Tag

Prof. Dr. Sriwidodo S.Si., Apt., M.Si.

Jelajahi artikel dengan tag Prof. Dr. Sriwidodo S.Si., Apt., M.Si.

LABCOS Unpad Perkenalkan Cantik.AI, Platform AI untuk Riset hingga Pengelolaan Bisnis Kosmetik
BeautyNews

03 Okt 2026

LABCOS Unpad Perkenalkan Cantik.AI, Platform AI untuk Riset hingga Pengelolaan Bisnis Kosmetik

Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini mulai digunakan lebih luas dalam industri kosmetik, bukan hanya untuk membuat teks, gambar, atau konten. Teknologi ini juga dapat membantu riset, analisis kulit, pengembangan formulasi, hingga pemasaran dan pengelolaan bisnis.Perkembangan ini menjadi perhatian LABCOS Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran (Unpad) yang dipimpin Prof. Dr. apt. Sriwidodo, M.Si. Melalui kolaborasi antara akademisi, praktisi industri, dan ahli teknologi, LABCOS mendorong pemanfaatan AI untuk menjawab berbagai kebutuhan industri kosmetik.Salah satu hasil pengembangan tersebut adalah Cantik.AI, ekosistem specialized AI untuk industri beauty, cosmetic, dan wellness. Inovasi ini diperkenalkan dalam sesi “The AI Beauty Revolution – From Skin & Wellness Intelligence to Data-Driven Product Innovation” di Cosmobeaute Indonesia 2026, Tangerang.CEO Cantik.AI Wendra Wilendra, M.MT. dan CTO Cantik.AI Yusep Maulana, S.Kom., M.Kom. memaparkan pemanfaatan AI mulai dari research, analisis kulit, formulasi, hingga branding dan marketing.AI bukan sekadar pembuat kontenMenurut Wendra, melihat AI hanya sebagai chatbot atau pembuat konten berarti baru melihat sebagian kecil potensinya. “AI dapat membantu kita membaca lebih banyak informasi, menemukan hubungan yang sulit terlihat, mengeksplorasi lebih banyak kemungkinan, dan membantu expert mengambil keputusan dengan konteks yang lebih baik.”Namun, AI tidak diposisikan untuk menggantikan manusia. Cantik.AI menggunakan prinsip “AI explores. Experts verify. Humans decide.” AI membantu mengeksplorasi dan menganalisis, sedangkan verifikasi dan keputusan tetap berada pada manusia dan para ahli.Tiga pemanfaatan AICantik.AI mengembangkan AI dengan fungsi yang lebih spesifik sesuai kebutuhan pekerjaan. Tiga di antaranya adalah AI Skin Analyzer, AI Formulator, dan AI Marketing.AI Skin Analyzer membantu menganalisis karakteristik visual kulit dan memberikan informasi mengenai kondisi serta kebutuhan kulit. Sistem ini merupakan alat bantu dan tidak ditujukan untuk menggantikan diagnosis profesional medis.AI Formulator membantu formulator mengeksplorasi pengetahuan ilmiah, hubungan antar bahan, kemungkinan formulasi, dan informasi penelitian. AI dapat membantu mempersempit pilihan, tetapi hasilnya tetap membutuhkan pengujian, validasi ilmiah, dan penilaian formulator.Sementara AI Marketing membantu membaca tren konsumen, peluang kampanye, performa kanal pemasaran, serta arah konten. Tujuannya adalah memperkuat kemampuan marketer dalam mengolah informasi dan mengeksplorasi strategi.Dibangun melalui kolaborasi multidisiplinPengembangan AI untuk kosmetik membutuhkan lebih dari sekadar teknologi. Industri ini melibatkan ilmu formulasi, farmasi, dermatologi, bahan baku, pengujian, regulasi, manufaktur, hingga pemasaran. Karena itu, LABCOS menggunakan pendekatan kolaboratif dengan melibatkan berbagai keahlian sesuai kebutuhan. Prinsipnya sederhana: masalah yang berbeda membutuhkan keahlian yang berbeda.CTO Cantik.AI Yusep Maulana mengatakan pendekatan tersebut juga menjadi alasan Cantik.AI dikembangkan sebagai specialized AI, bukan satu AI generik untuk semua pekerjaan. “Setiap domain memiliki knowledge, data, workflow, dan konteks yang berbeda. Karena itu kami mengembangkan specialized AI yang dirancang untuk memahami pekerjaan tertentu.”Dari laboratorium menuju pasarPemanfaatan AI berpotensi menjangkau berbagai tahapan industri kosmetik, mulai dari riset dan pengembangan produk, formulasi, regulasi, hingga manufacturing, branding, marketing, dan consumer experience.Bagi LABCOS, kehadiran AI bukan untuk menggantikan cosmetic science, melainkan memperluas kemampuan manusia dalam mengolah pengetahuan, data, dan berbagai kemungkinan inovasi.“Semakin powerful AI, semakin penting expertise, konteks dan judgement manusia di belakangnya,” ujar Wendra. Ia menambahkan, masa depan industri kecantikan bukan tentang manusia melawan AI, melainkan bagaimana keduanya dapat bekerja bersama. “Kami tidak melihat masa depan beauty sebagai manusia versus AI. Yang kami lihat adalah manusia dan AI bekerja bersama—masing-masing melakukan apa yang paling kuat mereka lakukan.”pungkasnya.Tentang Cantik.AICantik.AI merupakan platform specialized AI untuk industri beauty, cosmetic, dan wellness yang memungkinkan pengunjung mengeksplorasi berbagai AI specialist sesuai kebutuhannya. Melalui platform ini, pengguna dapat memperoleh bantuan untuk mencari informasi dan insight, mengeksplorasi ide produk dan formulasi, memahami regulasi, menyusun strategi marketing dan branding, hingga mengembangkan konten.Bagi pelaku industri, manfaatnya adalah membantu mempercepat pencarian informasi, memperluas eksplorasi ide, dan mendukung proses pengambilan keputusan dengan memanfaatkan AI yang dirancang berdasarkan konteks industri kosmetik. Cantik.AI juga memungkinkan pengguna mengenal berbagai penerapan AI secara langsung sesuai kebutuhan pekerjaan mereka.Pendekatan Cantik.AI menempatkan AI sebagai partner kerja, sementara keputusan akhir tetap berada pada manusia dan para ahli yang memiliki kompetensi di bidangnya. Platform ini dapat diakses melalui link : https://cantik.ai/Tentang LABCOSLABCOS (Laboratorium Kosmetik) Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran merupakan pusat kegiatan riset, pengembangan, pengujian, dan inovasi di bidang kosmetik yang mempertemukan keahlian akademik dan kebutuhan industri.LABCOS berfokus pada pengembangan ilmu dan teknologi kosmetik, termasuk formulasi dan pengembangan produk, pengujian dan analisis, bahan baku kosmetik, keamanan dan efektivitas produk, serta aspek regulasi dan pengembangan industri.Dalam menjalankan kegiatannya, LABCOS mendorong kolaborasi multidisiplin antara akademisi, peneliti, tenaga ahli, dan pelaku industri. Pendekatan tersebut memungkinkan berbagai pengetahuan dari bidang farmasi, cosmetic science, dermatologi, teknologi, dan bidang terkait lainnya untuk digunakan dalam menjawab kebutuhan dan tantangan industri kosmetik.Pengembangan Cantik.AI menjadi salah satu bagian dari eksplorasi LABCOS dalam mempertemukan ilmu kosmetik, keahlian multidisiplin, data, dan teknologi AI. Melalui pendekatan tersebut, LABCOS berupaya membuka peluang pemanfaatan teknologi baru untuk mendukung proses riset, inovasi, pengembangan produk, hingga kebutuhan industri kosmetik yang terus berkembang. Info lebih lanjut tentang LABCOS dapat diakses melalui link: https://labcos.id/[][Dipo Alaric/TBV] 

Mengapa Sistem Penghantaran Bisa Menentukan Kinerja Sebuah Bahan Aktif?
BahanAktif

30 Sep 2026

Mengapa Sistem Penghantaran Bisa Menentukan Kinerja Sebuah Bahan Aktif?

Bahan aktif boleh terdengar menjanjikan. Konsentrasinya pun bisa tinggi. Namun, manfaatnya tetap bergantung pada bagaimana formula membawa bahan tersebut ke tempat yang dituju.Ketika membaca produk kosmetik, perhatian konsumen biasanya langsung tertuju pada nama bahan aktif. Niacinamide, retinoid, peptida, antioksidan, atau berbagai ekstrak tumbuhan kerap menjadi alasan utama seseorang memilih produk. Persentasenya bahkan sering diperlakukan seperti angka yang dapat langsung menunjukkan seberapa kuat produk tersebut bekerja.Padahal, bahan aktif tidak bekerja sendirian. Ia berada di dalam suatu formula, harus tetap stabil selama penyimpanan, dilepaskan ketika produk digunakan, kemudian berinteraksi dengan permukaan atau lapisan kulit yang menjadi targetnya. Rangkaian perjalanan tersebut membuat pertanyaan ‘apa bahan aktifnya?’ belum cukup untuk memahami performa sebuah produk.Di sinilah sistem penghantaran atau delivery system menjadi penting. Dalam formulasi, sistem tersebut dapat dirancang untuk membantu membawa, melindungi, melepaskan, atau meningkatkan ketersediaan bahan aktif pada lokasi yang diinginkan. Bentuknya dapat berupa emulsi konvensional hingga teknologi seperti liposom, nanoemulsion, nanostructured lipid carrier [NLC], atau sistem enkapsulasi lainnya.Karena itu, dua formula yang mencantumkan bahan aktif serupa belum tentu memberikan performa identik. Perbedaannya dapat berasal dari konsentrasi, tetapi juga dari kelarutan, stabilitas, jenis pembawa, pelepasan bahan, hingga kemampuan formula mempertahankan kontak dengan kulit. Dalam formulasi kosmetik, ‘kendaraan’ dapat sama pentingnya dengan ‘penumpang’.Baca Juga: Mengapa Bahan Aktif yang Stabil di Dalam Botol Belum Tentu Stabil Setelah Dibuka?Bahan Aktif Harus Sampai dalam Kondisi yang Masih Bisa BekerjaKulit memiliki fungsi utama sebagai pelindung, bukan sebagai permukaan yang membiarkan semua zat masuk dengan mudah. Lapisan stratum corneum membatasi perpindahan berbagai molekul dari lingkungan menuju lapisan kulit yang lebih dalam. Sifat bahan seperti ukuran molekul, kelarutan, lipofilisitas, serta karakter formulanya kemudian menentukan bagaimana bahan tersebut berinteraksi dengan skin barrier.Prof. Dr. apt. Sriwidodo, M.Si. dari Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran memiliki bidang keahlian Rekayasa Kosmetik, Farmasetika, dan Biofarmasetika, dengan portofolio penelitian yang juga mencakup sistem penghantaran berbasis liposom, hidrogel, dan nanopartikel. Risetnya memperlihatkan prinsip penting bahwa pengembangan bahan aktif tidak berhenti pada pemilihan molekul, tetapi juga mencakup bagaimana bahan tersebut diformulasikan dan dihantarkan.Salah satu contoh yang mudah dipahami adalah NLC. Dalam riset Sriwidodo mengenai sistem NLC-hidrogel, pembawa lipid dijelaskan dapat membantu meningkatkan stabilitas bahan aktif lipofilik, meningkatkan penetrasi, serta memberikan pelepasan yang lebih terkontrol. Penelitian tersebut memang ditujukan untuk penghantaran obat pada luka diabetik, bukan kosmetik, tetapi prinsip farmasetika yang diperlihatkannya membantu menjelaskan mengapa teknologi pembawa menjadi bidang penting dalam pengembangan sediaan topikal.Liposom bekerja dengan pendekatan yang berbeda. Struktur vesikelnya memungkinkan bahan tertentu ditempatkan di dalam atau berasosiasi dengan sistem pembawa, sehingga karakter bahan aktif dapat dikelola melalui formulasi. Portofolio riset Sriwidodo, misalnya, mencatat pengembangan hidrogel kitosan-liposom dan film-forming system dengan bahan aktif tersalut liposom, menunjukkan bagaimana sistem penghantaran dapat dirancang bersama bentuk sediaannya.Baca Juga: Mengapa Bentuk Turunan dari Bahan Aktif Bisa Sama Pentingnya dengan Nama Bahannya?Teknologi Penghantaran Bukan Sekadar Kata Canggih pada KemasanApt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., tenaga ahli PT Lunaray Cahaya Abadi dan dosen tamu/eksternal Prodi Rekayasa Kosmetik Fakultas Farmasi Unpad, juga pernah terlibat dalam kajian ilmiah mengenai efektivitas bahan aktif dalam sediaan kosmetik. Kajian yang ditulis bersama peneliti Unpad menekankan bahwa bahan aktif perlu diformulasikan menjadi bentuk sediaan agar mudah digunakan sekaligus mencapai efek yang diharapkan, dan efektivitas tersebut tetap membutuhkan pembuktian melalui pengujian yang komprehensif.Perspektif tersebut penting karena istilah seperti ‘liposom’, ‘enkapsulasi’, atau ‘nano’ mudah berubah menjadi bahasa pemasaran. Keberadaan teknologi penghantaran saja belum membuktikan bahwa sebuah produk otomatis lebih efektif. Formulator tetap perlu mempertimbangkan karakter bahan aktif, ukuran dan kestabilan sistem, kompatibilitas dengan bahan lain, bentuk sediaan, target penggunaan, serta bukti pengujiannya.Sistem penghantaran juga tidak selalu bertujuan membawa bahan sejauh mungkin ke dalam kulit. Untuk bahan tertentu, target kerjanya justru berada pada permukaan atau lapisan kulit yang relatif luar. Desain formulasi yang baik karena itu bukan perlombaan untuk mendapatkan penetrasi terdalam, melainkan usaha menempatkan bahan pada lokasi yang sesuai dengan tujuan penggunaannya.Ada pula persoalan waktu. Sebagian sistem dirancang untuk membantu mengontrol pelepasan bahan sehingga tidak seluruhnya tersedia sekaligus. Penelitian Unpad mengenai film-forming system berbasis kitosan, misalnya, menjelaskan bahwa terbentuknya film tipis pada kulit dapat memperpanjang kontak dan mengontrol pelepasan bahan. Sekali lagi, konteks riset tersebut adalah penghantaran obat, tetapi konsepnya menunjukkan bagaimana bentuk sediaan dapat memengaruhi perilaku bahan setelah diaplikasikan.Cara berpikir ini membuat angka konsentrasi perlu dibaca dengan lebih hati-hati. Formula dengan persentase bahan aktif lebih tinggi tidak otomatis lebih unggul apabila bahannya mudah terdegradasi, sulit larut, tidak tersedia dengan baik pada target, atau justru menimbulkan masalah tolerabilitas. Sebaliknya, formulasi yang dirancang dengan sistem penghantaran tepat dapat berusaha mengoptimalkan bahan tanpa semata-mata mengejar angka terbesar.Konsumen tentu tidak perlu memahami seluruh teknologi farmasetika sebelum membeli serum. Namun, pengetahuan mengenai delivery system membantu mengubah pertanyaan yang diajukan: bukan lagi hanya “berapa persen bahan aktifnya?”, melainkan bagaimana bahan itu diformulasikan, seberapa stabil formulanya, apakah teknologi yang diklaim memiliki bukti, dan apakah produk telah diuji sesuai manfaat yang dijanjikan.Nama bahan aktif memang penting, tetapi nama itu baru memberi tahu apa yang dimasukkan ke dalam formula. Kinerja produk ditentukan oleh sistem yang jauh lebih besar: bagaimana bahan dipertahankan, dibawa, dilepaskan, dan dibuat tersedia pada target yang tepat. Karena dalam formulasi kosmetik, memiliki bahan aktif yang bagus hanyalah awal—membuatnya bekerja dengan tepat merupakan persoalan yang berbeda. [][Adrian Damar/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Cosmeticverse Bukan Proyek Seminar, Tetapi Gerakan Pengetahuan
BeautyNews

10 Jul 2026

Cosmeticverse Bukan Proyek Seminar, Tetapi Gerakan Pengetahuan

Sebuah seminar biasanya berakhir ketika sesi terakhir ditutup dan para peserta meninggalkan ruangan. Buku selesai ketika halaman terakhir dibaca. Sebuah acara kemudian menjadi bagian dari arsip, sementara para pesertanya kembali pada rutinitas masing-masing. Namun, ada gagasan yang justru baru memulai perjalanannya setelah seluruh rangkaian acara selesai. Kesan itulah yang muncul dari Seminar Kosmetik 2026 yang diselenggarakan Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran. Di balik peluncuran lima buku, pengenalan LABCOS AI, hingga program Cosmepreneur, tersimpan sebuah gagasan yang lebih besar daripada sekadar penyelenggaraan seminar. Gagasan tersebut diberi nama Cosmeticverse, sebuah ekosistem yang berupaya menghubungkan pendidikan, penelitian, teknologi, industri, dan kewirausahaan dalam satu perjalanan pengetahuan yang saling berkaitan.Selama delapan artikel dalam serial BeautyNews ini, Cosmeticverse telah dilihat dari berbagai sisi. Pembaca diajak memahami mengapa industri kosmetik membutuhkan kolaborasi yang lebih erat, bagaimana lima buku disusun sebagai satu perjalanan ilmu, mengapa penelitian perlu bergerak menuju industri, bagaimana artificial intelligence mulai mendukung pembelajaran, hingga pentingnya membangun budaya mutu yang menjaga kepercayaan masyarakat. Seluruh pembahasan tersebut memperlihatkan bahwa Cosmeticverse tidak dibangun dari satu program, melainkan dari banyak gagasan yang saling menguatkan.Pertanyaannya kemudian bukan lagi apa itu Cosmeticverse, melainkan mengapa seluruh gagasan tersebut dikumpulkan dalam satu ekosistem. Jawabannya mungkin terletak pada cara pandang yang ditawarkan: bahwa membangun industri kosmetik tidak cukup dilakukan melalui satu buku, satu laboratorium, satu teknologi, atau satu seminar. Yang dibutuhkan adalah ruang yang mampu mempertemukan seluruh unsur tersebut agar saling belajar dan berkembang bersama.Baca Juga: Fakultas Farmasi Unpad Perkenalkan Cosmeticverse, Ekosistem Baru Penghubung Dunia Kosmetik IndonesiaKetika Pengetahuan Tidak Lagi Berjalan SendiriSelama bertahun-tahun, pengetahuan tentang kosmetik berkembang di banyak ruang yang berbeda. Ada yang lahir di laboratorium penelitian, ada yang tersimpan dalam jurnal ilmiah, ada yang diajarkan di ruang kuliah, dan ada pula yang tumbuh melalui pengalaman panjang di dunia industri. Masing-masing memiliki nilai yang penting, tetapi tidak selalu saling terhubung.Kondisi tersebut bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga menjadi tantangan di banyak negara yang sedang membangun industri berbasis inovasi. Informasi tersedia dalam jumlah yang sangat besar, tetapi sering tersebar di berbagai tempat. Akibatnya, proses belajar menjadi terfragmentasi dan peluang kolaborasi tidak selalu berkembang secara optimal.Cosmeticverse mencoba menjawab tantangan tersebut melalui pendekatan yang berbeda. Alih-alih menghadirkan satu solusi tunggal, ekosistem ini mempertemukan berbagai unsur yang selama ini berjalan dalam jalurnya masing-masing. Pendidikan, riset, teknologi, artificial intelligence, kewirausahaan, dan industri diposisikan sebagai bagian dari satu percakapan besar mengenai masa depan kosmetik Indonesia.Pendekatan ini menunjukkan bahwa kemajuan industri tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan inovasi. Yang tidak kalah penting adalah kemampuan membangun hubungan antarinovasi agar pengetahuan dapat terus berkembang dan memberi manfaat yang lebih luas.Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar ProgramDalam siaran pers Seminar Kosmetik 2026, Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. apt. Sriwidodo, M.Si., menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, komunitas, dan media dalam semangat pentahelix. Pandangan tersebut menjadi salah satu fondasi lahirnya Cosmeticverse sebagai ruang kolaborasi yang melampaui batas-batas institusi.Cara berpikir tersebut juga tercermin dalam berbagai inisiatif yang diperkenalkan selama seminar. Lima buku disusun sebagai peta pengetahuan, LABCOS AI dikembangkan untuk memperluas akses terhadap literasi kosmetik, sementara Cosmepreneur membuka ruang bagi mahasiswa untuk memahami dunia industri sejak masa pendidikan. Seluruhnya tidak berdiri sendiri, tetapi saling mendukung dalam membentuk satu ekosistem pembelajaran.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., turut menegaskan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri menjadi salah satu fondasi penting dalam pengembangan Cosmeticverse. Harapan tersebut memperlihatkan bahwa tujuan utama ekosistem ini bukan hanya menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga memastikan pengetahuan tersebut mampu bergerak menuju dunia nyata melalui kerja sama yang berkelanjutan.Baca Juga: Mengapa Industri Kosmetik Indonesia Membutuhkan Cosmeticverse?Masa Depan Ditentukan oleh Mereka yang Mau BerkolaborasiDunia saat ini sesungguhnya tidak kekurangan informasi. Buku terus diterbitkan, penelitian terus dilakukan, teknologi berkembang dengan cepat, dan akses terhadap pengetahuan semakin terbuka. Tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan menghubungkan seluruh sumber daya tersebut menjadi sebuah ekosistem yang hidup.Dalam konteks itulah Cosmeticverse menawarkan perspektif yang menarik. Nilainya bukan semata-mata terletak pada jumlah buku yang diluncurkan atau teknologi yang diperkenalkan, melainkan pada upaya membangun ruang kolaborasi yang memungkinkan ilmu pengetahuan terus bergerak dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sebuah penelitian dapat menginspirasi inovasi baru, inovasi berkembang menjadi produk, produk melahirkan pengalaman industri, dan pengalaman tersebut kembali memperkaya dunia pendidikan.Perjalanan seperti itu tidak akan selesai ketika seminar berakhir. Justru setelah lampu auditorium dipadamkan dan para peserta kembali ke tempat masing-masing, ekosistem tersebut mulai diuji. Masa depannya tidak lagi hanya berada di tangan penyelenggara seminar, penulis buku, atau para pembicara, tetapi juga pada mahasiswa yang terus belajar, peneliti yang terus bereksperimen, dosen yang membimbing generasi berikutnya, pelaku industri yang mengembangkan inovasi, serta semua pihak yang percaya bahwa kolaborasi merupakan fondasi kemajuan.Delapan artikel dalam serial ini menunjukkan bahwa Cosmeticverse bukan sekadar nama sebuah program. Ia merupakan cara pandang tentang bagaimana ilmu pengetahuan seharusnya bertumbuh: terbuka terhadap kolaborasi, dekat dengan kebutuhan industri, memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab, dan tetap berpijak pada integritas ilmiah. Jika gagasan tersebut terus berkembang, Cosmeticverse tidak hanya akan dikenang sebagai rangkaian Seminar Kosmetik 2026, tetapi sebagai sebuah gerakan pengetahuan yang ikut membentuk masa depan industri kosmetik Indonesia.Tentang CosmeticverseCosmeticverse merupakan ekosistem pengetahuan kosmetik yang diperkenalkan oleh Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran bersama Program Studi Rekayasa Kosmetik, LABCOS, Ray Academy, PT Baleide, dan berbagai mitra industri. Ekosistem ini menghubungkan pendidikan, riset, teknologi, artificial intelligence, kewirausahaan, dan dunia industri untuk memperkuat inovasi serta daya saing kosmetik Indonesia. [][Vikalena Lasmoskwa/TBV]

AI Kini Masuk ke Dunia Kosmetik: LABCOS AI dan Cara Baru Mempelajari Industri Kecantikan
BeautyNews

07 Jul 2026

AI Kini Masuk ke Dunia Kosmetik: LABCOS AI dan Cara Baru Mempelajari Industri Kecantikan

Dunia kosmetik sedang mengalami perubahan yang tak hanya terjadi di laboratorium atau ruang produksi. Perubahan itu juga mulai menyentuh cara orang belajar, mencari referensi, hingga memahami perkembangan ilmu kosmetik. Jika sebelumnya mahasiswa, peneliti, dan praktisi mengandalkan buku, jurnal ilmiah, serta diskusi di ruang kelas, kini artificial intelligence mulai mengambil peran sebagai pendamping dalam proses pembelajaran.Transformasi tersebut menjadi salah satu sorotan dalam Seminar Kosmetik 2026 yang diselenggarakan Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran. Bersamaan dengan peluncuran Cosmeticverse, peserta diperkenalkan pada LABCOS AI, sebuah inisiatif yang memanfaatkan artificial intelligence untuk mendukung pembelajaran, pengembangan produk, serta peningkatan literasi di bidang kosmetik.Kehadiran LABCOS AI menunjukkan bahwa transformasi digital kini tidak lagi menjadi wacana masa depan. Industri kosmetik mulai memasuki fase ketika teknologi tidak hanya membantu proses produksi, tetapi juga mempercepat cara manusia memperoleh, memahami, dan menghubungkan pengetahuan.Perubahan tersebut hadir pada saat jumlah informasi di dunia kosmetik berkembang sangat cepat. Hampir setiap hari muncul penelitian baru, bahan aktif baru, teknologi formulasi baru, hingga perubahan regulasi yang perlu dipahami oleh mahasiswa, akademisi, maupun pelaku industri. Tantangan terbesar bukan lagi kekurangan informasi, melainkan bagaimana menyaring dan menggunakannya secara tepat.Baca Juga: Mengapa Industri Kosmetik Indonesia Membutuhkan Cosmeticverse?Ketika Belajar Kosmetik Memasuki Era BaruSelama bertahun-tahun, proses belajar kosmetik berlangsung melalui jalur yang relatif konvensional. Mahasiswa membaca buku, mencari jurnal ilmiah, berdiskusi dengan dosen, kemudian melakukan penelitian di laboratorium. Model tersebut tetap menjadi fondasi utama pendidikan, tetapi perkembangan ilmu yang semakin cepat membuat proses pencarian informasi menjadi semakin kompleks.Analisis Redaksi Beautyversity melihat bahwa kondisi tersebut mulai melahirkan kebutuhan akan alat bantu yang mampu mempercepat proses belajar tanpa mengurangi kualitas pemahaman. Dalam konteks inilah artificial intelligence mulai memperoleh ruang. AI mampu membantu menelusuri literatur, merangkum hasil penelitian, membandingkan karakteristik bahan aktif, hingga menghubungkan berbagai referensi yang sebelumnya tersebar di banyak sumber.Namun, perubahan ini tidak berarti AI mengambil alih peran manusia. Justru sebaliknya, teknologi menjadi alat untuk membantu mahasiswa, peneliti, dan praktisi bekerja lebih efisien sehingga mereka memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan analisis, validasi, dan pengambilan keputusan yang tetap membutuhkan keahlian manusia.AI Bukan Pengganti IlmuwanPemanfaatan artificial intelligence dalam bidang kosmetik sering menimbulkan pertanyaan mengenai batas perannya. Mampukah AI menggantikan peneliti atau formulator? Jawabannya tidak sesederhana itu.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., yang menjadi salah satu penggagas Cosmeticverse, menjelaskan bahwa LABCOS AI dikembangkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi dan mendukung proses pembelajaran maupun pengembangan produk di bidang kosmetik. Kehadiran teknologi ini memperlihatkan bahwa transformasi digital dapat dimanfaatkan untuk memperkuat ekosistem pengetahuan, bukan menggantikan proses ilmiah yang telah menjadi fondasi dunia akademik.Pandangan tersebut sejalan dengan perkembangan global di berbagai bidang sains. AI mampu membantu mengolah informasi dalam jumlah besar, tetapi belum dapat menggantikan pengalaman laboratorium, intuisi ilmiah, maupun pertimbangan profesional ketika mengambil keputusan yang berkaitan dengan keamanan produk dan kesehatan konsumen.Dalam industri kosmetik, validasi tetap harus dilakukan melalui penelitian, pengujian laboratorium, evaluasi keamanan, dan proses regulasi yang ketat. AI dapat mempercepat pekerjaan, tetapi tanggung jawab ilmiah tetap berada di tangan para peneliti, apoteker, formulator, serta regulator.Menjawab Banjir Informasi Industri KosmetikPerkembangan industri kosmetik saat ini tidak hanya ditandai oleh lahirnya produk baru. Setiap tahun, ribuan artikel ilmiah diterbitkan, ratusan bahan baku dikembangkan, dan berbagai inovasi teknologi formulasi terus bermunculan. Bagi mahasiswa maupun pelaku industri, mengikuti seluruh perkembangan tersebut secara manual menjadi tantangan yang semakin besar.Redaksi Beautyversity menilai bahwa inilah salah satu alasan mengapa pemanfaatan AI menjadi semakin relevan. Teknologi bukan lagi sekadar alat otomatisasi, melainkan menjadi jembatan untuk menghubungkan pengetahuan yang terus berkembang. Dengan kemampuan menelusuri berbagai referensi secara cepat, AI membantu pengguna memperoleh gambaran awal sebelum melakukan kajian yang lebih mendalam.Dalam konteks Cosmeticverse, kehadiran LABCOS AI menunjukkan bahwa ekosistem pengetahuan tidak hanya dibangun melalui buku dan seminar, tetapi juga melalui pemanfaatan teknologi digital yang mampu memperluas akses terhadap ilmu kosmetik. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pendidikan kosmetik tidak lagi dibatasi oleh ruang kelas atau perpustakaan, melainkan dapat berkembang mengikuti kebutuhan zaman.Baca Juga: Dari Laboratorium hingga Pabrik: Ketika Penelitian Tak Lagi Berhenti di KampusMempersiapkan Generasi Baru Industri KosmetikTransformasi digital tidak hanya mengubah cara belajar, tetapi juga mengubah kompetensi yang dibutuhkan industri. Kemampuan membaca jurnal, memahami formulasi, serta menguasai sistem mutu kini perlu dilengkapi dengan kemampuan memanfaatkan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab.Melalui LABCOS AI, Cosmeticverse memperlihatkan bahwa masa depan pendidikan kosmetik bukan memilih antara manusia atau teknologi. Yang dibangun adalah kolaborasi antara keduanya agar proses belajar menjadi lebih cepat, lebih luas, dan tetap berpijak pada prinsip ilmiah.Perjalanan tersebut juga menunjukkan bahwa membangun industri kosmetik tidak cukup hanya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dibutuhkan sumber daya manusia yang mampu mengubah pengetahuan menjadi inovasi dan inovasi menjadi peluang usaha. Gagasan itulah yang mulai diperkenalkan melalui program Cosmepreneur, yang menjadi babak berikutnya dalam perjalanan Cosmeticverse menuju penguatan ekosistem kosmetik Indonesia.Tentang CosmeticverseCosmeticverse merupakan ekosistem pengetahuan kosmetik yang diperkenalkan oleh Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran bersama Program Studi Rekayasa Kosmetik, LABCOS, Ray Academy, PT Baleide, dan berbagai mitra industri. Ekosistem ini menghubungkan pendidikan, riset, teknologi, artificial intelligence, kewirausahaan, dan dunia industri untuk memperkuat inovasi serta daya saing kosmetik Indonesia. [][Eva Evilia/TBV]