Air hangat disebut bisa membuka pori-pori. Air dingin dipercaya menutupnya kembali. Kedengarannya masuk akal, tetapi kulit ternyata tidak bekerja seperti pintu.
Anjuran untuk ‘membuka pori-pori’ sebelum membersihkan wajah sudah diwariskan cukup lama dalam rutinitas kecantikan. Wajah diuapi atau dibasuh air hangat agar kotoran dianggap lebih mudah keluar. Setelahnya, air dingin digunakan dengan harapan pori-pori kembali menutup dan kulit terlihat lebih rapat.
Pengalaman setelah melakukan ritual tersebut memang dapat terasa meyakinkan. Kulit yang terkena panas terlihat berbeda, sementara air dingin memberikan sensasi lebih segar dan kencang. Dari perubahan yang dapat dirasakan inilah muncul kesimpulan bahwa pori-pori benar-benar bergerak membuka dan menutup.
Masalahnya, pori bukan struktur yang memiliki mekanisme seperti pintu. Apa yang biasa disebut pori pada wajah merupakan bukaan folikel di permukaan kulit yang berkaitan dengan rambut dan kelenjar sebaceous. Tidak terdapat otot di sekeliling bukaan tersebut yang bekerja untuk membuka atau menutupnya berdasarkan suhu air.
Namun, bukan berarti penampilan pori tidak dapat berubah. Sebum, sel kulit, kondisi permukaan kulit, usia, paparan matahari, dan berbagai faktor lain dapat membuat bukaan folikel terlihat lebih atau kurang jelas. Di sinilah perbedaan antara pori yang benar-benar ‘membuka’ dan pori yang hanya tampak berbeda menjadi penting.
Baca Juga: Mitos: Produk yang Terasa Perih Berarti Sedang Bekerja
Air Hangat Mengubah Kondisi Kulit, Bukan Membuka Pori
Air hangat dapat membantu melunakkan minyak dan residu pada permukaan kulit sehingga proses pembersihan terasa lebih mudah. Panas juga dapat meningkatkan aliran darah sementara pada kulit sehingga wajah tampak lebih kemerahan. Efek-efek tersebut nyata, tetapi tidak membuktikan bahwa diameter pori sedang dikendalikan seperti katup.
American Academy of Dermatology justru merekomendasikan penggunaan air suam-suam kuku ketika mencuci wajah. Air yang terlalu panas dapat membuat kulit lebih kering dan memicu iritasi pada sebagian orang. Artinya, menaikkan suhu air demi ‘membuka’ pori bukan langkah yang diperlukan untuk memperoleh kulit yang bersih.
Hal serupa berlaku pada uap wajah. Uap dapat membuat material di permukaan dan isi pori terasa lebih lunak sehingga proses perawatan tertentu menjadi lebih mudah, tetapi pori tidak berubah menjadi lubang yang sengaja membuka. Menguapi wajah terlalu lama atau dengan suhu terlalu tinggi juga bukan berarti pembersihan akan semakin efektif.
Air dingin kemudian memberikan sensasi berbeda karena memengaruhi permukaan kulit dan pembuluh darah untuk sementara. Kulit dapat terasa lebih kencang atau tampak berbeda sesaat setelah terkena suhu rendah. Namun, efek tersebut kembali tidak sama dengan mekanisme anatomis yang membuat pori menutup.
Baca Juga: Mitos: Bahan Alami Selalu Lebih Lembut untuk Kulit Sensitif
Kalau Tidak Bisa Ditutup, Mengapa Pori Bisa Terlihat Lebih Kecil?
Ukuran dan tampilan pori dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk genetik dan produksi sebum. Ketika sebum serta material lain menumpuk di dalam folikel, bukaannya dapat terlihat lebih jelas. Kondisi kulit di sekitarnya juga menentukan seberapa kontras pori terlihat ketika seseorang bercermin.
Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., menjelaskan bahwa kosmetik lebih tepat dipahami berdasarkan pengaruhnya terhadap kondisi permukaan kulit daripada klaim bahwa produk secara fisik ‘menutup’ pori. Formula tertentu dapat membantu mengontrol minyak, membersihkan permukaan, atau memperbaiki penampilan tekstur sehingga pori terlihat lebih samar. Perubahan penampilan tersebut berbeda dari menghilangkan struktur pori itu sendiri.
Bahan seperti salicylic acid dapat digunakan dalam formulasi untuk membantu mengatasi minyak dan penumpukan sel pada area folikel. Retinoid dalam konteks penggunaan yang sesuai juga dapat memengaruhi pergantian sel dan kondisi kulit. Manfaat bahan-bahan tersebut tetap tidak perlu dijelaskan melalui konsep membuka atau menutup pori.
Dermatolog Dr. Shari Marchbein juga menjelaskan dalam edukasi mengenai pori bahwa ukuran pori banyak dipengaruhi faktor genetik, sementara produksi minyak, penuaan, dan kerusakan akibat sinar matahari dapat membuatnya tampak lebih jelas. Perawatan dapat membantu memperbaiki penampilannya, tetapi tidak memberikan kemampuan kepada seseorang untuk menghapus pori secara permanen.
Obsesi untuk membuat pori ‘hilang’ juga perlu ditempatkan dalam konteks visual hari ini. Kamera beresolusi tinggi, pencahayaan tertentu, penyuntingan foto, dan filter dapat menciptakan gambaran kulit yang hampir tanpa tekstur. Ketika standar tersebut dibawa ke depan cermin, struktur kulit normal mudah dianggap sebagai kekurangan.
Membersihkan wajah secara lembut, mengelola minyak sesuai kebutuhan, menggunakan pelembap, serta melindungi kulit dari paparan sinar ultraviolet merupakan pendekatan yang lebih realistis daripada mengejar ritual buka-tutup pori. Produk yang membuat tampilan pori lebih samar tentu dapat digunakan, tetapi ekspektasinya perlu ditempatkan pada perubahan penampilan, bukan perubahan anatomi yang tidak mungkin dilakukan kosmetik.
Jadi, pori-pori tidak membuka ketika terkena air hangat lalu menutup kembali karena air dingin. Yang berubah adalah kondisi kulit dan bagaimana bukaan folikel tersebut terlihat dari permukaan. Mungkin mitos ini bertahan begitu lama karena sensasinya memang terasa nyata, tetapi seperti banyak hal dalam skincare, sesuatu yang terasa terjadi belum tentu sama dengan apa yang sebenarnya berlangsung di dalam kulit. [][Rudi Tenggarawan/TBV]
Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.