Tag

kosmetik

Jelajahi artikel dengan tag kosmetik

Mengenang Martha Tilaar, Apa yang Bisa Dipelajari Generasi Baru Formulator Indonesia?
BeautyNews

15 Okt 2026

Mengenang Martha Tilaar, Apa yang Bisa Dipelajari Generasi Baru Formulator Indonesia?

Bagi apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., Martha Tilaar bukan sekadar pelopor kecantikan Indonesia, melainkan sosok yang ikut membentuk perjalanan profesionalnya.Kepergian Martha Tilaar meninggalkan kehilangan besar bagi industri kecantikan Indonesia. Sosok yang dikenal melalui Sariayu dan berbagai inisiatif pengembangan kecantikan Nusantara itu mewariskan lebih dari sekadar merek dan produk. Perhatiannya terhadap bahan alam, penelitian, dan identitas budaya Indonesia turut menginspirasi generasi profesional kosmetik yang tumbuh setelahnya.Salah satunya adalah apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., formulator dan peneliti kosmetik yang juga terlibat dalam pendidikan Rekayasa Kosmetik Universitas Padjadjaran. Hubungannya dengan pemikiran Martha Tilaar bermula jauh sebelum ia menekuni penelitian dan pengembangan produk secara profesional. Pertemuan pertama mereka berlangsung pada 1997, ketika apt. Cahya masih menjadi mahasiswa tingkat tiga Fakultas Farmasi.Dalam tulisan refleksinya yang dipublikasikan di aptcahya.com pada 14 Oktober 2026, apt. Cahya mengenang bagaimana pertemuan tersebut memperluas cara pandangnya terhadap industri kosmetik. Ilmu farmasi yang dipelajarinya ternyata memiliki ruang penerapan yang jauh lebih luas daripada yang semula ia bayangkan. Pengembangan kosmetik membutuhkan pemahaman tentang bahan, formulasi, stabilitas, keamanan, dan teknologi.Pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan profesional yang kemudian membawanya ke berbagai kegiatan pengembangan kosmetik. Ketika memulai karier di Wardah pada 2000, apt. Cahya menyebut Sariayu sebagai salah satu tolok ukur yang diperhatikan dalam pengembangan produk. Baginya, keberhasilan Sariayu memperlihatkan bahwa produk kosmetik lokal dapat dibangun dengan identitas yang kuat sekaligus relevan bagi kebutuhan masyarakat.Baca Juga: Dari Patin, Teh Hijau, hingga Microbiome, Bagaimana Sains Mengubah Cara Kita Melihat Inovasi Beauty?Dari Pertemuan Pertama hingga Inspirasi bagi FormulatorBagi seorang formulator, keberhasilan kosmetik tidak cukup dinilai dari popularitas merek atau penampilan kemasannya. Di balik produk yang digunakan konsumen terdapat proses pemilihan bahan, penyusunan formula, pengujian stabilitas, hingga pengendalian mutu. Seluruh tahapan tersebut menentukan apakah suatu gagasan dapat diterjemahkan menjadi produk yang aman dan konsisten kualitasnya.Melalui pengalamannya, apt. Cahya melihat perjalanan Martha Tilaar sebagai contoh bagaimana ilmu pengetahuan dapat bertemu dengan kekayaan budaya dan kebutuhan pasar. Sariayu tidak hanya memperkenalkan produk kecantikan, tetapi juga membawa identitas Nusantara ke dalam pengembangan merek. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa inovasi kosmetik dapat memiliki karakter lokal tanpa mengabaikan kebutuhan pengembangan teknologi.Salah satu perhatian Martha Tilaar yang paling menginspirasi apt. Cahya adalah pengembangan bahan alam Indonesia. Melalui berbagai inisiatif, termasuk Martha Tilaar Innovation Centre dan kegiatan yang berkaitan dengan tanaman berkhasiat, kekayaan hayati Indonesia ditempatkan sebagai sumber potensi penelitian. Bagi apt. Cahya, pendekatan tersebut membuka pertanyaan penting mengenai bagaimana bahan alam dapat dikembangkan menjadi bahan kosmetik yang aman, bermutu, dan memiliki manfaat yang dapat dibuktikan.Pertanyaan itu semakin relevan ketika industri kecantikan berkembang dengan beragam klaim mengenai bahan alami. Keberadaan senyawa tertentu dalam tumbuhan belum otomatis menjadikan ekstraknya sebagai bahan aktif kosmetik yang siap digunakan. Peneliti masih perlu memahami karakteristik kimia, metode pengolahan, konsistensi bahan, keamanan, dan stabilitasnya.apt. Cahya sendiri menekuni penelitian bahan aktif berbasis sumber daya alam, termasuk isoflavon kedelai. Pengembangan bahan semacam ini membutuhkan proses karakterisasi, standardisasi, pengujian, serta penyesuaian terhadap kebutuhan formulasi. Hasil penelitian laboratorium yang menjanjikan juga belum tentu menghasilkan manfaat serupa ketika bahan tersebut digunakan dalam produk jadi.Dalam refleksinya, apt. Cahya menekankan bahwa pengembangan bahan aktif Indonesia tidak cukup dipahami sebagai upaya mengganti bahan impor dengan bahan lokal. Persoalan yang lebih mendasar adalah kemampuan menghasilkan dan menguasai pengetahuan mengenai bahan tersebut. Kemandirian industri membutuhkan kompetensi untuk meneliti, mengolah, menguji, dan menjaga kualitas bahan secara berkelanjutan.Baca Juga: Kalau Setiap Orang Punya Skin Microbiome yang Berbeda, Seperti Apa yang Disebut Sehat?Warisan yang Berlanjut melalui Penelitian Kosmetik IndonesiaPerjalanan apt. Cahya kembali bersinggungan dengan Martha Tilaar pada 2023. Keduanya bertemu dalam acara Apresiasi Inovasi Universitas Padjadjaran, ketika Martha hadir sebagai keynote speaker. Pada kesempatan yang sama, Cahya hadir mewakili Lunaray Beauty Factory dan Dian Indah Abadi yang menerima penghargaan Apresiasi Mitra Inovasi Terdepan.Pertemuan tersebut mempunyai makna tersendiri bagi apt. Cahya karena mempertemukan dua fase perjalanan profesionalnya. Pada 1997, ia merupakan mahasiswa yang mulai mengenal peluang penerapan ilmu farmasi dalam industri kosmetik. Dua puluh enam tahun kemudian, ia telah terlibat dalam formulasi, penelitian, pengembangan produk, dan kolaborasi antara perguruan tinggi dengan industri.Pengalaman tersebut juga memperkuat pandangannya mengenai pentingnya membangun ekosistem ilmu kosmetik Indonesia. Melalui keterlibatan dalam pendidikan Rekayasa Kosmetik Universitas Padjadjaran serta penelitian dan pengembangan bersama LABCOS Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, apt. Cahya melihat perlunya hubungan yang lebih erat antara peneliti dan pelaku industri. Hasil penelitian akademik sering membutuhkan proses lanjutan sebelum dapat diterapkan dalam produksi kosmetik.Sebagai contoh, bahan alam yang memperlihatkan aktivitas biologis dalam penelitian awal masih harus melalui sejumlah tahapan pengembangan. Karakterisasi, standardisasi, evaluasi keamanan, pengujian stabilitas, dan pengembangan formulasi perlu dilakukan sebelum suatu bahan dapat digunakan secara bertanggung jawab. Proses tersebut juga harus mempertimbangkan kemampuan manufaktur serta persyaratan regulasi yang berlaku.Pekerjaan itu membutuhkan kontribusi berbagai bidang keahlian. Peneliti mengembangkan pengetahuan ilmiah, formulator menerjemahkannya menjadi sistem produk, sementara industri memastikan mutu dapat dipertahankan dalam proses produksi. Regulator berperan menetapkan dan mengawasi persyaratan yang melindungi konsumen.Dalam pandangan apt. Cahya, perhatian Martha Tilaar terhadap penelitian, kekayaan alam, dan pengembangan industri merupakan inspirasi yang masih relevan bagi generasi berikutnya. Warisan seorang pelopor tidak hanya terlihat dari perusahaan yang dibangun atau produk yang berhasil dipasarkan. Pengaruhnya juga dapat bertahan melalui orang-orang yang kemudian mengembangkan pengetahuan dan kompetensi di bidang yang sama.Karena itu, mengenang Martha Tilaar juga berarti melihat pekerjaan yang masih perlu dilanjutkan oleh industri kosmetik Indonesia. Kekayaan hayati membutuhkan penelitian, inovasi memerlukan pembuktian ilmiah, dan pengembangan produk membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten. Bagi generasi baru formulator, warisan terpenting seorang pelopor bukan hanya apa yang telah berhasil diciptakannya, tetapi juga kemampuan dan keberanian untuk mengembangkan pengetahuan yang belum selesai dibangun. [][Tim Beautyversity/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Mengapa Sistem Penghantaran Bisa Menentukan Kinerja Sebuah Bahan Aktif?
BahanAktif

30 Sep 2026

Mengapa Sistem Penghantaran Bisa Menentukan Kinerja Sebuah Bahan Aktif?

Bahan aktif boleh terdengar menjanjikan. Konsentrasinya pun bisa tinggi. Namun, manfaatnya tetap bergantung pada bagaimana formula membawa bahan tersebut ke tempat yang dituju.Ketika membaca produk kosmetik, perhatian konsumen biasanya langsung tertuju pada nama bahan aktif. Niacinamide, retinoid, peptida, antioksidan, atau berbagai ekstrak tumbuhan kerap menjadi alasan utama seseorang memilih produk. Persentasenya bahkan sering diperlakukan seperti angka yang dapat langsung menunjukkan seberapa kuat produk tersebut bekerja.Padahal, bahan aktif tidak bekerja sendirian. Ia berada di dalam suatu formula, harus tetap stabil selama penyimpanan, dilepaskan ketika produk digunakan, kemudian berinteraksi dengan permukaan atau lapisan kulit yang menjadi targetnya. Rangkaian perjalanan tersebut membuat pertanyaan ‘apa bahan aktifnya?’ belum cukup untuk memahami performa sebuah produk.Di sinilah sistem penghantaran atau delivery system menjadi penting. Dalam formulasi, sistem tersebut dapat dirancang untuk membantu membawa, melindungi, melepaskan, atau meningkatkan ketersediaan bahan aktif pada lokasi yang diinginkan. Bentuknya dapat berupa emulsi konvensional hingga teknologi seperti liposom, nanoemulsion, nanostructured lipid carrier [NLC], atau sistem enkapsulasi lainnya.Karena itu, dua formula yang mencantumkan bahan aktif serupa belum tentu memberikan performa identik. Perbedaannya dapat berasal dari konsentrasi, tetapi juga dari kelarutan, stabilitas, jenis pembawa, pelepasan bahan, hingga kemampuan formula mempertahankan kontak dengan kulit. Dalam formulasi kosmetik, ‘kendaraan’ dapat sama pentingnya dengan ‘penumpang’.Baca Juga: Mengapa Bahan Aktif yang Stabil di Dalam Botol Belum Tentu Stabil Setelah Dibuka?Bahan Aktif Harus Sampai dalam Kondisi yang Masih Bisa BekerjaKulit memiliki fungsi utama sebagai pelindung, bukan sebagai permukaan yang membiarkan semua zat masuk dengan mudah. Lapisan stratum corneum membatasi perpindahan berbagai molekul dari lingkungan menuju lapisan kulit yang lebih dalam. Sifat bahan seperti ukuran molekul, kelarutan, lipofilisitas, serta karakter formulanya kemudian menentukan bagaimana bahan tersebut berinteraksi dengan skin barrier.Prof. Dr. apt. Sriwidodo, M.Si. dari Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran memiliki bidang keahlian Rekayasa Kosmetik, Farmasetika, dan Biofarmasetika, dengan portofolio penelitian yang juga mencakup sistem penghantaran berbasis liposom, hidrogel, dan nanopartikel. Risetnya memperlihatkan prinsip penting bahwa pengembangan bahan aktif tidak berhenti pada pemilihan molekul, tetapi juga mencakup bagaimana bahan tersebut diformulasikan dan dihantarkan.Salah satu contoh yang mudah dipahami adalah NLC. Dalam riset Sriwidodo mengenai sistem NLC-hidrogel, pembawa lipid dijelaskan dapat membantu meningkatkan stabilitas bahan aktif lipofilik, meningkatkan penetrasi, serta memberikan pelepasan yang lebih terkontrol. Penelitian tersebut memang ditujukan untuk penghantaran obat pada luka diabetik, bukan kosmetik, tetapi prinsip farmasetika yang diperlihatkannya membantu menjelaskan mengapa teknologi pembawa menjadi bidang penting dalam pengembangan sediaan topikal.Liposom bekerja dengan pendekatan yang berbeda. Struktur vesikelnya memungkinkan bahan tertentu ditempatkan di dalam atau berasosiasi dengan sistem pembawa, sehingga karakter bahan aktif dapat dikelola melalui formulasi. Portofolio riset Sriwidodo, misalnya, mencatat pengembangan hidrogel kitosan-liposom dan film-forming system dengan bahan aktif tersalut liposom, menunjukkan bagaimana sistem penghantaran dapat dirancang bersama bentuk sediaannya.Baca Juga: Mengapa Bentuk Turunan dari Bahan Aktif Bisa Sama Pentingnya dengan Nama Bahannya?Teknologi Penghantaran Bukan Sekadar Kata Canggih pada KemasanApt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., tenaga ahli PT Lunaray Cahaya Abadi dan dosen tamu/eksternal Prodi Rekayasa Kosmetik Fakultas Farmasi Unpad, juga pernah terlibat dalam kajian ilmiah mengenai efektivitas bahan aktif dalam sediaan kosmetik. Kajian yang ditulis bersama peneliti Unpad menekankan bahwa bahan aktif perlu diformulasikan menjadi bentuk sediaan agar mudah digunakan sekaligus mencapai efek yang diharapkan, dan efektivitas tersebut tetap membutuhkan pembuktian melalui pengujian yang komprehensif.Perspektif tersebut penting karena istilah seperti ‘liposom’, ‘enkapsulasi’, atau ‘nano’ mudah berubah menjadi bahasa pemasaran. Keberadaan teknologi penghantaran saja belum membuktikan bahwa sebuah produk otomatis lebih efektif. Formulator tetap perlu mempertimbangkan karakter bahan aktif, ukuran dan kestabilan sistem, kompatibilitas dengan bahan lain, bentuk sediaan, target penggunaan, serta bukti pengujiannya.Sistem penghantaran juga tidak selalu bertujuan membawa bahan sejauh mungkin ke dalam kulit. Untuk bahan tertentu, target kerjanya justru berada pada permukaan atau lapisan kulit yang relatif luar. Desain formulasi yang baik karena itu bukan perlombaan untuk mendapatkan penetrasi terdalam, melainkan usaha menempatkan bahan pada lokasi yang sesuai dengan tujuan penggunaannya.Ada pula persoalan waktu. Sebagian sistem dirancang untuk membantu mengontrol pelepasan bahan sehingga tidak seluruhnya tersedia sekaligus. Penelitian Unpad mengenai film-forming system berbasis kitosan, misalnya, menjelaskan bahwa terbentuknya film tipis pada kulit dapat memperpanjang kontak dan mengontrol pelepasan bahan. Sekali lagi, konteks riset tersebut adalah penghantaran obat, tetapi konsepnya menunjukkan bagaimana bentuk sediaan dapat memengaruhi perilaku bahan setelah diaplikasikan.Cara berpikir ini membuat angka konsentrasi perlu dibaca dengan lebih hati-hati. Formula dengan persentase bahan aktif lebih tinggi tidak otomatis lebih unggul apabila bahannya mudah terdegradasi, sulit larut, tidak tersedia dengan baik pada target, atau justru menimbulkan masalah tolerabilitas. Sebaliknya, formulasi yang dirancang dengan sistem penghantaran tepat dapat berusaha mengoptimalkan bahan tanpa semata-mata mengejar angka terbesar.Konsumen tentu tidak perlu memahami seluruh teknologi farmasetika sebelum membeli serum. Namun, pengetahuan mengenai delivery system membantu mengubah pertanyaan yang diajukan: bukan lagi hanya “berapa persen bahan aktifnya?”, melainkan bagaimana bahan itu diformulasikan, seberapa stabil formulanya, apakah teknologi yang diklaim memiliki bukti, dan apakah produk telah diuji sesuai manfaat yang dijanjikan.Nama bahan aktif memang penting, tetapi nama itu baru memberi tahu apa yang dimasukkan ke dalam formula. Kinerja produk ditentukan oleh sistem yang jauh lebih besar: bagaimana bahan dipertahankan, dibawa, dilepaskan, dan dibuat tersedia pada target yang tepat. Karena dalam formulasi kosmetik, memiliki bahan aktif yang bagus hanyalah awal—membuatnya bekerja dengan tepat merupakan persoalan yang berbeda. [][Adrian Damar/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Mengapa Bedak Bisa Membuat Makeup Lebih Halus tetapi Juga Terlihat Cakey?
Decorative

28 Sep 2026

Mengapa Bedak Bisa Membuat Makeup Lebih Halus tetapi Juga Terlihat Cakey?

Bedak dapat membuat riasan tampak halus dan lebih tahan lama. Namun, lapisan yang sama juga bisa berubah menjadi tebal, pecah, dan terlihat cakey.Bedak memiliki peran yang nyaris tidak tergantikan dalam banyak rutinitas makeup. Setelah foundation dan concealer diaplikasikan, lapisan tipis bedak dapat mengurangi kilap, membuat permukaan kulit tampak lebih rata, dan membantu riasan terasa lebih stabil. Pada kulit berminyak, kemampuannya menyerap sebagian minyak juga membuat hasil akhir terasa lebih nyaman.Namun, produk yang sama dapat memberikan hasil yang sangat berbeda. Bedak yang semula membuat kulit terlihat halus dapat berkumpul di sekitar hidung, garis senyum, atau bawah mata beberapa jam kemudian. Tekstur kulit menjadi semakin terlihat dan riasan tampak seperti lapisan yang berdiri sendiri di atas wajah.Fenomena tersebut sering disebut cakey makeup. Masalahnya tidak selalu berasal dari satu produk yang buruk, tetapi dari terlalu banyak lapisan, kondisi kulit, karakter bedak, foundation di bawahnya, serta jumlah sebum yang muncul selama pemakaian. Karena itu, menambahkan lebih banyak bedak untuk memperbaiki riasan yang mulai berubah tidak selalu menyelesaikan masalah.Yang sebenarnya terjadi cukup menarik: bedak memang dirancang untuk menyerap minyak dan memperbaiki tampilan permukaan, tetapi kemampuan tersebut memiliki batas. Ketika jumlah bedak terlalu banyak atau kulit di bawahnya tidak berada dalam kondisi yang sesuai, manfaat yang sama dapat berubah menjadi penyebab tampilan berat.Baca Juga: Benarkah Semua Produk Makeup Memiliki Masa Pakai yang Sama Setelah Dibuka?Partikel Bedak Membantu Menghaluskan, tetapi Bisa MenumpukBedak wajah umumnya memanfaatkan kombinasi partikel yang membantu memberikan efek matte, menyerap minyak, menambah daya tutup, atau menciptakan rasa lebih halus pada kulit. Dermatolog sekaligus peneliti kosmetik Dr. Zoe Diana Draelos menjelaskan bahwa facial powder dapat memberikan kontrol minyak, hasil akhir matte, serta rasa halus pada permukaan kulit. Ia juga mencatat bahwa bedak dapat membantu meningkatkan ketahanan foundation, terutama ketika sebum mulai muncul. Efek tersebut menjelaskan mengapa riasan sering tampak lebih rapi beberapa menit setelah bedak diaplikasikan. Partikel membantu mengurangi pantulan minyak dan mengubah cara cahaya mengenai permukaan wajah. Namun, terlalu banyak produk dapat menghasilkan tampilan seperti tepung atau floured appearance, terutama ketika lapisannya tidak benar-benar menyatu dengan foundation. Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., yang menjadi dosen tamu Prodi Rekayasa Kosmetik Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, memiliki latar belakang industri dan pengembangan produk kosmetik. Dalam konteks formulasi dekoratif, kondisi ini memperlihatkan mengapa performa bedak tidak dapat dinilai hanya dari seberapa halus partikelnya. Komposisi formula, kemampuan menyerap minyak, karakter lapisan di bawahnya, serta cara produk diaplikasikan ikut menentukan hasil akhir. Kulit kering memberikan tantangan yang berbeda. Draelos mencatat bahwa produk berbentuk bedak yang menyerap minyak dapat membuat kulit kering tampak semakin kering, sehingga penggunaan bedak perlu disesuaikan dengan karakter kulit. Lapisan bedak yang terlalu tebal pada area dehidrasi juga lebih mudah menonjolkan sisik dan tekstur yang sebelumnya tidak terlalu terlihat. Baca Juga: Mengapa Makeup Bisa Terlihat Bagus di Pagi Hari tetapi Berubah Menjelang Siang?Cakey Sering Berawal dari Lapisan yang Tidak Saling MenyatuPersiapan kulit sebelum makeup memiliki peran besar. Pelembap yang belum cukup menyatu, terlalu banyak lapisan skincare, atau permukaan kulit yang sangat kering dapat membuat foundation tidak membentuk lapisan yang stabil. Ketika bedak ditambahkan di atasnya, setiap ketidakteraturan di bawah permukaan menjadi lebih mudah terlihat.Sebum juga mengubah kondisi riasan sepanjang hari. Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Cosmetic Science pada 2024 menunjukkan bahwa sebum dapat memengaruhi penggelapan liquid foundation, dan karakter pigmen serta serbuk dalam formula menentukan seberapa besar perubahan tersebut terjadi. Temuan ini memperlihatkan bahwa riasan tidak berada pada permukaan yang statis; minyak kulit terus berinteraksi dengan formula selama pemakaian. Ketika minyak mulai menembus lapisan bedak, sebagian orang langsung menambahkan bedak baru. Cara tersebut dapat berhasil jika jumlahnya sedikit, tetapi pengulangan berkali-kali dapat menciptakan lapisan yang semakin tebal. Bedak kemudian bercampur dengan sebum, foundation, dan keringat hingga menghasilkan permukaan yang tampak menggumpal.Area bawah mata dan garis ekspresi juga mudah memperlihatkan efek tersebut. Kulit di area ini bergerak terus saat seseorang berbicara, tersenyum, atau berkedip. Ketika lapisan produk terlalu tebal, material kosmetik lebih mudah berkumpul di lipatan dan membuat hasil akhir yang semula halus menjadi semakin terlihat.Teknik aplikasi karena itu sama pentingnya dengan produknya. Menggunakan bedak tipis pada area yang membutuhkan, lalu menambah seperlunya, biasanya memberi ruang lebih besar bagi formula untuk menyatu. Pada kulit yang sudah kering, menambahkan lapisan tebal hanya demi membuat makeup lebih awet justru dapat menghasilkan efek sebaliknya.Bedak memang mampu memperbaiki tampilan riasan, tetapi manfaatnya muncul ketika jumlah, formula, dan kondisi kulit berada dalam keseimbangan. Tujuannya bukan membuat seluruh wajah kehilangan kilap sepenuhnya, melainkan membantu makeup bertahan sambil tetap mengikuti tekstur alami kulit. Ketika riasan mulai terlihat cakey, solusi terbaik sering bukan menambahkan lebih banyak bedak, tetapi memahami lapisan mana yang sebenarnya sudah terlalu banyak. [][Eva Evilia/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Ketika Membeli Produk Kecantikan Menjadi Cara Memberi Hadiah kepada Diri Sendiri
BeautyLife

22 Sep 2026

Ketika Membeli Produk Kecantikan Menjadi Cara Memberi Hadiah kepada Diri Sendiri

Hari terasa berat. Target berhasil dilewati. Produk kecantikan baru kemudian terasa seperti hadiah kecil yang pantas diberikan kepada diri sendiri.Ada alasan mengapa membeli lipstik, serum, parfum, atau produk perawatan tubuh dapat terasa lebih menyenangkan daripada sekadar memperoleh barang baru. Produk kecantikan sering membawa janji tentang pengalaman yang lebih nyaman, lebih segar, atau lebih menyenangkan. Karena itulah pembelian kosmetik mudah berubah menjadi bentuk self-reward setelah seseorang melewati hari yang melelahkan atau mencapai sesuatu yang dianggap penting.Kebiasaan tersebut sebenarnya tidak selalu bermasalah. Memberikan hadiah kepada diri sendiri dapat menjadi cara mengakui usaha yang sudah dilakukan, terutama ketika bentuk hadiahnya masih sesuai dengan kemampuan dan benar-benar memberi kesenangan. Masalah mulai muncul ketika setiap emosi, stres, atau pencapaian hampir selalu diikuti oleh kebutuhan membeli sesuatu.Dunia kecantikan membuat hubungan ini semakin menarik karena produknya sangat dekat dengan identitas dan pengalaman personal. Membeli sebuah parfum bukan hanya membeli cairan beraroma, sementara memilih lipstik baru tidak selalu semata-mata membeli warna. Produk sering membawa imajinasi tentang versi diri yang lebih segar, lebih percaya diri, atau sekadar memiliki sesuatu yang baru untuk dinikmati.Media sosial dan perdagangan digital memperpendek jarak antara dorongan tersebut dengan transaksi. Satu video dapat membuat produk terlihat menarik, beberapa sentuhan sudah cukup untuk memasukkannya ke keranjang, lalu promosi memberi alasan tambahan untuk segera membeli. Hadiah kepada diri sendiri yang semula muncul dari keputusan sadar bisa perlahan berubah menjadi respons otomatis terhadap suasana hati.Baca Juga: Mengapa Kita Sering Merasa Membutuhkan Produk Baru Padahal Produk Lama Belum Habis?Mengapa Membeli Sesuatu Bisa Terasa Seperti Hadiah Emosional?Psikologi konsumen mengenal konsep retail therapy, yaitu penggunaan aktivitas berbelanja untuk membantu memperbaiki suasana hati atau memberikan rasa kendali. Membeli sesuatu yang dipilih sendiri dapat menghadirkan antisipasi, kesenangan, dan pengalaman menentukan sesuatu untuk diri sendiri. Produk kecantikan sangat mudah masuk ke pola ini karena harganya tersedia dalam rentang luas dan penggunaannya berkaitan langsung dengan tubuh.Penelitian mengenai konsumsi juga menunjukkan bahwa antisipasi terhadap pembelian dapat menjadi bagian besar dari kesenangan itu sendiri. Produk yang belum dimiliki masih membawa kemungkinan mengenai pengalaman yang akan diperoleh ketika digunakan nanti. Setelah produk berada di rumah dan menjadi bagian dari rutinitas, intensitas rasa senangnya dapat berkurang sehingga perhatian mudah beralih kepada hal baru berikutnya.Dalam konteks perawatan diri, Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., sering menempatkan pemilihan produk pada kebutuhan dan fungsi yang jelas. Pendekatan tersebut relevan karena produk kecantikan tetap memiliki tujuan penggunaan, bukan hanya nilai emosional. Rasa senang ketika membeli dapat berjalan bersama pertimbangan apakah produk tersebut memang sesuai dengan kebutuhan kulit, rambut, atau tubuh.Psikolog Thomas Gilovich dari Cornell University banyak meneliti hubungan antara konsumsi dan kebahagiaan, terutama perbedaan pengalaman dengan kepemilikan materi. Temuannya menunjukkan bahwa rasa puas dari barang dapat beradaptasi seiring waktu, sementara pengalaman sering memiliki pola kepuasan yang berbeda. Hal ini tidak berarti membeli kosmetik salah, tetapi membantu menjelaskan mengapa kepuasan terhadap produk baru tidak selalu berlangsung selama yang dibayangkan.Baca Juga: Ketika Rutinitas Merawat Diri Berubah Jadi Waktu untuk Beristirahat dari Dunia DigitalSelf-Reward Menjadi Rumit Ketika Selalu Harus Berbentuk BarangMemberi hadiah kepada diri sendiri sebenarnya memiliki banyak bentuk. Istirahat lebih awal, makan makanan yang disukai, menikmati waktu tanpa pekerjaan, berjalan santai, atau menonton sesuatu yang menyenangkan juga dapat menjadi bentuk apresiasi. Ketika hadiah selalu diterjemahkan sebagai pembelian, pilihan untuk merawat diri menjadi semakin sempit.Ada pula risiko bahwa belanja digunakan untuk menutupi emosi yang sebenarnya membutuhkan perhatian berbeda. Hari yang buruk dapat terasa sedikit lebih ringan setelah paket dipesan, tetapi penyebab stresnya tetap ada. Jika pola ini terus berulang, aktivitas membeli dapat menjadi cara tercepat untuk memperoleh rasa nyaman tanpa benar-benar menyelesaikan hal yang membuat tubuh atau pikiran kelelahan.Kebiasaan sederhana seperti memberi jeda sebelum membeli dapat membantu membedakan rasa ingin dan kebutuhan. Produk bisa disimpan terlebih dahulu dalam daftar keinginan, kemudian dinilai kembali beberapa hari berikutnya. Bila keinginan itu tetap terasa relevan dan pembeliannya tidak mengganggu kebutuhan lain, proses membeli justru dapat terasa lebih menyenangkan karena keputusan dibuat dengan kesadaran penuh.Pendekatan serupa dapat diterapkan dengan melihat produk yang sudah dimiliki. Menghabiskan parfum favorit, menggunakan kembali palet makeup yang sempat terlupakan, atau benar-benar menjalani rutinitas dengan produk yang sudah ada dapat menciptakan bentuk apresiasi yang tidak selalu membutuhkan transaksi baru. Barang lama terkadang kehilangan daya tarik bukan karena sudah tidak berguna, tetapi karena tidak lagi memiliki sensasi kebaruan.Industri kecantikan akan terus menawarkan hal-hal baru, dan menikmati produk baru tetap menjadi bagian menyenangkan dari dunia tersebut. Yang perlu dijaga adalah agar self-reward tetap menjadi pilihan, bukan pola otomatis setiap kali emosi membutuhkan penghiburan. Hadiah terasa lebih bermakna ketika diberikan karena benar-benar diinginkan, bukan karena algoritma, diskon, atau hari yang buruk membuat keranjang belanja terasa seperti satu-satunya tempat untuk mencari rasa nyaman.Membeli produk kecantikan dapat menjadi cara yang menyenangkan untuk merayakan diri, selama kebiasaan itu tidak menjadi satu-satunya bahasa penghargaan yang dimiliki. Merawat diri juga berarti mengetahui kapan harus membeli sesuatu yang membuat senang dan kapan tubuh sebenarnya meminta bentuk perhatian yang lain. Di antara dua pilihan tersebut, ada ruang untuk menikmati kecantikan tanpa harus menjadikan setiap rasa lelah sebagai alasan membuka halaman pembayaran. [][Liora Maheswari/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Mengapa Makeup Bisa Terlihat Bagus di Pagi Hari tetapi Berubah Menjelang Siang?
Decorative

11 Sep 2026

Mengapa Makeup Bisa Terlihat Bagus di Pagi Hari tetapi Berubah Menjelang Siang?

Pagi hari, riasan tampak halus dan menyatu. Beberapa jam kemudian, hasilnya bisa mengilap, bergeser, atau pecah. Apa yang sebenarnya terjadi?Beberapa menit setelah selesai berdandan sering menjadi momen ketika makeup terlihat paling sempurna. Foundation masih merata, concealer belum membentuk garis, dan bedak memberikan hasil akhir sesuai keinginan. Namun, kondisi tersebut sebenarnya baru menggambarkan pertemuan awal antara kosmetik dan kulit.Setelah beberapa jam, kulit terus menjalankan fungsi biologisnya. Sebum diproduksi, keringat dapat muncul, air menguap dari permukaan kulit, dan wajah bergerak ketika berbicara atau berekspresi. Lapisan makeup yang berada di atasnya harus menghadapi semua perubahan tersebut.Lingkungan ikut menambah tantangan. Cuaca panas dan lembap, ruangan berpendingin udara, paparan matahari, hingga gesekan dari tangan, masker, atau tisu dapat mengubah tampilan riasan. Tidak mengherankan apabila hasil yang terlihat pada pukul tujuh pagi berbeda ketika diperiksa kembali saat makan siang.Karena itu, perubahan makeup sepanjang hari tidak selalu berarti produk yang digunakan buruk. Hasil riasan merupakan pertemuan antara kondisi kulit, formulasi kosmetik, produk yang digunakan sebelumnya, teknik aplikasi, serta lingkungan selama pemakaian.Baca Juga: Benarkah Semua Produk Makeup Memiliki Masa Pakai yang Sama Setelah Dibuka?Kulit di Bawah Makeup Tidak Berhenti BerubahSebum menjadi salah satu faktor yang paling mudah terlihat. Minyak yang muncul beberapa jam setelah aplikasi dapat bercampur dengan lapisan foundation, bedak, dan produk lain di permukaan kulit. Hasilnya bisa berupa kilap yang semakin jelas, warna yang terlihat berbeda, atau riasan yang mulai bergeser pada area tertentu.Kondisi sebaliknya juga dapat terjadi. Kulit yang kekurangan hidrasi atau memiliki area sangat kering dapat membuat riasan semakin memperjelas tekstur setelah beberapa jam. Foundation yang semula terlihat rata dapat mulai tampak pecah atau berkumpul pada bagian tertentu ketika kondisi permukaan kulit berubah.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menjelaskan bahwa performa kosmetik dekoratif tidak hanya ditentukan oleh pigmen atau warna. Sistem pembentuk lapisan, minyak, serbuk, bahan pengikat, serta komponen lain dalam formula ikut menentukan bagaimana produk menempel dan bertahan pada kulit. Kondisi permukaan tempat produk diaplikasikan karena itu menjadi bagian penting dari hasil akhirnya.Gerakan wajah juga tidak dapat diabaikan. Area sekitar mata, mulut, dan dahi mengalami gerakan berulang sepanjang hari sehingga lapisan kosmetik harus mengikuti perubahan permukaan tersebut. Itulah sebabnya concealer dapat lebih mudah membentuk garis di bawah mata atau foundation mulai terlihat berbeda pada lipatan ekspresi.Baca Juga: Mengapa Warna Foundation yang Cocok di Toko Bisa Berbeda Saat Dipakai di Luar Ruangan?Persiapan Kulit dan Formula Perlu Saling MengenalRutinitas sebelum makeup dapat memengaruhi hasil beberapa jam kemudian. Menggunakan terlalu banyak lapisan skincare, misalnya, dapat membuat produk dekoratif sulit membentuk lapisan yang stabil apabila formulanya tidak kompatibel. Sebaliknya, melewatkan pelembap pada kulit yang membutuhkannya dapat membuat riasan lebih mudah memperlihatkan area kering.Masalah kompatibilitas juga menjelaskan mengapa kombinasi produk tertentu dapat mengalami pilling. Lapisan di bawahnya belum terbentuk dengan baik, jumlah produk terlalu banyak, atau sistem formula antarlapisan tidak bekerja harmonis ketika digosokkan. Karena itu, menambah lebih banyak primer, serum, atau bedak belum tentu otomatis membuat riasan bertahan lebih lama.Teknik aplikasi memiliki peran yang sama pentingnya. Lapisan foundation yang sangat tebal memiliki lebih banyak material yang dapat bergerak, berkumpul, atau membentuk garis dibandingkan lapisan tipis yang diaplikasikan secara bertahap. Bedak pun dapat difokuskan pada area yang memang cepat berminyak daripada digunakan berlebihan pada seluruh wajah.Klaim seperti long-wear, matte, atau transfer-resistant dapat membantu memilih karakter produk, tetapi bukan berarti riasan menjadi kebal terhadap seluruh kondisi. Performa tetap dipengaruhi jumlah produk, tipe kulit, aktivitas, suhu, kelembapan, dan produk lain yang digunakan bersamanya. Delapan jam pemakaian di ruangan berpendingin udara tentu memberikan tantangan berbeda dari delapan jam beraktivitas di luar ruangan.Saat riasan mulai berubah, melakukan touch-up juga tidak harus berarti menambahkan banyak produk. Minyak berlebih dapat dikurangi terlebih dahulu sebelum bedak ditambahkan kembali, sedangkan area yang terlihat kering membutuhkan pendekatan berbeda. Memahami apa yang berubah pada wajah membantu menentukan koreksi yang lebih tepat daripada sekadar menumpuk lapisan baru.Makeup yang berubah menjelang siang sebenarnya memperlihatkan bahwa kosmetik tidak digunakan pada permukaan yang statis. Kulit bergerak, menghasilkan sebum dan keringat, sementara lingkungan terus berubah sepanjang hari. Target yang lebih realistis bukan membuat riasan terlihat persis seperti satu menit setelah selesai diaplikasikan, melainkan memilih formula dan teknik yang membuat perubahannya tetap terlihat nyaman dan terkendali. [][Eva Evilia/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Mitos: Kosmetik Mahal Pasti Menggunakan Bahan yang Lebih Berkualitas
MythBuster

13 Agt 2026

Mitos: Kosmetik Mahal Pasti Menggunakan Bahan yang Lebih Berkualitas

Harganya bisa berbeda berkali-kali lipat. Klaimnya sama-sama menarik. Namun, apakah kosmetik mahal pasti dibuat dari bahan yang lebih berkualitas?Harga sering menjadi jalan pintas ketika kita harus menilai sesuatu yang belum benar-benar dipahami. Sepatu mahal diasumsikan lebih awet, perangkat elektronik mahal dianggap lebih canggih, dan pola serupa mudah terbawa ketika memilih kosmetik. Produk dengan harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah kemudian dianggap otomatis memiliki bahan yang lebih bagus daripada produk dengan harga lebih terjangkau.Anggapan tersebut semakin kuat ketika kosmetik premium hadir dengan kemasan mewah, tekstur menyenangkan, aroma khas, dan pengalaman penggunaan yang terasa berbeda. Semua elemen itu memang memiliki nilai dan membutuhkan biaya untuk dikembangkan. Namun, harga akhir sebuah produk tidak hanya ditentukan oleh bahan yang berada di dalam kemasannya.Ada biaya penelitian, pengembangan formula, pengujian, produksi, kemasan, distribusi, pemasaran, endorsement, posisi brand, hingga margin pada setiap jalur penjualan. Dua produk bahkan dapat menggunakan bahan aktif yang secara fungsi serupa, tetapi dijual pada rentang harga yang sangat berbeda karena strategi bisnis dan pengalaman produk yang ditawarkan tidak sama.Karena itu, pertanyaan tentang kualitas kosmetik seharusnya tidak berhenti pada “berapa harganya?”. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana bahan tersebut dipilih, bagaimana formulanya dikembangkan, apakah stabilitas dan keamanannya diuji, serta apakah klaim produk memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.Baca Juga: Mitos: Produk Berbusa Lebih Efektif Membersihkan KulitHarga Bahan Baku Tidak Sama dengan Kualitas FormulaDalam industri kosmetik, nama bahan pada daftar komposisi hanya memberikan sebagian informasi. Niacinamide tetap ditulis sebagai niacinamide, misalnya, tetapi kualitas bahan baku dapat dipengaruhi spesifikasi, tingkat kemurnian, profil pengotor, konsistensi antarbets, serta standar yang ditetapkan pemasok. Hal yang sama berlaku pada berbagai bahan lain yang digunakan dalam formulasi kosmetik.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menjelaskan bahwa kualitas bahan baku tidak semestinya dinilai hanya berdasarkan nama maupun harganya. Spesifikasi bahan, dokumen mutu, kesesuaian dengan tujuan formulasi, serta kontrol kualitas menjadi jauh lebih relevan untuk memastikan bahan tersebut dapat digunakan secara konsisten. Bahan yang mahal pun tidak otomatis menghasilkan produk yang baik apabila pemilihannya tidak sesuai dengan kebutuhan formula.Di sisi lain, formula kosmetik bukan sekadar kumpulan bahan unggulan yang dicampurkan ke dalam satu wadah. Formulator harus mempertimbangkan konsentrasi, pH, kelarutan, stabilitas, kompatibilitas antarbahan, sistem pengawet, hingga karakter sensoris produk. Bahan aktif yang populer sekalipun dapat memberikan performa kurang optimal ketika keseluruhan sistem formulanya tidak mendukung.Menurut ahli dermatologi kosmetik Dr. Zoe Diana Draelos dalam berbagai publikasinya mengenai formulasi kosmetik, manfaat sebuah produk perlu dipahami dari keseluruhan formula dan cara bahan berinteraksi dengan kulit. Konsumen karena itu tidak dapat menyimpulkan efektivitas hanya dengan menemukan satu nama bahan yang terkenal pada daftar komposisi. Harga produk juga tidak memberikan informasi yang cukup untuk menjawab persoalan tersebut.Baca Juga: Mitos: Kosmetik Berlabel Vegan Selalu Lebih BaikLalu, Apa Sebenarnya yang Kita Bayar?Produk premium tentu dapat menawarkan sesuatu yang bernilai. Perusahaan mungkin menggunakan teknologi penghantaran bahan yang lebih kompleks, melakukan pengembangan formula selama bertahun-tahun, memilih bahan dengan spesifikasi tertentu, atau menjalankan pengujian yang lebih luas. Pengalaman penggunaan seperti tekstur, aroma, kemasan, dan stabilitas produk juga merupakan bagian nyata dari proses pengembangan kosmetik.Namun, konsumen juga membayar berbagai komponen yang tidak berkaitan langsung dengan efektivitas bahan pada kulit. Desain botol yang rumit, kampanye global, toko di lokasi premium, celebrity ambassador, serta citra eksklusif sebuah brand ikut membentuk harga. Semua itu sah sebagai bagian dari strategi produk, tetapi berbeda dari bukti bahwa kandungan di dalamnya pasti lebih unggul.Hal sebaliknya juga perlu diingat. Produk dengan harga terjangkau tidak otomatis menggunakan bahan berkualitas rendah. Skala produksi besar, kemasan sederhana, jalur distribusi yang efisien, pilihan bahan yang tersedia luas, dan biaya pemasaran yang berbeda dapat memungkinkan sebuah perusahaan menawarkan formula yang baik dengan harga lebih rendah.Mitos bahwa kosmetik mahal pasti memiliki bahan yang lebih berkualitas akhirnya muncul karena kita mencoba menggunakan satu angka sebagai pengganti banyak informasi yang tidak terlihat. Harga memang dapat mencerminkan sebagian biaya pengembangan dan kualitas, tetapi tidak dapat berdiri sendiri sebagai alat ukur. Produk Rp1 juta belum tentu sepuluh kali lebih efektif dibanding produk Rp100 ribu hanya karena harganya sepuluh kali lebih tinggi.Membaca klaim secara kritis, memahami fungsi bahan, memperhatikan kredibilitas produsen, dan menilai kecocokan produk dengan kebutuhan kulit memberikan informasi yang jauh lebih berguna. Kosmetik premium boleh dipilih karena formulanya, kenyamanannya, teknologinya, atau bahkan pengalaman mewah yang ditawarkan. Namun, kualitas ilmiah tidak pernah menjadi monopoli sebuah rentang harga, dan label harga bukan sertifikat mutu yang ditempelkan pada sebuah formula. [][Rudi Tenggarawan/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Mengapa Warna Foundation yang Cocok di Toko Bisa Berbeda Saat Dipakai di Luar Ruangan?
Decorative

07 Agt 2026

Mengapa Warna Foundation yang Cocok di Toko Bisa Berbeda Saat Dipakai di Luar Ruangan?

Warnanya terasa pas saat dicoba di toko. Wajah tampak menyatu dengan foundation. Begitu keluar ruangan, hasilnya ternyata bisa terlihat sangat berbeda.Mencari warna foundation yang tepat kadang terasa seperti teka-teki. Saat dicoba di depan cermin toko kosmetik, sebuah shade dapat terlihat menyatu sempurna dengan kulit. Beberapa menit kemudian, ketika bercermin di bawah sinar matahari, warnanya justru tampak terlalu terang, terlalu kuning, kemerahan, atau bahkan sedikit abu-abu.Pengalaman seperti ini bukan selalu berarti seseorang salah melihat warna kulitnya. Mata manusia membaca warna berdasarkan cahaya yang mengenai sebuah objek, sementara jenis pencahayaan di dalam toko berbeda dengan cahaya alami di luar ruangan. Warna kulit dan foundation yang sebenarnya sama dapat terlihat berbeda ketika sumber cahayanya berubah.Ada faktor lain yang membuat persoalannya semakin menarik. Warna foundation yang terlihat tepat ketika pertama kali diaplikasikan juga dapat mengalami sedikit perubahan setelah beberapa waktu berada di kulit. Sebum, keringat, lapisan skincare, dan karakter formula dapat memengaruhi tampilan akhirnya.Karena itu, memilih foundation sebenarnya tidak cukup dengan menemukan warna yang tampak mirip ketika dioleskan. Ada undertone, pencahayaan, kondisi kulit, dan karakter formula yang perlu dipertimbangkan agar hasilnya tetap terlihat natural dalam berbagai situasi.Baca Juga: Warna Makeup yang Sedang Viral dan Pengaruhnya pada Ekspresi DiriCahaya Bisa Mengubah Cara Mata Membaca WarnaPencahayaan di toko kosmetik biasanya dirancang agar produk dan wajah konsumen terlihat menarik. Lampu dengan temperatur warna tertentu dapat membuat kulit terlihat lebih hangat, lebih cerah, atau lebih merata. Masalahnya, kondisi pencahayaan tersebut belum tentu menyerupai lingkungan tempat foundation nantinya paling sering digunakan.Cahaya matahari memiliki spektrum yang lebih luas sehingga perbedaan warna dapat terlihat lebih jelas. Foundation yang tampak menyatu di bawah lampu dengan nuansa hangat, misalnya, bisa menunjukkan warna kekuningan yang lebih kuat ketika dibawa ke luar ruangan. Sebaliknya, pencahayaan yang terlalu dingin dapat membuat beberapa warna terlihat lebih pucat daripada kondisi sebenarnya.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menjelaskan bahwa warna kosmetik dekoratif merupakan hasil interaksi antara pigmen, formulasi, permukaan kulit, dan cahaya yang mengenainya. Karena itu, evaluasi warna sebaiknya tidak hanya dilakukan sesaat setelah produk diaplikasikan. Memberikan waktu kepada formula untuk beradaptasi dengan permukaan kulit dapat membantu menunjukkan tampilan warna yang lebih representatif.Persoalan berikutnya adalah undertone. Dua orang dapat memiliki tingkat kecerahan kulit yang hampir sama, tetapi satu memiliki undertone hangat dan yang lain cenderung netral atau dingin. Jika tingkat kecerahannya tepat tetapi undertone-nya tidak sesuai, foundation tetap dapat terlihat seperti lapisan warna yang terpisah dari kulit.Dikutip dari berbagai materi edukasi American Academy of Dermatology, warna kulit manusia dipengaruhi oleh beberapa komponen biologis, terutama melanin, hemoglobin, dan karoten. Variasi komponen tersebut membuat warna kulit jauh lebih kompleks daripada kategori terang, medium, atau gelap. Itulah sebabnya proses shade matching membutuhkan perhatian terhadap nuansa warna, bukan sekadar tingkat kecerahannya.Baca Juga: Kenapa Kita Lebih Berani Mencoba Warna di Makeup daripada dalam Hidup?Jangan Menentukan Shade Hanya dalam Beberapa DetikKebiasaan mencoba foundation pada punggung tangan juga dapat membuat pemilihan warna menjadi kurang akurat. Warna tangan tidak selalu identik dengan wajah, terlebih jika keduanya menerima paparan matahari dalam intensitas berbeda. Area rahang menuju leher biasanya memberikan gambaran yang lebih relevan untuk melihat apakah warna foundation menyatu dengan keseluruhan penampilan.Setelah menemukan beberapa kandidat, sebaiknya jangan langsung mengambil keputusan. Aplikasikan sedikit produk, tunggu beberapa menit, kemudian lihat hasilnya di bawah pencahayaan berbeda apabila memungkinkan. Langkah sederhana ini juga membantu mengamati apakah formula mengalami perubahan tampilan setelah bercampur dengan minyak alami pada permukaan kulit.Perubahan yang sering disebut sebagai oksidasi juga perlu diperhatikan. Dalam percakapan mengenai makeup, istilah ini biasanya digunakan ketika warna foundation terlihat menjadi lebih gelap atau lebih hangat setelah beberapa waktu. Namun, perubahan tampilan tersebut tidak selalu disebabkan satu reaksi kimia sederhana karena interaksi antara pigmen, minyak, kelembapan, formula, dan kondisi kulit dapat ikut memengaruhinya.Pemilihan foundation karena itu sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan, "Apakah warnanya sama dengan kulit?". Pertanyaan yang lebih berguna adalah apakah warna tersebut tetap menyatu dengan wajah dan leher setelah beberapa waktu serta terlihat wajar di bawah cahaya yang berbeda. Sedikit kesabaran saat mencoba produk dapat mengurangi kemungkinan membeli shade yang ternyata hanya terlihat sempurna di depan cermin toko.Foundation yang baik tidak seharusnya membuat wajah kehilangan warna alaminya. Tujuannya adalah membantu meratakan tampilan kulit tanpa menciptakan batas yang terasa asing antara wajah, rahang, dan leher. Cahaya matahari sering menjadi penguji yang jujur, sehingga sesekali membawa hasil shade matching keluar dari toko bisa menjadi langkah kecil yang menyelamatkan satu botol foundation dari berakhir tanpa pernah digunakan. [][Eva Evilia/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Tanya Dong: Apakah Semua Produk Viral Cocok di Semua Kulit?
TanyaDong

29 Jul 2026

Tanya Dong: Apakah Semua Produk Viral Cocok di Semua Kulit?

Produk yang viral sering membuat banyak orang penasaran. Hasilnya terlihat meyakinkan. Namun, apakah semua kulit akan memberikan respons yang sama?Media sosial membuat informasi mengenai kosmetik menyebar jauh lebih cepat dibanding beberapa tahun lalu. Sebuah produk dapat berubah dari yang sebelumnya tidak banyak dikenal menjadi incaran ribuan orang hanya dalam hitungan hari. Video ulasan, foto before-after, hingga rekomendasi dari content creator membuat banyak konsumen tergoda untuk mencoba produk yang sedang ramai diperbincangkan.Fenomena tersebut sebenarnya menunjukkan sisi positif. Konsumen menjadi lebih aktif mencari informasi sebelum membeli produk, sementara produsen terdorong untuk terus berinovasi. Akan tetapi, popularitas sering kali disalahartikan sebagai jaminan bahwa sebuah produk pasti cocok digunakan oleh siapa saja.Padahal, kulit setiap orang memiliki karakteristik yang berbeda. Faktor seperti jenis kulit, kondisi skin barrier, usia, lingkungan, hingga riwayat sensitivitas dapat memengaruhi bagaimana kulit merespons sebuah produk. Karena itu, hasil yang sangat baik pada satu orang belum tentu akan muncul pada orang lain.Baca Juga: Tanya Dong: Apakah Semua Orang Perlu Menyesuaikan Rutinitas Skincare dengan Iklim? Produk Viral Menunjukkan Popularitas, Bukan Kecocokan UniversalSalah satu alasan sebuah produk menjadi viral adalah karena banyak orang membagikan pengalaman positif mereka. Testimoni semacam ini memang dapat menjadi referensi awal bagi konsumen. Namun, pengalaman pribadi tetap tidak bisa disamakan dengan bukti bahwa produk tersebut akan memberikan hasil yang sama pada semua orang.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menjelaskan bahwa kecocokan kosmetik tidak ditentukan oleh tingkat popularitasnya, melainkan oleh kesesuaian formulasi dengan kondisi kulit masing-masing individu. Menurutnya, memahami fungsi bahan aktif dan kebutuhan kulit jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti tren yang sedang berkembang.Sebagai contoh, seseorang dengan kulit berminyak mungkin memperoleh hasil yang sangat baik dari produk yang mengandung salicylic acid. Namun, orang lain yang memiliki skin barrier sensitif justru dapat mengalami rasa kering atau iritasi apabila produk tersebut digunakan tanpa penyesuaian. Hal serupa juga berlaku pada berbagai bahan aktif lain yang sedang populer.American Academy of Dermatology menjelaskan bahwa respons kulit dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk kondisi kesehatan kulit, kebiasaan penggunaan produk, serta kombinasi bahan dalam rutinitas skincare. Oleh karena itu, rekomendasi dari orang lain sebaiknya diperlakukan sebagai informasi tambahan, bukan sebagai kepastian hasil.Melihat sebuah produk menjadi viral memang tidak ada salahnya. Justru dari tren tersebut, konsumen dapat mengenal inovasi baru atau bahan aktif yang sebelumnya belum banyak diketahui. Yang perlu diingat adalah keputusan membeli sebaiknya tetap didasarkan pada informasi ilmiah dan kebutuhan kulit, bukan semata-mata karena banyak orang menggunakannya.Baca Juga: Tanya Dong: Kenapa Kulit Kadang Terasa Baik-Baik Saja Lalu Tiba-Tiba Rewel?Sebelum Ikut Tren, Kenali Dulu Kebutuhan Kulit SendiriKetika menemukan produk yang sedang populer, ada beberapa pertanyaan sederhana yang layak dijawab terlebih dahulu. Apakah produk tersebut memang dirancang untuk jenis kulit yang dimiliki? Apakah kandungan aktifnya sesuai dengan kondisi kulit saat ini? Apakah rutinitas yang sudah digunakan memungkinkan produk baru ditambahkan tanpa meningkatkan risiko iritasi?Membaca daftar ingredient juga membantu konsumen memahami apa yang sebenarnya ditawarkan oleh sebuah produk. Klaim pemasaran dapat menarik perhatian, tetapi komposisi bahan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai fungsi utama produk tersebut. Dengan memahami kandungannya, keputusan yang diambil menjadi lebih rasional.Dermatolog Dr. Zoe Diana Draelos menjelaskan bahwa keberhasilan sebuah produk kosmetik bergantung pada formulasi secara keseluruhan, bukan hanya satu bahan aktif yang sedang populer. Konsentrasi bahan, stabilitas formula, cara penggunaan, dan kondisi kulit pengguna merupakan faktor yang saling berkaitan dalam menentukan hasil penggunaan.Langkah sederhana seperti melakukan patch test sebelum menggunakan produk secara rutin juga dapat membantu mengurangi risiko reaksi yang tidak diinginkan. Meskipun tidak mampu memprediksi semua kemungkinan, kebiasaan ini memberikan kesempatan bagi kulit untuk menunjukkan respons awal terhadap formula yang baru dikenalkan.Mengikuti tren bukanlah sesuatu yang keliru selama dilakukan dengan sikap kritis. Produk yang sedang viral bisa saja memang memiliki kualitas yang baik dan didukung oleh formulasi yang solid. Namun, keputusan terbaik tetap lahir ketika popularitas dipadukan dengan pemahaman mengenai kebutuhan kulit sendiri. Dengan begitu, produk yang dipilih bukan hanya sedang ramai dibicarakan, tetapi juga benar-benar memberikan manfaat bagi penggunanya. [][Tim Beautyversity/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Mitos: Kosmetik Berlabel Vegan Selalu Lebih Baik
MythBuster

16 Jul 2026

Mitos: Kosmetik Berlabel Vegan Selalu Lebih Baik

Label vegan semakin sering ditemukan pada produk kosmetik. Banyak orang kemudian menganggap produk dengan label tersebut otomatis lebih baik untuk kulit. Benarkah demikian?Perkembangan industri kosmetik membuat konsumen semakin peduli terhadap asal-usul bahan yang digunakan dalam sebuah produk. Selain memperhatikan kandungan aktif, banyak orang mulai mencari informasi mengenai proses produksi, dampaknya terhadap lingkungan, hingga nilai-nilai yang diusung oleh sebuah merek. Salah satu label yang semakin sering menjadi perhatian adalah vegan.Popularitas kosmetik vegan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Di media sosial, label ini sering dikaitkan dengan produk yang lebih aman, lebih alami, bahkan lebih sehat untuk kulit. Tidak sedikit konsumen yang langsung merasa yakin terhadap sebuah produk hanya karena melihat tulisan ‘vegan’ pada kemasannya.Padahal, label tersebut memiliki arti yang jauh lebih spesifik daripada sekadar menunjukkan kualitas sebuah produk. Dalam dunia kosmetik, vegan mengacu pada penggunaan bahan yang tidak berasal dari hewan maupun turunannya. Artinya, label ini berbicara mengenai sumber bahan baku, bukan secara otomatis mengenai efektivitas, keamanan, atau kecocokan produk bagi setiap orang.Baca Juga: Mitos: Produk Viral Selalu Lebih AmanLabel Vegan Bukan Penentu Kualitas ProdukKesalahpahaman yang paling sering muncul adalah anggapan bahwa kosmetik vegan pasti lebih aman dibanding produk lain. Padahal, keamanan kosmetik ditentukan oleh banyak faktor, mulai dari pemilihan bahan, kualitas formulasi, proses produksi, hingga pengujian keamanan sebelum produk dipasarkan.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menjelaskan bahwa label vegan memberikan informasi mengenai asal bahan yang digunakan dalam produk, bukan menjadi jaminan bahwa produk tersebut lebih efektif atau lebih sesuai untuk semua jenis kulit. Menurutnya, setiap formula tetap harus dinilai berdasarkan bukti ilmiah, stabilitas bahan, serta kesesuaian dengan kebutuhan kulit penggunanya.Sebagai contoh, bahan yang berasal dari tumbuhan tetap dapat memicu iritasi pada sebagian orang apabila memiliki potensi alergen atau digunakan dalam konsentrasi yang kurang tepat. Sebaliknya, beberapa bahan yang selama ini dikenal efektif dalam kosmetik modern justru memiliki alternatif sintetis yang dikembangkan untuk memberikan fungsi serupa tanpa berasal dari hewan.Dikutip dari American Academy of Dermatology, reaksi kulit lebih banyak dipengaruhi oleh sensitivitas individu terhadap suatu bahan dibanding status vegan atau tidaknya sebuah produk. Karena itu, membaca komposisi dan memahami kondisi kulit sendiri tetap menjadi langkah yang jauh lebih penting daripada hanya melihat satu label pada kemasan.Baca Juga: Mitos: Kulit yang Tak Bermasalah Tidak Perlu DirawatMemahami Perbedaan antara Vegan, Cruelty-Free, dan EfektivitasKesalahpahaman lain yang cukup sering terjadi adalah menyamakan istilah vegan dengan cruelty-free. Padahal, keduanya memiliki makna yang berbeda. Produk vegan berarti tidak menggunakan bahan yang berasal dari hewan, sedangkan cruelty-free mengacu pada produk yang tidak diuji pada hewan selama proses pengembangannya. Sebuah produk dapat memiliki salah satu label tersebut, keduanya sekaligus, atau bahkan tidak memiliki keduanya.Perbedaan ini penting dipahami karena banyak konsumen menggunakan kedua istilah tersebut secara bergantian. Akibatnya, muncul anggapan bahwa seluruh produk vegan pasti juga cruelty-free, atau sebaliknya. Dalam praktiknya, status tersebut bergantung pada kebijakan perusahaan, sumber bahan baku, serta standar sertifikasi yang digunakan.Menurut Dr. Zoe Diana Draelos, dermatolog dan peneliti kosmetik, kualitas sebuah produk tidak ditentukan oleh satu klaim yang dicantumkan pada kemasan. Formulasi yang baik merupakan hasil keseimbangan antara pemilihan bahan, teknologi formulasi, stabilitas produk, serta bukti ilmiah yang mendukung manfaatnya. Karena itu, sebuah produk vegan tetap perlu dievaluasi dengan standar ilmiah yang sama seperti produk kosmetik lainnya.Pemahaman seperti ini membantu konsumen melihat label vegan secara lebih proporsional. Label tersebut memang memberikan nilai penting bagi mereka yang memiliki pertimbangan etis, lingkungan, atau gaya hidup tertentu. Namun, ketika tujuan utamanya adalah mencari produk yang sesuai dengan kondisi kulit, informasi mengenai kandungan, formulasi, dan hasil uji keamanan tetap perlu menjadi pertimbangan utama.Memilih kosmetik yang tepat bukan berarti mengabaikan nilai-nilai yang diusung sebuah produk. Sebaliknya, keputusan terbaik lahir ketika pertimbangan etis berjalan berdampingan dengan pemahaman ilmiah. Dengan cara itu, konsumen tidak hanya mengikuti tren atau klaim yang sedang populer, tetapi juga mampu memilih produk berdasarkan informasi yang lebih utuh.Mitos bahwa kosmetik berlabel vegan selalu lebih baik terdengar sederhana, tetapi kenyataannya jauh lebih kompleks. Label tersebut menjelaskan salah satu karakter sebuah produk, bukan keseluruhan kualitasnya. Produk yang baik tetap ditentukan oleh formulasi yang tepat, proses produksi yang bertanggung jawab, bukti ilmiah yang memadai, serta kecocokannya dengan kebutuhan kulit masing-masing pengguna. [][Rudi Tenggarawan/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Dampak Microplastics dalam Kosmetik Sehari-hari
SkinCare

23 Jun 2026

Dampak Microplastics dalam Kosmetik Sehari-hari

Beberapa produk skincare dan kosmetik mengandung microplastics yang tidak terlihat. Partikel ini dapat memengaruhi kulit, tubuh, dan lingkungan secara jangka panjang.Banyak orang tidak menyadari bahwa partikel plastik mikro digunakan dalam produk sehari-hari. Mulai dari sabun, pasta gigi, exfoliating scrub, hingga beberapa jenis makeup, partikel kecil ini kerap hadir untuk memberikan tekstur, efek pengelupasan, atau sebagai bahan pengisi. Kehadiran microplastics tidak selalu berbahaya secara langsung, tetapi akumulasi jangka panjang menjadi perhatian para ahli.Masalah utama adalah microplastics sangat kecil dan tidak larut. Saat dibersihkan dari wajah atau tubuh, mereka terbawa air limbah dan akhirnya masuk ke sungai, danau, atau laut. Dampaknya terasa bagi ekosistem, organisme laut, dan secara tidak langsung kembali memengaruhi manusia melalui rantai makanan.Selain itu, pengguna sering menilai produk hanya dari kenyamanan saat diaplikasikan. Tekstur lembut, cepat meresap, atau sensasi halus di kulit tidak selalu menandakan produk aman dari risiko akumulasi plastik mikro. Oleh karena itu, memahami keberadaan bahan ini menjadi penting bagi konsumen yang sadar lingkungan dan kesehatan kulit.Baca Juga: Saat Kulit Baik-Baik Saja, Perlukah Kita Tetap Mengubah Rutinitas?Dampak Langsung Terhadap KulitPartikel plastik mikro bersifat inert sehingga jarang menimbulkan iritasi langsung. Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., menekankan bahwa beberapa partikel bisa membawa bahan tambahan, seperti pewarna atau pengawet, yang meningkatkan potensi iritasi pada kulit sensitif. Menurut Cahya, risiko ini terutama muncul bila kulit mengalami inflamasi atau skin barrier sedang terganggu.Selain itu, microplastics dapat mengganggu proses eksfoliasi alami kulit. Produk yang terlalu agresif, terutama dengan partikel plastik keras, dapat melemahkan skin barrier, menyebabkan kulit kehilangan hidrasi alami dan lebih rentan terhadap iritasi.Ahli lingkungan Dr. Chelsea Rochman dari University of Toronto menambahkan perspektif lain: meski dampak langsung pada kulit manusia masih diteliti, partikel ini memiliki efek signifikan pada ekosistem. Ia menjelaskan bahwa plastik mikro dapat menyerap polutan berbahaya, yang kemudian masuk ke rantai makanan dan berpotensi memengaruhi kesehatan manusia melalui paparan jangka panjang.Dampak Lingkungan dan Industri KosmetikSaat dibersihkan dari kulit, sebagian besar microplastics masuk ke air limbah dan sulit dihilangkan. Hewan laut bisa menelan partikel ini, yang kemudian menumpuk di rantai makanan. Paparan jangka panjang terhadap partikel ini dapat memengaruhi kesehatan ekosistem sekaligus kualitas sumber makanan manusia.Industri kosmetik global mulai merespons dengan mencari alternatif biodegradable, seperti biji aprikot atau bahan eksfoliasi alami. Banyak brand mulai beralih dari partikel sintetis agar tetap memenuhi kebutuhan konsumen yang peduli lingkungan. Tren ini juga mengedukasi masyarakat untuk lebih bijak dalam memilih produk, menyeimbangkan kenyamanan kulit dan dampak ekologis.Baca Juga: Kenapa Kita Sering Salah Mengenali Kebutuhan Kulit Sendiri?Bagaimana Konsumen Bisa Lebih BijakKonsumen dapat mengurangi risiko dengan memperhatikan label produk. Pilihlah scrub, body wash, atau makeup yang menyertakan keterangan bebas plastik (plastic-free). Menggunakan produk berbahan alami yang bisa terurai secara hayati membantu kulit tetap nyaman tanpa memberikan dampak negatif bagi lingkungan.Dr. Leslie Baumann dalam buku Cosmetic Dermatology: Principles and Practice [2009] menekankan bahwa konsumen sebaiknya tidak hanya melihat efek langsung pada kulit, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan dan keamanan jangka panjang produk. Pendekatan ini membuat perawatan kulit tidak hanya bermanfaat secara personal tetapi juga ramah lingkungan.Selain itu, menjaga kebiasaan sehari-hari membantu meminimalkan eksposur. Misalnya, membatasi penggunaan scrub berbahan keras, mengganti makeup remover dengan formula lembut, atau menambahkan lapisan hidrasi setelah penggunaan produk eksfoliasi dapat membantu kulit tetap nyaman.Kesadaran terhadap microplastics bukan berarti menghentikan perawatan. Sebaliknya, ini menjadi kesempatan bagi konsumen untuk menyeimbangkan kebutuhan kulit, efektivitas produk, dan dampak lingkungan. Rutinitas skincare yang bijak kini tidak hanya mempertimbangkan tekstur dan hasil instan, tetapi juga kualitas jangka panjang bagi kulit dan bumi.Dengan memahami risiko dan pilihan alternatif, kulit bisa tetap sehat, nyaman, dan aman. Sementara itu, tindakan kecil seperti memilih produk ramah lingkungan membantu meminimalkan dampak ekosistem laut dan memastikan skincare sehari-hari tidak memberi beban tambahan pada lingkungan. [][Eva Evilia/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Menampilkan 1 - 12 dari 13 artikel