.
Kent C. Berridge dan Terry E. Robinson — Parsing Reward, Trends in Neurosciences, 2003. Menjelaskan perbedaan mekanisme wanting dan liking.
Leaf Van Boven dan Thomas Gilovich — To Do or to Have? That Is the Question, Journal of Personality and Social Psychology, 2003. Penelitian mengenai pembelian pengalaman dan pembelian material.