Kita terbiasa mencari ukuran ideal untuk kesehatan. Namun, ketika membicarakan skin microbiome, sains justru menunjukkan bahwa ‘sehat’ tidak memiliki satu komposisi universal.
Ada sesuatu yang menggoda dari gagasan tentang skin microbiome yang sehat. Jika teknologi sudah mampu mengenali mikroorganisme yang hidup pada kulit, rasanya hanya tinggal satu langkah lagi untuk menentukan bakteri mana yang harus banyak, mana yang harus sedikit, lalu merancang produk yang membawa semuanya menuju komposisi ideal.
Masalahnya, kulit manusia tidak bekerja sesederhana itu. Dalam diskusi BeautéSpot di Cosmobeauté Indonesia 2026, Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si. menempatkan microbiome bukan sebagai kumpulan mikroorganisme yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari sistem yang terus berinteraksi dengan skin barrier, pH, sebum, hidrasi, respons imun, biologi tubuh, dan lingkungan.
Cara pandang itu segera menimbulkan pertanyaan yang lebih sulit. Jika lingkungan kulit setiap orang berbeda, apakah masuk akal mencari satu komposisi microbiome yang dianggap paling sehat untuk semuanya? Bahkan sebelum membandingkan dua orang, penelitian menunjukkan bahwa komunitas mikroba pada hidung, ketiak, lengan, dan bagian kulit lain dalam tubuh yang sama pun dapat berbeda.
Studi klasik Elizabeth Grice dan kolega yang dipublikasikan di Science pada 2009 menunjukkan bahwa lokasi anatomis sangat memengaruhi komunitas mikroba kulit. Area yang kaya sebum menyediakan kondisi berbeda dari area lembap maupun area yang lebih kering, sehingga mikroorganisme yang hidup di sana pun tidak identik. Artinya, satu sampel dari satu titik kulit tidak dapat begitu saja dianggap mewakili keseluruhan microbiome seseorang.
Baca Juga: Skincare Terlalu Lama Berbicara tentang Bahan Aktif, Bagaimana Jika Kita Mulai dari Kulit?
Bahkan Dua Kulit yang Sama-Sama Sehat Bisa Berbeda

Persoalannya menjadi semakin menarik ketika perbandingan dilakukan antarorang. Studi Oh dan kolega di Nature pada 2014 menunjukkan adanya variasi yang besar dalam komunitas mikroba kulit antarindividu. Dua orang yang sama-sama sehat karena itu dapat memiliki profil mikroba yang tidak sama.
Perbedaan tersebut dapat berkaitan dengan lokasi kulit, fisiologi, usia, lingkungan, gaya hidup, kebiasaan kebersihan, penggunaan kosmetik, hingga faktor tubuh pemiliknya. Temuan ini membuat istilah ‘normal skin microbiome’ perlu digunakan dengan hati-hati. Normal tidak berarti semua orang harus mempunyai daftar mikroorganisme dalam proporsi yang seragam.
Hal yang sama berlaku untuk microbial diversity. Keragaman yang tinggi terkadang diasosiasikan dengan ekosistem yang lebih tangguh, tetapi bahan yang menjadi dasar artikel ini menegaskan bahwa diversity bukanlah skor kesehatan universal untuk kulit. Ada bagian kulit yang secara alami memiliki keragaman lebih rendah, dan maknanya baru bisa dipahami ketika lokasi, komposisi, fungsi, serta kondisi pemilik kulit ikut diperhitungkan.
Contoh yang cukup menggugah datang dari Cutibacterium acnes. Namanya membuat mikroorganisme ini mudah diposisikan sebagai musuh karena begitu dekat dengan kata jerawat. Padahal, C. acnes merupakan penghuni umum kulit sehat. Penelitian Fitz-Gibbon dan kolega menunjukkan bahwa persoalannya tidak cukup dijelaskan dengan pertanyaan apakah bakteri tersebut ada atau tidak, karena populasi strain tertentu ditemukan berbeda pada individu dengan dan tanpa jerawat.
Temuan itu tidak berarti satu strain dapat langsung dinobatkan sebagai penyebab jerawat. Hubungan atau asosiasi belum sama dengan sebab-akibat. Namun, contoh tersebut cukup untuk menunjukkan mengapa membagi dunia microbiome menjadi 'bakteri baik' dan 'bakteri jahat' dapat membuat ilmu yang sebenarnya kompleks terasa terlalu sederhana.
Baca Juga: AI Kini Masuk ke Dunia Kosmetik: LABCOS AI dan Cara Baru Mempelajari Industri Kecantikan
Perubahan Microbiome Belum Tentu Berarti Kulit Menjadi Lebih Baik

Kerumitan berikutnya mulai terasa ketika ilmu tersebut bertemu produk kosmetik. Hampir semua produk yang digunakan pada kulit dapat berinteraksi dengan lingkungan tempat mikroorganisme hidup melalui proses pembersihan, perubahan pH, hidrasi, lipid, surfaktan, pengawet, bahan aktif, maupun efek oklusif. Namun, interaksi tidak otomatis berarti gangguan, sebagaimana perubahan juga tidak otomatis berarti manfaat.
Bayangkan penelitian menemukan bahwa setelah menggunakan sebuah produk, kelimpahan relatif mikroorganisme tertentu meningkat 15 persen. Angka itu terdengar cukup menarik untuk dijadikan cerita pemasaran. Namun, informasi tersebut belum menjawab apakah perubahan bertahan, apakah fungsi skin barrier menjadi lebih baik, apakah hidrasi meningkat, atau apakah ada manfaat yang benar-benar dirasakan kulit.
Dokumen yang menjadi dasar pembahasan ini menyebut perbedaannya secara sangat jelas: microbiome endpoint dan skin-benefit endpoint adalah dua hal berbeda. Perubahan komposisi mikroba harus dibaca bersama konsekuensi fungsional dan hasil yang dapat diukur pada kulit sebelum diterjemahkan menjadi manfaat.
Di titik inilah perspektif apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. dalam diskusi BeautéSpot menjadi relevan terhadap pengembangan produk. Sistem pengawet, misalnya, tidak dapat begitu saja dituduh buruk bagi microbiome hanya karena memiliki aktivitas antimikroba. Produk kosmetik berbasis air justru membutuhkan pengendalian mikrobiologis yang memadai agar tidak berubah menjadi tempat tumbuh mikroorganisme yang membahayakan pengguna.
Sebaliknya, keberadaan bahan yang memiliki data terkait microbiome juga belum otomatis membuat produk jadi layak disebut microbiome-friendly. Ketika bahan tersebut masuk ke dalam formula, konsentrasi, pH, bahan lain, sistem pengawet, proses produksi, stabilitas, kemasan, dan cara penggunaannya dapat mengubah konteks kerjanya. Karena itu, bukti pada bahan baku dan bukti pada produk jadi merupakan dua tingkat pembuktian yang berbeda.
Sains saat ini sudah memberi beberapa pijakan yang cukup kuat. Kita mengetahui bahwa kulit memiliki ekosistem mikroba yang kompleks, lokasi tubuh sangat memengaruhi komposisinya, variasi antarindividu cukup besar, komunitas mikroba berinteraksi dengan barrier dan sistem imun, serta profil seseorang dapat relatif stabil sambil tetap mampu berubah.
Namun, ruang yang belum diketahui juga masih luas. Belum ada satu komposisi healthy skin microbiome universal, perubahan mikroba belum selalu dapat dibedakan dengan jelas sebagai sebab atau akibat, belum semua perubahan memiliki makna klinis, dan belum ada satu definisi standar global mengenai produk microbiome-friendly. Dampak jangka panjang intervensi kosmetik juga masih membutuhkan lebih banyak data.
Mungkin justru di sinilah kemajuan ilmu skin microbiome terasa paling menarik. Semakin banyak yang diketahui, semakin sulit kesehatan kulit direduksi menjadi satu skor, satu mikroorganisme, atau satu komposisi ideal. Sains belum memberikan formula sederhana untuk 'microbiome sempurna', tetapi memberi cara yang lebih baik untuk membaca setiap klaim yang mengatasnamakannya.
Jadi, ketika sebuah produk mengatakan mampu memengaruhi skin microbiome, pertanyaan yang berguna bukan hanya apakah mikroorganismenya berubah. Kita juga perlu bertanya apa yang berubah, bagaimana perubahan itu diukur, apakah bertahan, dan apa artinya bagi kondisi kulit. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membedakan penggunaan ilmu microbiome dari sekadar penggunaan kata microbiome sebagai tren. [][Tim Beautyversity/TBV]
Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.