Tag

Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm.

Jelajahi artikel dengan tag Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm.

Mengenang Martha Tilaar, Apa yang Bisa Dipelajari Generasi Baru Formulator Indonesia?
BeautyNews

15 Okt 2026

Mengenang Martha Tilaar, Apa yang Bisa Dipelajari Generasi Baru Formulator Indonesia?

Bagi apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., Martha Tilaar bukan sekadar pelopor kecantikan Indonesia, melainkan sosok yang ikut membentuk perjalanan profesionalnya.Kepergian Martha Tilaar meninggalkan kehilangan besar bagi industri kecantikan Indonesia. Sosok yang dikenal melalui Sariayu dan berbagai inisiatif pengembangan kecantikan Nusantara itu mewariskan lebih dari sekadar merek dan produk. Perhatiannya terhadap bahan alam, penelitian, dan identitas budaya Indonesia turut menginspirasi generasi profesional kosmetik yang tumbuh setelahnya.Salah satunya adalah apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., formulator dan peneliti kosmetik yang juga terlibat dalam pendidikan Rekayasa Kosmetik Universitas Padjadjaran. Hubungannya dengan pemikiran Martha Tilaar bermula jauh sebelum ia menekuni penelitian dan pengembangan produk secara profesional. Pertemuan pertama mereka berlangsung pada 1997, ketika apt. Cahya masih menjadi mahasiswa tingkat tiga Fakultas Farmasi.Dalam tulisan refleksinya yang dipublikasikan di aptcahya.com pada 14 Oktober 2026, apt. Cahya mengenang bagaimana pertemuan tersebut memperluas cara pandangnya terhadap industri kosmetik. Ilmu farmasi yang dipelajarinya ternyata memiliki ruang penerapan yang jauh lebih luas daripada yang semula ia bayangkan. Pengembangan kosmetik membutuhkan pemahaman tentang bahan, formulasi, stabilitas, keamanan, dan teknologi.Pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan profesional yang kemudian membawanya ke berbagai kegiatan pengembangan kosmetik. Ketika memulai karier di Wardah pada 2000, apt. Cahya menyebut Sariayu sebagai salah satu tolok ukur yang diperhatikan dalam pengembangan produk. Baginya, keberhasilan Sariayu memperlihatkan bahwa produk kosmetik lokal dapat dibangun dengan identitas yang kuat sekaligus relevan bagi kebutuhan masyarakat.Baca Juga: Dari Patin, Teh Hijau, hingga Microbiome, Bagaimana Sains Mengubah Cara Kita Melihat Inovasi Beauty?Dari Pertemuan Pertama hingga Inspirasi bagi FormulatorBagi seorang formulator, keberhasilan kosmetik tidak cukup dinilai dari popularitas merek atau penampilan kemasannya. Di balik produk yang digunakan konsumen terdapat proses pemilihan bahan, penyusunan formula, pengujian stabilitas, hingga pengendalian mutu. Seluruh tahapan tersebut menentukan apakah suatu gagasan dapat diterjemahkan menjadi produk yang aman dan konsisten kualitasnya.Melalui pengalamannya, apt. Cahya melihat perjalanan Martha Tilaar sebagai contoh bagaimana ilmu pengetahuan dapat bertemu dengan kekayaan budaya dan kebutuhan pasar. Sariayu tidak hanya memperkenalkan produk kecantikan, tetapi juga membawa identitas Nusantara ke dalam pengembangan merek. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa inovasi kosmetik dapat memiliki karakter lokal tanpa mengabaikan kebutuhan pengembangan teknologi.Salah satu perhatian Martha Tilaar yang paling menginspirasi apt. Cahya adalah pengembangan bahan alam Indonesia. Melalui berbagai inisiatif, termasuk Martha Tilaar Innovation Centre dan kegiatan yang berkaitan dengan tanaman berkhasiat, kekayaan hayati Indonesia ditempatkan sebagai sumber potensi penelitian. Bagi apt. Cahya, pendekatan tersebut membuka pertanyaan penting mengenai bagaimana bahan alam dapat dikembangkan menjadi bahan kosmetik yang aman, bermutu, dan memiliki manfaat yang dapat dibuktikan.Pertanyaan itu semakin relevan ketika industri kecantikan berkembang dengan beragam klaim mengenai bahan alami. Keberadaan senyawa tertentu dalam tumbuhan belum otomatis menjadikan ekstraknya sebagai bahan aktif kosmetik yang siap digunakan. Peneliti masih perlu memahami karakteristik kimia, metode pengolahan, konsistensi bahan, keamanan, dan stabilitasnya.apt. Cahya sendiri menekuni penelitian bahan aktif berbasis sumber daya alam, termasuk isoflavon kedelai. Pengembangan bahan semacam ini membutuhkan proses karakterisasi, standardisasi, pengujian, serta penyesuaian terhadap kebutuhan formulasi. Hasil penelitian laboratorium yang menjanjikan juga belum tentu menghasilkan manfaat serupa ketika bahan tersebut digunakan dalam produk jadi.Dalam refleksinya, apt. Cahya menekankan bahwa pengembangan bahan aktif Indonesia tidak cukup dipahami sebagai upaya mengganti bahan impor dengan bahan lokal. Persoalan yang lebih mendasar adalah kemampuan menghasilkan dan menguasai pengetahuan mengenai bahan tersebut. Kemandirian industri membutuhkan kompetensi untuk meneliti, mengolah, menguji, dan menjaga kualitas bahan secara berkelanjutan.Baca Juga: Kalau Setiap Orang Punya Skin Microbiome yang Berbeda, Seperti Apa yang Disebut Sehat?Warisan yang Berlanjut melalui Penelitian Kosmetik IndonesiaPerjalanan apt. Cahya kembali bersinggungan dengan Martha Tilaar pada 2023. Keduanya bertemu dalam acara Apresiasi Inovasi Universitas Padjadjaran, ketika Martha hadir sebagai keynote speaker. Pada kesempatan yang sama, Cahya hadir mewakili Lunaray Beauty Factory dan Dian Indah Abadi yang menerima penghargaan Apresiasi Mitra Inovasi Terdepan.Pertemuan tersebut mempunyai makna tersendiri bagi apt. Cahya karena mempertemukan dua fase perjalanan profesionalnya. Pada 1997, ia merupakan mahasiswa yang mulai mengenal peluang penerapan ilmu farmasi dalam industri kosmetik. Dua puluh enam tahun kemudian, ia telah terlibat dalam formulasi, penelitian, pengembangan produk, dan kolaborasi antara perguruan tinggi dengan industri.Pengalaman tersebut juga memperkuat pandangannya mengenai pentingnya membangun ekosistem ilmu kosmetik Indonesia. Melalui keterlibatan dalam pendidikan Rekayasa Kosmetik Universitas Padjadjaran serta penelitian dan pengembangan bersama LABCOS Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, apt. Cahya melihat perlunya hubungan yang lebih erat antara peneliti dan pelaku industri. Hasil penelitian akademik sering membutuhkan proses lanjutan sebelum dapat diterapkan dalam produksi kosmetik.Sebagai contoh, bahan alam yang memperlihatkan aktivitas biologis dalam penelitian awal masih harus melalui sejumlah tahapan pengembangan. Karakterisasi, standardisasi, evaluasi keamanan, pengujian stabilitas, dan pengembangan formulasi perlu dilakukan sebelum suatu bahan dapat digunakan secara bertanggung jawab. Proses tersebut juga harus mempertimbangkan kemampuan manufaktur serta persyaratan regulasi yang berlaku.Pekerjaan itu membutuhkan kontribusi berbagai bidang keahlian. Peneliti mengembangkan pengetahuan ilmiah, formulator menerjemahkannya menjadi sistem produk, sementara industri memastikan mutu dapat dipertahankan dalam proses produksi. Regulator berperan menetapkan dan mengawasi persyaratan yang melindungi konsumen.Dalam pandangan apt. Cahya, perhatian Martha Tilaar terhadap penelitian, kekayaan alam, dan pengembangan industri merupakan inspirasi yang masih relevan bagi generasi berikutnya. Warisan seorang pelopor tidak hanya terlihat dari perusahaan yang dibangun atau produk yang berhasil dipasarkan. Pengaruhnya juga dapat bertahan melalui orang-orang yang kemudian mengembangkan pengetahuan dan kompetensi di bidang yang sama.Karena itu, mengenang Martha Tilaar juga berarti melihat pekerjaan yang masih perlu dilanjutkan oleh industri kosmetik Indonesia. Kekayaan hayati membutuhkan penelitian, inovasi memerlukan pembuktian ilmiah, dan pengembangan produk membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten. Bagi generasi baru formulator, warisan terpenting seorang pelopor bukan hanya apa yang telah berhasil diciptakannya, tetapi juga kemampuan dan keberanian untuk mengembangkan pengetahuan yang belum selesai dibangun. [][Tim Beautyversity/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Kalau Setiap Orang Punya Skin Microbiome yang Berbeda, Seperti Apa yang Disebut Sehat?
BeautyNews

04 Okt 2026

Kalau Setiap Orang Punya Skin Microbiome yang Berbeda, Seperti Apa yang Disebut Sehat?

Kita terbiasa mencari ukuran ideal untuk kesehatan. Namun, ketika membicarakan skin microbiome, sains justru menunjukkan bahwa ‘sehat’ tidak memiliki satu komposisi universal.Ada sesuatu yang menggoda dari gagasan tentang skin microbiome yang sehat. Jika teknologi sudah mampu mengenali mikroorganisme yang hidup pada kulit, rasanya hanya tinggal satu langkah lagi untuk menentukan bakteri mana yang harus banyak, mana yang harus sedikit, lalu merancang produk yang membawa semuanya menuju komposisi ideal.Masalahnya, kulit manusia tidak bekerja sesederhana itu. Dalam diskusi BeautéSpot di Cosmobeauté Indonesia 2026, Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si. menempatkan microbiome bukan sebagai kumpulan mikroorganisme yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari sistem yang terus berinteraksi dengan skin barrier, pH, sebum, hidrasi, respons imun, biologi tubuh, dan lingkungan. Cara pandang itu segera menimbulkan pertanyaan yang lebih sulit. Jika lingkungan kulit setiap orang berbeda, apakah masuk akal mencari satu komposisi microbiome yang dianggap paling sehat untuk semuanya? Bahkan sebelum membandingkan dua orang, penelitian menunjukkan bahwa komunitas mikroba pada hidung, ketiak, lengan, dan bagian kulit lain dalam tubuh yang sama pun dapat berbeda.Studi klasik Elizabeth Grice dan kolega yang dipublikasikan di Science pada 2009 menunjukkan bahwa lokasi anatomis sangat memengaruhi komunitas mikroba kulit. Area yang kaya sebum menyediakan kondisi berbeda dari area lembap maupun area yang lebih kering, sehingga mikroorganisme yang hidup di sana pun tidak identik. Artinya, satu sampel dari satu titik kulit tidak dapat begitu saja dianggap mewakili keseluruhan microbiome seseorang. Baca Juga: Skincare Terlalu Lama Berbicara tentang Bahan Aktif, Bagaimana Jika Kita Mulai dari Kulit?Bahkan Dua Kulit yang Sama-Sama Sehat Bisa BerbedaPersoalannya menjadi semakin menarik ketika perbandingan dilakukan antarorang. Studi Oh dan kolega di Nature pada 2014 menunjukkan adanya variasi yang besar dalam komunitas mikroba kulit antarindividu. Dua orang yang sama-sama sehat karena itu dapat memiliki profil mikroba yang tidak sama. Perbedaan tersebut dapat berkaitan dengan lokasi kulit, fisiologi, usia, lingkungan, gaya hidup, kebiasaan kebersihan, penggunaan kosmetik, hingga faktor tubuh pemiliknya. Temuan ini membuat istilah ‘normal skin microbiome’ perlu digunakan dengan hati-hati. Normal tidak berarti semua orang harus mempunyai daftar mikroorganisme dalam proporsi yang seragam.Hal yang sama berlaku untuk microbial diversity. Keragaman yang tinggi terkadang diasosiasikan dengan ekosistem yang lebih tangguh, tetapi bahan yang menjadi dasar artikel ini menegaskan bahwa diversity bukanlah skor kesehatan universal untuk kulit. Ada bagian kulit yang secara alami memiliki keragaman lebih rendah, dan maknanya baru bisa dipahami ketika lokasi, komposisi, fungsi, serta kondisi pemilik kulit ikut diperhitungkan. Contoh yang cukup menggugah datang dari Cutibacterium acnes. Namanya membuat mikroorganisme ini mudah diposisikan sebagai musuh karena begitu dekat dengan kata jerawat. Padahal, C. acnes merupakan penghuni umum kulit sehat. Penelitian Fitz-Gibbon dan kolega menunjukkan bahwa persoalannya tidak cukup dijelaskan dengan pertanyaan apakah bakteri tersebut ada atau tidak, karena populasi strain tertentu ditemukan berbeda pada individu dengan dan tanpa jerawat. Temuan itu tidak berarti satu strain dapat langsung dinobatkan sebagai penyebab jerawat. Hubungan atau asosiasi belum sama dengan sebab-akibat. Namun, contoh tersebut cukup untuk menunjukkan mengapa membagi dunia microbiome menjadi 'bakteri baik' dan 'bakteri jahat' dapat membuat ilmu yang sebenarnya kompleks terasa terlalu sederhana.Baca Juga: AI Kini Masuk ke Dunia Kosmetik: LABCOS AI dan Cara Baru Mempelajari Industri KecantikanPerubahan Microbiome Belum Tentu Berarti Kulit Menjadi Lebih BaikKerumitan berikutnya mulai terasa ketika ilmu tersebut bertemu produk kosmetik. Hampir semua produk yang digunakan pada kulit dapat berinteraksi dengan lingkungan tempat mikroorganisme hidup melalui proses pembersihan, perubahan pH, hidrasi, lipid, surfaktan, pengawet, bahan aktif, maupun efek oklusif. Namun, interaksi tidak otomatis berarti gangguan, sebagaimana perubahan juga tidak otomatis berarti manfaat. Bayangkan penelitian menemukan bahwa setelah menggunakan sebuah produk, kelimpahan relatif mikroorganisme tertentu meningkat 15 persen. Angka itu terdengar cukup menarik untuk dijadikan cerita pemasaran. Namun, informasi tersebut belum menjawab apakah perubahan bertahan, apakah fungsi skin barrier menjadi lebih baik, apakah hidrasi meningkat, atau apakah ada manfaat yang benar-benar dirasakan kulit.Dokumen yang menjadi dasar pembahasan ini menyebut perbedaannya secara sangat jelas: microbiome endpoint dan skin-benefit endpoint adalah dua hal berbeda. Perubahan komposisi mikroba harus dibaca bersama konsekuensi fungsional dan hasil yang dapat diukur pada kulit sebelum diterjemahkan menjadi manfaat. Di titik inilah perspektif apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. dalam diskusi BeautéSpot menjadi relevan terhadap pengembangan produk. Sistem pengawet, misalnya, tidak dapat begitu saja dituduh buruk bagi microbiome hanya karena memiliki aktivitas antimikroba. Produk kosmetik berbasis air justru membutuhkan pengendalian mikrobiologis yang memadai agar tidak berubah menjadi tempat tumbuh mikroorganisme yang membahayakan pengguna. Sebaliknya, keberadaan bahan yang memiliki data terkait microbiome juga belum otomatis membuat produk jadi layak disebut microbiome-friendly. Ketika bahan tersebut masuk ke dalam formula, konsentrasi, pH, bahan lain, sistem pengawet, proses produksi, stabilitas, kemasan, dan cara penggunaannya dapat mengubah konteks kerjanya. Karena itu, bukti pada bahan baku dan bukti pada produk jadi merupakan dua tingkat pembuktian yang berbeda. Sains saat ini sudah memberi beberapa pijakan yang cukup kuat. Kita mengetahui bahwa kulit memiliki ekosistem mikroba yang kompleks, lokasi tubuh sangat memengaruhi komposisinya, variasi antarindividu cukup besar, komunitas mikroba berinteraksi dengan barrier dan sistem imun, serta profil seseorang dapat relatif stabil sambil tetap mampu berubah. Namun, ruang yang belum diketahui juga masih luas. Belum ada satu komposisi healthy skin microbiome universal, perubahan mikroba belum selalu dapat dibedakan dengan jelas sebagai sebab atau akibat, belum semua perubahan memiliki makna klinis, dan belum ada satu definisi standar global mengenai produk microbiome-friendly. Dampak jangka panjang intervensi kosmetik juga masih membutuhkan lebih banyak data. Mungkin justru di sinilah kemajuan ilmu skin microbiome terasa paling menarik. Semakin banyak yang diketahui, semakin sulit kesehatan kulit direduksi menjadi satu skor, satu mikroorganisme, atau satu komposisi ideal. Sains belum memberikan formula sederhana untuk 'microbiome sempurna', tetapi memberi cara yang lebih baik untuk membaca setiap klaim yang mengatasnamakannya.Jadi, ketika sebuah produk mengatakan mampu memengaruhi skin microbiome, pertanyaan yang berguna bukan hanya apakah mikroorganismenya berubah. Kita juga perlu bertanya apa yang berubah, bagaimana perubahan itu diukur, apakah bertahan, dan apa artinya bagi kondisi kulit. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membedakan penggunaan ilmu microbiome dari sekadar penggunaan kata microbiome sebagai tren. [][Tim Beautyversity/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Minyak Ikan untuk Skincare: Apa Potensinya untuk Kulit dan Seberapa Kuat Evidence-nya?
BeautyNews

03 Okt 2026

Minyak Ikan untuk Skincare: Apa Potensinya untuk Kulit dan Seberapa Kuat Evidence-nya?

Minyak ikan mungkin lebih dikenal sebagai sumber nutrisi daripada sebagai bahan kosmetik. Namun dari perspektif cosmetic science, minyak ikan menarik karena mengandung berbagai fatty acids, termasuk omega-3 seperti EPA (eicosapentaenoic acid) dan DHA (docosahexaenoic acid), serta komponen lipid lain yang secara biologis relevan terhadap fungsi kulit.Pertanyaannya bukan sekadar apakah omega-3 'baik untuk kulit'. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah fish oil dapat diterjemahkan menjadi cosmetic ingredient yang stabil, aman, dapat diformulasikan, dan memiliki evidence yang relevan pada finished product?Pertanyaan ini menjadi pusat riset yang dikembangkan oleh Prof. Dr. Sugeng Heri Suseno, S.Pi., M.Si., Guru Besar di Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University, bersama Kamini, M.Si. dan tim. Dalam proyek terapan 2026 yang menjadi dasar artikel ini, tim meneliti pengembangan minyak ikan fungsional sebagai bahan bernilai tinggi untuk inovasi kosmetika modern. Ketika riset bergerak menuju cosmetic formulation dan hilirisasi, apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. membawa perspektif penerjemahan bahan aktif ke formulation dan product-development reality.Apa sebenarnya yang membuat minyak ikan menarik untuk kulit?Secara kimia, fish oil adalah campuran lipid. Komposisinya dapat mencakup saturated fatty acids (SFA), monounsaturated fatty acids (MUFA), polyunsaturated fatty acids (PUFA), serta omega-3 fatty acids seperti EPA dan DHA.EPA dan DHA banyak diteliti dalam nutritional dan biomedical science. Namun ada batas penting: evidence dari konsumsi omega-3 tidak boleh otomatis dianggap sebagai evidence penggunaan topikal pada skincare. Oral intake dan topical application mempunyai route, exposure, metabolism, concentration, dan biological environment yang berbeda.Apa peran lipid pada skin barrier?Bagian terluar epidermis, terutama stratum corneum, mempunyai struktur lipid yang penting untuk mempertahankan fungsi barrier dan mengurangi kehilangan air. Lipid berperan dalam organisasi barrier, mengurangi transepidermal water loss (TEWL), menjaga fleksibilitas permukaan kulit, dan memengaruhi respons biologis tertentu.Berbagai oils karena itu digunakan dalam skincare sebagai emollient, skin-conditioning agent, carrier, dan bagian dari lipid phase. Tetapi tidak semua oils identik; fatty-acid profile ikut menentukan sifat bahan.Lalu apa yang membuat omega-3 berbeda?Omega-3 polyunsaturated fatty acids mempunyai lebih dari satu double bond. EPA dan DHA adalah long-chain omega-3 fatty acids yang banyak dikaitkan dengan regulation of inflammatory pathways. Literature juga membahas interaksinya dengan pathways yang relevan terhadap oxidative stress dan UV-induced damage.Tetapi biological mechanism tidak berarti semua produk yang mengandung fish oil otomatis mempunyai anti-inflammatory atau anti-aging efficacy. Bentuk ingredient, concentration, formula, stability, dan jenis study tetap menentukan interpretasinya.Seberapa kuat evidence topical EPA dan DHA?Ada evidence yang mendukung biological relevance, tetapi belum cukup untuk digeneralisasi ke semua cosmetic fish oil products. Human topical evidence tersedia untuk konteks tertentu, sementara finished-product evidence harus dinilai per formula.Hierarchy-nya perlu dipisahkan: mechanistic evidence dapat mendukung plausibility; human topical evidence menunjukkan relevansi pada kondisi tertentu; tetapi finished-product claim tetap memerlukan pengujian formula akhirnya.Apakah fish oil dapat membantu skin barrier?Fatty acids memang relevan terhadap barrier physiology. Namun pernyataan 'fatty acids penting untuk barrier' berbeda dari 'fish oil tertentu terbukti memperbaiki barrier ketika digunakan secara topikal'. Fish oil adalah campuran kompleks dan komposisinya bergantung pada species, bagian tubuh ikan, diet, extraction, purification, storage, dan oxidation history.Karena itu efek satu purified fatty acid tidak boleh otomatis disamakan dengan efek seluruh fish oil.Mengapa sumber ikan sangat penting?Dalam penelitian 2026, tim membandingkan sumber patin, nila, tuna, dan makarel. Minyak ikan patin diperoleh melalui wet rendering, sedangkan minyak nila, tuna, dan makarel pada materi penelitian diperoleh melalui proses pemurnian. Masing-masing kemudian dianalisis untuk melihat quality parameters dan fatty-acid profile.Pertanyaan yang lebih tepat bukan 'apakah fish oil bagus?', melainkan 'fish oil yang mana, dengan karakteristik seperti apa?'Apakah minyak dengan omega-3 tertinggi otomatis paling baik untuk skincare?Tidak. Dalam fatty-acid profiling penelitian, total omega-3 yang dilaporkan adalah patin 8,17%, nila 1,85%, tuna 32,35%, dan makarel 39,06%. Jika keputusan hanya didasarkan pada omega-3 tertinggi, makarel tampak paling menarik.Tetapi tim juga mengevaluasi free fatty acid (FFA), peroxide value (PV), p-anisidine value (p-AnV), TOTOX, stability, dan karakteristik keseluruhan. Berdasarkan kombinasi faktor tersebut, minyak ikan patin dipilih untuk tahap penelitian selanjutnya. Ini menunjukkan bahwa ingredient quality tidak dapat dinilai hanya dari satu angka.Omega-3 concentration is only one part of cosmetic ingredient quality.Apa itu FFA, PV, p-AnV, dan TOTOX?FFA - Free Fatty Acids: Menunjukkan jumlah fatty acids yang sudah terlepas dari struktur tiglyceride. Nilai ini dapat meningkat akibat hydrolysis dan memberi informasi mengenai quality dan processing history suatu oil.PV - Peroxide Value: Menilai primary oxidation products, terutama hydroperoxides, sehingga sering digunakan sebagai salah satu indikator oxidation awal.p-AnV - p-Anisidine Value: Memberi informasi tentang secondary oxidation products, terutama aldehyde-related compounds yang muncul setelah peroxide compounds mengalami breakdown.TOTOX - Total Oxidation: Memberikan gambaran oxidation lebih menyeluruh dengan menggabungkan primary dan secondary oxidation. Secara konsep: TOTOX = 2 x PV + p-AnV.Mengapa oxidation menjadi isu besar untuk fish oil?Polyunsaturated fatty acids mempunyai banyak double bonds dan relatif susceptible terhadap oxidation. Oxidation dapat menyebabkan perubahan aroma, rancidity, perubahan warna, degradasi fatty acids, terbentuknya oxidation products, dan penurunan kualitas bahan.Cosmetic product harus melewati processing, formulation, filling, packaging, transportation, storage, dan shelf life. Jadi bahan yang menarik secara biologis juga harus cukup stabil untuk bertahan di dalam produk.Jadi apakah omega-3 justru menjadi kelemahan?Bukan. Omega-3 adalah bagian dari alasan fish oil menarik, tetapi sifat unsaturated yang memberi biological characteristics juga meningkatkan susceptibility terhadap oxidation. Ini menciptakan trade-off: biological interest tinggi, formulation challenge juga tinggi.Formulator karena itu perlu mempertimbangkan antioxidant system, oxygen exposure, temperature, light, packaging, processing conditions, dan interaction dengan ingredients lain.Apa yang ditemukan Prof. Sugeng dan Kamini dari penelitian patin sebelumnya?Riset minyak ikan patin tidak dimulai pada 2026. Kamini, Pipih Suptijah, Joko Santoso, dan Sugeng Heri Suseno sebelumnya meneliti dry rendering dan karakterisasi minyak ikan dari lemak jeroan hasil samping pengolahan salai patin siam. Studi menilai fatty-acid profile dan quality parameters seperti PV, FFA, anisidine value, dan TOTOX.Riset tersebut menunjukkan bahwa fish-processing by-product dapat dipandang sebagai potential raw material yang masih dapat dikarakterisasi dan dikembangkan. Tetapi bisa diekstraksi menjadi minyak belum sama dengan layak digunakan sebagai cosmetic ingredient.Dari fish oil menuju cosmetic ingredientAgar fish oil dapat dipertimbangkan untuk skincare, perjalanan bahan perlu dibaca sebagai rangkaian: source -> extraction/purification -> quality characterization -> fatty-acid profile -> oxidation status -> formulation compatibility -> stability -> safety -> relevant testing -> finished product.From fish resource to finished cosmetic product: a multidisciplinary translation pathway.Di sinilah formulation science mengambil alihSetelah bahan dipilih, tantangannya berubah. Bagi researcher, pertanyaannya mungkin: bagaimana kualitas minyaknya? Bagi formulator: bisakah minyak ini dimasukkan ke skincare tanpa kehilangan kualitas yang membuatnya menarik sejak awal?Pada tahap ini, perspektif apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menjadi relevan untuk cosmetic formulation dan hilirisasi. Fish oil harus hidup bersama emollients, surfactants, emulsifiers, antioxidants, preservatives, fragrance, rheology modifiers, dan packaging system. Karena itu concentration saja tidak cukup; homogeneity, aroma, pH, oxidation, stability, viscosity, sensory acceptance, dan finished-product testing juga perlu diperiksa.apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm.Apakah tim sudah membuat formulanya?Ya, tetapi status evidence-nya harus dibaca secara tepat. Materi penelitian 2026 menunjukkan pengembangan serum minyak ikan patin dan serum kolagen patin. Pada prototype serum oil, minyak ikan patin digunakan sebesar 5% bersama sistem formula lainnya.Karakterisasi awal menunjukkan kedua sediaan homogen dan berada dalam spesifikasi pH 6-7. Materi penelitian menyatakan hasil awal tersebut mendukung kelanjutan pengujian mutu dan stabilitas selama penyimpanan. Jadi ini adalah formulation feasibility awal, bukan clinical efficacy yang sudah terbukti.Apakah fish oil skincare berarti anti-inflammatory skincare?Belum tentu. EPA dan DHA mempunyai biological relationship dengan inflammatory pathways, tetapi omega-3 biology tidak sama dengan fish oil ingredient evidence, dan keduanya tidak sama dengan finished cosmetic product evidence. Claim harus mengikuti testing yang relevan dan regulatory boundary kosmetik.Bagaimana dengan klaim skin barrier?Logikanya sama. Fatty acids relevan terhadap lipid biology dan skin barrier, tetapi finished product perlu dibuktikan dengan endpoint yang sesuai, misalnya TEWL, skin hydration, barrier recovery, instrumental measurement, atau validated clinical assessment.Mengapa Indonesia mempunyai peluang menarik di sini?Konteks riset ini bukan hanya kosmetik, tetapi juga pemanfaatan sumber daya perairan domestik dan peningkatan nilai tambah hasil samping industri perikanan. Materi penelitian menempatkan fish oil sebagai peluang bahan baku kosmetik bernilai tambah dari sumber daya domestik.Ini mempertemukan fisheries science dengan cosmetic science: satu sisi memahami extraction dan characterization, sisi lain memahami formulation, stability, testing, manufacturing, dan product translation.Apa yang sudah cukup kita ketahui?Fish oil adalah sumber berbagai fatty acids, termasuk omega-3. Established, tetapi composition berbeda antar species dan processing method.EPA dan DHA mempunyai biological relevance terhadap skin science. Mechanistic + limited human topical evidence; tidak dapat digeneralisasi ke semua formulations.Oxidation adalah critical quality issue pada fish oil. Established; quality perlu dinilai dengan parameters yang relevan.Quality tidak ditentukan oleh omega-3 concentration saja. Didukung framework riset saat ini: fatty-acid profile perlu dibaca bersama FFA, PV, p-AnV, TOTOX, stability, dan formulation suitability.Minyak ikan patin telah diformulasikan dalam prototype skincare. Formulation-stage research; karakterisasi awal belum sama dengan proof of efficacy.Apa yang belum boleh disimpulkan terlalu cepat?Semua fish oil mempunyai quality yang sama; fish oil dengan omega-3 tertinggi selalu terbaik untuk skincare; nutritional benefit omega-3 otomatis berlaku pada topical skincare; EPA/DHA mechanism otomatis menjadi finished-product benefit; fish oil otomatis memperbaiki skin barrier; prototype yang stabil secara fisik otomatis efektif secara klinis; fish oil otomatis lebih baik daripada plant oils; atau satu species ikan cocok untuk semua cosmetic formulation.Jadi, apakah minyak ikan layak menjadi bahan skincare?Secara scientific, fish oil memang menarik sebagai sumber lipid dengan fatty-acid profile yang dapat mempunyai biological relevance terhadap kulit. Tetapi potensinya hanya menjadi meaningful ketika sumber, extraction, quality, oxidation, formulation, stability, dan finished-product evidence diperhatikan bersama.Riset Prof. Sugeng, Kamini, dan tim menunjukkan bahwa perjalanan menuju cosmetic ingredient dimulai jauh sebelum formula dibuat. Bahan harus terlebih dahulu dipahami. Ketika bahan masuk ke formulation, perspektif apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm membantu menjawab pertanyaan berikutnya: bisakah biological potential itu bertahan sampai menjadi produk yang benar-benar digunakan konsumen?Itulah garis pembeda antara sekadar menggunakan novel ingredient dan membangun science-based cosmetic innovation. [][Dipo Alaric/TBV] Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.References1. Prof. Dr. Sugeng Heri Suseno, S.Pi., M.Si. Academic Profile - Department of Aquatic Product Technology, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, IPB University. Source2. Kamini, Suptijah P, Santoso J, Suseno SH. Extraction by Dry Rendering Method and Characterization Fish Oil of Catfish Viscera Fat by Product of Smoked Fish Processing. Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia. 2016;19(3):196-205. DOI: 10.17844/jphpi.v19i3.15071. Source3. Suseno SH, Jacoeb AM, Yocinta HP, Kamini. Quality of Commercial Import Fish Oil (Softgel) in Central Java. Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia. 2018;21(3). Source4. Prof. Dr. Sugeng Heri Suseno, S.Pi., M.Si. et al. Pengembangan Diversifikasi Minyak Ikan Fungsional Kaya Omega 3 Sebagai Bahan Aktif Bernilai Tinggi pada Inovasi Produk Kosmetika Modern. Penelitian Terapan BIMA, 2026. 5. Frontiers in Pharmacology review on botanical oils, fatty-acid biology, and topical oil-skin interactions. Source 6. Frontiers in Nutrition review (2024) discussing krill oil, EPA, DHA, and skin health, including mechanistic and human topical evidence. Source

Mengapa Sistem Penghantaran Bisa Menentukan Kinerja Sebuah Bahan Aktif?
BahanAktif

30 Sep 2026

Mengapa Sistem Penghantaran Bisa Menentukan Kinerja Sebuah Bahan Aktif?

Bahan aktif boleh terdengar menjanjikan. Konsentrasinya pun bisa tinggi. Namun, manfaatnya tetap bergantung pada bagaimana formula membawa bahan tersebut ke tempat yang dituju.Ketika membaca produk kosmetik, perhatian konsumen biasanya langsung tertuju pada nama bahan aktif. Niacinamide, retinoid, peptida, antioksidan, atau berbagai ekstrak tumbuhan kerap menjadi alasan utama seseorang memilih produk. Persentasenya bahkan sering diperlakukan seperti angka yang dapat langsung menunjukkan seberapa kuat produk tersebut bekerja.Padahal, bahan aktif tidak bekerja sendirian. Ia berada di dalam suatu formula, harus tetap stabil selama penyimpanan, dilepaskan ketika produk digunakan, kemudian berinteraksi dengan permukaan atau lapisan kulit yang menjadi targetnya. Rangkaian perjalanan tersebut membuat pertanyaan ‘apa bahan aktifnya?’ belum cukup untuk memahami performa sebuah produk.Di sinilah sistem penghantaran atau delivery system menjadi penting. Dalam formulasi, sistem tersebut dapat dirancang untuk membantu membawa, melindungi, melepaskan, atau meningkatkan ketersediaan bahan aktif pada lokasi yang diinginkan. Bentuknya dapat berupa emulsi konvensional hingga teknologi seperti liposom, nanoemulsion, nanostructured lipid carrier [NLC], atau sistem enkapsulasi lainnya.Karena itu, dua formula yang mencantumkan bahan aktif serupa belum tentu memberikan performa identik. Perbedaannya dapat berasal dari konsentrasi, tetapi juga dari kelarutan, stabilitas, jenis pembawa, pelepasan bahan, hingga kemampuan formula mempertahankan kontak dengan kulit. Dalam formulasi kosmetik, ‘kendaraan’ dapat sama pentingnya dengan ‘penumpang’.Baca Juga: Mengapa Bahan Aktif yang Stabil di Dalam Botol Belum Tentu Stabil Setelah Dibuka?Bahan Aktif Harus Sampai dalam Kondisi yang Masih Bisa BekerjaKulit memiliki fungsi utama sebagai pelindung, bukan sebagai permukaan yang membiarkan semua zat masuk dengan mudah. Lapisan stratum corneum membatasi perpindahan berbagai molekul dari lingkungan menuju lapisan kulit yang lebih dalam. Sifat bahan seperti ukuran molekul, kelarutan, lipofilisitas, serta karakter formulanya kemudian menentukan bagaimana bahan tersebut berinteraksi dengan skin barrier.Prof. Dr. apt. Sriwidodo, M.Si. dari Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran memiliki bidang keahlian Rekayasa Kosmetik, Farmasetika, dan Biofarmasetika, dengan portofolio penelitian yang juga mencakup sistem penghantaran berbasis liposom, hidrogel, dan nanopartikel. Risetnya memperlihatkan prinsip penting bahwa pengembangan bahan aktif tidak berhenti pada pemilihan molekul, tetapi juga mencakup bagaimana bahan tersebut diformulasikan dan dihantarkan.Salah satu contoh yang mudah dipahami adalah NLC. Dalam riset Sriwidodo mengenai sistem NLC-hidrogel, pembawa lipid dijelaskan dapat membantu meningkatkan stabilitas bahan aktif lipofilik, meningkatkan penetrasi, serta memberikan pelepasan yang lebih terkontrol. Penelitian tersebut memang ditujukan untuk penghantaran obat pada luka diabetik, bukan kosmetik, tetapi prinsip farmasetika yang diperlihatkannya membantu menjelaskan mengapa teknologi pembawa menjadi bidang penting dalam pengembangan sediaan topikal.Liposom bekerja dengan pendekatan yang berbeda. Struktur vesikelnya memungkinkan bahan tertentu ditempatkan di dalam atau berasosiasi dengan sistem pembawa, sehingga karakter bahan aktif dapat dikelola melalui formulasi. Portofolio riset Sriwidodo, misalnya, mencatat pengembangan hidrogel kitosan-liposom dan film-forming system dengan bahan aktif tersalut liposom, menunjukkan bagaimana sistem penghantaran dapat dirancang bersama bentuk sediaannya.Baca Juga: Mengapa Bentuk Turunan dari Bahan Aktif Bisa Sama Pentingnya dengan Nama Bahannya?Teknologi Penghantaran Bukan Sekadar Kata Canggih pada KemasanApt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., tenaga ahli PT Lunaray Cahaya Abadi dan dosen tamu/eksternal Prodi Rekayasa Kosmetik Fakultas Farmasi Unpad, juga pernah terlibat dalam kajian ilmiah mengenai efektivitas bahan aktif dalam sediaan kosmetik. Kajian yang ditulis bersama peneliti Unpad menekankan bahwa bahan aktif perlu diformulasikan menjadi bentuk sediaan agar mudah digunakan sekaligus mencapai efek yang diharapkan, dan efektivitas tersebut tetap membutuhkan pembuktian melalui pengujian yang komprehensif.Perspektif tersebut penting karena istilah seperti ‘liposom’, ‘enkapsulasi’, atau ‘nano’ mudah berubah menjadi bahasa pemasaran. Keberadaan teknologi penghantaran saja belum membuktikan bahwa sebuah produk otomatis lebih efektif. Formulator tetap perlu mempertimbangkan karakter bahan aktif, ukuran dan kestabilan sistem, kompatibilitas dengan bahan lain, bentuk sediaan, target penggunaan, serta bukti pengujiannya.Sistem penghantaran juga tidak selalu bertujuan membawa bahan sejauh mungkin ke dalam kulit. Untuk bahan tertentu, target kerjanya justru berada pada permukaan atau lapisan kulit yang relatif luar. Desain formulasi yang baik karena itu bukan perlombaan untuk mendapatkan penetrasi terdalam, melainkan usaha menempatkan bahan pada lokasi yang sesuai dengan tujuan penggunaannya.Ada pula persoalan waktu. Sebagian sistem dirancang untuk membantu mengontrol pelepasan bahan sehingga tidak seluruhnya tersedia sekaligus. Penelitian Unpad mengenai film-forming system berbasis kitosan, misalnya, menjelaskan bahwa terbentuknya film tipis pada kulit dapat memperpanjang kontak dan mengontrol pelepasan bahan. Sekali lagi, konteks riset tersebut adalah penghantaran obat, tetapi konsepnya menunjukkan bagaimana bentuk sediaan dapat memengaruhi perilaku bahan setelah diaplikasikan.Cara berpikir ini membuat angka konsentrasi perlu dibaca dengan lebih hati-hati. Formula dengan persentase bahan aktif lebih tinggi tidak otomatis lebih unggul apabila bahannya mudah terdegradasi, sulit larut, tidak tersedia dengan baik pada target, atau justru menimbulkan masalah tolerabilitas. Sebaliknya, formulasi yang dirancang dengan sistem penghantaran tepat dapat berusaha mengoptimalkan bahan tanpa semata-mata mengejar angka terbesar.Konsumen tentu tidak perlu memahami seluruh teknologi farmasetika sebelum membeli serum. Namun, pengetahuan mengenai delivery system membantu mengubah pertanyaan yang diajukan: bukan lagi hanya “berapa persen bahan aktifnya?”, melainkan bagaimana bahan itu diformulasikan, seberapa stabil formulanya, apakah teknologi yang diklaim memiliki bukti, dan apakah produk telah diuji sesuai manfaat yang dijanjikan.Nama bahan aktif memang penting, tetapi nama itu baru memberi tahu apa yang dimasukkan ke dalam formula. Kinerja produk ditentukan oleh sistem yang jauh lebih besar: bagaimana bahan dipertahankan, dibawa, dilepaskan, dan dibuat tersedia pada target yang tepat. Karena dalam formulasi kosmetik, memiliki bahan aktif yang bagus hanyalah awal—membuatnya bekerja dengan tepat merupakan persoalan yang berbeda. [][Adrian Damar/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Mengapa Bedak Bisa Membuat Makeup Lebih Halus tetapi Juga Terlihat Cakey?
Decorative

28 Sep 2026

Mengapa Bedak Bisa Membuat Makeup Lebih Halus tetapi Juga Terlihat Cakey?

Bedak dapat membuat riasan tampak halus dan lebih tahan lama. Namun, lapisan yang sama juga bisa berubah menjadi tebal, pecah, dan terlihat cakey.Bedak memiliki peran yang nyaris tidak tergantikan dalam banyak rutinitas makeup. Setelah foundation dan concealer diaplikasikan, lapisan tipis bedak dapat mengurangi kilap, membuat permukaan kulit tampak lebih rata, dan membantu riasan terasa lebih stabil. Pada kulit berminyak, kemampuannya menyerap sebagian minyak juga membuat hasil akhir terasa lebih nyaman.Namun, produk yang sama dapat memberikan hasil yang sangat berbeda. Bedak yang semula membuat kulit terlihat halus dapat berkumpul di sekitar hidung, garis senyum, atau bawah mata beberapa jam kemudian. Tekstur kulit menjadi semakin terlihat dan riasan tampak seperti lapisan yang berdiri sendiri di atas wajah.Fenomena tersebut sering disebut cakey makeup. Masalahnya tidak selalu berasal dari satu produk yang buruk, tetapi dari terlalu banyak lapisan, kondisi kulit, karakter bedak, foundation di bawahnya, serta jumlah sebum yang muncul selama pemakaian. Karena itu, menambahkan lebih banyak bedak untuk memperbaiki riasan yang mulai berubah tidak selalu menyelesaikan masalah.Yang sebenarnya terjadi cukup menarik: bedak memang dirancang untuk menyerap minyak dan memperbaiki tampilan permukaan, tetapi kemampuan tersebut memiliki batas. Ketika jumlah bedak terlalu banyak atau kulit di bawahnya tidak berada dalam kondisi yang sesuai, manfaat yang sama dapat berubah menjadi penyebab tampilan berat.Baca Juga: Benarkah Semua Produk Makeup Memiliki Masa Pakai yang Sama Setelah Dibuka?Partikel Bedak Membantu Menghaluskan, tetapi Bisa MenumpukBedak wajah umumnya memanfaatkan kombinasi partikel yang membantu memberikan efek matte, menyerap minyak, menambah daya tutup, atau menciptakan rasa lebih halus pada kulit. Dermatolog sekaligus peneliti kosmetik Dr. Zoe Diana Draelos menjelaskan bahwa facial powder dapat memberikan kontrol minyak, hasil akhir matte, serta rasa halus pada permukaan kulit. Ia juga mencatat bahwa bedak dapat membantu meningkatkan ketahanan foundation, terutama ketika sebum mulai muncul. Efek tersebut menjelaskan mengapa riasan sering tampak lebih rapi beberapa menit setelah bedak diaplikasikan. Partikel membantu mengurangi pantulan minyak dan mengubah cara cahaya mengenai permukaan wajah. Namun, terlalu banyak produk dapat menghasilkan tampilan seperti tepung atau floured appearance, terutama ketika lapisannya tidak benar-benar menyatu dengan foundation. Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., yang menjadi dosen tamu Prodi Rekayasa Kosmetik Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, memiliki latar belakang industri dan pengembangan produk kosmetik. Dalam konteks formulasi dekoratif, kondisi ini memperlihatkan mengapa performa bedak tidak dapat dinilai hanya dari seberapa halus partikelnya. Komposisi formula, kemampuan menyerap minyak, karakter lapisan di bawahnya, serta cara produk diaplikasikan ikut menentukan hasil akhir. Kulit kering memberikan tantangan yang berbeda. Draelos mencatat bahwa produk berbentuk bedak yang menyerap minyak dapat membuat kulit kering tampak semakin kering, sehingga penggunaan bedak perlu disesuaikan dengan karakter kulit. Lapisan bedak yang terlalu tebal pada area dehidrasi juga lebih mudah menonjolkan sisik dan tekstur yang sebelumnya tidak terlalu terlihat. Baca Juga: Mengapa Makeup Bisa Terlihat Bagus di Pagi Hari tetapi Berubah Menjelang Siang?Cakey Sering Berawal dari Lapisan yang Tidak Saling MenyatuPersiapan kulit sebelum makeup memiliki peran besar. Pelembap yang belum cukup menyatu, terlalu banyak lapisan skincare, atau permukaan kulit yang sangat kering dapat membuat foundation tidak membentuk lapisan yang stabil. Ketika bedak ditambahkan di atasnya, setiap ketidakteraturan di bawah permukaan menjadi lebih mudah terlihat.Sebum juga mengubah kondisi riasan sepanjang hari. Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Cosmetic Science pada 2024 menunjukkan bahwa sebum dapat memengaruhi penggelapan liquid foundation, dan karakter pigmen serta serbuk dalam formula menentukan seberapa besar perubahan tersebut terjadi. Temuan ini memperlihatkan bahwa riasan tidak berada pada permukaan yang statis; minyak kulit terus berinteraksi dengan formula selama pemakaian. Ketika minyak mulai menembus lapisan bedak, sebagian orang langsung menambahkan bedak baru. Cara tersebut dapat berhasil jika jumlahnya sedikit, tetapi pengulangan berkali-kali dapat menciptakan lapisan yang semakin tebal. Bedak kemudian bercampur dengan sebum, foundation, dan keringat hingga menghasilkan permukaan yang tampak menggumpal.Area bawah mata dan garis ekspresi juga mudah memperlihatkan efek tersebut. Kulit di area ini bergerak terus saat seseorang berbicara, tersenyum, atau berkedip. Ketika lapisan produk terlalu tebal, material kosmetik lebih mudah berkumpul di lipatan dan membuat hasil akhir yang semula halus menjadi semakin terlihat.Teknik aplikasi karena itu sama pentingnya dengan produknya. Menggunakan bedak tipis pada area yang membutuhkan, lalu menambah seperlunya, biasanya memberi ruang lebih besar bagi formula untuk menyatu. Pada kulit yang sudah kering, menambahkan lapisan tebal hanya demi membuat makeup lebih awet justru dapat menghasilkan efek sebaliknya.Bedak memang mampu memperbaiki tampilan riasan, tetapi manfaatnya muncul ketika jumlah, formula, dan kondisi kulit berada dalam keseimbangan. Tujuannya bukan membuat seluruh wajah kehilangan kilap sepenuhnya, melainkan membantu makeup bertahan sambil tetap mengikuti tekstur alami kulit. Ketika riasan mulai terlihat cakey, solusi terbaik sering bukan menambahkan lebih banyak bedak, tetapi memahami lapisan mana yang sebenarnya sudah terlalu banyak. [][Eva Evilia/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Mengapa Rambut Terlihat Lebih Mengembang pada Hari yang Lembap?
HairCare

26 Sep 2026

Mengapa Rambut Terlihat Lebih Mengembang pada Hari yang Lembap?

Rambut sudah ditata rapi sebelum keluar rumah. Udara kemudian terasa lembap dan rambut mulai mengembang. Ternyata, air di udara ikut mengubah perilaku batang rambut.Ada hari ketika rambut seolah memiliki rencana sendiri. Setelah dikeringkan dan ditata dengan rapi, beberapa helai perlahan keluar dari susunannya, tekstur menjadi lebih mengembang, dan rambut yang semula lurus atau terdefinisi mulai berubah bentuk. Kondisi seperti ini biasanya semakin terasa ketika udara sedang lembap atau setelah hujan.Fenomena tersebut sering disebut frizz. Penyebabnya bukan sekadar rambut ‘sulit diatur’, melainkan interaksi antara batang rambut dengan air yang berada di lingkungan. Rambut bersifat higroskopis, sehingga dapat berinteraksi dengan kelembapan di udara dan mengalami perubahan fisik.Namun, tidak semua rambut memberikan respons yang sama terhadap kelembapan. Kondisi kutikula, tingkat porositas, bentuk alami rambut, proses kimia, penggunaan panas, dan kerusakan yang sudah terjadi dapat menentukan seberapa mudah air masuk ke batang rambut. Rambut yang tampak tenang pada satu orang karena itu dapat berubah jauh lebih dramatis pada orang lain dalam kondisi cuaca yang sama.Memahami proses tersebut membuat frizz terlihat berbeda. Rambut mengembang bukan selalu pertanda bahwa produk yang digunakan gagal, tetapi dapat menjadi respons material rambut terhadap lingkungan tempat seseorang berada.Baca Juga: Kenapa Ujung Rambut Bisa Sangat Kering sementara Kulit Kepala Berminyak?Ketika Air di Udara Bertemu Keratin RambutSebagian besar batang rambut tersusun atas protein keratin. Di dalam struktur tersebut terdapat berbagai ikatan yang ikut mempertahankan bentuk rambut. Salah satunya adalah ikatan hidrogen yang relatif mudah berubah ketika rambut berinteraksi dengan air.Prof. Irina Makarevitch, ahli kimia dari Hamline University, menjelaskan bahwa kelembapan membuat lebih banyak molekul air tersedia di udara untuk berinteraksi dengan keratin. Interaksi tersebut memengaruhi ikatan hidrogen pada rambut sehingga helai dapat membengkok atau kembali mendekati pola alaminya. Inilah salah satu alasan rambut yang telah ditata dapat mulai berubah bentuk ketika berada di lingkungan yang lembap.Kutikula kemudian menjadi bagian penting dari cerita ini. Lapisan terluar batang rambut tersusun seperti sisik yang saling bertumpuk. Ketika permukaannya lebih terangkat atau tidak rata akibat kekeringan, gesekan, panas, atau proses kimia, kelembapan dapat lebih mudah berinteraksi dengan bagian dalam batang rambut dan membuat helai membengkak secara tidak merata.Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Perception juga menunjukkan bahwa perubahan kelembapan dapat memengaruhi persepsi terhadap frizz dan gesekan rambut. Efeknya bahkan dapat terasa berbeda antara rambut lurus dan keriting. Artinya, hubungan rambut dengan kelembapan bukan sekadar persoalan visual, tetapi juga berkaitan dengan perubahan sifat permukaan rambut.Baca Juga: Apakah Sering Mengikat Rambut Bisa Membuat Rambut Lebih Mudah Rontok?Mengendalikan Frizz Bukan Berarti Melawan Tekstur AlamiRambut yang telah mengalami bleaching, pewarnaan, pelurusan kimia, atau paparan panas berulang biasanya memiliki permukaan yang lebih rentan mengalami perubahan. Ketika kutikula semakin tidak teratur, rambut cenderung lebih mudah berinteraksi dengan air dari lingkungan. Itulah sebabnya dua orang yang berada pada tingkat kelembapan sama dapat mengalami tingkat frizz yang sangat berbeda.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., praktisi industri kosmetik yang juga menjadi dosen tamu Prodi Rekayasa Kosmetik Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, memiliki pengalaman dalam bidang Research and Development dan Product Development. Dalam konteks formulasi perawatan rambut, kondisi batang rambut dan target produk menjadi penting karena produk tidak sekadar ditujukan untuk memberikan sensasi lembut, tetapi perlu membantu mengelola permukaan rambut dan mengurangi gesekan sesuai kebutuhan penggunanya.Di sinilah conditioner memiliki peran yang lebih masuk akal daripada sekadar dianggap sebagai ‘pelembap rambut’. Formula kondisioner dapat membantu membuat permukaan rambut terasa lebih halus, mengurangi gesekan, dan meningkatkan kemudahan rambut untuk diatur. Namun, kondisioner tidak dapat mengembalikan batang rambut yang sudah rusak menjadi seperti rambut baru.Kebiasaan sehari-hari juga menentukan seberapa mudah rambut mengembang. Menggosok rambut kuat-kuat dengan handuk, menyisir secara agresif, menggunakan alat panas tanpa perlindungan, atau terlalu sering melakukan proses kimia dapat memperbesar kerusakan pada kutikula. Mengurangi sumber kerusakan tersebut dapat membantu rambut menghadapi perubahan kelembapan dengan kondisi permukaan yang lebih baik.Rambut keriting dan bergelombang pun tidak seharusnya dinilai menggunakan standar bahwa rambut yang sehat harus selalu jatuh lurus dan bebas frizz. Bentuk alami batang rambut memengaruhi distribusi minyak dari kulit kepala dan cara setiap helai berinteraksi dengan lingkungan. Sedikit rambut mengembang pada cuaca lembap dapat menjadi karakter alami rambut, bukan sesuatu yang harus selalu ‘diperbaiki’.Jika perubahan tekstur terjadi mendadak dan disertai kerontokan berat, rambut patah berlebihan, gatal, kemerahan, atau masalah pada kulit kepala, persoalannya tidak sebaiknya langsung dianggap sebagai efek kelembapan. Kondisi semacam itu dapat membutuhkan evaluasi dokter kulit untuk melihat kemungkinan penyebab lain. Frizz yang hanya muncul saat udara lembap, sebaliknya, umumnya lebih berkaitan dengan karakter batang rambut dan lingkungan.Cuaca memang tidak dapat diatur agar selalu bersahabat dengan rambut. Namun, memahami mengapa rambut berubah membuat tujuan perawatan menjadi lebih realistis: menjaga kutikula, mengurangi kerusakan, dan membantu rambut lebih mudah diatur, bukan memaksanya tidak pernah bereaksi terhadap lingkungan. Ketika rambut sedikit mengembang setelah udara menjadi lembap, mungkin ia bukan sedang ‘bandel’—ia hanya melakukan apa yang secara kimia memang dapat dilakukan oleh keratin ketika bertemu lebih banyak air. [][Vikalena Lasmoskwa/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Mengapa Wajah Terasa Lebih Sensitif pada Hari-Hari Tertentu?
SkinCare

23 Sep 2026

Mengapa Wajah Terasa Lebih Sensitif pada Hari-Hari Tertentu?

Kemarin produk terasa nyaman. Hari ini, produk yang sama justru menyengat. Kulit memang dapat menjadi lebih reaktif pada waktu tertentu tanpa benar-benar berganti jenis.Pernah ada hari ketika rutinitas skincare yang biasanya nyaman tiba-tiba terasa berbeda. Pembersih membuat wajah sedikit tertarik, serum menimbulkan sensasi menyengat, atau pelembap yang sudah digunakan berbulan-bulan mendadak terasa kurang nyaman. Reaksi seperti ini sering membuat produk langsung menjadi tersangka utama.Padahal, toleransi kulit bukan sesuatu yang selalu berada pada tingkat yang sama. Kondisi lapisan pelindung kulit, lingkungan, perubahan hormonal, paparan bahan aktif, hingga kebiasaan sehari-hari dapat memengaruhi bagaimana kulit merespons sebuah formula. Produk yang sama karena itu bisa memberikan pengalaman berbeda pada waktu yang berbeda.Hal ini juga menjelaskan mengapa kulit sensitif dan kulit yang sedang mengalami sensitivitas tidak selalu berarti hal yang sama. Seseorang dapat memiliki kulit yang secara umum toleran, tetapi mengalami periode ketika kulitnya lebih reaktif. Sebaliknya, pemilik kulit sensitif memang dapat memiliki kecenderungan lebih besar mengalami rasa menyengat, gatal, panas, atau kemerahan terhadap pemicu tertentu.Karena itu, respons kulit sebaiknya dibaca bersama konteksnya. Sebelum menyimpulkan bahwa produk tiba-tiba tidak cocok, ada baiknya melihat apa yang terjadi pada kulit dalam beberapa hari terakhir.Baca Juga: Mengapa Kulit Bisa Terasa Kering tetapi Tetap Berminyak?Ketika Skin Barrier Sedang Tidak dalam Kondisi TerbaikLapisan terluar kulit atau stratum corneum memiliki peran penting dalam mempertahankan air sekaligus membatasi masuknya berbagai zat dari lingkungan. Lipid di antara sel-sel pada lapisan ini membantu membentuk skin barrier yang efektif. Ketika fungsinya terganggu, kulit dapat kehilangan air lebih mudah dan menjadi lebih reaktif terhadap paparan yang sebelumnya dapat ditoleransi.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., menjelaskan bahwa respons terhadap kosmetik tidak hanya dipengaruhi komposisi produk, tetapi juga kondisi kulit saat produk tersebut digunakan. Formula yang biasanya dapat ditoleransi bisa terasa berbeda ketika fungsi pelindung kulit sedang terganggu. Inilah alasan evaluasi terhadap reaksi kosmetik sebaiknya tidak dilepaskan dari kondisi kulit penggunanya.Rutinitas yang terlalu agresif dapat menjadi salah satu pemicunya. Penggunaan eksfolian terlalu sering, menggabungkan beberapa bahan aktif dengan potensi iritasi, mencuci wajah berlebihan, atau terus mencoba produk baru dapat meningkatkan beban pada kulit. Pada kondisi seperti ini, menambahkan produk lain untuk ‘memperbaiki’ setiap gejala justru berpotensi membuat penyebabnya semakin sulit dikenali.American Academy of Dermatology juga menyarankan pendekatan perawatan yang lembut ketika kulit mengalami iritasi. Mengurangi paparan produk yang berpotensi mengiritasi dan menggunakan pelembap dapat membantu menjaga lapisan pelindung kulit. Kulit yang sedang reaktif tidak selalu membutuhkan lebih banyak bahan aktif, tetapi terkadang membutuhkan rutinitas yang lebih sederhana.Baca Juga: Perlukah Mengganti Rutinitas Skincare Saat Memasuki Usia 30-an?Kulit Juga Bereaksi terhadap Apa yang Terjadi di SekitarnyaLingkungan dapat membuat toleransi kulit berubah tanpa banyak disadari. Paparan sinar matahari, udara sangat panas, ruangan berpendingin udara, kelembapan rendah, atau perubahan cuaca dapat memengaruhi hidrasi dan kenyamanan kulit. Bahkan perjalanan ke tempat dengan kondisi lingkungan berbeda dapat membuat rutinitas yang biasanya terasa normal membutuhkan penyesuaian.Perubahan hormonal juga dapat ikut memengaruhi kondisi kulit. Siklus menstruasi, kehamilan, menopause, maupun perubahan hormon lainnya dapat berhubungan dengan perubahan produksi sebum, jerawat, dan reaktivitas kulit pada sebagian orang. Namun, respons ini sangat individual sehingga tidak tepat membuat aturan bahwa kulit pasti menjadi sensitif pada hari tertentu setiap bulan.Kebiasaan yang tampaknya tidak berkaitan dengan skincare pun dapat memberi kontribusi. Kurang tidur, stres, aktivitas di luar ruangan, atau gesekan berulang dari masker dan kebiasaan menyentuh wajah dapat membuat kulit menghadapi kondisi berbeda dari hari biasanya. Satu faktor mungkin tidak langsung menyebabkan masalah, tetapi beberapa faktor yang muncul bersamaan dapat membuat ambang toleransi kulit menurun.Ketika wajah mendadak lebih sensitif, menambah banyak produk sekaligus bukan langkah pertama yang paling mudah dievaluasi. Rutinitas dapat disederhanakan sementara dengan pembersih yang lembut, pelembap yang sesuai, dan perlindungan terhadap sinar matahari. Bahan aktif yang biasanya memberikan sensasi kuat juga dapat dievaluasi frekuensinya sampai kulit kembali terasa nyaman.Penting pula membedakan sensitivitas sementara dengan reaksi yang membutuhkan perhatian lebih serius. Rasa terbakar yang kuat, pembengkakan, ruam yang menyebar, gatal berat, atau keluhan yang terus memburuk tidak sebaiknya dianggap sebagai fase kulit yang akan berlalu sendiri. Pemeriksaan dokter kulit dapat membantu menentukan apakah terdapat dermatitis, alergi, atau kondisi lain yang membutuhkan penanganan.Wajah yang terasa lebih sensitif pada hari tertentu bukan berarti jenis kulit tiba-tiba berubah. Kulit terus berinteraksi dengan lingkungan, rutinitas, hormon, dan kondisi tubuh sehingga toleransinya dapat naik dan turun. Kadang, respons terbaik terhadap hari ketika kulit terasa lebih ‘rewel’ bukan mencari produk baru, melainkan mengurangi gangguan dan memberi kesempatan bagi kulit untuk kembali ke kondisi yang nyaman. [][Eva Evilia/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Benarkah Semua Produk Makeup Memiliki Masa Pakai yang Sama Setelah Dibuka?
Decorative

21 Agt 2026

Benarkah Semua Produk Makeup Memiliki Masa Pakai yang Sama Setelah Dibuka?

Lipstik masih terlihat bagus. Maskara juga belum habis. Namun, apakah produk makeup tetap layak digunakan selama belum mencapai tanggal kedaluwarsa?Ada beberapa produk makeup yang seolah tidak pernah benar-benar habis. Palet eyeshadow dapat bertahan bertahun-tahun, lipstik favorit hanya berkurang sedikit demi sedikit, sementara foundation terkadang masih tersisa jauh setelah produk baru mulai menggantikannya. Selama warna, aroma, dan teksturnya terlihat normal, produk tersebut sering tetap digunakan.Kebiasaan ini cukup mudah dipahami karena kosmetik tidak selalu menunjukkan perubahan yang kasatmata ketika kualitasnya mulai menurun. Berbeda dengan makanan yang dapat berubah warna atau mengeluarkan aroma menyengat, beberapa produk makeup mungkin masih terlihat baik meskipun sudah lama dibuka. Padahal, setiap kali kemasan dibuka dan produk digunakan, kondisinya mulai dipengaruhi udara, kelembapan, tangan, kuas, maupun aplikator.Ada pula kebingungan antara tanggal kedaluwarsa dan masa penggunaan setelah kemasan dibuka. Keduanya tidak selalu menjelaskan hal yang sama. Produk yang belum dibuka dapat memiliki umur simpan tertentu, sementara setelah digunakan pertama kali, kondisi penyimpanan dan pola pemakaian mulai menjadi bagian penting dalam mempertahankan kualitasnya.Karena karakter setiap kosmetik berbeda, masa penggunaan makeup juga tidak dapat disamaratakan. Produk berbasis air, produk berbentuk bubuk, dan kosmetik yang digunakan sangat dekat dengan mata memiliki risiko dan karakter stabilitas yang berbeda.Baca Juga: Mengapa Warna Foundation yang Cocok di Toko Bisa Berbeda Saat Dipakai di Luar Ruangan?Kenali Simbol PAO, Bukan Hanya Tanggal KedaluwarsaPada sebagian kemasan kosmetik terdapat gambar menyerupai wadah kecil yang terbuka dengan tulisan seperti 6M, 12M, atau 24M. Simbol tersebut dikenal sebagai Period After Opening atau PAO. Angka menunjukkan periode penggunaan yang direkomendasikan setelah produk pertama kali dibuka, misalnya 12M berarti 12 bulan.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menyebut masa pakai kosmetik dipengaruhi oleh karakter formula, jenis kemasan, sistem pengawet, serta kemungkinan produk mengalami kontak dengan lingkungan selama digunakan. Produk dalam kemasan pump, misalnya, dapat menghadapi pola paparan yang berbeda dibanding produk dalam wadah terbuka yang berkali-kali disentuh menggunakan jari. Karena itu, masa penggunaan tidak tepat bila hanya ditentukan berdasarkan kategori kosmetiknya.Produk mata memerlukan perhatian khusus. Maskara menggunakan aplikator yang keluar-masuk kemasan dan digunakan sangat dekat dengan mata, sehingga kebersihan selama pemakaian menjadi penting. U.S. Food and Drug Administration [FDA] bahkan menyebut maskara sebagai salah satu kosmetik dengan masa penggunaan yang relatif singkat dan menyarankan membuangnya setelah sekitar tiga bulan sejak pembelian untuk mengurangi risiko kontaminasi.Powder blush, bedak, atau eyeshadow berbentuk bubuk dapat memiliki karakter berbeda karena kandungan air bebasnya cenderung lebih rendah dibanding produk cair. Namun, bukan berarti produk tersebut dapat digunakan tanpa batas. Kuas yang kotor, penyimpanan di tempat lembap, perubahan tekstur, atau kontaminasi selama penggunaan tetap dapat memengaruhi kondisinya.Baca Juga: Warna Makeup yang Sedang Viral dan Pengaruhnya pada Ekspresi DiriCara Menggunakan Produk Ikut Menentukan KeamanannyaMasa pakai bukan hanya persoalan menghitung bulan sejak kemasan dibuka. Cara memperlakukan produk selama periode tersebut juga sangat menentukan. Menyimpan kosmetik di tempat panas dan lembap, membiarkan kemasan terbuka terlalu lama, atau menggunakan aplikator yang jarang dibersihkan dapat memperbesar peluang terjadinya perubahan pada formula.Kebiasaan berbagi makeup juga layak diperhatikan, terutama untuk produk yang bersentuhan langsung dengan bibir dan mata. FDA mengingatkan bahwa berbagi kosmetik dapat meningkatkan risiko perpindahan mikroorganisme antarpengguna. Tester kosmetik di toko pun idealnya digunakan melalui prosedur higienis dan aplikator sekali pakai, bukan diaplikasikan langsung dari kemasan bersama.Perubahan aroma, warna, tekstur, pemisahan formula yang tidak normal, atau munculnya sensasi berbeda ketika digunakan dapat menjadi alasan untuk menghentikan pemakaian meskipun periode PAO belum berakhir. Produk yang menyebabkan rasa terbakar, gatal, kemerahan, atau iritasi juga tidak perlu dipertahankan hanya karena harganya mahal atau isinya masih banyak.Hal sederhana lain yang dapat membantu adalah mencatat kapan produk pertama kali dibuka. Tanggal kecil pada bagian bawah kemasan atau catatan digital membuat masa penggunaan lebih mudah dipantau, terutama bagi orang yang memiliki banyak kosmetik. Tanpa catatan semacam itu, satu tahun dapat berlalu sementara sebuah produk terasa seperti baru dibeli “beberapa bulan lalu”.Membeli makeup dalam jumlah yang benar-benar dapat digunakan juga menjadi bagian dari kebiasaan yang lebih sehat. Palet dengan puluhan warna mungkin menyenangkan, tetapi produk yang terus menumpuk membuat masa pakainya semakin sulit dipantau. Memiliki lebih sedikit produk yang digunakan secara teratur terkadang justru memudahkan kebersihan dan pengelolaan kosmetik.Jadi, semua produk makeup tidak memiliki masa pakai yang sama setelah dibuka. Formula, kemasan, area penggunaan, penyimpanan, dan kebiasaan pengguna ikut menentukan berapa lama produk layak dipertahankan. Menghabiskan kosmetik memang terasa memuaskan, tetapi mengetahui kapan harus berhenti menggunakannya merupakan bagian yang sama pentingnya dari menikmati makeup dengan aman. [][Eva Evilia/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Apakah Rambut Membutuhkan ‘Hari Libur’ dari Alat Penata Rambut?
HairCare

12 Agt 2026

Apakah Rambut Membutuhkan ‘Hari Libur’ dari Alat Penata Rambut?

Rambut terlihat lebih rapi setelah ditata. Panas membantu membentuknya dalam beberapa menit. Namun, apakah rambut juga membutuhkan waktu tanpa alat penata?Hair dryer, catokan, dan curling iron sudah menjadi bagian dari rutinitas banyak orang. Alat-alat tersebut membuat rambut lebih cepat kering, mudah dibentuk, dan mampu mempertahankan gaya tertentu dalam waktu relatif singkat. Untuk orang yang harus beraktivitas sejak pagi, teknologi penataan rambut bahkan terasa seperti penyelamat waktu.Masalahnya muncul ketika paparan panas menjadi rutinitas yang hampir tidak pernah terputus. Rambut mungkin tetap terlihat rapi setelah ditata, tetapi perlahan terasa lebih kering, kasar, mudah kusut, atau kehilangan kilau alaminya. Kondisi seperti ini sering baru disadari ketika perubahan pada batang rambut sudah cukup jelas.Berbeda dengan kulit, bagian batang rambut yang terlihat merupakan struktur yang sebagian besar tersusun atas keratin dan tidak memiliki mekanisme biologis untuk memperbaiki kerusakan seperti jaringan hidup. Produk perawatan dapat membantu memperbaiki rasa, tampilan, dan perlindungan permukaannya, tetapi bagian batang rambut yang sudah mengalami kerusakan struktural tidak dapat benar-benar kembali ke kondisi awal.Karena itu, istilah ‘hari libur’ sebenarnya bukan berarti rambut perlu beristirahat seperti tubuh setelah bekerja. Yang dibutuhkan adalah mengurangi frekuensi paparan panas dan memberi kesempatan agar kerusakan kumulatif tidak terus bertambah. Perbedaannya terdengar kecil, tetapi penting untuk memahami bagaimana rambut sebaiknya dirawat.Baca Juga: Mengapa Rambut Terasa Berat Meski Baru Dicuci?Panas Mengubah Lebih dari Sekadar Bentuk RambutKetika alat penata bersuhu tinggi digunakan, panas membantu mengubah ikatan sementara pada serat rambut sehingga bentuknya dapat ditata. Inilah yang membuat rambut lurus dapat dibuat bergelombang atau rambut mengembang menjadi lebih lurus. Namun, paparan panas berulang juga dapat memengaruhi kutikula, yaitu lapisan terluar yang membantu melindungi bagian dalam batang rambut.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menjelaskan bahwa penggunaan alat penata rambut perlu mempertimbangkan kondisi batang rambut dan intensitas paparan panas. Rambut yang telah melalui proses kimia seperti pewarnaan, bleaching, atau pelurusan biasanya membutuhkan perhatian lebih karena strukturnya dapat menjadi lebih rentan. Menambah paparan panas secara berulang pada kondisi tersebut berpotensi memperbesar kerusakan yang sudah terjadi.Sebuah penelitian dalam Annals of Dermatology mengenai kerusakan batang rambut akibat penggunaan hair dryer menunjukkan bahwa kerusakan permukaan rambut meningkat seiring kenaikan temperatur. Temuan tersebut menarik karena menunjukkan bahwa bukan sekadar penggunaan alat pengering yang menjadi persoalan. Jarak alat, suhu, dan cara penggunaannya ikut menentukan seberapa besar paparan panas diterima rambut.Artinya, solusi untuk menjaga rambut tidak selalu harus berupa larangan total menggunakan alat penata. Mengurangi suhu, tidak menahan alat terlalu lama pada satu bagian rambut, dan membatasi frekuensi penggunaannya dapat menjadi langkah yang lebih realistis. Produk heat protectant juga dapat membantu memberikan perlindungan tambahan, meskipun bukan berarti rambut kemudian kebal terhadap suhu tinggi.Baca Juga: Kulit Kepala Gatal: Kenapa Rambut Terlihat Sehat Belum Tentu Kulit Kepala Nyaman‘Hari Libur’ Bisa Menjadi Cara Mengurangi Kerusakan KumulatifMemberikan satu atau beberapa hari tanpa catokan, curling iron, maupun pengering bersuhu tinggi dapat membantu mengurangi total paparan panas dalam satu minggu. Bagi orang yang menata rambut hampir setiap hari, perubahan sederhana ini dapat menjadi kesempatan untuk mencoba gaya yang tidak membutuhkan suhu tinggi. Rambut dapat dibiarkan mengikuti tekstur alaminya atau ditata menggunakan metode tanpa panas.Menurut American Academy of Dermatology, penggunaan alat penata panas sebaiknya dilakukan pada suhu rendah atau sedang dan tidak lebih sering daripada yang diperlukan. Organisasi tersebut juga menyarankan membatasi penggunaan alat seperti flat iron serta menghindari paparan panas berlebihan karena dapat membuat rambut lebih mudah rusak. Pendekatan ini menempatkan frekuensi dan intensitas sebagai dua faktor yang sama-sama penting.Kondisi rambut tetap menjadi penentu utama. Rambut yang sehat dan jarang melalui proses kimia mungkin mampu menghadapi rutinitas penataan berbeda dibanding rambut yang sudah sering diwarnai atau mengalami bleaching. Karena itu, tidak ada angka universal mengenai berapa hari rambut harus ‘libur’ dari alat penata. Tanda seperti rambut semakin kasar, mudah patah, bercabang, atau kehilangan elastisitas justru lebih berguna untuk mengevaluasi rutinitas.Perawatan rambut juga tidak harus menjadi pilihan antara tampil rapi atau menjaga kesehatannya. Teknologi penataan tetap dapat digunakan dengan lebih bijak melalui pengaturan suhu, teknik yang benar, penggunaan perlindungan panas, dan hari-hari ketika rambut dibiarkan tanpa paparan tambahan. Pendekatan seperti ini lebih masuk akal dibanding terus menata rambut pada suhu tinggi lalu berharap satu produk mampu menghapus seluruh dampaknya.Jadi, rambut memang dapat memperoleh manfaat dari ‘hari libur’, tetapi bukan karena batang rambut sedang memulihkan dirinya seperti otot setelah olahraga. Manfaatnya berasal dari berkurangnya paparan yang dapat menambah kerusakan dari waktu ke waktu. Sesekali membiarkan rambut hadir dengan tekstur alaminya bukan berarti rutinitas perawatan sedang berhenti; justru itu dapat menjadi bagian dari cara merawatnya. [][Vikalena Lasmoskwa/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Mengapa Banyak Orang Mulai Memilih Membeli Lebih Sedikit Produk Kecantikan?
BeautyLife

03 Agt 2026

Mengapa Banyak Orang Mulai Memilih Membeli Lebih Sedikit Produk Kecantikan?

Rak kosmetik tidak lagi harus penuh. Rutinitas pun mulai disederhanakan. Merawat diri perlahan bergeser dari soal memiliki menjadi soal memilih.Beberapa tahun lalu, memiliki banyak produk kecantikan sering dianggap sebagai bagian dari gaya hidup. Semakin banyak pilihan skincare, makeup, atau body care yang tersusun rapi di meja rias, semakin besar pula kesan bahwa seseorang mengikuti perkembangan dunia kecantikan. Kehadiran produk baru hampir selalu disambut dengan rasa penasaran, seolah setiap inovasi wajib dicoba agar tidak tertinggal tren.Kini, pemandangan itu mulai berubah. Di berbagai komunitas kecantikan, semakin banyak orang berbicara tentang menyederhanakan rutinitas, menghabiskan produk sebelum membeli yang baru, hingga lebih berhati-hati ketika memasukkan kosmetik ke keranjang belanja. Perubahan ini bukan berarti minat terhadap dunia kecantikan menurun. Justru sebaliknya, perhatian terhadap apa yang benar-benar dibutuhkan semakin meningkat.Perubahan tersebut lahir dari berbagai pengalaman. Ada yang menyadari bahwa sebagian produknya berakhir kedaluwarsa sebelum sempat dihabiskan. Ada pula yang merasa kulitnya justru lebih nyaman ketika rutinitasnya tidak terlalu rumit. Tidak sedikit juga yang mulai mempertimbangkan dampak konsumsi berlebihan terhadap pengeluaran maupun lingkungan.Di balik perubahan kebiasaan ini, tersimpan cara pandang baru tentang kecantikan. Merawat diri tidak lagi diukur dari banyaknya produk yang dimiliki, melainkan dari kemampuan memahami apa yang benar-benar memberikan manfaat.Baca Juga: Bagaimana Tren Minimalisme Mengubah Rutinitas KecantikanKesadaran Baru Mengubah Cara Orang BerbelanjaIndustri kecantikan berkembang sangat cepat. Hampir setiap bulan muncul produk dengan kandungan baru, kemasan yang lebih menarik, atau teknologi yang diklaim lebih canggih. Pilihan yang semakin beragam tentu memberikan keuntungan bagi konsumen. Namun, banyaknya pilihan juga membuat proses membeli menjadi semakin kompleks.Tak sedikit orang akhirnya membeli produk karena rasa takut tertinggal tren atau khawatir melewatkan sesuatu yang sedang populer. Dalam dunia pemasaran, kondisi ini sering disebut sebagai fear of missing out atau FOMO. Tanpa disadari, keputusan membeli lebih banyak dipengaruhi oleh dorongan emosional daripada kebutuhan yang sebenarnya.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menjelaskan bahwa rutinitas perawatan kulit tidak ditentukan oleh banyaknya produk yang digunakan. Yang lebih penting adalah memilih formulasi yang sesuai dengan kebutuhan kulit dan menggunakannya secara konsisten. Pendekatan yang lebih sederhana seringkali justru memudahkan seseorang memahami bagaimana kulitnya merespons sebuah produk.Pandangan tersebut didukung oleh meningkatnya perhatian terhadap konsep penggunaan produk secara lebih bijak. Konsumen mulai membaca komposisi bahan, memahami fungsi setiap produk, dan mempertimbangkan apakah sebuah produk benar-benar melengkapi rutinitas yang sudah dimiliki. Kebiasaan ini menunjukkan bahwa keputusan membeli semakin didasarkan pada pengetahuan, bukan sekadar antusiasme terhadap tren.Menurut laporan The State of Fashion: Beauty yang diterbitkan McKinsey & Company, konsumen global mulai menunjukkan kecenderungan membeli produk yang memiliki nilai guna lebih jelas dan lebih sesuai dengan kebutuhan pribadi. Perubahan tersebut mendorong banyak merek untuk tidak hanya berlomba menghadirkan produk baru, tetapi juga memperkuat kualitas, transparansi, dan edukasi kepada konsumennya.Baca Juga: Bagaimana Tren Eco-Friendly Memengaruhi Gaya Hidup Kecantikan?Memiliki Lebih Sedikit, Mengenal Diri Lebih BaikMembeli lebih sedikit bukan berarti mengurangi perhatian terhadap diri sendiri. Justru dalam banyak kasus, keputusan tersebut muncul karena seseorang semakin memahami apa yang dibutuhkan kulit maupun tubuhnya. Ketika kebutuhan sudah lebih jelas, keinginan untuk mencoba setiap produk baru perlahan berkurang.Perubahan ini juga membuat rutinitas kecantikan terasa lebih tenang. Waktu tidak lagi habis untuk membandingkan puluhan produk yang memiliki fungsi serupa. Sebaliknya, perhatian beralih pada konsistensi penggunaan, kebiasaan hidup sehat, serta bagaimana kulit memberikan respons dari waktu ke waktu. Hubungan dengan produk kecantikan menjadi lebih rasional dan tidak lagi didorong oleh rasa harus selalu mengikuti tren.Psikolog Barry Schwartz melalui konsep The Paradox of Choice menjelaskan bahwa terlalu banyak pilihan justru dapat membuat seseorang lebih sulit merasa puas terhadap keputusan yang diambil. Ketika pilihan disederhanakan, proses mengambil keputusan menjadi lebih ringan dan seseorang cenderung merasa lebih yakin terhadap apa yang dipilih. Pemikiran tersebut tidak hanya relevan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga dapat dilihat dalam cara masyarakat membangun rutinitas kecantikan saat ini.Perubahan ini menunjukkan bahwa dunia kecantikan sedang bergerak menuju fase yang lebih dewasa. Konsumen tidak lagi hanya mencari produk yang sedang viral, tetapi juga mempertimbangkan apakah produk tersebut memang relevan bagi kebutuhan mereka. Kesadaran seperti ini mendorong hubungan yang lebih sehat antara konsumen dan industri kosmetik karena keputusan membeli dibangun di atas pemahaman, bukan sekadar dorongan sesaat.Merawat diri selalu memiliki makna yang berbeda bagi setiap orang. Ada yang menemukannya melalui rutinitas yang lengkap, ada pula yang merasa cukup dengan beberapa produk yang benar-benar bekerja sesuai kebutuhannya. Di tengah derasnya inovasi dan tren yang terus berganti, memilih membeli lebih sedikit bukan berarti kehilangan kesempatan untuk merawat diri. Pilihan tersebut justru mencerminkan keberanian untuk mengenali kebutuhan sendiri dan memberi ruang bagi kualitas, bukan sekadar kuantitas. [][Liora Maheswari/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Mengapa Rambut Terasa Berat Meski Baru Dicuci?
HairCare

31 Jul 2026

Mengapa Rambut Terasa Berat Meski Baru Dicuci?

Rambut sudah dicuci hingga bersih. Shampoo juga sudah dibilas. Namun, rambut tetap terasa berat dan kurang segar.Mencuci rambut sering dianggap sebagai cara paling sederhana untuk mengembalikan rasa bersih dan nyaman pada kulit kepala. Ketika rambut mulai lepek atau terasa berminyak, banyak orang berharap kondisi tersebut akan hilang setelah keramas. Namun, tidak sedikit yang justru merasakan hal sebaliknya. Rambut memang terlihat bersih, tetapi terasa berat, sulit mengembang, bahkan cepat kembali lepek.Kondisi ini sering membuat seseorang menyalahkan produk shampoo yang digunakan. Ada yang langsung mengganti merek, mencoba produk dengan klaim berbeda, atau memperbanyak frekuensi keramas. Padahal, rasa berat pada rambut tidak selalu menunjukkan bahwa produk tersebut tidak bekerja dengan baik.Rambut yang terasa berat dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Mulai dari sisa produk yang belum terbilas sempurna, produksi sebum yang berlebihan, penggunaan produk penataan rambut, hingga kondisi kulit kepala yang kurang sehat. Memahami penyebabnya menjadi langkah penting sebelum memutuskan mengganti rutinitas perawatan rambut.Hal lain yang kerap terlupakan adalah bahwa rambut dan kulit kepala merupakan satu kesatuan. Rambut yang tampak kusam atau terasa berat seringkali berawal dari kondisi kulit kepala yang tidak seimbang. Oleh karena itu, perawatan rambut tidak cukup hanya berfokus pada batang rambut, tetapi juga perlu memperhatikan kesehatan kulit kepala sebagai fondasinya.Baca Juga: Kulit Kepala Gatal: Kenapa Rambut Terlihat Sehat Belum Tentu Kulit Kepala NyamanRambut Terasa Berat Bukan Selalu Karena ShampooBanyak orang mengira busa yang melimpah atau sensasi kesat setelah keramas merupakan tanda bahwa rambut benar-benar bersih. Padahal, rasa berat pada rambut justru dapat muncul karena berbagai penyebab yang tidak berkaitan langsung dengan kemampuan shampoo dalam membersihkan kotoran.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menjelaskan bahwa kondisi rambut setelah keramas dipengaruhi oleh keseimbangan antara proses pembersihan dan perlindungan lapisan alami rambut. Rambut yang terlalu banyak menerima residu dari produk perawatan maupun produk penataan dapat terasa berat, tetapi pembersihan yang terlalu agresif juga dapat mengganggu keseimbangan kulit kepala. Karena itu, memilih produk yang sesuai dengan kondisi rambut dan kulit kepala menjadi lebih penting daripada sekadar mencari sensasi rambut yang terasa kesat.Dikutip dari American Academy of Dermatology, penumpukan residu dari conditioner, hair serum, dry shampoo, atau produk styling dapat membuat batang rambut kehilangan volumenya. Residu tersebut tidak selalu terlihat oleh mata, tetapi dapat membuat rambut terasa lebih berat, mudah lepek, dan sulit ditata meskipun baru selesai dicuci.Selain itu, teknik membilas rambut juga memiliki pengaruh yang sering diabaikan. Produk yang masih tertinggal pada kulit kepala atau batang rambut dapat menumpuk sedikit demi sedikit. Akibatnya, rambut tidak memberikan kesan ringan dan bersih seperti yang diharapkan, meskipun rutinitas keramas sudah dilakukan secara teratur.Baca Juga: Kebiasaan Sehari-Hari yang Tidak Terlihat, Tapi Berpengaruh pada RambutKebiasaan Sehari-hari Ikut Menentukan Kondisi RambutRasa berat pada rambut tidak selalu berasal dari kamar mandi. Aktivitas sehari-hari seperti sering menyentuh rambut, menggunakan alat penata rambut bersuhu tinggi, atau berada di lingkungan yang penuh polusi dapat memengaruhi kondisi rambut dan kulit kepala. Faktor-faktor tersebut bekerja secara perlahan sehingga sering kali tidak disadari.Frekuensi keramas yang tidak sesuai dengan kebutuhan kulit kepala juga dapat memberikan dampak berbeda pada setiap orang. Ada yang membutuhkan keramas setiap hari karena produksi sebum yang tinggi, sementara ada pula yang justru lebih nyaman mencuci rambut setiap dua atau tiga hari. Tidak ada satu pola yang berlaku untuk semua orang karena kondisi kulit kepala dipengaruhi oleh usia, hormon, aktivitas, dan lingkungan.Menurut Dr. Wilma Bergfeld, dermatolog dari Cleveland Clinic yang banyak meneliti kesehatan rambut, rutinitas perawatan rambut sebaiknya disesuaikan dengan karakteristik kulit kepala, bukan sekadar mengikuti tren atau kebiasaan orang lain. Rambut yang sehat dimulai dari kulit kepala yang bersih, seimbang, dan tidak mengalami penumpukan residu maupun iritasi yang berulang.Karena itu, ketika rambut terasa berat meski baru dicuci, solusi terbaik tidak selalu berupa mengganti shampoo. Mengevaluasi kebiasaan sehari-hari, cara menggunakan produk, hingga memperhatikan kondisi kulit kepala sering kali memberikan jawaban yang lebih tepat. Perawatan rambut yang efektif bukan tentang menggunakan produk sebanyak mungkin, melainkan memahami apa yang benar-benar dibutuhkan oleh rambut dan kulit kepala.Rambut yang ringan, bersih, dan mudah diatur merupakan hasil dari keseimbangan, bukan sekadar proses mencuci. Saat kulit kepala terjaga kesehatannya dan rutinitas perawatan dilakukan sesuai kebutuhan, rambut memiliki kesempatan lebih besar untuk mempertahankan volume, kilau, dan kenyamanannya sepanjang hari. [][Vikalena Lasmoskwa/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Cosmeticverse Bukan Proyek Seminar, Tetapi Gerakan Pengetahuan
BeautyNews

10 Jul 2026

Cosmeticverse Bukan Proyek Seminar, Tetapi Gerakan Pengetahuan

Sebuah seminar biasanya berakhir ketika sesi terakhir ditutup dan para peserta meninggalkan ruangan. Buku selesai ketika halaman terakhir dibaca. Sebuah acara kemudian menjadi bagian dari arsip, sementara para pesertanya kembali pada rutinitas masing-masing. Namun, ada gagasan yang justru baru memulai perjalanannya setelah seluruh rangkaian acara selesai. Kesan itulah yang muncul dari Seminar Kosmetik 2026 yang diselenggarakan Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran. Di balik peluncuran lima buku, pengenalan LABCOS AI, hingga program Cosmepreneur, tersimpan sebuah gagasan yang lebih besar daripada sekadar penyelenggaraan seminar. Gagasan tersebut diberi nama Cosmeticverse, sebuah ekosistem yang berupaya menghubungkan pendidikan, penelitian, teknologi, industri, dan kewirausahaan dalam satu perjalanan pengetahuan yang saling berkaitan.Selama delapan artikel dalam serial BeautyNews ini, Cosmeticverse telah dilihat dari berbagai sisi. Pembaca diajak memahami mengapa industri kosmetik membutuhkan kolaborasi yang lebih erat, bagaimana lima buku disusun sebagai satu perjalanan ilmu, mengapa penelitian perlu bergerak menuju industri, bagaimana artificial intelligence mulai mendukung pembelajaran, hingga pentingnya membangun budaya mutu yang menjaga kepercayaan masyarakat. Seluruh pembahasan tersebut memperlihatkan bahwa Cosmeticverse tidak dibangun dari satu program, melainkan dari banyak gagasan yang saling menguatkan.Pertanyaannya kemudian bukan lagi apa itu Cosmeticverse, melainkan mengapa seluruh gagasan tersebut dikumpulkan dalam satu ekosistem. Jawabannya mungkin terletak pada cara pandang yang ditawarkan: bahwa membangun industri kosmetik tidak cukup dilakukan melalui satu buku, satu laboratorium, satu teknologi, atau satu seminar. Yang dibutuhkan adalah ruang yang mampu mempertemukan seluruh unsur tersebut agar saling belajar dan berkembang bersama.Baca Juga: Fakultas Farmasi Unpad Perkenalkan Cosmeticverse, Ekosistem Baru Penghubung Dunia Kosmetik IndonesiaKetika Pengetahuan Tidak Lagi Berjalan SendiriSelama bertahun-tahun, pengetahuan tentang kosmetik berkembang di banyak ruang yang berbeda. Ada yang lahir di laboratorium penelitian, ada yang tersimpan dalam jurnal ilmiah, ada yang diajarkan di ruang kuliah, dan ada pula yang tumbuh melalui pengalaman panjang di dunia industri. Masing-masing memiliki nilai yang penting, tetapi tidak selalu saling terhubung.Kondisi tersebut bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga menjadi tantangan di banyak negara yang sedang membangun industri berbasis inovasi. Informasi tersedia dalam jumlah yang sangat besar, tetapi sering tersebar di berbagai tempat. Akibatnya, proses belajar menjadi terfragmentasi dan peluang kolaborasi tidak selalu berkembang secara optimal.Cosmeticverse mencoba menjawab tantangan tersebut melalui pendekatan yang berbeda. Alih-alih menghadirkan satu solusi tunggal, ekosistem ini mempertemukan berbagai unsur yang selama ini berjalan dalam jalurnya masing-masing. Pendidikan, riset, teknologi, artificial intelligence, kewirausahaan, dan industri diposisikan sebagai bagian dari satu percakapan besar mengenai masa depan kosmetik Indonesia.Pendekatan ini menunjukkan bahwa kemajuan industri tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan inovasi. Yang tidak kalah penting adalah kemampuan membangun hubungan antarinovasi agar pengetahuan dapat terus berkembang dan memberi manfaat yang lebih luas.Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar ProgramDalam siaran pers Seminar Kosmetik 2026, Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. apt. Sriwidodo, M.Si., menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, komunitas, dan media dalam semangat pentahelix. Pandangan tersebut menjadi salah satu fondasi lahirnya Cosmeticverse sebagai ruang kolaborasi yang melampaui batas-batas institusi.Cara berpikir tersebut juga tercermin dalam berbagai inisiatif yang diperkenalkan selama seminar. Lima buku disusun sebagai peta pengetahuan, LABCOS AI dikembangkan untuk memperluas akses terhadap literasi kosmetik, sementara Cosmepreneur membuka ruang bagi mahasiswa untuk memahami dunia industri sejak masa pendidikan. Seluruhnya tidak berdiri sendiri, tetapi saling mendukung dalam membentuk satu ekosistem pembelajaran.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., turut menegaskan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri menjadi salah satu fondasi penting dalam pengembangan Cosmeticverse. Harapan tersebut memperlihatkan bahwa tujuan utama ekosistem ini bukan hanya menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga memastikan pengetahuan tersebut mampu bergerak menuju dunia nyata melalui kerja sama yang berkelanjutan.Baca Juga: Mengapa Industri Kosmetik Indonesia Membutuhkan Cosmeticverse?Masa Depan Ditentukan oleh Mereka yang Mau BerkolaborasiDunia saat ini sesungguhnya tidak kekurangan informasi. Buku terus diterbitkan, penelitian terus dilakukan, teknologi berkembang dengan cepat, dan akses terhadap pengetahuan semakin terbuka. Tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan menghubungkan seluruh sumber daya tersebut menjadi sebuah ekosistem yang hidup.Dalam konteks itulah Cosmeticverse menawarkan perspektif yang menarik. Nilainya bukan semata-mata terletak pada jumlah buku yang diluncurkan atau teknologi yang diperkenalkan, melainkan pada upaya membangun ruang kolaborasi yang memungkinkan ilmu pengetahuan terus bergerak dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sebuah penelitian dapat menginspirasi inovasi baru, inovasi berkembang menjadi produk, produk melahirkan pengalaman industri, dan pengalaman tersebut kembali memperkaya dunia pendidikan.Perjalanan seperti itu tidak akan selesai ketika seminar berakhir. Justru setelah lampu auditorium dipadamkan dan para peserta kembali ke tempat masing-masing, ekosistem tersebut mulai diuji. Masa depannya tidak lagi hanya berada di tangan penyelenggara seminar, penulis buku, atau para pembicara, tetapi juga pada mahasiswa yang terus belajar, peneliti yang terus bereksperimen, dosen yang membimbing generasi berikutnya, pelaku industri yang mengembangkan inovasi, serta semua pihak yang percaya bahwa kolaborasi merupakan fondasi kemajuan.Delapan artikel dalam serial ini menunjukkan bahwa Cosmeticverse bukan sekadar nama sebuah program. Ia merupakan cara pandang tentang bagaimana ilmu pengetahuan seharusnya bertumbuh: terbuka terhadap kolaborasi, dekat dengan kebutuhan industri, memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab, dan tetap berpijak pada integritas ilmiah. Jika gagasan tersebut terus berkembang, Cosmeticverse tidak hanya akan dikenang sebagai rangkaian Seminar Kosmetik 2026, tetapi sebagai sebuah gerakan pengetahuan yang ikut membentuk masa depan industri kosmetik Indonesia.Tentang CosmeticverseCosmeticverse merupakan ekosistem pengetahuan kosmetik yang diperkenalkan oleh Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran bersama Program Studi Rekayasa Kosmetik, LABCOS, Ray Academy, PT Baleide, dan berbagai mitra industri. Ekosistem ini menghubungkan pendidikan, riset, teknologi, artificial intelligence, kewirausahaan, dan dunia industri untuk memperkuat inovasi serta daya saing kosmetik Indonesia. [][Vikalena Lasmoskwa/TBV]

Menampilkan 1 - 12 dari 13 artikel