• Kalau Setiap Orang Punya Skin Microbiome yang Berbeda, Seperti Apa yang Disebut Sehat?

    Kalau Setiap Orang Punya Skin Microbiome yang Berbeda, Seperti Apa yang Disebut Sehat?

    Kita terbiasa mencari ukuran ideal untuk kesehatan. Namun, ketika membicarakan skin microbiome, sains justru menunjukkan bahwa ‘sehat’ tidak memiliki satu komposisi universal.Ada sesuatu yang menggoda dari gagasan tentang skin microbiome yang sehat. Jika teknologi sudah mampu mengenali mikroorganisme yang hidup pada kulit, rasanya hanya tinggal satu langkah lagi untuk menentukan bakteri mana yang harus banyak, mana yang harus sedikit, lalu merancang produk yang membawa semuanya menuju komposisi ideal.Masalahnya, kulit manusia tidak bekerja sesederhana itu. Dalam diskusi BeautéSpot di Cosmobeauté Indonesia 2026, Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si. menempatkan microbiome bukan sebagai kumpulan mikroorganisme yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari sistem yang terus berinteraksi dengan skin barrier, pH, sebum, hidrasi, respons imun, biologi tubuh, dan lingkungan. Cara pandang itu segera menimbulkan pertanyaan yang lebih sulit. Jika lingkungan kulit setiap orang berbeda, apakah masuk akal mencari satu komposisi microbiome yang dianggap paling sehat untuk semuanya? Bahkan sebelum membandingkan dua orang, penelitian menunjukkan bahwa komunitas mikroba pada hidung, ketiak, lengan, dan bagian kulit lain dalam tubuh yang sama pun dapat berbeda.Studi klasik Elizabeth Grice dan kolega yang dipublikasikan di Science pada 2009 menunjukkan bahwa lokasi anatomis sangat memengaruhi komunitas mikroba kulit. Area yang kaya sebum menyediakan kondisi berbeda dari area lembap maupun area yang lebih kering, sehingga mikroorganisme yang hidup di sana pun tidak identik. Artinya, satu sampel dari satu titik kulit tidak dapat begitu saja dianggap mewakili keseluruhan microbiome seseorang. Baca Juga: Skincare Terlalu Lama Berbicara tentang Bahan Aktif, Bagaimana Jika Kita Mulai dari Kulit?Bahkan Dua Kulit yang Sama-Sama Sehat Bisa BerbedaPersoalannya menjadi semakin menarik ketika perbandingan dilakukan antarorang. Studi Oh dan kolega di Nature pada 2014 menunjukkan adanya variasi yang besar dalam komunitas mikroba kulit antarindividu. Dua orang yang sama-sama sehat karena itu dapat memiliki profil mikroba yang tidak sama. Perbedaan tersebut dapat berkaitan dengan lokasi kulit, fisiologi, usia, lingkungan, gaya hidup, kebiasaan kebersihan, penggunaan kosmetik, hingga faktor tubuh pemiliknya. Temuan ini membuat istilah ‘normal skin microbiome’ perlu digunakan dengan hati-hati. Normal tidak berarti semua orang harus mempunyai daftar mikroorganisme dalam proporsi yang seragam.Hal yang sama berlaku untuk microbial diversity. Keragaman yang tinggi terkadang diasosiasikan dengan ekosistem yang lebih tangguh, tetapi bahan yang menjadi dasar artikel ini menegaskan bahwa diversity bukanlah skor kesehatan universal untuk kulit. Ada bagian kulit yang secara alami memiliki keragaman lebih rendah, dan maknanya baru bisa dipahami ketika lokasi, komposisi, fungsi, serta kondisi pemilik kulit ikut diperhitungkan. Contoh yang cukup menggugah datang dari Cutibacterium acnes. Namanya membuat mikroorganisme ini mudah diposisikan sebagai musuh karena begitu dekat dengan kata jerawat. Padahal, C. acnes merupakan penghuni umum kulit sehat. Penelitian Fitz-Gibbon dan kolega menunjukkan bahwa persoalannya tidak cukup dijelaskan dengan pertanyaan apakah bakteri tersebut ada atau tidak, karena populasi strain tertentu ditemukan berbeda pada individu dengan dan tanpa jerawat. Temuan itu tidak berarti satu strain dapat langsung dinobatkan sebagai penyebab jerawat. Hubungan atau asosiasi belum sama dengan sebab-akibat. Namun, contoh tersebut cukup untuk menunjukkan mengapa membagi dunia microbiome menjadi 'bakteri baik' dan 'bakteri jahat' dapat membuat ilmu yang sebenarnya kompleks terasa terlalu sederhana.Baca Juga: AI Kini Masuk ke Dunia Kosmetik: LABCOS AI dan Cara Baru Mempelajari Industri KecantikanPerubahan Microbiome Belum Tentu Berarti Kulit Menjadi Lebih BaikKerumitan berikutnya mulai terasa ketika ilmu tersebut bertemu produk kosmetik. Hampir semua produk yang digunakan pada kulit dapat berinteraksi dengan lingkungan tempat mikroorganisme hidup melalui proses pembersihan, perubahan pH, hidrasi, lipid, surfaktan, pengawet, bahan aktif, maupun efek oklusif. Namun, interaksi tidak otomatis berarti gangguan, sebagaimana perubahan juga tidak otomatis berarti manfaat. Bayangkan penelitian menemukan bahwa setelah menggunakan sebuah produk, kelimpahan relatif mikroorganisme tertentu meningkat 15 persen. Angka itu terdengar cukup menarik untuk dijadikan cerita pemasaran. Namun, informasi tersebut belum menjawab apakah perubahan bertahan, apakah fungsi skin barrier menjadi lebih baik, apakah hidrasi meningkat, atau apakah ada manfaat yang benar-benar dirasakan kulit.Dokumen yang menjadi dasar pembahasan ini menyebut perbedaannya secara sangat jelas: microbiome endpoint dan skin-benefit endpoint adalah dua hal berbeda. Perubahan komposisi mikroba harus dibaca bersama konsekuensi fungsional dan hasil yang dapat diukur pada kulit sebelum diterjemahkan menjadi manfaat. Di titik inilah perspektif apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. dalam diskusi BeautéSpot menjadi relevan terhadap pengembangan produk. Sistem pengawet, misalnya, tidak dapat begitu saja dituduh buruk bagi microbiome hanya karena memiliki aktivitas antimikroba. Produk kosmetik berbasis air justru membutuhkan pengendalian mikrobiologis yang memadai agar tidak berubah menjadi tempat tumbuh mikroorganisme yang membahayakan pengguna. Sebaliknya, keberadaan bahan yang memiliki data terkait microbiome juga belum otomatis membuat produk jadi layak disebut microbiome-friendly. Ketika bahan tersebut masuk ke dalam formula, konsentrasi, pH, bahan lain, sistem pengawet, proses produksi, stabilitas, kemasan, dan cara penggunaannya dapat mengubah konteks kerjanya. Karena itu, bukti pada bahan baku dan bukti pada produk jadi merupakan dua tingkat pembuktian yang berbeda. Sains saat ini sudah memberi beberapa pijakan yang cukup kuat. Kita mengetahui bahwa kulit memiliki ekosistem mikroba yang kompleks, lokasi tubuh sangat memengaruhi komposisinya, variasi antarindividu cukup besar, komunitas mikroba berinteraksi dengan barrier dan sistem imun, serta profil seseorang dapat relatif stabil sambil tetap mampu berubah. Namun, ruang yang belum diketahui juga masih luas. Belum ada satu komposisi healthy skin microbiome universal, perubahan mikroba belum selalu dapat dibedakan dengan jelas sebagai sebab atau akibat, belum semua perubahan memiliki makna klinis, dan belum ada satu definisi standar global mengenai produk microbiome-friendly. Dampak jangka panjang intervensi kosmetik juga masih membutuhkan lebih banyak data. Mungkin justru di sinilah kemajuan ilmu skin microbiome terasa paling menarik. Semakin banyak yang diketahui, semakin sulit kesehatan kulit direduksi menjadi satu skor, satu mikroorganisme, atau satu komposisi ideal. Sains belum memberikan formula sederhana untuk 'microbiome sempurna', tetapi memberi cara yang lebih baik untuk membaca setiap klaim yang mengatasnamakannya.Jadi, ketika sebuah produk mengatakan mampu memengaruhi skin microbiome, pertanyaan yang berguna bukan hanya apakah mikroorganismenya berubah. Kita juga perlu bertanya apa yang berubah, bagaimana perubahan itu diukur, apakah bertahan, dan apa artinya bagi kondisi kulit. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membedakan penggunaan ilmu microbiome dari sekadar penggunaan kata microbiome sebagai tren. [][Tim Beautyversity/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

    Admin Beautyversity • 04 Oct 2026
  • LABCOS Unpad Perkenalkan Cantik.AI, Platform AI untuk Riset hingga Pengelolaan Bisnis Kosmetik

    LABCOS Unpad Perkenalkan Cantik.AI, Platform AI untuk Riset hingga Pengelolaan Bisnis Kosmetik

    Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini mulai digunakan lebih luas dalam industri kosmetik, bukan hanya untuk membuat teks, gambar, atau konten. Teknologi ini juga dapat membantu riset, analisis kulit, pengembangan formulasi, hingga pemasaran dan pengelolaan bisnis.Perkembangan ini menjadi perhatian LABCOS Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran (Unpad) yang dipimpin Prof. Dr. apt. Sriwidodo, M.Si. Melalui kolaborasi antara akademisi, praktisi industri, dan ahli teknologi, LABCOS mendorong pemanfaatan AI untuk menjawab berbagai kebutuhan industri kosmetik.Salah satu hasil pengembangan tersebut adalah Cantik.AI, ekosistem specialized AI untuk industri beauty, cosmetic, dan wellness. Inovasi ini diperkenalkan dalam sesi “The AI Beauty Revolution – From Skin & Wellness Intelligence to Data-Driven Product Innovation” di Cosmobeaute Indonesia 2026, Tangerang.CEO Cantik.AI Wendra Wilendra, M.MT. dan CTO Cantik.AI Yusep Maulana, S.Kom., M.Kom. memaparkan pemanfaatan AI mulai dari research, analisis kulit, formulasi, hingga branding dan marketing.AI bukan sekadar pembuat kontenMenurut Wendra, melihat AI hanya sebagai chatbot atau pembuat konten berarti baru melihat sebagian kecil potensinya. “AI dapat membantu kita membaca lebih banyak informasi, menemukan hubungan yang sulit terlihat, mengeksplorasi lebih banyak kemungkinan, dan membantu expert mengambil keputusan dengan konteks yang lebih baik.”Namun, AI tidak diposisikan untuk menggantikan manusia. Cantik.AI menggunakan prinsip “AI explores. Experts verify. Humans decide.” AI membantu mengeksplorasi dan menganalisis, sedangkan verifikasi dan keputusan tetap berada pada manusia dan para ahli.Tiga pemanfaatan AICantik.AI mengembangkan AI dengan fungsi yang lebih spesifik sesuai kebutuhan pekerjaan. Tiga di antaranya adalah AI Skin Analyzer, AI Formulator, dan AI Marketing.AI Skin Analyzer membantu menganalisis karakteristik visual kulit dan memberikan informasi mengenai kondisi serta kebutuhan kulit. Sistem ini merupakan alat bantu dan tidak ditujukan untuk menggantikan diagnosis profesional medis.AI Formulator membantu formulator mengeksplorasi pengetahuan ilmiah, hubungan antar bahan, kemungkinan formulasi, dan informasi penelitian. AI dapat membantu mempersempit pilihan, tetapi hasilnya tetap membutuhkan pengujian, validasi ilmiah, dan penilaian formulator.Sementara AI Marketing membantu membaca tren konsumen, peluang kampanye, performa kanal pemasaran, serta arah konten. Tujuannya adalah memperkuat kemampuan marketer dalam mengolah informasi dan mengeksplorasi strategi.Dibangun melalui kolaborasi multidisiplinPengembangan AI untuk kosmetik membutuhkan lebih dari sekadar teknologi. Industri ini melibatkan ilmu formulasi, farmasi, dermatologi, bahan baku, pengujian, regulasi, manufaktur, hingga pemasaran. Karena itu, LABCOS menggunakan pendekatan kolaboratif dengan melibatkan berbagai keahlian sesuai kebutuhan. Prinsipnya sederhana: masalah yang berbeda membutuhkan keahlian yang berbeda.CTO Cantik.AI Yusep Maulana mengatakan pendekatan tersebut juga menjadi alasan Cantik.AI dikembangkan sebagai specialized AI, bukan satu AI generik untuk semua pekerjaan. “Setiap domain memiliki knowledge, data, workflow, dan konteks yang berbeda. Karena itu kami mengembangkan specialized AI yang dirancang untuk memahami pekerjaan tertentu.”Dari laboratorium menuju pasarPemanfaatan AI berpotensi menjangkau berbagai tahapan industri kosmetik, mulai dari riset dan pengembangan produk, formulasi, regulasi, hingga manufacturing, branding, marketing, dan consumer experience.Bagi LABCOS, kehadiran AI bukan untuk menggantikan cosmetic science, melainkan memperluas kemampuan manusia dalam mengolah pengetahuan, data, dan berbagai kemungkinan inovasi.“Semakin powerful AI, semakin penting expertise, konteks dan judgement manusia di belakangnya,” ujar Wendra. Ia menambahkan, masa depan industri kecantikan bukan tentang manusia melawan AI, melainkan bagaimana keduanya dapat bekerja bersama. “Kami tidak melihat masa depan beauty sebagai manusia versus AI. Yang kami lihat adalah manusia dan AI bekerja bersama—masing-masing melakukan apa yang paling kuat mereka lakukan.”pungkasnya.Tentang Cantik.AICantik.AI merupakan platform specialized AI untuk industri beauty, cosmetic, dan wellness yang memungkinkan pengunjung mengeksplorasi berbagai AI specialist sesuai kebutuhannya. Melalui platform ini, pengguna dapat memperoleh bantuan untuk mencari informasi dan insight, mengeksplorasi ide produk dan formulasi, memahami regulasi, menyusun strategi marketing dan branding, hingga mengembangkan konten.Bagi pelaku industri, manfaatnya adalah membantu mempercepat pencarian informasi, memperluas eksplorasi ide, dan mendukung proses pengambilan keputusan dengan memanfaatkan AI yang dirancang berdasarkan konteks industri kosmetik. Cantik.AI juga memungkinkan pengguna mengenal berbagai penerapan AI secara langsung sesuai kebutuhan pekerjaan mereka.Pendekatan Cantik.AI menempatkan AI sebagai partner kerja, sementara keputusan akhir tetap berada pada manusia dan para ahli yang memiliki kompetensi di bidangnya. Platform ini dapat diakses melalui link : https://cantik.ai/Tentang LABCOSLABCOS (Laboratorium Kosmetik) Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran merupakan pusat kegiatan riset, pengembangan, pengujian, dan inovasi di bidang kosmetik yang mempertemukan keahlian akademik dan kebutuhan industri.LABCOS berfokus pada pengembangan ilmu dan teknologi kosmetik, termasuk formulasi dan pengembangan produk, pengujian dan analisis, bahan baku kosmetik, keamanan dan efektivitas produk, serta aspek regulasi dan pengembangan industri.Dalam menjalankan kegiatannya, LABCOS mendorong kolaborasi multidisiplin antara akademisi, peneliti, tenaga ahli, dan pelaku industri. Pendekatan tersebut memungkinkan berbagai pengetahuan dari bidang farmasi, cosmetic science, dermatologi, teknologi, dan bidang terkait lainnya untuk digunakan dalam menjawab kebutuhan dan tantangan industri kosmetik.Pengembangan Cantik.AI menjadi salah satu bagian dari eksplorasi LABCOS dalam mempertemukan ilmu kosmetik, keahlian multidisiplin, data, dan teknologi AI. Melalui pendekatan tersebut, LABCOS berupaya membuka peluang pemanfaatan teknologi baru untuk mendukung proses riset, inovasi, pengembangan produk, hingga kebutuhan industri kosmetik yang terus berkembang. Info lebih lanjut tentang LABCOS dapat diakses melalui link: https://labcos.id/[][Dipo Alaric/TBV] 

    Tim Beautyversity • 03 Oct 2026
  • Skincare Terlalu Lama Berbicara tentang Bahan Aktif, Bagaimana Jika Kita Mulai dari Kulit?

    Skincare Terlalu Lama Berbicara tentang Bahan Aktif, Bagaimana Jika Kita Mulai dari Kulit?

    Bahan aktif sering menjadi awal percakapan tentang skincare. Di Cosmobeauté Indonesia 2026, Prof. Keri Lestari justru mengajak melihat sesuatu yang lebih besar: kulit.Industri kecantikan punya kebiasaan yang mudah dikenali. Ketika sebuah produk baru diperkenalkan, salah satu pertanyaan pertama biasanya adalah kandungannya: niacinamide berapa persen, memakai peptide apa, mengandung ceramide jenis apa, atau bahan aktif baru apa yang sedang ditawarkan. Cara berpikir seperti itu tidak salah, tetapi mungkin belum menceritakan seluruh persoalan.Di BeautéSpot, Cosmobeauté Indonesia 2026, Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si. membawa pembicaraan tentang skincare ke arah yang sedikit berbeda. Alih-alih berhenti pada pertanyaan tentang ingredient, ia mengajak audiens melihat kulit sebagai sebuah sistem biologis yang hidup. Dalam kerangka tersebut, skin barrier, lipid, hidrasi, respons imun, paparan lingkungan, dan komunitas mikroba tidak berdiri sendiri, melainkan terus berinteraksi.Cara pandang itu membuat skin microbiome menjadi lebih menarik sekaligus lebih rumit. Mikroorganisme yang hidup di kulit bukan sekadar lapisan tambahan yang dapat dipisahkan dari bagian lainnya. Kondisinya berhubungan dengan pH, sebum, hidrasi, barrier, lingkungan, hingga biologi tubuh yang menjadi tempat mereka hidup.Literatur ilmiah terbaru bergerak ke arah serupa. Sebuah ulasan di Journal of Clinical Investigation menggambarkan kulit sebagai penghalang fisik sekaligus habitat bagi bakteri dan fungi komensal, dengan interaksi mikroba yang berkaitan dengan respons imun, komunitas mikroba, dan integritas epidermis. Kajian lain pada 2026 juga menempatkan microbiome, sistem imun, dan skin barrier sebagai sumbu yang saling berhubungan.Baca Juga: Cosmeticverse Bukan Proyek Seminar, Tetapi Gerakan PengetahuanKetika ‘Bakteri Baik’ dan ‘Bakteri Jahat’ Tidak Lagi CukupPopularitas microbiome skincare membawa kosakata baru ke rak kosmetik: prebiotic, probiotic, postbiotic, hingga microbiome-friendly. Masalahnya, bahasa pemasaran cenderung menyukai cerita yang sederhana. Mikroorganisme akhirnya mudah dibagi menjadi ‘baik’ dan ‘jahat’, seolah kesehatan kulit cukup ditentukan dengan menambah kelompok pertama dan menyingkirkan kelompok kedua.Padahal, materi Prof. Keri menunjukkan persoalan yang lebih kontekstual. Mikroorganisme yang sama dapat berperilaku berbeda bergantung pada strain, lokasi kulit, kondisi barrier, pH, sebum, imunitas tubuh, dan lingkungan. Bahkan keragaman mikroba yang lebih tinggi tidak otomatis berarti kulit lebih sehat, karena area berminyak, lembap, dan kering secara alami memiliki komposisi komunitas mikroba yang berbeda.Di sinilah istilah dysbiosis juga perlu digunakan dengan hati-hati. Perubahan komposisi mikroba tidak otomatis membuktikan adanya gangguan, apalagi membuktikan bahwa perubahan tersebut menjadi penyebab masalah kulit. Literatur terkini pun masih menekankan adanya variasi antarmanusia, persoalan standardisasi metode, dan ketidakpastian hubungan sebab-akibat dalam menerjemahkan temuan microbiome ke praktik klinis.Konsekuensinya cukup menarik bagi konsumen. Memikirkan microbiome ternyata tidak selalu berarti mencari produk yang mengandung probiotic. Dalam materi BeautéSpot, pendekatannya dapat dimulai dari sesuatu yang jauh lebih mendasar: menjaga skin barrier, mempertahankan hidrasi, menggunakan sistem pembersihan yang lembut, menjaga pH yang sesuai, dan menghindari gangguan yang tidak diperlukan terhadap lingkungan kulit.Riset kosmetik juga belum memberi alasan untuk terburu-buru menganggap semua produk yang membawa istilah microbiome memiliki tingkat pembuktian yang sama. Ulasan ilmiah pada 2026 menemukan hasil awal yang menjanjikan pada pendekatan prebiotic, probiotic, postbiotic, dan strategi terkait, tetapi kualitas bukti masih dibatasi desain penelitian yang beragam, ukuran sampel kecil, serta belum adanya kriteria standar untuk klaim microbiome-friendly.Baca Juga: Mengapa Budaya Mutu Menjadi Fondasi yang Tidak Terlihat dalam Industri Kosmetik?Dari Memahami Kulit ke Membuat ProdukPertanyaan berikutnya muncul ketika gagasan biologis tersebut harus masuk ke dalam botol. Sebuah bahan boleh saja memiliki data yang menarik mengenai microbiome, tetapi produk kosmetik bukan bahan tunggal. Ada konsentrasi, pH, sistem pengawet, stabilitas, interaksi antarbahan, kemasan, cara penggunaan, hingga proses produksi yang dapat menentukan apa yang terjadi setelah bahan tersebut menjadi formula utuh.Pada titik inilah perspektif Prof. Keri bertemu dengan apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., dalam materi yang menjadi dasar pembahasan Beautyversity. Pertanyaan biologis mengenai apa yang terjadi pada kulit harus bertemu dengan pertanyaan formulasi: bagaimana gagasan tersebut diterjemahkan menjadi produk yang stabil, aman, dapat diproduksi, dan dapat diuji. Materi tersebut menempatkan hubungan riset dan formulasi sebagai rangkaian, bukan dua dunia yang berjalan sendiri-sendiri.Persoalan itu menjadi semakin jelas ketika berbicara tentang probiotic. Menggunakan mikroorganisme hidup membawa tantangan mengenai viabilitas, pengawetan, penyimpanan, pengendalian kontaminasi, stabilitas, dan keamanan. Ulasan ilmiah terbaru mengenai formulasi probiotic skincare juga mencatat bahwa banyak produk komersial justru menggunakan derivat mikroba nonhidup, antara lain karena tantangan formulasi, regulasi, dan stabilitas tersebut.Ada konsekuensi lain yang tidak kalah penting: bukti mengenai sebuah bahan tidak otomatis menjadi bukti mengenai produk jadi. Jika bahan baku menunjukkan aktivitas tertentu terkait microbiome, data tersebut menjelaskan bahan pada kondisi pengujiannya. Setelah masuk ke formula, konsentrasi, pH, pengawet, stabilitas, delivery, kemasan, dan interaksi dengan bahan lain ikut berubah, sehingga klaim produk jadi tetap membutuhkan bukti yang relevan terhadap produk dan klaim tersebut.Di sinilah gagasan ecosystem intelligence menjadi lebih dari istilah baru. Ia menawarkan cara berpikir yang bergerak dari pemahaman biologis menuju hipotesis produk, strategi bahan, formulasi, validasi, lalu produk. Bukan berarti ingredient menjadi tidak penting, melainkan bahan aktif ditempatkan kembali sebagai salah satu bagian dari sistem yang jauh lebih besar.Perubahan perspektif ini mungkin juga relevan untuk membaca ke mana inovasi skincare bergerak. Selama bertahun-tahun, persaingan mudah terlihat seperti perlombaan menemukan bahan berikutnya yang dapat menjadi pusat cerita sebuah produk. Sementara itu, ilmu tentang kulit justru semakin memperlihatkan hubungan yang lebih kompleks antara barrier, mikroba, sistem imun, lingkungan, dan karakter biologis masing-masing individu.Mungkin pertanyaan tentang kandungan tidak perlu ditinggalkan. Yang perlu berubah adalah apa yang ditanyakan setelahnya. Setelah mengetahui bahan apa yang berada di dalam sebuah produk, percakapan dapat bergerak menuju pertanyaan yang lebih penting: bagaimana bahan itu bekerja di dalam formula, bagaimana formula berinteraksi dengan kulit, dan seberapa jauh hasil yang dijanjikan benar-benar telah dibuktikan.Jika arah itu terus berkembang, masa depan skincare mungkin tidak ditentukan hanya oleh siapa yang menemukan bahan paling menarik berikutnya. Kemajuannya bisa datang dari kemampuan memahami sistem tempat semua bahan tersebut bekerja. Dari sana, percakapan kecantikan tidak lagi berhenti pada apa yang ada di dalam botol, tetapi mulai kembali kepada kulit yang akan menerimanya. [][Tim Beautyversity/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

    Admin Beautyversity • 03 Oct 2026
  • Minyak Ikan untuk Skincare: Apa Potensinya untuk Kulit dan Seberapa Kuat Evidence-nya?

    Minyak Ikan untuk Skincare: Apa Potensinya untuk Kulit dan Seberapa Kuat Evidence-nya?

    Minyak ikan mungkin lebih dikenal sebagai sumber nutrisi daripada sebagai bahan kosmetik. Namun dari perspektif cosmetic science, minyak ikan menarik karena mengandung berbagai fatty acids, termasuk omega-3 seperti EPA (eicosapentaenoic acid) dan DHA (docosahexaenoic acid), serta komponen lipid lain yang secara biologis relevan terhadap fungsi kulit.Pertanyaannya bukan sekadar apakah omega-3 'baik untuk kulit'. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah fish oil dapat diterjemahkan menjadi cosmetic ingredient yang stabil, aman, dapat diformulasikan, dan memiliki evidence yang relevan pada finished product?Pertanyaan ini menjadi pusat riset yang dikembangkan oleh Prof. Dr. Sugeng Heri Suseno, S.Pi., M.Si., Guru Besar di Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University, bersama Kamini, M.Si. dan tim. Dalam proyek terapan 2026 yang menjadi dasar artikel ini, tim meneliti pengembangan minyak ikan fungsional sebagai bahan bernilai tinggi untuk inovasi kosmetika modern. Ketika riset bergerak menuju cosmetic formulation dan hilirisasi, apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. membawa perspektif penerjemahan bahan aktif ke formulation dan product-development reality.Apa sebenarnya yang membuat minyak ikan menarik untuk kulit?Secara kimia, fish oil adalah campuran lipid. Komposisinya dapat mencakup saturated fatty acids (SFA), monounsaturated fatty acids (MUFA), polyunsaturated fatty acids (PUFA), serta omega-3 fatty acids seperti EPA dan DHA.EPA dan DHA banyak diteliti dalam nutritional dan biomedical science. Namun ada batas penting: evidence dari konsumsi omega-3 tidak boleh otomatis dianggap sebagai evidence penggunaan topikal pada skincare. Oral intake dan topical application mempunyai route, exposure, metabolism, concentration, dan biological environment yang berbeda.Apa peran lipid pada skin barrier?Bagian terluar epidermis, terutama stratum corneum, mempunyai struktur lipid yang penting untuk mempertahankan fungsi barrier dan mengurangi kehilangan air. Lipid berperan dalam organisasi barrier, mengurangi transepidermal water loss (TEWL), menjaga fleksibilitas permukaan kulit, dan memengaruhi respons biologis tertentu.Berbagai oils karena itu digunakan dalam skincare sebagai emollient, skin-conditioning agent, carrier, dan bagian dari lipid phase. Tetapi tidak semua oils identik; fatty-acid profile ikut menentukan sifat bahan.Lalu apa yang membuat omega-3 berbeda?Omega-3 polyunsaturated fatty acids mempunyai lebih dari satu double bond. EPA dan DHA adalah long-chain omega-3 fatty acids yang banyak dikaitkan dengan regulation of inflammatory pathways. Literature juga membahas interaksinya dengan pathways yang relevan terhadap oxidative stress dan UV-induced damage.Tetapi biological mechanism tidak berarti semua produk yang mengandung fish oil otomatis mempunyai anti-inflammatory atau anti-aging efficacy. Bentuk ingredient, concentration, formula, stability, dan jenis study tetap menentukan interpretasinya.Seberapa kuat evidence topical EPA dan DHA?Ada evidence yang mendukung biological relevance, tetapi belum cukup untuk digeneralisasi ke semua cosmetic fish oil products. Human topical evidence tersedia untuk konteks tertentu, sementara finished-product evidence harus dinilai per formula.Hierarchy-nya perlu dipisahkan: mechanistic evidence dapat mendukung plausibility; human topical evidence menunjukkan relevansi pada kondisi tertentu; tetapi finished-product claim tetap memerlukan pengujian formula akhirnya.Apakah fish oil dapat membantu skin barrier?Fatty acids memang relevan terhadap barrier physiology. Namun pernyataan 'fatty acids penting untuk barrier' berbeda dari 'fish oil tertentu terbukti memperbaiki barrier ketika digunakan secara topikal'. Fish oil adalah campuran kompleks dan komposisinya bergantung pada species, bagian tubuh ikan, diet, extraction, purification, storage, dan oxidation history.Karena itu efek satu purified fatty acid tidak boleh otomatis disamakan dengan efek seluruh fish oil.Mengapa sumber ikan sangat penting?Dalam penelitian 2026, tim membandingkan sumber patin, nila, tuna, dan makarel. Minyak ikan patin diperoleh melalui wet rendering, sedangkan minyak nila, tuna, dan makarel pada materi penelitian diperoleh melalui proses pemurnian. Masing-masing kemudian dianalisis untuk melihat quality parameters dan fatty-acid profile.Pertanyaan yang lebih tepat bukan 'apakah fish oil bagus?', melainkan 'fish oil yang mana, dengan karakteristik seperti apa?'Apakah minyak dengan omega-3 tertinggi otomatis paling baik untuk skincare?Tidak. Dalam fatty-acid profiling penelitian, total omega-3 yang dilaporkan adalah patin 8,17%, nila 1,85%, tuna 32,35%, dan makarel 39,06%. Jika keputusan hanya didasarkan pada omega-3 tertinggi, makarel tampak paling menarik.Tetapi tim juga mengevaluasi free fatty acid (FFA), peroxide value (PV), p-anisidine value (p-AnV), TOTOX, stability, dan karakteristik keseluruhan. Berdasarkan kombinasi faktor tersebut, minyak ikan patin dipilih untuk tahap penelitian selanjutnya. Ini menunjukkan bahwa ingredient quality tidak dapat dinilai hanya dari satu angka.Omega-3 concentration is only one part of cosmetic ingredient quality.Apa itu FFA, PV, p-AnV, dan TOTOX?FFA - Free Fatty Acids: Menunjukkan jumlah fatty acids yang sudah terlepas dari struktur tiglyceride. Nilai ini dapat meningkat akibat hydrolysis dan memberi informasi mengenai quality dan processing history suatu oil.PV - Peroxide Value: Menilai primary oxidation products, terutama hydroperoxides, sehingga sering digunakan sebagai salah satu indikator oxidation awal.p-AnV - p-Anisidine Value: Memberi informasi tentang secondary oxidation products, terutama aldehyde-related compounds yang muncul setelah peroxide compounds mengalami breakdown.TOTOX - Total Oxidation: Memberikan gambaran oxidation lebih menyeluruh dengan menggabungkan primary dan secondary oxidation. Secara konsep: TOTOX = 2 x PV + p-AnV.Mengapa oxidation menjadi isu besar untuk fish oil?Polyunsaturated fatty acids mempunyai banyak double bonds dan relatif susceptible terhadap oxidation. Oxidation dapat menyebabkan perubahan aroma, rancidity, perubahan warna, degradasi fatty acids, terbentuknya oxidation products, dan penurunan kualitas bahan.Cosmetic product harus melewati processing, formulation, filling, packaging, transportation, storage, dan shelf life. Jadi bahan yang menarik secara biologis juga harus cukup stabil untuk bertahan di dalam produk.Jadi apakah omega-3 justru menjadi kelemahan?Bukan. Omega-3 adalah bagian dari alasan fish oil menarik, tetapi sifat unsaturated yang memberi biological characteristics juga meningkatkan susceptibility terhadap oxidation. Ini menciptakan trade-off: biological interest tinggi, formulation challenge juga tinggi.Formulator karena itu perlu mempertimbangkan antioxidant system, oxygen exposure, temperature, light, packaging, processing conditions, dan interaction dengan ingredients lain.Apa yang ditemukan Prof. Sugeng dan Kamini dari penelitian patin sebelumnya?Riset minyak ikan patin tidak dimulai pada 2026. Kamini, Pipih Suptijah, Joko Santoso, dan Sugeng Heri Suseno sebelumnya meneliti dry rendering dan karakterisasi minyak ikan dari lemak jeroan hasil samping pengolahan salai patin siam. Studi menilai fatty-acid profile dan quality parameters seperti PV, FFA, anisidine value, dan TOTOX.Riset tersebut menunjukkan bahwa fish-processing by-product dapat dipandang sebagai potential raw material yang masih dapat dikarakterisasi dan dikembangkan. Tetapi bisa diekstraksi menjadi minyak belum sama dengan layak digunakan sebagai cosmetic ingredient.Dari fish oil menuju cosmetic ingredientAgar fish oil dapat dipertimbangkan untuk skincare, perjalanan bahan perlu dibaca sebagai rangkaian: source -> extraction/purification -> quality characterization -> fatty-acid profile -> oxidation status -> formulation compatibility -> stability -> safety -> relevant testing -> finished product.From fish resource to finished cosmetic product: a multidisciplinary translation pathway.Di sinilah formulation science mengambil alihSetelah bahan dipilih, tantangannya berubah. Bagi researcher, pertanyaannya mungkin: bagaimana kualitas minyaknya? Bagi formulator: bisakah minyak ini dimasukkan ke skincare tanpa kehilangan kualitas yang membuatnya menarik sejak awal?Pada tahap ini, perspektif apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menjadi relevan untuk cosmetic formulation dan hilirisasi. Fish oil harus hidup bersama emollients, surfactants, emulsifiers, antioxidants, preservatives, fragrance, rheology modifiers, dan packaging system. Karena itu concentration saja tidak cukup; homogeneity, aroma, pH, oxidation, stability, viscosity, sensory acceptance, dan finished-product testing juga perlu diperiksa.apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm.Apakah tim sudah membuat formulanya?Ya, tetapi status evidence-nya harus dibaca secara tepat. Materi penelitian 2026 menunjukkan pengembangan serum minyak ikan patin dan serum kolagen patin. Pada prototype serum oil, minyak ikan patin digunakan sebesar 5% bersama sistem formula lainnya.Karakterisasi awal menunjukkan kedua sediaan homogen dan berada dalam spesifikasi pH 6-7. Materi penelitian menyatakan hasil awal tersebut mendukung kelanjutan pengujian mutu dan stabilitas selama penyimpanan. Jadi ini adalah formulation feasibility awal, bukan clinical efficacy yang sudah terbukti.Apakah fish oil skincare berarti anti-inflammatory skincare?Belum tentu. EPA dan DHA mempunyai biological relationship dengan inflammatory pathways, tetapi omega-3 biology tidak sama dengan fish oil ingredient evidence, dan keduanya tidak sama dengan finished cosmetic product evidence. Claim harus mengikuti testing yang relevan dan regulatory boundary kosmetik.Bagaimana dengan klaim skin barrier?Logikanya sama. Fatty acids relevan terhadap lipid biology dan skin barrier, tetapi finished product perlu dibuktikan dengan endpoint yang sesuai, misalnya TEWL, skin hydration, barrier recovery, instrumental measurement, atau validated clinical assessment.Mengapa Indonesia mempunyai peluang menarik di sini?Konteks riset ini bukan hanya kosmetik, tetapi juga pemanfaatan sumber daya perairan domestik dan peningkatan nilai tambah hasil samping industri perikanan. Materi penelitian menempatkan fish oil sebagai peluang bahan baku kosmetik bernilai tambah dari sumber daya domestik.Ini mempertemukan fisheries science dengan cosmetic science: satu sisi memahami extraction dan characterization, sisi lain memahami formulation, stability, testing, manufacturing, dan product translation.Apa yang sudah cukup kita ketahui?Fish oil adalah sumber berbagai fatty acids, termasuk omega-3. Established, tetapi composition berbeda antar species dan processing method.EPA dan DHA mempunyai biological relevance terhadap skin science. Mechanistic + limited human topical evidence; tidak dapat digeneralisasi ke semua formulations.Oxidation adalah critical quality issue pada fish oil. Established; quality perlu dinilai dengan parameters yang relevan.Quality tidak ditentukan oleh omega-3 concentration saja. Didukung framework riset saat ini: fatty-acid profile perlu dibaca bersama FFA, PV, p-AnV, TOTOX, stability, dan formulation suitability.Minyak ikan patin telah diformulasikan dalam prototype skincare. Formulation-stage research; karakterisasi awal belum sama dengan proof of efficacy.Apa yang belum boleh disimpulkan terlalu cepat?Semua fish oil mempunyai quality yang sama; fish oil dengan omega-3 tertinggi selalu terbaik untuk skincare; nutritional benefit omega-3 otomatis berlaku pada topical skincare; EPA/DHA mechanism otomatis menjadi finished-product benefit; fish oil otomatis memperbaiki skin barrier; prototype yang stabil secara fisik otomatis efektif secara klinis; fish oil otomatis lebih baik daripada plant oils; atau satu species ikan cocok untuk semua cosmetic formulation.Jadi, apakah minyak ikan layak menjadi bahan skincare?Secara scientific, fish oil memang menarik sebagai sumber lipid dengan fatty-acid profile yang dapat mempunyai biological relevance terhadap kulit. Tetapi potensinya hanya menjadi meaningful ketika sumber, extraction, quality, oxidation, formulation, stability, dan finished-product evidence diperhatikan bersama.Riset Prof. Sugeng, Kamini, dan tim menunjukkan bahwa perjalanan menuju cosmetic ingredient dimulai jauh sebelum formula dibuat. Bahan harus terlebih dahulu dipahami. Ketika bahan masuk ke formulation, perspektif apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm membantu menjawab pertanyaan berikutnya: bisakah biological potential itu bertahan sampai menjadi produk yang benar-benar digunakan konsumen?Itulah garis pembeda antara sekadar menggunakan novel ingredient dan membangun science-based cosmetic innovation. [][Dipo Alaric/TBV] Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.References1. Prof. Dr. Sugeng Heri Suseno, S.Pi., M.Si. Academic Profile - Department of Aquatic Product Technology, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, IPB University. Source2. Kamini, Suptijah P, Santoso J, Suseno SH. Extraction by Dry Rendering Method and Characterization Fish Oil of Catfish Viscera Fat by Product of Smoked Fish Processing. Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia. 2016;19(3):196-205. DOI: 10.17844/jphpi.v19i3.15071. Source3. Suseno SH, Jacoeb AM, Yocinta HP, Kamini. Quality of Commercial Import Fish Oil (Softgel) in Central Java. Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia. 2018;21(3). Source4. Prof. Dr. Sugeng Heri Suseno, S.Pi., M.Si. et al. Pengembangan Diversifikasi Minyak Ikan Fungsional Kaya Omega 3 Sebagai Bahan Aktif Bernilai Tinggi pada Inovasi Produk Kosmetika Modern. Penelitian Terapan BIMA, 2026. 5. Frontiers in Pharmacology review on botanical oils, fatty-acid biology, and topical oil-skin interactions. Source 6. Frontiers in Nutrition review (2024) discussing krill oil, EPA, DHA, and skin health, including mechanistic and human topical evidence. Source

    Tim Beautyversity • 03 Oct 2026
  • Mengapa Menghabiskan Produk Kecantikan Bisa Memberikan Kepuasan Tersendiri?

    Mengapa Menghabiskan Produk Kecantikan Bisa Memberikan Kepuasan Tersendiri?

    Botol itu akhirnya kosong. Tidak ada produk baru yang datang. Namun, entah mengapa, melihatnya habis justru bisa terasa menyenangkan.Ada pengalaman kecil yang belakangan semakin sering diperlihatkan dalam konten kecantikan: menunjukkan produk yang benar-benar telah digunakan sampai habis. Kemasan dipotong agar sisa krim dapat diambil, botol serum tinggal menyisakan tetesan terakhir, atau bagian dasar wadah makeup mulai terlihat. Kepuasannya tampak berbeda dengan kegembiraan ketika membuka produk baru.Fenomena itu menarik karena industri kecantikan selama bertahun-tahun sangat dekat dengan sensasi kebaruan. Produk baru membawa warna, formula, klaim, kemasan, dan kemungkinan pengalaman baru. Menghabiskan produk justru berada di ujung perjalanan konsumsi, ketika hampir tidak ada lagi sesuatu yang bisa ditawarkan oleh benda tersebut.Namun, ‘habis’ dapat membawa makna lain. Ia memberi tanda yang jelas bahwa sesuatu telah digunakan sampai selesai. Dalam kehidupan yang dipenuhi pekerjaan tanpa ujung, daftar tontonan yang belum selesai, pesan yang belum dibalas, dan berbagai barang yang belum digunakan, sebuah botol kosong dapat menjadi bukti kecil bahwa satu siklus telah dituntaskan.Baca Juga: Ketika Membeli Produk Kecantikan Menjadi Cara Memberi Hadiah kepada Diri SendiriKetika Botol Kosong Menjadi Penanda bahwa Sesuatu Telah SelesaiPsikologi konsumen mengenal konsep goal progress cues, yaitu berbagai petunjuk yang membuat kemajuan menuju sebuah tujuan menjadi terlihat. Penelitian Pragya Mathur, Lauren Block, dan Özge Yucel-Aybat dalam Journal of Consumer Psychology menunjukkan bahwa petunjuk kemajuan dapat memengaruhi bagaimana orang mengevaluasi proses pencapaian tujuan, meskipun efeknya tidak sama pada setiap individu. Temuan ini tidak secara khusus meneliti kosmetik, sehingga tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa menghabiskan serum otomatis membuat seseorang bahagia.Tetapi konsep tersebut memberikan cara yang menarik untuk memahami pengalaman menggunakan produk hingga kosong. Jumlah cairan yang terus berkurang, dasar wadah yang mulai terlihat, atau pan pada produk makeup merupakan penanda kemajuan yang sangat konkret. Pengguna tidak perlu membuat grafik atau daftar untuk mengetahui bahwa produk tersebut benar-benar digunakan.Ada unsur pencapaian di dalamnya. Produk yang dibeli tidak lagi menjadi benda yang menunggu digunakan, tetapi telah menjalankan fungsi yang menjadi alasan ia dibeli. Kepuasannya karena itu mungkin bukan berasal dari kemasan kosong itu sendiri, melainkan dari pengalaman menyelesaikan sesuatu yang sebelumnya telah dimulai.Tetapi penjelasan tersebut juga memiliki batas. Penelitian tentang goal progress menunjukkan bahwa orang merespons penanda kemajuan secara berbeda tergantung pada bagaimana mereka memandang tujuan dan perkembangan diri. Jadi, seseorang bisa merasa sangat puas ketika satu pelembap habis, sementara orang lain menganggapnya sebagai kejadian biasa yang tidak mempunyai makna emosional khusus.Baca Juga: Mengapa Kita Sering Merasa Membutuhkan Produk Baru Padahal Produk Lama Belum Habis?Mungkin yang Menyenangkan Bukan Kekosongannya, Melainkan Ruang yang KembaliAda sisi lain dari kebiasaan ini yang berhubungan dengan jumlah benda yang dimiliki. Penelitian Caroline Rogers dan Rona Hart terhadap 1.111 orang dewasa menemukan hubungan antara pengalaman subjektif terhadap clutter di rumah dengan kesejahteraan. Studi tersebut bersifat cross-sectional, sehingga tidak membuktikan bahwa mengurangi barang secara langsung menyebabkan seseorang menjadi lebih sejahtera, tetapi menunjukkan bahwa cara seseorang mengalami kepadatan barang di rumah memang berkaitan dengan kesejahteraan.Riset Catherine Roster dan Joseph Ferrari mengenai decluttering memberikan lapisan menarik lainnya. Dari 172 konsumen dewasa yang baru melakukan proyek decluttering, kelompok dengan orientasi berbeda memang mengalami prosesnya secara berbeda, tetapi seluruh kelompok melaporkan emosi positif yang relatif tinggi setelahnya. Sekali lagi, menghabiskan kosmetik bukanlah hal yang sama dengan melakukan decluttering, tetapi berkurangnya satu benda dari koleksi dapat bersinggungan dengan pengalaman memiliki ruang yang lebih terkendali.Penelitian yang lebih baru dalam Journal of Consumer Research bahkan memperlihatkan bahwa persoalan barang di rumah tidak hanya mengenai kerapian. Melalui penelitian etnografis, para peneliti membedakan kondisi barang yang sekadar tidak berada pada tempatnya dengan keadaan ketika seseorang merasa memiliki terlalu banyak benda. Dalam kondisi kedua, persoalannya bukan lagi “di mana benda ini harus disimpan?”, melainkan “apakah benda sebanyak ini memang perlu dimiliki?”.Pertanyaan tersebut terasa sangat relevan dengan kecantikan. Satu produk mungkin berukuran kecil, tetapi serum, toner, lipstik, foundation, parfum, masker, dan produk rambut mudah bertambah menjadi koleksi. Ketika sebuah produk akhirnya habis, ruang yang terbentuk memang hanya beberapa sentimeter, tetapi secara visual ia dapat menandai berkurangnya satu kewajiban konsumsi.Di sini muncul pergeseran menarik dalam hubungan dengan produk kecantikan. Nilai sebuah produk tidak lagi hanya berada pada momen membelinya, tetapi juga pada seberapa jauh produk tersebut benar-benar digunakan. Kemasan kosong bahkan dapat menjadi bukti bahwa keputusan membeli sebelumnya menghasilkan pemakaian, bukan sekadar menambah koleksi.Namun, kebiasaan menghabiskan produk juga tidak perlu berubah menjadi perlombaan baru. Memaksakan penggunaan kosmetik yang menyebabkan iritasi, sudah melewati masa pakai, berubah karakter, atau memang tidak sesuai hanya demi mendapatkan kepuasan melihat kemasan kosong tentu kehilangan logikanya. ‘Menghabiskan’ berguna sebagai refleksi konsumsi, bukan kewajiban untuk mempertahankan setiap keputusan pembelian yang ternyata keliru.Barangkali itu sebabnya satu botol kosong bisa terasa lebih memuaskan daripada yang dibayangkan. Bukan karena manusia secara universal memperoleh kebahagiaan dari kosmetik yang habis—bukti ilmiah yang tersedia belum cukup untuk mengatakan sejauh itu. Namun, di antara pengalaman menyelesaikan sesuatu, melihat kemajuan, menggunakan barang sesuai tujuannya, dan memperoleh kembali sedikit ruang, kemasan kosong dapat membawa cerita yang berbeda dari kemasan baru: bukan tentang sesuatu yang ingin dimiliki, melainkan sesuatu yang benar-benar telah digunakan. [][Liora Maheswari/TBV]Penulisan dan riset untuk artikel ini dibantu AI dan telah melewati kurasi Redaksi.

    Admin Beautyversity • 02 Oct 2026