• Mengapa Pria yang Memelihara Janggut Tetap Perlu Merawat Kulit di Bawahnya?

    Mengapa Pria yang Memelihara Janggut Tetap Perlu Merawat Kulit di Bawahnya?

    Janggut boleh menutupi sebagian wajah. Namun, kulit di bawahnya tetap menghasilkan minyak dan sel kulit mati. Menumbuhkan janggut bukan berarti berhenti merawat kulit.Memelihara janggut sering mengubah fokus perawatan pria. Perhatian mulai diberikan pada bentuk, panjang, kerapian, hingga produk yang membuat rambut janggut terasa lebih lembut. Ketika janggut semakin lebat, kulit yang berada beberapa milimeter di bawahnya justru semakin jarang terlihat.Di situlah muncul kesalahpahaman sederhana: karena kulit tertutup rambut, area tersebut dianggap lebih terlindungi dan membutuhkan lebih sedikit perawatan. Padahal, kulit tetap menjalankan fungsi biologis seperti bagian wajah lainnya. Sebum tetap diproduksi, sel kulit terus mengalami pergantian, dan keringat maupun kotoran masih dapat berada di permukaannya.Janggut bahkan menciptakan tantangan tersendiri karena rambut dapat menahan minyak, sel kulit mati, dan berbagai residu dekat dengan permukaan kulit. American Academy of Dermatology [AAD] menjelaskan bahwa tanpa perawatan yang tepat, kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap penyumbatan pori dan jerawat di bawah janggut.Artinya, merawat janggut sebaiknya tidak berhenti pada membuat rambutnya terlihat rapi. Kulit yang menjadi tempat rambut tersebut tumbuh tetap menjadi bagian dari rutinitas, meskipun semakin sulit terlihat ketika janggut semakin panjang.Baca Juga: Mengapa Kulit Pria Sering Terasa Perih Setelah Bercukur?Janggut Dapat Menyembunyikan Apa yang Terjadi pada KulitSalah satu persoalan paling sederhana adalah kebersihan. Sepanjang hari, janggut dapat bersentuhan dengan tangan, keringat, polusi, minyak, dan berbagai partikel dari lingkungan. AAD menyarankan wajah dan janggut tetap dibersihkan setiap hari menggunakan pembersih lembut yang sesuai dengan jenis kulit, karena akumulasi minyak, kotoran, mikroorganisme, dan sel kulit mati dapat mengiritasi kulit maupun menyumbat pori.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., yang berkecimpung dalam pengembangan kosmetik, menempatkan pemilihan produk dalam konteks kebutuhan area penggunaan dan karakter kulit. Prinsip tersebut relevan untuk area berjanggut: produk bukan hanya perlu bekerja pada rambut, tetapi juga perlu mempertimbangkan kulit di bawahnya. Formula yang terlalu keras atau meninggalkan rasa sangat kering bukan otomatis pilihan yang lebih efektif untuk membersihkan area tersebut.Pelembap juga tidak otomatis kehilangan fungsi ketika janggut tumbuh. Dermatolog Anthony Rossi, MD, FAAD, melalui AAD menjelaskan bahwa melembapkan kulit membantu mengurangi kondisi kering, bersisik, dan gatal di bawah janggut sekaligus membantu melembutkan rambut. Pilihannya dapat disesuaikan dengan jenis kulit, seperti produk non-comedogenic pada kulit rentan berjerawat atau pelembap tanpa pewangi pada kulit sensitif.Rasa gatal dan serpihan putih pun tidak selalu berarti kulit sekadar kekurangan pelembap. Dermatitis seboroik dapat muncul pada area janggut dan menyebabkan kulit bersisik, berminyak, gatal, serta mengalami peradangan. AAD menyebut janggut sebagai salah satu area selain kulit kepala yang dapat mengalami kondisi tersebut.Baca Juga: Perlukah Pria Memiliki Rutinitas Perawatan Kulit yang Berbeda dengan Perempuan?Beard Care dan Skin Care Seharusnya Tidak Berjalan Sendiri-SendiriProduk khusus janggut dapat membantu membuat rambut terasa lebih lembut dan mudah diatur, tetapi cara penggunaannya tetap perlu memperhitungkan kondisi kulit. Beard oil, misalnya, mungkin terasa nyaman bagi kulit normal hingga kering, sedangkan kulit yang mudah berjerawat membutuhkan pilihan berbeda. AAD justru merekomendasikan beard conditioner untuk kulit rentan berjerawat dan pelembap lembut untuk kulit sensitif.Masalah juga dapat muncul ketika janggut dirapikan. Rambut yang dipotong pendek dapat melengkung kembali menuju kulit dan menyebabkan ingrown hair atau benjolan yang sering disebut razor bumps. Risikonya lebih menonjol pada rambut wajah yang kasar atau keriting, sehingga teknik memangkas dan mencukur tetap menjadi bagian dari kesehatan kulit di area janggut.Rutinitasnya sebenarnya tidak perlu rumit. Membersihkan janggut dan kulit secara lembut, membilas produk dengan baik, mengeringkan tanpa menggosok agresif, kemudian memberikan pelembap sesuai kebutuhan sudah membentuk fondasi yang masuk akal. Menyisir janggut setelah penggunaan produk juga dapat membantu mendistribusikannya pada rambut.Yang tidak kalah penting adalah tetap memeriksa kulit secara berkala. Janggut yang lebat membuat kemerahan, benjolan, luka, atau perubahan lain lebih mudah tersembunyi dari pandangan. AAD mengingatkan bahwa persoalan yang terlihat seperti jerawat dapat ternyata merupakan rambut tumbuh ke dalam atau kondisi lain, sehingga keluhan yang menetap sebaiknya diperiksa oleh dokter kulit.Pria juga tidak perlu mengubah area janggut menjadi rutinitas dengan banyak tahapan. Tujuannya bukan memastikan sebanyak mungkin produk mencapai kulit, tetapi menjaga area tersebut tetap bersih, nyaman, dan tidak mengalami gangguan akibat cara perawatan yang terlalu agresif. Janggut yang sehat dan kulit yang sehat sebenarnya bukan dua proyek berbeda.Memelihara janggut boleh menjadi bagian dari gaya, identitas, atau sekadar pilihan untuk tidak bercukur setiap pagi. Namun, rambut yang tumbuh di wajah tidak membuat kulit di bawahnya berhenti menjadi kulit. Justru karena semakin sulit terlihat, area tersebut membutuhkan perhatian yang cukup agar masalah baru diketahui bukan setelah gatal, sisik, atau benjolan mulai terasa mengganggu. [][Rommy Rimbarawa/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

    Admin Beautyversity • 29 Sep 2026
  • Mengapa Bedak Bisa Membuat Makeup Lebih Halus tetapi Juga Terlihat Cakey?

    Mengapa Bedak Bisa Membuat Makeup Lebih Halus tetapi Juga Terlihat Cakey?

    Bedak dapat membuat riasan tampak halus dan lebih tahan lama. Namun, lapisan yang sama juga bisa berubah menjadi tebal, pecah, dan terlihat cakey.Bedak memiliki peran yang nyaris tidak tergantikan dalam banyak rutinitas makeup. Setelah foundation dan concealer diaplikasikan, lapisan tipis bedak dapat mengurangi kilap, membuat permukaan kulit tampak lebih rata, dan membantu riasan terasa lebih stabil. Pada kulit berminyak, kemampuannya menyerap sebagian minyak juga membuat hasil akhir terasa lebih nyaman.Namun, produk yang sama dapat memberikan hasil yang sangat berbeda. Bedak yang semula membuat kulit terlihat halus dapat berkumpul di sekitar hidung, garis senyum, atau bawah mata beberapa jam kemudian. Tekstur kulit menjadi semakin terlihat dan riasan tampak seperti lapisan yang berdiri sendiri di atas wajah.Fenomena tersebut sering disebut cakey makeup. Masalahnya tidak selalu berasal dari satu produk yang buruk, tetapi dari terlalu banyak lapisan, kondisi kulit, karakter bedak, foundation di bawahnya, serta jumlah sebum yang muncul selama pemakaian. Karena itu, menambahkan lebih banyak bedak untuk memperbaiki riasan yang mulai berubah tidak selalu menyelesaikan masalah.Yang sebenarnya terjadi cukup menarik: bedak memang dirancang untuk menyerap minyak dan memperbaiki tampilan permukaan, tetapi kemampuan tersebut memiliki batas. Ketika jumlah bedak terlalu banyak atau kulit di bawahnya tidak berada dalam kondisi yang sesuai, manfaat yang sama dapat berubah menjadi penyebab tampilan berat.Baca Juga: Benarkah Semua Produk Makeup Memiliki Masa Pakai yang Sama Setelah Dibuka?Partikel Bedak Membantu Menghaluskan, tetapi Bisa MenumpukBedak wajah umumnya memanfaatkan kombinasi partikel yang membantu memberikan efek matte, menyerap minyak, menambah daya tutup, atau menciptakan rasa lebih halus pada kulit. Dermatolog sekaligus peneliti kosmetik Dr. Zoe Diana Draelos menjelaskan bahwa facial powder dapat memberikan kontrol minyak, hasil akhir matte, serta rasa halus pada permukaan kulit. Ia juga mencatat bahwa bedak dapat membantu meningkatkan ketahanan foundation, terutama ketika sebum mulai muncul. Efek tersebut menjelaskan mengapa riasan sering tampak lebih rapi beberapa menit setelah bedak diaplikasikan. Partikel membantu mengurangi pantulan minyak dan mengubah cara cahaya mengenai permukaan wajah. Namun, terlalu banyak produk dapat menghasilkan tampilan seperti tepung atau floured appearance, terutama ketika lapisannya tidak benar-benar menyatu dengan foundation. Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., yang menjadi dosen tamu Prodi Rekayasa Kosmetik Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, memiliki latar belakang industri dan pengembangan produk kosmetik. Dalam konteks formulasi dekoratif, kondisi ini memperlihatkan mengapa performa bedak tidak dapat dinilai hanya dari seberapa halus partikelnya. Komposisi formula, kemampuan menyerap minyak, karakter lapisan di bawahnya, serta cara produk diaplikasikan ikut menentukan hasil akhir. Kulit kering memberikan tantangan yang berbeda. Draelos mencatat bahwa produk berbentuk bedak yang menyerap minyak dapat membuat kulit kering tampak semakin kering, sehingga penggunaan bedak perlu disesuaikan dengan karakter kulit. Lapisan bedak yang terlalu tebal pada area dehidrasi juga lebih mudah menonjolkan sisik dan tekstur yang sebelumnya tidak terlalu terlihat. Baca Juga: Mengapa Makeup Bisa Terlihat Bagus di Pagi Hari tetapi Berubah Menjelang Siang?Cakey Sering Berawal dari Lapisan yang Tidak Saling MenyatuPersiapan kulit sebelum makeup memiliki peran besar. Pelembap yang belum cukup menyatu, terlalu banyak lapisan skincare, atau permukaan kulit yang sangat kering dapat membuat foundation tidak membentuk lapisan yang stabil. Ketika bedak ditambahkan di atasnya, setiap ketidakteraturan di bawah permukaan menjadi lebih mudah terlihat.Sebum juga mengubah kondisi riasan sepanjang hari. Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Cosmetic Science pada 2024 menunjukkan bahwa sebum dapat memengaruhi penggelapan liquid foundation, dan karakter pigmen serta serbuk dalam formula menentukan seberapa besar perubahan tersebut terjadi. Temuan ini memperlihatkan bahwa riasan tidak berada pada permukaan yang statis; minyak kulit terus berinteraksi dengan formula selama pemakaian. Ketika minyak mulai menembus lapisan bedak, sebagian orang langsung menambahkan bedak baru. Cara tersebut dapat berhasil jika jumlahnya sedikit, tetapi pengulangan berkali-kali dapat menciptakan lapisan yang semakin tebal. Bedak kemudian bercampur dengan sebum, foundation, dan keringat hingga menghasilkan permukaan yang tampak menggumpal.Area bawah mata dan garis ekspresi juga mudah memperlihatkan efek tersebut. Kulit di area ini bergerak terus saat seseorang berbicara, tersenyum, atau berkedip. Ketika lapisan produk terlalu tebal, material kosmetik lebih mudah berkumpul di lipatan dan membuat hasil akhir yang semula halus menjadi semakin terlihat.Teknik aplikasi karena itu sama pentingnya dengan produknya. Menggunakan bedak tipis pada area yang membutuhkan, lalu menambah seperlunya, biasanya memberi ruang lebih besar bagi formula untuk menyatu. Pada kulit yang sudah kering, menambahkan lapisan tebal hanya demi membuat makeup lebih awet justru dapat menghasilkan efek sebaliknya.Bedak memang mampu memperbaiki tampilan riasan, tetapi manfaatnya muncul ketika jumlah, formula, dan kondisi kulit berada dalam keseimbangan. Tujuannya bukan membuat seluruh wajah kehilangan kilap sepenuhnya, melainkan membantu makeup bertahan sambil tetap mengikuti tekstur alami kulit. Ketika riasan mulai terlihat cakey, solusi terbaik sering bukan menambahkan lebih banyak bedak, tetapi memahami lapisan mana yang sebenarnya sudah terlalu banyak. [][Eva Evilia/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

    Admin Beautyversity • 28 Sep 2026
  • Mengapa Rambut Terlihat Lebih Mengembang pada Hari yang Lembap?

    Mengapa Rambut Terlihat Lebih Mengembang pada Hari yang Lembap?

    Rambut sudah ditata rapi sebelum keluar rumah. Udara kemudian terasa lembap dan rambut mulai mengembang. Ternyata, air di udara ikut mengubah perilaku batang rambut.Ada hari ketika rambut seolah memiliki rencana sendiri. Setelah dikeringkan dan ditata dengan rapi, beberapa helai perlahan keluar dari susunannya, tekstur menjadi lebih mengembang, dan rambut yang semula lurus atau terdefinisi mulai berubah bentuk. Kondisi seperti ini biasanya semakin terasa ketika udara sedang lembap atau setelah hujan.Fenomena tersebut sering disebut frizz. Penyebabnya bukan sekadar rambut ‘sulit diatur’, melainkan interaksi antara batang rambut dengan air yang berada di lingkungan. Rambut bersifat higroskopis, sehingga dapat berinteraksi dengan kelembapan di udara dan mengalami perubahan fisik.Namun, tidak semua rambut memberikan respons yang sama terhadap kelembapan. Kondisi kutikula, tingkat porositas, bentuk alami rambut, proses kimia, penggunaan panas, dan kerusakan yang sudah terjadi dapat menentukan seberapa mudah air masuk ke batang rambut. Rambut yang tampak tenang pada satu orang karena itu dapat berubah jauh lebih dramatis pada orang lain dalam kondisi cuaca yang sama.Memahami proses tersebut membuat frizz terlihat berbeda. Rambut mengembang bukan selalu pertanda bahwa produk yang digunakan gagal, tetapi dapat menjadi respons material rambut terhadap lingkungan tempat seseorang berada.Baca Juga: Kenapa Ujung Rambut Bisa Sangat Kering sementara Kulit Kepala Berminyak?Ketika Air di Udara Bertemu Keratin RambutSebagian besar batang rambut tersusun atas protein keratin. Di dalam struktur tersebut terdapat berbagai ikatan yang ikut mempertahankan bentuk rambut. Salah satunya adalah ikatan hidrogen yang relatif mudah berubah ketika rambut berinteraksi dengan air.Prof. Irina Makarevitch, ahli kimia dari Hamline University, menjelaskan bahwa kelembapan membuat lebih banyak molekul air tersedia di udara untuk berinteraksi dengan keratin. Interaksi tersebut memengaruhi ikatan hidrogen pada rambut sehingga helai dapat membengkok atau kembali mendekati pola alaminya. Inilah salah satu alasan rambut yang telah ditata dapat mulai berubah bentuk ketika berada di lingkungan yang lembap.Kutikula kemudian menjadi bagian penting dari cerita ini. Lapisan terluar batang rambut tersusun seperti sisik yang saling bertumpuk. Ketika permukaannya lebih terangkat atau tidak rata akibat kekeringan, gesekan, panas, atau proses kimia, kelembapan dapat lebih mudah berinteraksi dengan bagian dalam batang rambut dan membuat helai membengkak secara tidak merata.Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Perception juga menunjukkan bahwa perubahan kelembapan dapat memengaruhi persepsi terhadap frizz dan gesekan rambut. Efeknya bahkan dapat terasa berbeda antara rambut lurus dan keriting. Artinya, hubungan rambut dengan kelembapan bukan sekadar persoalan visual, tetapi juga berkaitan dengan perubahan sifat permukaan rambut.Baca Juga: Apakah Sering Mengikat Rambut Bisa Membuat Rambut Lebih Mudah Rontok?Mengendalikan Frizz Bukan Berarti Melawan Tekstur AlamiRambut yang telah mengalami bleaching, pewarnaan, pelurusan kimia, atau paparan panas berulang biasanya memiliki permukaan yang lebih rentan mengalami perubahan. Ketika kutikula semakin tidak teratur, rambut cenderung lebih mudah berinteraksi dengan air dari lingkungan. Itulah sebabnya dua orang yang berada pada tingkat kelembapan sama dapat mengalami tingkat frizz yang sangat berbeda.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., praktisi industri kosmetik yang juga menjadi dosen tamu Prodi Rekayasa Kosmetik Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, memiliki pengalaman dalam bidang Research and Development dan Product Development. Dalam konteks formulasi perawatan rambut, kondisi batang rambut dan target produk menjadi penting karena produk tidak sekadar ditujukan untuk memberikan sensasi lembut, tetapi perlu membantu mengelola permukaan rambut dan mengurangi gesekan sesuai kebutuhan penggunanya.Di sinilah conditioner memiliki peran yang lebih masuk akal daripada sekadar dianggap sebagai ‘pelembap rambut’. Formula kondisioner dapat membantu membuat permukaan rambut terasa lebih halus, mengurangi gesekan, dan meningkatkan kemudahan rambut untuk diatur. Namun, kondisioner tidak dapat mengembalikan batang rambut yang sudah rusak menjadi seperti rambut baru.Kebiasaan sehari-hari juga menentukan seberapa mudah rambut mengembang. Menggosok rambut kuat-kuat dengan handuk, menyisir secara agresif, menggunakan alat panas tanpa perlindungan, atau terlalu sering melakukan proses kimia dapat memperbesar kerusakan pada kutikula. Mengurangi sumber kerusakan tersebut dapat membantu rambut menghadapi perubahan kelembapan dengan kondisi permukaan yang lebih baik.Rambut keriting dan bergelombang pun tidak seharusnya dinilai menggunakan standar bahwa rambut yang sehat harus selalu jatuh lurus dan bebas frizz. Bentuk alami batang rambut memengaruhi distribusi minyak dari kulit kepala dan cara setiap helai berinteraksi dengan lingkungan. Sedikit rambut mengembang pada cuaca lembap dapat menjadi karakter alami rambut, bukan sesuatu yang harus selalu ‘diperbaiki’.Jika perubahan tekstur terjadi mendadak dan disertai kerontokan berat, rambut patah berlebihan, gatal, kemerahan, atau masalah pada kulit kepala, persoalannya tidak sebaiknya langsung dianggap sebagai efek kelembapan. Kondisi semacam itu dapat membutuhkan evaluasi dokter kulit untuk melihat kemungkinan penyebab lain. Frizz yang hanya muncul saat udara lembap, sebaliknya, umumnya lebih berkaitan dengan karakter batang rambut dan lingkungan.Cuaca memang tidak dapat diatur agar selalu bersahabat dengan rambut. Namun, memahami mengapa rambut berubah membuat tujuan perawatan menjadi lebih realistis: menjaga kutikula, mengurangi kerusakan, dan membantu rambut lebih mudah diatur, bukan memaksanya tidak pernah bereaksi terhadap lingkungan. Ketika rambut sedikit mengembang setelah udara menjadi lembap, mungkin ia bukan sedang ‘bandel’—ia hanya melakukan apa yang secara kimia memang dapat dilakukan oleh keratin ketika bertemu lebih banyak air. [][Vikalena Lasmoskwa/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

    Admin Beautyversity • 26 Sep 2026
  • Mitos: Pori-Pori Kulit Bisa Dibuka dan Ditutup

    Mitos: Pori-Pori Kulit Bisa Dibuka dan Ditutup

    Air hangat disebut bisa membuka pori-pori. Air dingin dipercaya menutupnya kembali. Kedengarannya masuk akal, tetapi kulit ternyata tidak bekerja seperti pintu.Anjuran untuk ‘membuka pori-pori’ sebelum membersihkan wajah sudah diwariskan cukup lama dalam rutinitas kecantikan. Wajah diuapi atau dibasuh air hangat agar kotoran dianggap lebih mudah keluar. Setelahnya, air dingin digunakan dengan harapan pori-pori kembali menutup dan kulit terlihat lebih rapat.Pengalaman setelah melakukan ritual tersebut memang dapat terasa meyakinkan. Kulit yang terkena panas terlihat berbeda, sementara air dingin memberikan sensasi lebih segar dan kencang. Dari perubahan yang dapat dirasakan inilah muncul kesimpulan bahwa pori-pori benar-benar bergerak membuka dan menutup.Masalahnya, pori bukan struktur yang memiliki mekanisme seperti pintu. Apa yang biasa disebut pori pada wajah merupakan bukaan folikel di permukaan kulit yang berkaitan dengan rambut dan kelenjar sebaceous. Tidak terdapat otot di sekeliling bukaan tersebut yang bekerja untuk membuka atau menutupnya berdasarkan suhu air.Namun, bukan berarti penampilan pori tidak dapat berubah. Sebum, sel kulit, kondisi permukaan kulit, usia, paparan matahari, dan berbagai faktor lain dapat membuat bukaan folikel terlihat lebih atau kurang jelas. Di sinilah perbedaan antara pori yang benar-benar ‘membuka’ dan pori yang hanya tampak berbeda menjadi penting.Baca Juga: Mitos: Produk yang Terasa Perih Berarti Sedang BekerjaAir Hangat Mengubah Kondisi Kulit, Bukan Membuka PoriAir hangat dapat membantu melunakkan minyak dan residu pada permukaan kulit sehingga proses pembersihan terasa lebih mudah. Panas juga dapat meningkatkan aliran darah sementara pada kulit sehingga wajah tampak lebih kemerahan. Efek-efek tersebut nyata, tetapi tidak membuktikan bahwa diameter pori sedang dikendalikan seperti katup.American Academy of Dermatology justru merekomendasikan penggunaan air suam-suam kuku ketika mencuci wajah. Air yang terlalu panas dapat membuat kulit lebih kering dan memicu iritasi pada sebagian orang. Artinya, menaikkan suhu air demi ‘membuka’ pori bukan langkah yang diperlukan untuk memperoleh kulit yang bersih.Hal serupa berlaku pada uap wajah. Uap dapat membuat material di permukaan dan isi pori terasa lebih lunak sehingga proses perawatan tertentu menjadi lebih mudah, tetapi pori tidak berubah menjadi lubang yang sengaja membuka. Menguapi wajah terlalu lama atau dengan suhu terlalu tinggi juga bukan berarti pembersihan akan semakin efektif.Air dingin kemudian memberikan sensasi berbeda karena memengaruhi permukaan kulit dan pembuluh darah untuk sementara. Kulit dapat terasa lebih kencang atau tampak berbeda sesaat setelah terkena suhu rendah. Namun, efek tersebut kembali tidak sama dengan mekanisme anatomis yang membuat pori menutup.Baca Juga: Mitos: Bahan Alami Selalu Lebih Lembut untuk Kulit SensitifKalau Tidak Bisa Ditutup, Mengapa Pori Bisa Terlihat Lebih Kecil?Ukuran dan tampilan pori dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk genetik dan produksi sebum. Ketika sebum serta material lain menumpuk di dalam folikel, bukaannya dapat terlihat lebih jelas. Kondisi kulit di sekitarnya juga menentukan seberapa kontras pori terlihat ketika seseorang bercermin.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., menjelaskan bahwa kosmetik lebih tepat dipahami berdasarkan pengaruhnya terhadap kondisi permukaan kulit daripada klaim bahwa produk secara fisik ‘menutup’ pori. Formula tertentu dapat membantu mengontrol minyak, membersihkan permukaan, atau memperbaiki penampilan tekstur sehingga pori terlihat lebih samar. Perubahan penampilan tersebut berbeda dari menghilangkan struktur pori itu sendiri.Bahan seperti salicylic acid dapat digunakan dalam formulasi untuk membantu mengatasi minyak dan penumpukan sel pada area folikel. Retinoid dalam konteks penggunaan yang sesuai juga dapat memengaruhi pergantian sel dan kondisi kulit. Manfaat bahan-bahan tersebut tetap tidak perlu dijelaskan melalui konsep membuka atau menutup pori.Dermatolog Dr. Shari Marchbein juga menjelaskan dalam edukasi mengenai pori bahwa ukuran pori banyak dipengaruhi faktor genetik, sementara produksi minyak, penuaan, dan kerusakan akibat sinar matahari dapat membuatnya tampak lebih jelas. Perawatan dapat membantu memperbaiki penampilannya, tetapi tidak memberikan kemampuan kepada seseorang untuk menghapus pori secara permanen.Obsesi untuk membuat pori ‘hilang’ juga perlu ditempatkan dalam konteks visual hari ini. Kamera beresolusi tinggi, pencahayaan tertentu, penyuntingan foto, dan filter dapat menciptakan gambaran kulit yang hampir tanpa tekstur. Ketika standar tersebut dibawa ke depan cermin, struktur kulit normal mudah dianggap sebagai kekurangan.Membersihkan wajah secara lembut, mengelola minyak sesuai kebutuhan, menggunakan pelembap, serta melindungi kulit dari paparan sinar ultraviolet merupakan pendekatan yang lebih realistis daripada mengejar ritual buka-tutup pori. Produk yang membuat tampilan pori lebih samar tentu dapat digunakan, tetapi ekspektasinya perlu ditempatkan pada perubahan penampilan, bukan perubahan anatomi yang tidak mungkin dilakukan kosmetik.Jadi, pori-pori tidak membuka ketika terkena air hangat lalu menutup kembali karena air dingin. Yang berubah adalah kondisi kulit dan bagaimana bukaan folikel tersebut terlihat dari permukaan. Mungkin mitos ini bertahan begitu lama karena sensasinya memang terasa nyata, tetapi seperti banyak hal dalam skincare, sesuatu yang terasa terjadi belum tentu sama dengan apa yang sebenarnya berlangsung di dalam kulit. [][Rudi Tenggarawan/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

    Admin Beautyversity • 25 Sep 2026
  • Tanya Dong: Perlukah Memberi Jeda antara Satu Produk Skincare dan Produk Berikutnya?

    Tanya Dong: Perlukah Memberi Jeda antara Satu Produk Skincare dan Produk Berikutnya?

    Serum sudah dipakai. Haruskah menunggu sebelum pelembap? Jeda antarproduk ternyata tidak selalu membutuhkan hitungan menit yang sama.Rutinitas skincare sering terlihat seperti rangkaian yang memiliki aturan waktu sangat ketat. Setelah toner, ada yang menunggu beberapa menit sebelum menggunakan serum. Setelah serum, penghitung waktu dimulai lagi sebelum pelembap atau produk berikutnya diaplikasikan.Kebiasaan tersebut sebagian muncul dari kekhawatiran bahwa produk akan bercampur dan kehilangan manfaatnya jika digunakan terlalu cepat. Ada pula anggapan bahwa setiap bahan harus benar-benar ‘meresap’ sebelum bertemu formula berikutnya. Akibatnya, rutinitas sederhana yang terdiri atas beberapa produk dapat terasa seperti prosedur yang membutuhkan banyak waktu.Padahal, tidak ada satu aturan universal yang mewajibkan jeda lima, sepuluh, atau lima belas menit untuk setiap lapisan skincare. Kebutuhan jeda bergantung pada jenis produk, karakter formula, tujuan penggunaannya, serta petunjuk khusus dari produsen. Pada banyak rutinitas sehari-hari, kondisi permukaan kulit justru dapat menjadi petunjuk yang lebih praktis daripada penghitung waktu.Pertanyaannya karena itu bukan sekadar berapa menit harus menunggu. Yang lebih penting adalah apakah lapisan sebelumnya sudah cukup nyaman untuk menerima produk berikutnya dan apakah produk tertentu memang mempunyai instruksi penggunaan khusus.Baca Juga: Tanya Dong: Apakah Kulit Bisa Berubah Jenis Seiring Bertambahnya Usia?Tidak Semua Produk Membutuhkan Waktu Tunggu KhususProduk perawatan kulit bekerja melalui mekanisme yang berbeda. Sebagian bahan bekerja pada permukaan kulit, sebagian diformulasikan untuk mencapai lapisan tertentu, sedangkan produk seperti pelembap membantu mempertahankan kondisi lapisan terluar kulit. Proses tersebut tidak berarti setiap produk harus dibiarkan sendirian selama beberapa menit sebelum tahapan berikutnya.Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., menjelaskan bahwa cara penggunaan sebaiknya mengikuti karakter formula dan petunjuk produk, bukan aturan waktu yang disamaratakan. Formulator mempertimbangkan sistem penghantaran, tekstur, bahan aktif, serta bagaimana produk diharapkan digunakan dalam sebuah rutinitas. Karena itu, angka jeda yang berlaku untuk seluruh kosmetik justru sulit memiliki dasar formulasi yang sama.Untuk toner, serum hidrasi, dan pelembap dalam rutinitas sederhana, pengguna umumnya dapat melanjutkan ketika produk sebelumnya sudah tersebar merata dan tidak terlalu basah atau licin. Tidak perlu menunggu sampai kulit terasa benar-benar kering apabila petunjuk produk tidak mensyaratkannya. Bahkan beberapa humektan dan pelembap nyaman digunakan ketika kulit masih memiliki sedikit kelembapan.Persoalan berbeda muncul ketika lapisan berikutnya menyebabkan produk menggumpal atau membentuk serpihan yang dikenal sebagai pilling. Kondisi tersebut tidak otomatis berarti bahan aktif saling menetralkan. Jumlah produk yang terlalu banyak, teknik menggosok, atau ketidakcocokan karakter antarlapisan juga dapat menyebabkan produk tidak membentuk lapisan dengan baik.Baca Juga: Tanya Dong: Apakah Produk Kosmetik Perlu Disimpan di Kulkas?Ada Situasi ketika Jeda Memang BergunaMemberikan sedikit waktu dapat membantu ketika sebuah formula membutuhkan kesempatan untuk membentuk lapisan pada kulit. Produk yang terasa sangat basah atau lengket, misalnya, mungkin lebih nyaman dibiarkan sebentar sebelum produk berikutnya digunakan. Tujuannya lebih berkaitan dengan aplikasi dan pembentukan lapisan daripada mengejar angka waktu tertentu.Perhatian khusus juga berlaku untuk produk obat atau bahan aktif yang memiliki petunjuk penggunaan spesifik. Retinoid tertentu, produk untuk jerawat, atau sediaan yang diresepkan dokter dapat mempunyai instruksi mengenai kondisi kulit ketika diaplikasikan maupun urutannya dengan produk lain. Dalam situasi seperti ini, petunjuk produk dan arahan tenaga kesehatan lebih penting daripada aturan yang beredar di media sosial.Dermatolog Dr. Ranella Hirsch juga kerap menekankan bahwa rutinitas perawatan kulit tidak perlu dibuat lebih rumit daripada yang dibutuhkan. Dalam praktik penggunaan beberapa produk, membiarkan suatu lapisan cukup menetap sebelum beralih ke tahap berikutnya lebih masuk akal daripada menetapkan waktu tunggu panjang tanpa alasan formulasi yang jelas. Cara kulit merespons keseluruhan rutinitas tetap menjadi pertimbangan utama.Tabir surya mempunyai konteks yang sedikit berbeda. Produk ini sebaiknya diaplikasikan sebagai tahap terakhir perawatan kulit pada pagi hari dan dibuat membentuk lapisan yang merata. American Academy of Dermatology menyarankan penggunaan tabir surya sekitar 15 menit sebelum keluar rumah, tetapi waktu tersebut berkaitan dengan penggunaan tabir surya sebelum paparan luar ruang, bukan aturan bahwa semua produk sebelumnya harus diberi jeda 15 menit.Jika rutinitas terasa nyaman, tidak menggumpal, dan tidak menimbulkan iritasi, tidak ada kebutuhan untuk sengaja memperpanjang waktu di antara setiap produk. Sebaliknya, apabila lapisan terus bergeser atau pilling, mencoba menggunakan jumlah yang lebih sedikit, menepuk daripada menggosok, atau memberi waktu singkat antarlapisan dapat membantu. Jeda dalam situasi ini merupakan solusi praktis, bukan ritual wajib.Rutinitas skincare tidak harus berubah menjadi rangkaian alarm yang berbunyi setiap lima menit. Untuk sebagian besar produk, memperhatikan tekstur, petunjuk penggunaan, dan respons kulit lebih berguna daripada menghafalkan aturan waktu yang sama untuk semuanya. Jika sebuah produk memang membutuhkan perlakuan khusus, kemasan atau arahan tenaga kesehatan seharusnya menjadi rujukan utama, bukan penghitung waktu yang diwariskan dari satu unggahan ke unggahan lainnya. [][Tim Beautyversity/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

    Admin Beautyversity • 24 Sep 2026

More Articles

Artikel menarik lainnya untuk Anda