Mitos detoks kulit tidak memiliki dasar ilmiah. Kulit tidak membuang racun, melainkan bereaksi terhadap bahan atau iritasi. Fokuskan pada perawatan yang lembut dan konsisten.
Menurut American Academy of Dermatology [AAD], kulit tidak memiliki mekanisme detoksifikasi seperti hati atau ginjal. Kulit tidak 'mengeluarkan racun', melainkan hanya melakukan proses regenerasi sel dan mengatur produksi minyak untuk menjaga keseimbangan permukaannya.
Dengan kata lain, detoksifikasi kulit sebagai konsep medis tidak pernah diakui. Yang ada adalah proses alami: shedding, regenerasi, dan respon inflamasi yang bisa timbul akibat iritasi atau reaksi terhadap bahan tertentu.
Mitos ini populer karena menawarkan penjelasan sederhana untuk masalah kulit yang kompleks. Ketika jerawat muncul setelah mencoba produk baru, wajar jika orang mencari narasi yang mudah, “Oh, ini detoks. Kulitku sedang membersihkan diri.”
Padahal, menurut Harvard Health, jerawat yang muncul secara tiba-tiba lebih sering disebabkan oleh iritasi, over-exfoliation, atau ketidakcocokan formula—bukan karena racun yang dikeluarkan kulit.
Produk yang mengklaim mampu melakukan 'detoks kulit' sering kali memanfaatkan istilah ini untuk memberi kesan canggih, padahal fungsi yang dilakukan hanyalah membersihkan, mengelupas, atau menormalkan minyak.
Karena itu, penting untuk membedakan antara proses biologis nyata dan narasi pemasaran. Jika kulit mengalami reaksi berlebihan, itu bukan detoksifikasi—itu iritasi.
Lalu Apa yang Sebenarnya Dibutuhkan Kulit?
Kulit membutuhkan perawatan yang konsisten: pembersihan lembut, hidrasi cukup, perlindungan dari sinar UV, serta penggunaan bahan aktif yang sesuai kebutuhan kulit.
AAD menekankan bahwa rutinitas yang terlalu agresif justru dapat merusak fungsi pelindung kulit, membuatnya lebih sensitif dan mudah meradang.
penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi