Mengikat rambut membuat aktivitas lebih praktis, tetapi tarikan yang terus berulang dapat melemahkan batang rambut dan memengaruhi kesehatan folikelnya.
Mengikat rambut menjadi kebiasaan sehari-hari bagi banyak orang, terutama ketika cuaca panas atau aktivitas menuntut rambut tetap rapi. Model ekor kuda, sanggul, dan kepang sering dipilih karena praktis serta mudah disesuaikan dengan penampilan. Meski terlihat sederhana, kebiasaan tersebut dapat memberikan tekanan mekanis pada rambut.
Sebagian orang mungkin menemukan helai rambut pendek yang mencuat di sekitar pelipis atau bagian belakang kepala. Ada pula yang merasa kulit kepala tertarik setelah rambut diikat selama beberapa jam. Keluhan tersebut kerap dianggap biasa, terutama jika rambut kembali terasa nyaman setelah ikatannya dilepas.
Padahal, rambut memiliki batas kemampuan dalam menghadapi tekanan fisik. Tarikan, gesekan, dan pembengkokan berulang dapat memengaruhi kondisi batang rambut, terutama jika rambut sebelumnya telah mengalami kerusakan. Pada keadaan tertentu, tekanan yang terus berlangsung juga dapat memengaruhi folikel, yaitu struktur kulit tempat rambut tumbuh.
Penting untuk membedakan kerusakan batang rambut dengan kerontokan akibat gangguan pada folikel. Keduanya dapat terjadi akibat kebiasaan mengikat rambut, tetapi memiliki mekanisme dan konsekuensi yang berbeda. Perbedaan tersebut menentukan langkah perawatan yang perlu dilakukan.
Baca Juga: Mengapa Rambut Bisa Tetap Kusut meski Sudah Menggunakan Conditioner?
Tarikan Berulang Dapat Merusak Batang Rambut
Batang rambut terutama tersusun dari protein keratin yang membentuk struktur kuat sekaligus lentur. Bagian luarnya dilindungi kutikula, yaitu lapisan sel yang tersusun saling bertumpuk dan membantu mengurangi kerusakan pada bagian dalam rambut. Ketika kutikula mengalami keausan, batang rambut menjadi lebih rentan terhadap gesekan dan patah.
Ikat rambut dapat memberikan tekanan pada bagian tertentu dari batang rambut. Tekanan tersebut semakin besar ketika rambut ditarik kuat, diikat pada posisi yang sama, atau menggunakan aksesori yang mudah tersangkut. Gesekan berulang dapat memperburuk kondisi rambut yang sudah rapuh akibat pewarnaan, pelurusan kimia, atau penggunaan alat penata panas.
Dalam kajian berjudul Understanding and Controlling the Friction of Human Hair, Erik Weiand bersama sejumlah peneliti dari Imperial College London dan industri kosmetik menjelaskan bahwa gesekan rambut dipengaruhi oleh kondisi permukaan kutikula. Dilansir dari jurnal Advances in Colloid and Interface Science pada 2025, proses mekanis seperti menyisir dapat mempercepat perubahan lapisan pelindung permukaan rambut. Penelitian tersebut membantu menjelaskan mengapa gesekan berulang menjadi salah satu faktor penting dalam kerusakan batang rambut.
Ketika rambut terus menerima tekanan pada bagian yang sama, kemungkinan kerusakan mekanis dapat meningkat. Helai yang patah biasanya tampak lebih pendek dan memiliki panjang tidak seragam, berbeda dari rambut yang terlepas secara utuh dari kulit kepala. Meski demikian, pengamatan visual saja tidak selalu cukup untuk memastikan penyebab rambut yang terlihat semakin tipis.
Dilansir dari American Academy of Dermatology [AAD], kebiasaan menggunakan kepang, ikatan ekor kuda, atau sambungan rambut yang terus-menerus menarik helai dapat menyebabkan rambut patah. Organisasi profesi dermatologi tersebut menyarankan agar gaya rambut yang menimbulkan tarikan tidak digunakan secara berkelanjutan. Rambut juga perlu ditangani dengan lebih lembut ketika kondisinya rapuh.
Kerusakan batang rambut tidak selalu dapat dipulihkan menjadi seperti rambut baru. Produk conditioner dapat membantu mengurangi gesekan, memperbaiki kemudahan penyisiran, dan membuat rambut terasa lebih halus. Akan tetapi, manfaat kosmetik tersebut tidak berarti struktur rambut yang sudah patah dapat tersambung kembali secara biologis.
Baca Juga: Mengapa Rambut Terlihat Lebih Mengembang pada Hari yang Lembap?
Ketika Ikatan Rambut Mulai Memengaruhi Folikel
Selain menyebabkan rambut patah, tarikan berkepanjangan dapat menimbulkan kondisi yang disebut traction alopecia. Kondisi ini merupakan kerontokan rambut akibat tekanan mekanis berulang pada folikel, terutama dari gaya rambut yang terlalu kencang. Area garis rambut depan dan pelipis sering menjadi lokasi yang terdampak, meskipun pola kerontokan dapat berbeda sesuai posisi tarikan.
Dalam artikel ilmiah Traction Alopecia yang diterbitkan di JAMA Dermatology pada 2023, dokter spesialis kulit Jorge Larrondo dan Amy J. McMichael menjelaskan bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan tarikan yang berlangsung lama atau berulang. Pada tahap awal, kerontokan dapat bersifat reversibel apabila penyebabnya segera dihentikan. Sebaliknya, tarikan kronis berisiko menimbulkan kerusakan folikel yang menetap.
Penjelasan kedua ahli tersebut menunjukkan bahwa rambut patah dan traction alopecia tidak boleh dianggap sebagai masalah yang sama. Rambut patah terjadi pada bagian batang rambut yang berada di luar kulit, sedangkan traction alopecia melibatkan struktur tempat rambut tumbuh. Keduanya dapat muncul bersamaan ketika gaya rambut memberikan tekanan berlebihan.
AAD menyebut rasa sakit akibat gaya rambut yang terlalu kencang sebagai tanda bahwa tarikan perlu segera dikurangi. Sensasi menyengat, kulit kepala yang tertarik, serta rambut pendek yang patah di sekitar garis rambut juga patut diperhatikan. Mengabaikan tanda-tanda tersebut dapat meningkatkan risiko kerusakan apabila kebiasaan yang sama terus dilakukan.
Pencegahan tidak mengharuskan seseorang berhenti mengikat rambut sama sekali. Ikatan yang lebih longgar, perubahan posisi ikatan, serta penggunaan aksesori yang tidak mudah tersangkut dapat membantu mengurangi tekanan pada helai. Mengistirahatkan rambut dari gaya yang memberikan tarikan kuat juga merupakan langkah yang dianjurkan dokter kulit.
Kondisi rambut ketika diikat perlu diperhatikan. Rambut yang sedang kusut atau rapuh lebih mudah mengalami kerusakan saat ditarik dan ditata secara kasar. Karena itu, mengurai kusut secara perlahan dan menghindari ikatan terlalu kuat merupakan langkah yang lebih penting daripada sekadar memilih model rambut tertentu.
Pemakaian conditioner setelah keramas dapat membantu mengurangi gesekan antarrambut dan mempermudah proses penataan. Bagi rambut yang mudah kusut, produk perawatan tanpa bilas dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan. Meski begitu, tidak ada produk kosmetik yang dapat sepenuhnya menghilangkan risiko kerusakan akibat tarikan yang terus-menerus.
Apabila garis rambut mulai mundur, muncul area yang semakin tipis, atau kulit kepala terasa nyeri dan meradang, pemeriksaan dokter spesialis kulit sebaiknya tidak ditunda. Kerontokan memiliki banyak kemungkinan penyebab, termasuk faktor genetik, hormonal, dan kondisi medis tertentu. Diagnosis diperlukan untuk memastikan apakah keluhan memang berkaitan dengan kebiasaan mengikat rambut.
Mengikat rambut pada dasarnya bukan kebiasaan yang harus dihindari. Risiko terutama muncul ketika rambut terus-menerus menerima tarikan kuat, gesekan berulang, dan tekanan pada area yang sama. Menjaga ikatan tetap nyaman serta memberi kesempatan rambut terbebas dari tekanan merupakan cara sederhana untuk membantu mempertahankan kekuatan helai dan kesehatan folikel. [][Vikalena Lasmoskwa/TBV]
Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.