TanyaDong

Tanya Dong: Bisakah Warna Kulit yang Berbeda karena Bekas Luka Kembali Merata?

Admin Beautyversity Admin Beautyversity
4 views
Tanya Dong: Bisakah Warna Kulit yang Berbeda karena Bekas Luka Kembali Merata?

Lukanya mungkin sudah lama sembuh. Namun, mengapa warna kulit di tempat yang sama masih terlihat berbeda hingga bertahun-tahun kemudian?

Bekas jatuh dari sepeda ketika kecil, terkena knalpot, tergores benda tajam, atau luka lain mungkin sudah tidak terasa lagi. Anehnya, kulit terkadang masih menyimpan jejaknya dalam bentuk warna yang lebih gelap atau justru lebih terang dibandingkan area di sekitarnya.

Apakah perbedaan warna tersebut bisa dihilangkan dengan skincare? Jawabannya: bisa membaik pada kondisi tertentu, tetapi tidak semua perubahan warna setelah luka mempunyai penyebab yang sama. Karena itu, langkah pertama bukan buru-buru mencari produk pencerah, melainkan memahami apa yang sebenarnya tersisa setelah luka sembuh.

Salah satu kemungkinan yang paling umum adalah post-inflammatory hyperpigmentation [PIH]. Kondisi ini terjadi ketika proses peradangan atau cedera pada kulit meninggalkan peningkatan pigmentasi setelah masalah awalnya mereda. PIH dapat muncul setelah berbagai proses inflamasi dan cenderung lebih nyata serta persisten pada warna kulit yang lebih gelap. 

Namun, bekas luka juga dapat terlihat lebih terang daripada kulit di sekitarnya. Artinya, istilah ‘bekas luka berbeda warna’ sebenarnya dapat merujuk pada proses biologis yang berbeda. Inilah sebabnya satu produk yang bekerja pada bercak gelap belum tentu merupakan jawaban untuk semua bekas luka.

Baca Juga: Tanya Dong: Perlukah Memberi Jeda antara Satu Produk Skincare dan Produk Berikutnya?

Kenapa Bekas Luka Bisa Lebih Gelap?

Saat kulit mengalami cedera dan peradangan, proses tersebut dapat memengaruhi produksi maupun distribusi melanin. Setelah jaringan pulih, aktivitas pigmentasi terkadang meninggalkan area berwarna cokelat hingga lebih gelap daripada warna kulit sebelumnya. Kondisi inilah yang dikenal sebagai PIH.

Dr. Valerie D. Callender bersama Erica C. Davis dalam tinjauan ilmiahnya mengenai PIH menjelaskan bahwa penanganannya dimulai dengan mengatasi proses inflamasi yang mendasari, kemudian dapat melibatkan agen topikal dan fotoproteksi. Beberapa bahan yang dibahas dalam literatur tersebut antara lain azelaic acid, retinoid, vitamin C, dan niacinamide, meskipun pemilihan terapi tetap bergantung pada kondisi pigmentasinya. 

Yang sering terlupakan adalah waktu. Tinjauan Susan Taylor, Pearl Grimes, dan kolega mencatat bahwa mayoritas PIH memang dapat membaik secara spontan, tetapi prosesnya bisa berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Pada sebagian kasus, perubahan pigmentasi bahkan dapat menetap. 

Karena itu, bekas luka lama yang masih terlihat bukan berarti kulit ‘gagal sembuh’. Jaringan kulitnya mungkin sudah pulih dari luka awal, sementara perubahan pigmentasinya membutuhkan perjalanan berbeda. Kedalaman pigmen juga dapat memengaruhi tampilan dan responsnya terhadap penanganan.

Paparan cahaya kemudian menjadi bagian penting dari cerita tersebut. Penelitian sistematis terbaru pada skin of colour menemukan fotoproteksi sebagai komponen penting dalam pencegahan PIH, sementara American Academy of Dermatology [AAD] juga menjelaskan bahwa perlindungan matahari dapat membantu mencegah penggelapan dan membantu memudarkan bercak gelap. 

Baca Juga: Tanya Dong: Apakah Kulit Bisa Berubah Jenis Seiring Bertambahnya Usia?

Bisakah Warnanya Kembali Sama?

Kalau perbedaannya berupa hiperpigmentasi setelah luka, beberapa pendekatan memang dapat membantu membuat warnanya lebih mendekati kulit di sekitarnya. Namun, ‘kembali sama persis’ bukan hasil yang dapat dijanjikan. Sebuah tinjauan sistematis terhadap 48 penelitian pada skin of colour bahkan menemukan bahwa hasil berbagai terapi PIH masih bervariasi dan bukti efektivitas yang kuat untuk seluruh pilihan terapi masih terbatas. 

Pendekatan paling sederhana justru dimulai dengan tidak menambah peradangan baru. Menggosok bekas luka terlalu agresif atau menggunakan terlalu banyak bahan aktif hingga menimbulkan iritasi dapat menjadi kontraproduktif. AAD mengingatkan bahwa produk yang menimbulkan rasa terbakar atau menyengat dapat menyebabkan iritasi yang kemudian mempergelap bercak. 

Di sinilah skincare mempunyai batas. Bahan kosmetik dapat relevan untuk membantu kondisi pigmentasi tertentu, tetapi bekas luka bukan selalu persoalan melanin saja. Bila permukaan kulit ikut berubah menjadi menonjol, cekung, mengilap, atau mempunyai tekstur jaringan parut yang jelas, menyamakan warna belum tentu menyelesaikan keseluruhan bekas luka.

Perbedaan warna yang justru jauh lebih terang juga perlu diperlakukan berbeda. Produk ‘pencerah’ tentu tidak logis digunakan untuk mengejar warna kulit yang hilang, sementara penyebab area hipopigmentasi juga tidak dapat ditentukan hanya dari penampilannya. Bila perubahan tersebut menetap, sangat kontras, meluas, atau disertai perubahan struktur kulit, pemeriksaan dokter kulit menjadi pilihan yang lebih tepat daripada bereksperimen dengan semakin banyak bahan aktif.

Hal lain yang perlu diingat adalah prosedur yang lebih agresif belum tentu memberikan hasil lebih cepat. Tinjauan mengenai PIH pada skin of colour mencatat bahwa prosedur seperti chemical peeling dan laser memerlukan pertimbangan khusus karena pada sebagian orang tindakan tersebut justru dapat memperburuk hiperpigmentasi. 

Jadi, bisakah warna kulit akibat luka lama kembali merata? Mungkin, terutama jika masalah utamanya adalah pigmentasi, tetapi hasil dan kecepatannya sangat bergantung pada apa yang sebenarnya berubah di kulit. Bekas yang lebih gelap, lebih terang, dan jaringan parut bukan satu persoalan yang sama. Sebelum mengejar warna kulit yang seragam, pertanyaan terpenting justru sederhana: jejak yang tertinggal itu perubahan pigmen, perubahan jaringan, atau keduanya? [][Tim Beautyversity/TBV]

Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.



Bagikan artikel ini:
Admin Beautyversity

Admin Beautyversity

Penulis di Beautyversity

Lihat Semua Artikel