Tag

sunscreen

Jelajahi artikel dengan tag sunscreen

Tanya Dong: Apakah Skincare Tetap Perlu Dipakai Saat Seharian Berada di Dalam Rumah?
TanyaDong

14 Okt 2026

Tanya Dong: Apakah Skincare Tetap Perlu Dipakai Saat Seharian Berada di Dalam Rumah?

Seharian di rumah tanpa terkena panas matahari langsung mungkin terasa aman bagi kulit. Tetapi, apakah itu berarti skincare boleh dilewatkan?Bekerja dari rumah, menghabiskan akhir pekan di kamar, atau sekadar menikmati hari tanpa bepergian sering membuat rutinitas perawatan kulit terasa kurang penting. Tidak ada polusi jalanan yang harus dihadapi secara langsung, tidak menggunakan makeup, dan sebagian besar waktu dihabiskan dalam ruangan. Karena itu, muncul anggapan bahwa kulit bisa beristirahat dengan tidak menggunakan produk apa pun.Anggapan tersebut terdengar masuk akal, terutama ketika skincare sering dikaitkan dengan perlindungan terhadap lingkungan luar. Padahal, kulit tetap menjalankan berbagai fungsi biologis meskipun tubuh tidak meninggalkan rumah. Lapisan pelindung kulit terus bekerja mempertahankan kelembapan, sementara kehilangan air melalui permukaan kulit tetap berlangsung.Artinya, kebutuhan perawatan kulit tidak sepenuhnya ditentukan oleh seberapa sering seseorang beraktivitas di luar ruangan. Kondisi kulit, lingkungan tempat tinggal, kebiasaan membersihkan wajah, dan paparan sinar matahari dari jendela juga perlu diperhitungkan. Rutinitas yang digunakan mungkin bisa disederhanakan, tetapi bukan berarti seluruh perawatan otomatis menjadi tidak diperlukan.Pertanyaan yang lebih tepat sebenarnya bukan apakah semua produk harus tetap digunakan. Yang perlu dipahami adalah produk mana yang masih mempunyai fungsi relevan ketika aktivitas sehari-hari berlangsung di dalam rumah. Jawabannya bisa berbeda antara pembersih wajah, pelembap, tabir surya, dan produk berbahan aktif tertentu.Baca Juga: Tanya Dong: Bisakah Warna Kulit yang Berbeda karena Bekas Luka Kembali Merata?Di Dalam Rumah, Kulit Tetap Membutuhkan PerawatanSalah satu fungsi penting perawatan kulit adalah membantu mempertahankan kondisi skin barrier. Lapisan ini berperan mengurangi kehilangan air sekaligus melindungi kulit dari berbagai faktor lingkungan. Ketika kelembapannya terganggu, kulit dapat terasa kering, tertarik, kasar, atau lebih mudah mengalami iritasi.Berada di dalam rumah tidak selalu berarti lingkungan lebih bersahabat bagi kulit. Penggunaan pendingin ruangan, misalnya, dapat berkaitan dengan kondisi udara yang lebih kering, terutama jika kelembapan ruangan rendah. Pada orang dengan kulit yang mudah kering, keadaan tersebut dapat meningkatkan kebutuhan terhadap pelembap.Dilansir dari American Academy of Dermatology [AAD], dokter spesialis kulit Dr. Rebecca Kazin menjelaskan bahwa kebutuhan pelembap tidak bisa disamaratakan untuk seluruh jenis kulit. Pelembap tersedia dalam bentuk gel, losion, krim, hingga salep, dengan karakteristik yang berbeda. Pemilihannya perlu mempertimbangkan jenis kulit serta tingkat kekeringan yang dialami.Pendapat tersebut penting karena kebutuhan pelembap tidak menghilang hanya karena seseorang tidak bepergian. Kulit yang cenderung kering mungkin tetap membutuhkan krim untuk membantu mempertahankan air. Sementara itu, kulit berminyak dapat lebih nyaman menggunakan pelembap bertekstur ringan atau menyesuaikan penggunaannya dengan kondisi kulit.Bagaimana dengan pembersih wajah? Walaupun tidak menggunakan makeup, permukaan kulit tetap menghasilkan sebum dan dapat mengalami penumpukan keringat serta kotoran dari aktivitas sehari-hari. Pembersihan tetap relevan, tetapi frekuensi dan jenis produk sebaiknya disesuaikan agar tidak membuat kulit terlalu kering.Baca Juga: Tanya Dong: Perlukah Memberi Jeda antara Satu Produk Skincare dan Produk Berikutnya?Apakah Sunscreen Juga Harus Dipakai di Dalam Rumah?Bagian ini sering menimbulkan perdebatan karena tidak semua ruangan memiliki tingkat paparan matahari yang sama. Kaca jendela biasa umumnya menghalangi sebagian besar radiasi UVB, tetapi sejumlah radiasi UVA masih dapat menembusnya. Karena itu, duduk berjam-jam di dekat jendela yang terkena sinar matahari berbeda dari menghabiskan hari di ruangan tertutup tanpa paparan cahaya matahari langsung.Dikutip dari Allure, dokter spesialis kulit Dr. Ava Shamban menjelaskan bahwa paparan UVA dapat terjadi di dalam ruangan karena radiasi tersebut mampu melewati kaca. UVA berkaitan dengan kerusakan kulit akibat paparan matahari, termasuk perubahan pigmentasi dan tanda penuaan dini. Dengan demikian, keberadaan atap dan dinding tidak selalu menghilangkan kebutuhan perlindungan matahari.Meski begitu, kebutuhan tabir surya di dalam rumah tetap perlu mempertimbangkan situasi. Seseorang yang bekerja tepat di samping jendela dengan paparan matahari kuat mempunyai risiko paparan berbeda dibandingkan orang yang berada jauh dari jendela sepanjang hari. Jika hampir tidak ada paparan UV yang berarti, penggunaan ulang tabir surya setiap dua jam tidak memiliki urgensi yang sama seperti ketika beraktivitas di luar ruangan.AAD merekomendasikan tabir surya berspektrum luas dengan SPF minimal 30 untuk melindungi kulit dari paparan UV. Perlindungan tersebut terutama penting ketika seseorang akan keluar rumah, beraktivitas di area terbuka, atau berada dalam kondisi yang memungkinkan paparan matahari cukup besar. Untuk kegiatan di dekat jendela yang terkena matahari, tabir surya juga patut dipertimbangkan.Lalu, apakah serum, exfoliating toner, dan produk perawatan tambahan harus tetap digunakan? Tidak semua produk tersebut merupakan kebutuhan dasar setiap orang. Produk berbahan aktif dapat tetap digunakan sesuai tujuan dan toleransi kulit, tetapi rutinitas yang terlalu banyak justru dapat meningkatkan risiko iritasi apabila tidak disesuaikan dengan kondisi kulit.Rutinitas sederhana sering kali sudah memadai untuk kebutuhan dasar. Pembersih yang lembut dapat digunakan sesuai kebutuhan, pelembap membantu mempertahankan hidrasi, sedangkan tabir surya disesuaikan dengan kemungkinan paparan UV. Produk tambahan sebaiknya dipilih berdasarkan masalah kulit yang ingin ditangani, bukan semata-mata karena merasa harus menjalankan banyak tahapan perawatan.Jadi, apakah skincare tetap diperlukan saat seharian berada di rumah? Ya, perawatan dasar tetap relevan, meskipun jenis dan jumlah produk dapat disesuaikan dengan kondisi kulit serta lingkungan. Kulit tidak berhenti bekerja ketika seseorang berhenti bepergian. Karena itu, tujuan perawatan bukan mempertahankan rutinitas sepanjang mungkin, melainkan memberikan perlindungan dan dukungan yang benar-benar dibutuhkan kulit. [][Tim Beautyversity/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Perlukah Mengganti Rutinitas Skincare Saat Memasuki Usia 30-an?
SkinCare

11 Agt 2026

Perlukah Mengganti Rutinitas Skincare Saat Memasuki Usia 30-an?

Usia 30 sering dianggap titik perubahan kulit. Produk baru mulai dilirik. Namun, apakah seluruh rutinitas skincare memang harus ikut berubah?Memasuki usia 30-an sering disertai daftar baru tentang apa yang ‘seharusnya’ mulai dilakukan. Dalam urusan kulit, media sosial ikut memperpanjang daftar tersebut dengan berbagai rekomendasi, mulai dari anti-aging serum, krim mata, retinoid, hingga rangkaian perawatan malam yang semakin kompleks. Seolah-olah ketika angka usia berganti, semua produk yang sebelumnya digunakan mendadak tidak lagi cukup.Kulit memang mengalami perubahan seiring bertambahnya usia. Proses regenerasi tidak selalu berlangsung seperti ketika seseorang berada pada usia yang lebih muda, sementara perubahan kolagen, elastisitas, kadar kelembapan, dan akumulasi paparan lingkungan perlahan mulai terlihat. Namun, perubahan tersebut berlangsung secara biologis dan bertahap, bukan tepat ketika seseorang merayakan ulang tahun ke-30.Itulah sebabnya dua orang yang sama-sama berusia 32 tahun dapat memiliki kondisi kulit yang sangat berbeda. Seseorang mungkin mulai melihat garis halus dan kulit terasa lebih kering, sementara orang lain masih berhadapan dengan produksi minyak berlebih dan jerawat. Genetik, paparan sinar matahari, kebiasaan hidup, lingkungan, dan riwayat perawatan kulit ikut menentukan bagaimana perubahan tersebut muncul.Karena itu, memasuki usia 30-an sebaiknya tidak langsung diterjemahkan sebagai perintah untuk mengganti seluruh isi meja rias. Yang lebih penting adalah mengevaluasi apakah kebutuhan kulit memang berubah dan apakah rutinitas yang selama ini digunakan masih mampu menjawab kebutuhan tersebut.Baca Juga: Mengapa Kulit Masih Terlihat Kusam Padahal Sudah Rutin Skincare?Bukan Usianya yang Menentukan, tetapi Kondisi KulitnyaSalah satu kesalahan yang mudah terjadi adalah memilih produk berdasarkan angka usia yang tercetak pada kemasan. Kategori seperti "untuk usia 30+" memang memudahkan komunikasi produk kepada konsumen, tetapi kulit tidak bekerja berdasarkan pembagian umur yang begitu tegas. Kondisi biologis kulit jauh lebih kompleks daripada satu angka.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menekankan bahwa pemilihan produk kosmetik sebaiknya mengikuti kebutuhan dan kondisi kulit. Perubahan usia memang dapat menjadi alasan untuk melakukan evaluasi, tetapi bukan berarti seluruh produk harus diganti sekaligus. Rutinitas yang sudah mampu membersihkan, menjaga kelembapan, dan memberikan perlindungan tetap memiliki fungsi penting selama kulit meresponsnya dengan baik.Hal yang lebih relevan adalah memperhatikan perubahan kecil. Kulit yang sebelumnya nyaman tanpa pelembap mungkin mulai terasa lebih kering, bekas jerawat membutuhkan waktu lebih lama untuk memudar, atau garis halus mulai terlihat pada area tertentu. Perubahan seperti inilah yang dapat menjadi dasar untuk menyesuaikan perawatan secara bertahap.Menurut American Academy of Dermatology, perlindungan terhadap sinar matahari tetap menjadi salah satu fondasi terpenting untuk membantu mencegah penuaan dini pada kulit. Artinya, sebelum terburu-buru mencari bahan aktif baru, penggunaan broad-spectrum sunscreen secara konsisten justru perlu dievaluasi. Produk dengan harga mahal tidak akan mampu sepenuhnya mengompensasi kebiasaan membiarkan kulit terus terpapar ultraviolet tanpa perlindungan yang memadai.Baca Juga: Kandungan Anti-Pollution yang Sedang DiminatiUsia 30-an Lebih Tepat Menjadi Waktu untuk MengevaluasiJika ada sesuatu yang layak berubah ketika memasuki usia 30-an, mungkin bukan jumlah produk, melainkan cara memilihnya. Rutinitas dapat mulai diarahkan pada kebutuhan yang lebih spesifik, seperti menjaga hidrasi, mempertahankan fungsi skin barrier, mengelola pigmentasi, atau membantu mengurangi tanda-tanda penuaan yang memang sudah mulai terlihat. Penambahan produk dilakukan karena ada kebutuhan, bukan karena kalender mengatakan demikian.Bahan seperti retinoid, vitamin C, niacinamide, peptida, dan berbagai antioksidan sering mulai mendapat perhatian pada fase ini. Masing-masing memiliki fungsi dan tingkat bukti ilmiah yang berbeda sehingga tidak semuanya harus digunakan bersamaan. Menambahkan beberapa bahan aktif sekaligus justru dapat menyulitkan proses mengenali bahan mana yang memberikan manfaat atau memicu ketidaknyamanan.Menurut dermatolog Dr. Patricia Farris dalam berbagai pembahasannya mengenai penuaan kulit, strategi perawatan yang efektif perlu menggabungkan perlindungan terhadap paparan lingkungan dengan bahan yang memiliki bukti manfaat terhadap tanda penuaan. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa perawatan kulit usia 30-an lebih masuk akal bila dibangun sebagai strategi jangka panjang. Tujuannya bukan menghentikan proses menua, melainkan membantu kulit mempertahankan fungsi dan kondisinya sebaik mungkin.Ada pula perubahan yang tidak dapat diselesaikan dengan menambah produk. Kurang tidur, merokok, stres berkepanjangan, pola makan yang kurang seimbang, serta paparan sinar matahari berulang ikut memengaruhi bagaimana kulit terlihat. Rutinitas skincare merupakan bagian dari perawatan, tetapi tidak bekerja terpisah dari kehidupan yang dijalani pemilik kulit tersebut.Memasuki usia 30-an karena itu tidak membutuhkan ritual membuang semua produk lama dan memulai kembali dari nol. Ini justru dapat menjadi kesempatan untuk berhenti membeli berdasarkan ketakutan terhadap usia dan mulai menilai kulit dengan lebih tenang. Pertahankan yang masih bekerja, tambahkan yang memang dibutuhkan, dan tinggalkan produk yang tidak lagi relevan. Rutinitas yang matang bukan rutinitas yang semakin panjang, tetapi semakin memahami alasan di balik setiap produk yang digunakan. [][Eva Evilia/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Mengapa Rutinitas Pagi Dapat Memengaruhi Cara Kita Merawat Diri?
PersonalCare

04 Agt 2026

Mengapa Rutinitas Pagi Dapat Memengaruhi Cara Kita Merawat Diri?

Hari dimulai dalam beberapa menit pertama. Kebiasaan kecil ikut terbentuk. Cara kita memperlakukan diri sendiri seringkali berawal dari sana.Rutinitas pagi sering dipandang sebagai sekadar rangkaian aktivitas sebelum memulai pekerjaan atau sekolah. Bangun tidur, mandi, berpakaian, lalu berangkat menjalani kesibukan. Karena dilakukan hampir setiap hari, banyak orang menganggap rutinitas tersebut sebagai sesuatu yang biasa sehingga jarang disadari pengaruhnya terhadap kesehatan tubuh maupun cara seseorang merawat dirinya.Padahal, pagi hari merupakan waktu ketika tubuh mulai beralih dari fase istirahat menuju aktivitas. Pada saat itulah seseorang mulai menentukan ritme harinya, baik melalui kebiasaan yang dilakukan secara sadar maupun yang sudah terbentuk menjadi pola. Cara seseorang memulai pagi dapat memengaruhi bagaimana ia memperhatikan tubuhnya sepanjang hari.Tidak mengherankan apabila orang yang memiliki pagi yang terburu-buru lebih sering melewatkan sarapan, lupa minum air, atau menunda menggunakan pelembap maupun sunscreen. Sebaliknya, rutinitas pagi yang lebih teratur sering membantu seseorang lebih mudah menjaga kebiasaan sehat tanpa merasa terbebani.Merawat diri bukan hanya tentang menyediakan waktu khusus pada akhir pekan atau ketika tubuh mulai terasa lelah. Dalam banyak kasus, perhatian terhadap diri sendiri justru dibangun melalui kebiasaan sederhana yang terus diulang setiap pagi.Baca Juga: Kebiasaan Sehari-hari yang Tidak Terlihat, tetapi Membantu Self-CareRutinitas Pagi Membentuk Kebiasaan Merawat DiriPsikologi mengenal konsep bahwa kebiasaan lebih mudah terbentuk ketika dilakukan pada waktu dan situasi yang sama secara berulang. Pagi hari menjadi salah satu momen yang paling konsisten karena hampir setiap orang memiliki urutan aktivitas yang relatif serupa dari hari ke hari. Kondisi ini membuat berbagai kebiasaan sehat lebih mudah melekat apabila dimulai sejak pagi.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menjelaskan bahwa personal care tidak hanya berkaitan dengan penggunaan produk perawatan tubuh. Menurutnya, perhatian terhadap kebersihan diri, hidrasi, perlindungan kulit dari sinar matahari, serta kesiapan tubuh menghadapi aktivitas merupakan bagian dari kebiasaan yang saling berkaitan. Ketika rutinitas pagi berjalan dengan baik, berbagai bentuk perawatan tersebut cenderung lebih mudah dilakukan secara konsisten.Sebagai contoh, mengawali hari dengan minum air putih membantu menggantikan cairan tubuh yang berkurang selama tidur. Membersihkan wajah sebelum mengaplikasikan pelembap dan sunscreen membantu mempersiapkan kulit menghadapi paparan sinar ultraviolet dan polusi. Kebiasaan sederhana seperti ini mungkin hanya membutuhkan beberapa menit, tetapi memberikan manfaat yang berlangsung sepanjang hari.Dikutip dari Harvard Medical School, rutinitas yang dilakukan secara konsisten membantu mengurangi beban pengambilan keputusan [decision fatigue]. Ketika seseorang tidak perlu terus-menerus memikirkan apakah harus melakukan suatu kebiasaan atau tidak, energi mental dapat digunakan untuk menghadapi aktivitas lain yang lebih kompleks. Hal ini menjelaskan mengapa rutinitas pagi yang sederhana justru sering lebih mudah dipertahankan dalam jangka panjang.Baca Juga: Efek Polusi Udara pada Kulit Pria dan WanitaPerawatan Diri Dimulai Sebelum Hari Menjadi SibukKesibukan sering dijadikan alasan untuk menunda perhatian terhadap tubuh. Banyak orang berencana makan lebih teratur, memakai body lotion, atau menggunakan sunscreen, tetapi niat tersebut tertunda karena pekerjaan yang datang silih berganti. Ketika sore atau malam tiba, energi sudah berkurang dan sebagian kebiasaan baik akhirnya terlewat.Membangun rutinitas pagi membantu mengurangi kemungkinan tersebut. Perawatan diri dilakukan ketika waktu dan energi masih tersedia sehingga tidak bergantung pada kondisi di penghujung hari. Pendekatan ini membuat personal care menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan pekerjaan tambahan yang terasa memberatkan.Menurut Dr. BJ Fogg, ilmuwan perilaku dari Stanford University sekaligus penulis Tiny Habits, perubahan besar sering berawal dari kebiasaan yang sangat kecil dan mudah dilakukan. Kebiasaan yang sederhana memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dibanding perubahan drastis yang menuntut banyak tenaga sejak awal. Prinsip tersebut dapat diterapkan dalam berbagai bentuk perawatan diri, mulai dari minum air putih, membersihkan wajah, hingga mengoleskan pelembap setelah mandi.Rutinitas pagi juga memberi kesempatan untuk mengenali kondisi tubuh sebelum aktivitas dimulai. Rambut yang terasa lebih mudah rontok, kulit yang tampak lebih kering, atau tubuh yang terasa kurang bugar sering kali menjadi sinyal awal bahwa ada kebutuhan yang perlu diperhatikan. Semakin cepat perubahan tersebut disadari, semakin mudah pula seseorang menyesuaikan kebiasaan perawatannya.Merawat diri tidak selalu membutuhkan waktu yang panjang atau rutinitas yang rumit. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan yang dapat dilakukan secara konsisten dan sesuai dengan kebutuhan tubuh. Ketika pagi dimulai dengan perhatian kecil terhadap diri sendiri, kebiasaan tersebut perlahan berkembang menjadi cara hidup yang membantu tubuh tetap sehat, nyaman, dan siap menjalani berbagai aktivitas setiap hari. [][Vikalena Lasmoskwa/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Tanya Dong: Apakah Semua Orang Perlu Menyesuaikan Rutinitas Skincare dengan Iklim?
TanyaDong

13 Jul 2026

Tanya Dong: Apakah Semua Orang Perlu Menyesuaikan Rutinitas Skincare dengan Iklim?

Perubahan cuaca dapat memengaruhi kondisi kulit. Namun, apakah setiap orang benar-benar perlu mengubah rutinitas skincare setiap kali iklim berubah?Pertanyaan ini sering muncul, terutama ketika seseorang berpindah kota, memasuki musim hujan, atau menghadapi cuaca yang lebih panas dari biasanya. Tidak sedikit pula yang langsung mengganti seluruh rangkaian skincare karena menganggap kulit pasti membutuhkan produk yang berbeda. Padahal, perubahan rutinitas tidak selalu harus dilakukan secara menyeluruh.Kulit merupakan organ yang terus beradaptasi dengan lingkungan. Kelembapan udara, suhu, paparan sinar matahari, hingga kualitas udara dapat memengaruhi produksi minyak, kadar hidrasi, dan fungsi skin barrier. Respons tersebut berbeda pada setiap orang sehingga kebutuhan kulit pun tidak selalu sama, meskipun berada di lingkungan yang sama.Artinya, yang perlu diperhatikan bukan sekadar perubahan iklim, tetapi bagaimana kulit memberikan respons terhadap perubahan tersebut. Mengamati kondisi kulit jauh lebih penting daripada mengganti produk hanya karena mengikuti musim atau tren yang sedang ramai dibicarakan.Baca Juga: Tanya Dong: Kenapa Kulit Kadang Terasa Baik-Baik Saja Lalu Tiba-Tiba Rewel?Mengapa Iklim Memengaruhi Kondisi Kulit?Saat cuaca panas dan lembap, produksi sebum biasanya meningkat. Pada sebagian orang, kondisi ini membuat wajah terasa lebih berminyak dan pori-pori lebih mudah tersumbat. Sebaliknya, ketika udara menjadi lebih dingin atau kering, penguapan air dari permukaan kulit meningkat sehingga kulit dapat terasa lebih kering, tertarik, atau mudah mengalami iritasi.Perubahan tersebut merupakan respons alami tubuh. Kulit terus berusaha menjaga keseimbangan agar fungsi pelindungnya tetap bekerja dengan baik. Karena itu, tidak mengherankan apabila seseorang yang biasanya merasa nyaman menggunakan satu produk tiba-tiba merasakan perubahan ketika lingkungan tempat tinggalnya ikut berubah.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menjelaskan bahwa penyesuaian rutinitas skincare sebaiknya didasarkan pada kondisi kulit, bukan semata-mata pada perubahan cuaca. Menurutnya, apabila kulit tetap terasa nyaman, terhidrasi, dan tidak menunjukkan tanda iritasi, tidak ada alasan untuk mengganti seluruh rangkaian perawatan. Yang lebih penting adalah melakukan evaluasi terhadap kebutuhan kulit secara berkala.Baca Juga: Tanya Dong: Kenapa Produk yang Nyaman Dipakai Belum Tentu Cocok?Tidak Selalu Harus Ganti ProdukBanyak orang menganggap solusi terbaik ketika cuaca berubah adalah membeli produk baru. Padahal, dalam banyak kasus, yang dibutuhkan hanya penyesuaian kecil. Misalnya, menambahkan pelembap ketika udara lebih kering, memilih tekstur yang lebih ringan saat cuaca sangat lembap, atau lebih disiplin menggunakan sunscreen ketika paparan sinar matahari meningkat.Dr. Whitney Bowe, dermatolog sekaligus penulis The Beauty of Dirty Skin, menjelaskan bahwa kulit memiliki kemampuan beradaptasi apabila fungsi skin barrier tetap terjaga. Menurutnya, perubahan rutinitas sebaiknya dilakukan secara bertahap dan berdasarkan respons kulit, bukan karena asumsi bahwa setiap pergantian musim selalu membutuhkan rangkaian produk yang berbeda.Pendekatan seperti ini juga membantu mengurangi risiko iritasi akibat terlalu sering mencoba produk baru. Kulit membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan sebuah formula. Jika pergantian dilakukan terlalu cepat tanpa alasan yang jelas, justru akan lebih sulit mengetahui penyebab ketika muncul reaksi yang tidak diinginkan.Baca Juga: Tanya Dong: Apakah Semua Orang Butuh Rutinitas Malam yang Berbeda?Dengarkan Sinyal yang Diberikan KulitRutinitas skincare yang baik bukanlah rutinitas yang paling panjang atau paling sering berubah. Rutinitas yang baik adalah rutinitas yang mampu mengikuti kebutuhan kulit tanpa memberikan beban yang berlebihan. Dalam praktiknya, perubahan kecil sering kali sudah cukup untuk membantu kulit tetap nyaman menghadapi perubahan lingkungan.Banyak kebingungan mengenai skincare muncul karena perhatian lebih banyak diarahkan pada faktor luar daripada kondisi kulit itu sendiri. Padahal, dua orang yang tinggal di kota yang sama bisa saja membutuhkan perawatan yang berbeda karena jenis kulit, aktivitas harian, usia, dan kondisi kesehatannya tidak sama.Karena itu, jawaban atas pertanyaan ini adalah tidak. Tidak semua orang harus menyesuaikan rutinitas skincare setiap kali iklim berubah. Yang perlu disesuaikan adalah perawatan ketika kulit benar-benar menunjukkan kebutuhan yang berbeda. Dengan memahami sinyal yang diberikan kulit, perubahan rutinitas akan menjadi lebih tepat sasaran, lebih sederhana, dan jauh lebih bermanfaat dibanding mengganti seluruh produk tanpa alasan yang jelas. [][Tim Beautyversity/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Mitos: Kulit yang Tak Bermasalah Tidak Perlu Dirawat
MythBuster

12 Jun 2026

Mitos: Kulit yang Tak Bermasalah Tidak Perlu Dirawat

Banyak orang mulai merawat kulit setelah muncul masalah. Selama kulit terasa baik-baik saja, perawatan sering dianggap tidak terlalu penting.Sekilas, anggapan ini terdengar masuk akal. Jika tidak ada jerawat, iritasi, atau keluhan lain yang mengganggu, mengapa harus repot-repot memikirkan perawatan kulit? Akibatnya, cukup banyak orang yang baru mulai memperhatikan kondisi kulitnya ketika masalah sudah muncul dan terasa sulit diabaikan.Padahal, fungsi perawatan kulit tidak hanya untuk mengatasi masalah. Sama seperti menyikat gigi bukan hanya dilakukan saat gigi sakit, perawatan kulit juga memiliki peran untuk membantu menjaga kondisi yang sudah baik agar tetap sehat dalam jangka panjang.Baca Juga: Mitos: Kulit Sehat Harus Terlihat MengilapKulit Sehat Tetap Membutuhkan DukunganKulit adalah organ terbesar dalam tubuh manusia. Setiap hari, ia menghadapi paparan sinar matahari, polusi, perubahan cuaca, gesekan, serta berbagai faktor lingkungan lain yang dapat memengaruhi kondisinya. Walaupun tidak langsung menimbulkan masalah yang terlihat, berbagai paparan tersebut tetap memberi beban pada kulit.Sebagai contoh, seseorang bisa memiliki kulit yang tampak sehat dan tidak berjerawat. Namun jika ia jarang menggunakan sunscreen, paparan sinar ultraviolet tetap dapat memengaruhi kesehatan kulit dalam jangka panjang. Dampaknya mungkin tidak terlihat hari ini, tetapi dapat muncul secara perlahan selama bertahun-tahun.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menilai bahwa perawatan kulit sebaiknya dipahami sebagai upaya menjaga fungsi kulit, bukan sekadar memperbaiki masalah yang sudah terjadi. Menurutnya, kulit yang sehat tetap memerlukan perlindungan dan dukungan agar mampu menjalankan fungsi alaminya dengan baik.Pandangan tersebut sejalan dengan pemahaman modern mengenai kesehatan kulit. Dermatolog Dr. Leslie Baumann dalam buku The Skin Type Solution [2006] menjelaskan bahwa perawatan kulit yang tepat membantu mempertahankan keseimbangan, hidrasi, dan fungsi pelindung kulit, bahkan ketika tidak ada keluhan yang terlihat.Karena itu, tidak adanya masalah bukan berarti kulit tidak membutuhkan perhatian. Justru kondisi yang baik sering lebih mudah dipertahankan daripada diperbaiki setelah mengalami gangguan.Baca Juga: Mitos: Semakin Lama Skincare Dipakai Semakin Cepat HasilnyaPerawatan Tidak Selalu Berarti Rutinitas yang RumitSalah satu alasan mitos ini bertahan adalah karena banyak orang menganggap perawatan kulit identik dengan rutinitas yang panjang dan kompleks. Mereka membayangkan banyak produk, banyak langkah, dan waktu yang tidak sedikit.Padahal, perawatan kulit dasar sering kali cukup sederhana. Membersihkan wajah dengan tepat, menjaga kelembapan kulit sesuai kebutuhan, dan menggunakan sunscreen secara konsisten sudah menjadi fondasi yang penting bagi banyak orang.Dermatolog Dr. Whitney Bowe dalam buku The Beauty of Dirty Skin [2018] mengemukakan bahwa kesehatan kulit lebih banyak dipengaruhi oleh kebiasaan yang konsisten dibanding upaya yang berlebihan sesekali. Pendekatan yang sederhana tetapi dilakukan secara teratur sering memberikan manfaat yang lebih besar dibanding rutinitas yang rumit namun sulit dipertahankan.Hal yang sering terlupakan adalah bahwa tujuan utama perawatan kulit bukan mengejar kesempurnaan. Tujuannya adalah membantu kulit tetap nyaman, sehat, dan mampu menjalankan fungsinya secara optimal.Mitos ini membuat banyak orang menunggu sampai muncul masalah sebelum mulai peduli. Padahal, saat masalah sudah terjadi, proses yang dibutuhkan untuk memperbaikinya sering kali lebih panjang dibanding menjaga kondisi yang sudah baik sejak awal.Kulit yang sehat memang tidak selalu meminta perhatian dengan suara keras. Namun bukan berarti ia tidak membutuhkan perhatian sama sekali. Sama seperti bagian tubuh lainnya, kulit juga bekerja setiap hari untuk melindungi kita. Memberinya perawatan yang tepat merupakan bentuk dukungan terhadap pekerjaan yang terus ia lakukan tanpa henti. [][Rudi Tenggarawan/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Rutinitas Personal Care yang Terlalu Rumit Justru Melelahkan
PersonalCare

09 Mei 2026

Rutinitas Personal Care yang Terlalu Rumit Justru Melelahkan

Ada masa ketika merawat diri mulai terasa seperti daftar tugas yang tidak ada habisnya. Pagi harus memakai beberapa produk sekaligus, malam masih harus mengulang langkah yang panjang, belum lagi rasa khawatir kalau ada satu tahapan yang terlewat. Alih-alih terasa menenangkan, rutinitas itu perlahan berubah jadi beban kecil yang dibawa setiap hari.Fenomena seperti ini semakin sering terjadi. Banyak orang merasa harus mengikuti rutinitas yang detail agar terlihat benar-benar ‘merawat diri’. Semakin banyak langkah yang dilakukan, semakin muncul rasa bahwa usaha yang diberikan juga semakin serius.Padahal, personal care seharusnya membantu tubuh dan pikiran merasa lebih nyaman. Ketika rutinitas mulai membuat stres, kelelahan, atau rasa bersalah saat tidak dilakukan sempurna, ada kemungkinan bahwa perawatan diri sudah berubah arah.Masalahnya bukan pada produk atau kebiasaannya. Yang sering membuat melelahkan adalah tekanan untuk selalu melakukan semuanya sekaligus.Baca Juga: Kenapa Kita Takut Berhenti Pakai Produk Tertentu?Terlalu Banyak Langkah Membuat Perawatan Kehilangan MaknaBanyak rutinitas personal care awalnya dibangun dari niat yang baik. Seseorang mulai memakai skincare lebih rutin, mencoba menjaga tubuh lebih rapi, atau memperhatikan kesehatan diri dengan lebih serius. Namun lama-kelamaan, kebiasaan ini bisa berkembang menjadi sesuatu yang terasa wajib dilakukan secara sempurna.Sebagai contoh, seseorang bisa merasa harus memakai beberapa jenis serum, body care, masker rambut, hingga berbagai produk tambahan setiap hari agar merasa ‘cukup merawat diri’. Ketika satu langkah terlewat, muncul rasa tidak nyaman atau takut kondisi tubuh langsung berubah buruk.Hal seperti ini membuat perawatan diri kehilangan fungsi utamanya. Yang awalnya bertujuan memberi rasa nyaman justru berubah menjadi sumber tekanan kecil yang terus muncul diam-diam.Dalam buku Real Self-Care [2023], psikolog Dr. Pooja Lakshmin menjelaskan bahwa banyak bentuk self-care modern berubah menjadi performa dan tuntutan produktivitas baru. Akibatnya, aktivitas yang seharusnya membantu justru terasa menguras energi emosional.Selain itu, rutinitas yang terlalu panjang juga sulit dipertahankan secara konsisten. Saat sedang sibuk, lelah, atau kondisi mental sedang tidak stabil, rutinitas kompleks terasa semakin berat dijalani. Akhirnya, muncul siklus merasa gagal karena tidak mampu mengikuti standar yang dibuat sendiri.Perawatan diri yang sehat biasanya lebih fleksibel. Ia bisa menyesuaikan dengan kondisi hidup sehari-hari tanpa membuat seseorang merasa bersalah ketika tidak melakukannya secara sempurna.Baca Juga: Kenapa Kita Merasa Lebih Aman dengan Produk Mahal?Rutinitas yang Sederhana Sering Lebih Bertahan LamaMenariknya, banyak kebiasaan personal care yang benar-benar efektif justru datang dari hal sederhana yang dilakukan konsisten. Membersihkan wajah dengan baik, memakai sunscreen, menjaga kebersihan tubuh, tidur cukup, dan memberi waktu istirahat sering memberi dampak lebih besar dibanding rutinitas yang terlalu rumit tetapi tidak stabil.Sebagai contoh, seseorang yang hanya memakai cleanser, moisturizer, dan sunscreen secara rutin sering memiliki kondisi kulit yang lebih stabil dibanding orang yang terus mengganti produk dan mencoba banyak langkah sekaligus. Hal ini terjadi karena tubuh dan kulit lebih mudah beradaptasi dengan rutinitas yang konsisten.Dermatolog Dr. Shereene Idriss dalam berbagai edukasinya sering menekankan bahwa rutinitas skincare tidak perlu terlalu kompleks untuk bisa bekerja efektif. Menurutnya, memahami kebutuhan dasar kulit jauh lebih penting dibanding mengikuti terlalu banyak tren sekaligus.Hal yang sama juga berlaku dalam personal care secara umum. Rutinitas sederhana cenderung lebih realistis dijalani dalam jangka panjang. Ketika perawatan terasa ringan, kita juga lebih mudah menjaga hubungan yang sehat dengan tubuh sendiri.Tidak semua orang membutuhkan sepuluh langkah perawatan setiap hari. Ada yang cukup dengan rutinitas dasar, lalu menambahkan hal lain hanya ketika memang diperlukan. Pendekatan seperti ini membuat perawatan terasa lebih manusiawi dan tidak melelahkan.Kadang, tubuh sebenarnya tidak meminta lebih banyak produk. Ia hanya membutuhkan perhatian yang lebih konsisten dan lebih tenang.Saat mulai memahami hal ini, cara melihat personal care ikut berubah. Fokusnya bukan lagi pada seberapa panjang rutinitas yang dilakukan, tetapi apakah kebiasaan itu benar-benar membantu hidup terasa lebih baik.Dan ketika perawatan diri kembali terasa sederhana, biasanya hubungan dengan diri sendiri juga terasa jauh lebih ringan. [][Vikalena Lasmoskwa/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Kenapa Kita Merasa Lebih Aman dengan Produk Mahal?
PersonalCare

30 Apr 2026

Kenapa Kita Merasa Lebih Aman dengan Produk Mahal?

Ada rasa tertentu yang muncul saat kita memegang produk dengan harga lebih tinggi. Tanpa perlu banyak berpikir, muncul keyakinan kecil bahwa pilihan ini lebih aman. Seolah-olah, harga menjadi jaminan yang tidak perlu dijelaskan lagi.Perasaan ini sering terjadi dalam keseharian. Saat memilih sunscreen, serum, atau bahkan sabun wajah, banyak orang cenderung lebih percaya pada produk yang lebih mahal. Bukan karena sudah mencoba, tetapi karena terasa lebih 'pasti'.Menariknya, rasa aman ini tidak selalu datang dari pengalaman. Ia sering terbentuk sebelum produk benar-benar digunakan. Dari sini, muncul pertanyaan yang lebih dalam, kenapa harga bisa memberi rasa percaya seperti itu.Di titik ini, penting untuk melihat bahwa rasa aman tidak selalu sama dengan keamanan yang sebenarnya. Ada beberapa faktor yang tanpa disadari membentuk persepsi tersebut.Baca Juga: Cara Menentukan Produk PersonalCare yang TepatHarga Memberi Ilusi KontrolSalah satu alasan utama adalah karena harga memberi kesan kontrol. Ketika kita membayar lebih, ada perasaan bahwa kita sudah 'melakukan yang terbaik' untuk diri sendiri. Dari situ, muncul keyakinan bahwa risiko sudah ditekan seminimal mungkin.Sebagai contoh, seseorang yang pernah mengalami breakout karena mencoba produk murah cenderung beralih ke produk yang lebih mahal. Saat memilih serum berikutnya, ia merasa lebih aman karena mengasosiasikan harga tinggi dengan kualitas yang lebih terjamin. Padahal, penyebab breakout sebelumnya belum tentu karena harga produk.Fenomena ini dikenal dalam psikologi sebagai price-quality heuristic, yaitu ketika harga digunakan sebagai indikator kualitas. Menurut penelitian dalam Journal of Consumer Research, konsumen sering menggunakan harga sebagai shortcut untuk menilai sesuatu yang sebenarnya lebih kompleks.Dalam konteks personal care, hal ini membuat keputusan terasa lebih mudah. Kita tidak perlu menganalisis terlalu dalam, cukup percaya bahwa harga sudah mewakili kualitas. Dari sini, rasa aman terbentuk tanpa perlu pembuktian langsung.Namun, ilusi kontrol ini bisa menyesatkan jika tidak disadari. Produk mahal tetap bisa tidak cocok, dan produk sederhana tetap bisa bekerja dengan baik. Rasa aman yang muncul lebih banyak berasal dari persepsi, bukan dari hasil yang sudah terbukti.Baca Juga: Cara Mengenali Kebutuhan Kulit SendiriPengalaman dan Cerita Membentuk KeyakinanSelain harga, pengalaman orang lain juga ikut memperkuat rasa aman. Ketika melihat orang lain menggunakan produk mahal dan terlihat 'baik-baik saja', kita cenderung menganggap produk tersebut lebih bisa dipercaya. Cerita seperti ini sering muncul dalam review atau rekomendasi.Sebagai contoh nyata, banyak orang merasa lebih aman menggunakan sunscreen dengan harga tinggi karena sering direkomendasikan oleh dokter atau influencer. Padahal, fungsi utama sunscreen tetap sama, yaitu melindungi kulit dari sinar UV. Perbedaan harga tidak selalu mengubah fungsi dasar tersebut.Hal yang sama juga terjadi pada produk seperti moisturizer untuk kulit sensitif. Ketika sebuah produk mahal disebut 'dermatologically tested', banyak orang langsung merasa lebih aman tanpa melihat apakah formulanya benar-benar sesuai dengan kondisi kulitnya.Menurut Dr. Shereene Idriss, dermatolog yang sering mengedukasi tentang skincare berbasis kebutuhan, rasa aman dalam memilih produk sering dipengaruhi oleh persepsi dan pengalaman sosial, bukan hanya oleh kandungan produk itu sendiri. Ini menunjukkan bahwa keputusan kita sering dipengaruhi oleh lingkungan.Ketika pengalaman dan cerita ini terus diulang, rasa aman menjadi semakin kuat. Tanpa disadari, kita mulai mengaitkan harga tinggi dengan risiko yang lebih rendah. Dari sini, pola memilih mulai terbentuk.Namun, penting untuk kembali melihat bahwa keamanan sebenarnya datang dari kecocokan. Produk yang tepat adalah yang sesuai dengan kondisi kulit dan digunakan dengan cara yang benar. Dari sini, rasa aman yang lebih nyata mulai terbentuk.Di titik itu, harga tetap bisa menjadi pertimbangan, tetapi bukan satu-satunya alasan. Ia menjadi bagian dari keputusan, bukan sumber utama rasa percaya.Perawatan diri bukan tentang mencari yang paling mahal. Ia tentang memahami apa yang benar-benar dibutuhkan. Dan dari sana, rasa aman tidak lagi bergantung pada harga, tetapi pada pemahaman. [][Vikalena Lasmoskwa/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Rutinitas Skincare Minimalis yang Lebih Efektif
SkinCare

20 Feb 2026

Rutinitas Skincare Minimalis yang Lebih Efektif

Rak skincare penuh belum tentu perlu. Kadang kulit cuma minta yang esensial.Tren 10 step skincare memang sempat bikin kita kalap belanja. Essence ini, ampoule itu, serum A dipakai barengan serum B. Rasanya, makin banyak layer, makin glowing.Sebagai pencinta dunia kecantikan yang gampang penasaran, saya juga pernah ada di fase itu. Sampai akhirnya sadar, kulit saya justru lebih tenang saat rutinitasnya dipangkas.Minimalis bukan berarti malas. Justru ini soal strategi. Kita pilih produk yang benar-benar bekerja, bukan sekadar lucu di rak atau viral di timeline.Baca Juga: Hilangkan Flek di Wajah, Pakai Skincare Apa?Tiga Langkah Inti yang Tidak Boleh HilangKalau mau diringkas, rutinitas skincare efektif itu cuma butuh tiga fondasi: cleanser, moisturizer, dan sunscreen. Pembersih menjaga kulit tetap bersih dari minyak dan polusi. Pelembap menjaga skin barrier tetap sehat.Dan sunscreen adalah tameng utama. Mau pakai serum mahal sekalipun, tanpa perlindungan matahari, hasilnya bisa kurang maksimal. Sinar UV tetap jadi faktor penuaan dini paling konsisten.Kalau ingin menambahkan satu langkah lagi, pilih serum sesuai kebutuhan spesifik. Misalnya niacinamide untuk kontrol minyak atau retinol untuk regenerasi. Satu fokus lebih baik daripada lima bahan aktif yang saling tumpang tindih.Baca Juga: Skincare Wajib untuk Pengendara MotorKenapa Minimalis Justru Lebih Optimal?Semakin banyak produk, semakin besar risiko iritasi dan over-exfoliation. Kulit itu punya batas toleransi. Terlalu sering gonta-ganti formula justru bikin barrier melemah dan breakout datang silih berganti.Rutinitas yang ringkas membuat kita lebih konsisten. Tidak ada drama lupa layer keempat atau bingung jeda antar-serum. Kulit juga lebih mudah beradaptasi karena komposisinya stabil.Bagi saya, skincare minimalis itu seperti capsule wardrobe versi wajah. Sedikit, terkurasi, tapi tepat guna. Hasilnya bukan cuma kulit lebih sehat, tapi juga dompet lebih aman dan pikiran lebih tenang. [][Eva Evilia/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

Membedah Isi Sunscreen Lebih Dalam
BahanAktif

10 Jan 2026

Membedah Isi Sunscreen Lebih Dalam

Tabir surya bukan sekadar pelindung dari matahari, ia adalah sistem kecil yang bekerja menjaga kulit tetap stabil. Mari kita bedah bahan aktifnya. Banyak orang memilih sunscreen berdasarkan SPF atau teksturnya, tetapi jarang benar-benar memperhatikan apa saja bahan aktif di dalamnya. Padahal, efektivitas sunscreen sangat ditentukan oleh kombinasi bahan yang membentuknya.Sunscreen bekerja dengan dua pendekatan utama, yaitu menyerap sinar ultraviolet atau memantulkannya. Cara kerja ini ditentukan oleh jenis bahan aktif yang digunakan. Memahami perbedaan ini membantu kita memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan kulit.Di balik label sederhana, sunscreen menyimpan struktur formulasi yang cukup kompleks. Ada bahan utama yang bertugas melindungi, dan ada bahan pelengkap yang mendukung kenyamanan serta stabilitas kulit.Baca Juga: Zinc, Si Kecil Tapi Penting Bahan Aktif Utama dalam SunscreenBahan aktif utama dalam sunscreen adalah filter UV. Mereka bertugas melindungi kulit dari sinar UVA dan UVB.Filter UV dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu filter kimia dan filter mineral. Filter kimia seperti avobenzone, octinoxate, dan octocrylene bekerja dengan menyerap sinar UV lalu mengubahnya menjadi energi panas yang tidak berbahaya.Filter mineral seperti zinc oxide dan titanium dioxide bekerja dengan memantulkan dan menyebarkan sinar UV dari permukaan kulit. Filter ini cenderung lebih lembut bagi kulit sensitif, meskipun teksturnya bisa terasa lebih berat.Kombinasi beberapa filter sering digunakan agar perlindungan lebih luas dan stabil. Sunscreen modern jarang hanya mengandalkan satu filter saja.Baca Juga: Ceramide, Fondasi Kulit yang Sering Diabaikan Bahan Pelengkap yang Mendukung Kinerja SunscreenSelain filter UV, sunscreen mengandung bahan pendukung yang tidak kalah penting. Antioksidan seperti vitamin E atau green tea membantu menetralisir radikal bebas yang dihasilkan oleh paparan sinar matahari.Humektan seperti glycerin atau hyaluronic acid membantu menjaga kelembapan kulit agar tidak kering akibat paparan matahari dan penggunaan filter UV.Bahan penenang seperti aloe vera, panthenol, atau centella asiatica membantu mengurangi potensi iritasi akibat sinar matahari maupun bahan aktif sunscreen itu sendiri.Ada juga bahan penstabil yang memastikan filter UV tetap efektif selama berada di kulit. Tanpa bahan ini, perlindungan bisa menurun lebih cepat.Sunscreen bukan hanya soal angka SPF, melainkan tentang sistem perlindungan yang bekerja bersama. Ketika bahan utama dan pelengkap disusun seimbang, kulit tidak hanya terlindungi, tetapi juga dirawat. [][Rudi Tenggarawan/TBV]Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi

Sunscreen Racun? Yuk Kita Bedah Faktanya!
MythBuster

02 Des 2025

Sunscreen Racun? Yuk Kita Bedah Faktanya!

Isu soal sunscreen beracun kembali viral dan membuat banyak orang ragu memakainya. Benarkah sunscreen berbahaya, atau ini hanya mitos yang makin membesar?Belakangan ini muncul lagi klaim bahwa sunscreen mengandung bahan beracun yang bisa masuk ke tubuh dan merusak organ. Narasi ini menyebar cepat, terutama di media sosial, dan membuat banyak orang takut memakai sunscreen.Menurut American Academy of Dermatology [AAD], sunscreen adalah salah satu produk paling teruji dalam industri perawatan kulit. Semua bahan aktif harus melalui evaluasi keamanan yang ketat sebelum digunakan dalam produk komersial.Beberapa penelitian memang menunjukkan bahwa beberapa bahan chemical sunscreen dapat terdeteksi dalam aliran darah dalam kadar kecil. Namun, FDA menyatakan bahwa penyerapan tidak sama dengan bahaya, dan tidak ada bukti bahwa kadar tersebut menyebabkan efek toksik.Justru tidak memakai sunscreen jauh lebih berbahaya. Paparan UV tanpa perlindungan meningkatkan risiko kanker kulit, penuaan dini, flek, dan kerusakan sel kulit dalam jangka panjang.Baca Juga: Benarkah Mencabut Alis Membuatnya Tumbuh Lebih Tebal dan Gelap?Mitos-Mitos Populer tentang Sunscreen yang Bikin Orang TakutMitos pertama: sunscreen mengandung bahan beracun yang bisa merusak organ. Sampai saat ini, tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut.Mitos kedua: mineral sunscreen lebih aman 100% dibanding chemical sunscreen. Padahal, keduanya sama-sama aman digunakan selama mengikuti regulasi batas konsentrasi.Mitos ketiga: sunscreen bisa menyebabkan gangguan hormon. Beberapa bahan sedang diteliti, namun tidak ada konfirmasi ilmiah bahwa sunscreen memicu gangguan signifikan pada tubuh manusia.Mitos keempat: tidak perlu sunscreen jika berada di dalam ruangan. Faktanya, sinar UVA tetap menembus kaca dan dapat merusak kulit.Baca Juga: Benarkah Kulit Bisa ‘Detoks’ Sendiri?Fakta Ilmiah tentang Keamanan SunscreenWorld Health Organization [WHO] menyatakan bahwa paparan UV adalah penyebab utama kanker kulit. Sunscreen adalah pelindung pertama yang terbukti menurunkan risiko tersebut.Bahan seperti avobenzone, octocrylene, dan oxybenzone telah dipelajari selama puluhan tahun. European Commission's Scientific Committee on Consumer Safety [SCCS] menyebutkan bahwa bahan-bahan ini aman pada konsentrasi yang diatur.Untuk kulit sensitif atau jika masih ragu menggunakan chemical sunscreen, mineral sunscreen yang menggunakan zinc oxide atau titanium dioxide bisa menjadi pilihan yang lebih lembut.Intinya, sunscreen bukan racun. Risiko yang nyata justru berasal dari paparan UV yang tidak terlindungi, yang efek negatifnya sangat jelas dan terukur secara medis. [][Rudi Tenggarawan/TBV]penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi

Cowok Juga Mau Punya Kulit Sehat, Kenapa Enggak?
MenZone

04 Nov 2025

Cowok Juga Mau Punya Kulit Sehat, Kenapa Enggak?

Banyak cowok berpikir skincare itu wilayah perempuan. Padahal, kulit cowok juga butuh perhatian. Bukan buat gaya, tapi buat kenyamanan diri sendiri. Debu jalanan, sinar matahari, dan keringat yang menumpuk bisa bikin kulit kusam bahkan bermasalah kalau dibiarkan begitu saja.Cowok modern mulai sadar bahwa merawat diri bukan berarti kehilangan sisi maskulin. Justru sebaliknya — cowok yang paham cara menjaga kebersihan dan kesehatan kulit menunjukkan kedewasaan dan rasa tanggung jawab terhadap dirinya sendiri.Biasanya, masalah kulit cowok bukan karena faktor genetik, tapi karena malas membersihkan wajah setelah beraktivitas. Padahal, cuma butuh tiga langkah dasar untuk menjaga kulit tetap sehat.Baca Juga: Arang Bambu untuk Kulit Pria BersihMulai dari yang Simpel DuluCuci muka dua kali sehari — pagi dan malam — itu udah cukup. Jangan pakai sabun mandi untuk wajah karena bisa bikin kulit kering dan iritasi. Pilih pembersih yang sesuai jenis kulit, entah itu berminyak, kering, atau kombinasi.Setelah itu, pakai pelembap. Ya, cowok juga butuh pelembap! Karena kulit yang dehidrasi akan memproduksi lebih banyak minyak sebagai reaksi alami. Hasilnya? Wajah jadi lebih gampang berjerawat. Terakhir, jangan lupakan sunscreen. Mau naik motor atau kerja di kantor, sinar UV tetap bisa menembus kaca.Baca Juga: Skincare Pria untuk Wajah CerahDari Rutinitas Jadi KebiasaanAwalnya mungkin terasa ribet. Tapi begitu terbiasa, semua langkah ini bisa dilakukan dalam lima menit. Nggak perlu produk banyak — yang penting cocok dan konsisten. Kulit yang bersih dan terawat bukan cuma enak dilihat, tapi juga bikin Anda lebih percaya diri.Jadi, nggak ada alasan lagi buat cuek. Cowok juga berhak punya kulit sehat dan segar. Karena merawat diri bukan soal gender, tapi soal rasa hormat pada diri sendiri. [][Rommy Rimbarawa/TBV]

Skincare Sehari dalam Hidup Anda
SkinCare

27 Okt 2025

Skincare Sehari dalam Hidup Anda

Pernahkah Anda sadar bahwa kulit punya ritme harian? Dari bangun tidur sampai malam, kulit kita bekerja terus-menerus menjaga kelembapan, memperbaiki sel, dan melindungi diri dari paparan luar. Bagaimana menjaganya?Tahukah Anda, banyak orang yang baru sadar pentingnya skincare justru setelah kulitnya mulai 'protes'? Dua langkah paling sederhana — membersihkan dan melembapkan — sering diremehkan, padahal jadi pondasi segalanya.Ritual skincare bukan tentang bertarung melawan jerawat atau menyerang minyak berlebih. Ini tentang memahami kulit sendiri, mengenali sinyal kecilnya, dan menanggapi dengan lembut. Kadang, yang kulit kita butuhkan bukan produk baru, tapi rutinitas yang sabar dan konsisten.Baca Juga: Kulit Cerah dengan Tomat LokalJadi, sebelum Anda mencari serum ajaib atau masker viral, coba tanya dulu: apakah Anda sudah rutin mencuci muka dengan sabun yang sesuai, atau masih asal bilas dengan air seadanya? Karena, sesederhana itu langkah awal menuju kulit yang bahagia. Agar lebih mudah, mari lihat bagaimana kulit bekerja sepanjang hari.Pagi: Saat Kulit Siap Bertugas Bersama AndaBegitu Anda bangun, kulit masih dalam fase ‘recovery’. Di sinilah pembersih lembut, toner ringan, dan pelembap berperan. Puncaknya adalah sunscreen — pelindung utama dari sinar UV yang bisa mempercepat penuaan dini. Bahkan saat cuaca mendung, tabir surya tetap wajib, karena sinar UVA menembus awan.Siang: Saat Keringat dan Polusi MengepungAktivitas membuat wajah terpapar polusi dan minyak alami yang menumpuk. Tidak perlu mencuci wajah berkali-kali — cukup lap dengan tisu lembap atau semprotkan facial mist. Pastikan kulit tetap lembap agar tidak memproduksi minyak berlebih.Baca Juga: Kulit Glowing dengan SkinimalismeMalam: Waktu Kulit Mengalami PerbaikanSetelah seharian beraktivitas, kulit butuh istirahat. Inilah saat terbaik untuk membersihkan makeup dan sisa sunscreen, lalu memakai serum dan krim malam. Di fase inilah bahan aktif seperti niacinamide, retinol, atau hyaluronic acid bekerja maksimal memperbaiki sel kulit.Menjadikan skincare sebagai ritual berarti Anda sedang berkomitmen pada diri sendiri. Bukan hanya untuk tampil cantik, tapi juga untuk merasa nyaman dengan kulit yang Anda miliki.Setiap langkah kecil — dari mencuci muka, memakai toner, hingga tidur cukup — adalah bentuk perhatian yang akan berbuah manis. Rawatlah kulit Anda dengan cinta, bukan tuntutan. Beauties, tak ada satu formula yang cocok untuk semua orang. Kulit setiap orang unik, dan yang terpenting adalah konsistensi. Kenali ritme tubuh, dengarkan kulit Anda, dan rawatlah dengan penuh kesadaran. [][Eva Evilia/TBV]

Menampilkan 1 - 12 dari 18 artikel