Banyak orang begitu sibuk mengejar tujuan berikutnya sampai lupa melihat seberapa jauh dirinya sudah berjalan.
Ada hal yang cukup menarik dalam kehidupan manusia. Kita sering mengingat kesalahan, kekurangan, dan hal-hal yang belum tercapai dengan sangat jelas. Namun ketika berbicara tentang kemajuan diri, ingatan kita justru sering menjadi pendek. Apa yang dulu terasa sulit, setelah berhasil dicapai, perlahan dianggap biasa saja.
Akibatnya, banyak orang hidup dalam perasaan tertinggal meskipun sebenarnya terus bertumbuh. Mereka fokus pada jarak yang masih harus ditempuh, tetapi jarang memberi perhatian pada jarak yang sudah berhasil dilewati.
Baca Juga: Kenapa Kita Sulit Berdamai dengan Perubahan Diri?
Kita Terbiasa Melihat Kekurangan Lebih Cepat daripada Kemajuan
Sejak kecil, banyak orang dibesarkan dalam budaya yang sangat menghargai pencapaian. Nilai yang kurang diperbaiki, target yang belum tercapai dikejar, dan kelemahan yang dimiliki terus diusahakan untuk ditutupi. Pola ini memang dapat membantu seseorang berkembang, tetapi tanpa disadari juga membentuk kebiasaan untuk lebih fokus pada apa yang kurang dibanding apa yang sudah berhasil dicapai.
Sebagai contoh, seseorang yang dulu sangat tidak percaya diri mungkin kini sudah jauh lebih nyaman berbicara di depan banyak orang. Namun karena fokusnya selalu berpindah ke tantangan berikutnya, perubahan tersebut tidak pernah benar-benar dirayakan. Yang terlihat justru kemampuan yang masih belum dimiliki.
Hal serupa juga sering terjadi dalam perjalanan merawat diri. Ada orang yang berhasil membangun rutinitas skincare yang konsisten, menjaga pola tidur lebih baik, atau mulai menerima kondisi tubuhnya dengan lebih sehat. Namun karena hasilnya tidak sempurna, seluruh kemajuan itu terasa tidak cukup berarti.
Psikolog Dr. Rick Hanson dalam buku Hardwiring Happiness [2013] menjelaskan bahwa otak manusia memiliki kecenderungan lebih kuat untuk memperhatikan ancaman, masalah, dan kekurangan dibanding pengalaman positif. Mekanisme ini membantu manusia bertahan hidup, tetapi juga membuat kita lebih sulit menikmati pencapaian yang sebenarnya sudah ada di depan mata.
Karena itulah, banyak orang merasa dirinya tidak berkembang, padahal jika dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya, perubahan yang terjadi sebenarnya cukup besar.
Baca Juga: Kenapa Kita Takut Dilihat Tidak Menarik?
Kemajuan Tidak Selalu Datang dalam Bentuk yang Dramatis
Salah satu alasan lain mengapa kemajuan sulit dinikmati adalah karena kita sering membayangkan perubahan dalam bentuk yang besar dan spektakuler. Kita menunggu momen yang benar-benar mengubah hidup. Kita berharap ada garis yang jelas antara ‘dulu’ dan ‘sekarang’.
Padahal sebagian besar pertumbuhan manusia berlangsung secara perlahan. Tidak ada musik latar, tidak ada tepuk tangan, dan tidak ada pemberitahuan khusus yang mengatakan bahwa kita sedang berkembang. Perubahan hadir melalui kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali setiap hari.
Sebagai contoh, seseorang mungkin tidak menyadari bahwa dirinya sudah jauh lebih sabar dibanding beberapa tahun lalu. Ada juga yang tidak sadar bahwa ia kini lebih mampu menerima kritik, lebih berani mengatakan tidak, atau lebih bijak menghadapi kegagalan. Karena perubahan tersebut terjadi sedikit demi sedikit, kemajuannya sering luput dari perhatian.
Dr. Carol Dweck dalam buku Mindset [2006] mengemukakan bahwa pertumbuhan seringkali lebih mudah terlihat ketika seseorang membandingkan dirinya dengan versi dirinya di masa lalu, bukan dengan orang lain. Perspektif ini penting karena banyak orang justru mengukur dirinya menggunakan standar eksternal yang terus berubah.
Ketika perhatian terlalu banyak diarahkan pada orang lain, kemajuan pribadi menjadi sulit terlihat. Selalu ada seseorang yang lebih sukses, lebih menarik, lebih pintar, atau lebih maju. Perbandingan seperti itu membuat pencapaian yang sebenarnya berharga terasa mengecil.
Menikmati kemajuan diri bukan berarti berhenti berkembang. Menikmati kemajuan diri berarti memberi ruang untuk mengakui bahwa usaha yang sudah dilakukan memang memiliki arti. Bahwa langkah-langkah kecil yang selama ini dijalani tidak sia-sia.
Sering kali, hidup tidak menjadi lebih baik karena kita mencapai semua tujuan. Hidup terasa lebih baik ketika kita mulai menyadari bahwa diri kita hari ini sudah berbeda dari diri kita yang dulu. Dan perubahan itu layak dihargai, sekecil apa pun bentuknya. [][Liora Maheswari/TBV]
Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.