Indonesia tidak kekurangan sumber daya menarik. Tantangan yang lebih besar adalah membangun pengetahuan yang mampu mengubahnya menjadi inovasi bernilai.
Seekor ikan patin, secangkir teh hijau, dan komunitas mikroorganisme yang hidup di kulit tampaknya tidak memiliki banyak kesamaan. Namun, ketiganya bertemu dalam satu percakapan di BeautéSpot, Cosmobeauté Indonesia 2026. Bukan sekadar sebagai tiga topik ilmiah, melainkan tiga cara untuk melihat bagaimana inovasi kecantikan berkembang.
Dalam sesi From Local Resources to Science-Driven Beauty Innovation, Prof. Dr. Sugeng Heri Suseno, S.Pi., M.Si. membawa minyak ikan patin, Dr. apt. Naniek Widyaningrum, M.Sc. mengangkat EGCG dari teh hijau, sedangkan Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si. membawa pembicaraan menuju microbiome dan probiotic science. Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. memoderasi percakapan yang sekilas bergerak di tiga wilayah berbeda tersebut.
Namun, jika ditarik lebih jauh, ada satu pertanyaan yang menghubungkannya: apa yang membuat sesuatu benar-benar dapat disebut inovasi? Memiliki sumber daya belum berarti memiliki bahan kosmetik. Memiliki senyawa aktif menjanjikan belum berarti memiliki formula efektif, dan memahami sebuah mekanisme biologis belum berarti memiliki produk yang manfaatnya sudah terbukti.
Di sinilah percakapan tentang inovasi kecantikan menjadi lebih menarik daripada sekadar mencari hero ingredient berikutnya. Perjalanannya dapat dimulai dari sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi harus melewati riset, teknologi, formulasi, pengujian, hingga pemahaman terhadap sistem biologis tempat produk tersebut nantinya digunakan.
Baca Juga: Kalau Setiap Orang Punya Skin Microbiome yang Berbeda, Seperti Apa yang Disebut Sehat?
Dari Sumber Daya ke Bahan yang Benar-Benar Dipahami

Patin menjadi titik berangkat yang menarik. Selama ini ikan tersebut lebih mudah ditempatkan sebagai komoditas pangan, padahal Prof. Sugeng mengangkat kemungkinan lain: bagaimana minyak yang berasal dari sumber daya lokal dapat dipahami karakter dan kualitasnya, kemudian dikembangkan menuju bahan bernilai tambah untuk industri beauty. Perubahannya bukan terjadi hanya karena kita menemukan kegunaan baru, tetapi karena pengetahuan tentang sumber daya tersebut dibangun lebih jauh.
Ini sekaligus menunjukkan perbedaan antara kekayaan sumber daya dan kemampuan menciptakan nilai darinya. Sebuah bahan lokal dapat tersedia melimpah, tetapi industri membutuhkan lebih dari cerita tentang asal-usulnya. Karakteristik bahan, kualitas, konsistensi, proses pengolahan, dan bukti ilmiah menjadi bagian dari perjalanan yang menentukan apakah potensi tersebut dapat bergerak menuju aplikasi yang lebih bernilai.
Teh hijau membawa perjalanan itu satu tahap lebih jauh. Berbeda dengan patin yang membuka pembicaraan dari sumber daya lokal, EGCG sudah dikenal sebagai salah satu senyawa bioaktif utama dalam teh hijau. Tantangannya kemudian bukan hanya menemukan bahwa senyawa tersebut mempunyai aktivitas biologis yang menarik, melainkan mempertahankan relevansinya ketika dibawa ke dalam sebuah produk.
Dalam pembahasan Dr. Naniek, keberadaan bahan aktif saja belum cukup. Stabilitas, sistem formulasi, delivery, dan efektivitas ikut menentukan bagaimana sebuah natural active dapat diterjemahkan menjadi inovasi yang lebih konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan. Di sinilah istilah ‘natural’ berhenti menjadi akhir cerita dan justru menjadi awal pekerjaan ilmiah.
Persoalan tersebut penting karena sebuah bahan dapat terlihat menjanjikan dalam penelitian, tetapi menghadapi kondisi berbeda ketika berada di dalam formula. Ia harus hidup bersama bahan lain, berada pada lingkungan pH tertentu, bertahan selama penyimpanan, melewati proses produksi, dan tetap memiliki karakter yang relevan saat produk digunakan. Dengan kata lain, bahan yang menarik secara biologis belum otomatis menjadi produk yang bekerja sebagaimana diharapkan.
Baca Juga: Skincare Terlalu Lama Berbicara tentang Bahan Aktif, Bagaimana Jika Kita Mulai dari Kulit?
Ketika Inovasi Tidak Lagi Berhenti pada Bahan

Prof. Keri kemudian membawa percakapan menuju lapisan yang lebih kompleks. Jika patin mengajak melihat bagaimana sumber daya memperoleh nilai melalui sains dan EGCG menunjukkan pentingnya menerjemahkan bahan aktif ke dalam formula, microbiome science mengubah pertanyaannya lagi. Kini persoalannya bukan hanya apa yang dimasukkan ke dalam produk, tetapi sistem biologis apa yang akan berinteraksi dengan produk tersebut.
Kulit bukan permukaan pasif. Skin barrier, sebum, hidrasi, pH, respons imun, lingkungan, dan komunitas mikroorganisme membentuk sistem yang saling berhubungan. Karena itu, perkembangan microbiome science membuat inovasi kosmetik semakin sulit direduksi menjadi cerita satu bahan untuk satu manfaat.
Implikasinya juga membuat istilah seperti probiotic dan postbiotic tidak cukup diperlakukan sebagai label inovasi. Pertanyaan ilmiahnya tetap harus bergerak lebih jauh: apa mekanismenya, bagaimana bahan tersebut ditempatkan dalam formula, apakah formulanya stabil, bagaimana produk berinteraksi dengan ekosistem kulit, dan bukti seperti apa yang mendukung manfaat yang ingin diklaim. Pendekatan berbasis microbiome menjadi bermakna ketika ia menambah pemahaman terhadap kulit, bukan ketika istilahnya sekadar menambah kosakata pemasaran.
Pada titik tersebut, peran formulasi kembali menjadi penting. Sebagai moderator, Cahya mempertemukan pembicaraan mengenai sumber daya, bahan aktif, dan biologi kulit dengan wilayah product development. Sebuah ide ilmiah tetap harus melewati pertanyaan tentang stabilitas, keamanan, kemampuan untuk diproduksi secara konsisten, metode pengujian, hingga sejauh mana bukti yang tersedia benar-benar mendukung produk akhirnya.
Maka, tiga topik yang awalnya tampak berjauhan justru membentuk satu perjalanan yang utuh. Patin menunjukkan bahwa sumber daya membutuhkan pengetahuan untuk memperoleh nilai baru. EGCG memperlihatkan bahwa potensi biologis membutuhkan teknologi dan formulasi agar dapat diterjemahkan menjadi produk, sementara microbiome mengingatkan bahwa produk tersebut kemudian bekerja pada sistem biologis yang jauh lebih kompleks daripada satu target tunggal.
Perjalanan itu juga mengubah makna inovasi. Kebaruan tidak selalu berarti menemukan bahan yang belum pernah dikenal sebelumnya. Inovasi dapat lahir ketika sumber daya yang sudah dekat dengan kehidupan sehari-hari dipahami dengan lebih baik, ketika senyawa yang sudah dikenal dapat diformulasikan dengan lebih tepat, atau ketika ilmu baru membuat industri mengajukan pertanyaan yang sebelumnya belum terpikirkan.
Bagi Indonesia, cara berpikir seperti ini mungkin jauh lebih penting daripada sekadar mencari bahan lokal berikutnya yang dapat disebut unik. Kekayaan sumber daya baru menjadi kekuatan industri ketika ada riset yang memahami karakteristiknya, teknologi yang mampu mengolahnya, formulasi yang dapat mempertahankan kinerjanya, dan bukti yang menjelaskan apa yang benar-benar dilakukan produk tersebut.
Patin, teh hijau, dan microbiome mungkin berasal dari tiga dunia yang berbeda. Namun, ketiganya memperlihatkan satu hal yang sama: sains tidak hanya membantu menemukan sesuatu yang baru, tetapi juga membuat kita melihat sesuatu yang sudah ada dengan cara yang lebih bernilai. Mungkin kekayaan terbesar industri kecantikan Indonesia bukan hanya apa yang tumbuh, hidup, atau tersedia di negeri ini, melainkan pengetahuan yang mampu dibangun di atasnya. [][Tim Beautyversity/TBV]
Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.